Mukjizat Kembar di Bawah Pohon Mangga

A. Pindola Bharadvaja Mempertunjukkan Suatu Mukjizat.

Seorang bendahara dari Rajagaha pergi ke Sungai Gangga untuk melakukan olah raga di air. Agar tidak terhanyut, dia menyimpan pakaian dan perhiasannya di dalam sebuah keranjang rotan. Sementara itu sepotong akar pohon cendana merah yang tumbuh di tepi Sungai Gangga terjatuh ke dalam sungai. Karena benturan batu-batu di dasar sungai, potongan akar itu patah menjadi potongan-potongan kecil dan potongan akar sebesar guci air itu menjadi bulat dan halus karena benturan batu dan terkikis oleh arus air sungai. Potongan akar kayu ini terbawa arus dan tersangkut pada keranjang rotan milik Sang Bendahara.

“Apa ini?” tanya Sang Bendahara.

“Bagian dari sebatang pohon,” kata temannya.

Sang Bendahara memerintahkan untuk membawa potongan akar kayu tersebut kepadanya.

“Jenis kayu apa ini?” pikir Sang Bendahara.

Untuk mengetahuinya, dia membelahnya dengan kapak dan menemukan bahwa potongan akar itu adalah potongan akar pohon cendana yang berwarna merah. Dia lalu berpikir :
“Di rumah saya memiliki banyak kayu cendana merah, apa yang akan saya perbuat dengan potongan kayu ini?”

Kemudian muncul dalam pikirannya :
“Banyak orang yang hidup di dunia ini berkata : ‘Kami adalah para Arahat, kami adalah para Arahat,’ tetapi saya tidak mengenal seorang Arahatpun.”

“Saya akan menggunakan mesin pemotong kayu untuk membuat sebuah mangkuk dan mangkuk ini akan saya gantungkan di udara dengan seutas tali yang terbuat dari sambungan bambu dengan ketinggian enam puluh cubit (30 meter) dari tanah.”

“Kemudian akan saya buat pernyataan : bila memang ada seorang Arahat, silakan Beliau melayang ke udara dan mengambil mangkuk tersebut.”

“Bila ada yang berhasil mengambil mangkuk tersebut, saya akan menjadi muridnya, demikian juga anak dan isteri saya.”

Demikian dia membalikkan mangkuk tersebut dan menggantungkannya pada tali bambu dan membuat pernyataan :
“Bila di dunia ini ada seseorang yang telah menjadi Arahat, silakan terbang ke udara dan mengambil mangkuk itu.”

Keenam guru pertapa seperti Purana Kassapa dan Makkhali Gosala, berkali-kali meminta mangkuk tersebut, namun Sang Bendahara berkata bahwa siapapun di antara mereka dapat mengambilnya melalui udara. Pada hari keenam, Nigantha Nathaputta mengutus beberapa orang muridnya untuk meminta mangkuk tersebut dari Sang Bendahara. Para murid ini memberitahu Sang Bendahara bahwa guru mereka tidak perlu melayang ke udara untuk hal sepele seperti mengambil sebuah mangkuk, seharusnya mangkuk tersebut diserahkan kepada guru mereka karena dialah yang berhak. Sang Bendahara tetap memberikan jawaban yang sama seperti sebelumnya. Nigantha Nathaputta kemudian memberitahu murid-muridnya suatu rencana untuk mengambil mangkuk tersebut. Ia akan mencoba terbang ke udara dengan mengangkat sebelah tangan dan kakinya dan para muridnya harus memohon agar ia tidak perlu terbang ke udara untuk hal sepele seperti itu dan para murid harus berusaha mencegahnya melakukan hal tersebut. Sesuai rencana, ia pergi ke tempat mangkuk tersebut dan mengangkat tangan dan kakinya dengan maksud untuk terbang ke udara, namun dia dicegah sesuai dengan rencana dan ia turun kembali. Ia menemui Sang Bendahara dan meminta mangkuk tersebut, namun ia menerima jawaban yang sama seperti sebelumnya. Demikianlah para pertapa mencoba selama enam hari untuk mendapatkan mangkuk tersebut, namun mereka tidak berhasil.

Pada hari ketujuh Yang Mulia Moggallana dan Yang Mulia Pindolabharadvaja sedang keluar untuk berpindapata di Rajagaha, mereka berdiri di atas sebuah batu karang datar dan mulai memakai jubah mereka. Sekelompok orang memulai percakapan :
“Saudara, ada enam orang guru yang biasanya mengaku sebagai para Arahat, namun ketika Sang Bendahara dari Rajagaha tujuh hari yang lalu menggantungkan sebuah mangkuk dan berkata bahwa bila memang ada seorang Arahat, silakan terbang ke udara dan mengambil mangkuk tersebut, tidak seorangpun di antara orang-orang yang mengaku sebagai Arahat tersebut yang dapat terbang ke udara. Hari ini kita dapat mengetahui dengan pasti bahwa di dunia ini tidak ada Arahat.”

Mendengar percakapan ini, Yang Mulia Moggallana berkata kepada Yang Mulia Pindolabharadvaja :
“Saudara, Anda telah mendengar percakapan orang-orang itu, mereka berbicara seolah-olah menantang Ajaran Sang Buddha.”

“Karena Anda memiliki kemampuan batin yang tinggi, kemampuan supranatural yang hebat, terbanglah ke udara dan ambil mangkuk tersebut.”

“Saudara Moggallana, Andalah yang terkenal sebagai yang paling hebat di antara yang memiliki kemampuan batin, ambillah mangkuk tersebut, bila Anda tidak mengambilnya, Saya yang akan mengambilnya.”

Yang Mulia Moggallana menjawab :
“Silakan saudara.”

Demikianlah Yang Mulia Pindolabharadvaja memasuki keadaan kemampuan supranatural, ia melingkari batu karang datar seluas 3 mil dengan ujung kakinya dan mengangkatnya ke atas dengan mudah, semudah mengangkat kapas sutera, kemudian Ia berjalan tujuh kali mengelilingi kota Rajagaha.

Sekarang kota Rajagaha luasnya persis 3 mil dan batu karang tersebut nampak menutupi kota. Penduduk kota berpikir :
“Batu tersebut akan jatuh dan menimpa kita,” dan dengan ketakutan mereka memakai nyiru di atas kepala mereka dan bersembunyi. Kemudian untuk ketujuh kalinya Yang Mulia Pindolabharadvaja mengelilingi kota, meminggirkan batu karang tersebut dan Beliau lalu menampakkan diri di hadapan penduduk. Ketika penduduk melihatNya, mereka berseru :
“Yang Mulia Pindolabharadvaja, tahanlah batu tersebut, janganlah menghancurkan kami.”

Lalu Yang Mulia Pindolabharadvaja menendang batu tersebut kembali ke tempatnya semula, kemudian Beliau berdiri di atas rumah Sang Bendahara. Ketika Sang Bendahara melihatNya, ia lalu bernamaskara dan berkata :
“Yang Mulia, silakan turun.”

Setelah Yang Mulia Pindolabharadvaja turun, Sang Bendahara menyediakan tempat duduk, menurunkan mangkuknya dan mengisinya dengan empat macam minuman manis dan memberikannya kepada Yang Mulia Pindolabharadvaja. Beliau lalu mengambil mangkukNya dan berjalan menuju vihara. Para penduduk yang tidak dapat menyaksikan mukjizat tersebut karena sedang berada di hutan atau di desa, berkumpul dan mulai mengikuti Yang Mulia Pindolabharadvaja dan berkata kepada Beliau :
“Yang Mulia, tunjukkanlah mukjizat kepada kami.”

Yang Mulia Pindolabharadvaja mengulangi mukjizat tersebut dan setelah itu melanjutkan perjalanannya ke vihara.

Sang Buddha mendengar suara penduduk yang ramai bertepuk tangan, Beliau bertanya kepada Yang Mulia Ananda :
“Ananda, kepada siapakah mereka sedang bertepuk tangan?”

Yang Mulia Ananda menjawab :
“Pindolabharadvaja telah terbang ke udara dan mengambil mangkuk yang terbuat dari kayu cendana merah dan penduduk bertepuk tangan untuknya.”

Sang Buddha lalu memanggil Yang Mulia Pindolabharadvaja untuk menghadap dan berkata :
“Apakah benar Engkau telah melakukan seperti yang telah dilaporkan?”

“Benar, Yang Mulia.”

“Bharadvaja, mengapa Engkau melakukan hal ini?”

Sang Buddha lalu menegurnya dan menyuruhnya memecahkan mangkuk tersebut menjadi potongan-potongan kecil dan menyuruhnya menyerahkan potongan-potongan kayu tersebut kepada para bhikkhu untuk digiling dan dijadikan bubuk kayu cendana. Kemudian Sang Buddha menetapkan peraturan yang melarang para bhikkhu mempraktekkan kekuatan supranatural untuk tujuan-tujuan seperti itu di masa yang akan datang.

B. Sang Buddha Berjanji Akan Mempertunjukkan Suatu Mukjizat.

Ketika para pertapa mendengar sikap Sang Buddha terhadap kejadian pengambilan mangkuk oleh Yang Mulia Pindolabharadvaja, mereka mengira Sang Buddha juga mematuhi peraturan yang telah Beliau tetapkan. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak mempertunjukkan mukjizat sepele seperti pengambilan mangkuk, tetapi mereka telah siap untuk menunjukkan mukjizat-mukjizat untuk menandingi Sang Buddha.

Raja Bimbisara segera menemui Sang Buddha dan mendiskusikan pertanyaan tentang pertunjukan kemampuan batin oleh Sang Buddha dan para bhikkhu. Sang Buddha lalu berjanji bahwa Beliau sendiri akan mempertunjukkan suatu mukjizat dan mengatakan kepada Raja Bimbisara bahwa Beliau mempunyai hak untuk melakukan hal tersebut. Sang Buddha menjelaskan bahwa meskipun Beliau melarang para bhikkhu untuk mempertunjukkan kemampuan batin, namun peraturan tersebut tidak berlaku bagi Sang Buddha. Sama seperti raja dapat memakan buah mangga dari kebunnya sendiri, tapi akan menghukum siapapun yang mengambil mangga tersebut.

Pada akhir diskusi, Sang Buddha berkata bahwa Beliau akan mempertunjukkan mukjizat-mukjizat pada bulan purnama di bulan Asadha, empat bulan kemudian, di tempat para Buddha di masa lampau mempertunjukkan kemampuan batin mereka. Mendengar perkataan tersebut, para pertapa berpikir bahwa mereka telah kalah, dan mereka membuntuti Sang Buddha dan berkata bahwa sang Buddha berusaha menghindar dari mereka.

Pada waktunya, Sang Buddha tiba di Savatthi, demikian pula para pertapa. Para pertapa mengumpulkan dana dari para pengikutnya dan mendirikan paviliun dengan pilar-pilar dari kayu akasia dan ditutupi dengan bunga teratai. Setelah itu mereka duduk dan berkata :
“Di sini kami akan mempertunjukkan mukjizat.”

Ketika Raja Pasenadi Kosala mendengar tentang pembangunan paviliun, ia menawarkan untuk membangun sebuah paviliun untuk Sang Buddha, namun Sang Buddha menolaknya, karena Raja Sakka, Raja Para Dewa telah berjanji akan membangun sebuah paviliun untuk Sang Buddha. Ketika Sang Guru Agung ditanya di manakah tepatnya tempat untuk mempertunjukkan mukjizat-mukjizat tersebut, Sang Buddha berkata bahwa tempatnya adalah di bawah pohon mangga Ganda.

Ketika para pertapa mendengar bahwa Sang Buddha akan mempertunjukkan mukjizat Beliau di bawah sebuah pohon mangga, mereka langsung mencabut sampai ke akar-akarnya semua pohon mangga yang tumbuh di tempat itu, mereka bahkan mencabuti pohon mangga yang baru tumbuh sehari dan membuangnya ke hutan.

C. Mukjizat-mukjizat Awal.

Pada saat bulan purnama di bulan Asadha, Sang Buddha memasuki kota. Pada hari yang sama, tukang kebun raja bernama Ganda, melihat sebuah mangga yang telah ranum di dalam sebuah keranjang daun yang dibuat oleh semut-semut merah, dan setelah mengusir burung gagak yang berkerubung karena tertarik akan wanginya, Ganda memetik mangga itu dan bermaksud membawanya kepada raja. Namun ketika melihat Sang Buddha di dalam perjalanan, ia lalu berpikir :
“Bila raja memakan buah mangga ini, ia mungkin akan memberi saya delapan atau enam belas keping uang, dan itu tidak akan cukup untuk membuat saya hidup selama satu kehidupan, namun bila saya berikan mangga ini kepada Sang Guru, maka saya akan memperoleh keselamatan untuk waktu yang tak terbatas.”

Kemudian, ia mempersembahkan mangga itu kepada Sang Buddha.

Sang Buddha melihat kepada Yang Mulia Ananda, yang kemudian membuka pembungkus bingkisan yang sedianya akan diserahkan kepada raja, dan meletakkan buah mangga itu di tangan Sang Buddha. Sang Guru Agung lalu mengambil mangkukNya, menerima mangga itu dan mengatakan akan duduk di tempat tersebut. Yang Mulia Ananda membentangkan jubah dan menyiapkan tempat duduk. Ketika Sang Buddha telah duduk, Yang Mulia Ananda menuang air, memeras mangga yang ranum itu, membuat sari buah mangga dan mempersembahkannya kepada Sang Buddha. Setalah Sang Buddha meminum sari buah mangga tersebut, Beliau berkata kepada Ganda :
“Galilah tanah di tempat ini dan tanamlah biji mangga ini.”

Tukang kebun itu lalu melaksanakan seperti apa yang dikatakan oleh Sang Buddha.

Sang Buddha kemudian mencuci tangan Beliau di atas tempat di mana biji mangga itu ditanam. Pada saat Beliau selesai mencuci tangan, tumbuhlah sebuah pohon mangga. Segeralah pohon mangga itu penuh dengan bunga dan buah. Ketika raja mendengar bahwa sebuah pohon mangga telah tumbuh secara ajaib, beliau memerintahkan bahwa tidak seorangpun boleh menebangnya dan menempatkan penjagaan. Karena pohon mangga itu telah ditanam oleh tukang kebun yang bernama Ganda, maka pohon mangga itu dikenal dengan nama Pohon Mangga Ganda. Pohon mangga ini menghasilkan cukup banyak buah mangga untuk dinikmati penduduk. Mereka menikmati buahnya yang ranum dan melemparkan biji-bijinya kepada para pertapa yang telah mencabuti semua pohon mangga yang tumbuh di kota itu.

Raja Sakka, Raja Para Dewa memerintahkan Dewa Awan Angin :
“Cabut paviliun para pertapa dan lemparkan ke kolam penampungan limbah.”

Dewa Awan Angin melaksanakan perintah Raja Sakka. Kemudian Raja Sakka memerintahkan Dewa Matahari :
“Perhatikan lintasan matahari dan sengat mereka dengan panas matahari,”

Dewa Sakka kemudian memerintahkan kepada Dewa Awan Angin :
“Siapkan kereta angin dan luncurkan.”

Kejadian ini membuat tubuh para pertapa berkeringat dan Dewa Awan Angin menaburi mereka dengan hujan debu hingga mereka kelihatan seperti semut-semut merah. Dewa Sakka kemudian menyuruh Dewa Awan Angin :
“Turunkan hujan lebat yang tak terhingga banyaknya.”

Dewa Awan Angin melaksanakannya, sehingga para pertapa itu kelihatan seperti sapi-sapi kudisan. Dengan tanpa pakaian mereka terpontang-panting melarikan diri.

Sementara para pertapa melarikan diri, seorang petani yang merupakan pendukung Purana Kassapa berpikir :
“Besok adalah hari di mana para guru mulia akan mempertunjukkan mukjizat mereka. Saya harus pergi menyaksikan mukjizat tersebut.”

Setelah melepas kerbaunya, dengan membawa seutas tali, semangkuk sup yang telah dibelinya pagi itu, ia pulang ke rumahnya. Ketika ia bertemu dengan Purana yang sedang melarikan diri, ia berkata kepadanya :
“Yang Mulia, saya pikir saya akan pergi menyaksikan para guru yang mulia mempertunjukkan mukjizat mereka. Ke manakah engkau akan pergi?”

Purana bertanya :
“Mengapa engkau harus menyaksikan suatu mukjizat? Berikan tempat air dan tali itu kepadaku.”

Petani itu memberikannya. Purana membawa tempat air dan tali itu ke tepi sungai, ia mengikat tali pada tempat air, kemudian diikatkan ke lehernya, lalu menjatuhkan dirinya ke dalam sungai. Terdengar bunyi percikan air, Purana meninggal dan terlahir di neraka Avici.

Sang Buddha menciptakan suatu lintasan berhiaskan permata di udara untuk mempertunjukkan mukjizat-mukjizat dan banyak orang berkumpul di sana. Para murid Sang Buddha ingin membantu Beliau dengan menawarkan diri untuk mempertunjukkan mukjizat-mukjizat. Sang Buddha menolak tawaran mereka dan menyatakan bahwa Beliau harus menunaikan tugas Beliau sendiri.

D. Sang Buddha Mempertunjukkan Mukjizat Kembar.

Sambil berjalan bolak-balik sepanjang lintasan berhiaskan permata, Sang Buddha membabarkan Dhamma kepada penduduk dan pada saat yang bersamaan Beliau memancarkan nyala api dan semburan air dari pori-pori di seluruh tubuh Beliau. Karena melihat bahwa di antara sekian banyak orang, tidak seorangpun selain Beliau sendiri yang dapat mengerti pikiran Beliau dan dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Beliau, Sang Buddha lalu mempertunjukkan kekuatan supranaturalNya, dan menciptakan kembaran Beliau sendiri. Kembaran Sang Buddha tersebut mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan Sang Buddha menjawabnya. Bila kembaran Beliau duduk, Sang Buddha berdiri dan Beliau berdiri bila kembaran Beliau duduk.

Demikianlah Sang Buddha membabarkan Dhamma dan mempertunjukkan muljizat-mukjizat, sehingga banyak orang memperoleh pengertian yang jelas tentang Dhamma Yang Mulia.

Fakta Kehidupan

Keuntungan Dan Kerugian

 

Pengusaha, sesuai hukumnya akan mengalami baik keuntungan maupun kerugian. Adalah hal yang wajar bahwa seorang akan merasa puas diri ketika ia memperoleh keuntungan. Dalam hal ini tidak ada yang salah. Keuntungan baik legal maupun illegal menghasilkan kenikmatan dalam jumlah tertentu yang di cari oleh manusia biasa.

 

Masalah akan timbul jika kerugian terjadi. Keuntungan diterima dengan gembira, tapi tidak demikian halnya dengan kerugian. Kerugian sering menyebabkan penderitaan batin dan kadang kala usaha bunuh diri dilakukan karena kerugian yang tidak tertanggulangi. Dalam situasi yang berlawanan inilah, seseorang hendaknya menunjukan keberanian moral yang tinggi dan mempertahankan keseimbangan batin yang baik. Kita semua pernah mengalami jatuh dan bangun dalam perjuangan hidup. Seseorang hendaknya menyiapkan diri menghadapi yang baik maupun yang buruk, sehingga ia tidak akan terlalu kecewa.

 

Ketika sesuatu dicuri, orang umumnya merasa sedih. Tetapi dengan merasa sedih, ia tidak akan dapat mengganti kehilangannya. Ia hendaknya menerima kehilangan itu secara filosofis. Hendaknya ia memiliki sikap yang murah hati dengan berpikir “ Si pencuri lebih membutuhkan barang tersebut daripada saya, semoga ia berbahagia.”

 

Pada masa Sang Buddha hidup, seorang wanita bangsawanmempersembahkan makanan kepada Yang Ariya Sariputra dan beberapa orang bhikkhu. Ketika melayani mereka, ia menerima pesan yang menyatakan bahwa suatu musibah telah terjadi pada keluarganya. Tanpa menjadi cemas, dengan tenang ia menaruh pesan itu dalam kantung di pinggangnya dan melayani para bhikkhu seolah – olah tidak ada yang terjadi. Seorang pelayannya yang membawa guci berisi mentega untuk dipersembahkan kepada para bhikkhu, secara tidak sengaja tergelincir dan memecahkan guci yang dibawanya. Mengira bahwa sang wanita akan merasa sedih karenanya, Yang Ariya Sariputra menghiburnya dengan berkata bahwa segala sesuatu yang dapat pecah suatu saat pasti akan pecah. Sang wanita berkata,” Bhante, apalah artinya kehilangan yang tidak berarti ini? Saya baru saja menerima pesan yang menyatakan suatu musibah telah menimpa keluarga saya. Saya menerima hal itu tanpa kehilangan keseimbangan batin saya. Saya melayani anda semua walaupun ada berita buruk tersebut.”

 

Ketabahan seperti ini yang dimiliki wanita tersebut sungguh sangat terpuji

 

Suatu saat Sang Buddha pergi mencari sedekah di suatu desa, karena campur tangan Mara, Sang Buddha tidak memperoleh makanan. Ketika Mara menanyakan apakah Sang Buddha merasa lapar, Sang Buddha dengan agung menerangkan sikap mental mereka yang telah terbebas dari kekotoran batin, dan menjawab,” Ah, betapa bahagianya kita yang hidup terbebas dari kekotoran batin. Sebagai pemberi kebahagiaan, kita bahkan dapat disamakan dengan para dewa di alam cahaya.”

 

Pada kesempatan lain, Sang Buddha dan para muridnya berdiam selama musim hujan di suatu desa atas undangan seorang brahmana yang ternyata benar – benar lupa akan tugasnya untuk memenuhi kebutuhan Sang Buddha dan Sangha. Selama tiga bulan walaupun Yang Ariya Moggallana rela berkorban untuk mendapatkan makanan dengan kekuatan batinnya, Sang Buddha tidak mengeluh dan merasa puas atas rumput makanan kuda yang diberikan oleh seorang penjual kuda.

 

Seseorang yang tidak beruntung harus berusaha untuk menerima kenyataan secara jantan. Ia harus menghadapinya dengan ketenangan (upekkha) dan memandangnya sebagai suatu kesempatan untuk menumbuhkan kebajikan yang mulia.

 

 

Kegembiraan Dan Kesedihan

 

Kebahagiaan dan kesedihan adalah pasangan berlawanan, merekalah factor terkuat yang mempengaruhi umat manusia.

Kegembiraan yang umum adalah terpenuhinya suatu keinginan. Segera sesudah benda yang kita inginkan dapat diperoleh, kita menginginkan kebahagiaan yang lain lagi. Betapa tidak pernah puasnya nafsu kita yang mementingkan diri sendiri.

 

 

Menikmati kesengan berdasarkan hawa nafsu adalah kebahagiaan tertinggi dan satu – satunya bagi manusia biasa. Ada saat – saat membahagiakan pada saat mengharapkan, terpenuhinya, dan mengenang kenikmatan material tersebut. Jenis kegembiraan  ini sangat berharga bagi orang yang terikat pada hawa nafsunya, tetapi kegembiraan ini hanyalah tipuan dan sementara saja.

 

Dapatkah harta benda memberikan kebahagiaan sejati? Jika demikian, seorang milyuner tidak akan merasa frustasi akan kehidupannya. Di Negara – Negara tertentu yang telah mencapai kemajuan materi, begitu banyak orang menderita penyakit mental. Mengapa hal ini terjadi jika harta benda saja dapat memberikan kebahagiaan?

 

Dapatkah kekuasaan akan seluruh dunia mengasilkan kebahagiaan yang sesungguhnya? Alexander Agung, yang dengan penuh kemenangan berbaris menuju India, menaklukan daerah –daerah di sepanjang perjalanannya, menarik nafas panjang karena tidak ada lagi daerah di bumi yang bias dikuasai.

 

Jika harta benda diperoleh dengan paksa atau secara tidak adil atau di salahgunakan, atau bahkan di pandang dengan kemelekatan, mereka akan menjadi sumber penyakit dan kesedihan bagi pemiliknya.

Apa yang menggembirakan bagi seseorang mungkin bukanlah kegembiraan bagi orang lain. Apa yang menjadi makanan dan minuman bagi seseorang mungkin merupakan racun bagi orang lain.

 

Sang Buddha menyebutkan empat jenis kebahagiaan bagi umat awam yaitu :

Kegembiraan karena memiliki ( atthi sukha ) : kesehatan, kekayaan, panjang umur, kecantikan, kegembiraan, kekuatan, harta benda, anak dan sebagainya.

 

Sumber kedua dari kebahagiaan berasal dari kenikmatan karena memiliki hal – hal tersebut ( bhoga sukha ).

Laki – laki dan wanita biasa dapat menikmati kebahagiaan tersebut. Sang Buddha tidak menasihatkan semua orang untuk meninggalkan kesenangan duniawi dan hidup dalam kesunyian.

 

Kenikmatan akan kekayaan tidak hanya terletak pada penggunaannya untuk diri sendiri tetapi juga dalam memberikannya untuk kesejahteraan orang lain. Apa yang kita makan hanyalah bersifat sementara.. apa yang kita pelihara akan kita tinggalkan.. apa yang kita berikan akan kita bawa . Kita akan diingat selamanya karena perbuatan baik yang kita lakukan dengan harta benda kita.

 

Tidak terjerat hutang ( anana sukha ) adalah sumber kebahagiaan yang lain, jika kita puas dengan apa yang kita miliki dan jika kita hidup hemat, kita tidak akan berhutang. Orang yang berhutang hidup dalam rasa tertekan dan selalu dalam kewajibannya kepada kreditur, walaupun miskin, ketika terbebas dari hutang, kita akan merasa lega dan bahagia.

 

Menjalani hidup yang bebas dari tuduhan ( anavajja sukha ) adalah satu dari sumber – sumber kebahagiaan terbaik dari umat awam. Orang yang tidak tercela adalah berkat bagi dirinya dan bagi orang lain. Ia dikagumi oleh semua orang dan merasa lebih bahagia, karena di pengaruhi getaran kedamaian dari orang lain. Bagaimanapun harus dinyatakan bahwa sangatlah sulit untuk memperoleh pandangan yang baik dari semua orang. Orang yang berpikiran mulia hanya peduli akan kehidupan yang tak tercela dan tidak peduli kepada tanggapan orang lain.

 

Kebahagiaan kita terima, tetapi tidak untuk kesedihan yang lebih sulit untuk ditahan. Kesedihan atau penderitaan dating dalam berbagai bentuk. Kita menderita ketika kita mengalami usia tua, yang sebenarnya merupakan hal yang wajar, dengan ketenangan kita harus menahan penderitaan karena usia tua.

 

Lebih menyakitkan daripada penderitaan karena usia tua adalah penderitaan yang di sebabkan oleh penyakit. Bahkan sakit gigi yang teringan atau sakit kepala terkadang sulit untuk ditahan. Ketika kita menderita penyakit, tanpa menjadi khawatir hendaknya kita dapat menahannya, betapapun sakitnya. Kita harus mengibur diri sendiri dengan berpikir bahwa kita telah lolos dari pneyakit lain yang lebih parah.

 

Seringkali kita berpisah dengan orang yang dekat dan kita sayangi, perpisahan ini menyebabkan perasaan kita sakit. Kita hendaknya menyadari bahwa segala pertemuan harus berakhir dengan perpisahan. Inilah kesempatan yang baik untuk melatih ketenangan.

 

Kadangkala kita dipaksa berada dengan orang yang kita benci, kita hendaknya berusaha bertahan, mungkin karma kita yang sekarang atau yang lalu sedang berbuah. Kita hendaknya mencoba menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru atau mencoba mengatasi rintangan tersebut dengan cara – cara lain.

 

Ketika seorang ibu ditanya mengapa ia tidak menangisi kematian tragis dari putra tunggalnya, ia menjawab : “Tanpa diundang ia dating, tanpa diberitahu ia pergi. Ia dating seperti ia pergi. Mengapa kita harus menangis? Apakah gunanya menangis?”

 

Bagaikan buah yang jatuh dari pohon – muda – masak –atau tua – demikianlah kita meninggal semasa bayi, remaja atau dalam usia tua.

Matahari terbit dari timur hanya untuk terbenam di barat.

Bunga mekar di pagi hari untuk layu di sore hari.

 

Kematian yang tidak terhindarkan menimpa kita semua tanpa kecuali, kita harus menghadapinya dengan ketenangan yang sempurna.

Bagaikan tanah, apapun yang dilemparkan kepadanya, baik manis atau kotor tanpa mempedulikannya ia tidak menunjukkan baik kebencian maupun rasa suka. Demikianlah ia yang baik atau buruk, pikirannya harus selalu seimbang.

 

Sang Buddha bersabda” Ketika tersentuh oleh kondisi duniawi, pikiran dari seorang arahat tidak pernah terpengaruh”

Menundukkan Nandopananda

Kekuatan adialami yang dimiliki oleh makhluk ilahi atau dewa bisa berbahaya, menyebabkan manusia biasa tak berdaya, bagaikan hewan percobaan yang tengah dibedah atau menjalani percobaan laboratorium yang kejam. Sesungguhnyalah, sepanjang segenap kurun waktu, kekuatan Dhamma senantiasa mengalahkan kekuatan adialami. Sebagai contohnya, kekuatan adialami seperti yang dimiliki oleh Nandopananda pun akhirnya ditundukkan oleh sebuah kekuatan spiritual yang jauh melampaui kekuatan adialami itu. Keyakinan dalam ajaran Buddha sama sekali tidak menimbulkan bahaya seperti yang ditimbulkan oleh kepercayaan yang membuta. Umat Buddha tidaklah terpesona oleh mukjizat, betapapun mukjizat itu dianggap spiritual.

Naga adalah sejenis makhluk dewa rendah yang memiliki pelbagai kekuatan gaib, namun kurang memiliki potensi spiritual seperti halnya manusia. Naga mampu berubah bentuk sesuka hati dan konon, aslinya memiliki badan seperti binatang melata. Naga yang terikat pada hidup duniawi dapat membawa pengaruh buruk bagi kehidupan manusia. Namun ada juga Naga yang baik hati dan sering dipuja sebagai dewa pelindung.

Nandopananda adalah Raja Naga perkasa yang terbekali dengan kakuatan gaib yang mematikan. Keangkuhannya terhadap kekuatan yang dimilikinya, membuatnya menjadi lebih berbahaya. Dia tidak mempercayai segala sesuatu yang bersifat luhur atau spiritual, serta sangat memandang rendah orang – orang suci. Hidupnya hanya dihabiskan untuk mengejar kekuasaan dan kenikmatan hidup.

Pada suatu sore, Anathapindika, seorang hartawan dari Savatthi, yang terkenal sebagai dermawan yang sangat murah hati dan memiliki keyakinan penuh terhadap Sang Buddha, mengunjungi Vihara Jetavana dan berkesempatan mendengar pembabaran Dhamma dari Sang Buddha, karena merasa begitu bahagia, ia memohon Sang Buddha beserta lima ratus murid suci-Nya untuk menerima persembahan makanan darinya keesokan hari. Sang Buddha menyetujui undangannya.

Menjelang fajar keesokan harinya, seperti kebiasaan-Nya sehari – hari, Sang Buddha menelusuri seisi alam semesta yang terdiri dari berbagai sistem dunia dengan belas kasih tanpa batas-Nya. Dalam pandangan Mahatahu-Nya, Ia melihat Nandopananda. Setelah melakukan penembusan lebih mendalam, dengan jelas Ia mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.

Yang Maha Mengetahui menyadari bahwa kendatipun Nandopananda sangat memusuhi ajaran spiritual dan memiliki pandangan dan kecenderungan yang buruk, namun ia juga memiliki kematangan batin untuk mencapai transformasi spiritual. Dengan penanganan tepat, ia dapat dijinakkan, disadarkan dan akan bernaung pada Tisarana.

Sang Buddha kemudian juga melihat bahwa Yang Ariya Moggallana, yang kesaktiannya hanya berada ditempat kedua setelah diri-Nya, akan mampu menjinakkan Nandopananda dengan baik.

Setelah fajar menyingsing, Sang Buddha beranjak dari meditasinya, makan pagi dan bersiap untuk berangkat. Beliau memanggil Yang Ariya Ananda dan memintanya untuk memberitahukan ke lima ratus siswa Arahat-Nya bahwa hari itu mereka akan menemani-Nya untuk melakukan kunjungan khusus ke alam surgawi. Segera, Sang Buddha beserta siswa – siswa-Nya membumbung di udara, dan dengan kekuatan adialami mereka menuju alam surgawi.

Kala itu, atas keinginan sang raja naga, tengah diadakan perjamuan besar ditempat terbuka di tempat kediamannya. Sajian khusus telah disiapkan untuk Nandopananda, yang duduk di singgasana megah dibawah naungan sebuah payung putih.

Sekelompok naga pemusik, penari dan pelbagai naga perempuan menyajikan makanan dan minuman yang mewah, semuanya mengelilingi Nandopananda. Tatkala sang raja naga tengah mabuk oleh kemegahan dan pemuliaan dirinya, Sang Buddha membuat agar sang naga melihat diri-Nya beserta arakan para bhikkhu sedang menuju alam Surga Tavatimsa dan melintas tepat diatas singgasananya.

Melihat arak – arakan ini, sang raja naga seketika naik pitam dan bersungut – sungut, ” Orang – orang gundul ini sedang keluar masuk Surga Tavatimsa dan melintas tepat diatas kediamanku. Aku tidak akan membiarkan mereka melintas diatas kita, menebarkan kotoran kaki mereka diatas kepala kita.”

Dengan kecepatan tinggi, Nandopananda melesat menuju kaki Gunung Sineru, mengubah dirinya menjadi besar dan meliliti gunung itu sebanyak tujuh lilitan. Dengan tudung kepalanya yang sangat besar, ia menutupi seluruh Surga Tavatimsa, akibatnya terjadilah gelap gulita dan tak ada sesuatu pun yang bisa tampak.

Menyadari kegelapan yang mendadak, Yang Ariya Rathapala, salah satu Arahat pengiring Sang Buddha bertanya, “Yang mahamulia, biasanya kalau kita melintasi daerah ini, kita bisa melihat Gunung Sineru dengan jelas, demikian pula kubu sineru, Surga Tavatimsa, Wisma Vejayanta dan panji – panji diatas wisma itu. Mohon penjelasan, Yang Mahamulia, apakah kiranya penyebabnya sehingga diriku tidak melihat Gunung Sineru dan kubunya, Surga Tavatimsa, Wisma Vejayanta dan panji – panji diatasnya?”

“Ratthapala, sang raja naga, Nandopananda, tengah merasa murka dan telah meliliti Gunung Sineru sebanyak tujuh lilitan serta menyelimuti seluruh Surga Tavatimsa dengan tudung kepalanya yang sangat besar, mengakibatkan kegelapan.”

“Yang Mahamulia, izinkanlah diriku untuk menjinakkannya.”

Sang Buddha tidak memberikan izin kepada Yang Ariya Ratthapala, Setelah itu Yang Ariya Bhaddiya, Yang Ariya Rahula, dan satu persatu, semuanya kecuali satu orang, memohon izin dari Sang Buddha untuk menjinakkan naga itu. Namun Sang Buddha tidak mengizinkan satu pun dari mereka untuk melakukannya.

Pada akhirnya, Yang Ariya Maha Moggallana berkata,” Yang Mahamulia, izinkanlah diriku untuk menjinakkannya.” Sang Buddha mengizinkan dengan berkata,”Jinakkanlah naga itu, Moggallana.”

Serta merta Yang Ariya Moggallana mengubah dirinya menjadi naga raksasa yang sangat besar. Kemudian beliau meliliti tubuh Nandopananda sebanyak empat belas lilitan, menutupi tudung kepala Nandopananda dengan tudung kepalanya, dan memojokkan Nandopananda ke dinding sineru. Si raja naga melawan dengan menyemburkan asap. Yang Ariya Moggallana berkata,” Bukan hanya engkau yang bisa menyemburkan asap, akupun bisa melakukan hal itu”, sambil menyemburkan lebih banyak asap. Asap Nandopananda tidak menyakitkan Yang Ariya Moggallana, namun sebaliknya asap Yang Ariya Moggallana sangat menyakitkan Nandopananda.

Kemudian Nandopananda menyemburkan api, Yang Ariya Moggallana berkata,” Bukan hanya engkau yang bisa menyemburkan api, akupun bisa melakukan hal itu”, sambil menyemburkan lebih banyak api. Api Nandopananda tidak menyakitkan Yang Ariya Moggallana, namun sebaliknya api Yang Ariya Moggalana sangat menyakitkan Nandopananda.

Sambil merasa kesakitan, sang raja naga berpikir,” Dia memojokkan diriku ke dinding sineru dan ia juga menyemburkan asap dan api, “lalu dia bertanya,” Tuan, siapakah engkau?”

“Nanda, aku adalah Moggallana.”

“Bila demikian, Yang Ariya, kembalikan wujudmu sebagai seorang bhikkhu.”

Yang Ariya Moggallana mengubah wujudnya kembali sebagai bhikkhu, lalu memasuki telinga kanan Nandopananda dan keluar dari telinga kiri; kemudian ia masuk kembali melalui telinga kiri dan keluar melalui telinga kanannya. Sehabis itu Yang Ariya Moggallana masuk kedalam mulutnya dan berjalan kedalam perutnya, berjalan keatas dan kebawah, dari timur ke barat dan dari barat ke timur.

Sang Buddha memberi peringatan,” Moggallana, Moggallana, hati – hatilah, naga ini sangat perkasa.”

“Yang Mahamulia, keempat dasar kekuatan ( iddhividha ) telah disempurnakan , terlatih berulang kali, telah menjadi sarana, dibuat menjadi dasar, serta telah terbentuk sempurna, terpusat dan terpakai dengan benar. Perkenankan saya sampaikan, Yang Mahamulia, seratus, seribu atau seratus ribu raja naga seperti Nandopananda ini sekalipun dapat kujinakkan, apalagi hanya satu Nandopananda.”

Sekarang sang raja naga merencanakan,” Ketika dia masuk, aku tidak melihatnya, namun begitu ia keluar, ia akan kutangkap dengan taringku dan kumangsa.” Setelah berencana demikian, ia berkata,” Yang Ariya, tolong keluarlah dari tubuhku, berhentilah menyakiti tubuhku dengan berjalan ke atas dan kebawah di dalam perutku.”

Kemudian Yang Ariya Moggallana dari tubuh Nandopananda dan berdiri tepat dihadapannya. Begitu melihatnya,” ini dia” dengan kejinya Nandopananda langsung memuntahkan semburan yang mematikan dari lubang hidungnya. Seketika itu juga, Yang Ariya Moggallana memasuki tahap penyerapan meditasi (jhana) keempat. Dengan demikian semburan itu tidak mampu menggoyang satu helai rambutpun pada tubuhnya.

Kemampuan memasuki jhana keempat dengan seketika seperti ini, selain oleh Sang Buddha, hanya dapat dilakukan oleh Yang Ariya Moggallana. Bhikkhu lainnya juga dapat melakukan kekuatan adialami lainnya, namun mereka kemungkinan tidak dapat memasuki jhana keempat secepat itu, yang mampu menghindari semburan maut Nandopananda. Bila terlambat sedikit saja, maka tubuh lawan Nandopananda akan berubah menjadi abu. Demikianlah, setelah melihat saat yang sangat berbahaya ini pada dini hari itu, Sang Buddha tidak mengizinkan orang lain kecuali Moggallana untuk menjinakkan raja naga maut ini.

Melihat kejadian itu, Nandopananda tercengang,” Aneh! Semburan maut dari lubang hidungku sekalipun tidak mampu menggoyang satu helai rambut pun pada tubuh bhikkhu ini.”

Kemudian Yang Ariya Moggallana berubah bentuk mejadi supanna ( garuda), musuh abadi yang sangat mengerikan bagi para naga. Yang Ariya Moggallana mengejar Nandopananda seraya memuntahkan semburan maut ke arahnya. Akibatnya sang raja naga menjadi sangat ketakutan dan segera mengubah dirinya menjadi seorang pria muda. Sambil berlutut dihadapan Yang Ariya Moggallana, ia berkata,” Yang Ariya, aku bernaung pada dirimu”, lalu ia bersujud pada Yang Ariya Moggallana.

Yang Ariya Moggallana berkata padanya,” Wahai, Nandopananda, Yang Terberkahi sendiri ada disini. Marilah kita menghadap pada-Nya.” Kemudian Yang Ariya Moggallana membawa Nandopananda menghadap Sang Buddha.

Sang raja naga kemudian bersujud pada Sang Buddha sambil berkata,” Yang Ariya, aku bernaung pada dirimu.”

Sang Buddha menjawab,” semoga engkau menjadi raja naga yang berbahagia”, sambil memberkatinya. Setelah selesai, dengan diiringi oleh para bhikkhu, Sang Buddha segera menuju kekediaman Anathapindika.

Anathapindika bertanya,” Yang Mahamulia, apakah gerangan yang menyebabkan Yang Terberkahi terlambat tiba?”

“karena pertarungan anatara Moggallana dan Nandopananda.”

“Yang Mahamulia, siapakah kiranya yang menang dan sipakah yang kalah ?”

“Moggallana yang menang dan Nandopananda yang kalah”

Mendengar hal itu, Anathapindhika berkata,” Yang Mahamulia, sudilah kiranya Yang Terberkahi menerima persembahan dari diriku selama tujuh hari berturut – turut dan juga sujudku pada Yang Ariya Moggallana selama satu minggu penuh.”

Demikianlah Anathapindika mengadakan persembahan selama tujuh hari berturut – turut untuk menghormati Yang Tercerahkan dan lima ratus bhikkhu Arahat tersebut sekaligus merayakan kejayaan agung terhadap Nandopananda.

Kemenangan Atas Mara

KEMENANGAN ATAS MARA

Sammasambuddha adalah Juru Selamat, Ia tidak saja mewujudkan Nibbana bagi diri-Nya sendiri, namun juga menolong makhluk hidup yang tak terhingga jumlahnya untuk mewujudkannya juga. Arahat, siswa-Nya yang tercerahkan, akan menyebarluaskan dan meneruskan ajaran dari Sang Buddha Juru Selamat. Karenanya, proses pembebasan tetap bisa terjadi walaupun Sang Guru Agung telah wafat, mencapai parinibbana. Dengan menyempurnakan paraminya, Sang Buddha menjadi asal dan sumber awal dari kebijaksanaan, kebajikan dan kekuatan. Melalui kekuatan dari kesempurnaan-Nya yang tiada tara, Ia menaklukan Mara, kekuatan jahat yang paling dahsyat. Mara senantiasa membelenggu makhluk hidup dalam untaian ikatan samsara, sebaliknya Sang Buddha memungkinkan para pencari kebenaran untuk menghimpun kekuatan yang tiada tara dan untuk menggunakan sumber spiritualitas yang tiada habisnya ini, untuk mengatasi semua halangan dan bahaya yang diciptakan Mara. Karenannya, permohonan para pencari kebenaran adalah: “Berkat Kemenangan Agung Sang Buddha, Semoga Berkah dan kejayaan menjadi milikku”

Pada suatu hari bulan purnama Vesakha, menjelang fajar, keheningan yang tentram menyelimuti segenap hutan Uruvela. Di sini dipinggiran sungai Neranjara, Petapa Gotama tengah merenungi suatu penglihatan yang muncul dalam kesadaran-Nya laksana riak berkilau dari dasar pikirannya yang terdalam, dan yang berubah menjadi tekad mendalam. Dengan mengikuti kebiasaan para Buddha sebelumnya yang tiada tara.

Ia bertekad :

Para Buddha yang lampau, berjaya tiada taranya,

Para putra mahkota pada kelahiran terakhir kalinya, Melepaskan keduniawiannya untuk menjadi petapa,

Menguasai dirinya sendiri dan mencapai kebijaksanaan, Lebih perkasa dari para raja yang paling perkasa,

Mendaki puncak spiritual, Bodhi, Merekalah, tiada yang lain, yang merupakan Juru Selamat dunia,

Tradisi bersejarah ini akan kupenuhi hari ini !

Waktuku telah tiba untuk menuju ke Puncak!

Tekad ini menandai dimulainya pertentangan yang tiada banding dengan kekuatan terdahsyat di segenap tiga dunia, Mara, dan perseteruan sudah pasti akan terjadi. Saat itu, duduk dibawah Pohon Bodhi, Petapa Gotama melesat menuju Samadhi yang mendalam, yaitu keadaan penyerapan adibatiniah, dan menetap dalam keadaan itu selama beberapa jam. Sang Petapa saat itu berumur 35 tahun, Beliau telah melewati enam tahun penuh perjuangan, menjalani latihan sangat keras, bercita cita menjadi seorang Buddha, untuk membuka gerbang pembebasan bagi semua makhluk.

Pada saat itu, Sang Gotama selesai melakukan Samadhi di pagi hari, Beliau melihat Sujata, istri kepala kampung setempat, tengah menunggu dengan penuh hormat untuk mempersembahkan kepada-Nya nasi yang ditanak dengan susu ( payasa ) dalam sebuah mangkok emas. Sang Petapa memberkatinya dan menerima makanan persembahan yang akan memainkan peranan bersejarah, yaitu memberikan kekuatan fisik bagi diri-Nya selama tujuh minggu berikutnya. Setelah mandi di sungai Neranjara, Beliau menyantap payasa tersebut.

Kemudian untuk menguji kesahihan dari penglihatan dalam mimpi-Nya, Beliau melemparkan mangkok emas tersebut ke sungai sambil berpikir, “ jika hari ini juga Aku dapat mencapai puncak Pencerahan Sempurna, maka mangkok ini akan melaju melawan arus sungai ini. Dan ternyata… mangkok itu benar – benar melaju melawan arus dan menghilang di tengah – tengah sungai.

Dengan hati yang kembali mantap, Beliau pergi kembali ke Pohon Bodhi, sembari di perjalanan mengumpulkan beberapa ikat rumput kusa sebagai alas duduk, dan duduk menghadap kea rah timur. Laksana seorang ksatria yang tak tertandingi, dengan penuh keyakinanmenguatkan diri untuk menghadapi pertempuran, Beliau mengawali pertempuran akhir tersebut dengan tekad bulat, yang jadi terkenal:

“Biarlah daging-Ku, tulang-Ku, urat-Ku mengeriput dan biarlah darah-Ku mengering, namun tiada pernah Aku akan mundur dari tekad-Ku ini” Mengetahui tekad ini, Mara menjadi sangat marah karena menganggap semua ini adalah tantangan terhadap kekuasaannya.

Bagi dirinya, tekad ini terang – terangan meremehkan dan memutuskan gengamannya, tidak saja pada Gotama, tapi juga pada makhluk hidup lain yang tak terhitung, yang kelak akan menyebrangi gerbang pembebasan, yang mana tiada daya bagi Mara untuk menguasainya.

Karenanya sang penguasa bengis dari kerajaan alam duniawi, memutuskan untuk menggagalkan tekad Gotama yang begitu beraninya mencoba keluar dari cakupan kekuasaannya. Dengan demikian, pada senja hari itu, pertempuran sengit terjadi antara Gotama, Sang Bodhisatta dan Mara. Dengan pasukannya yang besar, Mara merangsak maju dan mengurung Sang Bodhisatta dari semua sisi.

Pelbagai kekuatan dari pasukan jahatnya, yang masing – masing berkekuatan gaib luar biasa, berubah bentuk menjadi makhluk yang jahat dan keji yang menyerang Sang Makhluk Agung, Mahasatta. Mara mengetahui bahwa jika Gotama dibiarkan keluar dari jaring rengkuhannya yang luas, tidak saja Ia akan terbebaskan, namun Ia kelak juga akan membebaskan makhluk lain yang tak terhitung. Oleh karena itu, Mara memerintahkan pasukannya untuk menyerang. Mara sendiri kemudian berubah bentuk menjadi makhluk keji yang menebarkan rasa takut, dengan seribu lengan yang masing – masing mengayun – ayunkan senjata yang mematikan. Dengan menunggangi gajah buas Girimekhala, Mara menyerang untuk menggoyahkan pikiran Gotama yang tentram yang tetap berdiam dalam meditasi yang mendalam.

Mara mengubah seluruh hutan menjadi gelap gulita dan melancarkan petir demi petir untuk manakut nakuti Putra Mahkota Sakya itu. Mara juga menimbulkan badai dan angin topan serta hujan es yang di selingi dengan hujan air panas. Kemudian Mara mengguyurkan debu panas, pasir panas, kerikil dan batu panas.

Mara menghembuskan angin ribut yang begitu dahsyat seolah akan mencabut seisi hutan itu, diikuti hempasan angin kencang yang berbau busuk dan beracun. Dengan ratusan cara, Mara berusaha untuk menggoyahkan Siddhatha Gotama.

Dari langit yang terbelah, Mara mengirimkan wanita – wanita yang melayang mempesona yang membisik menggoda, mencoba memberi rangsangan pada Yang Suci dengan tipu muslihat yang jalang. Mara kemudian mengirimkan putri – putrinya yang berusaha mengolok – olok usaha mulia Gotama sehingga tampak sia –sia. Mara sendiri menawarkan untuk menobatkan Gotama sebagai penguasa dunia dengan kekuasaan dan kesenangan tanpa batas, seandainya Ia mau menghentikan usaha-Nya. Sang Bodhisatta, dengan keyakinan diri yang tak terkalahkan dan dengan ketenangan diri yang luar biasa, tidak mengindahkan Mara dan tetap meneruskan usaha-Nya untuk mengembangkan berbagai tahapan meditasi.

Dalam usaha akhir-Nya untuk menundukan makhluk keji yang berkutat untuk bertahan ini, Beliau akhirnya membangkitkan kekuatan yang tiada bandingnya dari simpanan kebaikan spiritual yang tiada habisnya yang terlahir dari seluruh parami, Seraya menyentuh tanah dengan jari tengah-Nya, Beliau memanggil bumi sendiri sebagai saksi atas tindakan – tindakan gagah berani yang telah dilakukan-Nya sepanjang masa yang sangat lama untuk memenuhi parami yang agung. Begitu hebatnya kekuatan tindakan-Nya ini, sampai bumi, pelbagai benda langit, serta segenap alam semesta, berguncang dalam penghormatan pada anugrah yang tiada taranya dari calon Buddha ini. Hal ini begitu menakuti Mara, sehingga ia pergi tunggang langgang dengan pasukannya yang tercerai berai. Pada saat itu juga, terjadi kesejajaran antara bulan purnama yang tengah menyingsing di ufuk timur dengan bulatan merah matahari yang tengah terbenam di ufuk barat.

Dalam naskah suci digambarkan bagaimana setelah itu, Sang Guru Agung mengembangkan pelbagai pandangan terang adiduniawi dan akhirnya menjadi Pemenang Agung, Sang Buddha! Sesudahnya Beliau melewatkan masa tujuh minggu mengerahkan kekuatan mulia yang dimiliki oleh Yang Membebaskan Diri Sendiri ( Sayambhu ), Yang Mahatahu ( Sabbannu ) dan Yang Tercerahkan Sempurna dengan upaya sendiri ( Sammasambuddha ). Selama tujuh minggu berturut – turut, Sang Buddha tetap berada dalam samadhi, menikmati kebahagiaan pembebasan abadi. Ungkapan pertama-Nya setelah mengalahkan Mara adalah seperti ini : “Terbuka sudah gerbang menuju keabadian. Semoga mereka yang dapat mendengar meyakininya!”

Petavatthu

PENJELASAN MENGENAI CERITA PETA KETUA PENENUN

‘Kotoran dan air kencing, darah dan nanah.’ Demikian dikatakan ketika Sang Guru sedang berdiam di Sāvatthī berkenaan dengan petī yang dahulunya adalah seorang penenun.
Dikatakan bahwa sebanyak dua belas bhikkhu telah diberi subjek meditasi di hadapan Sang Guru. Ketika mencari tempat tinggal menjelang musim hujan, mereka melihat tempat yang menyenangkan, teduh dan banyak air di hutan, dengan desa yang dapat menyediakan dana makan yang letaknya tidak terlalu jauh maupun terlalu dekat. Setelah melewatkan malam itu di sana, keesokan harinya mereka memasuki desa untuk mengumpulkan dana makanan. Ada sebelas penenun yang tinggal di sana. Ketika melihat para bhikkhu itu, para penenun merasa amat gembira. Mereka kemudian menunjukkan kepada para bhikkhu rumah – rumah mereka. Setelah melayani para bhikkhu itu dengan makanan dan minuman, mereka bertanya, ‘Kemana Yang Mulia akan pergi?’ ‘Kami akan pergi kemanapun yang nyaman bagi kami,’ jawab para bhikkhu. ‘Jika demikian halnya, Yang Mulia seharusnya tinggal di sini,’ kata para penenun itu. Mereka pun memohon agar para bhikkhu melewatkan masa vassa (bersama mereka) dan para bhikkhu menerima permohonan itu. Kemudian para umat awam mendirikan gubuk bagi para bhikkhu pada tempat itu di hutan, dan mempersembahkannya kepada para bhikkhu yang memasuki masa vassa di sana. Ketua penenun di sana dengan (amat cermat melayani dua bhikhu dalam hal empat kebutuhan pokok, sedangkan setiap penenun yang lain mesing – masing melayani satu bhikkhu. Namun istri ketua itu tidak memiliki keyakinan maupun bakti. Dia jahat serta berpandangan salah, dan tidak melayani para bhikkhu dengan baik. Ketika si ketua mengetahui hal ini, (penenun itu) menjemput adik perempuannya dan menyuruhnya agar bertanggung jawab sebagai nyonya rumah. Si adik ini memiliki keyakinan dan bakti, dan melayani para bhikkhu dengan amat baik. Semua penenun masing – masing memberikan satu jubah kepada para bhikkhu yang telah melewatkan masa vassa, namun istri ketua penenun itu – karena pikirannya jahat – mengutuk suaminya (sambil mengatakan), ‘Makanan dan minuman apapun yang kamu berikan kepada para pertapa yang merupakan putra – putra Sakya, semoga makanan itu di alam lain berubah menjadi kotoran dan air kencing, darh dan nanah bagimu ; dan semoga jubah – jubah itu menjadi lempengan – lempengan besi yang panas menganga!’

Ketika tiba saatnya, ketua penenun tersrbut meninggal dunia dan terlahir sebagai devatā pohon. Dia tinggal di hutan Vinjha dan memiliki keagungan yang besar. Sedangkan ketika si istri yang kikir itu meninggal dunia, dia lahir kembali sebagai petī tidak jauh dari tempat tinggalnya dahulu. Petī ini telanjang dan penampilannya mengerikan. Karena dikuasai rasa lapar dan haus, dia mendekati tempat tinggal dewa tersebut dan berkata, Tuanku, saya tidak berpakaian dan berkelana kian kemari dikuasai rasa lapar dan haus yang luar biasa. Tolong beri saya pakaian dan makanan serta minuman.’ Dewa itu memberinya makanan serta minuman surgawi pilihan, tetapi begitu dia menyentuh benda – benda tersebut, semuanya berubah menjadi kotoran dan air kencing, darah dan nanah. Ketika dia mengenakan jubah, jubah itu menjadi lempengan besi yang panas menganga. Karena menderita kesengsaraan yang luar biasa, dia membuang benda – benda itu dan pergi (menjauh) sambil meratap.

Pada saat itu, seorang bhikkhu yang telah melewatkan masa vassa sedang dalam perjalanan untuk memberikan hormat kepada Sang Guru. Ia memasuki hutan Vīnjha dengan disertai banyak orang. Mereka terus berjalan pada malam hari dan di pagi hari mereka melihat suatu tempat yang teduh dan banyak airnya. Maka mereka pun melepaskan kekang ternaknya untuk beristirahat beberapa saat. Tetapi bhikkhu itu ingin sendirian, jadi ia berjalan terus sebentar. Kemudian ia menaruh jubah luarnya di kaki sebuah pohon, tempat yang memberikan keteduhan yang nyaman. Karena kelelahan setelah perjalanan semalam, ia membaringkan tubuhnya dan jatuh tertidur.

Orang – orang lain, setelah beristirahat, kemudian melanjutkan perjalanan, tetapi bhikkhu itu tetap tidak bangun. Ia baru terbangun di petang hari dan karena tidak bisa melihat kelompoknya, [44] ia mulai berjalan ke arah yang salah. Akhirnya sampailah ia di tempat tinggal devatā itu.

Ketika devaputta itu melihat bhikkhu ini, dia mendekat dalam bentuk manusia dan menyapa dengan ramah, mengundangnya ke dalam rumahnya yang besar, dan memberikan minyak untuk kaki bhikkhu itu dan lain – lain, lalu duduk untuk melayani. Pada saat ini petī itu datang sambil mengatakan, ‘Yang Mulia, tolong beri saya makanan dan minuman serta jubah.’ Bhikkhu itu memberikan kepada petī tersebut apa yang diminta, tetapi begitu dia menyentuhnya, benda – benda tersebut berubah menjadi kotoran dan air kencing, darah dan nanah serta lempengan – lempengan besi yang panas menganga. Ketika melihat hal ini, bhikkhu itu merasa amat ngeri, dan bertanya kepada devaputta tersebut dengan dua syair ini :

Dia makan kotoran dan air kencing, darah dan nanah – sebagai akibat dari apakah ini? Perbuatan apakah yang telah dilakukan wanita ini sehingga dia selalu makan darah dan nanah?

Pakaian – pakaian baru, yang indah dan lembut, berrsih dan bagaikan bulu, ketika diberikan kepadanya berubah menjadi bagaikan lembaran – lembaran (logam) ; perbuatan apakah yang telah dilakukan wanita ini?’

Di sini sebagai akibat dari apakah ini? (kissa ayaṃ vipāko) : sebagai akibat dari perbuatan apakah maka dia sekarang menjalani senua ini? Perbuatan apakah yang telah dilakukan wanita ini? (ayaṃ nu kiṃ kammaṃ akāsi nārī) : perbuatan apakah yang telah dilakukan wanita ini di masa lalu? Sehingga dia selalu makan darah dan nanah? (yā ca sabbadā lohitapubbabhakkhā) : sehingga senantiasa dia mendapat makanan, minuman, makan, darah dan nanah saja.

Baru (navāni) : akhir – akhir ini, setelah muncul saat itu juga. Indah (subhāni) : bagus dan elok untuk dipandang. Lembut (mudūni) : menyenangkan untuk disentuh. Bersih (suddhāni) : memiliki penampilan yang sangat murni. Bagaikan bulu (lomasāni) : dengan tumpukan yang menyenangkan untuk disentuh, artinya, elok. Ketika diberikan kepadanya berubah menjadi bagaikan lembaran – lembaran (logam) (dinnān’ imissā kiṭakā va bhavanti) : menjadi mirip lembaran – lembaran (logam) dengan duri, mirip dengan lembaran – lembaran tembaga. Bacaan alternatif adalah ‘menjadi cacing – cacing’ (kīṭakā bhavanti), yang artinya, menjadi mirip serangga yang menggigit.

Ketika ditanya demikian oleh bhikkhu itu, devaputta pun menyampaikan dua syair yang menjelaskan perbuatan yang telah dilakukan petī itu di dalam kehidupan sebelumnya :

Dahulu dia adalah istriku, yang Mulia, yang tidak dermawan, jahat dan kikir ; ketika saya memberi kepada para petapa dan bhamana, dia menghina dan mencaci maki saya, dengan mengatakan,

Kotoran dan air kencing, darah dan nanah – semoga kamu makan apa yang tidak bersih sepanjang waktu! Biarlah ini menjadi (makanan) – mu di alam berikutnya dan semoga pakaianmu seperti lembaran – lembaran (logam)!” Karena telah memiliki perilaku buruk seperti itu, dia datang ke sini karena harus makan (kotoran) untuk waktu yang lama.’

Di sini tidak dermawan (adāyakā) : dia tidak memberi apapun kepada siapapun, dia tidak memiliki keluhuran dalam bentuk kedermawanan. Jahat dan kikir (maccharinī kadariyā) : pertama – tama dia jahat karena wataknya (yang tercemar oleh) noda keegoisan ; melalui pengejarannya berkali – kali (dalam perilaku semacam itu, dia menjadi luar biasa jahat ; (dan akhirnya) dia kikir – demikianlah hal ini harus ditafsirkan. Kemudian dia mengatakan ‘Ketika saya memberi (kepada para petapa dan bhamana), dia (menghina) saya’ dan sebagainya untuk menunjukkan (seberapa jauh) kekikirannya.

Di sini seperti itu (etādisaṃ) : karena telah memiliki perilaku yang buruk lewat ucapan dan lain – lain sebagaimana sudah dikatakan sebelumnya. Dia datang ke sini (idhāgatā) : dia datang ke alam peta ini, dia terlahir sebagai petī. Harus makan (kotoran) untuk waktu yang lama (cirarattāya khādati) : harus makan hanya kotoran dan lain – lain saja dalam kurun waktu yang lama. Karena, apapun cara yang dipakainya untuk menghina, dengan cara yang sama pula buahnya dihasilkan. Penghinaan jatuh kembali kepada diri sendiri, bukan pada orang yang dihina, seperti jatuhnya halilintar di puncak yang tinggi, yang disebut penghenti gerak bumi.
Sesudah menceritakan perbuatan yang telah dilakukan oleh petī itu di masa lalu, devaputta itu kemudian berbicara sekali lagi kepada bhikkhu tersebut (sambil mengatakan), ‘Yang Mulia, apakah ada cara yang dapat membuat petī ini terbebas dari alam peta ini?’ Ketika di jawab bahwa ada cara untuk itu, devaputta itu berkata, ‘Saya mohon diberitahu, Yang Mulia.’ [46] ‘Jika dana makanan diberikan kepada seorang bhikkhu atau salah satu anggota Ariyasaṅha Sang Buddha dan kemudian dipersembahkan bagi petī itu, dan petī itu menunjukkan penghargaannya, maka akan ada kebebasan baginya dari kesengsaraan ini.’ Ketika devaputta mendengar hal ini, dia memberikan makanan dan minuman terbaik kepada bhikkhu itu dan mempersembahkan dana itu atas nama petī itu. Petī itu segera merasa segar dan kemampuan pun pulih dan menjadi kenyang dengan makanan surgawi. Kemudian devaputta sekali lagi menyerahkan ke tangan bhikkhu itu sepasang jubah surgawi yang dikhususkan bagi Sang Buddha dan memberikan dana itu atas nama petī tersebut. Segera petī itu berpakaian surgawi, dihiasi dengan perhiasan – perhiasan surgawi. Dilengkapi secara melimpah dengan semua yang diinginkannya, dia menyerupai bidadari – dewa. Bhikkhu ini sampai di Sāvatthī pada hari itu juga dengan kekuatan supranormal dari devaputta. Dia menuju hutan Jeta, menghadap sang Buddha, memberi hormat dan kemudian menyerahkan sepasang jubah tersebut. Kemudian dia mengemukakan persoalan itu kepada Sang Buddha. Sang Buddha menganggap persoalan itu sebagai munculnya suatu kebutuhan dan mengajarkan Dhamma kepada orang – orang yang berkumpul di sana. Ajaran mengenai Dhamma itu bermanfaat bagi orang – orang itu.

PENJELASAN MENGENAI CERITA PETA BERKEPALA GUNDUL

‘Siapakah engkau (yang tetap berada) di dalam istanamu?’ Demikian dikatakan ketika Sang Guru yang sedang berdiam Sāvatthī, berkenaan dengan petī yang berkepala gundul.
Dikatakan bahwa dahulu kala di Benares ada seorang pelacur yang amat cantik dan menarik dipandang mata. Dia amat elok dan beruntung memiliki kulit yang amat indah dan rambut ikal yang amat menawan. Rambutnya hitam dan panjang, lembut, halus, licin, dan ujungnya bergelombang. Bila dilepas dari gulungannya, rambutnya terurai sampai ke pinggang. Bila memandang rambutnya yang indah, hampir semua laki – laki yang ada di sana jatuh cinta kepada pelacur itu. Tak tahan melihat rambut yang indah itu, beberapa wanita yang dikuasai rasa dengaki mengadakan pertemuan bersama dan kemudian menyuap pembantunya agar memberikan ramuan yang menyebabkan rambut wanita itu rontok. Dikatakan bahwa pembantunya menyiapkan ramuan itu di dalam serbuk mandinya yang kemudian diberikan pada waktu dia sedang mandi di sungai Gangga. Dia membasahi rambutnya sampai ke akar – akarnya dan kemudian membilasnya ke dalam air. [47] Tak lama setelah dia membilas rambutnya, rambut itu rontok di akarnya sehingga kepalanya mirip labu pahit. Maka, karena kepalanya gundul tanpa rambut sama sekali dan dia kelihatan amat tidak menarik bagaikan burung dara yang kepalanya dicabuti bulunya, dia merasa terlalu malu masuk kota. Lalu dia menutup kepalanya dengan sehelai kain dan pindah untuk berdiam di suatu tempat di luar kota. Setelah selang waktu beberapa hari, rasa malunya meninggalkan dia dan dia memeras biji wijen serta mencari nafkah dengan berdagang minyak dan minuman keras.

Suatu ketika, ketika dua atau tiga pemabuk tertidur lelap, dia mencuri pakaian mereka yang sedang tergantung. Pada suatu hari dia melihat seorang Thera yang telah menghancurkan āsava – āsavanya berkeliling untuk mengumpulkan dana makanan. Dengan bakti di dalam hati, dia mengajak Thera itu ke rumahnya, mempersilahkan bhikkhu itu duduk di tempat yang tunjukkan dan kemudian memberinya kue – minyak yang terbuat dari biji wijen yang ditumbuk dan dicelup di dalam minyak. Thera tersebut, karena merasa kasihan kepadanya, menerima dan makan kue itu. Sementara itu, wanita itu berdiri dengan penuh rasa bakti sambil memegangi penghalang sinar matahari di atas bhikkhu itu. Sang Thera menunjukkan penghargaan yang menggembirakan hati wanita itu dan kemudian pergi.

Ketika Thera itu menunjukkan penghargaannya, pada saat yang bersamaan wanita itu juga mengucapkan suatu harapan, ‘Semoga rambutku menjadi panjang, lembut, licin, halus dan bergelombang di ujungnya!’ Pada waktunya dia kemudian meninggal dan sebagai akibat dari perbuatan – perbuatannya yang baik dan buruk, dia lahir kembali sendirian di sebuah istana keemasan di tengah laut. Rambutnya persis seperti yang dia inginkan, tetapi dia telanjang karena telah mencuri pakaian – pakaian para pria. Berkali – kali dia muncul di istana keemasan itu dalam keadaan telanjang, dan melewatkan satu masa jeda – Buddha di sana. Kemudian ketika Sang Buddha Gotama muncul di dunia dan telah memutar Roda Dhamma yang Agung dan akhirnya tinggal di Sāvatthī, sebanyak seratus pedagang, penghuni Sāvatthī, pergi dengan kapal mengarungi lautan yang luas menuju ke Suvaṇṇabhūmi (Burma bagian bawah). Kapal yang mereka tumpangi terombang ambing karena dihempas angin yang keras dan hanyut ke sana kemari, sampai akhirnya tiba di tempat itu. Maka vimānapetī itu mengungkapkan diri dan istananya kepada mereka. Ketika ada pedagang senior yang melihat vimānapetī itu, dia mengucapkan syair ini untuk bertanya :

‘Siapakah kamu yang tetap berada di dalam istanamu, dan tidak keluar? Keluarlah, wahai sahabat, biarlah kami melihat kamu berdiri di luar.’

Di sini siapakah kamu yang tetap berada di dalam istanamu? (kā nu anto vamānasmiṃ tiṭṭhantī) : dia bertanya, ‘Siapakah kamu yang tetap berada di dalam istanamu? Apakah kamu manusia wanita atau bukan – manusia?’ Tidak keluar (na upanikkhami) : tidak meninggalkan istanamu. Keluarlah, wahai sahabat, biarlah kami melihat kamu berdiri di luar (upanikkhamassu bhadde tvaṃ passāma taṃ baṭṭhitaṃ) : wahai sahabat, biarlah kami melihatmu, kami ingin melihatmu berdiri di luar, kami mohon tinggalkanlah istanamu. Bacaan alternatifnya adalah ‘Salam bagimu! Keluarlah! (upanikkhamassu bhaddan te), artinya, berkah ada bersamamu.
Petī itu kemudian mengucapkan syair yang menjelaskan mengapa dia tidak mampu keluar :

Karena telanjang, aku (terlalu) sedih dan malu untuk keluar ; aku tertutup (hanya) oleh rambutku – hanya sedikit perbuatan – perbuatan baik yang telah kulakukan.’
Di sini aku (terlalu) sedih (aṭṭyāmi) : karena telanjang, aku (terlalu) sedih dan sengsara untuk keluar. Malu (harāyāmi) : malu. Aku tertutup (hanya) oleh rambutku (keseh’ amhi paṭicchannā) : aku tertutup, tubuhku tersembunyi (hanya) oleh rambutku. Hanya sedikit perbuatan – perbuatan baik yang telah kulakukan (punnaṃ me appakaṃ kataṃ) : hanya sedikit, sepele, tidak banyak perbuatan – perbuatan baik yang telah kulakukan, pemberianku hanyalah (kue yang terbuat dari) biji wijen yang ditumbuk – demikian artinya.
Kemudian pedagang itu, karena ingin memberikan bajunya, mengucapkan syair ini :

Kemarilah, aku akan memberi kamu bajuku – pakailah baju ini. Setelah kamu memakai baju ini, lalu keluarlah wahai gadis cantik. Keluarlah, sayang, biarlah kami melihat kamu berdiri di luar.’

Di sini kemarilah (handa) : ambilah ini. Baju (uttarīyaṃ) : baju luar, pakaian paling luar yang berarti mantel luar. Aku akan memberi kamu : dadāmi te = tuyhaṃ dadāmi (bentuk tata bahasa alternatif). Pakailah baju ini (imaṃ dussaṃ nivāsaya) : pakailah baju luar – ku ini. Gadis cantik (sobhane) : gadisku yang cantik.

Sambil berkata demikian, dia mempersembahkan kepada petī itu baju luarnya. Petī itu mengucapkan dua syair ini untuk menunjukkan bahwa apa yang diberikan dengan cara seperti itu tidak akan memberi dia manfaat, serta menunjukkan cara agar barang – barang yang diberikan dapat memberikan manfaat baginya :

Apa yang diberikan oleh tanganmu ke dalam tanganku tidak ada manfaatnya bagiku. Tetapi umat awam di sini ini memiliki keyakinan dan merupakan seorang sāvaka dari Buddha yang Sempurna ;

Setelah memberikan pakaian kepada Beliau, tujukanlah dana itu bagiku. Maka aku akan berbahagia dan dapat memperoleh apapun yang kuinginkan.’

Di sini apa yang diberikan oleh tanganmu ke dalam tanganku tidak ada manfaatnya bagiku (hatthena hatthe te dinnaṃ na mayhaṃ upakappati) : apa yang diberikan olehmu, tuan yang baik, oleh tanganmu ke dalam tanganku tidak ada menfaatnya bagiku, artinya tidak cocok untuk kegunaan(19) – ku. Tetapi umat awam di sini ini memiliki keyakinan (es’ etth’ upāsako saddho) : tetapi di antara kelompok orang di sini ini ada umat awam yang telah pergi berlindung kepada Tiga Permata. Dia memiliki keyakinan karena dia yakin kepada buah – buah perbuatan.

Setelah memberikan pakaian kepada Beliau, tujukanlah dana itu bagiku (etaṃ accādayitvāna mama dakkhiṇaṃ ādisa) : berikanlah kepada umat awam ini baju yang tadi kamu berikan padaku, dan tujukanlah dana itu padaku, berikanlah (atas namaku) sesuatu yang ditentukan. Maka aku akan berbahagia (tadāhaṃ sukhitā hessaṃ) : ketika hal itu dilakukan, aku akan mencapai kebahagiaan dan akan berpakain surgawi.
Mendengar hal ini, para pedagang kemudian memandikan dan meminyaki umat awam itu dan kemudian memberinya sepasang baju luar. Mereka yang mengulang teks itu kemudian mengucapkan tiga syair ini untuk menjelaskan perihal ini :

Para pedagang itu memandikan dan meminyaki dia serta memberinya pakaian – pakaian itu dan menujukan dana itu kepada petī tersebut.
Segera setelah mereka mempersembahkan ini, hasilnya pun menjelma – makanan, pakaian dan minuman yang merupakan buah dari dana ini.

Maka petī itu menjadi lebih murni, terbungkus pakaian yang bersih dan segar, mengenakan pakaian yang lebih halus daripada pakaian Kāsi dan meninggalkan istananya sambil tersenyum (untuk menunjukkan), “Inilah buah dari danamu”.’

Di sini dia (taṃ) : umat awam itu ; kata ca (tidak diterjemahkan) hanyalah partikel saja. Itu (te) harus dihubungkan dengan ‘pedagang’. Meminyaki (vilimpitvāna) : meminyaki dengan bau – bauan lembut. Memberinya pakaian – pakaian itu (vattheh’ acchādayitv&##257;na) : setelah memberinya makanan kare yang dilengkapi dengan penampilan yang indah, bau serta cita – rasa yang enak, mereka memberinya dua pakaian – pakaian dalam dan pakaian luar – yang artinya mereka memberinya dua (potong) pakaian. Menujukan dana itu kepada petī tersebut (tassā dakkhiṇaṃ ādisuṃ) : memberikan dana demi petī itu.

Segera setelah mereka mempersembahkan ini (samanantarānuddiṭṭhe) : anu (tidak diterjemahkan) hanyalah sekedar partikel ; begitu mereka mempersembahkan dana itu kepadanya. Hasilnya pun menjelma (vipāko upapajjatha) : hasil untuk petī tersebut, yaitu, buah dari dana ini, menjadi ada. Hasil macam apa? Petī itu berkata : makanan, pakaian dan minuman (bhojanacchādanapānīyaṃ) : berbagai makanan yang mirip dengan makanan – makanan surgawi, berbagai pakaian berwarna yang memancarkan berbagai warna yang mirip dengan pakaian – pakaian surgawi serta berbagai jenis minuman yang tak terhitung banyaknya – itulah buah dari dana tersebut yang menjelma – demikian hal ini harus ditafsirkan.

Maka (tato) : setelah menerima makanan yang telah disebutkan dan lain – lain. Dia menjadi murni (suddhā) : tubuhnya menjadi bersih karena mandi. Terbungkus pakaian yang bersih dan segar (sucivasanā) : mengenakan pakaian – pakaian yang bersih dan cerah. Mengenakan pakaian yang lebih halus daripada pakaian Kāsi (kāsikuttamadhaārinī) : memakai pakaian yang lebih halus daripada pakaian yang terbuat dari kain Kāsi. Sambil tersenyum (hasantī) : dia meninggalkan istananya sambil tersenyum untuk menunjukkan, ‘Lihatlah, wahai sahabat, buah danamu yang luar biasa.’
Ketika para pedagang itu melihat sendiri buah dari perbuatan baik mereka, hati mereka amat takjub dan heran, dan mereka dipenuhi dengan rasa hormat dan penghargaan kepada umat awam itu. Mereka pun memberikan penghormatan kepadanya dengan anjali. Umat awam itu membuat bakti mereka lebih dalam lagi lewat pembicaraan mengenai Dhamma dan memantapkan mereka ke dalam Peraturan dan Perlindungan(yaitu lima peraturan yang mengikat umat awam serta tiga perlindungan kepada Buddha, Dhamma dan Saṅgha ; dengan mengambil ini, mereka langsung menjadi umat awam sendiri. Namun tidak seperti umat awam di sini, mereka bukanlah sāvaka Buddha). Kemudian mereka bertanya kepada vimānapetī tentang perbuatan yang telah dilakukannya lewat syair ini :

Istanamu yang dicat indah, yang berkilau tampak bersinar ; Oh devatā, kami mohon beritahukanlah kami perbuatan apakah yang membuahkan ini.’

Di sini dicat indah (sucittarūpaṃ) : indah dihiasi dengan lukisan – lukisan berupa dua gajah, kuda, pria, wanita dan lain – lain dan juga rangkaian bunga dan tanaman rambat. Berkilau (ruciraṃ) : menyenangkan dan indah dipandang. Perbuatan apakah yang membuahkan ini (kissa kammass’ idaṃ phalaṃ) : perbuatan seperti apa, maksudnya, apakah itu merupakan buah dari perbuatan yang didasarkan pada memberi atau dari perbuatan yang didasarkan pada perilaku luhur?
Ketika ditanya demikian, petī tersebut mengatakan tiga syair ini yang memberitahu mereka bahwa (istana) itu merupakan buah dari perbuatan baik sepele yang telah dilakukan, dan bahwa di masa depan, akan ada (buah) perbuatan tidak baik sebagaimana terdapat di neraka :

Kepada seorang bhikkhu pengembara yang lurus, aku, dengan hati yang tulus, telah memberikan kue minyak.

Sebagai akibat dari perbuatan yang baik itu, untuk waktu yang lama aku bersenang – senang di dalam istana ini, tetapi sekarang hanya tinggal sedikit.

Setelah empat bulan kematianku akan tiba dan aku akan jatuh ke dalam neraka yang amat kejam dan mengerikan :

Bersudut empat dan dengan empat pintu, neraka terbagi menjadi bagian – bagian yang sama, dikelilingi oleh dinding besi dengan atap besi diatasnya ;

Lantainya yang menyala terbuat dari besi yang membara – ke sekeliling sejauh seratus yojana lantai itu membentang, selamanya berdiri.

Di sana untuk waktu yang lama aku akan mengalami perasaan – perasaan yang menyakitkan sebagai buah dari perbuatan – perbuatan jahatku – karena alasan inilah aku merasa amat sedih.’

Di sini kepada seorang bhikkhu yang mengembara (bhikkhuno caramānassa) : kepada seorang bhikkhu yang telah memotong kekotoran – kekotoran batin dan yang berkelana mengumpulkan dana makanan. Kue minyak (doṇinimmajjanaṃ) : biji wijen yang ditumbuk halus sehingga mengeluarkan minyak. Lurus (ujubhūtassa) : yang telah mencapai kelurusan karena tanpa kekotoran batin yang menghasilkan penyelewengan, kebohongan dan ketidakjujuran pikiran. [52] Dengan hati yang tulus (vippasannena cetasā) : dengan bakti sejati di dalam hati karena keyakinan akan buah dari perbuatan – perbuatan.

Untuk waktu yang lama (dīghaṃ antaraṃ) : kata – kata dīghaṃ dan antaraṃ terdengar harmonis dengan suku kata ma, yang artinya untuk waktu yang lama. Tetapi sekarang hanya tinggal sedikit (tan ca dāni parittakaṃ) : tetapi sekarang hanya tinggal sedikit, tetapi sekarang hanya sedikit yang tersisa dari tindakan tersebut – buah dari tindakan berjasa itu sudah matang dan telah sampai saatnya, yang artinya, aku akan jatuh dari sini tidak lama kemudian. Karena itulah dia mengatakan :

Setelah empat bulan kematianku akan tiba (uddhan catūhi māsehi kālakiriyā bhavissati) : dia menunjukkan bahwa setelah empat bulan, empat bulan kemudian, di bulan kelima (dari sekarang) akan tiba saat kematiaannya. Yang luar biasa kejam (ekantaṃ kaṭukaṃ) : amat sangat tidak diinginkan, artinya, amat sangat menyakitkan karena masuk ke enam bidang (indera). Mengerikan (ghoraṃ) : kejam. Neraka (nirayaṃ) : neraka disebut nir – ayaṃ karena tidak ada apa – apa di sini (nir-, awalan negatiff) yang dibuat untuk kemudahan (ayaṃ), untuk kenyamanan. Aku akan jatuh : papatiss’ āhaṃ = papatissāmi ahaṃ (ketetapan majemuk). Dan karena ‘neraka’ di sini harus dipahami sebagai Neraka Avīci yang Besar, dia mengatakan syair – syair yang bermula, ‘Bersudut Empat” yang menunjukkan bahwa itu mempunyai bentuk yang sama (seperti Avīci).

Di sini bersudut empat (catukkaṇṇaṃ) : dengan empat sudut. Dengan empat pintu (catudvāraṃ) : dilengkapi dengan empat gerbang (dengan satu gerbang) di (masing – masing) empat arah. Terbagi (vibhattaṃ) : dibagi secara teratur. Menjadi bagian – bagian : bhāgaso = bhāgato (bentuk tata bahasa alternatif). Sama (mitaṃ) : sesuai. Dikelilingi oleh dinding besi (ayopākāra ṃ pariyantaṃ) : dikelilingi oleh dinding yang terbuat dari besi. Dengan atap besi diatasnya (ayasā paṭikujjitaṃ) : ditutupi di atasnya oleh langit – langit dari besi.

Menyala (tejasāyutā) : kobaran – kobaran api terus – menerus menyatu menjadi nyala api yang besar, yang naik ke sekelilingnya. Ke sekeliling sejauh seratus yojana (samantā yojanasataṃ) : sementara di sekeliling dan di luar demikianlah halnya, jadi di semua arah seratus yojana, dalam yojana ada seratus. Selamanya (sabhadā) : sepanjang waktu. Lantai itu terbentang (pharitvā) : lantai itu terhampar luas.

Di sana (tattha) : di Neraka Besar itu. Saya akan mengalami : vedissaṃ = vedissāmi (bentuk tata bahasa alternatif) ; aku akan menjalani. Sebagai buah dari perbuatan – perbuatan jahatku (phalan ca pāpakammassa) : artinya, pengalaman menjalani (perasaan – perasaan) menyakitkan seperti ini akan mmerupakan buah dari tindakan – tindakan jahat yang dilakukan olehku sendiri.

Setelah petī itu menjelaskan tentang buah dari perbuatannya serta kehidupannya di masa mendatang di neraka [53] , hati umat awam itu tergugah dengan welas asih, dan karena berpikir bahwa dia mungkin dapat menjadi (sarana) penopang bagi petī itu, dia berkata, ‘Hanya dengan satu pemberian saja kepadaku, O devatā, engkau akan dapat memiliki secara melimpah segala yang engkau inginkan dan bersatu dengan kemuliaan yang agung ini. Jika sekarang engkau memberikan hadiah kepada umat – umat awam ini dan mengingat kembali keluhuran – keluhuran Sang Guru, engkau akan terbebas dari keharusan muncul di neraka.’ Petī itu amat gembira dan mengatakan, ‘Baiklah’, dan membuat mereka kenyang dengan makanan dan minuman surgawi serta memberi mereka pakaian – pakaian surgawi dan berbagai jenis permata.

Kemudian petī itu menyerahkan ke dalam tangan mereka sepasang jubah surgawi khusus untuk Sang Buddha dan menyampaikan penghormatan ini. ‘Jika kalian sampai di Sāvatthī, tolong sampaikan hormatku kepada Sang Guru dengan pesan ini dariku : ‘Bhante, satu makhluk vimānapetī menghormat Yang Mulia dengan kepalanya di kaki Yang Mulia.’ Lalu petī itu membawa kapal mereka ke pelabuhan yang mereka inginkan pada hari itu juga lewat kekuatan supranormal dan kehebatannya.

Dari pelabuhan itu akhirnya para pedagang sampai di Sāvatthī dan masuk ke hutan Jeta. Mereka memberikan kepada Sang Buddha sepasang jubah itu dan setelah mereka menyampaikan pesan dari petī itu mereka mengajukan seluruh persoalan itu dari awalnya. Sang Buddha menganggap persoalan itu sebagai munculnya kebutuhan dan mengajarkan Dhamma secara rinci kepada kelompok yang berkumpul di sana. Ajaran itu bermanfaat bagi orang – orang yang berkumpul di sana. Pada hari berikutnya para umat awam itu memberikan dana makanan melimpah kepada Saṅgha bhikkhu dengan Sang Buddha sebagai pimpinannya dan kemudian menujukan dana ini kepada petī itu. Ketika petī itu jatuh dari alam peta, dia lahir spontan di istana keemasan di alam Tiga Puluh Tiga Dewa, dilengkapi dengan berbagai permata dan dengan seribu bidadari sebagai pengiring.

PENJELASAN MENGENAI CERITA PETA GAJAH

‘Dia mendahului di depan seekor gajah putih.’ Demikian dikatakan ketika Sang Guru sedang berdiam di Hutan Jeta berkenaan dengan dua peta yang dahulunya adalah brahmana.
Diceritakan bahwa YM Saṃkicca yang berusia 7 tahun telah mencapai tingkat arahat ketika masih berada di ruang – cukur dan sedang berdiam sebagai samanera bersama tiga puluh bhikkhu di suatu tempat di hutan. [54] Setelah menyelamatkan bhikkhu – bhikkhu itu dari kematian yang akan menimpa mereka di tangan lima ratus perampok dan setelah menjinakkan para perampok serta membuat mereka meninggalkan keduniawian, samanera itu kemudian pergi menghadap Sang Guru. Sang Guru mengajarkan Dhamma kepada para bhikkhu dan pada akhir ajaran itu mereka mencapai tingkat arahat.

Setelah YM Saṃkicca cukup dewasa dan telah menerima pentahbisan, beliau pergi ke Benares bersama lima ratus bhikkhu dan tinggal di Isipatana (tempat di Taman Rusa di Sarnarth, kira – kira 6 mil dari Benares, di mana Khotbah Pertama dibabarkan. Disebut demikian karena para pertapa, ketika dalam perjalanan mereka melalui udara (dari Himalaya), turun di sini atau mulai dari sini dalam penerbangan mereka). Orang – orang pergi menghadap Thera tersebut, mendengarkan Dhamma dan dengan bakti yang dalam mereka membentuk kelompok – kelompok di sepanjang jalan, dan memberikan dana kepada para pendatang baru. Seorang umat awam di sana mendorong orang – orang itu (untuk menyediakan) persediaan makanan terus – menerus, dan mereka pun memberikan persedian makanan terus – menerus sesuai dengan kemampuan mereka.

Pada saat itu di Benares ada seorang brahmana yang memiliki pandangan salah. Dia mempunyai dua putra dan seorang putri. Putra yang tua ini adalah teman umat awam tersebut. Umat awam ini mengajaknya pergi menghadap YM Saṃkicca dan beliau mengajarkan Dhamma yang melembutkan hatinya. Kemudian umat awam tersebut berkata kepadanya, ‘Sebaiknya kami memberikan persediaan makanan terus – menerus bagi YM Saṃkicca satu bhikkhu.’ ‘Bukan kebiasaan kami para brahmana untuk memberikan makanan terus – menerus kepada petapa – petapa yang merupakan putra – putra Sakya, jadi aku tidak akan memberikan (ini).’ ‘Apakah kamu tidak mau memberikan makanan bahkan kepadaku?’ umat awam itu bertanya. ‘Bagaimana aku bisa tidak memberi?’ jawabnya. ‘Kalau begitu, berikanlah pada satu bhikkhu apa yang sedianya akan kamu berikan kepadaku.’ ‘Baiklah,’ dia setuju. Keesokan harinya, ketika masih sangat pagi, dia pergi ke vihāra, menjemput satu bhikkhu dan memberinya makanan. Sementara waktu berlalu dengan cara ini, adik lakinya dan saudara perempuannya melihat perilaku bhikkhu dan mendengarkan Dhamma. Karena menemukan keyakinan di dalam Ajaran itu, mereka bergembira dalam perbuatan – perbuatan berjasa. Maka tiga orang ini memberikan dana makanan sesuai dengan kemampuan mereka, memuliakan, menghormati, memandang tinggi dan menghargai para petapa dan brahmana. Sebaliknya, orang tua mereka tidak memiliki keyakinan maupun bakti, tidak mempunyai rasa hormat kepada para petapa dan brahmana, dan tidak menghargai pelaksanaan perbuatan – perbuatan yang berjasa. Sanak saudara mereka mendesak agar putri muda mereka dinikahkan dengan sepupunya dari pihak ibu. [55] Ketika pemuda ini mendengarkan Dhamma di hadapan YM Saṃkicca, batinya bergolak.

Sebagai orang yang telah meninggalkan keduniawian, dia selalu pergi ke rumah ibunya untuk makan. Ibunya mencoba memikatnya dengan sepupu putri dari pihak ibunya, dan karena ini, dia mulai merasa tidak puas. Dia lalu mendatangi gurunya dan berkata, ‘Saya ingin meninggalkan Saṅgha, Bhante. Izinkanlah saya.’ Gurunya melihat bahwa sebenarnya dia memiliki kemampuan (untuk menjadi sāvaka), maka beliau berkata, ‘Tunggulah satu bulan lagi, samanera.’ ‘Baiklah,’ dia setuju. Setelah satu bulan berlalu, dia mendatangi (beliau) dengan cara yang sama. Gurunya sekali lagi berkata, ‘Tunggulah dua minggu saja.’ Setelah dua minggu berlalu dan (guru itu) telah diajak bicara dengan cara yang sama, beliau sekali lagi berkata, ‘Tunggulah satu minggu.’ ‘Baiklah,’ dia setuju. Dalam waktu satu minggu itu rumah bibi samanera itu roboh ketika atap ilalangnya hancur dan dinding – dindingnya yang sudah lemah dan tua dihantam oleh angin dan hujan. Brahmana, istrinya, kedua putra dan putri mereka meti tertimpa rumah itu. Brahmana dan istrinya lahir seketika di kandungan – peta, sedangkan dua putra dan putri mereka lahir seketika di antara dewa – dewa bumi. Putra yang tua muncul dengan menaiki seekor gajah, putra yang muda di dalam kereta yang ditarik oleh keledai, sedangkan putrinya di dalam tandu keemasan. Brahmana dan istrinya masing – masing mengambil palu – palu yang amat besar dan saling pukul. Bagian – bagian yang dipukul itu membengkak menjadi sebesar pot air yang amat besar, dan perselisihan pun memuncak sampai mereka meledak. Mereka kemudian menghantam bagian – bagian yang membengkak itu sampai pecah, dan karena dikuasai oleh kemarahan, mereka pun secara kejam saling mengutuk dengan kata – kata kasar, dan kemudian minum darah dan nanahnya. Namun tetap saja mereka tidak menemukan kepuasan.

Karena samanera itu (masih) dikuasai oleh rasa tidak puas, dia mendatangi gurunya dan berkata, ‘Saya telah menunggu sesuai hari yang telah disetujui, Bhante. Saya ingin pulang. Saya mohon diberi izin.’ Gurunya kemudian berkata, ‘Datanglah (kemari) pada saat matahari terbenam pada hari keempat belas di bulan gelap.’ Dia pergi serta berdiri agak di belakang vihara Isipatana. Pada saat itu, dua devaputta tersebut, bersama dengan saudara perempuan mereka, sedang pergi pada jalan itu pula untuk menghadiri perkumpulan para yakkha. Ayah dan ibu mereka mengikuti di belakangnya dengan tongkat di tangan dan dengan sumpah serapah. [56] Mereka memiliki penampilan yang gelap, dibebani rambut yang berkibar, kasar dan amat kusut, mirip batang – batang pohon palem yang terbakar (karena disambar oleh) halilintar. Mereka berlumuran darah dan nanah, dan tubuh mereka berkeriput – sungguh penampilan yang amat kotor dan menjijikkan. YM Saṃkicca kemudian menggunakan kekuatan supranormalnya sehingga samanera itu bisa melihat mereka semua yang berjalan di sepanjang jalan ini, samanera?’ ‘Ya, Bhante. Saya memang melihat (mereka)’ (jawabnya). ‘Kalau demikian, tanyalah kepada mereka tindakan – tindakan apa yang telah mereka lakukan.’ Dia bertanya kepada mereka secara bergiliran, pertama kepada yang naik gajah. ‘Kamu harus bertanya kepada para peta yang mengikuti di belakang,’ kata mereka, dan samanera itu menyapa para peta dengan syair – syair ini :

Satu mendahului di depan naik seekor gajah putih, tetapi yang di tengah di dalam kereta yang ditarik keledai, sedangkan di belakang seorang putri diusung ke mana – mana di dalam tandu keemasan, sepenuhnya bersinar cemerlang ke sepuluh penjuru.

Tetapi kalian, dengan palu di tangan, dengan wajah menangis dan tubuh terbelah – belah dan patah, perbuatan jahat apakah yang telah kalian lakukan ketika di alam manusia, yang menyebabkan kalian sekarang harus minum darah kalian masing – masing?’
Di sini di depan (purato) : yang terdepan dari semuanya. Putih (setena) : (berwarna) pucat. Satu mendahului (paleti) : satu pergi. Tetapi yang di tengah (majjhe pana) : di antara yang naik gajah dan yang naik tandu. Di dalam kereta yang ditarik keledai (assatarīrathena) : satu mendahului di dalam kereta yang diikatkan ke kedelai betina – demikian hal ini harus ditafsirkan. Diusung ke mana – mana (nīyati) : diantar ke mana – mana. Sepenuhnya bersinar cemerlang ke sepuluh penjuru (obhāsayantī dasa sabbato disā) : bersinar terang ke sepuluh penjuru dengan tubuh yang cemerlang tubuhnya dan pakaian serta perhiasan – perhiasan – nya dan lain – lain yang gemerlap.
Dengan palu di tangan (muggarahatthapāṇino) : mereka yang memiliki palu di tangan (pāṇīsu) (yang di sini) dianggap sebagai tangan (hattha-) adalah ‘dengan palu di tangan.’ ‘Tangan’ (pāni) itu sendiri dibatasi dengan kata hattha karena kenyataan bahwa (kalau tidak) kata itu bisa dianggap sebagai petunjuk umum dari pāni sebagai alat dari kayu untuk meratakan tanah dan sebagainya. Dengan tubuh terbelah – belah dan patah (bhinnapabhinnagattā) : dengan tubuh yang seluruhnya terbelah – belah dan patah karena pukulan – pukulan palu. Kalian sekarang harus minum : pivātha = pivatha (metri causā).

Ketika ditanya demikian oleh samanera tersebut, para peta itu menjawab dengan empat syair (yang menceritakan) seluruh cerita itu:

Dia yang mendahului di depan menaiki seekor gajah, di atas gajah putih (berkaki – ) empat, dahulu adalah putra tertua kami. Karena telah memberikan dana makanan, dia sekarang berbahagia dan bergembira.

Dia yang berada di tengah di dalam kereta yang ditarik keledai dengan empat kuk yang sedang berlari – lari kecil,(15) adalah putra kedua kami. Karena tidak egois dan terampil dalam praktek berdana, dia sekarang bersinar cemerlang.

Dia di belakang yang diusung ke mana – mana di dalam tandu, putri bijaksana dengan mata selembut mata rusa itu, dahulu adalah putri kami dan terlahir paling muda. (Karena puas) dengan separuh bagian dari jatahnya, dia sekarang berbahagia dan bergembira.

Di masa lalu mereka memberikan dana makan dengan bakti di hati mereka kepada para petapa dan brahmana. Sebaliknya dahulu kami sangat egois dan mencaci – maki para petapa dan brahmana. Dahulu mereka memberi dan sekarang berpuas diri, sedangkan kami layu bagaikan batang ilalang yang ditebas.’

Di sini dia yang mendahului di depan (purato ‘va yo gacchati) : dia berjalan di depan mereka sedang pergi bersama – sama. Bacaan lain adalah yo so purato gacchati (dia yang mendahului di depan), yang artinya dia yang berjalan di depan sana. Naik seekor gajah (kunjarena) : di atas gajah (hatthinā) yang telah memperoleh nama kunjara karena ia membuat tanah lapang (kuṃ), bumi, menjadi rusak (jirayatī) ; atau pilihan lain, karena berada di lembah kecil (kunjesu) maka ia bergembira (ramati), ia berkelana kian kemari. Di atas gajah … (nāgena) : gajah itu, nāga yang baginya tak ada (na) tempat yang tidak dapat dimasuki (agamanīyaṃ) dan tak ada sesuatu pun yang tidak dapat ditanggulangi. Berkaki – (empat) (catukkamena) : kakinya empat. Tertua (jeṭṭhako) : terlahir paling dahulu.

Empat (-kuk) (catubbhī) : (diikatkan) ke empat keledai betina. Berlari – lari kecil (suvaggitena) : dengan gerakan indah atau dengan gerakan cepat.

Dengan mata selembut mata rusa (migamandalocanā) : dengan mata yang memancarkan sinar kelembutan bagaikan pandangan rusa betina. [58] Dengan separuh bagian dari jatahnya : bhāgaḍḍhabhāgena = bhāgassa aḍḍhabhāgena (ketentuan bentuk majemuk), penyebabnya adalah karena dia memberikan separuh porsi dari bagian yang dia terima untuk dirinya sendiri. Berbahagia : sukhī = sukhinī, ini diberikan di sini dengan pengubahan gender.

Mencaci – maki (paribbhāsakā) : menghina. Mereka sekarang berpuas diri (paricārayanti) : mereka menyenangkan (cārenti) indera – indera mereka semau mereka di manapun mereka suka dengan kesenangan – kesenangan indera surgawi, atau mereka menghibur diri (paricariyaṃ kārenti) dengan pelayan – pelayan mereka karena hasil yang luar biasa dari perbuatan – perbuatan berjasa mereka. Sedangkan kami layu bagaikan batang ilalang yang ditebas (mayan ca sussāma naḷo va chinno) : tetapi kami layu bagaikan batang ilalang yang telah dipotong dan digeletakkan di bawah terik matahari, kami terpanggang dan kering karena kelaparan dan kehausan dan karena pukulan – pukulan mematikan (yang kami terima) dari satu sama lain.
Setelah menjelaskan perbuatan – perbuatan mereka yang jahat, mereka kemudian memberitahu samanera tersebut bahwa dahulu mereka adalah bibi dan pamannya. Ketika mendengar ini, batin samanera tersebut amat tersentak, dan dia pun mengucapkan syair untuk menanyakan bagaimana makanan dapat tersedia bagi pelaku – pelaku kesalahan seperti itu :

Apakah makanan kalian? Apakah tempat tidur kalian? Bagaimanakah kalian menopang diri, wahai kalian yang dahulu bersifat sangat jahat, yang walaupun berada di antara kekayaan yang bayak dan melimpah, telah melewatkan (kesempatan) kalian untuk berbahagia sehingga sekarang ini memperoleh kesengsaraan?’

Di sini apakah makanan kalian? (kiṃ tumhākaṃ bojhanaṃ) : macam apakah makanan kalian? Apakah tempat tidur kalian? (kiṃ sayānaṃ) : macam apakah tempat tidur kalian? Beberapa terbaca ‘Apakah tidur kalian?’ (kiṃ sayānāṃ) – macam apakah tempat tidur kalian, artinya tempat tidur macam apakah yang kalian tiduri? Bagaimanakah kalian menopang diri? (kathaṃ su yāpetha) : dengan cara apa kalian menopang diri? Alternatifnya adalah kathaṃ vo yāpetha = kathaṃ tumhe yāpetha (bentuk tata bahasa alternatif), yang artinya bagaimanakah kalian menopang diri? Kalian yang dahulu bersifat sangat jahat (supāpadhammino) : kalian yang dahulu amat jahat sampai sangat ekstrim. Walaupun berada di antara kekayaan yang melimpah (pahūtabhogesu) : walaupun berada di antara kekayaan yang amat besar dan tidak terbatas. Banyak (anappakesu = na appakesu) (bentuk tata bahasa alternatif) : banyak. Melewatkan (kesempatan kalian) untuk berbahagia (sukhaṃ virādhāya) : [59] melewatkan, kehilangan (kesempatan kalian) untuk berbahagia karena tidak melakukan perbuatan – perbuatan berjasa yang merupakan penyebab kebahagiaan. Beberapa terbaca ‘karena melewatkan (kesempatan kalian) untuk berbahagia karena tidak melakukan perbuatan – perbuatan berjasa yang merupakan penyebab kebahagiaan. Beberapa terbaca ‘karena melewatkan (kesempatan kalian untuk) berbahagia’ (sukhassa virādhena). Sekarang ini memperoleh kesengsaraan (dukkh’ ajja pattā) : sekarang ini, dewasa ini, telah sampai pada kesengsaraan yang menjadi kandungan – peta.
Ketika ditanya demikian oleh samanera itu, para peta tersebut menyampaikan syair – syair yang menjawab persoalan – persoalan yang ditanyakan :

Ketika kami telah saling memukul, kami minum darah dan nanah ; kami minum banyak namun kami tidak memperoleh gizi, kami tidak senang.

Jadi, sesungguhnya manusia – manusia yang tidak berdana akan meratap ketika, setelah kematian, mereka menjadi penghuni – penghuni alam Yama ; mereka yang telah mengetahui dan memperoleh kekayaan namun tidak memanfaatkannya, atau bahkan tidak melakukan perbuatan – perbuatan yang berjasa,

Mereka akan mengalami kelaparan dan kehausan setelah kehidupan ini ; para peta terbakar, karena lama dihanguskan. Karena telah melakukan perbuatan – perbuatan yang membuahkan kesengsaraan, buah yang pahit, mereka pun menderita kesengsaraan.

Alangkah pendeknya usia kekayaan dan hasil panen dan betapa sekejapnya kehidupan manusia di sini ; karena mengetahui yang sementara sebagai yang sementara, orang bijaksana akan membuat perlindungan.

Mereka yang memahami ini adalah manusia – manusia yang terampil dalam Dhamma ; setelah mendengar khotbah – khotbah para Arahat, mereka tidak akan lali memberikan dana.’

Di sini kami tidak memperoleh gizi (na dhātā homa) : kami tidak mendapat makanan, tidak puas, tidak merasa kenyang. Tidak senang : na ruccadimhase = na ruccāma (bentuk tata bahasa alternatif) : kami tidak memperoleh kesenangan, artinya kami tidak meminumnya untuk kesenangan kami.

Jadi, sesungguhnya (icc’ eva) : hanya dengan cara ini. Manusia – manusia akan meratap (maccā paridevayanti) : juga orang – orang yang, seperti kami, telah melakukan kesalahan, pasti akan meratap dan menangis meraung – raung. Yang tidak memberi (adāyakā) : egois, tidak memiliki keluhuran kedermawanan. Mereka menjadi penghuni – penghuni alam Yama (Yamassa ṭhāyīṇo) : secara alami mereka akan berdiam di alam peta, tempat tinggal Yama yang dikenal sebagai alam Yama. [60] Mereka yang telah mengetahui dan memperoleh kekayaan (ye te viditvā adhigamma bhoge) : mereka yang telah mengetahui dan memperoleh kekayaan yang dpat memberikan kebahagiaan yang luar biasa, baik sekarang maupun di masa depan. Namun tidak memanfaatkannya, atau bahkan tidak melakukan perbuatan – perbuatan yang berjasa, (na bhunjare nā ‘pi karonti punnaṃ) : namun yang, seperti kami, tidak menggunakan sendiri kekayaan itu, yang bahkan tidak melakukan perbuatan – perbuatan berjasa yang berlandaskan pemberian dana dengan cara memberi kepada orang lain.

Mereka akan mengalami kelaparan dan kehausan setelah kehidupan ini (te khuppipāsūpagatā parattha) : makhluk – makhluk ini dikuasai oleh nafsu untuk makan dan oleh kehausan di alam sana, di alam peta pada kehidupan selanjutnya. (Para peta) terbakar, karena lama dihanguskan (ciraṃ jhāyare ḍayhamānā) : artinya (peta – peta itu) terbakar, mereka merintih, karena terus – menerus dibakar api nurani yang tidak nyaman, dan berpikir, ‘Aduh, kami dahulu tidak melakukan perbuatan – perbuatan yang baik, kami melakukan (hanya) perbuatan – perbuatan yang jahat dan lain – lain dan merintih karena api penderitaan yang disebabkan oleh kelaparan mereka. Yang membuahkan kesengsaraan (dukkhudrayāni) : yang mengakibatkan kesengsaraan. Buah yang pahit, mereka pun menderita kesengsaraan (anubhonti dukkaṃ kaṭukapphalāni) : karena telah melakukan perbuatan – perbuatan jahat (yang menghasilkan) buah yang tidak diinginkan, mereka menderita kesengsaraan yang menjadi ciri alam menyedihkan, untuk waktu yang lama.

Pendek (ittaraṃ) : tidak berlangsung lama, tidak kekal, pasti terkena perubahan. Sekejap kehidupan manusia di sini (ittaraṃ idha jīvitaṃ) : kehidupan para makhluk di sini, di sunia manusia ini, adalah sangat sekejap, terbatas, kecil. Karena inilah Sang Buddha mengatakan, ‘Dia, yang hidup lama, hidup selama seratus tahun atau sedikit lebih lama.’ Karena mengetahui yang sementara sebagai yang sementara (ittaraṃ ittarato nātvā) : memastikan lewat kebijaksanaan bahwa benda – benda – seperti misalnya kekayaan dan hasil panen dan lain – lain serta kehidupan manusia – hanya bersifat sekejap, terbatas, sementara, dan tidak berlangsung lama. Orang bijaksana akan membuat perlindungan (d īpaṃ kayirātha paṇḍito) : manusia bijaksana akan membuat perlindungan, penopang, yang akan menjadi dasar bagi kebahagiaan dan kesejahteraannya di alam berikutnya.

Mereka yang memahami ini (ye te evaṃ pajānanti) : mereka yang benar – benar menyadari sifat kehidupan dan kekayaan manusia yang hanya sekejap, mereka tidak akan pernah lalai memberikan dana. Setelah mendengar khotbah – khotbah para Arahat (sutvā arahataṃ vaco), artinya, setelah mendengar kata – kata para arahat, kata – kata para ariya seperti misalnya para Buddha dan lain – lain. Yang lain sudah cukup jelas.
Setelah menjelaskan hal – hal yang ditanyakan oleh samanera itu, para peta itu pun berkata, ‘Dahulu kami adalah paman dan bibimu.’ Ketika mendengar hal ini, batin samanera tersebut amat bergejolak. Dia pun menghapus ketidakpuasannya dan menjatuhkan diri dengan kepala di kaki gurunya, sambil berkata, ‘Apa [61] welas asih yang harus ditunjukkan karena belas kasihan, telah Bhante tunjukkan kepada saya. Sesungguhnyalah saya telah terlindung sehingga tidak jatuh ke dalam kesialan yang besar. Sekarang saya tidak lagi berminat dalam kehidupan berumah – tangga dan akan menemukan kegembiaraan saya di dalam kesejahteraan – Brahma.’ YM Saṃkiccha kemudian memberinya subjek meditasi yang cocok dengan wataknya. Dia memusatkan diri pada subjek meditasi itu dan tak lama kemudian mencapai tingkat arahat. YM Saṃkiccha mengajukan persoalan itu ke hadapan Sang Buddha. Sang Guru menganggap persoalan itu sebagai munculnya kebutuhan dan mengajarkan Dhamma secara rinci kepada mereka yang berada di sana. Ajaran itu bermanfaat bagi orang – orang tersebut.

PENJELASAN MENGENAI CERITA PETA ULAR

‘Bagaikan ular (yang telah melepaskan) kulitnya yang usang.’ Demikian dikatakan Sang Guru yang sedang berdiam di Hutan Jeta itu berkenaan dengan seorang umat awam.
Diceritakan bahwa di Sāvatthī ada seorang umat awam yang putranya meninggal. Karena amat sedih dia meratapi dan menangisi kematian putranya. Dia hanya tinggal di rumah saja, tidak keluar dan juga tidak bekerja. Menjelang fajar, Sang Guru telah keluar dari meditasi cinta kasih Beliau yang besar. Ketika sedang meneliti dunia dengan Mata Buddha-Nya, Beliau melihat umat awam itu. Maka pagi itu, Sang Buddha berpakaian awal dan membawa jubah serta mangkuk-Nya, Beliau pergi dan berdiri di pintu rumah umat awam itu. Mendengar kedatangan Sang Guru, umat awam itu bangkit dan cepat keluar untuk menemui Sang Buddha. Dia mengambil mangkuk dari tangan Sang Buddha, mempersilahkan Beliau masuk rumah dan menawarkan tempat duduk yang dipilihnya. Sang Buddha duduk di tempat yang telah ditunjuknya. Umat memberikan penghormatan kepada Beliau, dan kemudian duduk di satu sisi. Sang Buddha berkata, ‘Wahai umat awam, mengapa engkau tampak seperti orang yang dikuasai kesedihan?’ ‘Ya, Bhante, anak saya tercinta telah meninggal – karena itulah saya dikuasai kesedihan’ (jawabnya). Sang Buddha kemudian mengulang Jātaka Ular (dengan tujuan) menghalau kesedihannya.
Dahulu kala di Benares di kerajaan Kāsi hiduplah satu keluarga Brahmana bernama Dhammapāla. Semua anggota keluarg itu – brahmana dan istrinya, putra dan putrinya, menantu dan pelayan perempuannya – dibiasakan mengolah kesadaran akan kematian (perenungan tentang kematian). Bilamana salah seorang meninggalkan rumah, brahmana itu akan menasihati yang lain dan kemudian pergi tanpa khawatir.

Suatu hari brahmana itu meninggalkan rumah dengan putranya untuk pergi ke ladang dan membajak, sementara putranya membuat api dengan rumput dan ranting kering. Pada waktu itu, seekor ular hitam (yang berbisa), karena takut terbakar, meninggalkan lubang pohon dan menggigit putra brahmana itu. Dia pingsan akibat racun ular itu, jatuh di sana dan meninggal (yang kemudian) lahir sebagai Sakka, raja para dewa. Ketika brahmana itu melihat bahwa putranya sudah meninggal, dia berkata kepada laki – laki yang lewat di tempat dia sedang bekerja, ‘Tolonglah, sahabat. Pergilah ke rumahku dan beritahulah istriku bahwa dia harus mandi dan mengenakan pakaian yang bersih kemudian datang kemari dengan makanan untuk satu orang, rangkaian bunga, wewangian dan sebagainya.’ Dia pergi ke sana dan memberitahu wanita itu demikian. Para anggota keluarga menjalankan apa yang dikatakan brahmana itu. Brahmana itu lalu mandi, makan dan meminyaki diri dan, dikelilingi oleh palayan – pelayannya, menaruh tubuh putranya di tuumpukan kayu pembakaran dan menyalakannya. Kemudian dia berdiri di sana seolah – olah dia (hanya) membakar batang kayu, tanpa ada rasa sedih maupun tersiksa. Pikirannya terpusat pada ide ketidakkekalan.

Nah, Bodhisatta kitalah putra brahmana yang pada waktu itu telah muncul sebagai Sakka. Ketika dia merenungkan perbuatan – perbuatan berjasa yang telah dilakukannya di dalam kehidupannya yang lalu, dia merasakan belas kasihan pada ayah dan sanak saudaranya. Maka dia pun pergi ke sana dengan menyamar sebagai brahmana. Ketika melihat bahwa sanak saudaranya tidak meratapi dia, dia berkata, ‘Wahai kalian di sana – kalian yang sedang memasak daging rusa, tolong berilah kami daging ; saya lapar!’ ‘Ini bukan daging rusa, wahai brahmana. Ini adalah manusia,’ jawabnya. ‘Kalau begitu, apakah dia musuhmu?’ Dia bukan musuh, melainkan darah daging kami sendiri, anak saya yang masih muda, yang memiliki keluhuran tinggi.’ ‘Mengapa kalian tidak meratap bila putramu yang masih muda dengan keluhuran seperti itu meninggal?’ Mendengar hal ini, brahmana itu mengucapkan dua syair untuk menceritakan alasan mengapa dia tidak bersedih :

Bagaikan ular yang melepaskan kulit tuanya, personnya, dan kemudian melanjutkan perjalanannya, demikian pula pada saat kematian peta itu melepaskan tubuhnya yang sudah tak berguna.

Apa yang sedang terbakar itu tidak sadar akan ratap tangis sak saudara. Oleh karenanya saya tidak meratapi dia ; dia telah pergi ke tempat yang sudah merupakan tempat baginya.’

Di sini ular (urago) : uraga adalah istilah deskriptif untuk ular : pada dadanya (urena) itulah ular bergerak ke sana kemari (gacchati). Kulit tuanya (tacaṃ jiṇṇaṃ) : kulitnya, selongsongnya, yang sudah tua, usang, karena keadaannya yang sudah lapuk. Melepaskan personnya dan kemudian melanjutkan perjalanannya (hitvā gacchati santanuṃ) : sebagaimana ular (yang lewat) di antara pepohonan, cabang, akar atau batu, untuk melepaskan tubuhnya kulit tua yang menyebabkan dia menderita, seolah – olah melepas jaket yang ketat. Setelah melepaskan dan membuangnya, kemudian dia melanjutkan perjalanan seperti yang diinginkan. Demikian pula makhluk yang melewati saṃsāra meninggalkan ‘person’nya yang sudah usang, tubuhnya yang lapuk, karena tenaga perbuatan – perbuatannya dahulu telah habis. Kemudian dia melanjutkan perjalanan sesuai dengan perbuatan – perbuatannya. Artinya, dia muncul lewat keberadaannya yang diperbaharui. Demikian (evaṃ) : dia mengatakan hal ini sambil menunjuk ke tubuh putranya yang sedang terbakar. Tubuhnya yang sudah tak berguna (sarīre nibbhoge) : tubuhnya yang telah kehilangan kegunaannya, yaitu yang tidak bermanfaat ; sebagaimana demikian baginya, demikian pula bagi yang lain. Peta (pete) : ketika vitalitas, panas dan kesadaran telah lenyap, telah meninggalkan tubuh itu. Pada saat kematian (kālakate sati) : ketika orang menemui ajal.

Oleh karenanya (tasmā) : karena, dengan perginya kesadaran, tubuh yang sedang terbakar itu tidak sadar akan rasa sakit akibat dibakar serta tidak sadar akan kesedihan dan ratap tangis sanak saudara yang tercinta, maka saya tidak menangis dengan dalih putraku ini. Dia telah pergi ke tempat yang sudah merupakan tempat baginya (gato so tassa yā gati) : meskipun demikian, makhluk yang mati tidaklah lenyap ; sebaliknya, begitu dia jatuh, begitu dia pergi menuju tempat yang dikatakan telah tersedia baginya sebagai hasil perbuatan orang mati itu dalam mencari kesempatannya. Dia tidak menunggu raungan tangis dan ratapan sanak saudara yang dahulu, dan tidak ada manfa apa pun yang bisa dicapai lewat ratap tangis sanak saudara yang dahulu – demikianlah artinya.
Ketika brahmana itu telah mewujudkan keterampilannya dengan sepenuhnya memusatkan pikiran (pada ide ketidak kekalan), Sakka, yang menyamar sebagai brahmana itu, berkata pada istri brahmana, ‘Wahai ibu yang baik, apakah hubungan almarhum dengan engkau?’ ‘Dia dulu adalah putraku yang sudah dewasa, tuan, yang telah saya bawa di dalam kandungan selama sepuluh bulan, disusui dan diajar merangkak.’ ‘Walaupun ayahnya tidak menangis, karena memang sifat lelaki demikian, hati seorang ibu pasti lembut – maka mengapa engkau tidak menangis?’ Mendengar hal ini, wanita itu mengucapkan dua syair yang menceritakan alasan mengapa dia tidak menangis :

‘Dia datang dari sana tanpa undangan dan pergi dari sini tanpa izin. Sebagaimana dia datang, demikian pula dia pergi. Dalam keadaan seperti ini apa gunanya ratap tangis?

Apa yang sedang terbakar itu tidak sadar akan ratap tangis sanak keluarga. Oleh karenanya saya tidak meratapi dia, dia telah pergi ke tempat yang sudah merupakan tempat baginya.’

Di sini tanpa undangan (anabbhito) : tidak dipanggil ; dia tidak diminta datang, kami tidak mengatakan, ‘Datanglah, jadilah putraku!’ Dari sana (tato) : dari mana dia sebelumnya berada, dari alam lain. Dia datang āgā = āgacchi (bentuk tata bahasa alternatif). Tanpa izin (nānunnāto) : tanpa cuti : dia tidak dipecat oleh kami, kami tidak mengatakan, ‘Pergilah ke alam lain, putraku!’ Dari sini (ito) : dari dunia ini. Pergi (gato) : meninggalkan. Sebagaimana dia datang (yathāgato) : cara dia datang, yang artinya dia datang benar – benar tanpa undangan kami. Demikian pula dia pergi (tathāgato) : dengan cara yang sama dia pergi. Karena dia datang disebabkan hanya oleh perbuatan – perbuatannya sendiri, demikian pula dia pergi juga hanya karena perbuatan – perbuatannya sendiri ; dengan cara ini kerja kamma diketahui. Dalam keadaan seperti ini apa gunanya ratap tangis? (tattha kā paridevanā) : karena saṃsāra berguling terus tanpa ada yang mengendalikan, apa sesungguhnya guna ratap tangis karena kematian? Hal ini menunjukkan bahwa ratap tangis tidak cocok dan seharusnya tidak dilakukan oleh orang yang memiliki pandangan terang.

Setelah mendengar apa yang dikatakan istri brahmana itu, Sakka bertanya pada saudara perempuannya, ‘Apakah hubungan almarhum dengan engkau, wahai putri yang baik?’ ‘Dia dulu saudara lakiku, tuan.’ ‘Wahai sahabat, seorang saudara perempuan tentunya mencintai saudara lelakinya ; mengapa engkau tidak menangis?’ Dia mengucapkan dua syair yang menceritakan alasan mengapa dia tidak menangis :

Seandainya saya meratap, saya akan menjadi kurus kering. Apakah buanya bagiku dalam hal itu? Hal itu hanya akan menambah kesedihan sanak saudara kami, teman – teman kami dan mereka yang menharapkan kami baik – baik.

Apa yang sedang terbakar itu tidak sadar akan ratap tangis sanak saudara. Oleh karenanya saya tidak meratapi dia ; dia telah pergi ke tempat yang sudah merupakan tempat baginya.’

Di sini seandainya saya meratap, saya akan menjadi kurus kering (sace rode kisā assaṃ) : seandainya saya menangis, saya akan menjadi kurus dan tubuhku akan tersia – sia. Apakah buanya bagiku dalam hal itu? (tattha me kiṃ phalaṃ siyā) : apakah yang mungkin menjadi buahnya, apakah keuntungannya, bagiku ; dalam hal itu, dalam meratap karena kematian saudara lakiku? Saudara lakiku tidak akan (kembali hidup) dengan itu, bahkan dia juga tidak dapat pergi ke alam bahagia dengan itu – demikian artinya. Hal itu hanya akan menanbah kesedihan sanak saudara kami, teman – teman kami dan mereka yang menharapkan kami baik – baik (nātimittasuhhajjānaṃ bhīyo no arati siyā) : menangisi saudara lakiku pada saat kematiannya hanya akan menimbulkan kesengsaraan yang berlebihan, bahkan lebih banyak penderitaan, bagi sanak saudara kami, teman – teman kami dan mereka yang menharapkan yang baik – baik.
Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh saudara perempuannya, Sakka bertanya kepada istrinya, ‘Apakah hubungan almarhum dengan engkau?’ ‘Dia dahulu suamiku, tuan’ (jawabnya). ‘Wahai sahabat, seorang wanita tentu menyayangi suaminya dan jika si suami mati, jandanya akn merana. Mengapa engkau tidak menangis?’ Dia juga mengucapkan dua syair yang menceritakan alasan mengapa dia tidak menangis :

Sebagaimana seorang anak yang menangis minta rembulan yang sedang naik, mirip itulah keberhasilan orang yang meratapi peta.

Apa yang sedang terbakar tidak sadarakan ratap tangis sanak saudara. Oleh karenanya saya tidak meratapi dia ; dia telah pergi ke tempat yang sudah merupakan tempat baginya.’

Di sini seorang anak (dārako) : anak yang bodoh. Rembulan (candaṃ) : lingkaran rembulan. Sedang naik (gacchantaṃ) : sedang naik di cakrawala. Menangis minta (anurodati) : menangis sambil mengatakan ‘Tangkaplah roda kereta itu dan berikan padaku!’ Mirip itulah keberhasilan (evaṃ sampadam ev’ etaṃ) : ratap tangis orang yang meratapi peta, yang sudah mati, hasilnya sama, dan mirip, dengan keinginan untuk menangkap rembulan ketika naik ke langit, karena ini merupakan pengharapan untuk suatu objek yang tidak dapat diperoleh – demikianlah artinya.
Setelah mendengar apa yang dikatakan istrinya, dia bertanya pada pembantu perempuannya, ‘Wahai sahabat, apakah hubungan almarhum dengan engkau ?’ ‘Dia adalah majikanku, tuan.’ ‘Jika demikian, kamu pasti bekerja hanya setelah dipukuli olehnya. Saya rasa itulah sebabnya engkau tidak menangis, karena engkau berpikir bahwa dengan kematiannya engkau terbebas dari dia.’ ‘Jangan berbicara demikian, tuan, sungguh tidak pantas. Putra majikan saya berperilaku baik dan memiliki kesabaran, keramahtamahan dan kebaikan hati yang luar biasa – dia bagaikan putra yang tumbuh di jantung hatiku sendiri.’ ‘Kalau demikian mengapa engkau tidak menangis?’ Dia juga mengucapkan dua syair yang menceritakan alasan mengapa dia tidak menangis :

Wahai brahmana, sebagaimana pot – air yang telah pecah tidak dapat disatukan lagi, mirip itu pula keberhasilan orang yang meratapi peta.

Apa yang sedang terbakar itu tidak sadar akan ratap tangis sanak saudara. Oleh karenanya saya tidak meratapi dia ; dia telah pergi ke tempat yang sudah merupakan tempat baginya.’

Di sini wahai brahmana, sebagaimana pot – air yang telah pecah tidak dapat disatukan lagi (yathā pi brahme udakumbho bhinno appaṭisandhiyo) : wahai brahmana, persis seperti pot-air yang telah pecah karena dipukul palu tidak akan dapat disatukan lagi, tidak akan dapat diperbaiki menjadi seperti sedia kala. Yang lain sudah cukup jelas karena telah dinyatakan di atas.
Setelah mendengar pembicaraan Dhamma mereka, Sakka berkata dengan bakti di hatinya, ‘Betapa mendalamnya kalian telah mengembangkan kesadaran akan kematian. Mulai (hari) ini dan selanjutnya, tidak perlu lagi kalian bekerja membajak dan sebagainya. ‘Dia memenuhi rumah mereka dengan Tujuh Harta Karun dan menasihati dengan mengatakan, ‘Janganlah lalai memberikan dana ; pertahankan moralitas dan jalankan Uposatha.’ Lalu dengan mengungkapkan (identitas sejati) – nya kepada mereka, dia kembali ke tempat tinggalnya sendiri.

Brahmana itu beserta orang – orang lain melakukan perbuatan – perbuatan berjasa dengan memberikan dana dan lain – lain dan setelah menjalani seluruh masa kehidupan mereka, mereka pun terlahir di alam dewa.
Ketika Sang Guru telah menceritakan kembali cerita Jātaka ini dan telah mencabut anak panah kesedihan dari umat awam itu, Beliau kemudian menjelaskan (Empat) Kebenaran (Mulia). Di akhir khotbah Beliau, umat awam itu mantap di dalam buah – sotāpatti.
Penjelasan mengenai Cerita Peta Ular selesai – demikianlah penjelasan mengenai arti bab pertama, Bab Ular, yang terdiri dari dua belas cerita pada Cerita – cerita Makhluk Peta dari Khuddaka Nikāya ini berakhir.

[Sumber: Petavatthu 1 terbitan Wisma Sambodhi]

Sutra Intan

Sutra Intan

Demikianlah telah kudengar, pada suatu waktu Hyang Buddha sedang berdiam di Taman Jetavana di kota Sarasvati, dimana beliau berkumpul dengan 1.250 bhiksu agung.
Pada saat hampir tiba waktu makan, Yang Dijunjungi mengenakan jubah dan membawa mangkuk menuju ke kota Sarasvati untuk meminta makanan dari rumah ke rumah, kemudian kembalilah beliau ke tempat semula. Setelah selesai makan beliau merapikan kembali alat-alat makan dan jubahNya, membersihkan kaki, mengatur tempat duduk dan kemudian duduk di atasnya.

Pada saat itu, Yang Arya Subhuti bangkit dari tempat duduknya di tengah-tengah persamuan itu, membiarkan bahu sebelah kanannya terbuka, berlutut di atas kaki kanan sambil merangkapkan kedua tangan, dan bersujud dengan hormat sambil bertanya kepada Hyang Buddha :”Yang Dijunjungi! Sungguh jarang terdapat, Tathagatha yang selalu mengingat dan melindungi para Bodhisattva serta memberi petunjuk kepada mereka. Yang Dijunjungi, jika ada pria maupun wanita bajik yang bertekad untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi, bagaimana seharusnya dia bertumpu dan mengendalikan hatinya?”

Hyang Buddha menjawab: “Bagus sekali, bagus sekali, Subhuti, seperti apa yang Engkau katakan, Tathagatha selalu mengingat dan melindungi para Bodhisattva serta memberi petunjuk kepada mereka. Sekarang dengarkanlah dengan baik. Aku akan memberitahukan kepadamu bagaimana seharusnya pria maupun wanita bajik yang bertekad untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi bertumpu dan mengendalikan hatinya.”

“Ya! Tentu, Yang Dijunjungi! Kami akan mendengarkan dengan gembira dan penuh perhatian.”

Hyang Buddha kemudian menjelaskan kepada Subhuti: “Semua Bodhisattva Mahasattva harus demikian mengendalikan hatinya dengan ikrar: “Aku harus menyebabkan segala jenis makhluk hidup – apakah yang terlahir dari penetasan telur, dari rahim, dari cairan atau dari perubahan wujud seketika, yang memiliki wujud atau tanpa wujud, yang memiliki kesadaran atau tanpa kesadaran, kesemuanya itu tanpa kecuali – untuk memasuki Nirvana sempurna dan berhenti bertumimbal lahir selamanya.” Akan tetapi, Subhuti, sekalipun ada tak terhitung dan tak terhingga makhluk hidup yang dibebaskan dari arus tumimbal lahir, sebenarnya tidak ada makhluk hidup yang dibebaskan. Mengapa? Subhuti, jika seorang Bodhisattva mengidentifikasikan dirinya sebagai “aku”, sebagai manusia, sebagai makhluk
hidup dan sebagai kehidupan, maka dia sesungguhnya bukanlah seorang Bodhisattva.”

“Lagipula, Subhuti, berkenaan dengan pelaksanaan Dharma, seorang Bodhisattva tidak boleh terikat oleh apapun sewaktu dia memberi. Dia tidak boleh terikat oleh wujud sewaktu memberi, juga tidak boleh terikat oleh suara, bau, rasa, objek sentuhan, ataupun objek mental (dharma) sewaktu dia memberi. Subhuti, seorang Bodhisattva harus memberi dengan demikian : Dia tidak boleh terikat pada ciri atau nama-rupa. Mengapa begitu? Jika seorang Bodhisattva tidak tercemar oleh ciri sewaktu dia memberi, pahala dan kebajikannya adalah tidak terukur.”

“Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah ruang angkasa di sebelah timur dapat diukur?”

“Tidak dapat, Yang Dijunjungi.”

“Subhuti, apakah ruang angkasa di sebelah selatan, barat, utara, atau ruang di antara di atas dan dibawah dapat diukur?”

“Tidak dapat, Yang Dijunjungi.”

“Subhuti, pahala dan kebajikan dari seorang Bodhisattva yang tidak terikat pada segala ciri sewaktu dia memberi juga demikian tidak terukur. Subhuti, seorang Bodhisattva haruslah bersikap demikian sebagaimana yang diajarkan.”

“Subhuti, bagaiman pendapatmu, dapatkah Tathagatha dilihat dari ciri fisik-Nya?”

“Tidak, Yang Dijunjungi, Tathagatha tidak dapat dilihat dari ciri fisik-Nya. Mengapa begitu? Sebab ciri fisik yang dikatakan oleh Tathagatha itu sebenarnya bukan ciri fisik sejati.”

Hyang Buddha membenarkan dan berkata kepada Subhuti: “Segala sesuatu yang mempunyai ciri adalah kosong dan palsu. Apabila engkau dapat memandang semua ciri sebagai bukan ciri, barulah kamu mengenal Hyang Tathagatha sejati.”

Subhuti berkata kepada Hyang Buddha: “Yang Dijunjungi, apakah di masa mendatang akan ada makhluk hidup yang setelah mendengarkan ajaran ini timbul kepercayaan yang murni?”
Hyang Buddha menjawab: “Subhuti, janganlah engkau berkata demikian: 500 tahun setelah Tathagatha meninggal kelak akan terdapat mereka yang dengan tekun menjalankan sila dan mengumpulkan pahala, yang akan mempercayai ajaran ini dan menerimanya dengan tulus. Ketahuilah bahwa orang seperti ini telah menanam akar kebajikan di masa lampau bukan hanya pada satu Buddha, dua
Buddha, tiga, empat, lima Buddha, melainkan telah menanam akar kebajikan pada jutaan Buddha yang tak terhitung. Mereka yang mendengar kalimat-kalimat dari Sutra ini dan membangkitkan sekejap pikiran dan keyakinan murni, semua ini akan diketahui dan dilihat oleh Tathagatha. Mereka akan memperoleh pahala dan kebajikan yang tak terukur. Apa sebabnya? Karena makhluk hidup seperti ini sudah tidak lagi terikat pada segala ciri keakuan, manusia, makhluk hidup dan kehidupan; juga tidak pada objek mental dan juga bukan objek mental. Jika hati makhluk hidup masih melekat pada ciri, maka mereka selalu terikat pada ciri yang membedakan keakuan, manusia, makhluk hidup, dan kehidupan. Untuk alasan itulah, engkau tidak boleh terikat pada Dharma, juga pada bukan Dharma. Mengenai prinsip itu, Tathagatha sering berkata:”Kalian para bhiksu harus mengerti bahwa Dharma yang Kuuraikan adalah bagaikan rakit. Bahkan Dharma sekalipun harus dilepaskan, apalagi yang bukan Dharma.”
“Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah Tathagatha telah mencapai Anuttara-samyak-sambodhi? Apakaha Tathagatha telah mengajarkan Dharma?”

Subhuti menjawab: “Seperti apa yang kami pahami dari ajaran Hyang Buddha, sebenarnya tidak ada ajaran tertentu yang dinamakan Anuttara-samyak-sambodhi, dan juga tidak ada Dharma tertentu yang diajarkan oleh Tathagatha. Mengapa? Sebab Dharma yang diajarkan oleh Tathagatha semuanya tidak dapat dipegang atau dibicarakan dengan kata-kata. Itulah Dharma yang tidak berwujud, dan oleh karenanya para nabi dan orang suci semuanya sama-sama memperoleh Dharma tanpa gaya – asamkrta, walaupun berbeda atas kesadaran masing-masing untuk mencapainya. ”

Subhuti, bagaimana pendapatmu, kalau seseorang memenuhi jutaan dunia dengan 7 macam permata mulia dan memberikannya sebagai dana-amal, apakah pahala dan kebajikan yang diperolehnya banyak?”

Subhuti menjawab: “Banyak sekali, Yang Dijunjungi! Mengapa begitu? Sebab pahala dan kebajikan itu bukanlah pahala dan kebajikan sejati sifatnya, oleh karenanya Tathagatha mengatakan pahala dan kebajikannya sangat banyak.”

“Di lain pihak, jika ada seorang lainnya menerima Sutra ini dan menjalankannya dengan tekun sekalipun hanya pada 4 bait gathanya saja atau mengajarkannya kepada orang lain, pahala dan kebajikannya akan melebihi orang yang terdahulu. Apakah sebabnya? Subhuti, semua Buddha dan jalan yang ditempuh untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi berasal dari Sutra ini. Subhuti, apa yang disebut sebagai Buddha Dharma itu pada hakekatnya bukanlah Buddha Dharma.”

“Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah seorang yang telah mencapai tingkat Srotapanna boleh mempunyai pikiran “Aku telah memperoleh hasil Srotapana.”

“Subhuti menjawab : “Tidak boleh, Yang Dijunjungi! Mengapa? Srotapanna berarti memasuki arus suci, tetapi sebenarnya dia tidak memasuki apapun. Dia tidak memasuki kesejatian suara, bau, rasa, sentuhan, dan objek mental : Oleh karenanya dia dinamakan Srotapanna.”

“Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah seorang yang telah mencapai Sakradagamin boleh mempunyai pikiran “Aku telah memperoleh hasil Sakradagamin?”

“Subhuti menjawab: “Tidak boleh, Yang Dijunjungi! Mengapa? Karena Sakradagamin berarti seorang yang kembali hanya 1 kali lagi, tetapi sebenarnya bagi dia sendiri sudah tidak ada kelangsungan pergi datang, maka dia dinamakan Sakradagamin.”

“Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah seorang yang telah mencapai tingkat Anagamin boleh mempunyai pikiran :”Aku telah memperoleh hasil Anagamin?”

Subhuti menjawab: “Tidak boleh, Yang Dijunjungi! Karena Anagamin berarti dia yang tidak kembali lagi, tetapi sebenarnya dia sendiri tidak mengandung pikiran datang atau kembali lagi, maka dia dinamakan Anagamin.”

“Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah seorang yang telah mencapai tingkat Arhat boleh mempunyai pikiran “Aku telah memperoleh Ke-arhat-an?”

Subhuti menjawab : “Tidak boleh, Yang Dijunjungi! Karena sebenarnya tidak ada Dharma yang dinamakan Arhat. Yang Dijunjungi, apabila seorang Arhat mempunyai pikiran bahwa “Aku telah mencapai Ke-arhat-an” itu berarti masih ada kemelekatan pada diri, manusia, makhluk hidup, dan kehidupan. Yang Dijunjungi, dengan berhasilnya aku menjalankan Samadhi “Tanpa Pertentangan”, Hyang Buddha mengatakan bahwa aku adalah yang terunggul di antara manusia, bahwa aku adalah Arhat yang terunggul dalam membebaskan diri dari segala nafsu keinginan. Yang Dijunjungi, aku tak pernah berpikir “Aku adalah seorang Arhat yang terbebas dari nafsu keinginan”. Jika aku mempunyai pikiran “Aku telah mencapai Ke-arhat-an”, Yang Dijunjungi tidak akan berkata bahwa Subhuti adalah orang yang paling berhasil menjalankan ketenangan. Karena Subhuti justru tidak merasa menjalankan kehidupan pertapaan, Ia telah diberi nama Subhuti, yang gemar menjalankan ketenangan.”

Hyang Buddha berkata kepada Subhuti : “Bagaimana pendapatmu, apakah ada Dharma apapun yang diperoleh Tathagatha sewaktu berada bersama Buddha Dipankara?”

“Tidak, Yang Dijunjungi! Sebenarnya tidak ada Dharma apapun yang diperoleh Tathagatha sewaktu berada bersama Buddha Dipankara.”

“Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah para Bodhisattva memperindah tanah suci?”

“Tidak, Yang Dijunjungi, apakah sebabnya? Karena alam Buddha itu hakekatnya tidak perlu diperindah lagi, hanya dalam penjelasan digunakan kata memperindah.”

“Oleh karena itu, Subhuti, para Bodhisattva, Mahasattva harus menumbuhkan pikiran suci dan jangan menumpukan hati pada segala wujud. Dia tidak boleh menumpukan hatinya pada suara, bau, rasa, objek sentuhan, dan objek mental. Dia tidak boleh menumpukan hatinya pada apapun dan dimanapun.”

Subhuti, andaikata ada orang yang tubuhnya sebesar gunung Semeru, bagaimana pendapatmu, apakah tubuh itu besar?”

“Subhuti menjawab: “Sangat besar, Yang Dijunjungi, apakah sebabnya? Karena apa yang diuraikan oleh Hyang Buddha itu adalah tubuh yang tidak sejati, oleh sebab itu dikatakan tubuh itu sangat besar.”

“Subhuti, jika terdapat sungai Gangga yang banyaknya bagai butir-butir pasir di sungai Gangga, bagaimana pendapatmu, apakah butir-butir pasir dari semua sungai Gangga tersebut dpaat dikatakan banyak?”

Subhuti menjawab: “Sangat banyak, Yang Dijunjungi jumlah dari sungai-sungai Gangga itu saja sudah tak terhitung banyaknya, apalagi isi butir-butir pasirnya.”

“Subhuti, akan Kututurkan dengan sebenarnya, jika ada seorang pria atau wanita bajik, dengan menggunakan 7 macam permata mulia untuk memenuhi dunia yang banyaknya bagai butir-butir pasir di semua sungai Gangga tersebut, dan memberikannya sebagai dana amal, apakah dia akan memperoleh banyak pahala?”

Subhuti menjawab :”Sangat banyak, Yang Dijunjungi.”

Kemudian Hyang Buddha memberitahukan Subhuti: “Jika ada seorang pria atau wanita bajik menerima dan mempertahankan Sutra ini sekalipun hanya pada 4 bait gatha-nya serta mengajarkan kepada orang lain, pahala dan kebajikannya akan jauh melampaui pahala dan kebajikan orang yang terdahulu.”

Lagipula., Subhuti, perlu engkau ketahui bahwa semua dewa, manusia, maupun asura di dunia ini harus memberikan persembahan ke tempat dimana biar sekalipun hanya 4 bait gatha dari Sutra ini dibacakan, sebagaimana halnya pada tempat suci atau Vihara, apalagi kalau di tempat itu ada orang yang bisa menerima, mempertahankan, mempelajari, dan membacakan Sutra tersebut. Subhuti, perlu engkau ketahui bahwa orang yang demikian itu meyakinkan Dharma yang paling utama dan langka. Di tempat manapun Sutra ini berada, di sana terdapat Buddha atau siswa yang menghormatinya.”

Kemudian Subhuti berkata kepada Hyang Buddha : “Yang Dijunjungi, nama apakah yang harus diberikan kepada Sutra ini, dan bagaimana kami harus menerima dan mempertahankannya?”

Hyang Buddha memberitahukan Subhuti : “Sutra ini disebut Vajracchedika Prjana Paramita, engkau harus menerima dan mempertahankannya dengan nama ini. Apa sebabnya? Subhuti, paramita kebijaksanaan yang dibicarakan Hyang
Buddha sebenarnya bukan paramita kebijaksanaan, tapi hanya untuk percakapan dinamakan paramita kebijaksanaan.”

“Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah ada Dharma yang diajarkan oleh Tathagatha?”

Subhuti menjawab :”Yang Dijunjungi, Tathagatha tidak mengajarkan sesuatu apa pun.”

“Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah jumlah butir-butir debu yang memenuhi jutaan dunia dapat dikatakan banyak?”

“Sangat banyak, Yang Dijunjungi.”

“Subhuti, butir-butir debu yang dikatakan oleh Tathagatha itu bukanlah butir-butir debu, namun hanya untuk bahasa percakapan dinamakan butir-butir debu, begitu pula jutaan dunia yang dikatakan athagatha itu bukanlah dunia, itupun hanya diberi nama dunia.”
“Subhuti, bagaimana pendapatmu, dapatkah Tathagatha dilihat dengan mengenali ke-32 ciri fisik-Nya?”

“Tidak dapat, Yang Dijunjungi, orang tidak dapat melihat Tathagatha dengan mengenali ke-32 ciri fisik-Nya. Apakah sebabnya? Karena apa yang dikatakan ke-32 ciri-ciri oleh Tathagatha itu hanyalah ciri lahiriah saja, maka dinamakan 32 ciri.”

“Subhuti, jika di satu pihak ada seorang laki-laki atau wanita bajik yang mengorbankan jiwanya berkali-kali untuk tujuan amal bakti sebanyak butir-butir pasir di sungai Gangga, dan apabila di pihak lain ada seorang yang menerima dan mempertahankan hanya 4 bait gatha dari Sutra ini sekalipun, dan menjelaskannya kepada orang lain, pahala yang diperolehnya akan lebih besar daripada orang pertama.”

Pada saat itu, Subhuti, setelah mendengarkan uraian yang dalam dari Sutra ini, diliputi pengertian dan rasa haru sehingga mencucurkan air mata, berkata kepada Hyang Buddha : “Sungguh menakjubkan, Yang Dijunjungi. Sungguh dalam dan luas arti kata yang dibabarkan oleh Hyang Buddha dalam Sutra ini. Sejak memperoleh mata-kebijaksanaan sampai sekarang belum pernah kami dengar Sutra yang demikian.

Yang Dijunjungi, jika seseorang dapat mendengar penjelasan Sutra ini dengan hati murni dan penuh keyakinan, maka dia akan menyadari konsepsi ciri sejati. Perlu diketahui bahwa orang demikian telah memperoleh pahala kebajikan unggul yang jarang terdapat.”

“Yang Dijunjungi, ciri sejati bukanlah ciri lahiriah, oleh karenanya dikatakan oleh Tathagatha sebagai ciri sejati. Yang Dijunjungi, kini sewaktu mendengar ajaran suci demikian, kami dapat menerima dan mempertahankannya dengan keyakinan dan pengertian tanpa kesulitan. Di masa yang akan datang, pada 500 tahun terakhir, akan ada makhluk hidup yang sewaktu mendengar Sutra ini, timbul keyakinan dan pengertian serta akan menerima dan mempertahankannya, orang ini adalah yang telah mencapai pahala unggul dan luar biasa. Apakah sebabnya? Orang ini sudah tidak mempunyai konsepsi keakuan, manusia, makhluk hidup, dan kehidupan. Mengapa begitu? Karena ciri keakuan pada hakekatnya bukanlah ciri sejati, begitu pula tentang manusia, makhluk hidup, dan kehidupan, itu semua bukan ciri sejati. Karena itu mereka yang melepaskan segala konsepsi ciri disebut Buddha.

Hyang Buddha berkata kepada Subhuti : “Demikianlah, seperti yang engkau katakan, jika ada seseorang yang setelah mendengarkan Sutra ini tidak terkejut, tidak gentar, dan tidak takut melaksanakannya, hendaknya diketahui bahwa orang ini benar-benar luar biasa. Mengapa begitu? Subhuti, apa yang Tathagatha katakan sebagai Paramita pertama yaitu berdana sebenarnya bukan paramita pertama, hanya dalam kata-kata dinamakan Paramita pertama.”

“Subhuti, Paramita Kesabaran, dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan Paramita kesabaran, oleh sebab itu dinamakan Paramita kesabaran. Mengapa begitu? Subhuti, itu bagaikan di masa lampau sewaktu Raja Kalinga memotong anggota tubuh-Ku, pada saat itu Aku tidak terikat pada ciri keakuan, manusia, makhluk hidup, dan kehidupan. Mengapa begitu? Sewaktu anggota tubuh-Ku dipotong satu persatu, jika Aku masih mempunyai ciri tersebut, tentunya akan timbul rasa marah dan benci.”

“Subhuti, selanjutnya Aku teringat bahwa di masa lalu, selama 500 kehidupan yang terakhir, Aku adalah pertapa yang melatih kesabaran. Di dalam semua kehidupan tersebut Aku tidak mempunyai ciri keakuan, manusia, makhluk hidup, dan kehidupan. Oleh sebab itulah, Subhuti, seorang Bodhisattva harus melepaskan semua ciri, menumbuhkan pikiran Anuttara-samyaksambodhi. Dia harus enumbuhkan hati yang tidak bertumpu pada suara, bau, rasa, objek sentuhan dan dharma. Dia harus menumbuhkan hati yang tidak bertumpu pada apapun dan di manapun. Setiap tumpuan hati adalah bukan tumpuan sejati. Oleh karena itu Hyang Buddha mengatakan : “Hati Sang Bodhisattva tidak boleh bertumpu pada wujud sewaktu dia memberi”. Subhuti, untuk memberi manfaat kepada makhluk hidup seorang Bodhisattva harus memberi dengan demikian. Semua ciri dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan ciri, dan semua mahkluk hidup dikatakan sebagai bukan makhluk hidup.”

“Subhuti, Tathagatha adalah satu-satunya yang membicarakan kebenaran, yang membicarakan kenyataan, yang membicarakan apa yang sebenarnya, yang tidak membicarakan yang palsu, yang tidak membicarakan apa yang tidak sebenarnya. Subhuti, kebenaran yang diperoleh Tathagatha itu bukanlah nyata atau tidak nyata.”

“Subhuti, seorang Bodhisattva yang hatinya bertumpu pada dharma sewaktu dia memberi itu bagaikan seorang yang memasuki kegelapan, dia tidak bisa melihat apa-apa. Seorang Bodhisattva yang hatinya tidak bertumpu pada dharma seewaktu dia memberi itu bagaikan seorang yang matanya dapat melihat di bawah cahaya matahari sehingga dia bisa melihat segala wujud.”

“Subhuti, di masa yang akan datang, jika seorang laki-laki atau wanita bajik dapat menerima, mempertahankan, mempelajari dan membacakan Sutra ini, maka Hyang Tathagatha dengan kebijaksanaan Buddha akan segera mengetahui dan melihat orang tersebut. Dia akan memperoleh pahala dan kebajikan yang tak-terukur dan tak-terbatas.”

“Subhuti, seorang laki-laki atau wanita bajik, di waktu pagi boleh mengorbankan tubuhnya untuk perbuatan amal bakti berkali-kali sebanyak butir-butir pasir di sungai Gangga, dan kemudian di waktu siang maupun malam melakukan perbuatan yang sama sebanyak itu, mengorbankan tubuhnya dengan demikian selama jutaan kalpa yang tak terhitung. Tetapi jika seseorang lainnya mendengar Sutra ini dan mempercayainya dengan sepenuh hati, maka pahalanya akan melampaui orang yang pertama. Apalagi kalau ada yang bisa menerima, menyalin, mempertahankan, mempelajari, membacakan, dan menjelaskan isinya kepada orang lain. Subhuti, pahala dan kebajikan dari Sutra ini adalah tak terungkapkan, tak terbayangkan, tak terbatas dan di luar semua pujian. Sutra ini dibabarkan oleh Tathagatha bagi mereka yang telah menempuh Jalan Mahayana, mereka yang telah menempuh Jalan Utama. Jika seseorang bisa menerima, mempertahankan, mempelajari, membacakan dan menjelaskan kepada orang lain, mereka akan diketahui dan dilihat oleh Tathagatha. Orang yang demikian memperoleh pahala dan kebajikan yang tak terukur, tak terungkapkan, tak terbatas dan tak terbayangkan sehingga dengan
demikian mempertahankan Anuttara-samyak-sambodhinya Tathagatha.”

“Mengapa begitu? Subhuti, seseorang yang menyukai Dharma yang lebih kecil terikat pada konsepsi keakuan, manusia, makhluk hidup, dan konsepsi kehidupan. Dia tidak dapat mendengar, menerima, mempertahankan, mempelajari, atau membacakan Sutra ini atau menjelaskannya kepada orang lain.

“Subhuti, para dewa, manusia dan asura di dunia memberikan persembahan ke tempat dimana Sutra ini ditemukan. Perlu engkau ketahui, bahwa tempat demikian adalah sebuah tempat suci bagaikan sebuah stupa dimana setiap orang harus bersujud dengan hormat, mengelilingi serta menyebarkan dupa dan bunga.”

“Lagipula, Subhuti, jika seorang laki-laki atau wanita bajik yang menerima, mempertahankan, mempelajari dan membacakan Sutra ini diejek dan dicemoohkan orang lain, itu sebenarnya merupakan rintangan karma bawaan dari kehidupan sebelumnya yang akan menjerumuskannya ke kehidupan menyedihkan. Tetapi karena dalam kehidupan sekarang dia dicemoohkan orang lain, rintangan
karmanya itu terhapuskan dan dia akan mencapai Anuttara-samyak-sambodhi.

“Subhuti, Aku teringat pada asamkheya kalpa yang tak terhitung di masa lalu sebelum Buddha Dipankara, Aku bertemu dengan 84.000 nayuta juta Buddha, dan memberikan persembahan serta melayani mereka semua tanpa terkecuali. Tetapi jika ada seseorang di jaman berakhirnya Dharma yang dapat menerima, mempertahankan, mempelajari dan membacakan Sutra ini, pahala dan kebajikan
yang diperolehnya adalah 100 kali lebih, 1.000 kali lebih, sejuta ataupun suatu jumlah yang tak terbilang daripada pahala dan kebajikan yang Kuperoleh dari memberikan persembahan kepada semua Buddha tersebut.”

“Subhuti, jika Aku harus menguraikan seluruh pahala dan kebajikan dari seorang laki-laki atau wanita bajik yang di jaman berakhirnya Dharma dapat menerima, mempertahankan, mempelajari dan membacakan Sutra ini, mereka yang mendengarkannya bisa menjadi gila dan tidak mempercayainya. Subhuti, perlu engkau ketahui bahwa arti dari Sutra ini adalah tak terbayangkan, dan buah
dari pahalanya juga tak terbayangkan.”

Kemudian Subhuti berkata kepada Hyang Buddha, “Yang Dijunjungi, jika seorang laki-laki atau wanita bajik bertekad untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi, bagaimana seharusnya dia bertumpu, bagaimana seharusnya dia mengendalikan hatinya?”

Hyang Buddha memberitahu Subhuti, “Seorang laki-laki atau wanita bajik, yang bertekad untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi harus berpikiran demikian:”Aku harus membebaskan semua makhluk hidup dari arus tumimbal lahir, tetapi bila semua makhluk hidup sudah dibebaskan dari tumimbal lahir, sebenarnya sama sekali tidak ada makhluk hidup yang dibebaskan. Mengapa begitu? Subhuti, jika seorang Bodhisattva masih mempunyai ciri keakuan, ciri manusia, ciri makhluk hidup dan ciri kehidupan, maka dia bukanlah seorang Bodhisattva. Apa sebabnya? Subhuti, sebenarnya tidak ada Dharma tentang tekad untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi.

“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Sewaktu Tathagatha sedang berada bersama Buddha Dipankara, apakah ada Dharma untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi yang diperoleh?”

“Tidak, Yang Dijunjungi. Seperti apa yang kami pahami dari ajaran Hyang Buddha, sewaktu Hyang Buddha berada bersama Buddha Dipankara, tidak ada Dharma untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi yang diperoleh.”

Hyang Buddha berkata, “Demikianlah, Subhuti, sebenarnya tidak ada Dharma tentang Anutara-samyak-sambodhi yang diperoleh Tathagatha. Subhuti, jika ada Dharma demikian yang diperoleh athagatha, maka Buddha Dipankara tidak akan memberikan pada-Ku ramalan, “Engkau akan mencapai ke-Buddha-an di masa yang akan datang dan bernama Sakyamuni.” Karena sebenarnya tidak ada Dharma untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi, maka Buddha Dipankara memberikan ramalan itu pada-Ku.”

“Mengapa begitu? Tathagatha berarti hakiki dari semua Dharma. Jika seseorang mengatakan Tathagatha memperoleh Anuttara-samyak-sambodhi, Subhuti, sebenarnya tidak ada Dharma demikian yang diperoleh Hyang Buddha. Subhuti, Anuttara-samyak-sambodhi yang dicapai Tathagatha, di dalamnya, bukanlah nyata atau tidak nyata. Oleh karena itu, Tathagatha mengatakan semua Dharma sebagai Buddhadharma. Subhuti, semua Dharma dikatakan sebagai bukan Dharma sejati. Oleh sebab itu disebut Dharma.”

“Subhuti, itu bisa diandaikan sebagai tubuh seorang yang sangat besar.”

Subhuti berkata: “Yang Dijunjungi, tubuh besar seseorang itu dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan tubuh besar, oleh sebab itu dinamakan tubuh besar.”

“Subhuti, seorang Bodhisattva juga demikian, jika dia berkata, “Aku harus membebaskan makhluk hidup yang tak terhitung dari tumimbal lahir, maka dia tidak akan disebut seorang Bodhisattva. Apa sebabnya? Subhuti, sebenarnya tidak ada Dharma yang dinamakan Bodhisattva. Karena itu Hyang Buddha mengatakan semua Dharma tidak memiliki konsepsi diri, konsepsi manusia, konsepsi makhluk hidup, dan konsepsi kehidupan.”

“Subhuti, jika seorang Bodhisattva mengatakan, “Aku akan menghiasi Tanah Buddha”, dia tidak akan disebut Bodhisattva. Apa sebabnya? Memperindah tanah Buddha dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan memperindah. Oleh sebab itu dinamakan memperindah. Subhuti, jika seorang Bodhisattva memahami bahwa segala Dharma tidak memiliki konsepsi diri, Tathagatha menyebutnya sebagai
seorang Bodhisattva sejati.”

“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagatha mempunyai mata fisik?”

“Memang begitu, Yang Dijunjungi. Tathagatha mempunyai mata fisik.”

“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagatha mempunyai mata dewa?” “Memang begitu, Yang Dijunjungi. Tathagatha mempunyai mata dewa.”

Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagatha mempunyai mata
kebijaksaan?”

“Memang begitu, Yang Dijunjungi. Tathagatha mempunyai mata kebijaksanaan.”

“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagatha mempunyai mata Dharma?”

“Memang begitu, Yang Dijunjungi. Tathagatha mempunyai mata Dharma.”

“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagatha mempunyai mata Buddha?”

“Memang begitu, Yang Dijunjungi. Tathagatha mempunyai mata Buddha.”

“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagatha telah membicarakan butir-butir pasir di sungai Gangga?

“Memang begitu, Yang Dijunjungi. Tathagatha telah bicara perihal butir-butir pasir tersebut.”

“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Jika semua butir pasir di sungai Gangga menjadi jumlah sungai Gangga yang sama, dan semua butir pasir di dalam semua sungai Gangga tersebut menjadi tanah Buddha yang sama. Apakah jumlahnya sangat banyak?”

“Sangat banyak, Yang Dijunjungi.” Hyang Buddha memberitahu Subhuti: “Semua bentuk pikiran yang beraneka ragam dari para makhluk hidup di semua tanah Buddha tersebut diketahui seluruhnya
oleh Tathagatha. Apa sebabnya? Semua pikiran dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan pikiran, karena itu disebut pikiran. Apa sebabnya? Subhuti, pikiran yang telah lalu tidak dapat dipegang, pikiran sekarang tidak dapat dipegang, pikiran yang akan datang tidak dapat dipegang.”

“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Jika seseorang memenuhi jutaan dunia dengan 7 macam permata mulia dan memberikannya sebagai dana amal, apakah orang itu akan memperoleh banyak pahala dari perbuatan tersebut?”

“Memang begitu, Yang Dijunjungi. Orang itu akan memperoleh sangat banyak pahala dari perbuatan tersebut.”

“Subhuti, jika pahala dan kebajikan itu benar-benar nyata, Tathagatha tidak akan mengatakan memperoleh banyak pahala. Disebabkan oleh pahala dan kebajikan itu tidak nyata maka Tathagatha mengatakan memperoleh banyak pahala.”

“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Dapatkah Tathagatha dilihat dari kesempurnaan wujud fisik-Nya?”

“Tidak, Yang Dijunjungi. Tathagatha tidak dapat dilihat dari kesempurnaan wujud fisik-Nya. Apa sebabnya? Kesempurnaan wujud fisik dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan kesempurnaan wujud fisik, oleh sebab itu disebut kesempurnaan wujud fisik.”

“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Dapatkah Tathagatha dilihat dari kesempurnaan ciri-Nya?”

“Tidak, Yang Dijunjungi. Tathagatha tidak dapat dilihat dari kesempurnaan ciri-Nya. Apa sebabnya? Kesempurnaan ciri dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan kesempurnaan ciri, oleh sebab itu disebut kesempurnaan ciri.”

“Subhuti, janganlah mengatakan Tathagatha punya pikiran “Aku telah membabarkan Dharma.” Janganlah berpikir begitu. Apa sebabnya? Jika seseorang mengatakan bahwa Tathagatha telah membabarkan Dharma dia menghina Hyang Buddha disebabkan oleh ketidakmampuannya untuk mengerti apa yang kukatakan. Subhuti, di dalam Dharma yang dibabarkan sebenarnya tidak ada Dharma yang
bisa dibabarkan, oleh sebab itu disebut Dharma yang dibabarkan.”

Kemudian Arya Subhuti berkata kepada Hyang Buddha, “Yang Dijunjungi, apakah ada makhluk hidup di masa yang akan datang yang akan mempercayai Sutra ini sewaktu mereka mendengarnya?”

Hyang Buddha berkata, “Subhuti, sebenarnya tidak ada makhluk hidup maupun bukan makhluk hidup. Apa sebabnya? Subhuti, makhluk hidup dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan makhluk hidup, oleh sebab itu disebut makhluk hidup.”

Subhuti berkata kepada Hyang Buddha : “Yang Dijunjungi, apakah dengan memperoleh Anuttara-Samyak-Sambodhi, Hyang Tathagatha tidak memperoleh apapun?”

Hyang Buddha menjawab: “Demikianlah, Subhuti. Mengenai Anuttara-Samyak-Sambodhi, sebenarnya tidak ada sedikitpun Dharma yang bisa diperoleh. Oleh sebab itu disebut Anuttara-Samyak-Sambodhi.”

“Lagipula Subhuti, Dharma ini sama rata dan setara, tanpa tinggi maupun rendah. Oleh sebab itu dinamakan Anuttara-samyak-sambodhi. Mempraktekkan semua Dharma yang baik dengan tanpa konsepsi diri, konsepsi manusia, konsepsi makhluk hidup, dan konsepsi kehidupan adalah memperoleh Anuttara-samyak-sambodhi. Subhuti, Dharma yang baik dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan Dharma yang baik. Oleh sebab itu dinamakan Dharma yang baik.”

“Subhuti, jika ada timbunan 7 macam permata mulia yang jumlahnya sama dengan semua gunung Semeru di dalam jutaan dunia, dan seseorang memberikannya sebagai dana amal, dan seorang lainnya mengambil dari Prajna Paramita Sutra ini hanya 4 baris gatha saja, serta menerima, mempertahankan, mempelajari, membacakan, dan menerangkan kepada orang lain, pahala dan kebajikannya akan
melampaui orang pertama tadi berjuta-juta kali atau tak terhitung banyaknya.”

“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Jika ada orang yang mengatakan bahwa Tathagatha mempunyai pikiran : “Aku akan membebaskan semua makhluk hidup”. Subhuti, jangan mempunyai pikiran demikian. Mengapa? Karena sebenarnya tidak ada makhluk hidup yang dibebaskan oleh Tathagatha. Jika ada makhluk hidup yang dibebaskan oleh Tathagatha, maka Tathagatha akan mempunyai konsepsi
keakuan, manusia, makhluk hidup, dan kehidupan. Subhuti, keberadaan konsepsi keakuan dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan keberadaan konsepsi diri tetapi orang awam menganggapnya sebagai keberadaan konsepsi keakuan. Subhuti, orang awam dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan orang awam. Oleh sebab itu dinamakan orang awam.”

“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Dapatkah seorang merenungkan athagatha dari ke 32 ciri fisik-Nya?”

Subhuti berkata, “Demikianlah, Yang Dijunjungi, seseorang dapat merenungkan Tathagatha dari ke-32 ciri fisikNya.”

Hyang Buddha berkata, “Subhuti, jika Tathagatha dapat direnungkan dari ke-32 ciri fisik-Nya, maka seorang maharaja pemutar Dharma juga dapat menjadi seorang Tathagatha.”

Subhuti berkata kepada Hyang Buddha, “Yang Dijunjungi, seperti apa yang kami pahami dari ucapan Hyang Buddha, seseorang tidak seharusnya merenungkan Tathagatha dari ke-32 ciri fisik-Nya.”

Pada saat itu Yang Dijunjungi mengucapkan suatu gatha yang berbunyi : Barang siapa melihat-Ku dalam wujud, Barang siapa mencari-Ku dalam suara, Dia mempraktekkan jalan menyimpang, Dan tidak dapat melihat Hyang Tathagatha.

“Subhuti, engkau mungkin mempunyai pikiran bahwa Tahagatha tidak memperoleh Anuttara-samyak-sambodhi dengan cara penyempurnaan ciri. Subhuti, jangan berpikiran bahwa Tathagatha tidak emperoleh Anuttara-samyak-sambodhi dengan cara penyempurnaan ciri. Subhuti, engkau tidak boleh berpikiran bahwa mereka yang telah bertekad mencapai Anuttara-samyak-sambodhi berarti enghancuran semua Dharma. Jangan berpikir demikian! Mereka yang telah bertekad mencapai Anuttara-samyak-sambodhi bukan berarti penghancuran semua ciri pada akhirnya.”

“Subhuti, seorang Bodhisattva boleh memenuhi sistem dunia yang banyaknya bagai butir-butir pasir di sungai Gangga dengan 7 macam permata mulia dan memberikannya sebagai dana amal. Tetapi jika seorang lainnya mengetahui bahwa semua Dharma tidak memiliki diri dan mencapai Anuttpatika-Dharma-ksanti, pahala dan kebajikan dari Bodhisattva tersebut akan melampaui Bodhisattva yang pertama. Mengapa begitu? Subhuti, itu disebabkan karena Bodhisattva tidak menerima pahala dan kebajikan.”

Subhuti berkata kepada Hyang Buddha, “Yang Djunjungi, bagaimana bisa Bodhisattva tidak menerima pahala dan kebajikan?”

“Subhuti, karena Bodhisattva tidak boleh mengharapkan pahala dan kebajikan dari perbuatan baik yang dilakukannya, mereka dikatakan tidak menerima pahala dan kebajikan.”

“Subhuti, jika ada orang mengatakan Tathagatha itu datang atau pergi, duduk atau berbaring, orang tersebut tidak mengerti maksud ajaran-Ku. Mengapa begitu? Karena Tathagatha tidak datang dari manapun juga tidak pergi ke manapun. Oleh sebab itu disebut Tathagatha.”

“Subhuti, jika ada seorang laki-laki atau perempuan bajik meratakan jutaan dunia menjadi titik debu, bagaimana pendapatmu, apakah masa dari titik debu itu sangat besar?

Subhuti berkata, “Sangat besar, Yang Dijunjungi. Mengapa begitu? Jika masa dari titik debu itu benar-benar ada, Hyang Buddha tidak akan mengatakannya sebagai masa titik debu. Mengapa begitu? Masa titik debu dikatakan oleh Hyang Buddha sebagai bukan masa titik debu. Yang Dijunjungi, jutaan dunia dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan dunia, oleh sebab itu disebut dunia. Mengapa begitu? Jika dunia itu benar-benar ada, maka akan ada perpaduan ciri. Perpaduan ciri dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan perpaduan ciri. Oleh sebab itu disebut perpaduan ciri.

“Subhuti, perpaduan ciri tidak dapat dibicarakan, tetapi orang awam sangat terikat pada hal tersebut.”

“Subhuti, jika seseorang mengatakan bahwa Hyang Buddha membicarakan konsepsi diri, konsepsi manusia, konsepsi makhluk hidup dan konsepsi kehidupan, bagaimana pendapatmu? Apakah orang itu mengerti makna ajaran-Ku?”
“Tidak, Yang Dijunjungi, orang itu tidak mengerti makna ajaran Tathagatha. Mengapa begitu? Konsepsi diri, manusia, makhluk hidup, dan kehidupan dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan konsepsi diri, bukan konsepsi manusia, bukan konsepsi makhluk hidup, dan bukan konsepsi kehidupan. Oleh sebab itu disebut demikian.”

“Subhuti, mereka yang telah bertekad mencapai Anuttara-samyak-sambodhi harus mengetahui, memandang, percaya dan mengerti semua Dharma dengan demikian. Subhuti, ciri Dharma dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan ciri Dharma, oleh sebab itu disebut ciri Dharma.”

“Subhuti, seseorang boleh memenuhi jutaan dunia tak terhitung dengan 7macam permata mulia dan memberikannya sebagai dana amal. Tetapi jika seorang laki-laki atau perempuan bajik yang telah bertekad mencapai Anuttara-samyak-sambodhi mengambil dari Sutra ini, sekalipun hanya 4 baris gatha saja dan menerima, mempertahankan, mempelajari, membacakan, dan menerangkannya dengan luas kepada orang lain, pahalanya akan melampaui orang pertama tadi.” “Bagaimana caranya menerangkan kepada orang lain? Dengan tidak terikat pada ciri : tanpa tumpuan. Mengapa begitu? Semua Dharma yang terkondisi Adalah bagaikan mimpi, ilusi, gelembung, bayangan, Bagaikan titik embun dan kilatan petir, Renungkanlah dengan demikian.

Sesudah Hyang Buddha membabarkan Sutra ini, Arya Subhuti, semua bhiksu dan bhiksuni, upasaka dan upasika, serta para dewa, manusia, asura, mendengarkan apa yang dikatakan Hyang Buddha, bergembira, percaya, menerima, menghormati dan mempraktekkannya.”

 

 

Bodhisattva Ksitigarbha Sutra Bab 13

Bab 13.Varga Amanat Sang Buddha kepada Dewa dan manusia

Pada saat itu Sang Buddha mengangkat tangan emasNya dan menyentuh kepala Ksitigarbha Bodhisattva seraya bersabda: “Yang Arya Ksitigarbha, Ksitigarbha! Prabhavamu tak terkatakan, welas asihmu tak terperikan, kebijakanmu tak terlukiskan dan Pratibhanamu tak tertandingi. Para Buddha di 10 penjuru dunia semuanya memuji dan menyanjung daya kebajikan yang engkau miliki tiada taranya, sekalipun menceritakannya hingga jutaan kalpa, tak akan kunjung habis!”

“Yang Arya Ksitigarbha, Ksitigarbha! Camkanlah, bahwa aku hari ini berada di istana Trayastrimsa, dalam pertemuan agung antara ratusan ribu koti Buddha, Bodhisattva Mahasattva, Dewa, Naga, kedelapan kelompok makhluk, untuk kesekian kalinya aku menyampaikan pesan kepada Engkau, bahwa para Dewa, manusia serta makhluk lainnya yang belum terbebaskan dari Triloka, agar mereka tidak terjerumus ke dalam alam kesengsaraan barang satu hari satu malam juga, apa lagi terjerumus ke dalam Neraka Pancanantarya atau Avici yang membuat mereka menderita ribuan juta kalpa dan takkan dapat membebaskan diri selamanya.”

“Yang Arya Ksitigarbha, umat Jambudvipa sifat tabiatnya dan kemauannya tidak menentu, wataknya lebih mudah mengarah kepada keburukan-keburukan. Sekalipun mereka telah menyatakan keinginan baiknya, tak lama kemudian mereka berubah. Tapi jika mereka bertemu dengan keburukan-keburukan, hal itu akan cepat berkembang menjadi subur. Oleh karena itu aku menjelmakan diriku menjadi ratusan ribu koti banyaknya dan menuruti kodrat mereka masing-masing, lalu membebaskan mereka dari kesengsaraan.”

“Yang Arya Ksitigarbha, hari ini aku dengan kesungguhan hati menyampaikan pesan kepada engkau, jika pada masa yang akan datang terdapat Dewa, manusia serta putra-putri yang berbudi menanamkan kebaikan dalam Buddha Dharma sedikit saja, seperti seujung rambut, sebutir debu, sebutir pasir, dan setetes air, maka lindungilah mereka dengan bodhicitta agar mereka maju terus di atas jalan Dharma dan pantang mundur.”

“Lagi, Yang Arya Ksitigarbha, pada masa yang akan datang jika terdapat seorang Dewa atau manusia, karena masanya sudah habis akan menerima karmanya terjerumus ke dalam alam kesengsaraan, atau ketika akan terjatuh ke dalam Neraka, tiba tiba teringat akan Buddha, jika umat tersebut dapat menyebut salah satu nama Buddha atau Bodhisattva atau sebait Gatha sebaris Sutra, maka umat tersebut harus diselamatkan dengan kesaktianmu dan dengan segala kemudahan-kemudahan. Nampakkanlah diri Anantayakaya-mu di sisi pintu Neraka tempat umat tersebut berada dan hancurkan lenyapkan sekali Neraka itu, selanjutnya upayakan agar umat yang telah sadar itu dilahirkan di Surga untuk menikmati kebahagiaan sejahtera.”

Ketika itu Sang Buddha mengucapkan Gatha: “Dewa manusia di masa yang akan datang, Ku serahkan kepada engkau dengan penuh keyakinan, Selamatkan mereka dengan Daya Maha Prabhava, Sekali-kali jangan ada yang terjerumus ke salah satu alam kesengsaraan.

Saat itu Ksitigarbha Bodhisattva Mahasattva menghormat dengan merangkapkan kedua belah tangannya seraya berkata: “Yang Arya Bhagavan termulia, jangan kuatir akan masalah tersebut. Pada masa yang akan datang jika terdapat seorang pria atau wanita yang berbudi, asalkan terbit rasa hormat dalam Buddha Dharma, aku akan menolongnya dengan segala kemudahan-kemudahan agar umat tersebut terbebaskan dari lautan dukkha mencapai pantai bahagia. Apalagi jika mereka itu telah banyak mengetahui kebaikan-kebaikan dan selalu melaksanakannya dalam peribadatannya. Sudah pasti mereka akan mencapai Anuttara Samyak Sambodhi dan pantang mundur.”

Ketika Ksitigarbha Bodhisattva berkata demikian, tiba-tbia seorang Bodhisattva bernama Akasagarbha bangkit dari tempat duduknya lalu bersujud kepada Sang Buddha sambil berkata: “Yang Arya Bhagavan yang termulia, sejak aku berada di istana Trayastrimsa ini mendengarkan Sang Bhagavan memuji dan menyanjung kesaktian Ksitigarbha Bodhisattva yang amat menakjubkan itu sungguh tak terperikan. Jika pada masa yang akan datang terdapat seorang pria atau wanita serta Dewa, Naga mendengar akan Sutra ini dan nama Ksitigarbha, lalu memberi hormat kepada bodhirupangnya dengan mengadakan puja bhakti. Dengan demikian berapa banyak manfaat yang akan diperoleh? Mohon Sang Bhagavan sudi menguraikan kepada kami sekalian serta para umat yang berada di di masa sekarang dan yang akan datang.”

Sang Buddha bersabda kepada Akasagarbha Bodhisattva: “Dengarlah baik-baik, Yang Arya Akasagarbha, akan kuuraikan satu persatu kepada kamu sekalian. Pada masa yang akan datang, jika terdapat seorang pria atau wanita yang berbudi, melihat gambar Ksitigarbha Bodhisattva dan mendengar sutra ini lalu memuja Beliau dengan dupa, bunga, makanan, minuman, jubah permata dan sebagainya. Atau menghormati Beliau dengan memuji jasa-jasaNya dan memuliakan namaNya. Maka putra-putri yang berbudi tersebut akan memperoleh 28 macam manfaat sebagai berikut:

  1. Selalu dilindungi Dewa, Naga, 8 asta Gatya, selamat sentosa.
  2. Jasa-jasa dan kebajikan makin bertambah.
  3. Terkumpulkan benih kebaikan dari Buddha Dharma.
  4. Tidak mundur dari jalan Anuttara Samyak sambodhi
  5. Cukup sandang pangan
  6. Terhindar dari segala musibah dan wabah penyakit
  7. Terhindar dari banjir dan kebakaran
  8. Terbebas dari pencurian dan perampokan
  9. Selalu disegani orang
  10. Selalu mendapat dukungan dan bantuan dari para makhluk suci
  11. Yang wanita akan dapat menjadi pria pada kehidupan yang akan datang
  12. Dapat dilahirkan sebagai putri raja atau bangsawan Mendapatkan paras muka yang cantik elok disukai orang dimana-mana
  13. Selalu dapat kesempatan dilahirkan dialam surga
  14. Akan lahir sebagai raja atau kepala negara
  15. Dapat mengetahui kehidupan di masa yang silam
  16. Cita citanya selalu terkabul
  17. Keluarganya selalu tentram dan bahagia
  18. Semua malapetaka lenyap
  19. Terhindar dari 3 jalur kesengsaraan
  20. a jalan bebas hambatan
  21. Mimpinya selalu indah
  22. Leluhurnya ikut terbebas dari belenggu penderitaan
  23. Jika leluhurnya pernah menanam kebaikan, dapat membantunya lahir di surga
  24. Mendapat pujian para suciwan
  25. Cerdas tangkas, cekatan dan tajam pikirannya
  26. Memiliki jiwa yang welas asih
  27. Akhirnya akan mencapai ke-Buddha-an

Sang Buddha melanjutkan sabdanya: “Lagi, Yang Arya Akasagarbha, apabila para Dewa, Naga, Malaikat bumi, Malaikat Surga. Para Raja setan, dan pengikutnya, baik yang berada di masa sekarang maupun di masa yang akan datang, setelah mendengar nama Ksitigarbha Bodhisattva, lalu mereka memberi hormat kepada bodhirupangnya atau mereka pernah mendengar kisah suci Beliau, lalu memuji jasa-jasa Beliau serta menghormatnya dengan tulus iklas, maka mereka akan mendapatkan 7 macam manfaat sebagai berikut:

  1. Mereka akan cepat meningkat ke alam yang lebih suci
  2. Karma buruk yang diperbuat di masa yang silam akan lenyap
  3. Selalu dilindungi oleh para Buddha
  4. Kesadaran Bodhi yang telah dicapai takkan menyusut
  5. Kekuatan dan kebajikan makin bertambah
  6. Memiliki daya pengetahuan di masa silam dan masa yang akan datang
  7. Kelak akan menjadi Buddha Ketika hadirin yang berada dalam pertemua agung serta jutaan Buddha, Bodhisattva Mahasattva, Dewa, Naga, Delapan Kelompok makhluk dan umat lainnya mendengar Buddha Sakyamuni menyanjung dan memuji Ksitigarbha Bodhisattva yang memiliki Maha Prabhava yang tak terperikan. Mereka serentak berseru: “Adbhuta! Adbhuta! Adbhuta!” (hal itu belum pernah terjadi)

Ketika itu Surga Trayastrimsa turun hujan berbagai bunga harum semerbak, jubah surga dan ratna mutu manikam sebagai persembahan puja kepada Sakyamuni Buddha dan Ksitigarbha Bodhisattva. Juga sebagai tanda terima kasih yang mendalam atas jasa-jasa Sang Buddha yang telah memberikan khotbah yang tiada ternilai dan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada Ksatria Sejati Ksitigarbha Bodhisattva.

Kemudian para hadirin bersama-sama memberi hormat kepada Sang Buddha dengan mengatupkan kedua tangannya lalu pergi.