Dhammayatra

Dhammayatra terdiri dari dua kata yaitu dhamma dan yatra. Dhamma artinya kesunyataan, benar, kebenaran dsb. Sedangkan yatra artinya di tempat mana. Jadi kata Dhammayatra artinya adalah tempat dharma. Dengan demikian dhammayatra yang dimaksud adalah tempat yang berhubungan dengan dhamma. Yang perlu dikunjungi oleh umat Buddha, karena mengunjungi tempat dhamma inilah maka akhirnya dhammayatra secara umum berarti berziarah ke tempat – tempat suci.

 

Untuk berdhammayatra telah disebutkan dalam Mahaparinibbana Sutta, Digha Nikaya. Namun informasi tentang adanya kegiatan dhammayatra tidak pernah disebutkan sejak Sang Buddha Parinibbana hingga pada masa raja Asoka. Kegiatan dhammayatra muncul pada abad III, ketika Raja Asoka berkuasa di jambudipa.

 

Menurut kitab Mahavastu dan Asokavadana, di ibukota jambudipa, pataliputta ( patna, sekarang ) berkuasa seorang raja bernama Bindusara. Raja memiliki banyak permaisuri dan memiliki seratus anak. Salah seorang anak raja bernama pangeran Asoka. Asoka mempunyai kekuatan dan kemampuan yang luar biasa melampaui saudara – saudaranya. Sebelum menjadi raja, Asoka membunuh 99 orang saudaranya, sehingga ia memiliki kerajaan yang utuh. Hal ini terjadi 218 BE ( Buddhist Era ), yang dihitung mulai sejak Sang Buddha Parinibbana. Dan empat tahun kemudian ia dinobatkan menjadi raja di pataliputta, Ia telah menguasai seluruh jambudipa ( Sekarang India, Pakistan, Bangladesh, Nepal dan Bhutan )

 

Sebagai raja ia memerintah dengan keras, dan ia dipandang sebagai raja yang bengis dan kejam sehingga ia dijuluki sebagai Candasoka ( Asoka jahat ).

 

Pada mulanya raja Asoka ridak mengenal Buddha Dharma, Namun pada suatu hari, selagi raja berdiri di dekat jendela, ia melihat seorang petapa yang tenang sekali, yaitu samanera Nigrodha, putra dari sumana, kakak tertua dari semua anak raja Bindusara Dengan kata lain Samanera Sumana adalah kemenakan Raja Asoka sendiri.

 

Raja Asoka mengundang Samanera Sumana ke istananya, Di istana Samanera membabarkan Appamanavagga ( Samyuta Nikaya ) kepada raja. Akhirnya raja menjadi umat Buddha, sejak menjadi umat Buddha, raja melakukan banyak dana dan perbuatan baik lainnya.

 

Menurut kitab Mahavamsa, Raja Asoka menjadi umat Buddha karena bertemu dengan Samanera Sumana, sedangkan menurut kitab Asokavadana, raja bertemu dengan bhikkhu Samudra, dalam pertemuan itu Bhikkhu menunjukan kekuatan batin ( Abhinna ) dengan cara melayangkan tubuhnya ke angkasa, setengah dari tubuhnya mengeluarkan api dan setengah tubuhnya yang lain mengeluarkan air. Karena pertunjukan inilah maka raja menjadi umat Buddha.

 

Setelah raja menjadi umat Buddha, selain ia melakukan banyak perbuatan baik, juga ia mendirikan banyak vihara. Pendirian banyak vihara ini dilakukan sehubungan dengan dialog antara Raja Asoka dengan Bhikkhu Moggaliputta.

“ Bagaimana besar dhamma yang diajarkan Sang Buddha ? Bhikkhu Moggaliputta Tissa menjawabnya, ketika raja mendengar ada 84.000 bagian Dhamma lalu raja berkata : “ dari setiap bagian itu, saya akan hormati dengan sebuah vihara, Ia memberikan uang sebanyak 96 koti untuk 84.000 kota, serta memerintah para raja ( bawahannya ) untuk membangun vihara dan ia sendiri mulai mendirikan Asokarama”

(Mahavamsa 77 – 80 )

 

Karena perbuatan baiknya begitu banyak dan prilakunya berubah, maka Raja Asoka dikenal dengan nama Dhammasoka ( Asoka yang hidup sesuai dengan dharma ).

Selanjutnya dalam kitab Asokavadana disebutkan bahwa setelah Raja Asoka menjadi umat Buddha di bawah bimbingan Bhikkhu Samudra, kemudian ia bertemu dengan Bhikkhu Upagupta. Pada pertemuan itu, raja bertanya kepada Bhikkhu : “ Baik sekali Maharaja, jawab Upagupta, keinginan anda sangat menarik, saya akan menunjukkan tempat – tempat itu hari ini…”

Kemudian Raja Asoka menyiapkan 4 kelompok pasukan, menyiapkan wangi  – wangian dan bunga – bungaan dan berangkat bersama Bhikkhu Upagupta.

 

Dari uraian diatas, kita dapat mengetahui tentang Raja Asoka dengan bantuan Bhikkhu Upagupta melakukan ziarah ke tempat – tempat yang ada hubungannya dengan kehidupan Sang Buddha.

 

 Pahala Berdhammayatra

 Pahala yang didapat sebagai hasil karma baik karena berdhammayatra adalah besar sekali, karena pahala berdhammayatra ini akan membantu dan menentukan kelahiran kita pada kehidupan yang akan dating. Hal ini dapat kita ketahui dari kutipan di bawah ini :

“Ananda, bagi mereka yang dengan keyakinan kuat melakukan ziarah ke tempat – tempat itu, maka setelah mereka meninggal dunia , mereka akan terlahir kembali di alam surga “

Karma baik berdhammayatra dengan terlahir kembali di alam surga setelah kematian kita, ini berarti bahwa ketika kita berada di tempat – tempat dhammayatra, kita melakukan perenungan akan sifat – sifat Sang Buddha dan kita berusaha melakukannya dalam kehidupan seari – hari. Dengan kata lain, setelah kita berdhammayatra kita berusaha melakukan perbuatan baik dan menghindari perbuatan jahat.

 

Juga setelah kita berdhammayatra lalu kita meninggal, dan pada saat meninggal mengingat atau merenung tempat – tempat itu sehubungannya dengan Sang Buddha, maka kelahiran di alam surga dapat diharapkan, asalkan kita tidak pernah melakukan perbuatan karma buruk yang berat ( seperti membunuh orang tua ), maka kelahiran di alam surga dapat diharapkan.

 

Tempat – tempat Dhammayatra

Tempat – tempat untuk berdhammayatra telah disebutkan dalam Mahaparinibbana Sutta oleh Sang Buddha kepada Bhikkhu Ananda, sebagai berikut :

“ Ananda, ada 4 tempat bagi seorang berbakti untuk di ziarahi, menyatakan sujudnya sebagai perasaan hormat, dimanakah ke empat tempat itu ?”

 

Ananda, tempat dimana Tathagata dilahirkan adalah tempat bagi seorang berbakti seharusnya berziarah, menyatakan sujudnya dengan perasaan hormat.

 

Tempat dimana Sang Tathagata mencapai penerangan sempurna yang tiada taranya, adalah tempat bagi seorang berbakti seharusnya berziarah menyatakan sujudnya dengan perasaan hormat.

 

Tempat dimana Sang Tathagata memutarkan Roda Dhamma untuk pertama kali adalah tempat bagi seorang berbakti seharusnya berziarah menyatakan sujudnya dengan perasaan hormat.

 

Tempat dimana Sang Tathagata meninggal ( Parinibbana ) adalah tempat bagi seorang berbakti seharusnya berziarah, menyatakan sujudnya dengan perasaan hormat.

Mereka yang berziarah ke tempat – tempat itu, apakah mereka itu para bhikkhu, para bhikhhuni, para upasaka atau para upasika merenungkan : “Disinilah Sang Tathagata dilahirkan, Disinilah Sang Tathagata mencapai penerangan sempurna, Disinilah Sang Tathagata memutarkan Roda Dhamma untuk pertama kali, Disinilah Sang Tathagata meninggal ( Parinibbana )”

 

Itulah empat tempat Dhammayatra bagi umat Buddha yang diberitahukan oleh Sang Buddha kepada Bhikkhu Ananda. Hal ini disampaikan oleh Sang Buddha menjelang Beliau parinibbana atau meninggal dunia.

 

1. Lumbini

Adalah tempat kelahiran Pangeran Siddhartha yang kelak menjadi Buddha, Lumbini sekarang ini dikenal pula dengan nama Rummindei terletak di kerajaan Nepal, kira – kira  10 km dari perbatasan India, di utara kota Gorakpur, Uttar Prades, India.

Sekarang ini di Lumbini ada beberapa bangunan yang dibuat untuk menunjukan bahwa ditempat itulah Pangeran Siddhartha yang menjadi Buddha dilahirkan, diantaranya adalah Pilar Asoka, Vihara Mayadevi.

 

Pilar Asoka didirikan oleh Raja Asoka ketika beliau mengunjungi Lumbini, pada sekitar tahun 250 BC, pilar ini merupakan tiang batu ( monolith ) dan ada prasasti yang ditulis disitu. Isi prasasti pilar Asoka adalah sebagai berikut :

“Dua puluh tahun setelah dinobatkan menjadi raja, raja Priyadarsi, kecintaan para dewa, mengunjungi tempat ini dan melakukan puja, sebab Sang Buddha petapa sakya lahir disini. Ia mendirikan pagar batu di sekeliling tempat ini  dan mendirikan pilar batu untuk memperingati kunjungannya. Karena Sang Buddha

Lahir disini, maka ia membebaskan para penduduk desa Lumbini dari pembayaran pajak dan hanya membayar seperdelapan dari hasil tanaman sebagai ganti dari pembayaran yang seharusnya.

 

Vihara Mayadevi merupakan sebuah tempat persembahyangan yang memiliki sebuah rupang yang menggambarkan tentang Ratu Mahamaya memegang cabang pohon salad an bayi yang baru lahir berdiri diatas bunga teratai.

 

Pada januari 1996, sebuah tim arkeologi dari jepang, India, Pakistan dan Nepal, menggali sedalam tujuh meter dibawah bekas kolam, mereka menemukan sebuah batu prasasti. Batu prasasti ini adalah batu yang diletakkan oleh Raja Asoka diantara tujuh lapisan bata. Isi tulisan prasasti tersebut adalah “Disinilah Sang Buddha dilahirkan”

 

2. Buddha Gaya

Buddha Gaya atau Bodh Gaya ( Sekarang ) adalah tempat dimana petapa Gotama mencapai penerangan sempurna ( Bodhi ) menjadi Buddha dibawah pohon Bodhi ( Ficus Religiosa ) Pada waktu pencapaian keBuddhaan, Buddha Gaya merupakan hutan yang dikenal dengan nama hutan Uruvela.

Buddha Gaya terletak di distrik Gaya, Bihar, India. Di Buddha Gaya sekarang ini ada stupa Maha Bodhi, Pohon Bodhi dan Vajrasana.

Stupa Maha bodhi tingginya kira – kira 170 kaki dengan lantai dasar 50 kaki persegi, Stupa ini dibangun dengan batu bata yang tersusun rapi dan diplester. Didepan pintu masuk ke stupa dindingnya ada diukir. Disetiap lubang – lubang atau lekukan dinding, terdapat Buddha Rupang. Tiang – tiang dan pintu gerbangnya dibuat dari batu, ada altar di ruangan lantai dasar, ada pula yang terletak dilantai dua, dan untuk ke lantai itu dapat melalui dua tangga batu. Distupa ini masih banyak obyek yang dapat kita temukan.

 

Pohon Bodhi yang dianggap dibawah pohon Bodhi itulah petapa Gotama mencapai KeBuddhaan. Pohon ini diperkirakan sebagai pohon asli tempat petapa Gotama mencapai KeBuddhaan. Pohon ini terletak di belakang stupa Maha Bodhi.

 

Vajrasana adalah tempat duduk petapa Gotama, terletak di bawah pohon Bodhi, ketika petapa Gotama bermeditasi diatas tempat duduk inilah akhirnya beliau menjadi Buddha.

 

3. Varanasi

Di Taman Rusa ( Migadaya ), Isipathana, Baranasi, Sang Buddha membabarkan khotbah pertama, Dhammacakkapavatthana Sutta kepada lima orang petapa yaitu ( Kondanna, Vappa, Bhadiya, Mahanama, Assajji ). Sekarang tempat ini lebih dikenal dengan nama Sarnath.

 

Sarnath terletak di distrik Varanasi, Uttar Pradesh, India kira – kira 10 km dari kota Varanasi sekarang.

Tempat dimana Sang Buddha membabarkan khotbah yang pertama telah didirikan sebuah stupa yaitu Dhamek Stupa, yang juga merupakan sisa tanda kejayaan Sarnath. Hal ini disebutkan dalam prasasti Mahipala I dari dinasti Pala tahun 1026 AD, Dhamek Stupa pada mulanya dikenal sebagai Dhammacakka Stupa. Dhamek Stupa pada mulanya dibangun oleh Raja Asoka dengan bentuk menara silinder yang mempunyai dasar dengan diameter 28,5 m tinggi 33,53 m atau 42,06 termasuk dasarnya.

 

Disamping Dhamek Stupa, ada pula stupa lain yaitu Dharmarajika Stupa yang terletak agak ke utara dari Dhamek Stupa. Stupa yang asli didirikan oleh Raja Asoka dengan dasarnya berdiameter 13,49 m. Tambahan pada stupa dilakukan pada masa kerajaan Kushana. Namun Stupa ini telah dirusak oleh Jagat Singh dari varanasi pada tahun 1794.

 

4. Kusinara

Kusinara sekarang ini dikenal dengan nama Kushinagar, yang terletak di distrik Deoria, Uttar Pradesh, India atau 55 km arah timur dari kota Gorakpur.

Di kusinara, pada usia 80 tahun Sang Buddha parinibbana atau meninggal dibawah dua pohon sala kembar. Untuk memperingati tempat ini, telah didirikan sebuah stupa yang dikenal dengan nama Mahaparinibbana Stupa dan sebuah vihara yang memiliki Buddha Rupang besar dengan posisi tidur.

Kira – kira 1,61 km ke arah timur dari tempat Sang Buddha parinibbana, di jalan dari kasia ke deoriate terdapat Makutabandhana Cetiya atau Stupa Kremasi. Stupa ini didirikan untuk memperingati tempat dimana jasad Sang Buddha dikremasikan.

Stupa ini berdiameter 34,14 m dalam bentuk lingkaran drum, pada dasarnya berdiameter 47,25 m. Didekat Stupa ini terdapat sebuah kolam Ramabhar Jhil yang kering dimusim panas.

 

Keempat tempat Dhammayatra tersebut adalah tempat yang disarankan oleh Sang Buddha sendiri, namun setelah Sang Buddha parinibbana, umat Buddha berdhammayatra bukan hanya keempat tempat itu, tetapi juga ke tempat – tempat yang dipandang penting oleh Umat Buddha karena tempat – tempat itu berhubungan dengan kehidupan beliau,  tempat – tempat itu antara lain :

a. Rajagaha

Rajagaha sekarang terkenal dengan nama Rajgir, Rajagaha adalah ibukota kerajaan Magadha, yang diperintah oleh Raja Bimbisara, Di kota Rajagaha ini terdapat sebuah bukit yang sangat terkenal di masa Sang Buddha, yaitu bukit Gijjhaguta atau Puncak Burung Nasar. Di puncak bukit ini Sang Buddha sering tinggal. Tidak jauh dari Rajagaha terdapat perbukitan, diantara bukit – bukit itu terdapat Goa Sattapani yaitu tempat Maha Samaya I, yang pada kesempatan itu Bhikkhu Ananda mengucapkan Sutta Pitaka.

 

b. Savatthi

Savathi sekarang dikenal dengan nama Saheth Maheth, merupakan reruntuhan pula, Savathi adalah ibukota kerajaan kosala, Disini terdapat Vihara Jetavana yang didirikan oleh Anathapindika. Gandhakuti yang sering disebut dalam Tipitaka berada di Vihara Jetavana, sekarang bekas Vihara dan Gandhakutimasih dapat kita temukan.

 

Demikian pula banyak tempat Dhammayatra lainnya seperti Nalanda, Vesali, Sankasya ( Sankisa ) adalah tempat Sang Buddha turun dari Surga Tavatimsa.

 

Kehancuran Bumi

Kehancuran bumi biasa dikenal dalam percakapan sehari – hari sebagai kiamat. Pada suatu ketika bumi kita ini akan hancur lebur tanpa sisa. Hal ini diuraikan Sang Buddha dalam Mahavagga Dutiyo, Sattakanipata, Angutara Nikaya. Berikut ini adalah kutipannya :

 

“Demikianlah yang kudengar, Pada suatu ketika Sang Bhagava tinggal di Ambapa livana. Ketika itu Sang Bhagava berkata kepada para Bhikkhu : “ Para Bhikkhu”  YA Bhante,” jawab mereka. Lalu Sang Buddha berkata, Bhikkhu bentuk apapun tidak kekal, goyah, tidak tetap. Para Bhikkhu, janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk ( sankhara ), itu menjijikan, bebaskanlah diri kamu dari hal – hal itu. Para Bhikkhu, gunung sineru, raja gunung – gunung yang panjangnya 84.000 yojana, lebarnya 84.000 yojana, kakinya dalam lautan sedalam 84.000 yojana, dan tingginya dari permukaan laut setinggi 84.000 yojana.

 

Bhikkhu, akan tiba suatu masa setelah bertahun – tahun, ratusan tahun, ribuan tahun, atau ratusan ribu tahun, tidak ada hujan. Ketika tidak ada hujan maka semua bibit tanaman seperti bibit sayuran, pohon penghasil obat – obatan, pohon palem dan pohon – pohon besar di hutan menjadi layu, kering dan mati.

Demikianlah Para Bhikkhu, bentuk apapun tidak kekal, tidak abadi atau tidak tetap. Janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk itu, itu menjijikan, bebaskanlah diri kamu dari hal – hal itu.

 

Para Bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu diakhir masa yang lama, matahari kedua muncul, ketika matahari kedua muncul, maka semua sungai kecil dan danau kecil surut, kering dan tiada.

Demikianlah Para Bhikkhu, bentuk apapun tidak kekal, tidak abadi atau tidak tetap. Janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk itu, itu menjijikan, bebaskanlah diri kamu dari hal – hal itu

 

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari keempat muncul. Ketika matahari keempat muncul, maka semua danau besar tempat bermuaranya sungai besar yaitu danau Anottatta, Sihapapata, Rathakara, Kannamunda, Kunala, Chaddanta dan Mandakini surut, kering dan tiada.

Demikianlah Para Bhikkhu, bentuk apapun tidak kekal, tidak abadi atau tidak tetap. Janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk itu, itu menjijikan, bebaskanlah diri kamu dari hal – hal itu

 

Para Bikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari kelima muncul. Ketika matahari kelima muncul, maka air maha samudera surut 100 yojana, lalu surut 200 yojana, 300 yojana, 400 yojana, 500 yojana, 600 yojana, dan surut 700 yojana. Air maha samudera tersisa sedalam tujuh pohon palem, enam,lima,empat,tiga,dua pohon palem dan hanya sedalam tinggi seorang saja. lalu dalam airnya setinggi pinggang, setingi lutut, hingga airnya surut sampai sedalam tinggi mata kaki.

 

Para Bhikkhu bagaikan dimusim rontok, ketika terjadi hujan dengan tetes air hujan yang besar, mengakibatkan ada Lumpur di bekas tapak – tapak kaki sapi, demikianlah dimana – mana air yang tersisa dari maha samudera hanya bagaikan Lumpur yang ada di bekas tapak – tapak kaki sapi.

Demikianlah Para Bhikkhu, bentuk apapun tidak kekal, tidak abadi atau tidak tetap. Janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk itu, itu menjijikan, bebaskanlah diri kamu dari hal – hal itu

 

Para Bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari keenam muncul, maka bumi ini dengan gunung sineru sebagai raja gunung – gunung, mengeluarkan, memuntahkan dan menyemburkan asap. Para Bhikkhu, bagaikan tungku pembakaran periuk yang mengeluarkan, memuntahkan dan menyemburkan asap, begitulah yang terjadi dengan bumi ini.Demikianlah Para Bhikkhu, bentuk apapun tidak kekal, tidak abadi atau tidak tetap. Janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk itu, itu menjijikan, bebaskanlah diri kamu dari hal – hal itu

 

Para Bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu diakhir masa yang lama, matahari ketujuh muncul. Ketika matahari ketujuh muncul, maka bumi ini dengan gunung sineru sebagai raja gunung terbakar, menyala berkobar – kobar, dan menjadi seperti sebuah bola api yang berpijar. Cahaya nyala kebakaran sampai terlihat di alam Brahma, demikian pula dengan debu asap dari bumi dengan gunung sineru tertiup oleh angin sampai ke alam Brahma. Bagian – bagian dari puncak gunung sineru setinggi 1,2,3,4,5 ratus yojana terbakar dan menyala ditaklukan oleh amukan nyala yang berkobar – kobar, hancur lebur. Disebabkan oleh nyala yang berkobar – kobar bumi dengan gunung sineru hangus total tanpa ada bara maupun abu yang tersisa. Demikian pula bumi dengan gunung sineru hangus terbakar hingga bara maupun debu tidak tersisa sama sekali.”

(Mahavaggo Dutiyo, Sattanipata, Anguttara NIkaya )

 

Karena kemampuan seorang Buddha sebagai Sabbannu yang tak terbatas, maka kita sebagai manusia biasa sulit mengetahui batas kemampuannya. Hal ini telah disebutkan dalam Acintayya Sutta :

“Kemampuan seorang Buddha adalah tak terpikirkan oleh kemampuan manusia biasa”

Banyak Matahari, Bumi dan Adanya Manusia Lain di bumi yang lain

Adanya banyak matahari, bumi dan adanya manusia selain manusia di bumi kita ini. Hal ini disebutkan oleh Sang Buddha seperti yang terdapat dalam Ananda Vagga, Anguttara Nikaya. Untuk jelasnya pernyataan tersebut, ikutilah uraian dibawah ini.

 

Pada suatu ketika, Bhikkhu Ananda pergi menemui Sang Bhagava. Ketika bertemu ia menghormat Sang Bhagava, lalu duduk disamping. Setelah duduk ia berkata kepada Sang Bhagava sebagai berikut : “Bhante, Saya sendiri mendengar dari Sang Bhagava, di depan Sang Bhagava saya menerima kata – kata ini.

“Ananda, Murid Buddha Sikki bernama Abhibhu berada dialam Brahma ( Brahma Loka ) dan ia dapat menyebabkan suaranya didengar sampai sejauh seribu tata surya yang lain. Bhante, berapa jauh seribu tata surya yang lain? Bhante, berapa jauh seorang arahat sammasambuddha dapat memperdengarkan suaranya?”

 

“Ananda, Abhibhu masih seorang murid, Suara Tathagata adalah tidak terukur jangkauannya.”

Untuk kedua kali dan sampai ketiga kalinya, Ananda menanyakan hal tersebut, Maka Sang Bhagava menjawab :

“Ananda, apakah kau pernah mendengar tentang seribu Culanika loka dhatu ( tata surya kecil ) ?”

“Sekarang saatnya Bhagava, sekarang saatnya Sugata, bagi Sang Buddha berkata. Para Bhikkhu akan memperhatikan dengan sungguh – sungguh apa yang Sang Bhagava sabdakan”

“Maka dengarkanlah Ananda, perhatikanlah, Saya akan bicara.”

“Ya, Bhante, jawab Ananda”

Kemudian Sang Bhagava bersabda :

“Ananda, sejauh matahari dan bulan berotasi pada garis orbitnya, dan sejauh pancaran sinar matahari dan bulan di angkasa, sejauh itulah luas seribu tata surya. Didalam seribu tata surya terdapat seribu matahari, seribu bulan, seribu gunung sineru, seribu jambudipa, seribu Apara yojana, seribu Uttarakuru, seribu Pubbavidehana, empat ribu maha samudera, empat ribu maha raja, seribu Catummaharajika, seribu Tavatimsa, seribu Yamma, seribu Tusita, seribu Nimmanarati,seribu Parinimmita vassavati, dan seribu alam Brahma. Inilah Ananda, yang dianamakan seribu tata surya kecil  ( Sahasi culanika lokadhatu ). Ananda seribu kali Sahasi culanika lokadhatu dinamakan Dvisahassa majjhimanika lokadhatu, Ananda seribu kali Dvisahassa majjhimanika lokadhatu dinamakan Tisahassi Mahasahassi lokadhatu. Ananda, bilamana Sang Tathagata mau, maka ia dapat memperdengarkan suaraNya sampai terdengar di Tisahassi Mahasahassi lokadhatu ataupun melebihi itu lagi.”

“Bhante, bagaimana hal itu terjadi ?”

“Ananda, dalam hal ini Sang Tathagata diliputi cahaya Tisahassi Mahasahassi lokadhatu. Bila makhluk – makhluk di tata surya itu melihat cahaya ini, maka Sang Tathagata akan berkata – kata dan suaranya dapat didengar mereka. Demikianlah hal ini terjadi.”

Setelah mendengar hal ini, Bhikkhu Ananda berkata kepada Bhikkhu Udayi. “ Suatu keuntungan bagiku, pendapatan yang baik sekali bagiku karena guruku memiliki kekuatan dan kemampuan yang hebat sekali.

 

Lalu Bhikkhu Udayi berkata kepada Bhikkhu Ananda : “ Avuso, Ananda, apakah manfaatnya bagimu, walaupn gurumu memiliki kekuatan dan kemampuan yang hebat seperti itu ?”

 

Mendengar kata – kata ini, Sang Bhagava berkata kepada Bhikkhu Udayi. “ Janganlah berkata begitu Udayi, janganlah berkata begitu !” Andaikata Ananda meninggal tanpa mencapai kebebasan, tapi dengan keyakinan teguh ini ia akan tujuh kali menguasai para dewata, tujuh kali ia akan menjadi maharaja jambudipa ini, Tetapi Udayi, pada kehidupan ini Ananda akan mencapai parinibbana. ( Ananda Vagga, Angutara Nikaya )

Hujan Bunga

Subhuti adalah seorang murid Sang Buddha. Ia mampu memahami potensi dari kekosongan, titik pandang bahwa tidak ada yang bisa berdiri sendiri terlepas dari subyektivitas dan obyektivitas.

Suatu hari, Subhuti dalam kondisi pemahaman sepenuhnya kekosongan tertinggi, duduk dibawah sebatang pohon. Bunga – bunga mulai berjatuhan di tubuhnya.

“Kami memujimu atas khotbah tentang kekosongan,” para dewa berbisik kepadanya.
“akan tetapi, saya masih belum membicarakan tentang kekosongan, kata Subhuti
“Anda masih belum membicarakan tentang kekosongan, kami belum mendengarkan kekosongan.”jawab para dewa. “Inilah kekosongan yang sebenarnya. Dan bunga – bunga berjatuhan ke tubuh Subhuti bagai hujan.

Sumber : Daging Zen Tulang Zen

Menaklukkan Angulimala

Menaklukkan Angulimala
(dengan Kesaktian/Iddhi)

Ukkhitta khagga matihattha sudãrunantam
Dhãvantiyo janapathan gulimãla vantam
Uddhibhisankhatamano jitavã munindo
Tan tejasã bhavatu te jayamangalãni

Sangat kejam dengan pedang terhunus dalam tangan yang kokoh kuat
Angulimala berlari mengejar sepanjang jalan tiga yojana dengan berkalung untaian jari
Raja Para Bijaksana menaklukkannya dengan kesaktian
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.

Istri kepala penasehat (Purohita Brahmana) Raja Pasenadi Kosala yang bernama Mantani, melahirkan seorang anak laki-laki. Pada saat kelahirannya, semua senjata di dalam kota berkilau mengeluarkan cahaya yang terang benderang. Kejadian ini menyebabkan ayahnya bertanya kepada ahli perbintangan, mereka meramalkan bahwa anak tersebut di kemudian hari akan menjadi perampok. Keesokan harinya, ketika ia mengunjungi istana, sang ayah bertanya kepada Raja Pasenadi, apakah tadi malam Raja dapat tidur nyenyak. Raja menjawab, tadi malam ia tidak dapat tidur dengan nyenyak karena melihat semua senjata di dalam gudang berkilauan. Hal ini menandakan adanya bahaya yang akan menimpa Raja sendiri atau kerajaannya. Brahmana tersebut lalu menyampaikan kepada Raja, bahwa semalam istrinya telah melahirkan seorang anak laki-laki. Pada saat kelahirannya, tidak hanya pedang kerajaan, semua senjata yang ada di seluruh kota berkilauan, yang menandakan bahwa anaknya kelak akan menjadi perampok.

Brahmana tersebut bertanya kepada Raja, apakah Raja menghendaki agar ia membunuh anaknya yang baru lahir itu. Raja lalu bertanya, apakah anak tersebut kelak akan menjadi kepala perampok ataukah menjadi perampok tunggal. Ia menjawab bahwa anak tersebut akan menjadi perampok tunggal.

Raja tidak terlalu khawatir, karena beliau beranggapan bahwa kerajaannya tidak akan dapat dikacaukan hanya oleh seorang perampok. Jadi beliau membiarkan anak tersebut hidup dan tumbuh menjadi dewasa.

Anak itu diberi nama Ahimsaka, yang berarti tidak melukai siapapun (=tanpa kekerasan). Anak itu diberi nama demikian karena ia berasal dari keluarga yang tidak pernah dinodai dengan kejahatan dan juga karena sifat anak itu sendiri.

Ketika Ahimsaka dewasa, ia disekolahkan di Taxila, suatu pusat pendidikan yang terkenal pada masa lampau. Ahimsaka amat pandai, dapat melampaui murid-murid yang lain dan menjadi murid yang paling menonjol, dan ia amat disayang oleh gurunya.

Teman-temannya menjadi iri kepadanya. Mereka berusaha mencari kesalahan agar Ahimsaka dapat dihukum. Mereka tidak dapat mencela kemampuan maupun reputasi baik keluarga Ahimsaka.

Mereka lalu memfitnah bahwa Ahimsaka telah melakukan hal yang tidak pantas dengan istri gurunya. Mereka lalu membagi kelompoknya menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama memberitahukan kepada guru mereka tentang kesalahan Ahimsaka, kelompok kedua dan ketiga membenarkan apa yang dikatakan oleh kelompok yang pertama. Ketika guru mereka tidak mempercayai apa yang mereka katakan, mereka mengusulkan supaya guru mereka membuktikannya sendiri.

Guru Ahimsaka kemudian melihat istrinya berbicara dengan ramah kepada Ahimsaka, hal ini menambah kecurigaannya, sehingga ia merencanakan untuk melenyapkan Ahimsaka. Sebagai orang terpelajar, di dalam usahanya untuk melenyapkan Ahimsaka, ia tidak melakukannya secara terbuka, karena ia takut tidak ada lagi murid yang mau berguru kepadanya.

Oleh karena itu ia berkata kepada Ahimsaka :
“Muridku, saya tidak sanggup lagi mengajarmu lebih lanjut, kecuali kamu dapat mengumpulkan seribu buah jari tangan kanan manusia sebagai biaya pendidikanmu.”

Guru Ahimsaka mengira bahwa Ahimsaka tidak akan pernah berhasil melaksanakan keinginannya. Dan di dalam usahanya untuk mengumpulkan jari manusia, ia pasti akan tertangkap oleh pengawal raja.

Ahimsaka menjawab, bahwa di dalam keluarga mereka tidak mempunyai kebiasaan untuk melakukan kejahatan kepada orang lain. Berulang-ulang Ahimsaka memohon kepada gurunya, agar ia dapat membayar biaya pendidikannya dengan cara yang lain, tetapi gurunya tetap pada pendiriannya. Apabila ia menolak melaksanakannya, ia akan mendapat kutukan. Karena ia mempunyai keinginan yang kuat untuk belajar dan tidak ada jalan lain lagi untuk melanjutkan pendidikannya, ia lalu mempersenjatai dirinya dan masuk ke hutan Jalini di Kosala, yang merupakan pertemuan dari delapan jalan dan mulai membunuh siapapun yang lewat di situ untuk mengumpulkan jari tangan manusia sesuai dengan permintaan gurunya.

Jari yang terkumpul digantungnya pada sebuah pohon. Namun karena jari-jari tersebut selalu dihancurkan oleh burung gagak dan burung pemakan bangkai, ia lalu membuat untaian jari untuk memastikan jumlah jari yang telah dikumpulkannya. Sejak itu ia dikenal dengan nama Angulimala (=Untaian Jari).

Rakyat lalu pergi ke Savatthi, menghadap Raja untuk memberitahukan bahwa jumlah penduduk semakin berkurang, karena kekejaman seorang perampok yang selalu membunuh penduduk yang lewat di hutan itu. Mereka memohon supaya Raja mengirim pasukan untuk menangkapnya. Raja mengabulkan permohonan rakyat dan segera memerintahkan pasukan kerajaan untuk menyelidiki perampok tersebut.

Brahmana yang merupakan ayah Ahimsaka, berkata kepada istrinya bahwa ia amat khawatir kalau-kalau perampok yang kejam itu adalah anak mereka sendiri, dan bertanya apa yang harus mereka lakukan. Istrinya lalu berkata, sebaiknya ia cepat-cepat pergi ke hutan, sebelum pasukan kerajaan tiba, untuk menyadarkan anaknya. Namun brahmana itu menolak untuk pergi. Istri brahmana itu lalu memutuskan untuk masuk ke hutan seorang diri. Dengan kecintaan seorang ibu terhadap anaknya yang amat besar, ia meratap dan berseru agar anaknya mau mengikuti tradisi keluarga, berhenti melakukan pembunuhan dan berkata bahwa pasukan raja sedang dalam perjalanan untuk menangkapnya.

Pada waktu yang sama, Sang Buddha yang sedang bersemayam di Vihara Jetavana melihat dengan Mata Buddha (melalui Maha Karuna Samapatti), bahwa dari kumpulan karma baik yang dimiliki pada kehidupannya yang lampau, Angulimala memiliki cukup banyak kebajikan untuk menjalani kehidupan sebagai seorang bhikkhu dan mempunyai kemampuan untuk mencapai Tingkat Kesucian Tertinggi yaitu menjadi Arahat pada kehidupan ini juga. Sang Buddha juga melihat bahwa ibu Angulimala dapat terbunuh apabila Angulimala melihatnya, karena ia sudah amat ingin melengkapi untaian jari yang diminta oleh gurunya.

Untuk mencegah hal ini, Sang Buddha lalu mengubah wujudNya menjadi seorang bhikkhu dan segera memasuki hutan. Para pengembala dan petani berusaha mencegah Sang Buddha untuk masuk ke hutan seorang diri, karena empat puluh orang yang pergi bersama-sama pun dapat dibunuh oleh Angulimala. Meskipun mendapat peringatan, Sang Buddha tetap melanjutkan perjalanNya dengan berdiam diri. Untuk kedua dan ketiga kalinya mereka berusaha mencegah Sang Guru masuk ke hutan tersebut, namun Sang Buddha dengan berdiam diri tetap meneruskan perjalananNya masuk ke dalam hutan.

Pada pagi hari itu, Angulimala telah mengumpulkan sembilan ratus sembilan puluh sembilan buah jari dan telah merencanakan bahwa siapapun yang ditemuinya pada hari itu harus dibunuhnya. Tetapi ia mendapat kesulitan untuk menemukan orang yang dapat dibunuhnya, karena orang-orang selalu berjalan dalam rombongan yang besar dan bersenjata lengkap.

Akhirnya ia melihat seorang bhikkhu seeang berjalan seorang diri, tanpa membawa senjata. Ia berpikir tentu amat mudah untuk membunuhnya. Angulimala lalu membawa pedang, tameng, anak panah beserta busurnya mengikuti Sang Buddha dari jarak yang dekat.

Sang Buddha menunjukkan kesaktianNya, sehingga bagaimanapun Angulimala berusaha berlari sekuat tenaga, sedangkan Sang Buddha berjalan dengan kecepatan biasa, ia tetap tidak dapat menyusul Sang Buddha.

Angulimala lalu berpikir, “Saya telah mengejar gajah, kuda, kijang dan dapat mengalahkan mereka, sekarang meskipun saya sudah berlari sekuat tenaga, dan Bhikkhu ini berjalan dengan kecepatan biasa saja, saya tetap tidak dapat mendekatiNya.”

Dengan terengah-engah dan berkeringat, ia berteriak meminta Sang Buddha untuk berhenti : “Tittha (+Berhentilah) Samana!”

Sang Buddha menjawab : “Saya sudah berhenti! Hentikan dirimu sendiri!”

Angulimala keheranan akan jawaban Sang Buddha dan bertanya : “Apa maksudMu?”

Sang Buddha menjawab :
“Saya telah bertekad untuk melimpahkan kasih sayang kepada semua mahluk, sedangkan kamu tidak mempunyai belas kasih terhadap mahluk lain. Oleh karena itu Saya sudah berhenti, sedangkan kamu belum berhenti melakukan pembunuhan.”

Karena tumpukan karma baik Angulimala yang amat besar pada kehidupannya yang lampau, bahwa ia diberi tahu oleh Buddha Padumuttara, bahwa ia akan menjadi seorang Arahat. Sebagai seorang yang mempunyai kemampuan untuk menjadi seorang Arahat, setalah mendengar apa yang dikatakan oleh Sang Buddha, ia mengetahui bahwa pertapa mulia ini adalah Buddha Gotama yang karena cinta kasihNya yang amat besar datang untuk menolongnya.

Angulimala segera melemparkan untaian jari dan senjatanya, lalu bernamaskara di kaki Sang Buddha dan memohon untuk ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu. Sambil mengangkat tanganNya, Sang Buddha berkata :
“Ehi Bhikkhu (Mari, O Bhikkhu).”

Dengan demikian Angulimala dapat menerima delapan kebutuhan pokok seorang bhikkhu pada saat yang bersamaan dan langsung menerima Upasampada, tanpa terlebih dahulu menjadi seorang samanera. Dengan disertai oleh Angulimala, Sang Buddha kembali ke Vihara Jetavana.

Sementara itu Raja Pasenadi Kosala didesak untuk menangkap perampok Angulimala. Sudah menjadi kebiasaannya untuk menemui Sang Buddha apabila ada kejadian genting. Setalah Raja Pasenadi Kosala bernamaskara, lalu duduk di salah satu sisi, Sang Buddha bertanya :
“O, Raja, ada hal apakah yang membuat anda risau?
Apakah Raja Seniya Bimbisara dari Magadha menantang anda?
Apakah para Pangeran Licchavi dari Vesali?
Atau para bangsawan sainganmu?”

Raja lalu menjelaskan masalah yang sedang dihadapinya, ia mengakui tidak dapat menangkap Angulimala si perampok yang haus darah itu. Sang Buddha lalu bertanya :
“Apa yang akan anda lakukan kalau perampok itu memakai jubah seorang bhikkhu?”

Raja menjawab :
“Yang Mulia, saya akan menghormatinya seperti saya menghormat kepada seorang bhikkhu.”

Pada saat itu Bhikkhu Angulimala sedang duduk di dekat Sang Buddha. Beliau lalu berkata kepada raja :
“O, Raja, inilah Angulimala.”

Raja Pasenadi Kosala menjadi ketakutan, badannya gemetar, rambutnya berdiri. Sang Buddha lalu menenangkannya dan berkata bahwa ia tidak perlu takut lagi, karena Angulimala telah menjadi seorang bhikkhu. Raja lalu mendekati Bhikkhu Angulimala dan menanyakan tentang orang tuanya, dan menawarkan untuk memenuhi semua kebutuhannya. Pada saat itu Bhikkhu Angulimala telah menjalani latihan hidup di hutan, berpindapatta, memakai jubah dari kain perca yang terdiri dari tiga bagian. Oleh karena itu ia menolak tawaran raja, karena ia sudah tidak memerlukannya lagi. Kemudian Raja Pasenadi Kosala memberi hormat kepada Bhikkhu Angulimala dan menyatakan keheranannya kepada Sang Buddha akan perubahan yang dialami oleh Bhikkhu Angulimala. Ia lalu pulang ke istana dengan hati yang bahagia.

Pada suatu hari, ketika Bhikkhu Angulima sedang berpindapatta di Savatthi, Beliau melihat seorang wanita yang sangat kesakitan karena akan melahirkan. Beliau melihat penderitaan wanita itu, tergerak hatinya, lalu berpikir :
“Betapa menderitanya mahluk hidup, betapa menderitanya mahluk hidup!”

Beliau yang pernah membunuh sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang, sekarang merasa amat kasihan melihat seorang wanita menderita kesakitan karena akan melahirkan. Ketika Beliau selesai berpindapatta dan makan pagi, Beliau pergi ke vihara menemui Sang Buddha dan menyampaikan apa yang dilihatnya. Sang Buddha lalu meminta Bhikkhu Angulimala pergi menemui wanita itu dan berkata :
“Saudari, sejak saat saya dilahirkan dalam Keluarga Ariya, saya tidak sadar, dengan sengaja telah membunuh mahluk hidup. Berdasarkan kebenaran ini, semoga anda selamat dan semoga anak anda selamat.”

Beliau lalu pergi menemui wanita yang akan melahirkan bayinya. Layar penyekat diletakkan melingkari sang ibu, Bhikkhu Angulimala duduk dan mengulang Paritta yang diajarkan Sang Buddha. Segera saja bayi tersebut lahir dengan mudah dan selamat. (Kemanjuran Paritta Angulimala Sutta ini masih terbukti hingga saat ini).

Tidak lama kemudian, Bhikkhu Angulimala mencapai Tingkat Kesucian Arahat.

Pada suatu hari, ketika Yang Mulia Angulimala sedang berpindapatta di Savatthi, Beliau dilempari bongkahan tanah, tongkat dan batu. Kepalanya terluka, bercucuran darah dan mangkokNya pecah. Beliau pulang kembali ke vihara dan mendekati Sang Buddha yang sedang duduk. Sang Buddha yang melihat keadaanNya lalu menjelaskan, bahwa semua kejadian ini adalah akibat dari perbuatan burukNya, yang sesungguhnya dapat membuatNya menderita di Alam Neraka selama ribuan tahun.

Sekarang Yang Mulia Angulimala hidup menyendiri, menikmati Kebahagiaan dari Kebebasan, mengucapkan pernyataan-pernyataan Kebijaksanaan, meninggal dunia dan mencapai Nibbana.

Para bhikkhu membicarakan tempat kelahiran kembali dari Yang Mulia Angulimala, Sang Buddha memberitahu mereka, bahwa Beliau telah mencapai Nibbana. Para bhikkhu keheranan, bagaimana mungkin seseorang yang telah melakukan begitu banyak pembunuhan dapat mencapai Nibbana. Sang Buddha menjawab bahwa pada masa yang lampau, karena bimbingan yang kurang baik, Angulimala telah melakukan perbuatan-perbuatan buruk namun kemudian ketika Beliau mendapat bimbingan yang baik, Beliau menjalani kehidupan suci. Dengan demikian Beliau dapat mengatasi perbuatan buruk dengan perbuatan baiknya. Setalah berkata demikian, Sang Buddha mengucapkan syair :

“Mereka yang dapat mengatasi perbuatan buruk mereka dengan perbuatan baik, menyinari dunia ini, bagaikan bulan yang terbebas dari awan.” (Dhammapada 173).

Menaklukkan Gajah Nalagiri

Menaklukkan Gajah Nalagiri
(dengan Cinta Kasih /Metta)

Nãlãgirim gajavaram atimatta bhutam
Dãvaggi cakka masaniva sudãrunantam
Mettambuseka vidhinã jitavã munindo
Tan tejasã bhavatu te jayamangalãni

Nalagiri gajah mulia menjadi sangat gila
Sangat kejam bagaikan hutan terbakar, bagai senjata roda atau halilintar
Raja para Bijaksana menaklukkannya dengan kemampuan pikiran sakti yang mengagumkan
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.

Sang Buddha seperti biasa sedang berjalan ke suatu daerah untuk membabarkan Dhamma kepada umatNya. Beliau diiringi oleh murid-muridNya, yang penuh cinta kasih dan pengabdian yang besar kepada Sang Buddha, Sang Guru Agung.

Melihat Sang Buddha yang dicintai oleh murid-muridNya, menyebabkan Devadatta berpikir :
“Adalah suatu kenyataan, bahwa tidak ada satu mahlukpun yang dengan melihat Kesempurnaan Manusia Gotama mampu dan berani untuk menyentuhNya. Tetapi raja gajah Nalagiri adalah binatang yang amat galak dan liar, ia tidak mengetahui kesucian Buddha, Dhamma serta Sangha. Ia akan saya lepaskan untuk menghancurkan Bhikkhu Gotama.”

Kemudian Devadatta pergi menemui Raja Ajatasattu dan membicarakan masalah ini. Raja terpengaruh oleh penjelasannya dan memanggil penjaga gajah, lalu memberi perintah :
“Penjaga, besok kamu harus memberi minuman keras kepada Nalagiri. Dan lepaskanlah Nalagiri di jalan raya saat Bhikkhu Gotama sedang berjalan.”

Devadatta bertanya kepada penjaga itu berapa banyak air yang biasa diberikan kepada gajah itu, penjaga itu menjawab :
“Delapan guci.”

Devadatta lalu berkata :
“Besok, berikan kepada Nalagiri enam belas guci minuman keras dan lepaskan dia ke arah jalan raya yang akan dilalui oleh Bhikkhu Gotama.”

“Baiklah,” jawab penjaga itu.

Raja lalu menabuh tambur di seluruh kota dan mengumumkan :
“Besok gajah Nalagiri akan menjadi mabuk karena minum minuman keras dan akan dilepas ke dalam kota. Penduduk di kota ini dapat melakukan semua pekerjaannya hanya pada pagi hari, sesudah itu tidak boleh ada satu orangpun yang berada di jalan raya.”

Devadatta lalu turun dari istana dan mendatangi kandang gajah Nalagiri, ia mendekati penjaga gajah itu dan berkata :
“Saya katakan kepadamu, kita mampu untuk menghancurkan seseorang dari posisinya yang tinggi ke posisi yang rendah. Dan menaikkan posisi seseorang yang rendah menjadi posisi yang tinggi. Kalau kamu menginginkan kehormatan, besok pagi-pagi sekali, berikan Nalagiri enam belas guci minuman keras dan ketika Bhikkhu Gotama melewati jalan itu, lukailah gajah itu dengan tongkat berduri. Karena gajah yang kesakitan itu akan marah, ia akan menerobos kandangnya dan berlari keluar, arahkanlah ia ke jalan raya di mana Bhikkhu Gotama sedang berjalan. Maka gajah itu akan menghancurkanNya.”

Keduanya setuju dengan rencana seperti itu. Berita ini bergema ke seluruh kota. Pengikut Sang Buddha mendengar berita ini amat khawatir, lalu mendatangi Vihara dan meminta Sang Buddha untuk tidak masuk ke kota esok hari, karena ada bahaya besar yang menghadang Beliau. Mereka berjanji akan membawakan semua kebutuhan yang diperlukan oleh Sang Guru beserta murid-muridNya. Tatapi Sang Buddha menyatakan tetap akan menjalankan tugasNya seperti biasa. Para pengikutNya melihat bahwa mereka tidak akan merubah rencana Sang Guru Agung akhirnya mereka meninggalkan Vihara dengan perasaan amat khawatir.

Setelah mereka pergi, Sang Buddha merenungkan semua keluargaNya yang sudah mengerti akan Kebenaran. Beliau juga melihat apabila Nalagiri berhasil ditaklukkanNya, maka delapan puluh ribu mahluk akan mendapatkan pengertian yang jelas tentang Dhamma Yang Mulia.

Keesokan paginya, Beliau memanggil Ananda, dan berkata untuk memberitahukan kepada para bhikkhu di delapan belas vihara yang berada di sekitar Rajagaha untuk menyertaiNya masuk ke kota. Bhikkhu Ananda melaksanakan apa yang diminta oleh Sang Guru, dan semua bhikkhu berkumpul di Vihara Veluvana.

Sang Buddha dengan disertai oleh semua murid-muridNya, berjalan memasuki Rajagaha. Penjaga gajah itu bekerja sesuai dengan instruksi Devadatta dan banyak orang berkerumun di sekitar jalan raya. Para pengikut Sang Buddha berpikir :
“Hari ini mungkin akan terjadi pertempuran antara Sang Guru Agung dan gajah liar itu. Kami akan menyaksikan kekalahan gajah Nalagiri dari Sang Buddha yang tiada bandingannya.”

Penduduk lalu menaiki atap-atap rumah, gudang-gudang yang ada di sekitar jalan raya itu.

Tetapi ada pula pertapa lain yang berpikir :
“Nalagiri adalah gajah yang amat galak, binatang liar dan tidak mengetahui kebaikan dan cinta kasih yang besar dari seorang Buddha. Hari ini ia akan menghancurkan tubuh Bhikkhu Gotama dan Beliau akan meninggal. Hari ini kami akan melihat apa yang terjadi denganNya.”

Para pertapa lalu berdiri di atas sebuah gudang dan di tempat-tempat yang tinggi. Gajah Nalagiri melihat Yang Maha Sempurna berjalan menghampirinya, penduduk yang ada di sana amat ngeri melihat gajah tersebut. Gajah yang amat kesakitan itu berlari dengan liarnya, ia menghancurkan pagar rumah-rumah dan mengangkat belalainya tinggi-tinggi, serta menginjak-injak kereta menjadi hancur berantakan. Dengan kuping dan ekornya yang terangkat, ia berlari dengan kencangnya seperti gunung yang tinggi menghampiri Yang Maha Sempurna.

Para bhikkhu yang melihat gajah Nalagiri berlari mendatangi Sang Buddha, memberitahu Sang Guru Agung :
“Yang Mulia, gajah Nalagiri berlari di sepanjang jalan ini, ia adalah binatang yang amat galak dan liar, ia pembunuh manusia. Kami mohon Yang Mulia balik kembali.”

“O….Para Bhikkhu datanglah ke sini, jangan takut; tidak ada satu mahlukpun yang dapat menghancurkan Sang Tathagata dengan suatu serangan. Tathagata mencapai Parinibbana bukan karena suatu serangan.”

Para bhikkhu, tetap memperingatkan Sang Guru sampai tiga kali. Yang Mulia Sariputta lalu meminta Sang Buddha dengan berkata :
“Yang Mulia, apabila ada satu persembahan yang harus diberikan kepada seorang ayah, maka beban itu terletak pada anak sulungnya. Saya akan mengalahkan binatang ini.”

Sang Buddha lalu berkata :
“Sariputta, kekuatan seorang Buddha adalah satu hal dan pengikutnya adalah hal yang lain.”

Beliau menolak tawaran itu, dan berkata :
“Sariputta, tetaplah tinggal di sini.”

Para bhikkhu lainnya juga meminta ijin untuk mengalahkan gajah liar itu, tetapi Sang Guru menolak permintaan mereka. Kemudian Yang Mulia Ananda, pembantu Sang Buddha yang mempunyai pengaruh besar terhadap Sang Buddha, tidak mampu bersikap diam dalam menghadapi masalah ini, ia lalu berteriak :
“Biarkan gajah itu membunuh saya terlebih dahulu.”

Yang Mulia Ananda berdiri di depan Sang Buddha, siap untuk mengorbankan hidupnya untuk Sang Tathagata. Tetapi Sang Buddha berkata kepadanya :
“Bergeserlah Ananda, jangan berdiri di hadapanKu.”

Yang Mulia Ananda berkata :
“Yang Mulia, gajah ini amat galak dan liar, ia dapat membunuh orang, seperti nyala api pada permulaan suatu lingkaran. Biarkanlah ia membunuh saya terlebih dahulu dan sesudah itu ia baru dapat menghampiri Yang Mulia.”

Yang Mulia Ananda memohon tiga kali, dan Beliau tetap berdiri di depan Sang Tathagata, Beliau tidak mau mundur. Kemudian Sang Buddha dengan kekuatan kesaktianNya membuat Yang Mulia Ananda berada di belakang Beliau dan menempatkanNya di tengah-tengah para bhikkhu yang tengah berkerumun.

Pada waktu itu ada seorang ibu, terlihat oleh pandangan gajah Nalagiri, ibu itu amat ketakutan, ia ingin berlari karena ketakutan, tetapi anaknya terjatuh ketika ia ingin menggendong anak itu di pinggangnya. Posisinya berada di antara Sang Tathagata dan gajah Nalagiri, ibu itu berusaha berlari. Gajah itu mengejar ibu tersebut, ibu tersebut terpaku berdiri di tempatnya dengan amat ketakutan bersama anaknya yang menjerit sekeras-kerasnya.

Hati Sang Buddha bergetar, dengan penuh cinta kasih yang terpancar dengan kuatnya (odissakametta) dan dengan suaraNya yang penuh kelembutan seperti suara Dewa Brahma, memanggil Nalagiri :
“Ho..! Nalagiri…! Siapa yang mebuatmu menjadi gila dengan enam belas guci minuman keras, kamu tidak diperintahkan untuk menyerang orang lain, tetapi diarahkan untuk menyerangKu. Jangan keluarkan kekuatanmu dengan merusak tanpa tujuan, datanglah kepadaku.”

Mendengar suara Sang Buddha, Nalagiri membuka matanya dan melihat tubuh Sang Buddha yang bersinar terang. Ia menjadi gelisah dan dengan kekuatan cinta kasih Sang Buddha yang amat besar, maka pengaruh minuman keras yang amat kuat itu hilang. Dengan menurunkan belalainya dan mengoyang-goyangkan kupingnya ia mendatangi dan berlutut di kaki Sang Tathagata. Kemudian Sang Tathagata berkata :
“Nalagiri, kamu adalah gajah jahat, Aku adalah Gajah Buddha, tidak jahat dan liar, tidak membunuh manusia, tetap mengembangkan cinta kasih.”

Sambil berkata demikian Sang Tathagata lalu mengulurkan tangan kananNya dan mengelus-elus kepala gajah itu dan mengajarkan Dhamma kepadanya dengan bersabda :
“Jangan menyerang Sang Buddha, O, gajah..! Dengan pikiran akan melukaiNya, akan membuatmu menderita. Pembunuh seorang Buddha tidak akan memperoleh alam kehidupan yang baik setelah kematiannya.”

“Bebaskanlah dirimu dari mabuk-mabukkan dan melakukan perbuatan bodoh. Karena orang yang bodoh tidak akan dapat pergi ke alam yang baik. Kamu harus melakukan perbuatan baik sehingga kamu dapat menuju ke alam bahagia.”

Seluruh badan gajah itu bergetar karena diliputi oleh kebahagiaan yang amat besar, dan ia sekarang bukan hanya binatang berkaki empat biasa lagi, tetapi ia telah mencapai Tingkat Kesucian Pertama (Sotapanna).

Penduduk yang melihat keajaiban ini berseru dengan gembira dan bertepuk tangan dengan riang. Dengan penuh kebahagiaan, mereka menutupi badan gajah itu dengan hiasan-hiasan. Kemudian Nalagiri terkenal dengan nama Dhanapalaka (pemilik kekayaan) dan ia menjadi amat jinak dan tidak menyakiti siapapun.

Setelah Sang Buddha memperlihatkan keajaiban ini, Beliau berpikir adalah tidak patut untuk mencari dana di tempat yang sama. Sesudah mengalahkan para pertapa tersebut, dengan diiringi oleh murid-muridNya, Beliau melangkah menuju ke kota seperti orang yang telah memenangkan suatu pertempuran dan pulang kembali ke Vihara Jetavana. Para penduduk menuju Vihara Jetavana, berdana makanan berupa nasi, minuman dan makanan enak lainnya kepada Sang Guru Agung beserta murid-muridNya. Penduduk kota itu telah menanam kebajikan yang besar sekali.

Menaklukkan Yakkha Alavaka

Menaklukkan Yakkha Alavaka
(dengan Kesabaran / Khanti)

Mãrãtireka mabhiyujjhita sabbarattim
Gorampanãlavaka makkhamathaddha yakkham
Khanti sudhanta vidhinã jitavã munindo
Tan tejasã bhavatu te jayamangalãni

Lebih dari Mara yang membuat onar sepanjang malam
Adalah Yakkha Alavaka yang menakutkan, bengis dan congkak
Raja para Bijaksana menaklukkannya, menjinakkan dengan kesabaran
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.

Sudah menjadi kebiasaan Raja Alava, ketika sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi peperangan yang melelahkan, ia selalu menghibur diri dengan pergi berburu ke hutan selama tujuh hari tanpa henti. Pada saat itu, ketika sedang mengepung binatang buruannya di sebuah hutan, raja memerintahkan kepada para pengawalnya, untuk menjaga agar tidak seekor binatang pun yang dapat meloloskan diri. Namun seekor rusa dapat menerobos penghalang yang berada di dekat raja. Raja mengejar rusa itu seorang diri, sesudah mengejar rusa itu cukup jauh, akhirnya ia dapat membunuh rusa itu. Ia memang tidak membutuhkan daging rusa itu tetapi untuk menunjukkan kehebatannya di hadapan para pengawalnya, ia memotong rusa itu menjadi dua bagian. Lalu ia mengikatkannya pada sepotong kayu. Raja lalu berjalan kembali ke tempat ia telah meninggalkan para pengawalnya.

Dalam perjalanan kembali ke tempat para pengawal yang menunggunya, raja tiba di bawah sebuah pohon Banyan [2], di perempatan sebuah jalan. Karena ia amat lelah, maka ia berhenti sejenak untuk beristirahat di bawah pohon tersebut. Pohon Banyan ini adalah tempat kediaman Yakkha Alavaka (raksasa) yang mempunyai kebiasaan untuk membunuh orang-orang yang mendekati pohon tersebut.

Yakkha Alavaka menangkap raja yang sedang berteduh di bawah pohon itu. Raja amat ketakutan dan berjanji apabila Yakkha Alavaka tidak membunuh dan melepaskannya, maka ia akan mempersembahkan korban sebagai pengganti dirinya, seorang manusia dan sepiring nasi setiap hari.

Tetapi Yakkha Alavaka menjawab :
“Kalau kamu kembali ke istana, kamu pasti akan melupakan janjimu ini. Saya hanya dapat menangkap orang-orang yang mendekati pohon ini, oleh karena itu saya tidak akan melepaskanmu.”

Raja berkata dengan amat ketakutan, bahwa apabila suatu hari ia ingkar janji, Yakkha Alavaka dapat mendatangi istana untuk mengambil korbannya. Setelah menerima janji dari raja ini, Yakkha Alavaka lalu melepaskan raja untuk kembali pulang ke istana.

Setibanya di istana, raja memanggil walikota dan menceritakan apa yang telah terjadi. Walikota bertanya kepada raja; apakah ketika berjanji kepada Yakkha Alavaka, raja menyebutkan kapan berakhirnya persembahan korban itu. Raja mengatakan, ia tidak menyebutkannya. Walikota menyesali karena raja telah melakukan suatu kesalahan besar, namun ia berjanji untuk mengatasi bencana ini, tanpa menyusahkan raja.

Kemudian walikota pergi ke penjara, dan berkata bahwa narapidana yang telah dijatuhi hukuman mati karena membunuh, akan dibebaskan apabila mereka membawa sepiring nasi dan mempersembahkannya di bawah pohon Banyan. Para pembunuh menyambut gembira usul ini, tetapi ketika mereka mendekati pohon Banyan tersebut, mereka ditangkap dan dibunuh oleh Yakkha Alavaka. Setelah narapidana sudah habis, perintah ini dialihkan kepada para pencuri dan merekapun dibunuh oleh Yakkha Alavaka, sehingga penjara akhirnya kosong.

Lalu perintah ini diteruskan kepada orang yang tidak bersalah, yang dituduh melakukan kesalahan yang tidak mereka lalukan. Karena cara ini akhinya tidak berhasil, perintah ini lalu dialihkan kepada orang-orang yang berusia lanjut. Orang-orang tua ini diambil dari rumah lalu dibawa ke pohon Banyan tersebut. Raja lalu memberitahukan kepada walikota bahwa rakyat mengeluh karena kakek nenek mereka diambil dari rumah mereka. Raja lalu memerintahkan cara lain untuk memenuhi janjinya kepada Yakkha Alvaka. Walikota lalu berkata apabila ia tidak diijinkan untuk mengorbankan orang-orang berusia lanjut, ia harus mengorbankan bayi-bayi. Ketika penduduk mengetahui hal ini, sebagian dari mereka terutama ibu-ibu yang mempunyai bayi ataupun yang sedang hamil pindah ke negara lain.

Kejadian ini berlangsung selama dua belas tahun lamanya. Sehingga tidak ada lagi anak kecil yang tersisa, kecuali putera raja sendiri. Karena tidak ada jalan lain, maka raja dengan terpaksa merelakan puteranya sendiri untuk dipersembahkan kepada Yakkha Alavaka. Ratu dan selir-selir raja menangis tersedu-sedu, ketika raja memerintahkan agar membawa puteranya untuk dipersembahkan kepada Yakkha Alavaka.

Di pagi hari yang sama, Sang Buddha ketika itu sedang bersemayam di Vihara Jetavana. Beliau melihat dengan Mata BuddhaNya, bahwa Pangeran Alava mempunyai karma baik, ia dapat mencapai Tingkat Kesucian Anagami [3]. Demikian pula Yakkha Alavaka, ia masih mempunyai karma baik karena ia dapat mencapai Tingkat Kesucian Sotapanna [4]. Kemudian Sang Buddha membawa mangkuk pindapatta dan meninggalkan Vihata Jetavana menuju ke pintu kediaman Yakkha Alavaka.

Penjaga pintu memperingatkan Sang Buddha, untuk jangan mendekat karena berbahaya. Majikannya sangat kejam, bahkan kepada orang tuanya sendiri dia tidak pernah menaruh hormat. Sang Buddha berkata, bahwa tidak akan terjadi apapun terhadap diriNya, asalkan Beliau diijinkan untuk menetap semalam di tempat itu. Penjaga pintu kemudian mengatakan bahwa majikannya akan mencabut jantung siapapun yang datang mendekat dan akan mengoyak tubuh korbannya menjadi dua bagian. Sang Buddha tetap mendesak untuk tinggal di sana satu malam. Akhirnya penjaga itu berkata ia akan meminta ijin dahulu kepada majikannya di Hutan Himala.

Setelah penjaga itu pergi, Sang Buddha lalu memasuki tempat tinggal Yakkha Alavaka dan duduk di singgasana, tempat yang biasa diduduki oleh Yakkha Alavaka. Para selir dari istana datang dan memberi hormatnya kepada Sang Buddha. Sang Guru lalu membabarkan Dhamma kepada mereka, mengajarkan untuk mengasihi semua mahluk dan tidak menyakiti siapapun. Setelah mendengarkan Dhamma mereka mengucapkan “Sadhu”.

Ketika gandrabbha atau pengawal memberitahukan kepada Yakkha Alavaka bahwa Sang Buddha sedang berada di tempat kediamannya, ia sangat marah dan berkata dengan suara keras; bahwa Bhikkhu Gotama akan sangat menderita karena telah memasuki tempat tinggalnya.

Ketika itu para Yakkha yaitu Satagira dan Hemavata bersama para pengikutnya sedang dalam perjalanan menuju ke suatu pertemuan. Para Yakkha ketika terbang di angkasa harus menghindari jalur yang biasa dilewati para Dewa. Tempat tinggal Yakkha Alavaka dikelilingi pagar besi dan di atasnya dilindungi jala emas. Kedua Yakkha tersebut harus melintasi tempat ini dari dekat, dan karena para Yakkha tidak diperkenankan untuk mendekati Sang Buddha (kecuali untuk memberi penghormatan kepada Beliau), mereka tertangkap dan ketika ingin mencari penyebabnya, mereka menemukan Sang Guru Agung sedang duduk di tahta Yakkha Alavaka, keduanya lalu menghampiri dan menghormati Beliau.

Setelah itu mereka pergi ke Hutan Himalaya. Pada saat itu, mereka bertemu dengan Yakkha Alavaka dan memberitahukan bahwa suatu kejadian yang menguntungkan telah terjadi padanya. Karena Sang Buddha sedang berada di tempat kediamannya, dan dia harus pergi untuk menyambut Beliau. Mendengar hal ini, Yakkha Alavaka menjadi gelisah dan bertanya :
“Siapakah Sang Buddha ini yang telah berani memasuki tempat tinggalku?”

Kedua Yakkha menjawab :
“Apakah kamu tidak mengenal Sang Buddha, Penguasa ke Tiga Alam [5]?”

Yakkha Alavaka berkata bahwa siapapun Beliau, ia akan mengusirnya dari tempat kediamannya.

Kemudian kedua temannya itu berkata :
“Yakkha Alavaka, kamu hanyalah bagaikan seekor anak kerbau yang baru lahir di dekat seekor kerbau dewasa. Bagaikan gajah kecil di dekat raja pemimpin suku. Bagaikan seekor serigala tua di dekat seekor singa yang perkasa. Apa yang dapat kamu perbuat?”

Yakkha Alavaka berdiri dari tempat duduknya dengan penuh kemarahan, ia lalu menaruh kakinya di puncak Gunung Ratgal, ia tampak seperti kobaran api dan berkata: “Sekarang kita lihat, siapakan yang lebih kuat.”

Yakkha Alavaka dengan penuh kemarahan menendang Gunung Kailasa, yang menimbulkan percikan api seperti besi panas yang dipukul dengan palu. Sekali lagi ia berteriak dengan kerasnya : “Saya adalah Yakkha Alavaka ………!” Dan suaranya menggema ke seluruh Jambudwipa (India).

Tanpa menunda lagi, Yakkha Alavaka pergi ke tempat kediamannya dan berusaha keras untuk mengusir Sang Buddha. Ia menciptakan badai hebat yang didatangkan dari empat penjuru, yang dapat menumbangkan pohon dan bukit karang berukuran besar. Tetapi dengan kekuatan cinta kasih Sang Buddha, semua itu tidak dapat melukai Beliau. Setelah itu terjadi hujan lebat, hujan senjata, hujan pasir, arang, abu dan kegelapan. Namun tidak ada satupun yang dapat melukai Sang Buddha. Kemudian Yakkha Alavaka mengubah wujudnya menjadi mahluk yang sangat menyeramkan, namun Sang Buddha tidak menghentikannya dan membiarkan Yakkha Alavaka melakukannya sepanjang malam, sehingga ia menjadi amat lelah.

Kemudian ia melemparkan senjatanya yang amat sakti, namun tidak berhasil juga. Ketika itu para Dewa mulai berkumpul untuk menyaksikan pertandingan ini. Yakkha Alavaka sangat heran menyaksikan senjata andalannya tidak berdaya, dan mencari penyebabnya. Ia menemukan bahwa semua itu adalah karena cinta kasih dan kasih sayang Sang Buddha yang amat besar. Cinta kasih hanya dapat ditaklukkan dengan cinta kasih, bukan dengan kemarahan.

Kemudian Yakkha Alavaka meminta dengan lemah lembut kepada Sang Buddha untuk meninggalkan tempat kediamannya dan Sang Buddha yang telah mengetahui bahwa kemarahannya telah ditaklukkan dengan kelembutan. Beliau berdiri dan meninggalkan tempat tersebut. Melihat hal ini, Yakkha Alavaka berpikir :
“Saya telah menentang Pertapa ini sepanjang malam dengan tanpa membawa hasil, dan sekarang hanya dengan satu kata Beliau meninggalkan tempat ini.”

Melihat hal ini hatinya menjadi lembut. Namun demikian ia berpikir, akan lebih baik lagi apabila ia mengetahui apakah Sang Buddha pergi karena kemarahan atau ketidakpatuhan, ia lalu memanggil Beliau :
“Yang Mulia, silakan masuk,” kata Yakkha Alavaka. Sang Buddha lalu masuk menghampirinya. Tiga kali hal tersebut diulangi, namun ketika Yakkha Alavaka berkata untuk yang keempat kalinya, supaya Sang Buddha meninggalkan kediamannya, Sang Buddha menolak dan menanyakan apa yang dapat Beliau lakukan untuknya.

“Baiklah Yang Mulia, saya akan mengajukan sebuah pertanyaan,” kata Yakkha Alavaka.

Sudah menjadi kebiasaan Yakkha Alavaka untuk menangkap para pertapa dan bhikkhu yang datang ke tempat kediamannya dan bertanya kepada mereka, jadi ia berpikir ia akan melakukan hal yang sama terhadap Sang Buddha.

Lalu ia berkata :
“Apabila Anda tidak mau menjawab pertanyaan saya, saya akan mengacaukan pikiran Anda, atau membelah jantung Anda, atau memegang kedua kaki dan melemparkan Anda ke seberang Sungai Gangga.”

Sang Buddha menjawab :
“Tidak saudara, Saya melihat tidak ada satupun mahluk di dunia ini maupun di alam dewa, di alam Brahma, para pertapa, brahmana, para dewa dan manusia yang dapat mengacaukan pikiran Saya, membelah jantung ataupun memegang ke dua kaki dan melemparkan Saya ke seberang Sungai Gangga. Tetapi saudara, tanyakanlah yang ingin kamu ketahui.”

Yakkha Alavaka kemudian menanyakan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :
“Apakah milik manusia yang paling berharga?
Praktek apakah yang membawa kebahagiaan?
Apakah yang paling manis dari semua rasa?
Bagaimana cara yang terbaik dalam menjalani kehidupan ini?”

Sang Buddha menjawab:
“Keyakinan adalah milik manusia yang paling berharga.
Dhamma yang dipraktekkan dengan benar akan menghasilkan kebahagiaan.
Kebenaran adalah yang termanis dari semua rasa.
Kehidupan yang dijalani dengan pengertian adalah yang terbaik.”

Kemudian Yakkha Alavaka bertanya lagi :
“Bagaimanakah seseorang menyeberangi arus?
Bagaimanakah seseorang menyeberangi laut?
Bagaimanakah seseorang mengatasi penderitaan?
Bagaimanakah seseorang disucikan?”

Yang Maha Sempurna menjawab :
“Dengan keyakinan seseorang menyeberangi arus.
Dengan perhatian benar seseorang menyeberangi laut.
Dengan usaha seseorang mengatasi penderitaan.
Dengan kebijaksanaan seseorang disucikan.

Yakkha Alavaka bertanya kembali :
“Bagaimanakah kebijaksanaan diperoleh?
Bagaimanakah kekayaan didapatkan?
Bagaimanakah ketenaran diperoleh?
Bagaimanakah mempererat persahabatan?
Ketika meninggalkan dunia ini menuju ke dunia lain, bagaimana agar orang tidak bersedih?”

Sang Guru Agung menjawab :
“Orang yang memiliki keyakinan, perhatian dan pandai memperoleh kebijaksanaan dengan mendengarkan Dhamma dari Para Suci, Yang membimbing ke Nibbana. Dia yang melaksanakan apa yang pantas dilaksanakan, tidak tergoyahkan dan giat berusaha, memperoleh kekayaan. Dengan kebenaran seseorang memperoleh ketenaran. Kedermawanan mempererat persahabatan. Perumah tangga setia yang memiliki keempat kebajikan ini : kejujuran, moral yang baik, semangat dan kedermawanan, tidak akan menderita setelah meninggal dunia. Tanyakanlah kepada para pertapa dan brahmana yang lain, apakah ada yang lebih hebat dari pada kejujuran, pengendalian diri, kedermawanan dan kesabaran.”

Setelah mengerti dengan baik maksud dari sabda Sang Buddha, Yakkha Alavaka berkata :
“Yang Mulia, bagaimana saya dapat bertanya kepada para pertapa dan brahmana yang lain? Hari ini saya telah mengetahui rahasia dari kebahagiaan saya di masa yang akan datang. Untuk kebaikan saya sendiri, Sang Tathagata telah datang ke Avali. Hari ini telah saya ketahui di mana timbunan jasa yang menghasilkan buah yang berlimpah. Dari desa ke desa, dari kota ke kota, saya akan mengembara memberikan penghormatan kepada yang Maha Sempurna dan kepada Dhamma Yang Mulia.”

Pada saat Yakkha Alavaka mengucapkan hal ini, Pangeran Alava sedang diantarkan ke tempat kediamannya. Ketika para pengawal mendengarkan kata “Sadhu”, mereka mengetahui bahwa kata ini tidak pernah diucapkan kecuali di hadapan Sang Buddha, oleh karena itu mereka mendekat tanpa rasa takut. Ketika memasuki tempat kediaman Yakkha Alavaka, mereka melihat Yakkha Alavaka sedang bernamaskara, menghormat kepada Sang Buddha. Para pengawal mengatakan bahwa hari ini mereka datang untuk membawa Pangeran Alava yang akan dipersembahkan sebagai korban kepada Yakkha Alavaka, ia dapat memakan dagingnya dan meminum darahnya atau melakukan apa saja yang diinginkannya. Yakkha Alavaka merasa amat malu mendengar pernyataan ini, ia lalu mempersembahkan Pangeran kepada Sang Buddha.

Sang Guru Agung memberkati Pangeran Alava dan menyerahkannya kembali kepada para pengawal yang menyambutnya dengan sukacita. Sejak saat itu Pangeran Alava diberi nama Hatthalavaka.

Penduduk desa amat ketakutan ketika melihat Pangeran Alava dibawa pulang kembali ke istana. Ketika mereka mendengar apa yang telah terjadi, mereka serentak berseru :
“Sadhu, Sadhu, Sadhu.”

Kemudian Sang Buddha meninggalkan tempat kediaman Yakkha Alavaka, pergi ke desa untuk berpindapatta. Setelah Sang Buddha selesai bersantap, Beliau duduk di bawah pohon. Raja dan para penduduk berduyun-duyun menemui dan memberikan hormatnya dengan bernamaskara. Sang Guru Agung menjelaskan kepada mereka tentang Alava Sutta, yang menyebabkan ribuan di antara mereka mencapai Tingkat Kesucian.

Ketika Pangeran Alava dewasa, ayahnya memberitahukan bahwa ia diselamatkan dari kematian oleh Sang Buddha, maka ia harus pergi menemui, memberikan hormat dan melayani Beliau. Pangeran melakukan apa yang dikatakan oleh ayahnya dan bersama dengan lima ratus orang pengikutnya mencapai tingkat kesucian.

Keterangan :

  1. Yakkha : Raksasa
  2. Pohon Banyan : Sejenis pohon beringin
  3. Anagami : Orang suci tingkat ketiga yang tidak akan terlahir kembali.
  4. Sotapanna : Prang suci tingkat pertama yang akan terlahir kembali tidak lebih dari tujuh kali.
  5. Tiga Alam :
    1. Alam Bahagia atau Alam Surga
    2. Alam Manusia
    3. Alam Menderita