BUDDHA METTEYA

BUDDHA METTEYA

Metteya adalah Buddha masa depan yang sangat dinantikan dan belum dilahirkan. Selanjutnya Beliau akan dianggap sebagai Buddha ke 25 menurut tradisi Pali.
Lebih lanjut lagi, Beliau akan dihitung sebagai Buddha ke 5 dan yang terakhir di aeon sekarang yaitu Kappa Bhadda. Dipercayai bahwa Beliau akan dilahirkan saat kehidupan manusia diperpanjang sampai 84.000 tahun. Tempat kelahiranNya adalah Ketumati di masa pemerintahan Chakkavatti Samkha dimana dia sendiri akan menjadi pengikut Buddha dan melepaskan kehidupan duniawi.

Metteya akan dilahirkan di sebuah keluarga terpelajar yang terkenal dan namaNya adalah Ajita. Nama sukuNya juga Metteya. Nama ayahNya adalah Subrahma; dan ibuNya adalah Brahmawati. Beliau akan menikah dengan Chandamukhi dan akan mempunyai putra Brahmavaddhana. Beliau akan hidup di empat istana selama 8.000 tahun yaitu Sirivaddha, Vaddhamana, Siddhattha dan Chandaka. Selanjutnya Beliau akan melepaskan keduniawian setelah melihat 4 tanda.

Yang akan menjadi para pengikutnya yang luar biasa adalah dua saudaraNya Isidatta dan Purana; Jatimitta dan Vijaya diantara pengikut pria; dan Suddhana, Sanghaa dan Visakhaa diantara pengikut wanita. Yang akan menjadi murid-murid utamaNya diantara para bhikkhu adalah Asoka dan Brahmadeva; dan diantara para bhikkhuni adalah Paduma dan Sumana. Siha akan menjadi pembantu pribadiNya. Beliau akan mencapai pencerahan di bawah pohon Naga.

Telah menjadi tradisi bahwa Buddha akan datang berdiam di dunia Dewa Tusita dengan nama Nath. Beliau sering digambarkan atau diukir dalam mahkota-mahkota dan permata-permata karena Beliau belum melepaskan kehidupan duniawi.

Advertisements

Seorang Pemburu Yang Dimangsa Oleh Anjing – anjingnya Sendiri

Pada suatu pagi, seorang pemburu bernama Koka, sedang dalam perjalanan menuju sebuah hutan untuk berburu binatang. Ia membawa busur panah di tangannya, diiringi sekelompok anjing pemburu. Dalam perjalanan ia bertemu dengan seorang bhikkhu yang sedang berjalan menuju desa untuk pindapata. Melihat bhikkhu itu, Pemburu Koka memendam rasa marah, sambil melanjutkan perjalanannya, ia berpikir: “Pagi ini saya bertemu orang pembawa sial, hari ini pasti saya tidak mendapat apa-apa”. Setelah selesai berpindapata maka bhikkhu itu pulang ke Viharanya kembali. Demikian pula pemburu yang telah berkeliling di hutan dan tidak memperoleh binatang buruannya keluar dari hutan, untuk pulang ke rumahnya.

Dalam perjalanan pulang si pemburu bertemu kembali dengan bhikkhu yang dijumpainya sebelum masuk ke hutan. Melihat bhikkhu itu lagi, ia menjadi amat marah dan pikirnya: “Tadi pagi saya bertemu dengan si pembawa sial ini, lalu saya pergi ke hutan untuk berburu binatang, ternyata saya tidak mendapat apa-apa, sekarang tiba-tiba ia muncul lagi di depan saya, lebih baik saya suruh anjing-anjing memakannya”. Pemburu Koka segera memerintahkan anjing-anjingnya untuk menyerang bhikkhu itu. Bhikkhu tersebut memohon belas kasihannya dengan berkata: “Jangan, jangan lepaskan anjing-anjing itu”. Pemburu Koka menjawab: “Hai, Orang Pembawa Sial, pagi hari ini saya bertemu denganmu, dan karena kamu membawa sial, saya tidak mendapat apa-apa di hutan. Sekarang kamu muncul lagi di depan mata saya, biar anjing-anjing saya memakanmu, hanya itu yang ingin saya katakan”.

Setelah berkata demikian, Pemburu Koka tanpa banyak bicara lagi segera melepas anjing-anjingnya dan memerintahkan untuk menyerang bhikkhu tersebut. Bhikkhu itu segera berlari dan memanjat pohon, dan duduk di cabang pohon. Anjing-anjing itu segera memburunya, menggonggong dan menggeram-geram di bawah pohon, bersiap-siap untuk menerkam bhikkhu tersebut. Pemburu Koka yang mengikuti anjingnya, berdiri di bawah pohon sambil berkata: “Kamu pikir kamu dapat melepaskan diri dari cengkeraman saya dengan naik ke pohon itu?”. Ia segera memanah kaki bhikkhu yang tergantung itu dengan anak-anak panahnya. Bhikkhu itu sekali lagi memohon: “Jangan panah saya, Saudara”.

Pemburu Koka tidak perduli dengan permohonan itu, ia tetap memanah kaki-kaki bhikkhu itu. Ketika semakin banyak anak-anak panah menembus salah satu kakinya, bhikkhu itu menarik kakinya yang terluka, dan membiarkan kaki yang satunya tetap tergantung. Tetapi anak-anak panah itu terus menerus menembus kakinya yang masih tergantung, karena kesakitan ia lalu menarik kakinya ke atas. Pemburu Koka tetap terus memanah kedua kaki bhikkhu tersebut. Akhirnya bhikkhu itu merasakan badannya panas seperti terbakar. Karena ia merasa amat sakit, ia tidak dapat lagi memusatkan pikirannya. Ia tidak tahu ketika jubahnya jatuh. Ternyata jubahnya jatuh menutupi seluruh tubuh Pemburu Koka. “Bhikkhu itu jatuh dari pohon”, pikir anjing-anjing itu. Dengan segera anjing-anjing itu menyerang orang yang berada di bawah jubah, menyeret, merobek-robek dan memakan majikannya sendiri. Akhirnya yang tersisa tinggal tulang-tulangnya saja.

Setelah itu, anjing-anjing itu duduk diam, menunggu perintah selanjutnya. Tidak lama kemudian banyak anak panah berjatuhan dari atas pohon dan mengenai mereka, pada saat itu mereka lalu melihat bhikkhu yang mereka kejar masih berada di atas pohon, mereka lalu berpikir, “Wah, kita makan majikan sendiri!”. Menyadari hal itu mereka lari tunggang langgang. Bhikkhu itu amat kaget dan bingung melihat apa yang terjadi di bawah pohon, ia berpikir, “Pemburu itu kehilangan nyawanya karena jubah saya jatuh dan menutupinya, apakah kesucian saya tidak ternoda?”.

Dengan pikiran yang berkecamuk, ia turun dari pohon, pergi menemui Sang Buddha dan menceritakan seluruh kejadian yang dialaminya, sejak dari awal. “Yang Mulia, semua itu terjadi karena jubah saya, sehingga pemburu itu kehilangan nyawanya, apakah kesucian saya tidak ternoda? Apakah saya tetap dapat mempertahankan kesucian saya?”. Setelah Sang Buddha mendengar seluruh cerita itu, Beliau menjawab: “Bhikkhu, kesucianmu tidak ternoda, kamu tetap suci, barangsiapa yang berniat melukai orang lain yang tidak bersalah, ia akan menerima hukumannya. Lagi pula, hal seperti ini bukan yang pertama kalinya ia lakukan. Pada kehidupannya yang terdahulu, ia juga berniat melukai orang yang tidak bersalah dan menerima hukumannya”.

Sang Buddha lalu bercerita: “Pada kehidupannya yang terdahulu, ia adalah seorang tabib yang berkeliling desa untuk mencari pasien. Pada hari itu tidak ada seorang pasien pun yang datang padanya. Dengan amat lapar, ia keluar dari desa. Di pintu gerbang desa, ia melihat anak-anak yang sedang bermain. Dengan segera timbul pikiran jahatnya, “Saya akan membawa seekor ular dan akan saya biarkan ular itu menggigit salah satu anak itu, sehinga ia terluka. Lalu saya obati, sehingga saya memperoleh uang untuk membeli makanan”. Lalu ia mencari seekor ular dan meletakkannya di lubang pohon dekat tempat anak-anak bermain. Kepala ular menyembul keluar dari lubang pohon, lalu ia berkata kepada anak-anak: “Anak-anak, lihatlah ada seekor burung Salika, tangkaplah”. Salah seorang anak segera memegang leher ular itu erat-erat, dan menariknya keluar dari lubang pohon.

Tetapi ketika ia melihat yang dipegangnya itu ternyata seekor ular, ia menjerit ketakutan, berteriak-teriak lalu melempar ular itu ke atas. Ternyata ular itu jatuh tepat di atas kepala tabib itu. Dengan segera ular itu membelit leher si tabib dan menggigitnya keras-keras, akhirnya tabib itu mati. “Jadi”, kata Sang Buddha, “Dalam kehidupannya yang terdahulu, pemburu Koka berniat melukai orang yang tidak bersalah dan ia memperoleh hukumannya”. Sang Buddha lalu mengucapkan syair:

“Barangsiapa yang berbuat jahat terhadap orang baik, orang suci dan orang yang tidak bersalah maka kejahatan akan berbalik menimpa orang bodoh itu bagaikan debu yang dilempar melawan angin”.
(Dhammapada, Papa Vagga no. 10)

Kebencian Jangan Di Balas Dengan Kebencian

Terdapatlah sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ibu yang tinggal bersama dengan seorang anak laki-lakinya. Ayahnya sudah meninggal, sehingga ia mengerjakan semua pekerjaan di ladang dan pekerjaan di rumah seorang diri. Ia juga merawat ibunya dengan penuh kasih. Pada suatu hari ibunya berkata: “Anakku, saya akan mencarikan seorang gadis untuk dijadikan isterimu”. “Ibu, janganlah seperti itu, saya akan menjagamu sepanjang hidupmu”. “Anakku, saya kasihan melihatmu bekerja keras seorang diri di rumah dan di ladang. Jadi biarkanlah saya mencarikan seorang gadis untuk menjadi isterimu, sehingga ia dapat mambantumu”.

Anak itu menolak terus permintaan ibunya, sampai akhirnya ia diam saja. Ibunya bermaksud pergi ke satu keluarga di desa dan meminta anak gadis keluarga itu untuk dibawa pulang menjadi menantunya. Anaknya bertanya: “Ibu hendak pergi ke keluarga mana?”. Ibunya menjawab akan pergi ke keluarga yang mana saja. Si anak menganjurkan ibunya untuk pergi ke keluarga yang mempunyai seorang anak gadis yang disukainya.

Ibunya lalu pergi ke keluarga yang dimaksud oleh anaknya. Setelah bertemu dengan gadis yang disukai anaknya, ia minta ijin kepada orang tua si gadis untuk membawa pulang anak gadisnya dan menjadi menantunya. Orang tua gadis itu setuju, anak gadisnya dibawa pulang, kemudian si ibu berkata kepada anaknya: “Anakku, saya sudah membawa seorang gadis untuk menjadi isterimu”. Akhirnya anak tersebut kawin dengan gadis yang disukainya. Sesudah beberapa tahun, mereka belum juga memperoleh seorang anak, padahal ibunya sangat mengharapkan seorang cucu.

Pada suatu hari ibunya berkata: “Anakku, kamu harus mempunyai anak, kalau kamu tidak mempunyai anak maka keturunan kita akan habis. Kalau begitu lebih baik saya mencari gadis lain untuk menjadi isteri mudamu”. “Ibu, janqan berkata seperti itu, sudah cukup hal itu ibu bicarakan berulang kali”, kata anaknya. Tetapi ibunya tetap membicarakan hal itu terus menerus. Isteri petani mendengar mertuanya membicarakan hal itu berulang-ulang, ia lalu berpikir: “Kalau ibu mertua yang mencarikan gadis lain sebagai isteri muda suamiku, saya pasti akan menjadi budak mereka. Lebih baik saya yang mencari gadis untuk dijadikan isteri muda suamiku, sehingga ia patuh kepadaku”.

Isteri petani itu pergi mencari seorang gadis untuk dijadikan isteri muda suaminya. Ia menjelaskan kepada orang tua gadis yang dipilihnya, bahwa suaminya mencari seorang gadis untuk dijadikan isteri mudanya, karena ia tidak bisa punya anak, sedangkan ibu mertuanya ingin sekali memperoleh keturunan. Akhirnya orang tua gadis itu menyetujui anak gadisnya dibawa pulang. Tetapi selanjutnya isteri petani itu berpikir: “Kalau saingan saya ini punya anak, pasti ia akan menjadi ratu rumah tangga, dan disayangi oleh suami dan ibu mertua. Saya harus menghalanginya supaya dia tidak bisa punya anak”. Ia berkata kepada isteri muda: “Kalau kamu mengandung, beritahu saya ya!”. “Baiklah”, kata isteri muda.

Jadi setiap kali isteri muda itu hamil, ia segera memberitahukan kepada isteri tuanya, isteri tua lalu memberinya obat, sehingga kandungannya gugur, sampai dua kali ia kehilangan anaknya. Para tetangga bertanya mengapa ia keguguran terus, “Apakah sainganmu itu tidak menghalangimu untuk punya seorang anak?”. Iapun menceritakan perjanjian mereka.

Para tetangganya lalu menasehati untuk tidak memberitahukan apabila ia hamil lagi. Ketika ia hamil untuk ke tiga kalinya ia tidak memberitahukan isteri tua. Tetapi pada waktu isteri tua mengetahui ia hamil lagi, ia berkata kepada isteri muda: “Mengapa kamu tidak memberitahukan saya kalau kamu hamil lagi?”. Isteri muda itu menjawab: “Karena kalau saya beritahu, kamu akan memberi saya obat sehingga saya keguguran, mengapa saya harus memberitahukanmu?”. Isteri tua lalu mencari akal untuk menghalangi isteri mudanya melahirkan seorang anak. Pada waktu melahirkan akan tiba, isteri tua lalu memberikan obat lagi kepada isteri muda, sehingga bayi dalam kandungan itu tidak dapat lahir. Isteri muda menderita kesakitan yang amat sangat, ia tidak tahan lagi.

Ketika ia melihat isteri tua datang, ia amat ketakutan, lalu berteriak: “Kamu membunuh saya! Kamu sangat jahat, kamu yang membawa saya kesini, kamu sendiri yang membunuh ketiga anak saya dan sekarang saya juga akan mati. Kalau saya mati, saya akan menjadi raksasa dan akan saya makan anak-anakmu!”. Sesudah mengucapkan sumpah, isteri muda meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai seekor kucing. Si suami yang mengetahui semua ini terjadi karena perbuatan isteri tuanya, amat marah: “Kamu menghancurkan keturunan saya!”. Ia lalu memukuli isteri tuanya. Akibat pukulan suaminya, isteri tua menderita sakit lalu meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai seekor ayam betina. Jadi isteri muda terlahir sebagai seekor kucing, isteri tua terlahir sebagai seekor ayam betina.

Setiap kali ayam betina itu bertelur, si kucing selalu makan telur ayam betina itu sampai yang ketiga kalinya, ayam betina itu berkata: “Tiga kali sudah kamu makan telur saya, sekarang kamu juga ingin makan saya, kalau saya mati, saya akan memangsa kamu beserta keturunanmu”. Sesudah ia mengucapkan sumpahnya, ia mati dan terlahir sebagai seekor macan tutul. Si kucing setelah mati terlahir sebagai seekor kijang betina. Demikian pula macan tutul itu selalu memangsa anak kijang betina sampai ketiga kalinya, kijang betina itu berkata: “Hai makhluk jelek, tiga kali sudah kamu makan anak-anak saya, sekarang kamu ingin memangsa saya juga. Kalau saya mati, saya akan memangsa kamu dan keturunanmu”. Sesudah ia mengucapkan sumpahnya, ia mati dan terlahir sebagai raksasa.

Si macan tutul mati dan terlahir sebagai wanita yang tinggal di Savatthi. Jadi isteri muda yang kelahirannya yang terakhir sebagai kijang, terlahir kembali sebagai raksasa, dan isteri tua yang pada kelahirannya yang terakhir sebagai macan tutul, terlahir kembali sebagai wanita muda. Ketika wanita muda itu dewasa, ia menikah dengan seorang pemuda, dan tinggal bersama keluarga suaminya. Tidak lama kemudian ia melahirkan seorang bayi laki-laki. Raksasa itu mengetahui kalau musuhnya sudah mempunyai seorang anak, ia menyamar menjadi teman wanita muda itu, dan berpura-pura mau menengoknya. Ia bertanya: “Di mana teman saya?”. “Di dalam kamar, ia baru saja melahirkan seorang bayi”. “Bayinya laki-laki atau perempuan? Saya ingin melihatnya”. Raksasa itu masuk ke kamar wanita tersebut. Ketika ia melihat bayi itu ia lalu memakannya, kemudian ia pergi.

Demikian pula ketika wanita muda itu melahirkan anak ke duanya, raksasa itu datang lagi dan memakan anaknya. Ketika wanita itu hamil untuk ketiga kalinya ia mengajak suaminya untuk pulang ke rumah ibunya dan melahirkan di sana. Raksasa yang mengetahui musuhnya itu hamil lagi, pergi mencari wanita muda itu ke rumahnya dan bertanya kepada keluarga suami wanita muda itu: “Ke mana teman saya?”. “Kamu tidak dapat menemuinya di rumah ini, karena disini ada raksasa yang selalu makan anak-anaknya, jadi ia pulang ke rumah orang tuanya”. “Ia boleh pergi ke mana saja ia suka.

Tetapi ia tidak dapat melarikan diri dari saya”, kata si raksasa itu dengan penuh rasa benci. Lalu ia pergi ke kota tempat wanita muda itu berada. Setelah wanita muda itu melahirkan anaknya dan merasa sehat kembali, ia mengajak suaminya pulang ke rumah. Di tengah perjalanan, mereka berhenti di tepi sebuah kolam yang airnya jernih, lalu mereka bergantian mandi. Kolam itu berada dekat dengan Vihara tempat Sang Buddha berdiam. Pada saat suaminya mandi di kolam, wanita muda itu melihat si raksasa mendekat. Ia mengenali raksasa yang selalu makan anak-anaknya. Dengan amat takut ia berteriak-teriak memanggil suaminya: “Suamiku! Suamiku! Cepat kemari! Cepat kemari! Di sini ada raksasa!”.

Tanpa menunggu suaminya datang, ia cepat-cepat lari dengan menggendong anaknya, masuk ke Vihara. Pada saat itu Sang Buddha sedang memberikan Ajaran kepada para muridnya. Wanita muda yang sedang ketakutan dan panik masuk ke Vihara lalu meletakkan bayinya di kaki Sang Buddha dan berkata: “Yang Mulia, saya berikan anak ini, lindungilah anak saya, ada raksasa yang ingin memakannya”.

Raksasa Sumana mengejarnya dan ingin masuk ke dalam Vihara. Sang Buddha meminta Yang Arya Ananda untuk membawa masuk raksasa itu: “Pergilah Ananda, biarkanlah raksasa itu masuk”. Raksasa itu masuk ke dalam Vihara, dan wanita muda amat ketakutan: “Yang Mulia, dia datang ke sini!”. Sang Buddha berkata: “Jangan takut, biarkan ia masuk!”. Ketika raksasa itu tiba, Sang Buddha bertanya: “Sumana, mengapa kamu berlaku seperti itu? Sekarang kamu berhadapan langsung dengan seorang Buddha. Mengapa kamu memupuk rasa benci terhadap makhluk lain selama berabad-abad lamanya? Mengapa kebencian dibalas dengan kebencian? Kebencian akan berakhir apabila dibalas dengan cinta kasih”. Sang Buddha lalu mengucapkan syair:

“Kebencian tidak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian. Tetapi kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci. Inilah suatu hukum abadi”.
(Dhammapada, Yamaka Vagga no 5)

Setelah mendengar syair tersebut, bathin raksasa Sumana menjadi tenang, rasa bencinya hilang berganti dengan rasa cinta kasih. Sang Buddha berkata kepada wanita muda itu, “Berikanlah anakmu kepada raksasa itu”. “Saya takut, Yang Mulia”. “Jangan takut. Kamu tidak perlu khawatir lagi terhadapnya”. Wanita muda itu memberikan anaknya ke raksasa.

Kemudian raksasa itu memeluk dan menciumi bayi itu dengan penuh kasih. Bayi itu dikembalikan kepada ibunya, dan ia menangis. Sang Buddha lalu bertanya: “Mengapa kamu menangis?”. “Yang Mulia, di masa yang lampau saya berusaha untuk bisa hidup tetapi selalu kelaparan”. Sang Buddha lalu menghiburnya, dan berkata: “Jangan khawatir, Sumana”. Sang Buddha lalu berkata kepada wanita muda itu: “Bawalah ia pulang ke rumahmu, ajaklah ia tinggal bersamamu, dan berikan bubur yang enak”. Wanita muda tersebut mengajak raksasa itu pulang ke rumahnya, dan tinggal bersama mereka di dalam rumah.

Tetapi si raksasa tidak betah tinggal di dalam rumah, akhirnya ia tinggal di hutan dekat rumah wanita muda itu. Ia selalu membantu wanita muda itu dan juga penduduk di sekitar desa. Karena kebenciannya telah hilang dan berganti dengan cinta kasih, ia hidup bahagia di hutan.

Bhikkhu dan Makhluk Halus Penghuni Hutan

Ketika Sang Buddha sedang berdiam di Savatthi bersama dengan murid-muridnya, Sang Buddha memerintahkan kelima ratus orang muridnya untuk berlatih diri, bermeditasi di hutan untuk mencapai tingkat kesucian. Kelima ratus orang bhikkhu itu lalu pergi menuju ke suatu desa yang cukup besar. Penduduk desa yang ketika mengetahui murid-murid Sang Buddha mendatangi desa mereka, segera menyambutnya dengan menyiapkan tempat untuk beristirahat, dan mempersembahkan bubur dan makanan lainnya.

Mereka lalu bertanya: “Kemanakah Bhante akan pergi?”. Para bhikkhu itu menjawab: “Kami akan pergi ke suatu tempat yang nyaman”. Penduduk desa itu menyarankan: “Bhante, tinggallah di hutan di dekat desa kami ini selama tiga bulan, sehingga kami dapat mempelajari Dhamma dibawah bimbinganmu”. Para bhikkhu menyetujuinya, dan para penduduk berkata lagi: “Bhante, di dekat desa kami ada hutan kecil, Bhante dapat tinggal di sana”.

Kelima ratus orang bhikkhu itu lalu pergi menuju hutan yang ditunjukkan penduduk desa. Di dalam hutan itu banyak terdapat makhluk halus penghuni hutan, mereka mengetahui kedatangan para bhikkhu, “Sekumpulan bhikkhu akan datang ke hutan ini, apabila para bhikkhu itu tinggal di sini, pasti tidak enak lagi kita berdiam di sini bersama anak dan istri”. Mereka turun dari pohon dan duduk di bawah, mereka berpikir lagi: “Kalau bhikkhu-bhikkhu itu tinggal di sini hanya satu malam, besok mereka pasti pergi dari hutan ini”. Mereka lalu duduk diam di bawah pohon. Tetapi keesokkan harinya setelah para bhikkhu berpindapata ke desa di dekat hutan itu dan makan hasil pindapatanya, ternyata mereka kembali ke hutan itu.

Para makhluk halus penghuni hutan itu berpikir: “Besok, kalau ada yang mengundang mereka, mereka pasti pergi dari sini. Kalau hari ini mereka tidak jadi pergi, besok mereka pasti pergi”. Setelah berpikir demikian, mereka duduk kembali di bawah pohon sepanjang malam. Makhluk halus penghuni hutan ragu-ragu, apakah para bhikkhu itu akan segera pergi dari tempat tinggal mereka, lalu berpikir kembali: “Apabila para bhikkhu ini tinggal di sini selama tiga bulan, pasti tidak enak lagi tinggal di sini, lagipula kita sudah lelah sekali duduk di bawah. Bagaimana yah, caranya supaya para bhikkhu ini pergi dari sini?”.

Karena merasa terganggu akhirnya makhluk halus penghuni hutan itu mengganggu para bhikkhu supaya mereka pergi dari tempat tinggal mereka. Siang dan malam hari para bhikkhu itu diganggu, ada yang melihat kepala-kepala beterbangan, ada pula yang melihat badan tanpa ada kepalanya berjalan-jalan, lalu terdengar suara-suara yang menyeramkan. Pada waktu yang bersamaan, para bhikkhu itu banyak yang menderita bermacam-macam penyakit, ada yang sakit batuk, pilek atau sakit-sakit lainnya.

Mereka lalu saling bertanya: “Saudaraku, kamu sakit apa?”. “Saya sakit pilek”. “Saya batuk-batuk”. “Saudaraku, hari ini saya melihat banyak kepala beterbangan”. “Saudaraku, di malam hari saya melihat badan tanpa kepala berjalan-jalan”. “Saya mendengar suara-suara yang menyeramkan”. “Saudaraku, kita harus meninggalkan tempat ini, tempat ini tidak cocok untuk kita. Mari kita menemui Guru kita, Sang Buddha”. Mereka meninggalkan hutan itu dan menemui Sang Buddha, setelah memberikan hormatnya dengan bernamaskara, mereka lalu duduk dan menceritakan mengapa mereka kembali, Sang Buddha lalu berkata: “Bhikkhu, mengapa kalian tidak dapat tinggal di hutan itu?”.

Para bhikkhu menjawab: “Yang Mulia, kami tidak dapat lagi tinggal di sana, tempat itu amat menyeramkan, banyak hal menakutkan yang kami lihat dan alami. Tempat itu tidak nyaman untuk kami, jadi kami memutuskan untuk pergi dari sana dan kembali menemui Yang Mulia”. “Bhikkhu, kamu harus kembali ke tempat itu”. “Maaf Yang Mulia, kami tidak mau kembali ke sana”. “Bhikkhu, ketika kamu pergi ke hutan itu untuk pertama kalinya, kamu tidak membawa “senjata”. Dan sekarang kamu harus membawa “senjata” bila kamu kembali ke sana”. “Senjata apakah itu Yang Mulia?” Sang Buddha lalu menjawab, “Aku akan memberikan senjata yang dapat kamu bawa kemana pun kamu pergi”. Sang Buddha mengucapkan syair Karaniya Metta Sutta:

Inilah yang harus dilaksanakan oleh mereka-mereka yang tekun dalam kebaikan. Dan telah mencapai ketenangan bathin. Ia harus pandai, jujur, sangat jujur. Rendah hati, lemah lembut, tiada sombong.

Merasa puas, mudah dirawat Tiada sibuk, sederhana hidupnya Tenang indrianya, selalu waspada Tahu malu, tidak melekat pada keluarga
Tak berbuat kesalahan walaupun kecil yang dapat dicela oleh para Bijaksana. Hendaklah ia selalu berpikir: “Semoga semua makhluk sejahtera dan damai, semoga semua makhluk berbahagia”

Makhluk apapun juga Baik yang lemah atau yang kuat tanpa kecuali Yang panjang atau yang besar yang sedang, pendek, kurus atau gemuk
Yang terlihat atau tidak terlihat Yang jauh maupun yang dekat Yang telah terlahir atau yang akan dilahirkan Semoga semuanya berbahagia

Jangan menipu orang lain Atau menghina siapa saja, Janganlah karena marah dan benci Mengharapkan orang lain mendapat celaka

Bagaikan seorang ibu mempertaruhkan nyawanya Untuk melindungi anaknya yang tunggal Demikianlah terhadap semua makhluk Dipancarkannya pikiran kasih sayang tanpa batas
Hendaknya pikiran kasih sayang Dipancarkannya ke seluruh penjuru alam, ke atas, ke bawah, dan ke sekeliling Tanpa rintangan, tanpa benci, atau permusuhan

Sewaktu berdiri, berjalan, atau duduk Atau berbaring sesaat sebelum tidur Ia tekun mengembangkan kesadaran ini Yang dinamakan “Kediaman Brahma”

Tidak berpegang pada pandangan yang salah Tekun dalam sila dan memiliki kebijaksanaan, Hingga bathinnya bersih dari segala nafsu indria Maka ia tak akan lahir lagi dalam rahim manapun juga

Selesainya Sang Buddha mengucapkan syair Karaniya Metta Sutta, Sang Buddha berkata: “Bhikkhu, bacakanlah Karaniya Metta Sutta ini, ketika kamu hendak masuk ke dalam hutan, dan ketika hendak memasuki tempat meditasi”. Setelah berkata demikian, Sang Buddha melepaskan para bhikkhu kembali ke hutan. Para bhikkhu menghormat Sang Buddha dan kembali ke hutan dengan membawa “senjata” yang telah Sang Buddha ajarkan.

Dengan membacakan Karaniya Metta Sutta bersama-sama, mereka masuk ke dalam hutan. Makhluk halus penghuni hutan mendengar Karaniya Metta Sutta, yang menggambarkan cinta kasih dan belas kasihan kepada semua makhluk. Sesudahnya mereka amat senang dan merasa bersahabat dengan para bhikkhu. Kemudian mereka mendatangi para bhikkhu dan minta ijin agar diperbolehkan membawakan mangkok-mangkok dan jubah-jubah.

Mereka membersihkan tangan dan kaki para bhikkhu, lalu menempatkan penjagaan yang kuat di sekelilingnya. Mereka duduk bersama-sama para bhikkhu, berjaga-jaga. Suara-suara dan bayangan-bayangan menakutkan tidak ada lagi, para bhikkhu menjadi tenang dan nyaman. Mereka segera duduk bermeditasi, melatih diri pada siang dan malam hari, untuk mendapatkan Pandangan Terang. Dengan pikiran yang terpusat dan terkendali mereka merenungkan kematian, tentang tubuh yang mudah rusak dan membusuk, lalu mereka menarik kesimpulan, “Tubuh ini rapuh bagaikan tempayan”.

Mereka lalu mengembangkan Pandangan Terang. Sang Buddha yang sedang bermeditasi mengetahui bahwa murid-muridnya mulai mengembangkan Pandangan Terang, lalu ia berbicara kepada mereka: “Demikianlah bhikkhu. Tubuh ini rapuh bagaikan tempayan”. Sambil berkata demikian, Sang Buddha mengirimkan bayangan dirinya yang dapat terlihat dengan jelas oleh murid-muridnya. Meskipun Sang Buddha berada amat jauh, tetapi para bhikkhu dapat melihat Sang Buddha dalam bentuk yang nyata, dengan memancarkan sinar yang amat terang, Sang Buddha mengucapkan syair:

“Dengan menyadari bahwa tubuh ini rapuh bagaikan tempayan, maka hendaknya seseorang memperkokoh pikirannya bagaikan benteng kota dan menyerang mara dengan senjata kabijaksanaan”
(Dhammapada, Citta Vagga no. 8)

Ia harus menjaga apa yang telah ditaklukkannya dan tidak melekat pada apapun juga.

Pangeran Magha Menjadi Dewa Sakka

“Bila seseorang merawat ibu dan ayahnya.Menghormat kepada anggota keluarga yang lebih tua.Lemah lembut dan ramah di dalam bertutur kata. Menghindari berbicara buruk tentang orang lain.Dengan teguh melenyapkan keserakahan.Jujur, dapat mengatasi kemarahan.Orang demikian disebut seorang yang baik oleh para dewaDari alam ke Tiga Puluh Tiga Dewa.”
Pada suatu ketika, Sang Buddha berkata :
“Inilah, Mahali, yang telah dilakukan oleh Sakka pada kehidupannya yang lampau sebagai Pangeran Magha.”
Mahali yang ingin mendengar seluruh kisah dari Dewa Sakka, berkata :
“Yang Mulia, apakah yang telah dilakukan oleh Pangeran Magha?”
“Baik, dengarkanlah,” kata Sang Guru, Beliau lalu mengisahkan cerita tentang Dewa Sakka:
Pada masa yang lampau, seorang Pangeran bernama Magha tinggal di Kerajaan Magadha. Pada suatu hari, dia mengunjungi tempat berlangsungnya suatu kegiatan di daerahnya, dengan kakinya ia membersihkan debu di tempat dia berdiri dan kemudian dia berdiri dengan santai di tempat tersebut. Kemudian seseorang datang memukul dan mendorongnya ke samping dan merebut tempatnya. Pangeran Magha tidak marah dengan orang itu, dia membersihkan tempat lain dan berdiri di situ. Dengan cara yang sama, satu demi satu, orang-orang yang keluar dari rumahnya, memukul Pangeran Magha dan mendorongnya dari tempat yang telah dibersihkannya. Pangeran Magha berpikir:
‘Kelihatannya orang-orang ini menikmati apa yang telah saya kerjakan. Karena hal ini membuat orang lain berbahagia, tentunya perbuatan saya ini merupakan perbuatan yang berjasa.’
Demikianlah pada keesokan harinya, Pangeran Magha membawa sekop dan membersihkan tempat yang lebih luas, dan orang-orang berdatangan dan berdiri di situ. Pada musim dingin, Pangeran Magha membuat perapian, agar orang-orang dapat menghangatkan badan mereka, dengan demikian tempat itu menjadi suatu tempat peristirahatan yang disukai oleh semua orang.
Kemudian Pangeran Magha berpikir: ‘Suatu kesempatan yang baik bagi saya untuk membuat jalan menjadi licin dan rata.’
Pagi-pagi dia mulai melicinkan dan meratakan jalan, memotong dan memindahkan batang-batang pohon. Dengan melakukan hal ini, Pangeran Magha menghabiskan waktu luangnya.
Seseorang melihatnya dan bertanya : “Tuan, apakah yang sedang Anda lakukan ?”
Pangeran Magha menjawab : “Saudara, saya sedang meratakan jalan menuju surga.”
“Saya ingin ikut bergabung.”
“Silahkan bergabung dengan saya, surga adalah tempat yang menyenangkan bagi banyak makhluk.”
Melihat kedua orang itu, orang ketiga menanyakan pertanyaan yang sama dan mendapatkan jawaban yang sama, dia pun ikut bergabung. Kemudian orang keempat, kelima hingga ketiga puluh tiga. Ketiga puluh tiga orang ini bekerja bersama-sama dengan menggunakan sekop dan kapak, meratakan jalan sepanjang 1 atau 2 league ( 1 league = 4,8 kilometer ).
Kepala desa melihat mereka dan berpikir : ‘Orang-orang ini melakukan pekerjaan yang salah, kalau mereka mau menangkap ikan, memburu binatang di hutan, menikmati minuman keras, atau melakukan hal-hal semacam itu, saya dapat mengambil keuntungan dari mereka.’
Dia lalu memanggil ketiga puluh tiga, orang itu dan bertanya kepada mereka :
“Apa yang kalian kerjakan ?”
“Meratakan jalan menuju surga, Tuan.”
“Itu bukanlah pekerjaan yang sesuai bagi perumah tangga (orang awam).”
“Yang harus kalian lakukan adalah menangkap ikan, berburu binatang, menikmati minuman keras dan bersenang-senang.”
Ketiga puluh tiga orang itu menolak melakukan saran kepala desa, semakin dipaksa, semakin keras mereka menolak untuk melakukannya. Akhirnya kepala desa menjadi marah :
“Saya akan menghancurkan mereka,” katanya.
Kepala desa lalu menemui Raja dan melaporkan :
“Yang Mulia, saya melihat sekelompok pencuri sedang melakukan kejahatan.”
Raja lalu berkata :
“Tangkap mereka dan bawa kemari.”
Kepala desa menangkap ke tiga puluh tiga orang itu dan membawa mereka ke hadapan Raja. Tanpa menyelidiki dan menanyakan apa yang telah mereka perbuat, Raja memberikan perintah :
“Hukum mati mereka dengan injakan seekor gajah liar yang ganas.”
Pangeran Magha menasehati para pengikutnya :
“Teman-teman, kita tidak mempunyai perlindungan apapun selain cinta kasih. Oleh karena itu tenangkanlah hati kalian, jangan marah kepada siapapun. Penuhilah hati kalian dengan cinta kasih kepada Raja, kepala desa dan kepada gajah yang akan menginjak-injak kita dengan kakinya.”
Mereka mengikuti nasihat Pangerah Magha. Sedemikian kuat pancaran cinta kasih mereka sehingga gajah tidak berani menginjak mereka.
Ketika Raja mengetahui hal tersebut, beliau berkata:
“Ketika gajah itu melihat begitu banyak orang, tentu saja ia tidak mampu menginjak-injak mereka. Sekarang tutupilah mereka dengan kain terpal, kemudian biarkanlah gajah liar itu menginjak-injak mereka.”
Kepala desa lalu menutupi mereka dengan terpal yang tebal dan melepaskan gajah liar itu ke arah mereka. Tetapi ketika gajah itu diarahkan menuju mereka, gajah itu balik kembali dan lari.
Ketika Raja mendengar apa yang telah terjadi, ia berpikir: “Seharusnya ada suatu sebab atas kejadian ini.” Raja lalu memanggil ketiga puluh tiga orang itu untuk menghadapnya dan beliau bertanya:
“Saudara-saudara, apakah ada sesuatu yang tidak kamu terima dari tanganku ?”
“Yang Mulia, apakah yang Anda maksudkan ?”
“Saya mendapat laporan bahwa kalian adalah sekelompok pencuri yang berkeliaran di hutan, dan sedang melakukan kejahatan.”
“Yang Mulia, siapakah yang mengatakan hal ini ?”
“Saudara-saudara, kepala desalah yang mengatakan hal ini kepada saya.”
“Yang Mulia, kami sesungguhnya bukanlah sekelompok pencuri, kami sedang membuat sebuah jalan menuju surga bagi diri kami sendiri. Kepala desa berusaha membujuk kami untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk dan ketika kami menolak untuk mengikuti anjurannya, dia menjadi marah dan ingin menghancurkan kami. Karena itulah dia mengatakan hal yang seperti itu tentang kami.”
“Saudara, gajah ini mengetahui kebaikan kalian, namun saya, seorang manusia, tidak dapat mengetahuinya, maafkanlah saya.”
Setelah berkata demikian, Raja lalu memerintahkan kepala desa beserta isteri dan anak-anaknya untuk menjadi pelayan dari ke tiga puluh tiga orang itu. Raja juga memberikan gajah untuk dikendarai dan menghadiahkan desa itu kepada mereka.
Pada saat berkeliling di desa itu mereka sepakat :
“Sudah menjadi tugas kita untuk menambah perbuatan baik. Apa lagi yang harus kita lakukan ?”
Kemudian timbullah pemikiran di antara mereka :
“Untuk kepentingan orang banyak, marilah kita membangun sebuah rumah peristirahatan yang kuat dan aman.”
Mereka lalu memanggil ahli bangunan dan memintanya untuk membangun sebuah aula besar.
Pangeran Magha merawat ibu dan ayahnya, menghormati anggota keluarganya yang lebih tua, berbicara benar, menghindari kata-kata kasar, menghindari membicarakan keburukan orang lain, menghilangkan keserakahan, mengatasi kemarahan. Dia telah menyempurnakan ke tujuh sila yang disebut sebagai berikut:
Merawat ibu dan ayahnya,
Menghormati anggota keluarga yang lebih tua,
Lemah lembut dan ramah di dalam percakapan,
Menghindari membicarakan keburukan orang lain,
Menghindari keserakahan,
Jujur,
Dapat mengatasi kemarahan.
Orang seperti ini, oleh para dewa dari Alam Ke Tiga Puluh Tiga Dewa disebut sebagai orang yang baik. Setelah mencapai keadaan yang terpuji ini, pada saat dia meninggal dunia, dia terlahir kembali di Alam Ke Tiga Puluh Tiga Dewa, sebagai Sakka Raja Para Dewa. Demikian pula dengan para pengikutnya, mereka juga terlahir kembali di alam itu.
“Demikianlah Mahali, Pangeran Magha sangat bersungguh-sungguh. Karena dia sangat bersungguh-sungguh, dia memperoleh keagungan, penghormatan dan menjadi pemimpin dari Alam Dewa. Kesungguhannya dipuji oleh Para Buddha dan oleh semua makhluk. Karena dengan bersungguh-sungguh, semua makhluk dapat mencapai Pencapaian tertinggi, di alam ini dan juga di alam yang lebih tinggi.”
Setelah berkata demikian, Sang Buddha mengucapkan syair:
“Dengan menyempurnakan kewaspadaan,Dewa Sakka dapat mencapai tingkat pemimpin di antara Para Dewa.Sesungguhnya, kewaspadaan itu akan selalu dipuji, Kelengahan akan selalu dicela.”

Kecantikan Hanya Setipis Kulit Batasnya

Permaisuri Raja Bimbisara bernama Ratu Khema, amat memuja kecantikan wajahnya. Ratu Khema telah mengucapkan permohonannya di kaki Buddha Padumuttara, ia ingin sekali mempunyai rupa dan wajah yang cantik. Tetapi ia mendengar bahwa Sang Buddha Gotama mengatakan, kecantikan bukan merupakan hal yang utama. Pada kelahiran-kelahirannya yang terdahulu, Ratu Khema selalu menjadi wanita yang amat cantik. Raja Bimbisara yang mengetahui bahwa istrinya amat mengagumi kecantikan wajahnya lalu meminta pengarang lagu untuk menciptakan lagu yang memuji keindahan hutan Veluvana. Lagu itu kemudian dinyanyikan oleh para penyanyi terkenal.

Ratu Khema ketika mendengar lagu tersebut penasaran, karena Veluvana digambarkan sebagai suatu tempat yang indah itu belum pernah ia dengar dan lihat sendiri. “Kalian bernyanyi tentang hutan yang mana?”, tanyanya kepada para penyanyi. “Paduka Ratu, kami bernyanyi tentang hutan Veluvana”, jawab mereka. Ratu Khema lalu ingin sekali mengunjungi hutan Veluvana. Sang Buddha yang ketika itu sedang berkumpul dengan murid-muridnya dan memberikan Ajarannya, mengetahui kedatangan Ratu Khema, lalu menciptakan bayangan seorang wanita muda yang amat cantik, berdiri di samping Sang Buddha. Ketika Ratu Khema mendekat, ia melihat bayangan wanita muda yang amat cantik, ia berpikir, “Yang saya ketahui Sang Buddha selalu berkata bahwa kecantikan bukanlah hal yang utama. Tetapi di sisi Sang Buddha sekarang berdiri seorang wanita yang kecantikannya luar biasa.

Saya belum pernah melihat wanita secantik ini. Orang-orang itu pasti salah dalam menggambarkan pandangan Sang Buddha tentang kecantikan, betul-betul saya tidak mengira”. Ia tidak mendengarkan kata-kata yang diucapkan Sang Buddha, pandangannya tetap tertuju kepada bayangan wanita cantik di sisi Sang Buddha. Sang Buddha mengetahui bahwa Ratu Khema amat serius memperhatikan bayangan wanita cantik itu, lalu Sang Buddha mengubah bayangan wanita muda yang amat cantik itu perlahan-lahan menjadi wanita tua, berubah terus sampai akhirnya yang tersisa hanyalah setumpuk tulang-tulang di dalam sebuah kantong. Ratu Khema yang memperhatikan semua itu lalu berkesimpulan, “Pada suatu saat nanti wajah yang muda dan cantik itu akan berubah menjadi tua, rapuh lalu mati. Ah, semua ini bukan kenyataan!”.

Sang Buddha mengetahui apa yang ada dalam pikirannya, lalu berkata: “Khema, kamu salah. Inilah kenyataan perubahan dari kecantikan wajah! Sekarang lihatlah semua kenyataan ini”. Sang Buddha lalu mengucapkan syair: “Khema, lihatlah paduan unsur-unsur ini, berpenyakit, penuh kekotoran dan akhirnya membusuk. Tipu daya dan kemelekatan adalah keinginan orang bodoh”.

Ketika Sang Buddha selesai mengucapkan syair ini Ratu Khema mencapai Tingkat Kesucian Pertama (Sotapana). Kemudian Sang Buddha berkata kepadanya: “Khema, semua makhluk di dunia ini, hanyut dalam nafsu indria, dipenuhi oleh rasa kebencian, diperdaya oleh khayalan, mereka tidak dapat mencapai pantai bahagia, tetapi hanya hilir mudik di tepi sebelah sini saja”.

Sang Buddha lalu mengucapkan syair:
“Mereka yang bergembira dengan nafsu indria, akan jatuh ke dalam arus (kehidupan), seperti laba-laba yang jatuh ke dalam jaring yang dibuatnya sendiri. Tetapi para bijaksana dapat memutuskan belenggu itu, mereka meninggalkan kehidupan duniawi, tanpa ikatan serta melepaskan kesenangan-kesenangan indria”.
(Dhammapada, Tanha Vagga no. 14)

Setelah Sang Buddha selesai mengucapkan syairnya, Khema mencapai Tingkat Kesucian Arahat. Sang Buddha lalu berkata kepada Raja Bimbisara, “Baginda, Khema lebih baik meninggalkan keduniawian ataukah mencapai Nibbana?”. Raja Bimbisara menjawab:

“Yang Mulia, ijinkanlah ia memasuki Sangha Bhikkhuni, jangan dulu mencapai Nibbana!”. Khema meninggalkan keduniawian dan menjadi salah satu murid Sang Buddha yang terkemuka.

Sumana Si Tukang Kebun

Kisah tentang tukang kebun yang bernama Sumana ini diceritakan oleh Sang Guru ketika beliau berdiam di Veluvana.
Diceritakan bahwa pada setiap pagi hari, si tukang kebun Sumana biasanya melayani pesanan Raja Bimbisara dengan mengirimkan delapan genggam bunga jasmine, seharga delapan keping uang. Pada suatu pagi, ketika dia baru saja memasuki kota dengan membawa delapan genggam bunga jasmine untuk diserahkan kepada Raja, dia melihat Sang Buddha yang diikuti dengan sekelompok besar para bhikkhu. Dari tubuh Beliau memancar cahaya enam warna yang amat indah, dengan segala keagungannya, memasuki kota untuk berpindapata.
Ketika Sumana melihat Sang Buddha, dia merasa bagaikan memperoleh suatu anugerah emas dan batu permata yang tiada tara. Melihat keagungan dan kebesaran ke tiga puluh dua tanda utama dan delapan tanda seorang Manusia Sempurna, Sumana berpikir :
‘Apakah yang dapat saya lakukan untuk Yang Maha Sempurna?’
Karena dia tidak menemukan sesuatu yang dapat dilakukannya, dia lalu berpikir :
‘Saya akan melakukan penghormatan kepada Sang Guru Agung dengan mempersembahkan bunga-bunga ini.’
Kemudian dia berpikir lagi:
‘Ini adalah bunga-bunga yang biasanya saya persembahkan kepada Raja. Bila saya tidak mempersembahkan bunga-bunga ini kepada Raja, maka Raja mungkin akan memasukkan saya ke penjara, atau membunuh atau mengusir saya. Apa yang harus saya lakukan ?’
Kemudian timbullah tekadnya yang amat kuat untuk berbuat kebaikan :
‘Biarlah Raja membunuh atau mengusir saya dari kerajaannya. Apapun yang diberikan oleh Raja kepada saya, pemberian Raja hanya bisa saya nikmati sepanjang hidup saya pada kelahiran saat ini. Tetapi bila saya memuja Sang Buddha, hal ini menghasilkan kebahagiaan dan keselamatan untuk waktu yang tidak terbatas.’
Dengan tekad dan keyakinannya yang amat kuat, dia telah menyerahkan hidupnya kepada Sang Tathagata.
Sumana berpikir :
‘Saya tidak akan berubah keyakinan, saya akan memuja Sang Guru Agung.’
Dengan perasaan senang, bahagia dan bangga, dia memuja Sang Buddha. Bagaimana cara dia melakukannya? Pertama-tama dia melemparkan dua genggam penuh bunga ke arah Sang Guru. Bunga-bunga ini tergantung di udara, membentuk sebuah payung bunga di atas kepala Beliau. Kemudian si tukang kebun melemparkan dua genggam bunga lagi, bunga-bunga itu turun ke sisi kanan Sang Buddha dan tergantung di situ bagaikan gorden yang indah dari sebuah paviliun. Dua genggam lagi yang dilemparkan berikutnya, turun di belakang Sang Guru dan tergantung di situ. Dua genggam terakhir yang dilemparkannya, jatuh di sisi kiri Sang Guru dan tergantung di situ. Jadi delapan genggam bunga mengelilingi Sang Guru di ke empat sisi.
Di hadapan Sumana, seolah-olah ada pintu gerbang yang bisa dimasukinya, ranting-ranting bunga tumbuh ke arah dalam dan kelopak bunga tumbuh ke arah luar. Yang Maha Agung berjalan bagaikan berada di atas sebuah piring perak. Bunga-bunga di sekeliling Sang Guru, bagaikan mahluk hidup yang memiliki kepandaian, tidak terpecah atau jatuh, mengikuti kemana pun Sang Guru pergi, dan akan berdiam di tempatnya ketika Sang Guru berhenti berjalan. Dari tubuh Sang Buddha memancar cahaya bagaikan seribu pancaran kilat. Pancaran cahaya yang indah ini memancar dari depan dan belakang, kiri dan kanan, juga dari atas kepala Sang Guru. Ketika Beliau meneruskan perjalanan dan bertemu dengan orang-orang, tidak seorangpun yang melarikan diri, mereka malah melakukan pradaksina mengelilingi Beliau. Dan orang-orang berlarian mendatangi Beliau, seluruh kota menjadi gempar. Pada saat itu ada Sembilan puluh ribu orang yang tinggal di dalam kota dan Sembilan puluh ribu orang tinggal di luar kota itu. Dan di antara ke seratus delapan puluh ribu orang ini, tidak seorangpun yang datang tanpa membawa persembahan. Dengan bersorak sorai bagaikan auman singa, dan melambai-lambaikan kain, kumpulan orang-orang ini berjalan mengiringi Sang Guru Agung. Agar orang-orang mengetahui perbuatan baik yang telah dilakukan oleh Sumana, Sang Buddha meneruskan perjalanan di sepanjang kota sejauh tiga league ( 1 league=4,8 kilometer) menuju tempat gendang yang sedang dibunyikan. Tubuh Sumana bagaikan diselimuti oleh lima macam perasaan bahagia yang luar biasa. Setelah beberapa saat mengikuti Sang Tathagata, dia memasuki pancaran cahaya yang memancar dari tubuh Sang Buddha, bagaikan menceburkan dirinya ke dalam lautan cahaya, dia memuja Sang Guru, memberikan penghormatan kepada Beliau, lalu mengambil keranjangnya dan pulang ke rumah dengan penuh kebahagiaan.
Sesampai di rumah, isterinya bertanya :
“Di mana bunga-bungamu?”
“Saya sudah mempersembahkannya kepada Sang Buddha.”
“Sekarang bunga apa yang dapat kamu persembahkan kepada raja?”
“Raja mungkin akan membunuh atau mengusir saya dari kerajaannya. Saya telah menyerahkan hidup saya kepada Sang Buddha dan memberi penghormatan kepada Beliau. Saya mempunyai delapan genggam bunga dan dengan bunga inilah saya melakukan penghormatan kepada Sang Guru. Penduduk mengikuti Sang Guru, menyerukan seribu kata-kata pujian. Seruan pujian dari penduduklah yang terdengar hingga ke tempat ini.”
Isteri Sumana adalah seorang yang bodoh, sehingga dia tidak bisa mempercayai keajaiban seperti itu. Dia membantah suaminya dan berkata :
“Para Raja kasar dan kejam, bila seseorang melawan, Raja akan menghukumnya dengan memotong tangan dan kakinya dan menghukumnya dengan hukuman-hukuman lainnya. Saya akan mendapatkan hukuman, akibat dari perbuatan yang engkau lakukan.”
Dengan membawa anak-anaknya, dia pergi ke istana menemui Raja. Ketika Raja bertanya, dia berkata :
“Yang Mulia, suami saya telah mempersembahkan bunga-bunga kepada Sang Buddha, yang seharusnya dipersembahkan kepada Anda, dan pulang dengan tangan kosong. Saya menegurnya dan berkata: ‘Para Raja kasar dan kejam, bila dilawan, mereka akan menghukum dengan memotong tangan dan kaki atau menghukum dengan hukuman-hukuman yang lain. Saya akan mendapatkan hukuman karena pelanggaran yang telah dilakukannya. ‘Jadi saya meninggalkannya. Apa yang telah dilakukan oleh suami saya mungkin baik atau jahat. Yang lebih penting bagi saya adalah Anda, Yang Mulia, saya hanya ingin menyampaikan kepada Anda bahwa saya telah meninggalkannya.”
Raja adalah seorang murid Sang Buddha yang telah mencapai tingkat kesucian. Pada saat pertama kali bertemu dengan Sang Buddha, dia telah memiliki keyakinan yang teguh dan batinnya sudah tenang. Dia berpikir :
‘Oh, wanita ini sungguh-sungguh bodoh ! Sehingga dia tidak memiliki keyakinan di dalam perbuatan baik seperti ini.’
Namun Raja berlagak marah dan berkata kepada isteri Sumana:
“Apa katamu? Sumana mempersembahkan bunga-bunga kepada Sang Guru, yang semestinya dipersembahkan kepadaku ?”
“Ya, Yang Mulia.”
“Engkau telah bertindak benar dengan meninggalkannya. Saya harus menemukan jalan untuk menangani Sumana, karena dia telah mempersembahkan bunga-bunga milik saya kepada orang lain.”
Setelah mempersilahkan isteri Sumana pergi, Raja segera menemui Sang Guru, menghormat kepada Beliau dengan bernamaskara, dan berjalan, dengan Sang Guru. Sang Buddha mengetahui bahwa batin Raja dalam keadaan tenang. Beliau melanjutkan perjalanan ke kota melalui di mana gendang ditabuh, hingga Beliau tiba di pintu gerbang istana Raja. Raja mengambil mangkuk Sang Buddha dan mengundang Beliau masuk, tetapi Sang Guru menyatakan keinginan beliau untuk duduk di halaman istana. Raja menyetujui keinginan beliau dan segera memberikan perintah :
“Segera dirikan sebuah paviliun.”
Demikianlah sebuah paviliun segera dibangun, Sang Guru duduk di situ, dikelilingi oleh para bhikkhu.
Mengapa Sang Buddha tidak masuk ke Istana Raja? Diceritakan bahwa Sang Buddha berpikir demikian :
‘Bila Saya masuk dan duduk di dalam istana, penduduk tidak akan dapat melihat Saya, demikian juga perbuatan baik yang telah dilakukan oleh Sumana, tidak dapat diketahui oleh banyak orang, namun bila Saya duduk di halaman istana, penduduk dapat melihat Saya, dan perbuatan baik Sumana dapat diketahui oleh semua orang.’
Kumpulan bunga-bunga yang mengelilingi Sang Buddha tetap berada di ke empat sisi. Penduduk menunggu dengan tenang, Raja melayani Sang Guru dan para bhikkhu dengan mempersembahkan makanan pilihan. Setelah selesai bersantap, Sang Guru menyampaikan anumodana, dengan dikelilingi oleh para bhikkhu dan kumpulan bunga di keempat sisi, dan disertai kumpulan orang-orang yang menyerukan kegembiraan mereka, melanjutkan perjalanan menuju vihara.
Raja menemani Sang Buddha untuk beberapa saat, kemudian kembali ke istana. Kemudian Raja memanggil Sumana dan bertanya kepadanya :
“Sumana, apa yang kamu ucapkan ketika menghormat kepada Sang Guru?”
Sumana menjawab :
“Yang Mulia, saya menyerahkan hidup saya kepada Sang Buddha dan dengan menghormat kepada Beliau saya berkata : “Raja mungkin akan membunuh atau mengusir saya dari kerajaannya.”
Raja berkata :
“Sumana, engkau orang yang baik.”
Setelah berkata demikian Raja menghadiahkan Sumana delapan ekor gajah, delapan ekor kuda, delapan orang pelayan pria, delapan orang pelayan wanita, delapan set perhiasan yang indah, delapan ribu keping uang, delapan orang wanita yang dipilih dari istana, dihiasi dengan hiasan-hiasan yang indah dan delapan desa pilihan. Raja menghadiahinya dengan hadiah berkelipatan delapan.
Yang Mulia Ananda berpikir :
“Sorak kegembiraan dan pujian telah berlangsung sepanjang hari, sejak pagi hari. Apakah hasil yang akan diterima oleh Sumana?”
Yang Mulia Ananda lalu bertanya kepada Sang Guru. Sang Guru menjawab :
“Ananda, janganlah mengira bahwa apa yang telah dilakukan oleh Sumana hanyalah suatu perbuatan yang kecil artinya. Dia telah menyerahkan hidupnya kepadaKu dan memberikan penghormatan kepadaKu. Oleh karena keyakinannya kepadaKu, dia tidak akan mengalami penderitaan selama seratus ribu putaran waktu, dia akan memperoleh buah dari perbuatan baiknya di Alam Para Dewa dan di alam manusia, dan kelak akan menjadi seorang Pacceka Buddha dengan nama Sumana.”
Pada malam harinya, para bhikkhu memulai suatu diskusi di Dhammasala :
“Oh, betapa hebat akibat perbuatan baik dari Sumana! Dia menyerahkan hidupnya kepada Sang Buddha yang masih hidup, memberikan penghormatan kepada Beliau dengan persembahan bunga-bunga, dan langsung memperoleh pemberian berkelipatan delapan.”
Sang Buddha keluar dari Kuti Beliau, berjalan menuju Dhammasala, dan duduk di Tempat Duduk Buddha, lalu bertanya kepada para Bhikkhu :
“Para Bhikkhu, apakah yang sedang kalian diskusikan ?”
Ketika mereka memberitahukan, Beliau berkata :
“Demikianlah, para Bhikkhu, seseorang hendaknya hanya melakukan perbuatan yang baik, perbuatan yang tidak diikuti dengan perasaan menyesal, namun dengan mengenang perbuatan tersebut akan menimbulkan kebahagiaan.”
Sang Buddha lalu bergabung dengan para bhikkhu dan membabarkan Dhamma yang Mulia kepada mereka, Beliau lalu mengucapkan syair:
“Perbuatan baik itu dilakukan dengan baik,Setelah melakukannya dia tidak menyesal.Hasil dari perbuatan tersebut,Akan diterima dengan kebahagiaan dan kesenangan”