Anak Yang Berumur Panjang

Kisah Pemuda Dighayu ini disampaikan oleh Sang Guru ketika Beliau berdiam di Arannakutika dekat Dighalambika. Kisah ini tentang dua orang Brahmana yang tinggal di Kota Dighalambika. Mereka mengundurkan diri dari keduniawian, menjadi anggota dari suatu kelompok pertapaan. Selama 48 tahun mereka menjalani kehidupan keagamaan yang sangat disiplin. Suatu ketika, salah seorang dari kedua pertapa itu berpikir :
“Kalau saya terus menjadi pertapa, garis keturunan saya akan berakhir, oleh karena itu saya akan kembali menjalani kehidupan duniawi.”
Dengan demikian dia menjual milik yang diperoleh dari pertapaannya. Dengan seratus ekor sapi dan seratus keping uang, dia mendapatkan seorang isteri dan membina sebuah rumah tangga.
Setelah beberapa waktu berlalu, isterinya melahirkan seorang anak laki-laki. Pertapa lainnya, teman sang brahmana, setelah mengunjungi suatu tempat, kembali lagi ke kota itu. Mendengar kabar kedatangan temannya, sang brahmana membawa anak dan isterinya menemui sang pertapa. Ketika bertemu, sang brahmana menyerahkan anaknya kepada isterinya, dan melakukan penghormatan kepada sang pertapa. Dan kemudian isterinya juga melakukan penghormatan kepada sang pertapa.
“Panjang umur!” kata sang pertapa kepada mereka berdua.
Namun ketika mereka membantu anaknya melakukan penghormatan kepada sang pertapa, beliau terdiam. Sang brahmana bertanya :
“Yang Mulia, mengapa ketika kami berdua melakukan penghormatan kepada Anda, Anda berkata : “Panjang umur !”, tetapi ketika anak kami melakukan penghormatan kepada Anda, Anda tidak mengatakan sepatah katapun.”
“Yang Mulia, berapa lama lagikah dia akan hidup ?”
“Tujuh hari lagi, brahmana.”
“Apakah ada cara untuk mengubah hal ini, Yang Mulia ?”
“Saya tidak tahu cara mengubahnya.”
“Siapakah yang bisa mengetahuinya ?”
“Sang Buddha Gautama, pergi dan bertanyalah kepada Beliau.”
“Saya takut menemui Beliau, karena saya telah meninggalkan kehidupan pertapaan saya.”
“Bila engkau mencintai putramu, janganlah memikirkan bahwa engkau telah meninggalkan kehidupan pertapaan, pergi dan bertanyalah kepada Beliau.”
Sang Brahmana pergi menemui Sang Buddha dan langsung melakukan penghormatan dengan bernamaskara kepada Beliau.
“Panjang umur !” kata Sang Guru Agung.
Ketika isteri brahmana melakukan penghormatan kepada Sang Guru, Beliau berkata hal yang sama. Namun ketika mereka membantu anak mereka untuk melakukan penghormatan kepada Beliau, Beliau hanya diam saja. Kemudian sang brahmana menanyakan pertanyaan yang sama kepada Sang Buddha, dan Beliau mengatakan hal sama. Sang brahmana belum mempunyai pengetahuan yang cukup, dengan menggabungkan dan kebijaksanaan yang dimilikinya, dia tidak dapat menemukan jalan untuk mengubah nasib anaknya. Sang brahmana bertanya kepada Sang Guru :
“Yang Mulia, apakah tidak ada jalan untuk mengubah hal ini?”
“Mungkin ada, brahmana.”
“Jalan apakah itu, Yang Mulia ?”
“Bangunlah sebuah paviliun di depan rumahmu, dan letakkan sebuah tempat duduk di tengah-tengahnya, letakkan delapan atau enam belas tempat duduk melingkari tempat duduk itu, mintalah para MuridKu untuk duduk di tempat tersebut dan membacakan Paritta selama tujuh hari berturut-turut untuk membuat perlindungan dan mengalihkan hal-hal yang buruk. Dengan cara ini, bahaya yang mengancam anak ini dapat dialihkan.”
“Yang Mulia, hal yang mudah bagi saya untuk membangun sebuah paviliun dan menyediakan segala sesuatunya. Namun bagaimanakah caranya saya dapat meminta bantuan murid-murid Yang Mulia ?”
“Bila engkau melakukan semua hal ini, Saya akan mengirimkan Murid-muridKu.”
“Baiklah, Yang Mulia.”
Sang brahmana lalu menyelesaikan semua persiapan di depan rumahnya dan menemui Sang Guru. Sang Guru mengirim murid-murid Beliau. Mereka pergi ke sana dan duduk, anak kecil itu pun didudukkan di tempat duduk di tengah lingkaran. Selama tujuh hari dan tujuh malam tanpa henti, para Bhikkhu membacakan Paritta, dan pada hari ke tujuh, Sang Buddha sendiri datang. Ketika Sang Guru datang, semua mahluk halus dari semua alam berkumpul. Raksasa pemakan manusia yang bernama Avaruddhaka, yang telah melayani Vessavana selama dua belas tahun, mendapatkan hadiah :
‘Setelah tujuh hari, engkau akan menerima anak laki-laki itu.’
Raksasa Avarudddhaka mendekat dan menunggu. Ketika Sang Buddha tiba di tempat itu, mahluk halus yang mempunyai kesaktian tinggi, berkumpul dalam satu kelompok, dan mahluk halus yang lemah mundur ke belakang sejauh 12 league (league=4,8 kilometer) untuk memberi tempat, Avaruddhaka juga mundur jauh ke belakang.
Sang Buddha membacakan paritta perlindungan sepanjang malam, dan setelah tujuh hari berlalu, Avaruddhaka tidak dapat lagi mengambil anak itu. Demikianlah, di waktu subuh pada hari ke delapan, mereka membawa anak itu memberikan penghormatan kepada Sang Guru. Sang Guru berkata :
“Panjang umur !”
“Yang Mulia, berapa lamakah anak ini akan hidup ?”
“Seratus dua puluh tahun, brahmana.”
Lalu mereka menamai anak itu Anak yang Usianya Bertambah, Ayuvaddhana. Setelah dewasa, dia mempunyai lima ratus orang murid.
Suatu hari, para bhikkhu berdiskusi di Dhammasala tentang Ayuvaddhana:
“Coba pikirkanlah saudara, Ayuvaddhana seharusnya meninggal dalam tujuh hari, namun sekarang dia dapat hidup hingga usia seratus dua puluh tahun. Lihatlah, dia akan dikelilingi oleh lima ratus orang muridnya, tentunya ada cara untuk menambah usia mahluk hidup di dunia ini.”
Sang Guru mendekati dan bertanya kepada mereka :
“Para bhikkhu, apakah yang sedang kalian diskusikan ?”
Ketika mereka memberitahukan apa yang mereka diskusikan, Sang Buddha bersabda :
“Tidak hanya dapat menambah usia. Di dunia ini, mahluk hidup yang menghormati dan memberikan penghormatan kepada orang yang telah mencapai kesucian, akan mendapatkan empat keuntungan yaitu bertambah usia, kecantikan, kebahagiaan dan kekuatan, terlepas dari bahaya, dan akan memperoleh keamanan hingga akhir hidupnya.”
Sang Buddha kemudian mengucapkan syair :
“Bila seseorang memiliki kebiasaan melakukan puja,Selalu menghormati yang lebih tua, makaEmpat hal akan bertambah untuknya,Yaitu : usia, kecantikan, kebahagiaan dan kekuatan

%d bloggers like this: