Brahmana Yang Memiliki Satu Jubah

Cerita Brahmana Kecil Bermantel Satu, Cula Ekasataka ini disampaikan Sang Buddha pada saat Beliau berdiam di Jetavana.
Seorang brahmana bernama Maha Ekasataka hidup pada masa Buddha Vipassi, dan terlahir kembali pada kehidupan saat ini di Savatthi sebagai Yang Berjubah Satu, Cula Ekasataka. Cula Ekasataka dan isterinya masing-masing memiliki satu baju dalam dan mereka hanya memiliki satu jubah luar untuk mereka pakai berdua. Jadi bila salah seorang di antara mereka ingin meninggalkan rumah, yang seorang lagi harus tinggal di rumah. Pada suatu hari diumumkan bahwa akan ada pembabaran Dhamma di vihara. Brahmana itu berkata kepada isterinya :
“Isteriku, telah diumumkan bahwa akan ada pembabaran Dhamma pada siang atau malam hari. Karena kita tidak memiliki jubah luar untuk kita berdua, jadi kita tidak dapat pergi pada waktu yang bersamaan.”
Isteri brahmana itu menjawab :
“Suamiku, saya akan pergi pada siang hari saja.”
Setelah mengenakan jubah luarnya, ia lalu pergi ke vihara.
Sang brahmana tinggal di rumah pada siang hari. Pada malam hari, dia pergi ke vihara, duduk di depan Sang Guru dan mendengarkan pembabaran Dhamma. Sementara mendengarkan Dhamma, timbullah di dalam dirinya lima macam rasa bahagia, perasaan ini menyelimuti seluruh tubuhnya. Dia sangat ingin mempersembahkan sesuatu kepada Sang Guru, namun pemikiran ini menghalanginya :
‘Bila saya memberikan jubah ini kepada Sang Guru, tidak akan ada lagi jubah yang tersisa bagi saya dan juga isteri saya.’
Seribu pikiran yang mementingkan diri sendiri timbul di dalam dirinya dan kemudian timbul satu pikiran yang penuh dengan keyakinan untuk berdana. Kemudian timbul lagi pikiran yang mementingkan diri sendiri mengalahkan pikiran penuh keyakinan untuk berdana. Pikirannya berperang antara keinginan untuk berdana dan mementingkan dirinya sendiri:
‘Saya akan mendanakannya!’ ‘Tidak, saya tidak akan mendanakannya!’
Sementara pikirannya berperang, waktu jaga pertama sudah lewat, tibalah waktu jaga ke dua, sampai saat itu, dia belum juga berhasil memutuskan untuk mempersembahkan jubahnya kepada Sang Buddha. Pada waktu jaga yang terakhir tiba, akhirnya sang brahmana berpikir :
‘Sementara saya ‘berperang’ dengan pikiran yang penuh keyakinan untuk berdana dan mementingkan diri sendiri, dua waktu jaga terlewati. Bila kekuatan pikiran yang mementingkan diri sendiri ini bertambah, hal ini akan menghalangi saya untuk bangkit mengatasi Empat Keadaan Penderitaan. Oleh karena itu, saya akan mempersembahkan dana saya.’
Sang brahmana akhirnya dapat mengalahkan seribu pikiran yang mementingkan diri sendiri dan mengikuti pikiran yang penuh keyakinan untuk berdana. Dengan membawa jubahnya, ia meletakkannya di kaki Sang Buddha dan berseru dengan lantang:
“Telah saya kalahkan! Telah saya kalahkan!”
Raja Pasenadi Kosala kebetulan sedang mendengarkan Dhamma, ketika mendengar teriakan itu, ia berkata :
“Tanyakan kepadanya, apa yang telah dikalahkannya.”
Pengawal Raja menanyakan hal itu kepada sang brahmana, dan sang brahmana menjelaskan kejadiannya kepada mereka. Ketika Raja mendengar penjelasan tersebut, dia berkata :
“Tidaklah mudah melakukan apa yang telah dilakukan oleh sang brahmana. Saya akan melakukan kebaikan untuknya.”
Dia lalu menyuruh memberikan sepasang jubah kepada sang brahmana. Sang brahmana mempersembahkan jubah ini kepada Sang Tathagata. Kemudian Raja melipat gandakan pemberiannya, memberikan kepada sang brahmana mula-mula dua pasang jubah, kemudian empat, delapan dan pada akhirnya enam belas pasang. Sang brahmana mempersembahkan semua jubah ini kepada Sang Tathagata. Kemudian Raja memerintahkan untuk memberi 32 pasang jubah kepada sang brahmana. Agar sang brahmana tidak menyerahkan seluruh jubah yang diterima, sehingga dia tidak mempunyai jubah untuk dirinya sendiri, Raja berkata kepada brahmana itu :
“Simpanlah sepasang jubah untuk dirimu sendiri dan sepasang lagi untuk isterimu.”
Setelah berkata demikian, Raja meminta sang brahmana untuk menyimpan dua pasang jubah dan mempersembahkan ke tiga puluh pasang jubah kepada Sang Tathagata. Meskipun sang brahmana akan mendanakan apa yang dimilikinya sebanyak seratus kali, Raja akan memberinya hal yang sama.
Raja memberi perintah kepada pengawalnya:
“Sungguh suatu hal yang sulit untuk melakukan apa yang telah dilakukan oleh sang brahmana. Ambil dua selimut saya dan bawa ke ruang pertemuan.”
Pengawal melakukannya. Raja menghadiahkan kedua selimut yang bernilai seribu keping uang itu kepada sang brahmana. Namun sang brahmana berkata sendiri :
“Saya tidak pantas menyelimuti diri saya dengan selimut ini. Selimut ini hanya pantas untuk Sang Buddha.”
Lalu salah satu selimut itu dibuatnya sebuah langit-langit dan digantungkannya di atas tempat tidur Sang Guru. Kemudian selimut yang satu lagi, digantungkan di atas tempat dia menyambut para bhikkhu pada saat menerima dana makanan di rumahnya.
Pada malam hari, Raja mengunjungi Sang Buddha, melihat selimut itu, dia bertanya kepada Beliau:
“Yang Mulia, siapakah yang mendanakan selimut ini ?”
“Ekasataka,” jawab Sang Guru.
Raja lalu berpikir:
‘Seperti saya yakin dan berbahagia dengan keyakinan saya, demikian pula sang brahmana, yang juga yakin dan berbahagia dengan keyakinannya.’
Raja lalu menghadiahkan empat gajah, empat kuda, empat ribu keping uang, empat pelayan wanita, dan empat desa yang terbaik kepada sang brahmana, Raja memberikan sang brahmana pemberian yang semuanya berjumlah masing-masing empat.
Para bhikkhu membicarakan hal ini di Ruang Dhammasala :
“Betapa hebat hasil dari perbuatan baik Cula Ekasataka. Segera setelah melakukan perbuatan baik, hasil dari perbuatan baiknya langsung diterimanya.”
Sang Guru mendekati para bhikkhu dan bertanya :
“Para bhikkhu, apakah yang sedang kalian diskusikan ?”
Ketika para bhikkhu memberi tahu, Beliau mengatakan :
“Apabila Cula Ekasataka memutuskan untuk memberikan dananya kepadaKu pada waktu jaga pertama, dia akan mendapatkan hadiah yang masing-masingnya berjumlah 16. Bila dia memutuskan untuk memberikan dananya kepadaKu pada jaga kedua, dia akan mendapatkan hadiah yang masing-masing jumlahnya delapan, namun karena dia memberikannya pada saat menjelang akhir dari waktu jaga terakhir, maka dia hanya mendapatkan pemberian yang masing-masingnya berjumlah empat. Seseorang yang ingin melakukan perbuatan baik, seharusnya tidak mengabaikan dorongan untuk berbuat baik yang timbul di dalam dirinya, dan harus melakukannya segera. Suatu perbuatan baik yang terlambat dilakukan, akan mendatangkan manfaat, namun manfaat tersebut akan tertunda. Oleh karena itu, begitu dorongan untuk berbuat baik timbul di dalam diri seseorang, dia harus segera melakukan perbuatan baik itu.”
Setelah berkata demikian Sang Guru lalu mengucapkan syair:
“Bergegaslah melakukan perbuatan baik, Jauhkan batin dari kejahatan. Bila seseorang lambat di dalam melakukan kebaikan, Batinnya akan senang dalam kejahatan.”
%d bloggers like this: