Kebencian Jangan Di Balas Dengan Kebencian

Terdapatlah sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ibu yang tinggal bersama dengan seorang anak laki-lakinya. Ayahnya sudah meninggal, sehingga ia mengerjakan semua pekerjaan di ladang dan pekerjaan di rumah seorang diri. Ia juga merawat ibunya dengan penuh kasih. Pada suatu hari ibunya berkata: “Anakku, saya akan mencarikan seorang gadis untuk dijadikan isterimu”. “Ibu, janganlah seperti itu, saya akan menjagamu sepanjang hidupmu”. “Anakku, saya kasihan melihatmu bekerja keras seorang diri di rumah dan di ladang. Jadi biarkanlah saya mencarikan seorang gadis untuk menjadi isterimu, sehingga ia dapat mambantumu”.

Anak itu menolak terus permintaan ibunya, sampai akhirnya ia diam saja. Ibunya bermaksud pergi ke satu keluarga di desa dan meminta anak gadis keluarga itu untuk dibawa pulang menjadi menantunya. Anaknya bertanya: “Ibu hendak pergi ke keluarga mana?”. Ibunya menjawab akan pergi ke keluarga yang mana saja. Si anak menganjurkan ibunya untuk pergi ke keluarga yang mempunyai seorang anak gadis yang disukainya.

Ibunya lalu pergi ke keluarga yang dimaksud oleh anaknya. Setelah bertemu dengan gadis yang disukai anaknya, ia minta ijin kepada orang tua si gadis untuk membawa pulang anak gadisnya dan menjadi menantunya. Orang tua gadis itu setuju, anak gadisnya dibawa pulang, kemudian si ibu berkata kepada anaknya: “Anakku, saya sudah membawa seorang gadis untuk menjadi isterimu”. Akhirnya anak tersebut kawin dengan gadis yang disukainya. Sesudah beberapa tahun, mereka belum juga memperoleh seorang anak, padahal ibunya sangat mengharapkan seorang cucu.

Pada suatu hari ibunya berkata: “Anakku, kamu harus mempunyai anak, kalau kamu tidak mempunyai anak maka keturunan kita akan habis. Kalau begitu lebih baik saya mencari gadis lain untuk menjadi isteri mudamu”. “Ibu, janqan berkata seperti itu, sudah cukup hal itu ibu bicarakan berulang kali”, kata anaknya. Tetapi ibunya tetap membicarakan hal itu terus menerus. Isteri petani mendengar mertuanya membicarakan hal itu berulang-ulang, ia lalu berpikir: “Kalau ibu mertua yang mencarikan gadis lain sebagai isteri muda suamiku, saya pasti akan menjadi budak mereka. Lebih baik saya yang mencari gadis untuk dijadikan isteri muda suamiku, sehingga ia patuh kepadaku”.

Isteri petani itu pergi mencari seorang gadis untuk dijadikan isteri muda suaminya. Ia menjelaskan kepada orang tua gadis yang dipilihnya, bahwa suaminya mencari seorang gadis untuk dijadikan isteri mudanya, karena ia tidak bisa punya anak, sedangkan ibu mertuanya ingin sekali memperoleh keturunan. Akhirnya orang tua gadis itu menyetujui anak gadisnya dibawa pulang. Tetapi selanjutnya isteri petani itu berpikir: “Kalau saingan saya ini punya anak, pasti ia akan menjadi ratu rumah tangga, dan disayangi oleh suami dan ibu mertua. Saya harus menghalanginya supaya dia tidak bisa punya anak”. Ia berkata kepada isteri muda: “Kalau kamu mengandung, beritahu saya ya!”. “Baiklah”, kata isteri muda.

Jadi setiap kali isteri muda itu hamil, ia segera memberitahukan kepada isteri tuanya, isteri tua lalu memberinya obat, sehingga kandungannya gugur, sampai dua kali ia kehilangan anaknya. Para tetangga bertanya mengapa ia keguguran terus, “Apakah sainganmu itu tidak menghalangimu untuk punya seorang anak?”. Iapun menceritakan perjanjian mereka.

Para tetangganya lalu menasehati untuk tidak memberitahukan apabila ia hamil lagi. Ketika ia hamil untuk ke tiga kalinya ia tidak memberitahukan isteri tua. Tetapi pada waktu isteri tua mengetahui ia hamil lagi, ia berkata kepada isteri muda: “Mengapa kamu tidak memberitahukan saya kalau kamu hamil lagi?”. Isteri muda itu menjawab: “Karena kalau saya beritahu, kamu akan memberi saya obat sehingga saya keguguran, mengapa saya harus memberitahukanmu?”. Isteri tua lalu mencari akal untuk menghalangi isteri mudanya melahirkan seorang anak. Pada waktu melahirkan akan tiba, isteri tua lalu memberikan obat lagi kepada isteri muda, sehingga bayi dalam kandungan itu tidak dapat lahir. Isteri muda menderita kesakitan yang amat sangat, ia tidak tahan lagi.

Ketika ia melihat isteri tua datang, ia amat ketakutan, lalu berteriak: “Kamu membunuh saya! Kamu sangat jahat, kamu yang membawa saya kesini, kamu sendiri yang membunuh ketiga anak saya dan sekarang saya juga akan mati. Kalau saya mati, saya akan menjadi raksasa dan akan saya makan anak-anakmu!”. Sesudah mengucapkan sumpah, isteri muda meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai seekor kucing. Si suami yang mengetahui semua ini terjadi karena perbuatan isteri tuanya, amat marah: “Kamu menghancurkan keturunan saya!”. Ia lalu memukuli isteri tuanya. Akibat pukulan suaminya, isteri tua menderita sakit lalu meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai seekor ayam betina. Jadi isteri muda terlahir sebagai seekor kucing, isteri tua terlahir sebagai seekor ayam betina.

Setiap kali ayam betina itu bertelur, si kucing selalu makan telur ayam betina itu sampai yang ketiga kalinya, ayam betina itu berkata: “Tiga kali sudah kamu makan telur saya, sekarang kamu juga ingin makan saya, kalau saya mati, saya akan memangsa kamu beserta keturunanmu”. Sesudah ia mengucapkan sumpahnya, ia mati dan terlahir sebagai seekor macan tutul. Si kucing setelah mati terlahir sebagai seekor kijang betina. Demikian pula macan tutul itu selalu memangsa anak kijang betina sampai ketiga kalinya, kijang betina itu berkata: “Hai makhluk jelek, tiga kali sudah kamu makan anak-anak saya, sekarang kamu ingin memangsa saya juga. Kalau saya mati, saya akan memangsa kamu dan keturunanmu”. Sesudah ia mengucapkan sumpahnya, ia mati dan terlahir sebagai raksasa.

Si macan tutul mati dan terlahir sebagai wanita yang tinggal di Savatthi. Jadi isteri muda yang kelahirannya yang terakhir sebagai kijang, terlahir kembali sebagai raksasa, dan isteri tua yang pada kelahirannya yang terakhir sebagai macan tutul, terlahir kembali sebagai wanita muda. Ketika wanita muda itu dewasa, ia menikah dengan seorang pemuda, dan tinggal bersama keluarga suaminya. Tidak lama kemudian ia melahirkan seorang bayi laki-laki. Raksasa itu mengetahui kalau musuhnya sudah mempunyai seorang anak, ia menyamar menjadi teman wanita muda itu, dan berpura-pura mau menengoknya. Ia bertanya: “Di mana teman saya?”. “Di dalam kamar, ia baru saja melahirkan seorang bayi”. “Bayinya laki-laki atau perempuan? Saya ingin melihatnya”. Raksasa itu masuk ke kamar wanita tersebut. Ketika ia melihat bayi itu ia lalu memakannya, kemudian ia pergi.

Demikian pula ketika wanita muda itu melahirkan anak ke duanya, raksasa itu datang lagi dan memakan anaknya. Ketika wanita itu hamil untuk ketiga kalinya ia mengajak suaminya untuk pulang ke rumah ibunya dan melahirkan di sana. Raksasa yang mengetahui musuhnya itu hamil lagi, pergi mencari wanita muda itu ke rumahnya dan bertanya kepada keluarga suami wanita muda itu: “Ke mana teman saya?”. “Kamu tidak dapat menemuinya di rumah ini, karena disini ada raksasa yang selalu makan anak-anaknya, jadi ia pulang ke rumah orang tuanya”. “Ia boleh pergi ke mana saja ia suka.

Tetapi ia tidak dapat melarikan diri dari saya”, kata si raksasa itu dengan penuh rasa benci. Lalu ia pergi ke kota tempat wanita muda itu berada. Setelah wanita muda itu melahirkan anaknya dan merasa sehat kembali, ia mengajak suaminya pulang ke rumah. Di tengah perjalanan, mereka berhenti di tepi sebuah kolam yang airnya jernih, lalu mereka bergantian mandi. Kolam itu berada dekat dengan Vihara tempat Sang Buddha berdiam. Pada saat suaminya mandi di kolam, wanita muda itu melihat si raksasa mendekat. Ia mengenali raksasa yang selalu makan anak-anaknya. Dengan amat takut ia berteriak-teriak memanggil suaminya: “Suamiku! Suamiku! Cepat kemari! Cepat kemari! Di sini ada raksasa!”.

Tanpa menunggu suaminya datang, ia cepat-cepat lari dengan menggendong anaknya, masuk ke Vihara. Pada saat itu Sang Buddha sedang memberikan Ajaran kepada para muridnya. Wanita muda yang sedang ketakutan dan panik masuk ke Vihara lalu meletakkan bayinya di kaki Sang Buddha dan berkata: “Yang Mulia, saya berikan anak ini, lindungilah anak saya, ada raksasa yang ingin memakannya”.

Raksasa Sumana mengejarnya dan ingin masuk ke dalam Vihara. Sang Buddha meminta Yang Arya Ananda untuk membawa masuk raksasa itu: “Pergilah Ananda, biarkanlah raksasa itu masuk”. Raksasa itu masuk ke dalam Vihara, dan wanita muda amat ketakutan: “Yang Mulia, dia datang ke sini!”. Sang Buddha berkata: “Jangan takut, biarkan ia masuk!”. Ketika raksasa itu tiba, Sang Buddha bertanya: “Sumana, mengapa kamu berlaku seperti itu? Sekarang kamu berhadapan langsung dengan seorang Buddha. Mengapa kamu memupuk rasa benci terhadap makhluk lain selama berabad-abad lamanya? Mengapa kebencian dibalas dengan kebencian? Kebencian akan berakhir apabila dibalas dengan cinta kasih”. Sang Buddha lalu mengucapkan syair:

“Kebencian tidak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian. Tetapi kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci. Inilah suatu hukum abadi”.
(Dhammapada, Yamaka Vagga no 5)

Setelah mendengar syair tersebut, bathin raksasa Sumana menjadi tenang, rasa bencinya hilang berganti dengan rasa cinta kasih. Sang Buddha berkata kepada wanita muda itu, “Berikanlah anakmu kepada raksasa itu”. “Saya takut, Yang Mulia”. “Jangan takut. Kamu tidak perlu khawatir lagi terhadapnya”. Wanita muda itu memberikan anaknya ke raksasa.

Kemudian raksasa itu memeluk dan menciumi bayi itu dengan penuh kasih. Bayi itu dikembalikan kepada ibunya, dan ia menangis. Sang Buddha lalu bertanya: “Mengapa kamu menangis?”. “Yang Mulia, di masa yang lampau saya berusaha untuk bisa hidup tetapi selalu kelaparan”. Sang Buddha lalu menghiburnya, dan berkata: “Jangan khawatir, Sumana”. Sang Buddha lalu berkata kepada wanita muda itu: “Bawalah ia pulang ke rumahmu, ajaklah ia tinggal bersamamu, dan berikan bubur yang enak”. Wanita muda tersebut mengajak raksasa itu pulang ke rumahnya, dan tinggal bersama mereka di dalam rumah.

Tetapi si raksasa tidak betah tinggal di dalam rumah, akhirnya ia tinggal di hutan dekat rumah wanita muda itu. Ia selalu membantu wanita muda itu dan juga penduduk di sekitar desa. Karena kebenciannya telah hilang dan berganti dengan cinta kasih, ia hidup bahagia di hutan.

%d bloggers like this: