Persembahan Dana Yang Tiada Tara

Kisah ini disampaikan oleh Sang Guru, ketika Beliau berdiam di Jetavana. Pada suatu ketika Sang Guru baru kembali dari berpindapata yang diiringi dengan lima ratus muridNya, masuk ke Vihara Jetavana. Pada waktu itu pula Raja mengunjungi vihara dan mengundang Sang Guru untuk menjadi tamunya di istana. Keesokan harinya, Raja menyiapkan persembahan dana yang luar biasa besarnya untuk Sang Guru dan murid-muridNya, beliau juga mengundang penduduk dengan berkata :
“Undanglah mereka datang ke sini dan lihatlah persembahan dana yang telah saya persiapkan untuk Sang Guru.”
Penduduk lalu berdatangan dan melihat persembahan yang dipersiapkan oleh Raja.
Keesokan harinya, penduduk mengundang Sang Guru untuk menjadi tamu mereka, dan mereka menyiapkan persembahan-persembahan, lalu mengundang Raja dengan berkata :
“Undanglah Raja datang ke sini dan lihatlah persembahan dana yang telah kami persiapkan untuk Sang Guru.”
Ketika Raja melihat persembahan yang dipersiapkan oleh penduduk, ia berpikir ;
“Rakyatku ini mempersembahkan dana lebih besar dari yang aku persembahkan kepada Sang Guru; saya akan memberi persembahan dana kembali untuk yang ke dua kalinya.”
Kemudian Raja mempersiapkan persembahan dana pada keesokan harinya; ketika penduduk melihat persembahan yang dipersiapkan Raja, mereka juga menyiapkan persembahan untuk hari berikutnya.
Demikianlah, Raja berkeinginan untuk mengalahkan rakyatnya, dan rakyatnya juga tidak mau kalah dalam mempersembahkan dana kepada Sang Guru dan murid-muridNya. Enam kali berturut-turut penduduk meningkatkan persembahannya menjadi seratus kali dan seribu kali banyaknya, mereka mempersembahkan dana dalam jumlah yang amat besar. Ketika Raja menyadari apa yang mereka lakukan, ia berpikir :
“Kalau saya tidak dapat mempersembahkan dana lebih besar dari apa yang mereka persembahkan, bagaimana saya dapat mempertahankan kehidupan saya ?”
Kemudian ia berbaring, memikirkan jalan keluarnya. Ketika ia sedang berbaring sambil termenung dan berpikir, Ratu Mallika menghampirinya dan bertanya dengan penuh keheranan:
“Yang Mulia, mengapa Baginda berbaring di sini? Apa yang membuatmu kelihatan sangat risau dan susah hati ?”
Raja menjawab:
“Isteriku, tidakkah kamu tahu?”
“Yang Mulia, saya tidak tahu.”
Kemudian Raja menceritakan masalah ini. Ratu Mallika lalu berkata :
“Yang Mulia, jangan menjadi resah; pernahkah Baginda mendengar atau melihat bahwa seorang Raja, penguasa seluruh negara, seharusnya dapat memenangkan masalah ini ? Saya akan mengatur persembahan itu ?”
Demikianlah ucapan Ratu Mallika, dia berbicara demikian karena dia ingin mempersembahkan dana yang jumlahnya tiada tara. Kemudian dia berkata kepada Raja :
“Yang Mulia, inilah rencanaku. Perintahkanlah untuk membangun sebuah pavilion yang indah di tengah-tengah lapangan. Bangunlah pula pavilion yang melingkarinya dari kayu Sala yang terbaik, dan tempat duduk untuk lima ratus bhikkhu. Buatlah lima ratus payung putih yang indah, dan latihlah lima ratus gajah untuk sambil berdiri dengan diam di belakang ke lima ratus bhikkhu, sambil memegang payung dengan belalainya. Buatlah delapan atau sepuluh perahu yang terbuat dari emas, dan tempatkanlah di tengah-tengah pavilion. Di antara ke dua bhikkhu, tempatkanlah seorang prajurit wanita yang duduk dan menebarkan wewangian. Tempatkanlah pula sejumlah prajurit wanita memegang kipas di tangannya, yang berdiri dan mengipasi dua bhikkhu. Tempatkanlah para prajurit wanita lainnya dengan membawa wewangian di tangannya, berdiri di dalam perahu emas. Tempatkanlah prajurit wanita yang lain, membawa rangkaian bunga lili biru yang disemprot dengan wewangian, di dalam perahu emas, dan persembahkanlah dupa kepada para bhikkhu. Sekarang penduduk yang tidak mempunyai anak yang menjadi prajurit wanita ataupun payung putih ataupun gajah, itu berarti mereka tidak dapat mengalahkanmu. Inilah yang harus Baginda lakukan sebagai seorang Raja yang Besar.”
Raja berkata dengan gembira :
“Bagus, bagus, isteriku! Rencanamu sungguh luar biasa.”
Raja lalu memerintahkan kepada pegawainya, segala sesuatu yang diusulkan oleh Ratu Mallika. Setelah semua dilaksanakan, ternyata kekurangan seekor gajah untuk memayungi seorang bhikkhu. Ketika Raja memeriksa semuanya, ia berkata kepada Ratu Mallika :
“Isteriku, kita kekurangan seekor gajah untuk memayungi seorang bhikkhu. Apa yang harus saya lakukan ?”
“Apa yang Baginda katakan ? Tidak ada lima ratus ekor gajah ?”
“Ya, isteriku. Yang tersisa adalah gajah-gajah yang liar, dan kalau gajah itu melihat para bhikkhu, mereka akan mengamuk seperti angin ribut.”
“Yang Mulia, saya tahu dimana gajah liar itu ditempatkan yang dapat membuatnya berdiri dengan diam dan memegang payung di belalainya.”
“Dimana kita akan tempatkan gajah itu ?”
“Di sebelah Yang Mulia Angulimala.”
Raja melakukan apa yang dikatakan isterinya. Seekor gajah muda melipat ekornya di antara ke dua kakinya, menurunkan kedua telinganya, menutup matanya dan berdiri dengan diam. Orang-orang memandang gajah itu dengan keheranan dan berpikir :
“Bagaimana mungkin gajah liar itu dapat berdiri dengan diam ?”
Raja menanti Sang Buddha dengan para muridNya dengan penuh rasa bahagia. Setelah Beliau beserta murid-muridnya tiba, Raja memberikan penghormatan dan berkata:
“Yang Mulia, semua barang-barang ini, baik yang berharga maupun tidak berharga, saya persembahkan semuanya untuk Bhikkhu Sangha.”
Dengan persembahan dana yang dilaksanakan pada hari ini, harta sebanyak empat belas laksa diserahkan dalam satu hari. Empat macam harta yang amat berharga dipersembahkan kepada Sang Guru, sebuah payung putih, sebuah dipan untuk beristirahat, sebuah panggung dan sebuah penunjang kaki. Tidak seorangpun yang mempersembahkan dana kepada Sang Buddha dapat menyamai apa yang dipersembahkan oleh Raja, karena itu persembahan ini terkenal dengan ‘Persembahan Dana Yang Tiada Tara’. Persembahan dana yang tiada tara ini terjadi pada semua Buddha, dan seorang wanita yang mengatur semua persembahan ini.
Raja mempunyai dua orang menteri bernama Kala dan Junha. Menteri Kala berpikir:
“Lihat, bagaimana harta Raja berkurang! Dalam satu hari, harta sebanyak empat belas laksa digunakan! Dan para bhikkhu ini, setelah berpesta dengan dana sebanyak itu, akan langsung pulang, berbaring, dan tidur! Bagaimana mungkin harta Raja dibuang seperti ini !”
Tetapi, Menteri Junha berpikir:
“Oh, luar biasa dana yang dipersembahkan oleh Raja! Tidak seorangpun yang dapat menempati posisi Raja dalam mempersembahkan dana ini ! Lebih jauh lagi, tidak seorangpun yang dapat melampaui persembahan dana ini untuk kebahagiaan semua mahluk. Untuk saya, saya amat berterima kasih dan berbahagia atas semua persembahan yang disampaikan oleh Raja kepada Sang Buddha.”
Ketika Sang Guru menyelesaikan makannya, Raja mengambil mangkukNya, dengan harapan Beliau akan menyampaikan anumodana. Sang Buddha berpikir::
‘Raja telah mempersembahkan dananya yang luar biasa ini, seperti sebuah gelombang yang amat besar. Apakah yang dipikirkan orang-orang yang ada di sini, apakah dipenuhi oleh keyakinan atau tidak ?’
Sang Buddha mengetahui apa yang dipikirkan oleh kedua menteri itu, Beliau segera menyadari :
“Apabila Saya mengucapkan anumodana atas dana yang dipersembahkan ini, maka kepala Kala akan terbelah menjadi tujuh bagian, dan Junha akan memperoleh Pengertian Dhamma Yang Mulia.
Karena kebodohan dari Kala, maka Sang Buddha hanya mengucapkan sebuah syair yang terdiri dari empat baris untuk menghormati Raja, yang berdiri di hadapannya setelah mempersembahkan dananya itu. Setelah itu Beliau bangkit dari duduknya dan kembali ke vihara.
Para bhikkhu bertanya kepada Yang Mulia Angulimala:
“Saudara, tidakkah kamu takut ketika kamu melihat gajah liar berdiri di sampingmu, memegang payung putih ?”
“Tidak saudara, saya tidak takut.”
Para bhikkhu berkata kepada Sang Guru:
“Yang Mulia, Angulimala berbohong.”
Sang Guru lalu berkata:
“Para bhikkhu, Angulimala tidak takut. Untuk bhikkhu seperti anakKu ini yang telah mencapai Tingkat Kesucian, telah menghapuskan segala kekotoran dan tidak lagi mempunyai ketakutan.”
Setelah berkata demikian, Beliau mengucapkan syair di dalam Brahmana Vagga :
“Ia yang Mulia, Agung, Pahlawan,Pertapa Agung, Penakluk.Orang Tanpa Nafsu, Murni, Telah Mencapai Penerangan, Maka ia Kusebut seorang Brahmana.
Raja sangat kecewa. Ia berpikir :
“Setelah saya mempersembahkan dana yang begitu besar, dan saya berdiri di hadapan Sang Guru, Sang Guru melalaikan ucapan anumodana atas dana yang saya persembahkan, tetapi hanya mengucapkan satu syair saja, bangkit dari duduk dan pergi. Anumodana itu diucapkan untuk dana yang dipersembahkan dengan tepat, mungkin saya mempersembahkan dana yang tidak tepat; dan untuk barang-barang yang sesuai untuk dipersembahkan, mungkin saya mempersembahkan barang-barang yang tidak sesuai. Karena itu Sang Guru marah kepada saya, biasanya Beliau selalu mengucapkan anumodana kepada setiap orang yang mempersembahkan dana kepadaNya.”
Dengan pemikiran seperti ini, Raja pergi menuju vihara, menghormat kepada Sang Guru dan berkata :
“Yang Mulia, apakah saya gagal mempersembahkan dana yang telah saya serahkan, atau kesalahan dalam mempersembahkan, atau dana itu tidak tepat, ataukah barang-barang yang saya persembahkan tidak sesuai ?”
“Raja Mulia, mengapa anda bertanya demikian ?”
“Yang Mulia, tidak mengucapkan anumodana atas segala persembahan yang saya berikan.”
“Raja Mulia, hadiah yang kamu persembahkan tentu saja sesuai; Pemberian Dana Yang Tiada Tara, seperti yang kamu persembahkan, hanya dapat dipersembahkan kepada Seorang Buddha; persembahan seperti itu akan sulit untuk dilakukan untuk kedua kalinya.”
“Tetapi, Yang Mulia, mengapa tidak mengucapkan anumodana atas dana yang saya persembahkan ?”
“Karena ada pemikiran orang-orang yang tidak murni, Raja Mulia.”
“Yang Mulia, kesalahan apa yang dilakukan orang-orang itu?”
Sang Guru lalu menceritakan kepada Raja, pemikiran dari kedua menterinya dan memberitahukan kepadanya akibat yang akan diterima Kala apabila Beliau mengucapkan anumodana.
Raja lalu bertanya kepada Kala:
“Apakah benar, Kala, engkau berpikir seperti itu ?”
“Benar, Yang Mulia,” jawab Kala.
Kemudian Raja berkata :
“Saya tidak pernah mengambil milikmu untuk saya. Di mana kesalahan saya?Pergilah ! Apa yang saya berikan, saya berikan. Sekarang, pergilah dari kerajaanku !”
Setelah Kala diusir dari kerajaannya, Raja memanggil Junha, dan bertanya :
“Apakah benar, Junha, pemikiranmu seperti itu ?”
“Benar, Yang Mulia,” jawab Junha.
“Kamu berbuat baik, paman,” jawab Raja.
“Saya puas. Terimalah hadiah dariku dan persembahkanlah dana seperti yang saya lakukan selama tujuh hari.”
Setelah berdana selama tujuh hari, Raja berkata kepada Sang Guru:
“Yang Mulia, lihatlah apa yang telah dilakukan oleh orang bodoh itu, sesudah saya mempersembahkan dana itu, ia memukul saya.”
Sang Buddha menjawab:
“Ya Raja Mulia; orang bodoh tidak bergembira dengan dana yang dipersembahkan orang lain, dan di masa yang akan datang akan memperoleh hukumannya. Tetapi orang bijaksana, ikut bergembira atas dana yang dipersembahkan orang lain dan akan menuju surga.”
Setelah berkata demikian sang Buddha mengucapkan syair:
“Sesungguhnya orang kikir tidak dapat pergi ke Alam Surga. Orang bodoh tidak memuji kemurahan hati. Akan tetapi orang bijaksana senang dalam memberi, Dan karenanya ia akan bergembira di alam berikutnya.”
Pada akhir khotbah Dhamma ini, Junha mencapai pengertian tentang Dhamma Yang Mulia; dan sejumlah besar orang-orang juga memperoleh pengertian tentang Dhamma Yang Mulia, mereka mempersembahkan dana selama tujuh hari berturut-turut seperti yang Raja lakukan.
Advertisements

Nandiya Mencapai Kebahagiaan Surgawi

Kisah tentang Nandiya ini disampaikan ketika Sang Buddha berdiam di Isipatana.
Ketika itu, di Benares tinggallah seorang anak muda yang bernama Nandiya, anak laki-laki dari sebuah keluarga yang penuh keyakinan kepada Sang Tri Ratna. Ia diharapkan oleh ayah dan ibunya menjadi anak yang baik, berbakti dan mau melayani Sangha. Ketika ia mulai dewasa, ayah dan ibunya menginginkannya untuk mengawini anak perempuan pamannya, bernama Revati, yang tinggal di seberang rumah. Tetapi Revati, tidak mempunyai keyakinan dan tidak terbiasa untuk mempersembahkan dana, karena itu Nandiya tidak ingin menikahinya. Kemudian ibu Nandiya berkata kepada Revati :
“Anakku, bersihkanlah lantai di rumah ini supaya rapi dan wangi, di mana para Bhikkhu Sangha akan duduk, siapkanlah tempat duduk, berdirilah di tempat yang tepat, dan apabila para bhikkhu tiba, persilahkanlah agar mereka duduk dan tuangkanlah air untuk mereka dari kendi ini; kalau mereka sudah selesai makan, cucilah mangkuk mereka. Kalau kamu melakukan ini semua, kamu akan memenangkan hati anakku.”
Revati melakukan semua itu dengan baik. Ibu Nandiya berkata kepada anaknya :
“Revati sekarang sudah menjadi sabar dan mau menerima nasehatku.”
Nandiya kemudian memberikan perhatiannya kepada Revati, dan tidak berapa lama kemudian, mereka menikah.
Nandiya berkata kepada isterinya:
“Kalau kamu dapat melayani dengan baik para Bhikkhu Sangha, kamu akan memperoleh keistimewaan di rumah ini, karena itu perhatikanlah.”
“Baiklah,” jawab Revati, dia berjanji untuk melaksanakan dengan baik.
Dalam beberapa hari ia belajar merubah dirinya seperti menjadi orang yang penuh keyakinan dan mau berdana. Ia amat patuh kepada suaminya, dan tidak berapa lama kemudian ia melahirkan dua orang anak laki-laki. Ketika ayah dan ibu Nandiya meninggal, ia menjadi ratu di rumah itu.
Nandiya diwariskan kekayaan yang amat banyak oleh ayah dan ibunya. Dia mempersembahkan dana kepada Bhikkhu Sangha dan membuka pintu rumahnya setiap hari untuk membagikan makanan kepada orang-orang miskin dan pengelana.
Beberapa waktu kemudian, sesudah Nandiya mendengarkan Dhamma yang dibabarkan oleh Sang Guru, muncul keyakinan di dalam dirinya bahwa dia akan memperoleh pahala yang besar apabila ia mempersembahkan dana kepada Bhikkhu Sangha. Ia lalu membangun sebuah Aula besar dengan empat pilar yang megah, dilengkapi dengan empat ruangan besar, yang diberi nama Vihara Agung Isipatana. Nandiya melengkapinya dengan tempat tidur sehingga Bhikkhu Sangha yang dipimpin oleh Sang Buddha dapat berdiam di sana.
Nandiya lalu mempersembahkan Vihara ini dengan penuh keyakinan kepada Sang Guru, dengan menuangkan Air sebagai tanda berdana ke tangan kanan Sang Tathagata. Ketika Air itu jatuh ke tangan kanan Sang Buddha, dengan seketika muncullah di Alam Tiga Puluh Tiga Dewa, sebuah rumah yang indah sebesar dua belas leagues (1 leagues=4,8 kilometer), tingginya seratus leagues, yang terbuat dari tujuh macam batu permata dan dipenuhi dengan para dewa-dewi.
Pada suatu hari Yang Mulia Moggallana mengunjungi Alam Dewa, ia berhenti di dekat istana dan bertanya kepada beberapa dewa yang menghampirinya:
“Perbuatan baik siapakah yang menyebabkan munculnya sebuah rumah besar di alam ini, yang dipenuhi oleh para dewa-dewi ?”
Para dewi itu meinberitahukan siapa yang menjadi pemilik rumah itu, dengan berkata :
“Yang Mulia, seorang perumah tangga bernama Nandiya yang membangun sebuah vihara di Isipatana dan mempersembahkan kepada Sang Buddha, karena perbuatan baiknya menyebabkan munculnya rumah besar di alam ini.”
Sekelompok dewa-dewi turun dari istana dan berkata kepada Yang Mulia Moggallana :
“Yang Mulia, kami akan menjadi pelayan Nandiya. Meskipun kami terlahir kembali di sini, tetapi kami tidak bahagia karena kami tidak dapat menjumpainya; katakanlah kepadanya untuk datang ke sini. Untuk pindah dari alam manusia ke alam dewa ini, seperti memecahkan sebuah belanga dari tanah lempung dan mengambil sebuah belanga dari emas.”
Yang Mulia Moggallana kembali dari Alam Dewa dan menemui Sang Guru, dan bertanya kepada Beliau:
“Yang Mulia, apakah benar bahwa ketika orang-orang masih berada di dunia ini, mereka akan mencapai kebahagiaan surgawi sebagai akibat perbuatan baik yang mereka lakukan ?”
Sang Guru menjawab :
“Moggallana, kamu telah melihat dengan matamu sendiri kebahagiaan surgawi dimana Nandiya akan mencapai Alam Dewa, mengapa kamu bertanya dengan pertanyaan seperti itu ?”
Yang Mulia Moggallana bertanya lagi :
“Jadi, semua itu benar Yang Mulia ?”
Sang Guru berkata :
“Moggallana, mengapa kamu bertanya begitu ? Kalau seorang anak laki-laki atau saudara kita yang pergi jauh dan tidak berada di rumah dalam waktu yang lama, pulang kembali, maka siapapun yang bertemu dengannya di pintu desa, dan melihatnya cepat-cepat pulang, akan berkata ‘Akhirnya dia pulang’. Dan dengan segera keluarga dan kerabatnya akan menemuinya dengan senang dan bahagia, dan seterusnya akan menyalaminya dan berkata, ‘Saudaraku, akhirnya kamu pulang juga !’ Demikian pula, apabila seorang wanita ataupun seorang laki-laki yang melakukan perbuatan baik di sini, bila meninggalkan dunia ini dan pergi menuju ke alam dewa, maka para dewa-dewi akan menyediakan sepuluh macam hadiah, bergegas pergi menemui dan menyambutnya dengan berkata:’Saya yang pertama ! Saya yang pertama !’
Setelah berkata demikian Sang Buddha mengucapkan syair :
Setelah lama seseorang pergi jauh, Kemudian pulang ke rumah dengan selamat.Maka keluarga, kerabat dan sahabat,Akan menyambutnya dengan senang hati.
Begitu juga, perbuatan-perbuatan baik yang telah dilakukan,Akan menyambut pelakunya yang telah pergi dari dunia ini ke dunia selanjutnya.Seperti keluarga yang menyambut pulangnya orang tercinta.
Di dalam Vimana-Vatthu Commentary mengatakan bahwa Nandiya, setelah dalam kehidupannya itu mempersembahkan dana kepada Bhikkhu Sangha, maka setelah meninggal, ia terlahir kembali di Alam Tiga Puluh Tiga Dewa; dan Revati, setelah suaminya meninggal, berhenti berdana, mencaci para bhikkhu, dan setelah ia meninggal terlahir kembali di Alam Neraka.

Brahmana Yang Memiliki Satu Jubah

Cerita Brahmana Kecil Bermantel Satu, Cula Ekasataka ini disampaikan Sang Buddha pada saat Beliau berdiam di Jetavana.
Seorang brahmana bernama Maha Ekasataka hidup pada masa Buddha Vipassi, dan terlahir kembali pada kehidupan saat ini di Savatthi sebagai Yang Berjubah Satu, Cula Ekasataka. Cula Ekasataka dan isterinya masing-masing memiliki satu baju dalam dan mereka hanya memiliki satu jubah luar untuk mereka pakai berdua. Jadi bila salah seorang di antara mereka ingin meninggalkan rumah, yang seorang lagi harus tinggal di rumah. Pada suatu hari diumumkan bahwa akan ada pembabaran Dhamma di vihara. Brahmana itu berkata kepada isterinya :
“Isteriku, telah diumumkan bahwa akan ada pembabaran Dhamma pada siang atau malam hari. Karena kita tidak memiliki jubah luar untuk kita berdua, jadi kita tidak dapat pergi pada waktu yang bersamaan.”
Isteri brahmana itu menjawab :
“Suamiku, saya akan pergi pada siang hari saja.”
Setelah mengenakan jubah luarnya, ia lalu pergi ke vihara.
Sang brahmana tinggal di rumah pada siang hari. Pada malam hari, dia pergi ke vihara, duduk di depan Sang Guru dan mendengarkan pembabaran Dhamma. Sementara mendengarkan Dhamma, timbullah di dalam dirinya lima macam rasa bahagia, perasaan ini menyelimuti seluruh tubuhnya. Dia sangat ingin mempersembahkan sesuatu kepada Sang Guru, namun pemikiran ini menghalanginya :
‘Bila saya memberikan jubah ini kepada Sang Guru, tidak akan ada lagi jubah yang tersisa bagi saya dan juga isteri saya.’
Seribu pikiran yang mementingkan diri sendiri timbul di dalam dirinya dan kemudian timbul satu pikiran yang penuh dengan keyakinan untuk berdana. Kemudian timbul lagi pikiran yang mementingkan diri sendiri mengalahkan pikiran penuh keyakinan untuk berdana. Pikirannya berperang antara keinginan untuk berdana dan mementingkan dirinya sendiri:
‘Saya akan mendanakannya!’ ‘Tidak, saya tidak akan mendanakannya!’
Sementara pikirannya berperang, waktu jaga pertama sudah lewat, tibalah waktu jaga ke dua, sampai saat itu, dia belum juga berhasil memutuskan untuk mempersembahkan jubahnya kepada Sang Buddha. Pada waktu jaga yang terakhir tiba, akhirnya sang brahmana berpikir :
‘Sementara saya ‘berperang’ dengan pikiran yang penuh keyakinan untuk berdana dan mementingkan diri sendiri, dua waktu jaga terlewati. Bila kekuatan pikiran yang mementingkan diri sendiri ini bertambah, hal ini akan menghalangi saya untuk bangkit mengatasi Empat Keadaan Penderitaan. Oleh karena itu, saya akan mempersembahkan dana saya.’
Sang brahmana akhirnya dapat mengalahkan seribu pikiran yang mementingkan diri sendiri dan mengikuti pikiran yang penuh keyakinan untuk berdana. Dengan membawa jubahnya, ia meletakkannya di kaki Sang Buddha dan berseru dengan lantang:
“Telah saya kalahkan! Telah saya kalahkan!”
Raja Pasenadi Kosala kebetulan sedang mendengarkan Dhamma, ketika mendengar teriakan itu, ia berkata :
“Tanyakan kepadanya, apa yang telah dikalahkannya.”
Pengawal Raja menanyakan hal itu kepada sang brahmana, dan sang brahmana menjelaskan kejadiannya kepada mereka. Ketika Raja mendengar penjelasan tersebut, dia berkata :
“Tidaklah mudah melakukan apa yang telah dilakukan oleh sang brahmana. Saya akan melakukan kebaikan untuknya.”
Dia lalu menyuruh memberikan sepasang jubah kepada sang brahmana. Sang brahmana mempersembahkan jubah ini kepada Sang Tathagata. Kemudian Raja melipat gandakan pemberiannya, memberikan kepada sang brahmana mula-mula dua pasang jubah, kemudian empat, delapan dan pada akhirnya enam belas pasang. Sang brahmana mempersembahkan semua jubah ini kepada Sang Tathagata. Kemudian Raja memerintahkan untuk memberi 32 pasang jubah kepada sang brahmana. Agar sang brahmana tidak menyerahkan seluruh jubah yang diterima, sehingga dia tidak mempunyai jubah untuk dirinya sendiri, Raja berkata kepada brahmana itu :
“Simpanlah sepasang jubah untuk dirimu sendiri dan sepasang lagi untuk isterimu.”
Setelah berkata demikian, Raja meminta sang brahmana untuk menyimpan dua pasang jubah dan mempersembahkan ke tiga puluh pasang jubah kepada Sang Tathagata. Meskipun sang brahmana akan mendanakan apa yang dimilikinya sebanyak seratus kali, Raja akan memberinya hal yang sama.
Raja memberi perintah kepada pengawalnya:
“Sungguh suatu hal yang sulit untuk melakukan apa yang telah dilakukan oleh sang brahmana. Ambil dua selimut saya dan bawa ke ruang pertemuan.”
Pengawal melakukannya. Raja menghadiahkan kedua selimut yang bernilai seribu keping uang itu kepada sang brahmana. Namun sang brahmana berkata sendiri :
“Saya tidak pantas menyelimuti diri saya dengan selimut ini. Selimut ini hanya pantas untuk Sang Buddha.”
Lalu salah satu selimut itu dibuatnya sebuah langit-langit dan digantungkannya di atas tempat tidur Sang Guru. Kemudian selimut yang satu lagi, digantungkan di atas tempat dia menyambut para bhikkhu pada saat menerima dana makanan di rumahnya.
Pada malam hari, Raja mengunjungi Sang Buddha, melihat selimut itu, dia bertanya kepada Beliau:
“Yang Mulia, siapakah yang mendanakan selimut ini ?”
“Ekasataka,” jawab Sang Guru.
Raja lalu berpikir:
‘Seperti saya yakin dan berbahagia dengan keyakinan saya, demikian pula sang brahmana, yang juga yakin dan berbahagia dengan keyakinannya.’
Raja lalu menghadiahkan empat gajah, empat kuda, empat ribu keping uang, empat pelayan wanita, dan empat desa yang terbaik kepada sang brahmana, Raja memberikan sang brahmana pemberian yang semuanya berjumlah masing-masing empat.
Para bhikkhu membicarakan hal ini di Ruang Dhammasala :
“Betapa hebat hasil dari perbuatan baik Cula Ekasataka. Segera setelah melakukan perbuatan baik, hasil dari perbuatan baiknya langsung diterimanya.”
Sang Guru mendekati para bhikkhu dan bertanya :
“Para bhikkhu, apakah yang sedang kalian diskusikan ?”
Ketika para bhikkhu memberi tahu, Beliau mengatakan :
“Apabila Cula Ekasataka memutuskan untuk memberikan dananya kepadaKu pada waktu jaga pertama, dia akan mendapatkan hadiah yang masing-masingnya berjumlah 16. Bila dia memutuskan untuk memberikan dananya kepadaKu pada jaga kedua, dia akan mendapatkan hadiah yang masing-masing jumlahnya delapan, namun karena dia memberikannya pada saat menjelang akhir dari waktu jaga terakhir, maka dia hanya mendapatkan pemberian yang masing-masingnya berjumlah empat. Seseorang yang ingin melakukan perbuatan baik, seharusnya tidak mengabaikan dorongan untuk berbuat baik yang timbul di dalam dirinya, dan harus melakukannya segera. Suatu perbuatan baik yang terlambat dilakukan, akan mendatangkan manfaat, namun manfaat tersebut akan tertunda. Oleh karena itu, begitu dorongan untuk berbuat baik timbul di dalam diri seseorang, dia harus segera melakukan perbuatan baik itu.”
Setelah berkata demikian Sang Guru lalu mengucapkan syair:
“Bergegaslah melakukan perbuatan baik, Jauhkan batin dari kejahatan. Bila seseorang lambat di dalam melakukan kebaikan, Batinnya akan senang dalam kejahatan.”

Cunda Si Pemotong Babi

Kisah ini menceritakan seorang lelaki bernama Cunda. Selama lima puluh tahun ia memotong babi untuk dimakan atau untuk dijual. Di belakang rumahnya terdapat sebidang tanah. Tanah itu diberi pagar dan dijadikan kandang untuk memelihara babi-babi. Babi-babi itu diberinya makanan berupa rumput-rumputan, sampah atau kotoran-kotoran.

Apabila Cunda ingin makan daging babi, ia mengambil salah seekor babinya untuk dipotong. Babi itu diikatnya pada sebuah tonggak, badan babi itu dimasukkan ke dalam keranjang. Kemudian mulut babi itu dibuka dengan paksa, dan diganjal dengan sepotong kayu. Kemudian ia memasak air, air panas itu dituangkannya ke dalam mulut babi yang sudah terbuka. Air panas itu gunanya untuk membersihkan perut babi dari kotoran-kotoran yang masih tersisa. Air mengalir keluar melalui anus bersama dengan kotoran-kotoran, apabila air yang keluar dari anus sudah jernih, berarti perut babi sudah bersih. Air panas yang masih tersisa itu lalu disiramkannya ke punggung babi, supaya kulitnya mengelupas.

Kemudian ia membakar bulu-bulu babi dengan sebuah obor. Setelah itu kepala babi dipotongnya dengan sebuah golok. Daging babi itu kemudian diberi bumbu-bumbu lalu dipanggangnya, untuk dimakan bersama anggota keluarganya. Apabila daging babi lebih, ia menjual daging itu ke pasar. Dengan cara seperti itulah Cunda menjalani kehidupannya selama lima puluh tahun.

Ketika itu Sang Buddha sedang berdiam di Vihara yang tidak jauh dari tempat tinggal Cunda. Tetapi ia tidak pernah sekalipun mengunjungi Sang Buddha, dengan mempersembahkan bunga ataupun berdana makanan. Cunda tidak pernah melakukan kebaikan. Pada suatu hari ia menderita sakit berat, karena perbuatan yang dilakukan selama hidupnya, meskipun ia belum mati ia sudah merasakan panasnya Neraka Avici.

Ketika siksaan Neraka itu sudah dirasakannya, sifatnya langsung berubah seperti seekor babi. Ia mulai mendengkur dan menjerit seperti seekor babi yang hendak dipotong. Ia merangkak dengan tangan dan kaki ke depan dan ke belakang rumah, persis seperti seekor babi. Keluarganya menyergap dan menyumpal mulutnya. Tetapi ia tetap mendengkur dan menjerit seperti seekor babi. Orang-orang di sekitar rumahnya tidak dapat tidur nyenyak. Karena ketakutan melihat tingkah laku Cunda, keluarganya lalu mengurungnya di dalam rumah, dan mereka berjaga-jaga di sekitar rumah.

Setelah tujuh hari Cunda merasa siksaan, ia meninggal dunia dan terlahir di Neraka Avici. Beberapa orang bhikkhu yang melewati rumah Cunda, mendengar dengkuran dan jeritan babi-babi, mereka kembali ke Vihara menghadap Sang Buddha dan menceritakan apa yang mereka lihat dan mereka dengar: “Yang Mulia, selama tujuh hari ini rumah Cunda ditutup, pasti ia sedang berpesta. Berapa banyak babi yang ia potong. Ia sama sekali tidak mempunyai cinta kasih dan belas kasihan kepada makhluk lain.

elum pernah kami menemukan orang yang sekejam dan sesadis Cunda ini”. Sang Buddha menjawab: “O para bhikkhu, ia tidak memotong babi selama tujuh hari ini. Sebagai hukuman atas apa yang dilakukannya selama ini meskipun ia belum meninggal ia sudah merasakan siksaan Neraka Avici.

Selama tujuh hari ini, ia merangkak ke sana ke mari di dalam rumahnya, mendengkur dan menjerit-jerit seperti seekor babi. Hari ini ia meninggal dunia dan terlahir di Neraka Avici”. Para bhikkhu lalu menjawab: “Yang Mulia, setelah menderita di dunia ini, ia akan pergi menuju tempat yang menderita dan terlahir di sana”. “Ya bhikkhu”, jawab Sang Buddha. “Ia yang lengah, baik ia seorang umat ataupun seorang bhikkhu, akan menderita di kedua dunia”. Sang Buddha lalu mengucapkan syair:

“Di dunia ini ia bersedih hati, di dunia sana ia bersedih hati, pelaku kejahatan akan bersedih hati di kedua dunia itu. Ia bersedih hati dan meratap karena melihat perbuatannya sendiri yang tidak bersih”.

Janganlah berbuat jahat Tambahkanlah kebaikan Sucikan hati dan pikiran Ini ajaran semua Buddha

Sang Buddha, Gajah dan Monyet

“Disinilah saya tinggal, dikelilingi sekumpulan gajah, gajah-gajah betina, anak-anak gajah dan gajah-gajah muda. Mereka mengunyah-ngunyah ujung-ujung rumput yang ingin saya makan, mereka memakan daun-daun dari ranting-ranting pohon yang saya patahkan; mereka mengeruhkan air minum saya. Ketika saya masuk atau keluar dari sungai, gajah-gajah betina menggosok-gosokkan badannya ke badan saya. Karena itulah saya memisahkan diri dari kumpulan gajah-gajah dan lebih baik hidup sendirian.”

Oleh karena itu gajah yang baik hati ini memisahkan diri dari kumpulannya dan berjalan mendekati Hutan Lindung. Gajah itu bernama Parileyyaka. Di dalam Hutan Lindung, Sang Buddha sedang berdiam seorang diri, menarik gajah itu untuk berjalan menuju pohon Sala, tempat Sang Buddha duduk.

Setibanya di hadapan Sang Buddha, gajah itu memberi hormat kepada Sang Buddha. Ia melihat ke sekeliling, mencari sapu karena ia ingin membersihkan tempat di sekitar Sang Buddha duduk. Karena tidak ada sapu, ia mematahkan ranting pohon untuk dijadikan sapu dan membersihkan tempat itu. Kemudian ia mengambil kendi air dengan belalainya dan menyiapkan air minum. Apabila dibutuhkan air panas, ia akan menyiapkan air panas. (Bagaimana mungkin?). Caranya, pertama-tama ia membuat percikan api dengan menggosok-gosokkan kayu dengan belalainya, kemudian ia menaruh ranting-ranting pohon di atas percikan api itu, sehingga ia mempunyai api. Lalu ia memanaskan batu-batu kecil di dalam api. Digelindingkannya batu-batu kecil yang sudah panas itu dengan tongkat ke dalam lekukan. Di atas lubang kecil di antara batu yang besar, ditaruhnya kendi air. Dengan belalainya, ia memeriksa, apabila air sudah cukup panas, ia segera menghadap kepada Sang Buddha.

Sang Buddha lalu bertanya : “Parileyyaka, apakah ini air panasmu?” Kemudian Sang Buddha mandi dengan air panas yang dibuat si gajah. Kemudian Gajah Parileyyaka mencari dan membawakan buah-buahan segar dan mempersembahkannya kepada Sang Buddha. Apabila Sang Buddha masuk ke desa untuk pindapatta, gajah itu akan membawakan mangkuk dan jubah, yang ditaruh di atas kepalanya. Dan ia pun mengiringiNya. Ketika Sang Buddha tiba di tepi desa, Beliau mengambil mangkuk dan jubahNya dengan berkata : “Parileyyaka, lebih baik kamu jangan ikut. Berikanlah mangkuk dan jubahKu.”

Sang Buddha memasuki desa, dan si gajah Parileyyaka tetap menunggu dengan setia sampai Sang Buddha kembali. Ketika Sang Guru kembali, ia akan menyambut dan membawakan mangkuk serta jubah seperti yang ia lakukan sebelumnya, menaruhnya di tempat Sang Buddha duduk, memberi hormat dan mengipas-ngipas dengan ranting pohon supaya Sang Guru merasa nyaman.

Jika malam tiba, untuk melindungi Sang Buddha dari binatang buas, ia akan berjaga-jaga dengan belalainya yang besar, sambil berkata sendiri : “Saya akan melindungi Sang Guru.” Ia lalu berjalan bolak balik sampai pagi hari. (Sejak saat itulah hutan itu disebut “Hutan Lindung”). Pada pagi harinya, gajah itu lalu menyiapkan air untuk mencuci muka, sebelum ia melaksanakan tugas-tugasnya yang lain. Suatu ketika, seekor monyet melihat perbuatan yang dilakukan gajah Parileyyaka setiap hari, melaksanakan tugasnya, melayani Sang Buddha.

Ia lalu berkata sendiri : “Saya juga ingin melakukan hal yang sama.” Pada suatu hari, ketika ia bergelayutan di antara pepohonan di hutan, ia melihat sarang madu yang telah ditinggalkan oleh tawon-tawonnya. Ia mengambil sarang madu itu dan menaruhnya di atas selembar daun dan dipersembahkannya ke hadapan Sang Buddha. Sang Buddha mengambilnya. Monyet itu memperhatikan, apakah Sang Guru makan sarang madu itu atau tidak. Ia memandangi Sang Guru yang setelah mengambil sarang madu itu, lalu meletakkannya kembali, sambil tetap berdiam diri.

“Apa yang terjadi?” pikir monyet itu. Ia mengambil tongkat kecil, sarang madu itu diambilnya dan diperhatikan dengan seksama. Dengan membolak-balikkannya, ia memperhatikan kembali dengan teliti. Ternyata di dalam sarang madu banyak terdapat telur-telur serangga. Ia kemudian mengeluarkan telur-telur itu dengan hati-hati sekali. Setelah benar-benar bersih, dipersembahkannya kembali sarang madu itu kepada Sang Buddha. Maka, Sang Buddha berkenan menyantap sarang madu itu. Si monyet amat bahagia melihat Sang Buddha makan sarang madu yang dipersembahkannya. Ia meloncat-loncat di antara cabang-cabang pohon, dan menari-nari dengan gembira. Tiba-tiba cabang pohon yang dipegangnya itu patah, sehingga ia jatuh dan tertimpa batang pohon itu. Ia pun mati.

Tetapi karena perbuatan baik yang telah dilakukannya kepada Sang Buddha, ia terlahir kembali di Alam Surga. Di Kota Savatthi, Jutawan Anathapindika, Ibu Visakha, para pengikut setia Sang Buddha dan orang-orang penting lainnya mengirimkan pesan kepada Bhikkhu Ananda. “Yang Mulia, kami ingin sekali bertemu dengan Sang Guru.” Lima ratus bhikkhu yang datang dari berbagai daerah datang menemui Bhikkhu Ananda, yang ketika itu sedang musim hujan, mereka juga mengajukan permohonan : “Saudaraku Ananda, telah lama sekali kami mendengarkan Dhamma dari Sang Guru sendiri.

Sekarang kami ingin sekali bertemu dengan Sang Guru Agung kita, untuk mendengarkan Ajaran dari Beliau sendiri.” Bhikkhu Ananda mengajak para bhikkhu itu bersama-sama menuju Hutan Lindung. Ketika mereka telah mencapai tepi hutan, Bhikkhu Ananda berpikir : “Sang Guru sedang hidup menyendiri selama tiga bulan ini. Jadi belum tentu tepat apabila saya mengajak para bhikkhu ini untuk mengunjungiNya.” Maka, Bhikkhu Ananda masuk ke dalam Hutan Lindung itu seorang diri, meninggalkan kelima ratus bhikkhu itu di tepi hutan dan menghadap Sang Buddha terlebih dahulu.

Gajah Parileyyaka melihat ada seorang bhikkhu datang menghampiri Sang Buddha. Ia segera mengambil tongkat dan menyerbu ke Bhikkhu Ananda. Sang Buddha yang melihatnya, berkata : “Kembalilah Parileyyaka, jangan mengusirnya. Ia adalah murid seorang Buddha.” Gajah itu membuang tongkatnya dan memohon ijin untuk membawakan mangkuk dan jubah Bhikkhu Ananda. Tetapi Bhikkhu Ananda menolaknya.

Gajah itu lalu berpikir : “Apabila ia betul-betul mengetahui sopan santun, ia tidak akan menaruh segala keperluan miliknya di tempat Sang Guru duduk.” Bhikkhu Ananda lalu menaruh mangkuk dan jubahnya di tanah. (Untuk yang mengetahui peraturan, seorang bhikkhu tidak diperkenankan menaruh keperluan-keperluan miliknya sendiri di tempat duduk atau tempat tidur Gurunya). Setelah memberi hormat, Bhikkhu Ananda duduk di salah satu sisi. Sang Buddha bertanya : “Ananda, apakah kamu datang sendiri?” Bhikkhu Ananda menjelaskan bahwa ia datang bersama lima ratus bhikkhu.

Sang Buddha bertanya : “Di manakah mereka berada?” “Di tepi hutan, Yang Mulia.” “Saya tidak mengerti bagaimana perasaanmu meninggalkan saudara-saudaramu di tepi hutan dan datang seorang diri. Ajaklah mereka masuk.” Bhikkhu Ananda mentaati perintah Sang Buddha. Ia menjemput ke lima ratus bhikkhu itu masuk ke dalam Hutan Lindung. Sang Buddha menyambut ke lima ratus muridNya dengan gembira.

Setelah memberi hormat, para bhikkhu itu berkata : “Yang Mulia, Yang Maha Sempurna adalah seorang Buddha yang penuh dengan kelembutan dan penuh dengan cinta kasih. Amatlah sulit hidup di hutan ini seorang diri selama tiga bulan. Lagipula tidak ada seorangpun yang melayani semua kebutuhan Yang mulia. Tidak ada yang menyediakan air mandi atau menyediakan kebutuhan-kebutuhan lainnya.”

Sang Buddha menjawab : “Para bhikkhu, gajah Parileyyaka ini yang melayani semua kebutuhanKu. Apabila seseorang yang telah memperoleh pengalaman hidup berkelompok, dan tidak cocok untuk hidup di dalam kelompoknya, kadang-kadang lebih baik baginya untuk hidup seorang diri.” Setelah berkata demikian, Sang Buddha lalu mengucapkan tiga syair :

“Apabila dalam pengembaraanmu engkau dapat menemukan seorang sahabat yang berkelakuan baik, pandai dan bijaksana, maka hendaknya engkau berjalan bersamanya dengan senang hati dan penuh kesadaran untuk mengatasi semua bahaya.” ( Dhammapada, Naga Vagga no. 9 )

“Apabila dalam pengembaraanmu engkau tidak menemukan seorang sahabat yang berkelakuan baik, pandai dan bijaksana maka hendaknya engkau berjalan seorang diri, seperti seorang raja yang meninggalkan negara yang telah dikalahkannya, atau seperti gajah yang mengembara seorang diri di dalam hutan.” ( Dhammapada, Naga Vagga no. 10 )

“Lebih baik mengembara seorang diri, dan tidak bergaul dengan orang bodoh. Pergiah seorang diri dan jangan berbuat jahat; hiduplah dengan bebas (tidak banyak kebutuhan), seperti seekor gajah yang mengembara sendiri di dalam hutan.” ( Dhammapada, Naga Vagga no. 11 )

Pada akhir syair ke tiga, ke lima ratus bhikkhu itu mencapai Tingkat Kesucian Tertinggi menjadi Arahat. Bhikkhu Ananda lalu menyampaikan pesan-pesan dari Jutawan Anathapindika, Ibu Visakha dan umat-umat lainnya, dengan berkata : “Yang Mulia, lima puluh juta umat Yang Mulia yang dipimpin oleh Anathapindika mengharapkan Anda kembali.” “Baiklah,” kata Sang Buddha, “Ambillah mangkuk dan jubah.”

Bhikkhu Ananda serta para bhikkhu lainnya mengambil mangkuk dan jubah, lalu pergi keluar. Gajah Parileyyaka pergi dan berdiri di tengah jalan. “Yang Mulia, apa yang gajah itu perbuat?” “O Para Bhikkhu, ia ingin berdana kepada kalian. Sudah cukup lama ia melayaniKu, janganlah melukai hatinya. Kembalilah!”, Sang Buddha beserta murid-muridNya balik kembali.

Gajah itu lalu masuk ke dalam hutan, kembali dengan membawa pisang dan buah-buahan lainnya, mempersembahkannya kepada para bhikkhu. Kelima ratus bhikkhu itu tidak dapat menghabiskan buah-buahan yang dipersembahkan gajah itu. Selesai makan, Sang Buddha mengambil mangkuk dan jubahNya. Beliau melangkah keluar, diikuti oleh murid-muridNya. Gajah Parileyyaka lalu menyelinap di antara para bhikkhu yang sedang berjalan, kemudian di depan Sang Buddha dan para bhikkhu, ia berdiri menghalangi jalan. “Yang Mulia, apa yang dilakukannya?” “Para Bhikkhu, berjalanlah terus. Ia ingin Aku kembali.”

Sang Buddha lalu berkata : “Parileyyaka, Aku pergi sekarang, tidak akan kembali lagi. Kamu tidak dapat mengharapkan pada kehidupanmu yang sekarang ini dapat memperoleh Pandangan Terang, melaksanakan Jalan Tengah ataupun mencapai Tingkat Kesucian. Berhentilah!” Ketika gajah itu mendengar kata-kata Sang Buddha, ia memasukkan belalai ke dalam mulutnya. Ia mundur perlahan-lahan dan menangis, sambil tetap mengikuti Sang Buddha yang terus berjalan keluar hutan. (Dapatkah ia membuat Sang Buddha kembali, sehingga ia dapat melayaninya sampai di akhir hidupnya?)

Ketika Sang Buddha telah sampai di tepi desa, Beliau berkata : “Parileyyaka, kalau kamu mengikutiKu lebih jauh lagi, tidak aman untukmu sendiri, kehidupan manusia amat berbahaya untukmu. Berhentilah!” Gajah itu berhenti berjalan, ia menangis sambil memandangi kepergian Sang Buddha. Ketika Sang Buddha hilang dari pandangannya, karena amat sedihnya, iapun mati. Tetapi karena perbuatan baik yang telah dilakukannya, dengan melayani Sang Buddha, ia terlahir kembali di Alam Surga, bernama Dewa Parileyyaka.

Sesudah Badai Berlalu ….. Tenang

Ketika itu Sang Buddha sedang bersemayam di Savatthi. Disana tinggal seorang ibu yang sering dipanggil dengan Kanamata atau ibu Kana. Ibu ini pengikut setia Sang Buddha, ia mempunyai seorang anak perempuan bernama Kana. Anak perempuannya ini sudah menikah dengan seorang laki-laki dari lain desa. Pada suatu waktu, Kana datang menengok ibunya. Beberapa hari kemudian suaminya mengirim pesan, supaya istrinya segera pulang ke rumah. Ibunya berkata : “Tunggulah sampai esok hari”, karena ia ingin membuat kue-kue untuk menantunya. Keesokkan harinya, Ibu Kana membuat kue, tetapi pagi itu lewat empat bhikkhu di depan pintu rumahnya untuk pindapatta. Ibu Kana lalu memberikan kue-kue itu kepada keempat bhikkhu itu. Keempat bhikkhu yang sudah menerima kue, bercerita kepada bhikkhu lainnya bahwa kue dari Ibu Kana enak sekali. Jadi, para bhikkhu yang lain juga berpindapatta kesana. Ibu Kana sebagai pengikut setia Sang Buddha, memberikan kue-kue yang dimasaknya. Akhirnya kue itu habis, tidak ada lagi yang tersisa untuk dibawa pulang anak perempuannya, Kana tidak jadi pulang ke rumahnya pada hari itu. Hari berikutnya, hal yang sama terjadi lagi, Ibu Kana membuat kue-kue, dan para bhikkhu berpindapatta lagi ke rumahnya, dan Ibu Kana memberikan kue-kuenya, akhirnya kue yang dimasaknya itu habis lagi, dan anak perempuannya tidak jadi pulang lagi. Pada hari ketiga, suami Kana mengirimkan pesan apabila pada hari itu Kana tidak pulang ke rumah, ia akan mencari isteri lagi. Tetapi pada hari ketiga Kana tetap tidak bisa pulang karena kue yang dimasak ibunya habis lagi sebab para bhikkhu pada hari itu berpindapatta ke rumah ibunya. Kemudian suami Kana yang menunggu istrinya tidak pulang-pulang, mengambil istri lagi. Kana menjadi amat marah kepada para bhikkhu. “Bhikkhu-bhikkhu ini telah menghancurkan rumah tanggaku.” Sejak saat itu apabila ia bertemu dengan para bhikkhu, ia selalu mencaci maki dan berlaku kasar. Akibatnya para bhikkhu tidak berani melalui jalan di depan rumah Ibu Kana lagi. Sang Buddha yang mengetahui hal itu, lalu pergi ke rumah Ibu Kana. Ibu Kana segera menyambut kedatangan Sang Buddha dan mempersilahkan Sang Guru Agung untuk duduk. Setelah memberikan hormat, ia lalu mempersembahkan bubur dan makanan-makanan lainnya. Selesai makan, Sang Buddha bertanya kepada Ibu Kana : “Mana Kana?” “Yang Mulia, ketika ia melihat Yang Mulia, ia merasa susah dan sekarang menangis.” “Apa alasannya?” “Yang Mulia, ia telah mencaci dan berlaku kasar kepada para bhikkhu. Jadi ketika ia melihat Yang Mulia datang kesini, ia merasa amat susah dan sekarang ia menangis.” Sang Guru Agung memanggil Kana dan bertanya : “Kana, mengapa ketika kamu melihatKu, kamu menjadi susah dan menyembunyikan diri sambil menangis?” Kemudian ibunya menceritakan apa yang telah terjadi kepada Sang Buddha. Sang Buddha lalu berkata : “Ibu Kana, apakah kamu memberikan kepada murid-muridKu apa-apa yang mereka terima, atau tidak?” “Saya memberikan kepada mereka apa-apa yang mereka terima, Yang Mulia.” “Apabila murid-muridKu mendatangi rumahmu ketika mereka berpindapatta dan menerima dana yang kamu berikan, apakah murid-muridKu melakukan kesalahan?” “Tidak, Yang Mulia, mereka tidak melakukan kesalahan, Kana sendiri yang bersalah.” Sang Buddha kembali bertanya kepada Kana : “Kana, saya mengetahui murid-muridKu mendatangi rumahmu ketika mereka berpindapatta dan ibumu memberikan kue-kue kepada mereka, apakah murid-muridKu melakukan kesalahan?” “Mereka tidak bersalah Yang Mulia, saya sendiri yang bersalah.” Setelah Kana menyadari kesalahannya, ia lalu memberikan hormatnya, dan mohon maaf atas kesalahan yang telah dilakukannya. Sang Buddha lalu memberikan nasehat dan mengajarkan Dhamma kepada Kana. Pada akhir khotbah, Kana mencapai Tingkat Kesucian Pertama (Sotapanna). Sang Buddha lalu bangun dari tempat duduk, dan pulang kembali ke Vihara Jetavana. Dalam perjalanan pulang menuju ke Vihara Jetavana, seorang Raja melihat Sang Buddha sedang berjalan melewati Istananya, Raja kemudian bertanya kepada pembantunya : “Bukankah itu Sang Buddha?” “Ya betul, Yang Mulia.” Lalu Raja itu mengirimkan salah satu pembantu utamanya untuk mengundang Sang Buddha mampir ke istananya : “Katakan kepada Sang Guru Agung, saya ingin menyampaikan hormat saya kepadaNya.” Ketika Sang Buddha tiba di istana, Raja menyambutnya, memberi hormat dan berkata : “Yang Mulia, dari manakah Anda?” “Saya baru saja dari rumah Ibu Kana, Yang Mulia Raja.” “Mengapa Anda pergi kesana, Yang Mulia?” “Saya mendapat informasi Kana mencaci maki dan berlaku kasar terhadap para bhikkhu, karena itulah Saya pergi ke sana.” “Dapatkah Anda hentikan kemarahannya, Yang Mulia?” “Tentu saja Yang Mulia Raja, ia sudah menghentikan kemarahannya, kini ia telah menjadi pemilik dari kekayaan yang melebihi kekayaan duniawi.” “Oh, luar biasa Yang Mulia, Anda telah membuatnya menjadi pemilik kekayaan yang melebihi kekayaan dunia, saya ingin membuatnya menjadi pemilik kekayaan di dunia ini.” Setelah Raja memberikan hormatnya kepada Sang Buddha, lalu Sang Buddha melanjutkan perjalanan menuju ke Vihara Jetavana. Sang Raja lalu mengirim kereta kencana yang sangat indah ke rumah Kana, mengundangnya untuk datang, dan menganggap Kana sebagai anaknya sendiri. Ia lalu mengumumkan : “Siapakah yang ingin mengambil Kana, anak perempuanku ini?” Ada seorang bijaksana yang kaya raya, yang mempunyai segalanya, menjawab : “Yang Mulia, saya ingin mengambil anak perempuanmu itu.” Setelah berkata demikian, ia lalu membawa pulang Kana, memberikan semua kekuasaan dan kekayaan yang dimilikinya kepada Kana dan berkata : “Anakku, lakukanlah perbuatan baik sesuai dengan keinginanmu.” Sejak itu Kana selalu berdana kepada semua bhikkhu yang datang untuk berpindapatta di ke empat pintu rumahnya. Ia lalu mencari bhikkhu yang lebih banyak lagi, karena ia ingin berdana lebih banyak lagi tetapi ia gagal menemukannya. Persediaan makanannya bertumpuk, baik makanan keras maupun lembut, selalu tersedia di rumah dan makanan itu mengalir keluar dari rumahnya seperti air bah saja. Para bhikkhu lalu membicarakan kejadian ini di salah satu ruangan vihara. “Beberapa waktu yang lalu, saudara, empat saudara kita melukai perasaan Kana. Tetapi Kana yang meskipun merasa terluka, ia mendapat berkah dan perlindungan langsung dari Sang Guru sendiri. Sang Guru telah membuat pintu rumahnya amat berharga untuk para bhikkhu yang datang. Sekarang ia tidak dapat menemukan bhikkhu atau bhikkhuni yang lebih banyak untuk dilayaninya. Oh, sungguh luar biasa kekuatan Guru Agung kita ini!” Sang Buddha lalu datang dan mengucapkan syair :
“Bagaikan danau yang dalam, airnya jernih dan tenang, demikian pula bathin para bijaksana menjadi tenteram karena mendengarkan Dhamma.” (Dhammapada, Pandita Vagga no. 7)

“Engkau Akan Segera Meninggal”

Pada waktu itu, Sang Buddha sedang bersemayam di Vihara Jetavana, Savatthi. Ketika itu lewatlah seorang pedagang kaya raya bernama Mahadhana. Ia membawa lima ratus kereta yang dipenuhi berbagai macam bahan baju yang indah-indah, yang dicelup dengan wewangian. Ia berangkat dari Benares untuk berdagang, menjual barang dagangannya itu ke Savatthi. Ketika ia sampai di tepi sungai besar di dekat Savatthi, karena lelah, ia lalu memutuskan : “Besok sajalah saya menyeberangi sungai ini, karena saya amat lelah.” Ia lalu menempatkan kereta-keretanya di tepi sungai dan bermalam disana. Ternyata pada malam itu turun hujan lebat, kilat menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Selama tujuh hari, hujan turun amat lebatnya, sehingga air sungai meluap, dan selama tujuh hari itu pula penduduk di sekitar tempat tersebut tidak dapat bekerja, hanya berdiam di dalam rumah saja. Akibatnya, Mahadhana si pedagang itu kehilangan kesempatan untuk menjual barang dagangannya. Pedagang itu berpikir : “Saya datang dari tempat yang jauh, kalau saya pulang kembali saya akan rugi besar, kalau begitu biar sajalah saya tetap disini selama musim hujan, musim gugur dan musim panas, sampai barang dagangan saya habis terjual.” Sang Guru Agung ketika itu sedang menerima dana dari umatnya dan berjalan melewati kota. Beliau tersenyum karena mengetahui tekad si pedagang. Bhikkhu Ananda yang mengiringiNya bertanya : “Mengapa Yang Mulia tersenyum?” Sang Buddha lalu berkata : “Ananda, apakah engkau melihat pedagang yang kaya raya itu?” “Ya, saya melihatnya, Yang Mulia.” “Ia tidak menyadari bahwa kehidupannya hampir berakhir, padahal ia mengambil keputusan untuk tinggal disana sepanjang tahun ini, untuk menjual barang dagangannya.” “Tetapi, Yang Mulia, apakah benar hidupnya akan segera berakhir?” “Ya, Ananda, ia hidup tinggal tujuh hari lagi, kemudian ia akan mati dimakan seekor ikan besar.” Kemudian Sang Buddha mengucapkan syair :
“Berbuatlah untuk dirimu sendiri, dan apa yang dapat dilakukan pada hari ini. Siapa yang mengetahui bahwa pada esok hari kematian akan datang? Kita tidak dapat melawan kematian dan bukanlah pemilik kematian.”
“Kebahagiaan adalah orang-orang yang hidup bersemangat pada siang dan malam hari, tidak khawatir meskipun ia hidup hanya satu malam. Ia amat tenang dan bijaksana.”
“Yang Mulia, saya akan pergi menemuinya dan mengatakan hal ini kepadanya.” “Pergilah Ananda.” Bhikkhu Ananda segera pergi mengunjungi Mahadhana. Pedagang kaya raya itu menyambut Bhikkhu Ananda dengan penuh hormat. Ia lalu mempersembahkan dana makanan dan lainnya. Setelah itu Bhikkhu Ananda bertanya : “Berapa lamakah anda berniat tinggal disini?” “Yang Mulia, saya datang dari tempat yang jauh, kalau sekarang saya kembali, saya akan menderita kerugian besar, jadi lebih baik saya tetap tinggal disini sepanjang tahun, setelah saya berhasil menjual barang dagangan ini, saya akan segera pulang.” “Saudara, apabila seseorang mengetahui kehidupannya akan segera berakhir, tentu saja amat sulit bagi orang itu untuk menerima kenyataan ini, tetapi bagaimanapun juga hal ini harus kita perhatikan.” “Mengapa, Yang Mulia, apakah hidup saya hampir berakhir?” “Ya, saudara, kamu hanya akan hidup tujuh hari lagi, kamu akan segera meninggal.” Mahadhana yang mendengar berita itu amat kaget, gelisah, bingung dan juga sedih. Setelah ia berhasil mengatasi segala kekacauan perasaannya, ia lalu mengundang Sangha yang dipimpin oleh Sang Buddha untuk menerima dana yang dipersembahkannya. Selama tujuh hari berturut-turut, Sang Buddha menerima undangannya. Pada hari ketujuh, Sang Buddha mengambil mangkuk dan jubahnya, lalu mengucapkan terima kasih dengan berkata : “Anakku, seseorang yang bijaksana tidak akan pernah membiarkan dirinya berpikir, ‘Disinilah saya akan tinggal selama musim hujan, musim gugur dan musim panas. Saya akan melakukan pekerjaan ini dan saya akan melakukan pekerjaan itu’. lebih baik seseorang bermeditasi pada akhir kehidupannya.” Sambil berkata demikian, Sang Buddha mengucapkan syair :
“Di sini aku berdiam selama musim hujan, di sini aku berdiam selama musim gugur dan musim panas, demikianlah pikiran orang bodoh yang tidak menyadari bahaya (kematian).” (Dhammapada, Magga Vagga no. 14)
Ketika Sang Buddha mengakhiri ucapannya pedagang itu memperoleh Tingkat Kesucian; demikian pula orang-orang yang hadir di sana memperoleh manfaat yang besar bagi diri mereka masing-masing setelah mendengarkan Dhamma yang diajarkan Sang Buddha sendiri. Pedagang itu mengantarkan Sang Buddha pergi setelah itu ia kembali ke tempatnya. “Oh, kepalaku ini sakit, pasti ada yang kurang beres,” katanya. Ia berbaring di tempat tidurnya. Tidak lama kemudian, ia meninggal dunia. Tetapi karena perbuatan baik yang amat besar telah dilakukannya di akhir kehidupannya, ia terlahir kembali di Alam Surga Tusita.