Sesudah Badai Berlalu ….. Tenang

Ketika itu Sang Buddha sedang bersemayam di Savatthi. Disana tinggal seorang ibu yang sering dipanggil dengan Kanamata atau ibu Kana. Ibu ini pengikut setia Sang Buddha, ia mempunyai seorang anak perempuan bernama Kana. Anak perempuannya ini sudah menikah dengan seorang laki-laki dari lain desa. Pada suatu waktu, Kana datang menengok ibunya. Beberapa hari kemudian suaminya mengirim pesan, supaya istrinya segera pulang ke rumah. Ibunya berkata : “Tunggulah sampai esok hari”, karena ia ingin membuat kue-kue untuk menantunya. Keesokkan harinya, Ibu Kana membuat kue, tetapi pagi itu lewat empat bhikkhu di depan pintu rumahnya untuk pindapatta. Ibu Kana lalu memberikan kue-kue itu kepada keempat bhikkhu itu. Keempat bhikkhu yang sudah menerima kue, bercerita kepada bhikkhu lainnya bahwa kue dari Ibu Kana enak sekali. Jadi, para bhikkhu yang lain juga berpindapatta kesana. Ibu Kana sebagai pengikut setia Sang Buddha, memberikan kue-kue yang dimasaknya. Akhirnya kue itu habis, tidak ada lagi yang tersisa untuk dibawa pulang anak perempuannya, Kana tidak jadi pulang ke rumahnya pada hari itu. Hari berikutnya, hal yang sama terjadi lagi, Ibu Kana membuat kue-kue, dan para bhikkhu berpindapatta lagi ke rumahnya, dan Ibu Kana memberikan kue-kuenya, akhirnya kue yang dimasaknya itu habis lagi, dan anak perempuannya tidak jadi pulang lagi. Pada hari ketiga, suami Kana mengirimkan pesan apabila pada hari itu Kana tidak pulang ke rumah, ia akan mencari isteri lagi. Tetapi pada hari ketiga Kana tetap tidak bisa pulang karena kue yang dimasak ibunya habis lagi sebab para bhikkhu pada hari itu berpindapatta ke rumah ibunya. Kemudian suami Kana yang menunggu istrinya tidak pulang-pulang, mengambil istri lagi. Kana menjadi amat marah kepada para bhikkhu. “Bhikkhu-bhikkhu ini telah menghancurkan rumah tanggaku.” Sejak saat itu apabila ia bertemu dengan para bhikkhu, ia selalu mencaci maki dan berlaku kasar. Akibatnya para bhikkhu tidak berani melalui jalan di depan rumah Ibu Kana lagi. Sang Buddha yang mengetahui hal itu, lalu pergi ke rumah Ibu Kana. Ibu Kana segera menyambut kedatangan Sang Buddha dan mempersilahkan Sang Guru Agung untuk duduk. Setelah memberikan hormat, ia lalu mempersembahkan bubur dan makanan-makanan lainnya. Selesai makan, Sang Buddha bertanya kepada Ibu Kana : “Mana Kana?” “Yang Mulia, ketika ia melihat Yang Mulia, ia merasa susah dan sekarang menangis.” “Apa alasannya?” “Yang Mulia, ia telah mencaci dan berlaku kasar kepada para bhikkhu. Jadi ketika ia melihat Yang Mulia datang kesini, ia merasa amat susah dan sekarang ia menangis.” Sang Guru Agung memanggil Kana dan bertanya : “Kana, mengapa ketika kamu melihatKu, kamu menjadi susah dan menyembunyikan diri sambil menangis?” Kemudian ibunya menceritakan apa yang telah terjadi kepada Sang Buddha. Sang Buddha lalu berkata : “Ibu Kana, apakah kamu memberikan kepada murid-muridKu apa-apa yang mereka terima, atau tidak?” “Saya memberikan kepada mereka apa-apa yang mereka terima, Yang Mulia.” “Apabila murid-muridKu mendatangi rumahmu ketika mereka berpindapatta dan menerima dana yang kamu berikan, apakah murid-muridKu melakukan kesalahan?” “Tidak, Yang Mulia, mereka tidak melakukan kesalahan, Kana sendiri yang bersalah.” Sang Buddha kembali bertanya kepada Kana : “Kana, saya mengetahui murid-muridKu mendatangi rumahmu ketika mereka berpindapatta dan ibumu memberikan kue-kue kepada mereka, apakah murid-muridKu melakukan kesalahan?” “Mereka tidak bersalah Yang Mulia, saya sendiri yang bersalah.” Setelah Kana menyadari kesalahannya, ia lalu memberikan hormatnya, dan mohon maaf atas kesalahan yang telah dilakukannya. Sang Buddha lalu memberikan nasehat dan mengajarkan Dhamma kepada Kana. Pada akhir khotbah, Kana mencapai Tingkat Kesucian Pertama (Sotapanna). Sang Buddha lalu bangun dari tempat duduk, dan pulang kembali ke Vihara Jetavana. Dalam perjalanan pulang menuju ke Vihara Jetavana, seorang Raja melihat Sang Buddha sedang berjalan melewati Istananya, Raja kemudian bertanya kepada pembantunya : “Bukankah itu Sang Buddha?” “Ya betul, Yang Mulia.” Lalu Raja itu mengirimkan salah satu pembantu utamanya untuk mengundang Sang Buddha mampir ke istananya : “Katakan kepada Sang Guru Agung, saya ingin menyampaikan hormat saya kepadaNya.” Ketika Sang Buddha tiba di istana, Raja menyambutnya, memberi hormat dan berkata : “Yang Mulia, dari manakah Anda?” “Saya baru saja dari rumah Ibu Kana, Yang Mulia Raja.” “Mengapa Anda pergi kesana, Yang Mulia?” “Saya mendapat informasi Kana mencaci maki dan berlaku kasar terhadap para bhikkhu, karena itulah Saya pergi ke sana.” “Dapatkah Anda hentikan kemarahannya, Yang Mulia?” “Tentu saja Yang Mulia Raja, ia sudah menghentikan kemarahannya, kini ia telah menjadi pemilik dari kekayaan yang melebihi kekayaan duniawi.” “Oh, luar biasa Yang Mulia, Anda telah membuatnya menjadi pemilik kekayaan yang melebihi kekayaan dunia, saya ingin membuatnya menjadi pemilik kekayaan di dunia ini.” Setelah Raja memberikan hormatnya kepada Sang Buddha, lalu Sang Buddha melanjutkan perjalanan menuju ke Vihara Jetavana. Sang Raja lalu mengirim kereta kencana yang sangat indah ke rumah Kana, mengundangnya untuk datang, dan menganggap Kana sebagai anaknya sendiri. Ia lalu mengumumkan : “Siapakah yang ingin mengambil Kana, anak perempuanku ini?” Ada seorang bijaksana yang kaya raya, yang mempunyai segalanya, menjawab : “Yang Mulia, saya ingin mengambil anak perempuanmu itu.” Setelah berkata demikian, ia lalu membawa pulang Kana, memberikan semua kekuasaan dan kekayaan yang dimilikinya kepada Kana dan berkata : “Anakku, lakukanlah perbuatan baik sesuai dengan keinginanmu.” Sejak itu Kana selalu berdana kepada semua bhikkhu yang datang untuk berpindapatta di ke empat pintu rumahnya. Ia lalu mencari bhikkhu yang lebih banyak lagi, karena ia ingin berdana lebih banyak lagi tetapi ia gagal menemukannya. Persediaan makanannya bertumpuk, baik makanan keras maupun lembut, selalu tersedia di rumah dan makanan itu mengalir keluar dari rumahnya seperti air bah saja. Para bhikkhu lalu membicarakan kejadian ini di salah satu ruangan vihara. “Beberapa waktu yang lalu, saudara, empat saudara kita melukai perasaan Kana. Tetapi Kana yang meskipun merasa terluka, ia mendapat berkah dan perlindungan langsung dari Sang Guru sendiri. Sang Guru telah membuat pintu rumahnya amat berharga untuk para bhikkhu yang datang. Sekarang ia tidak dapat menemukan bhikkhu atau bhikkhuni yang lebih banyak untuk dilayaninya. Oh, sungguh luar biasa kekuatan Guru Agung kita ini!” Sang Buddha lalu datang dan mengucapkan syair :
“Bagaikan danau yang dalam, airnya jernih dan tenang, demikian pula bathin para bijaksana menjadi tenteram karena mendengarkan Dhamma.” (Dhammapada, Pandita Vagga no. 7)
%d bloggers like this: