Sumana Si Tukang Kebun

Kisah tentang tukang kebun yang bernama Sumana ini diceritakan oleh Sang Guru ketika beliau berdiam di Veluvana.
Diceritakan bahwa pada setiap pagi hari, si tukang kebun Sumana biasanya melayani pesanan Raja Bimbisara dengan mengirimkan delapan genggam bunga jasmine, seharga delapan keping uang. Pada suatu pagi, ketika dia baru saja memasuki kota dengan membawa delapan genggam bunga jasmine untuk diserahkan kepada Raja, dia melihat Sang Buddha yang diikuti dengan sekelompok besar para bhikkhu. Dari tubuh Beliau memancar cahaya enam warna yang amat indah, dengan segala keagungannya, memasuki kota untuk berpindapata.
Ketika Sumana melihat Sang Buddha, dia merasa bagaikan memperoleh suatu anugerah emas dan batu permata yang tiada tara. Melihat keagungan dan kebesaran ke tiga puluh dua tanda utama dan delapan tanda seorang Manusia Sempurna, Sumana berpikir :
‘Apakah yang dapat saya lakukan untuk Yang Maha Sempurna?’
Karena dia tidak menemukan sesuatu yang dapat dilakukannya, dia lalu berpikir :
‘Saya akan melakukan penghormatan kepada Sang Guru Agung dengan mempersembahkan bunga-bunga ini.’
Kemudian dia berpikir lagi:
‘Ini adalah bunga-bunga yang biasanya saya persembahkan kepada Raja. Bila saya tidak mempersembahkan bunga-bunga ini kepada Raja, maka Raja mungkin akan memasukkan saya ke penjara, atau membunuh atau mengusir saya. Apa yang harus saya lakukan ?’
Kemudian timbullah tekadnya yang amat kuat untuk berbuat kebaikan :
‘Biarlah Raja membunuh atau mengusir saya dari kerajaannya. Apapun yang diberikan oleh Raja kepada saya, pemberian Raja hanya bisa saya nikmati sepanjang hidup saya pada kelahiran saat ini. Tetapi bila saya memuja Sang Buddha, hal ini menghasilkan kebahagiaan dan keselamatan untuk waktu yang tidak terbatas.’
Dengan tekad dan keyakinannya yang amat kuat, dia telah menyerahkan hidupnya kepada Sang Tathagata.
Sumana berpikir :
‘Saya tidak akan berubah keyakinan, saya akan memuja Sang Guru Agung.’
Dengan perasaan senang, bahagia dan bangga, dia memuja Sang Buddha. Bagaimana cara dia melakukannya? Pertama-tama dia melemparkan dua genggam penuh bunga ke arah Sang Guru. Bunga-bunga ini tergantung di udara, membentuk sebuah payung bunga di atas kepala Beliau. Kemudian si tukang kebun melemparkan dua genggam bunga lagi, bunga-bunga itu turun ke sisi kanan Sang Buddha dan tergantung di situ bagaikan gorden yang indah dari sebuah paviliun. Dua genggam lagi yang dilemparkan berikutnya, turun di belakang Sang Guru dan tergantung di situ. Dua genggam terakhir yang dilemparkannya, jatuh di sisi kiri Sang Guru dan tergantung di situ. Jadi delapan genggam bunga mengelilingi Sang Guru di ke empat sisi.
Di hadapan Sumana, seolah-olah ada pintu gerbang yang bisa dimasukinya, ranting-ranting bunga tumbuh ke arah dalam dan kelopak bunga tumbuh ke arah luar. Yang Maha Agung berjalan bagaikan berada di atas sebuah piring perak. Bunga-bunga di sekeliling Sang Guru, bagaikan mahluk hidup yang memiliki kepandaian, tidak terpecah atau jatuh, mengikuti kemana pun Sang Guru pergi, dan akan berdiam di tempatnya ketika Sang Guru berhenti berjalan. Dari tubuh Sang Buddha memancar cahaya bagaikan seribu pancaran kilat. Pancaran cahaya yang indah ini memancar dari depan dan belakang, kiri dan kanan, juga dari atas kepala Sang Guru. Ketika Beliau meneruskan perjalanan dan bertemu dengan orang-orang, tidak seorangpun yang melarikan diri, mereka malah melakukan pradaksina mengelilingi Beliau. Dan orang-orang berlarian mendatangi Beliau, seluruh kota menjadi gempar. Pada saat itu ada Sembilan puluh ribu orang yang tinggal di dalam kota dan Sembilan puluh ribu orang tinggal di luar kota itu. Dan di antara ke seratus delapan puluh ribu orang ini, tidak seorangpun yang datang tanpa membawa persembahan. Dengan bersorak sorai bagaikan auman singa, dan melambai-lambaikan kain, kumpulan orang-orang ini berjalan mengiringi Sang Guru Agung. Agar orang-orang mengetahui perbuatan baik yang telah dilakukan oleh Sumana, Sang Buddha meneruskan perjalanan di sepanjang kota sejauh tiga league ( 1 league=4,8 kilometer) menuju tempat gendang yang sedang dibunyikan. Tubuh Sumana bagaikan diselimuti oleh lima macam perasaan bahagia yang luar biasa. Setelah beberapa saat mengikuti Sang Tathagata, dia memasuki pancaran cahaya yang memancar dari tubuh Sang Buddha, bagaikan menceburkan dirinya ke dalam lautan cahaya, dia memuja Sang Guru, memberikan penghormatan kepada Beliau, lalu mengambil keranjangnya dan pulang ke rumah dengan penuh kebahagiaan.
Sesampai di rumah, isterinya bertanya :
“Di mana bunga-bungamu?”
“Saya sudah mempersembahkannya kepada Sang Buddha.”
“Sekarang bunga apa yang dapat kamu persembahkan kepada raja?”
“Raja mungkin akan membunuh atau mengusir saya dari kerajaannya. Saya telah menyerahkan hidup saya kepada Sang Buddha dan memberi penghormatan kepada Beliau. Saya mempunyai delapan genggam bunga dan dengan bunga inilah saya melakukan penghormatan kepada Sang Guru. Penduduk mengikuti Sang Guru, menyerukan seribu kata-kata pujian. Seruan pujian dari penduduklah yang terdengar hingga ke tempat ini.”
Isteri Sumana adalah seorang yang bodoh, sehingga dia tidak bisa mempercayai keajaiban seperti itu. Dia membantah suaminya dan berkata :
“Para Raja kasar dan kejam, bila seseorang melawan, Raja akan menghukumnya dengan memotong tangan dan kakinya dan menghukumnya dengan hukuman-hukuman lainnya. Saya akan mendapatkan hukuman, akibat dari perbuatan yang engkau lakukan.”
Dengan membawa anak-anaknya, dia pergi ke istana menemui Raja. Ketika Raja bertanya, dia berkata :
“Yang Mulia, suami saya telah mempersembahkan bunga-bunga kepada Sang Buddha, yang seharusnya dipersembahkan kepada Anda, dan pulang dengan tangan kosong. Saya menegurnya dan berkata: ‘Para Raja kasar dan kejam, bila dilawan, mereka akan menghukum dengan memotong tangan dan kaki atau menghukum dengan hukuman-hukuman yang lain. Saya akan mendapatkan hukuman karena pelanggaran yang telah dilakukannya. ‘Jadi saya meninggalkannya. Apa yang telah dilakukan oleh suami saya mungkin baik atau jahat. Yang lebih penting bagi saya adalah Anda, Yang Mulia, saya hanya ingin menyampaikan kepada Anda bahwa saya telah meninggalkannya.”
Raja adalah seorang murid Sang Buddha yang telah mencapai tingkat kesucian. Pada saat pertama kali bertemu dengan Sang Buddha, dia telah memiliki keyakinan yang teguh dan batinnya sudah tenang. Dia berpikir :
‘Oh, wanita ini sungguh-sungguh bodoh ! Sehingga dia tidak memiliki keyakinan di dalam perbuatan baik seperti ini.’
Namun Raja berlagak marah dan berkata kepada isteri Sumana:
“Apa katamu? Sumana mempersembahkan bunga-bunga kepada Sang Guru, yang semestinya dipersembahkan kepadaku ?”
“Ya, Yang Mulia.”
“Engkau telah bertindak benar dengan meninggalkannya. Saya harus menemukan jalan untuk menangani Sumana, karena dia telah mempersembahkan bunga-bunga milik saya kepada orang lain.”
Setelah mempersilahkan isteri Sumana pergi, Raja segera menemui Sang Guru, menghormat kepada Beliau dengan bernamaskara, dan berjalan, dengan Sang Guru. Sang Buddha mengetahui bahwa batin Raja dalam keadaan tenang. Beliau melanjutkan perjalanan ke kota melalui di mana gendang ditabuh, hingga Beliau tiba di pintu gerbang istana Raja. Raja mengambil mangkuk Sang Buddha dan mengundang Beliau masuk, tetapi Sang Guru menyatakan keinginan beliau untuk duduk di halaman istana. Raja menyetujui keinginan beliau dan segera memberikan perintah :
“Segera dirikan sebuah paviliun.”
Demikianlah sebuah paviliun segera dibangun, Sang Guru duduk di situ, dikelilingi oleh para bhikkhu.
Mengapa Sang Buddha tidak masuk ke Istana Raja? Diceritakan bahwa Sang Buddha berpikir demikian :
‘Bila Saya masuk dan duduk di dalam istana, penduduk tidak akan dapat melihat Saya, demikian juga perbuatan baik yang telah dilakukan oleh Sumana, tidak dapat diketahui oleh banyak orang, namun bila Saya duduk di halaman istana, penduduk dapat melihat Saya, dan perbuatan baik Sumana dapat diketahui oleh semua orang.’
Kumpulan bunga-bunga yang mengelilingi Sang Buddha tetap berada di ke empat sisi. Penduduk menunggu dengan tenang, Raja melayani Sang Guru dan para bhikkhu dengan mempersembahkan makanan pilihan. Setelah selesai bersantap, Sang Guru menyampaikan anumodana, dengan dikelilingi oleh para bhikkhu dan kumpulan bunga di keempat sisi, dan disertai kumpulan orang-orang yang menyerukan kegembiraan mereka, melanjutkan perjalanan menuju vihara.
Raja menemani Sang Buddha untuk beberapa saat, kemudian kembali ke istana. Kemudian Raja memanggil Sumana dan bertanya kepadanya :
“Sumana, apa yang kamu ucapkan ketika menghormat kepada Sang Guru?”
Sumana menjawab :
“Yang Mulia, saya menyerahkan hidup saya kepada Sang Buddha dan dengan menghormat kepada Beliau saya berkata : “Raja mungkin akan membunuh atau mengusir saya dari kerajaannya.”
Raja berkata :
“Sumana, engkau orang yang baik.”
Setelah berkata demikian Raja menghadiahkan Sumana delapan ekor gajah, delapan ekor kuda, delapan orang pelayan pria, delapan orang pelayan wanita, delapan set perhiasan yang indah, delapan ribu keping uang, delapan orang wanita yang dipilih dari istana, dihiasi dengan hiasan-hiasan yang indah dan delapan desa pilihan. Raja menghadiahinya dengan hadiah berkelipatan delapan.
Yang Mulia Ananda berpikir :
“Sorak kegembiraan dan pujian telah berlangsung sepanjang hari, sejak pagi hari. Apakah hasil yang akan diterima oleh Sumana?”
Yang Mulia Ananda lalu bertanya kepada Sang Guru. Sang Guru menjawab :
“Ananda, janganlah mengira bahwa apa yang telah dilakukan oleh Sumana hanyalah suatu perbuatan yang kecil artinya. Dia telah menyerahkan hidupnya kepadaKu dan memberikan penghormatan kepadaKu. Oleh karena keyakinannya kepadaKu, dia tidak akan mengalami penderitaan selama seratus ribu putaran waktu, dia akan memperoleh buah dari perbuatan baiknya di Alam Para Dewa dan di alam manusia, dan kelak akan menjadi seorang Pacceka Buddha dengan nama Sumana.”
Pada malam harinya, para bhikkhu memulai suatu diskusi di Dhammasala :
“Oh, betapa hebat akibat perbuatan baik dari Sumana! Dia menyerahkan hidupnya kepada Sang Buddha yang masih hidup, memberikan penghormatan kepada Beliau dengan persembahan bunga-bunga, dan langsung memperoleh pemberian berkelipatan delapan.”
Sang Buddha keluar dari Kuti Beliau, berjalan menuju Dhammasala, dan duduk di Tempat Duduk Buddha, lalu bertanya kepada para Bhikkhu :
“Para Bhikkhu, apakah yang sedang kalian diskusikan ?”
Ketika mereka memberitahukan, Beliau berkata :
“Demikianlah, para Bhikkhu, seseorang hendaknya hanya melakukan perbuatan yang baik, perbuatan yang tidak diikuti dengan perasaan menyesal, namun dengan mengenang perbuatan tersebut akan menimbulkan kebahagiaan.”
Sang Buddha lalu bergabung dengan para bhikkhu dan membabarkan Dhamma yang Mulia kepada mereka, Beliau lalu mengucapkan syair:
“Perbuatan baik itu dilakukan dengan baik,Setelah melakukannya dia tidak menyesal.Hasil dari perbuatan tersebut,Akan diterima dengan kebahagiaan dan kesenangan”
%d bloggers like this: