Yang Ariya Sona Theri

Yang Ariya Sona Theri

Walaupun seseorang hidup seratus tahun, tetapi malas dan tidak bersemangat, maka sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari dari orang yang berjuang penuh dengan semangat.

Sona adalah seorang ibu rumah tangga yang mempunyai sepuluh orang anak. Beliau merawat, mengasuh, membesarkan, mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Seluruh hidupnya dicurahkan hanya untuk anak-anaknya, oleh karena itu ia dikenal sebagai Sona “Si Banyak Anak”.

Suami Sona adalah pengikut Sang Buddha, ia belajar banyak mengenai kehidupan. Setelah beberapa tahun menjadi kepala rumah tangga, suami Sona memutuskan untuk terbebas dari belenggu kehidupan dengan cara menjalani kehidupan suci. Dengan persetujuan Sona sebagai isterinya, suami Sona meninggalkan keluarganya, menjalani kehidupan suci dan ditahbiskan (upasampada) sebagai bhikkhu. Sona menjadi orang tua tunggal yang menghidupi dan merawat kesepuluh anak-anaknya itu dengan susah payah.

Waktu berlalu, Sona telah tua, dan anak-anaknya telah berkeluarga. Sona banyak menghabiskan waktunya pada kegiatan-kegiatan keagamaan. Walaupun demikian Sona yang telah tua, merasa takut dan cemas menghadapi hari tuanya. Sona merasa ia hanya menjadi beban bagi keluarga anak-anaknya saja. Sona takut akan kesepian, ditinggalkan oleh anak-anaknya.

“Aku sekarang sudah tua, sudah tidak seperti dulu lagi, akankah anak-anakku menyokongku…, memperhatikanku…, merawatku ketika sakit, seperti aku merawat mereka, bagaimanakah aku nanti…?” Sona menyadari kenyataan bahwa ia tidak dapat menggantungkan hidupnya kepada anak-anaknya, tapi harus bergantung kepada diri sendiri.

Pemikiran ini, membuat Sona memutuskan untuk mengikuti jalan hidup suaminya, yaitu menjalani kehidupan suci dan menjadi anggota Sangha Bhikkhuni, sehingga ia dapat mengembangkan cinta kasih dan sifat-sifat kebajikan.

Saat memasuki Sangha Bhikkhuni, Sona yang sudah lanjut usia itu membawa kebiasaan-kebiasaannya sendiri, ia harus menghadapai hal-hal baru yang tidak pernah dilakukannya, sehingga sering mendapat kritik dan saran dari para bhikkhuni lainnya yang lebih muda, namun memiliki vassa yang lebih banyak. Sona menyadari bahwa tidak mudah untuk mencapai pencerahan, harus berlatih dengan giat dan penuh semangat.

Dengan usianya yang telah lanjut, Sona merasa tidak banyak waktu lagi untuk berlatih sebelum meninggalkan dunia ini. Oleh karena itu, Sona berlatih meditasi dengan giat. Setiap malam ia habiskan waktunya untuk bermeditasi dengan sikap duduk dan sikap berjalan, dan Sona hanya tidur sebentar.

Dalam kegelapan malam, Sona berlatih meditasi jalan sambil memegang pilar demi pilar vihara, berjaga-jaga agar tidak tersandung benda.

Dengan usahanya yang giat, tanpa mengenal lelah, ia sendirian di dalam ruangan vihara, dimana para bhikkhuni lainnya sedang keluar, Sona mencapai Tingkat Kesucian Arahat. Dia menggambarkan dalam kata-katanya sendiri terdapat dalam Apadana :

Pada saat para bhikkhuni lainnya
meninggalkanku sendiri di vihara
Mereka telah memberikanku instruksi
Merebus seketel air

Mengambil air
Menuangkannya ke dalam ketel
Menaruh ketel di atas kompor dan duduk
Kemudian pikiranku menggubah

Aku melihat bahwa
Sesuatu tidak kekal,
Aku melihat sesuatu
sebagai penderitaan dan tidak berinti
Melepaskan segala kekotoran batin
Di sana aku mencapai Arahat

%d bloggers like this: