Kekuatan Pikiran Baik

Ibuku yang sudah menjanda boleh dikatakan sangat miskin dan bergantung padaku dalam masalah keuangan. Karena aku sendiri tidak bisa di golongkan kaya, hal ini merupakan tekanan berat bagiku. Kelihatannya aku bisa selalu menanggung beban ini dengan tenang dan santai, tapi kadang kadang aku suka kehilangan kesabaran. Begitulah yang terjadi bulan lalu, ketika penyejuk ruangan ibuku mendadak mati pada saat gelombang musim panas yang paling parah melanda.

Selama beberapa bulan sebelumnya, ibuku banyak sekali meminta uang. Ada beberapa pengeluaran ekstra, selain yang sudah rutin. Rekening – rekening untuk dokter, pakaian musim panas, liburan singkat di tepi pantai. Kelihatannya hampir setiap hari ia meneleponku untuk minta aku membayar sesuatu. Jadi ketika ia meneleponku dan mengatakan bahwa ia memerlukan penyejuk ruangan yang baru, aku meledak marah “Tidak sekarang!” teriaku sambil membanting telepon keras – keras. Malam itu aku pulang lebih lambat dari kantor dan mendapati apartmentku panas seperti ruangan untuk sauna.

Begitu aku membuka pintu, udara panas menerpaku, butir butir keringat mulai membasahi wajah dan tubuhku. ” untunglah gedung ini memiliki sistem penyejuk ruangan sentral,” kataku pada diri sendiri, sambil menyalakan AC. Kutunggu udara dingin mengalir keluar, tapi tidak terjadi apapun. Sekonyong konyong aku menyadari bahwa sejak tadi tidak terdengar dengung pelan menggema yang selalu menandakan bahwa penyejuk ruangan sentral itu berfungsi. “astaga, aku menggerutu sendiri, penyejuk ruangan sentral ini rusak, padahal biasanya tidak pernah begini… padahal malam ini adalah malam paling panas sepanjang tahun!”

saat itu pukul sebelas malam, sudah terlalu larut untuk memanggil tukang reparasi. Berarti aku mesti mandi keringat samapi besok pagi. Malam itu aku merasa sangat tidak nyaman, sampai sampai tidak bisa tidur. Berkali kali aku mandi dan meneguk minuman dingin, tapi tidak ada gunanya.

Diluar panas luar biasa, dan aku merasa sangat menderita. Sekonyong konyong aku terduduk di tempat tidur. “Oh Buddha, pikirku dengan rasa bersalah. ” Ibuku yang malang, kalau aku yang berusia tiga puluh tahun dan sehat walafiat ini bisa begitu menderita, bagaimana dengan ibuku? kenapa aku begitu tidak sensitif dan tidak peduli?” Aku diliputi oleh rasa malu dan bersalah atas sikapku yang jahat kemarin, betapa aku tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Barangkali aku tidak benar – benar mengerti, betapa menyengsarakan udara panas itu. Alhirnya dengan rusaknya penyejuk ruanganku, aku diberikan kesempatan untuk merasakan sedikit apa yang dialami ibuku. Besok pagi aku akan langsung membelikannya penyejuk ruangan!” aku mengambil keputusan saat itu juga.” Aku tidak akan berangkat kerja sebelum memastikan penyejuk ruangan itu dipasang dikamar ibuku. Tidak sebaiknya aku bukan hanya membelikan satu penyejuk ruangan…, melainkan satu untuk setiap ruangan di rumahnya. ” merasa puas membayangkan apa yang akan kulakukan, aku berbaring kembali dan memejamkan mata.

Sekonyong konyong kudengar suara paling indah di dunia: bunyi mesin penyejuk ruangan dan dengungannya yang kutunggu tunggu. Udara dingin keluar melalui pipa udara. Aku tercekat heran dan tidak percaya akan timing yang begitu luar biasa ini. Lalu tahulah aku : penyesalanku diterima.

Catatan : Kita mengira tindakan nyata merupakan satu satunya cara yang mungkin untuk menunjukan kebajikan kita. Tapi sebenarnya pikiran untuk melakukan perbuatan baik pun sudah cukup kuat untuk menimbulkan perubahan di alam semesta.

Taken from : Small Miracles By Yitta Halberstam & Judith

Advertisements

Alam – Alam Kehidupan

ALAM – ALAM KEHIDUPAN

Menurut pandangan agama Buddha, bumi kita ini hanya merupakan salah satu titik kecil saja di alam semesta, dan bumi bukan merupakan satu satunya tempat kehidupan makhluk. Juga bukan hanya manusia dan binatang yang merupakan makhluk yang hidup di bumi ini. Jumlah bumi di alam semesta ini banyak sekali dan begitu pula dengan makhluk hidup. Kelahiran dapat terjadi di alam yang lain, Ada 31 alam kehidupan yang dapat menjadi tempat kelahiran kembali makhluk berdasarkan pada karma baik atau buruk dari makhluk yang bersangkutan.

Ada empat alam tak menyenangkan ( dugati ) yaitu :

1. Niraya ( Ni + Aya : tanpa kebahagiaan )
yaitu alam menyedihkan tempat makhluk makhluk menerima dan mengalami hasil dari perbuatan karma buruk. Niraya terkenal juga sebagai neraka, tetapi bukan merupakan neraka yang kekal bagi makhluk. Setelah kekuatan karma buruknya melemah maka makhluk itu dapat terlahir kembali di alam yang lebih baik atau menyenangkan sebagai akibat dari karma baik mereka yang lampau.

2. Tiracchana yoni
yaitu alam binatan, makhluk yang terlahir menjadi binatang karena adanya karma buruk. Binatang dapat terlahir kembali di alam manusia sebagai manusia karena hasil dari karma baiknya yang lampau maupun sekarang. Walaupun hidup sebagai binatang, namun ada binatang binatang tertentu ( anjing, kucing dan lain lain ) yang hidup lebih baik daripada manusia. Kehidupan yang baik dari binatang binatang tersebut karena hasil dari karma baiknya yang lampau.

3. Peta
yaitu makhluk yang tak merasakan kesenangan. Makhluk makhluk di alam peta ini adalah setan atau hantu. Peta merupakan makhluk – makhluk yang berbentuk tak sempurna masing – masing dalam keadaan mereka yang berbeda beda bentuk. Dalam Anguttara Nikaya disebutkan bahwa ada tukang jagal yang terlahir menjadi peta.

Ada empat macam peta yaitu :
1. Vantasika yaitu peta yang hidup dari muntah
2. Khuppipasika yaitu peta yang selalu lapar dan haus
3. Nijjhamatanhika yaitu peta yang selalu haus
4. Paradattupajivika yaitu peta yang hidup berdasarkan dana dari orang lain
Paradattupajivika Peta yang disebutkan dalam Tirokudda Sutta adalah peta yang bila mendapat pembagian atau kiriman jasa dari keluarganya maka ia akan dapat terlahir kembali di alam yang lebih baik atau menyenangkan.

4. Asura
yaitu alam tempat setan asura. Asura secara harfiah berarti makhluk yang tak bersinar, Asura
Merupakan merupakan makhluk yang tak bahagia seperti Peta.

Tujuh alam menyenangkan ( sugati ) yaitu :

1. Manussa
yaitu alam manusia, alam manusia merupakan alam campuran antara menyenangkan dan
menyedihkan. Para Bodhisattva memilih alam manusia sebagai alam yang tepat untuk melayani dunia dan untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha, Para Buddha selalu lahir sebagai manusia.

2. Catummaharajika merupakan alam terindah dari alam surga
Alam ini merupakan alam kehidupan dari para dewa pelindung di empat penjuru bersama para pengikut mereka. Dewa pohon, Dewa bumi, Dewa angkasa dan lain lain termasuk dalam alam dewa ini.

3. Tavatimsa yaitu alam surga dari tiga puluh tiga dewa yang merupakan alam dari raja dewa sakka. Dalam alam surga ini Sang Buddha mengajarkan Abhidhamma kepada Para Dewa selama tiga bulan.

4. Yama
yaitu alam surga para Dewa Yama.

5. Tursita
yaitu alam surga menyenangkan
Biasanya Para Bodhisattva yang hampir sempurna paramita mereka hidup di alam surga ini. Alam surga ini merupakan alam terakhir bagi Bodhisattva sebelum terlahir di alam manusia sebagai manusia dan menjadi Samma Sambuddha.
Ratu Maya Devi, setelah tujuh hari melahirkan Pangeran siddartha, meninggal dunia dan terlahir di alam ini. Dari alam ini beliau ke alam surga Tavatimsa untuk mendengar Abhidhamma yang diajarkan Sang Buddha.

6. Nimmanati
yaitu alam surga dari Para Dewa yang menikmati kesenangan istana – istana yang diciptakan.

7. Paranommitavasavatti
yaitu alam surga dari Para Dewa yang menikmati ciptaan – ciptaan Para Dewa lain. Kehidupan Para Dewa di alam ini bagaikan orang yang selalu diundang ke pesta yang besar, meriah dan mewah.

Enam alam yaitu Alam Catummaharajika, Tavatimsa, Yama, Tursita, Nimmanarati dan Paranimmitavasavatti merupakan alam surga dari Para Dewa yang tubuh fisik mereka adalah lebih halus dan lebih bersih dari tubuh manusia. Tubuh Para Dewa tak dapat dilihat oleh mata fisik manusia biasa. Makhluk di alam alam surga ini pada suatu saat akan meninggal atau lenyap dari alamnya masing masing. Walaupun kehidupan Para Dewa di alam surga lebih menyenangkan atau melebihi kehidupan manusia, namun kesucian dan kebijaksanaannya belum tentu melampaui kesucian dan kebijaksanaan manusia.

Makhluk – makhluk yang terlahir di alam ini berdasarkan karma baik mereka seperti melaksanakan dana, sila dan perbuatan karma baik lain. Tapi bila karma baik mereka telah habis dan tak sempat mengembangkan batin dengan belajar dan melaksanakan dhamma maka Para Dewa akan menemui ajal dan terlahir kembali di alam Dewa yang lebih rendah atau di alam manusia.

Empat alam tak menyenangkan ( dugati ) dan tujuh alam menyenangkan ( sugati ) di klasifikasikan sebagai alam nafsu ( kamaloka ) karena dalam sebelas alam ini, nafsu keinginan sangat kuat.
Lebih tinggi dari alam nafsu ( kamaloka ) adalah alam – alam Brahma atau rupa loka ( alam bentuk ) dimana makhluk makhluk menikmati kesenangan jhana yang dihasilkan oleh meditasi. Makhluk makhluk di alam alam ini tak memiliki nafsu inderiya dan mereka pun tak memiliki kelamin.

Rupaloka terdiri dari 16 alam dibagi sesuai dengan tingkat jhana yang dicapai yaitu :

Alam jhana pertama
1. Brahma Parisajja – Alam Pengikut Brahma
2. Brahma Purohita – Alam Para Menteri Brahma
3. Maha Brahma – Alam Maha Brahma

Alam alam ini dicapai oleh seseorang apabila ia meninggal pada saat berada dalam meditasi dan
Mencapai jhana I. Jika jhana I kuat sekali maka ia terlahir di alam Maha Brahma apabila sedang
Akan terlahir di alam Brahma Purohita dan seterusnya. Dari ketiga alam jhana I ini, Maha Brahma
Melebihi kedua alam lain dalam hal kebahagiaan, keindahan dan batas manusia.

Alam jhana kedua
4. Parittabha – Alam Brahma Cahaya Kecil
5. Appamanbha – Alam Brahma Cahaya Tanpa Batas
6. Abhassara – Alam Brahma Gemerlapan

Alam jhana ketiga
7. Parittasubha – Alam Brahma Aura Kecil
8. Appamanasubha – Alam Brahma Aura Tanpa batas
9. Subhakinha – Alam Brahma Aura Tetap

Alam jhana keempat
10. vehapphala – Alam Brahma Pahala Besar
11. Asannasatta – Alam Brahma Tanpa Pikiran
Dikatakan bahwa bila pada makhluk Asannasatta muncul pikiran maka Ia lenyap dari alam ini dan terlahir di alam lain.

Lima alam berikut disebut alam Suddhavasa atau alam kediaman suci yaitu :
12. Aviha
13. Atappa
14. Sudassa
15. Sudassi
16. Akanittha

Makhluk yang dapat terlahir di lima alam suddhavassa ini hanya para Anagami, yaitu Para Anagami yang tak melaksanakan meditasi atau yang tak meninggal pada saat berada dalam jhana I, II, III atau IV. Jika Anagami berada dalam jhana maka ia akan terlahirdi alam sesuai dengan jhana yang dicapainya. Orang biasa, sotapana maupun sakadagami yang telah mencapai jhana keempat tidak dapat terlahir kembali di salah satu alam Suddhavassa ini, kecuali di alam Vehapphala atau Asannasatta. Anagami yang mencapai jhana IV dan meninggal pada saat berada dalam jhana ke IV akan terlahir kembali di alam Vehapphala atau alam Asannasatta.

Disamping alam betuk ( Rupaloka) ada alam tanpa bentuk ( Arupaloka). Alam Arupa adalah alam tanpa jasmani, dalam Arupaloka tidak ada kelamin. Alam ini dicapai setelah seseorang sukses dengan Rupa jhana. Arupaloka terdiri dari empat alam yaitu :

17. Akasanancayatana – Alam Ruang Tanpa Batas
18. Vinnanancayatana – Alam Kesadaran Tanpa Batas
19. Akincanacayatana – Alam Kekosongan
20. N’eva Sanna na sanayatana – Alam Bukan Ide maupun Bukan Tidak Ide

Makhluk – makhluk yang belum melenyapkan semua kekotoran batinnya akan terlahir kembali di salah satu dari 31 alam berdasarkan pada perbuatannya. Bagi Para Arahat atau Buddha yang telah melenyapkan semua kekotoran batin, bila mereka meninggal dunia tidak akan terlahir kembali di salah satu dari 31 alam. Ketika Para Arahat dan Para Buddha meninggal, mereka Parinibbana atau mencapai nirvana secara total.

Hukum Karma

HUKUM KARMA

Salah satu masalah yang selalu dipikirkan manusia sejak zaman dahulu sampai sekarang adalah masalah tentang keadaan sesudah kematian. Apakah yang terjadi sesudah kehidupan ini ? Apakah seseorang lenyap setelah meninggal dunia atau apakah ia tetap hidup sesudah kematian ? jika ia tetap hidup sesudah kematian, bagaimana keadaannya dalam kehidupan yang baru itu ? Semua pertanyaan yang membingungkan ini telah berkali kali dicoba untuk dijawab sejak masa yang lampau. Pertanyaan pertanyaan ini merupakan teka teki klasik yang selalu muncul dalam pikiran manusia.

Di India kepercayaan pada kelahiran kembali atau adanya kehidupan baru sesudah kematian merupakan karakteristik dari berbagai ajaran agama sejak dahulu. Kelahiran kembali tidak dapat dipisahkan dengan hukum karma. Ajaran agama Buddha maupun ajaran ajaran agama lain di india mengajarkan hukum karma dan kelahiran kembali. Kedua konsep ini merupakan topik pembicaraan kita dalam modul ini.

Dua Aspek Hukum Karma

Hukum karma adalah salah satu ajaran yang penting dalam agama Buddha. Hukum karma merupakan ajaran yang amat dalam dan rumit, maka untuk itu dibutuhkan suatu uraian yang terperinci untuk memahaminya.
Secara umum, karma berarti perbuatan. Umat Buddha memandang hukum karma sebagai hukum kosmis tentang sebab dan akibat yang juga merupakan hukum moral yang impersonal. Menurut hukum ini sesuatu ( yang hidup maupun yang tidak hidup ) yang muncul pasti ada sebabnya. Tidak ada sesuatu yang muncul dari ketidakadaan. Dengan kata lain, tidak ada sesuatu atau makhluk yang muncul tanpa ada sebab lebih dahulu. Kita berbicara tentang akibat bila sesuatu itu terjadi tergantung pada kejadian yang mendahuluinya dan kejadian mula yang menghasilkan kejadian berikutnya disebut ‘sebab’. Rumusan agama Buddha tentang sebab akibat (Paticcasamuppada ) adalah :

“ Dengan adanya ini, terjadilah itu. Dengan timbulnya ini, timbulah itu. Dengan tidak adanya ini, maka tidak ada itu. Dengan lenyapnya ini, maka lenyaplah itu. “
(Khuddhaka Nikaya, Udana 40 )

Pernyataan ini merupakan teori relativitas yang digunakan pula untuk menerangkan tentang munculnya alam semesta. Ajaran agama Buddha menekankan keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa sebagai Yang Agung, Mulia, Suci, Mutlak dan Impersonal. Sedangkan kemahakuasaan Tuhan dalam dhamma dijabarkan dalam hukum universal sebab akibat atau hukum relativitas yang Impersonal. Hukum karma termasuk dalam hukum sebab akibat universal ini. Tentang alam semesta terjadi karena adanya hukum relativitas. Hukum ini meliputi seluruh semesta alam dan hukum ini bekerja dengan sendirinya. Menurut hukum ini alam semesta adalah dinamis atau selalu berubah dan setiap perubahan selalu terjadi secara relatif. Ada perubahan yang berlangsung dengan cepat tetapi ada juga perubahan yang berlangsung dengan perlahan, sehingga perubahan yang perlahan ini tidak nampak atau sulit dimengerti oleh orang yang kurang waspada dan cermat. Contoh cara kerja hukum ini, adanya suatu keadaan disebabkan oleh suatu keadaan lain dan keadaan ini pun disebabkan oleh keadaan lain pula, begitu seterusnya. Cara kerja hukum ini mirip dengan hukum ilmu pengetahuan tentang aksi dan reaksi.

Hukum karma dapat dilihat dari 2 aspek, yaitu aspek kosmis dan aspek moral. Hukum karma adlam aspek kosmis meliputi alam fisik dan psikis. Dipandang dari sisi kosmis, makhluk – makhluk hidup seperti manusia dan binatang adalah fenomena materi. Keberadaan manusia dan binatang adalah fenomena relatif karena mereka ada disebabkan adanya hal – hal lain seperti adanya makanan, minuman, matahari, dunia dan sebagainya. Mereka mengalami perubahan, muncul dan lenyap, seperti semua hal di dunia. Dunia pun akan mengalami proses perubahan, muncul dan lenyap. Demikian pula dengan alam semesta yang berisi banyak galaksi serta tata surya yang tidak terhitung banyaknya selalu berproses, muncul dan lenyap.

Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa walaupun aspek kosmis dari hukum karma Buddhis berlangsug demikian, tetapi itu hanya merupakan implikasi dari konsepnya sebagai hukum sebab dan akibat. Yang sangat penting dari hukum ini adalah aspek kedua yang merupakan hukum moral. Dalam aspek ini hukum karma memegang peranan yang penting dalam ajaran etika Buddhis. Ajaran etika Buddhis tercermin dengan jelas dalam semua ajaran yang disampaikan oleh Sang Buddha selama hidup beliau.

Ajaran karma Buddhis sebagai hukum moral menitikberatkan pada perbuatan – perbuatan manusia yang dilakukan melalui perbuatan jasmani, ucapan dan pikiran. Perbuatan – perbuatan itu diklasifikasikan sebagai karma bila suatu perbuatan dilakukan karena adanya niat atau kehendak ( Cetana ). Suatu perbuatan tanpa niat atau kehendak tidak dapat disebut karma karena perbuatan itu tidak akan menghasilkan akibat moral bagi pembuatnya. Niat atau kehendak yang dimaksudkan dengan karma, seperti yang dikatakan Sang Buddha dalam Angutara Nikaya III :

“O para bhikkhu, kehendak yang saya maksudkan dengan karma. Seseorang karena memiliki kehendak dalam pikirannya maka ia melakukan perbuatan dengan jasmani, ucapan dan pikiran”

Karma atau perbuatan dalam aspek moral mencakup nilai – nilai etika tentang baik dan buruk. Hal ini merupakan konsep yang lebih luas daripada persoalan tentang benar dan salah bila dilihat dari sisi pandangan sehari hari tentang makna dari kata itu. Apa yang dianggap benar menurut pandangan umum
Mungkin tidak baik dalam pengertian moral, demikian pula dengan kata buruk. Misalnya menurut pandangan umum adalah benar bila tentara membunuh musuh dalam pertempuran. Tetapi pembunuhan ini tidak benar menurut hukum moral. Menurut pandangan moral Buddhis suatu pembunuhan adalah pelanggaran hukum moral, pembunuhan ini dipandang sebagai perbuatan karma buruk. Ajaran agama Buddha menganjurkan kita untuk mengembangkan perasaan cinta kasih ( metta ) dan kasih sayang ( karuna ) terhadap semua makhluk. Anjuran ini meliputi perasaan memusuhi makhluk hidup harus dilenyapkan.

Prinsip dasar dari hukum karma adalah barang siapa yang menanam maka dia yang akan memetik hasilnya apakah hasil itu baik atau buruk. Perbuatan baik atau buruk dinilai berdasarkan pada akibat yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang dialami oleh pembuat. Seseorang yang telah melakukan karma buruk pasti menderita karena menerima hasil perbuatannya sendiri. Kita tidak mungkin menghindarkan diri dari akibat yang tidak menyenangkan yang dihasilkan oleh karma buruk yang telah kita lakukan. Sehubungan dengan hal ini Sang Buddha berkata :

“ Tidak di angkasa, di tengah lautan ataupun di dalam gua – gua gunung, tidak dimanapun seseorang dapat
Menyembunyikan dirinya dari akibat perbuatan – perbuatan jahatnya “
( Dhammapada 127 )

Dalam aspek moral karma merupakan ajaran kembar dengan kelahiran kembali. Menurut hukum sebab akibat ini, seseorang adalah hasil perbuatannya sendiri. Ia sendiri yang menyebabkan keberadaanya dan ia sendiri yang bertanggung jawab untuk masa depannya. Pada kelahiran yang lampau pun seseorang telah menyatakan kehendak melalui perbuatan jasmani, ucapan atau pikiran, maka berdasarkan pada perbuatan – perbuatannya itu sekarang ia hidup. Kondisi dan lingkungan tempat kelahiran seseorang ditentukan oleh karma dari kehidupannya yang lampau.

Pada kehidupan sekarang ini, seseorang menerima hasil sebagai akibat karmanya yang lampau dan melakukan karma karma yang baru. Karma baru dan karma lampau yang belum berbuah akan membentuk kondisi tempat kelahirannya pada masa kehidupan yang berikut. Setiap oang memiliki kebebasan untuk melakukan perbuatan baik atau buruk. Bila pada kehidupan ini seseorang telah melakukan perbuatan buruk dan ia menyadari bahwa perbuatannya itu adalah buruk serta akan menghasilkan akibat yang tidak menyenangkan, maka agar akibat karma buruk itu tidak terlalu berat atau tidak efektif ia harus melakukan banyak perbuatan baik.

Untuk memperjelas hal ini, misalnya disebuah desa ada seorang yang bernama A. A mencuri Rp 1000 dari si B, tetapi sebelum B mengetahui A yang mencuri, A yang menyadari bahwa perbuatannya adalah salah, merasa takut bila perbuatannya ketahuan maka ia pindah ke kota. Di kota, A bekerja dengan rajin dan berusaha dengan sungguh – sungguh sehingga setelah beberapa tahun ia menjadi kaya. Dengan kekayaan ini A melakukan banyak perbuatan baik dengan berdana kepada orang orang yang membutuhkan di sekitarnya maupun yang jauh. Tetapi tidak lama setelah A meninggalkan desanya, B mengetahui bahwa A adalah orang yang mencuri uangnya. Beberapa tahun kemudian B mengetahui dimana A berada. B mendatangi orang orang di sekitar tempat A dan memberitahukan kepada orang – orang bahwa A adalah seorang maling, karena A telah mencuri Rp 1000 darinya. Namun orang orang di kota itu tidak memperdulikan kata kata B, malahan orang – orang itu membela A.

Dari contoh diatas kita lihat bahwa karma buruk tetap berbuah, tetapi akibatnya tidak berat atau tidak efektif sama sekali karena perbuatan baik yang dilakukan manfaatnya besar sekali. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa kebahagiaan dan penderitaan tergantung pada diri kita sendiri.

Fungsi Hukum Karma

Agama Buddha memandang hukum karma sebagai hukum sebab akibat yang bekerja sendiri. Sebab yang baik menghasilkan akibat yang baik, sedangkan sebab yang buruk menghasilkan akibat yang buruk atau tidak menyenangkan. Berdasarkan pada hukum ini maka tidak ada manusia, dewa maupun kekuatan mistik yang mencampuri karma seseorang. Hukum ini bekerja secara adil dengan caranya sendiri. Sebagai hukum yang impersonal maka tidak ada seorang pun yang dapat merubah hukum ini sekehendak hatinya.

Fungsi hukum karma adalah amat rumit dan dalam sekali. Hal ini yang menyebabkan orang yang tak sabar, tak cermat dan kurang pengetahuan salah mengerti tentang cara kerja dari hukum karma. Tetapi jika kita sabar dan berusaha mempelajari hukum ini dengan hati – hati dan cermat, maka kita akan dapat memahami cara kerja hukum karma ini.

Perbedaan jenis jenis karma dapat dibandingkan dengan buah buahan yang bermacam macam. Seperti jenis buah buahan yang bermacam macam membutuhkan waktu yang berbeda beda untuk matang, demikian pula karma yang bermacam macam membutuhkan waktu yang berbeda beda untuk menghasilkan akibatnya. Setiap jenis pohon memiliki waktu tertentu untuk berbuah. Jika seseorang yang tak sabar ingin cepat cepat memuaskan keinginannya dengan berusaha memeras sari buah dari buah mangga muda maka usahanya akan sia – sia.

Demikian pula dengan akibat dari karma, setiap macam karma memiliki waktu tertentu untuk matang sesuai dengan sifatnya. Ada karma yang matang dan menghasilkan buah lebih cepat daripada karma yang lain. Jika kita mencampur adukan karma yang waktu matangnya lambat dengan karma yang waktu matangnya cepat maka kita akan kecewa, kekecewaan kita ini terjadi bukan karena kesalahan hukum karma tetapi disebabkan oleh kebodohan kita sendiri. Bilamana kita berusaha mempelajari hukum karma secara hati hati dan seksama, kita dapat melihat bahwa banyak perbuatan yang telah dilakukan sudah menghasilkan buahnya pada kehidupan sekarang ini. Contoh : Seseorang yang menyerang atau melukai orang lain kemungkinan besar ia akan segera diserang atau dilukai pula, atau barangsiapa yang menghina atau mencaci maki orang lain, ia sendiri mungkin akan dihina atau dimaki pada saat itu pula. Jenis perbuatan ini termasuk dalam karma yang waktu matangnya cepat. Tetapi contoh ini tidak dapat menerangkan semua cara kerja hukum karma sebab masih banyak macam karma yang menurut sifatnya adalah karma yang waktu matangnya lambat.

Buddha Dhamma menekankan bahwa ada bermacam macam karma yang akibatnya akan berhubungan dengan lebih dari satu atau banyak kehidupan dari pembuat. Karma seperti ini akan di uraikan di bawah.
Berdasarkan pada hukum karma kita sebagai manusia yang masih diliputi kebodohan telah memiliki sejumlah perbuatan baik dan buruk. Kehidupan kita sekarang merupakan ladang tempat perbuatan – perbuatan yang lampau berbuah dan perbuatan – perbuatan baru dilakukan. Dalam hal ini perbuatan yang lampau adalah perbuatan – perbuatan atau karma karma yang lampau pada beberapa saat yang lalu hingga pada masa kehidupan – kehidupan dalam kelahiran kelahiran yang lampau. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hukum karma selalu bekerja selama kita belum mencapai pembebasan, nibbana.

Dalam pelaksanaan hukum karma nampaknya menimbulkan pertanyaan yang sering dipersoalkan. Kalau akibat akibat baik dan buruk selalu sesuai dengan perbuatan – perbuatan baik atau buruk, lalu mengapa orang yang baik nampak melarat atau menderita dalam kehidupan mereka, sedangkan orang – orang yang jahat nampak sukses dan bahagia dalam hidup mereka ? Dalam hal ini nampaknya hukum karma tidak adil dalam pelaksanaannya. Persoalan ini amat rumit, maka agar kita dapat mengerti cara kerja dari hukum karma dengan baik, kita memerlukan suatu analisis yang seksama tentang persoalan ini.

Karena karma berfungsi dengan cara yang rumit dan nampaknya misterius, maka selalu ada kemungkinan bagi kita yang belum sempurna menjadi bingung untuk mengetahui atau mengerti cara kerja dari hukum karma. Sekali pebuatan atau karma dilakukan, itu menjadi suatu kekuatan yang tak terlihat yang cepat atau lambat akan menghasilkan akibatnya. Bilamana setiap perbuatan yang dilakukan seseorang akan menghasilkan akibatnya, maka hal ini terjadi hampir diluar batas kemampuan pengertian kita. Dalam beberapa kasus ada akibat yang dipetik segera setelah suatu perbuatan dilakukan, tetapi masih banyak hal lain dimana suatu perbuatan yang telah dilakukan tidak segera menghasilkan akibat. Hal ini terjadi sebab ada beberapa faktor yang mencegah akibat dari suatu karma tertentu untuk muncul.

Bagaimanapun rumitnya fungsi karma hal ini terjadi karena sifat dari karma itu sendiri dan sebagian karena rumitnya perbuatan – perbuatan kita sehari hari. Dalam sehari seseorang dapat melakukan bermacam macam perbuatan yang baik maupun yang buruk melalui jasmani, ucapan atau pikiran, sehingga hampir tidak mungkin bagi pelakunya untuk mengingat semua apa yang telah ia lakukan dalam sehari itu. Jadi adalah wajar bila ia bingung sebab ia tak dapat menghubungkan satu kejadian lanjutan yang disebut akibat dengan kejadian sebelumnya yang disebut sebab. Pada umumnya hal ini terjadi karena ketika akibat itu muncul, sebabnya telah dilupakan. Beberapa macam karma yang telah dilakukan dalam sehari dapat menghasilkan akibat dalam jangka waktu yang pendek dan pada jangka waktu yang panjang. Hampir diluar batas kemampuan kita untuk mengetahui perbuatan kita manakah yang berjangka waktu pendek dan yang berjangka waktu panjang. Dikatakan bahwa kemampuan untuk mengetahui sifat dan fungsi dari hukum karma hanya dimiliki oleh para Buddha. Namun, jika kita mencoba dengan seksama dan sabar menyelidiki cara kerja hukum karma maka kita akan memahami sebagian dari cara kerjanya.

Untuk mengerti dengan baik tentang potensi karma adalah perlu bagi kita untuk mempelajari cara karma menghasilkan akibat akibatnya, baik dalam aspek luar atau jasmaniah dan aspek dalam atau batiniah. Jika kita hanya melihat akibat karma pada satu aspek saja maka hal ini akan menyebabkan kita salah mengerti akan hukum ini. Sebagai contoh : jika seorang pegawai melakukan korupsi, ia akan mendapat lebih banyak uang daripada gajinya untuk sebulan. Kalau ia sering berbuat korupsi dalam jangka waktu yang pendek ia akan menjadi lebih kaya, karena ada uang hasil dari korupsi, ia nampaknya memiliki tingkat kehidupan yang lebih baik daripada teman temannya di perusahaan. Orang lain mungkin mengetahui bahwa ia koruptor, tetapi selama tidak ada orang memeriksanya karena tidak ada bukti, maka ia akan tetap menikmati uang yang ia korupsi. Juga bilamana ia orang yang berpengaruh dan kuat maka tidak ada orang yang berani memeriksanya, sehingga ia akan menikmati kekayaannya itu sampai akhir hayatnya.

Contoh diatas tidak sulit untuk dilihat pada masa sekarang ini. Hal ini merupakan salah satu kasus yang meragukan bagi mereka yang percaya pada hukum karma. Nampaknya orang yang berbuat kejahatan itu tidak disentuh oleh hukum karma. Secara teoritis orang ini harus mendapat ganjaran sebagai akibat perbuatan jahatnya, tetapi bahkan mendapatkan kebahagiaan dan kemakmuran yang seperti ia nikmati sekarang.

Berkenaan dengan akibat – akibat karma, Sang Buddha berkata :
Pembuat kejahatan akan menganggap kejahatan sebagai kebaikan selama perbuatan itu belum matang
Tetapi bila perbuatan itu menghasilkan akibat, maka ia menyadari bahwa sesungguhnya kejahatan adalah berbahaya. Orang yang bajik pun akan menganggap kebaikan sebagai kejahatan selama perbuatan itu belum matang, tetapi bilamana perbuatan itu menghasilkan akibat, maka ia menyadari bahwa sesungguhnya kebaikan itu baik.
( Dhammapada 119 – 120 )

Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa kesalahpahaman tentang fungsi hukum karma telah ada pada masa Sang Buddha. Suatu hal yang wajar bila kita melihat hukum karma dari sisi sifatnya kita yang tak sabar dan tak cermat maka persoalan ini nampaknya rumit dan misterius dan akibatnya kepercayaan kita pada hukum karma berkurang.

Tetapi bila kita cukup sabar dengan tenang dan cermat memperhatikan contoh itu, kita akan dapat menembus sesuatu dari kemisteriusan cara kerja hukum karma dan akhirnya keyakinan kita akan bertambah karena keyakinan kita tidak salah.

Dalam contoh diatas, ketika orang tersebut melakukan korupsi untuk mendapt uang, ia mendapat banyak uang. Jelas bahwa bila ia berusaha mendapat banyak uang, maka akibatnya ia mendapat banyak uang, tidak perduli apakah cara itu baik atau buruk. Ini adalah sifat luar atau aspek jasmaniah dari aspek akibat hukum karma. Tapi bila kita melihat persoalan dari contoh diatas sisi aspek dalam atau aspek spiritual dari hukum karma, maka kesalah pengertian tentang hukum karma dapat dilenyapkan. Menurut pandangan agama Buddha, bila suatu karma sedang menghasilkan akibatnya, maka karma lain yang potensinya sama atau lebih kurang daripada karma itu tidak mendapat kesempatan untuk berbuah. Tetapi bila karma yang sedang berbuah itu menjadi lemah atau telah selesai berbuah, barulah karma yang lain mendapat kesempatan untuk berproses. Jika ada karma sekarang atau karma baru yang dikategorikan kuat muncul, maka karma yang sedang berproses saat ini akan tertekan dan karma baru yang lebih kuat akan berfungsi.

Menurut hukum karma kehidupan kita sekarang adalah ekspresi dari karma karma kita yang lampau. Dalam kasus dari orang yang korupsi yang sedang menikmati kebahagiaan dari mata pencahariannya yang tidak jujur, satu satunya jawaban untuk ini adalah bahwa hasil karma baiknya yang lampau sedang berbuah dan karma buruk yang diperbuatnya sekarang sedang menunggu waktu yang tepat untuk berbuah. Bagaimanapun karma buruknya akan selalu mengikuti dia kemana saja ia pergi atau terlahir kembali, bagaikan roda pedati yang mengikuti jejak sapi yang menariknya. Sekali sebuah perbuatan dilakukan dengan sadar ( ada niat ). Maka perbuatan itu telah memiliki suatu kekuatan yang tak terlihat dan kekuatan perbuatan ini tidak akan lenyap selama kekuatannya belum habis karena menghasilkan akibatnya. Seperti yang telah dikatakan oleh Sang Buddha bahwa mungkin sekali pembuat kejahatan menganggap kejahatan sebagai kebaikan selama perbuatan itu belum berbuah, tetapi bilamana perbuatan itu berbuah, maka ia akan menyadari dan menderita sebagai akibat dari perbuatannya yang salah.

Pada kasus kasus yang lain terjadi bahwa orang yang korupsi dengan mendapatkan keuntungan dan menyebabkan orang lain menderita, pada akhirnya ia jatuh dan menderita. Tetapi kejatuhan dan penderitaan yang dialaminya itu mungkin hanya bersifat aspek luaran atau aspek jasmaniah, karena masih ada pula akibat yang lebih halus yang langsung berlaku dan lebih lama pada aspek dalam atau batinnya. Dipandang dari sisi pandangan pada aspek dalam atau aspek batin dari akibat karma, walaupun ada orang tak jujur yang nampak bahagia dengan kekayaan yang diperoleh dengan cara yang salah, namun hal ini bukan berarti ia selalu bahagia dalam batinnya. Sebagai akibat dari ketidak jujurannya maka ia selalu menderita karena merasa bersalah. Ia dapat menyembunyikan perbuatannya yang salah pada orang lain, tetapi secara psikologis ia tak dapat menipu dirinya sendiri. Ia sendiri yang melakukan karma, maka ia sendiri yang akan menerima akibatnya. Hal ini bagaikan makan, bila ada seseorang yang lapar, ia sendiri harus mulai makan karena tidak ada orang lain yang makan agar ia keyang. Jika makanan yang ia makan beracun, ia sendiri yang akan menderita keracunan yang disebabkan oleh makanan.

Sebaliknya, orang bajik yang selalu melakukan karma baik, cepat atau lambat ia akan menerima akibat dari perbuatannya. Menurut pandangan Buddhis bila seorang yang bajik nampak menderita, hal ini terjadi karena akibat dari perbuatan salah yang ia lakukan pada kehidupan yang lampau. Sedangkan akibat perbuatan baiknya belum berbuah karena menunggu waktu matang. Orang bajik ini dapat beranggapan bahwa perbuatan baik itu salah selama perbuatan baiknya belum menghasilkan akibat, tetapi ia akan menyadari bahwa perbuatan bajik yang telah ia lakukan adalah baik dan bermanfaat bila waktunya berbuah telah tiba, sehingga ia dapat menikmati akibat yang menyenangkan.

Bagaimanapun, hal ini bukan berarti suatu hal yang mudah untuk mengerti fungsi dari hukum karma, karena cara kerja hukum karma agak tersembunyi. Tetapi hal ini masih mungkin kita dapat mengerti sedikit cara kerjanya bila kita berusaha mempelajari kedua aspeknya dengan hati hati, cermat dan sabar. Kita tidak akan pernah mengkambing hitamkan orang lain bila kita gagal atau penderitaan terjadi ketika sedang dalam keadaan damai dan menikmati kebahagiaan.

Seseorang yang memiliki keyakinan yang teguh pada hukum karma akan selalu melakukan perubatan baik demi kebaikan tanpa memperdulikan akibat dari perbuatannya, karena ia selalu yakin bahwa sebab baik akan selalu berakibat baik. Melakukan perbuatan baik demi kebaikan merupakan cara ideal dari ajaran hukum karma Buddhis.

Ajaran Hukum Karma Menurut Kitab Suci Tipitaka

1. Empat macam karma

Bagi umat Buddha Kitab Suci Tipitaka dianggap sebagai sumber- sumber otoritas dari ajaran – ajaran Sang Buddha, Disamping Kitab Suci Tipitaka terdapat :
a. Atthakatha
b. Tika
c. Anutika

Tipitaka secara harfiah berarti Tiga Keranjang atau kitab suci yang berisikan ajaran ajaran Sang Buddha dan beberapa siswa senior Beliau. Atthakatha merupakan komentar dari Tipitaka; Tika merupakan komentar dari Atthakatha; dan Anutika merupakan komentar atau keterangan dari Tika.
Ajaran ajaran yang diuraikan dalam Atthakatha dianggap nomor dua setelah otoritas Tipitaka; sedangkan Tika dan Anutika tidak begitu penting.
Mengenai ajaran karma, uraian yang jelas dapat ditemukan dalam Tipitaka. Dalam Kukkurovada Sutta dari Majjhima Nikaya, Sang Buddha telah menguraikan ajaran karma kepada dua orang petapa yang datang bertanya kepada Beliau. Uraian yang sama dapat juga ditemukan dalam Catukkanipata dari Angutara Nikaya. Menurut dua sumber tersebut diatas, Sang Buddha secara tegas telah menggolongkan karma atau perbuatan menjadi empat macam dalam hubungan dengan sifat dan akibat – akibatnya :

Para bhikkhu, empat macam karma yang telah Ku pahami dengan kebijaksanaan sendiri dan selanjutnya kuajarkan kepada dunia. Apakah empat macam karma itu ? Empat macam karma itu adalah :
Karma hitam yang berakibat hitam; karma putih yang berakibat putih; karma hitam dan putih yang berakibat hitam dan putih; dan karma bukan hitam maupun putih yang berakibat bukan hitam maupun putih serta membawa pengakhiran karma.
( Anguttara Nikaya, Catukkanipata 232 – 238 )

Penggolongan karma kedalam empat kategori seperti yang tersebut diatas, dibuat berdasarkan atas sifat dan akibat akibatnya : baik, buruk, baik dan buruk; atau bukan baik maupun buruk. Tetapi, bila dilihat dari sudut saluran yang digunakan, karma dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu perbuatan badan jasmani ( kaya kamma ), ucapan ( vaci kamma ) dan pikiran ( mano kamma ). Setiap tiga perbuatan ini mencakup semua empat kategori tersebut diatas, yaitu karma yang dilakukan melalui salah satu dari tiga saluran itu adalah baik, buruk, baik dan buruk, atau bukan baik maupun buruk.

Mengenai karma hitam dari kategori pertama, Sang Buddha menunjukkan pada setiap bentuk perbuatan jahat yang dilakukan melalui badan jasmani, ucapan dan pikiran yang bertujuan menimbulkan kesukaran, kesengsaraan atau kerugian pada makhluk lain. Perbuatan – perbuatan buruk seperti membunuh atau menyiksa binatang – binatang, mencuri harta orang lain, berzinah dan lain lain, adalah dianggap sebagai karma hitam atau buruk.

Menurut agama Buddha, kehidupan seseorang semata mata ditentukan oleh karmanya sendiri. Apapun yang telah dilakukan olehnya akan selalu tercermin dalam kehidupan pribadinya. Bilamana buah dari perbuatan perbuatannya tidak datang kepadanya dalam hidup sekarang, pasti akan mengunjunginya dalam kelahirannya yang akan datang. Seseorang yang terlelap dalam karma hitam dengan melakukan perbuatan perbuatan membunuh, mencuri, merugikan, atau memfitnah makhluk – makhluk lain pasti akan menerima akibat – akibat gelap dari perbuatannya sendiri. Akibat hitam yang benar – benar menyakitkan dari suatu perbuatan disebut akibat hitam, ini termasuk dalam kategori karma yang pertama. Sang Buddha mengatakan bahwa orang itu setelah ia meninggal dunia, ia akan terlahir dalam alam yang diliputi penderitaan bagaikan makhluk yang terlahir di neraka.

Kategori karma yang kedua berlawanan dengan kategori karma yang pertama. Itu adalah karma putih yang akan selalu menghasilkan akibat putih. Sebagaimana telah dikatakan oleh Sang Buddha :

Ada orang di dunia ini melakukan karma melalui jasmani, ucapan dan pikiran tanpa menyiksa makhluk – makhluk lain. Maka setelah ia meninggal dunia, ia akan terlahir kembali ke alam tanpa mengalami siksaan. Disana ia akan mengalami perasaan – perasaan ( vedana ) tanpa penyiksaan yang seluruhnya hanya terdiri dari kebahagiaan seperti dewa – dewa Subhakinha. Inilah yang Ku sebut karma putih yang mempunyai akibat putih.
( Kukkurovada Sutta, Majjhima Nikaya )

Karena itu, karma putih berarti perbuatan – perbuatan baik ( kusala kamma ) yang dilakukan oleh seseorang melalui saluran badan jasmani, ucapan dan pikiran. Menurut hukum karma, akibat selalu ditentukan oleh sebabnya. Manifestasi karma terdiri dari kemiripan yang mendasar antara perbuatan dan hasil sebab dan akibat : “ Seperti sebab, begitu pula dengan akibat”. Bila seseorang menanam pohon mangga, maka pada suatu saat ia akan memetik buah mangga sebagai hasilnya dan tak mungkin ia akan memetik buah kelapa. Demikian pula perbuatan – perbuatan baik akan selalu menghasilkan buah yang sesuai.

Sekarang kita akan meneliti kategori karma ketiga : karma hitam dan putih. Karma jenis ini merupakan campuran dari perbuatan – perbuatan baik dan buruk. Karma baik dapat diumpamakan seperti minyak dan karma buruk seperti air, lalu bagaimana minyak dan air dapat bercampur bersama. Bahwasanya dengan cara biasa minyak dan air tidak dapat bercampur bersama namun, setiap orang pasti mengakui bahwa minyak dan air dapat dimasukan ke dalam satu tempat yang sama. Disana mereka berada bersama sama, walaupun minyak tetap mengambang diatas air. Dalam cara yang sama, karma hitam dan putih dapat bersama sama, begitu pula dengan akibat – akibat hitam dan putih. Menurut agama Buddha, bila perbuatan perbuatan baik dan buruk dilakukan bersama sama, maka kebahagiaan dan penderitaan yang merupakan akibat dari perbuatan perbuatan demikian juga akan muncul bersama. Disini kata “ bersama ” berarti dalam satu masa kehidupan yang sama. Benar, bahwasanya penderitaan dan kebahagiaan tidak dapat timbul pada saat yang sama sebagaimana tidak ada kemungkinan bagi dua macam karma baik dan buruk, untuk menghasilkan akibat akibatnya pada saat yang sama.

Dalam kenyataan, kebahagiaan timbul menggantikan penderitaan dan penderitaan muncul menggantikan kebahagiaan. Ini merupakan kenyataan dalam kehidupan manusia dimana kebahagiaan dan penderitaan dialami secara silih berganti. Setiap orang melakukan perbuatan perbuatan baik dan buruk melalui badan jasmani, ucapan dan pikiran dalam kehidupannnya sehari hari dan dengan begitu setiap orang mengalami kebahagiaan dan penderitaan. Seseorang yang telah melakukan karma campuran, pasti akan menerima akibat – akibat campuran dalam hidup sekarang atau dalam kehidupan kehidupan berikutnya. Inilah yang dikatakan oleh Sang Buddha sebagai karma hitam dan putih, yang memberikan akibat hitam dan putih.

Penggolongan karma yang terakhir adalah karma bukan hitam maupun putih yang memberikan akibat bukan hitam maupun putih. Penggolongan ini menandai suatu perbedaan khusus antara ajaran karma dalam agama Buddha dengan ajaran karma dalam sistem sistem pemikiran india lainnya.

Disini, karma bukan hitam maupun putih berarti perbuatan yang tak dapat dinyatakan sebagai baik atau buruk pun keduanya. Dalam hubungan dengan akibat, penderitaan adalah disebabkan oleh karma gelap atau buruk; kebahagiaan disebabkan oleh karma terang atau baik. Dan campuran penderitaan dan kebahagiaan disebabkan oleh karma hitam dan putih atau karma buruk dan baik. Karma bukan hitam maupun putih tidak mengacu pada akibat akibat demikian, tetapi pada keadaan di luar penderitaan dan kebahagiaan, pada pemusnahan semua karma, pada Nibbana. Namun demikian, karma macam ini janganlah dicampur adukan dengan suatu perbuatan dari orang yang telah bebas atau orang yang telah mencapai tingkat kesucian tertinggi ( Arahat ). Perbuatan seorang Arahat tidak lagi digolongkan sebagai karma tetapi kiriya karena kekotoran – kekotoran batin ( kilesa ) yang melandasi perbuatan kehendak dari orang demikian sudah dihancurkan secara total.

Dilihat dari sudut pandangan mutlak, hal itu tidak dapat dinyatakan sebagai hitam atau putih ataupun kedua duanya, Tetapi bila karma macam ini dilihat dari sudut pandangan relatif, dapatlah dianggap sebagai macam karma baik karena tidak menghasilkan akibat akibat yang merugikan atau menyakitkan. Disini harus diadakan pembedaan penafsiran secara jelas, bahwasanya suatu perbuatan baik yang umum mengarah pada serangkaian kelahiran kembali yang tak terbatas. Sedang kategori karma yang terakhir ini langsung mengarah pada pengakhiran kelahiran kembali. Inilah dasarnya mengapa Sang Buddha tidak memasukkan karma macam ini ke dalam karma kategori putih.

Mengenai karma bukan hitam maupun putih ini, Sang Buddha menunjukan pada jalan utama berfaktor delapan, yang merupakan asas asas praktek agama Buddha yang menuju ke pengakhiran penderitaan, ke Nibbana. Kadang kadang Beliau menunjukan Tujuh Faktor Penerangan Sempurna ( Satta Sambojjhanga )
Yaitu Sati ( penyadaran ), Dhammavicaya ( penyelidikan terhadap Dhamma ), Viriya ( usaha, semangat ), Piti ( kegiuran ), Passaddhi ( ketenangan ), Samadhi ( konsentrasi ) dan Upekkha ( keseimbangan batin ).

Jalan utama berfaktor delapan atau Tujuh Faktor Penerangan Sempurna, bila dikembangkan secara tepat dan sempurna, akan langsung membawa pada kebebasan atau Nibbana, suatu keadaan di luar penderitaan dan kebahagiaan. Karma hitam dan putih atau perbuatan perbuatan buruk dan baik selalu akan membawa pada pembentukan karma baru yang tak terbatas. Apabila suatu perbuatan baik dilakukan maka sejenis akibat baik akan muncul. Dengan menikmati akibat yang menyenangkan maka keinginan ( tanha ) baru atau kemelekatan ( upadana ) muncul dalam pikiran pelakunya, Dan karena keinginan atau kemelekatan, ia dipaksa untuk berbuat lagi; karena ia berbuat maka timbulah akibat dari perbuatannya; sewaktu menikmati atau menderita akibat, keinginan baru muncul.
Menyatakannya dalam rumusan karma Buddhis : karma membawa pada akibat ( vipaka ), akibat membawa pada keinginan ( tanha ), keinginan membawa pada karma; karma membawa pada akibat. Rumusan ini akan terus berulang dalam cara ini , kecuali kalau dan sampai rangkaian lingkaran belenggu reaksi ini dihancurkan dengan memahami kebenaran mutlak, Empat Kebenaran Mulia.

Agama Buddha menyatakan bahwa pengembaraan dalam samsara tak akan pernah berakhir selama keinginan yang merupakan akar sebab dari ikatan tidak dimusnahkan. Lingkaran ini hanya dapat dihancurkan dengan mengikuti jalan utama berfaktor delapan atau mengembangkan Tujuh Faktor Penerangan Sempurna yang dikatakan sebagai karma bukan hitam maupun putih. Karma ini akan mengarah pada perenungan Pandangan Terang ( vipassana ) yang sebagai gantinya akan menghancurkan nafsu keinginan.

Bilamana semua nafsu keinginan telah dihancurkan, maka kebebasan akan dicapai dan lingkaran kelahiran dan kematian ( samsara ) dapat dipatahkan. Pemadaman penderitaan batin dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini bila orang telah bebas, sedang penderitaan jasmani akan berakhir setelah badan jasmani hancur. Namun, betapapun hebatnya penderitaan jasmani tidak akan pernah mengalahkan batin orang yang telah mencapai penerangan sempurna. Semua penderitaan akan berakhir setelah orang tersebut mencapai kebebasan sempurna atau Parinibbana, suatu keadaan di luar kelahiran dan kematian, diluar penderitaan dan kebahagiaan dalam pengertian duniawi, di luar kemampuan akal dan cakupan bahasa, suatu keadaan berkah yang menjadikan setiap usaha bagi pencapaian kebebasan mutlak menjadi berharga.

2. Karma Subur dan Karma Mandul

Dalam pengertian Buddhis tentang karma, seperti yang telah kita sebutkan diatas, bahwasanya dalam dunia moral, tidak setiap perbuatan dapat disebut karma. Hanya perbuatan yang berhubungan dengan kehendak batin ( cetana ) yang disebut karma; atau kehendak batin itu sendiri yang disebut karma, sebagaimana telah dinyatakan oleh Sang Buddha :

“O Bhikkhu, kehendak itulah yang Ku sebut karma. Setelah timbul kehendak dalam batinnya, seseorang melakukan perbuatan melalui jasmani, ucapan dan pikiran….”
( Anguttara Nikaya, III, 415 )

Hal ini menyatakan bahwa suatu perbuatan tanpa kehendak atau kemauan, tidak dianggap sebagai karma dan perbuatan demikian tidak akan memberikan pengaruh besar kepada pelakunya. Karena itu, suatu perbuatan tanpa kehendak adalah karma mandul yang tidak dapat menghasilkan buah.
Dalam kitab Anguttara Nikaya Sang Buddha menyatakan enam kondisi sebab karma. Enam kondisi ini dapat dijadikan dua kelompok : kotor ( duccarita ) dan bersih ( sucarita ) Dalam kelompok pertama : kotor ( duccarita ) terdapatlah tiga kondisi yaitu :
a. Lobha ( keserakahan )
b. Dosa ( kebencian )
c. Moha ( kebodohan )

Mengenai karma yang mempunyai salah satu dari tiga kondisi ini sebagai sebab, Sang Buddha menyatakan :
O para bhikkhu, bilamana perbuatan – perbuatan seseorang dilakukan karena keserakahan…, dilakukan karena kebencian…, dilakukan karena kebodohan, timbul dari kebodohan, didasari oleh kebodohan, berasal dari kebodohan, maka dimanapun ia akan dilahirkan, disanalah perbuatan – perbuatannya menjadi masak; dan dimanapun mereka masak; disanalah ia akan mengalami akibat dari perbuatan perbuatannya itu, apakah dalam hidup sekarang, atau dalam beberapa kehidupan berikutnya.
( Anguttara Nikaya, Tikanipata 171 )

Karma yang disebabkan oleh salah satu dari kondisi kondisi ini dapat kita bandingkan dengan benih suatu tumbuhan yang tidak terluka; tidak rusak, tidak terganggu oleh angin atau panas, subur dan tersimpan baik, ditanam pada lahan subur yang telah digarap dengan baik; kemudian bila hujan turun tepat pada musimnya, maka benih itu pasti akan tumbuh subur dan berkembang dengan segala kemungkinannya. Karenanya, perbuatan atau karma yang didasari oleh Lobha, dosa dan moha merupakan karma subur yang akan memberikan hasil yang sepadan dengan pelakunya dalam hidup sekarang ini atau dalam kehidupan selanjutnya. Karma dalam hubungan ini dapat bersifat baik atau buruk.

Sebagai contoh, seseorang dapat mengorbankan uangnya untuk beramal dengan harapan akan memperoleh pujian dari orang lain atau untuk memperoleh akibat akibat lain yang diharapkan. Tak perlu diragukan lagi, perbuatan baiknya ini didasari oleh alobha ( tanpa keserakahan ), namun keserakahan merupakan faktor pendorong dalam perbuatan amalnya. Sebaliknya dengan lobha ( keserakahan ) sebagai sebab langsung ia dapat mencuri uang atau harta orang lain. Sang Buddha menyatakan bahwa perbuatan yang didasari oleh kekotoran kekotoran batin ini membawa pada suatu pembentukan karma subur baru yang tak terbatas, bukan pada penghancuran karma. Atau dengan kata lain, karma tersebut membawa pada pengembaraan dalam lingkaran kelahiran dan kematian ( samsara ) yang tak ada batasnya.

Kelompok kedua : bersih ( sucarita ) terdiri atas tiga kondisi :
a. alobha ( tanpa keserakahan )
b. adosa ( tanpa kebencian )
c. amoha ( tanpa kebodohan )

Mengenai karma yang disebabkan oleh tiga kondisi ini, Sang Buddha bersabda :
O para bhikkhu, bilamana perbuatan perbuatan seseorang dilakukan tanpa keserakahan… dilakukan tanpa kebencian… dilakukan tanpa kebodohan, tidak berasal dari kebodohan, karena kebodohan telah lenyap, maka perbuatan perbuatan tersebut ditinggalkan, dijadikan seperti tonggak pohon kelapa, dan menjadi mandul serta tidak dapat tumbuh lagi di masa yang akan datang.
( Anguttara Nikaya, Tikanipata 172 )

Sang buddha membandingkan perbuatan yang dilakukan keserakahan, kebencian dan kebodohan seperti benih suatu tumbuhan diluar, dibakar dan abunya dilemparkan ke arah pusaran angin kencang atau dimasukkan ke dalam arus sungai yan deras. Dengan cara ini benih itu ditinggalkan, dihancurkan dan tidak subur serta tidak dapat tumbuh lagi di masa yang akan datang. Begitu juga perbuatan perbuatan yang didasari oleh alobha, adosa dan amoha, dan bila lobha, dosa, moha telah dicabut seluruhnya, maka perbuatan perbuatan tersebut menjadi mandul serta tidak dapat memberikan suatu akibat pada pelakunya. Perbuatan perbuatan macam ini merupakan milik Arahat, yang tidak lagi disebut karma, melainkan disebut kiriya.

Berikut ini adalah gambaran yang lain dari keterangan Sang Buddha mengenai enam kondisi sebagai sebab sebab karma :
Para bhikkhu, ada tiga sebab perbuatan. Apakah tiga hal itu ? Tiga hal itu adalah : lobha ( keserakahan ), dosa ( kebencian ) dan moha ( kebodohan ). Para bhikkhu, bilamana perbuatan seseorang dilakukan dibawah pengaruh keserakahan, dibawah pengaruh kebencian… dibawah pengaruh kebodohan, berasal dari kebodohan, maka perbuatan itu tidak bermanfaat ( akusala ), tidak menguntungkan, mengakibatkan penderitaan, mendorong timbulnya perbuatan perbuatan baru dan bukan untuk mengakhiri perbuatan perbuatan. Para bhikkhu, ada tiga sebab perbuatan. Apakah tiga hal itu ? Tiga hal itu adalah : alobha ( tanpa keserakahan ), adosa ( tanpa kebencian ), dan amoha ( tanpa kebodohan )
Para bhikkhu bilamana perbuatan perbuatan seseorang dilakukan dengan tanpa keserakahan ( alobha )… dengan tanpa kebencian ( adosa ) … dengan tanpa kebodohan ( amoha ), lahir dari amoha, disebabkan oleh amoha, berasal dari amoha, maka perbuatan itu adalah bermanfaat ( kusala ), mengakibatkan kebahagiaan, mengarah pada pengakhiran perbuatan selanjutnya dan bukan mengarah pada timbulnya perbuatan perbuatan baru.
( Anguttara Nikaya, Tikanipata 388 – 339 )

Karena itu, jelas bahwa masing masing kelompok dari enam kondisi tersebut sama sama sebagai sebab karma, tetapi dalam cara yang berbeda. Kelompok yang pertama : kotor, terdiri dari lobha, dosa dan moha merupakan sebab karma yang akan memberi akibat ( subur ) dan mengarah pada pembentukan karma baru yang tak terbatas atau pada pengembaraan dalam samsara yang tak ada batasnya.

Kelompok kedua : suci, terdiri dari alobha, adosa dan amoha merupakan kondisi karma yang tak memberi akibat ( mandul ) dan mengarah pada pengakhiran karma atau pada kebebasan dari penderitaan. Enam kondisi ini menunjukkan bahwa karma akan subur atau mandul tergantung pada sifat batin pelaku perbuatan. Bila tiga kekotoran batin masih ada dalam batin si pelaku, maka perbuatan perbuatannya akan selalu menghasilkan akibat akibat yang sesuai dengan sebab sebabnya. Tetapi hal itu bukan sama sekali tak mungkin bagi orang awam yang batinnya masih belum bebas sama sekali dari lobha, dosa dan moha untuk melakukan perbuatan perbuatan yang mengarah pada pengakhiran semua karma, pada pemahaman kebenaran mutlak. Perbuatan perbuatannya dapat juga didasari oleh alobha, adosa dan amoha, namun karena ia masih belum bebas atau karena keinginan keinginanya masih belum dihancurkan sama sekali, maka perbuatan perbuatannya masih akan memberikan akibat – akibat tertentu kepadanya.

Agama Buddha menyatakan bahwasanya hanya perbuatan perbuatan seseorang yang telah bebas atau yang telah mencapai penerangan sempurna ( arahanta ) saja yang benar benar mandul. Perbuatan perbuatan orang demikian ( yang telah bebas ) tidak dapat digolongkan dibawah kategori kategori baik atau buruk, karena kekotoran kekotoran batin ( kilesa ) telah dihancurkan secara mutlak dari dalam batinnya. Perbuatan perbuatannya akan netral dalam pengertian tidak akan memberikan akibat akibat padanya, karena ia telah berada diluar keadaan yang dapat dipengaruhi oleh karma. Seseorang yang telah bebas selalu melakukan perbuatan perbuatan dengan rasa tidak terikat, yaitu dengan kebebasan dari lobha, dosa dan moha. Dan ketidakterikatan itulah yang sesungguhnya menjadikan suatu karma mandul. Sedang kemelekatan selalu menjadi karma subur.

3. Karma dalam hubungan dengan akibat akibatnya

Karma dan akibat akibatnya berhubungan erat seperti api dengan panasnya atau nilai membakarnya. Pengetahuan atau pengertian tentang hukum karma tidak akan lengkap apabila tidak dipelajari dalam hubungan dengan akibat akibatnya.
Dalam kitab suci Tipitaka terdapat suatu pernyataan yang memperlihatkan keyakinan umat Buddha terhadap hukum karma, pernyataan tersebut berbunyi :

“ Sesuai dengan benih yang telah ditabur, begitulah buah yang akan dipetiknya. Ia yang berbuat baik akan menerima kebaikan ; dan ia yang berbuat jahat akan menerima kejahatan”.
( Samyutta Nikaya I, 293 )

Ungkapan ini menyatakan bahwa apabila sebab sebabnya baik, maka akibatnya juga akan baik. Sebaliknya apabila sebab sebabnya buruk maka akibatnya juga akan buruk. Hal itu juga menunjukan sifat hubungan sebab akibat. Uraian mengenai macam macam karma tertentu yang akan menghasilkan akibat akibat tertentu diberikan dalam Culakammavibhanga Sutta dari kitab Majjhima Nikaya.

Menurut Sutta tersebut, sewaktu Sang Buddha sedang berdiam di vihara Anathapindika dekat kota Savatthi, datanglah seorang pemuda Brahmana yang bernama Subha, yang bertanya kepada Sang Buddha mengenai perbedaan kualitas manusia.

Yang Mulia Gotama, apakah yang menjadi alasan, apa sebabnya diantara umat manusia yang terlahir sebagai manusia, ada yang hina dan mulia ?
Wahai Gotama, mengapa ada umat manusia yang berusia pendek dan ada yang berusia panjang, berpenyakit dan sehat, buruk dan rupawan, tak berkuasa dan berkuasa, miskin dan kaya, lahir dalam keluarga rendah dan lahir dalam keluarga bangsawan, bodoh dan pandai ; wahai Gotama apakah alasannya, apa sebabnya maka diantara manusia ada yang terlahir hina dan ada yang terlahir mulia ?
( Culakammavibhanga Sutta, Majjhima Nikaya )

Sang Buddha menjawab :
Wahai Brahmana muda, setiap makhluk adalah pemilik karmanya sendiri, pewaris karmanya sendiri, lahir dari karmanya sendiri, berhubungan dengan karmanya sendiri dan dilindungi oleh karmanya sendiri. Karma yang menentukan makhluk – makhluk, menjadikan mereka hina dan mulia.
( Culakammavibhanga Sutta, Majjhima Nikaya )

Sang Buddha menerangkan lebih lanjut bahwa sebagian orang dalam dunia ini, apakah laki laki atau wanita, selalu membunuh makhluk makhluk hidup, kejam dan haus darah, memiliki kebiasaan membunuh dan suka membunuh, tak memiliki rasa kasih sayang terhadap makhluk makhluk hidup. Orang tersebut dengan melakukan perbuatan perbuatan demikian, maka setelah kematiannya, setelah tubuhnya hancur, ia akan terlahir kembali di alam celaka, neraka. Atau apabila setelah kehancuran tubuhnya, setelah mati ia tidak terlahir kembali di alam celaka, neraka, tetapi terlahir kembali sebagai manusia, maka ia akan berumur pendek. Inilah alasan, sebab yang memberikan akibat umur pendek pada manusia.

Sebaliknya Sang Buddha menunjukan bahwa sebagian orang di dunia ini menahan diri dari pembunuhan, menahan diri secara total dari pembunuhan pembunuhan makhluk hidup, penuh perasaan persahabatan dan belas kasihan, mengembangkan cinta kasih dan kasih sayang terhadap semua makhluk hidup. Orang tersebut, dengan melakukan perbuatan perbuatan demikian, setelah kehancuran tubuhnya, setelah mati, maka ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia, ke surga. Atau apabila setelah kehancuran tubuhnya, setelah mati, ia tidak terlahir kembali dalam alam bahagia, ke surga, tetapi terlahir kembali sebagai manusia, maka dimanapun ia dilahirkan kembali, dia akan berumur panjang. Inilah alasan sebab yang memberikan akibat umur panjang pada manusia.
Selanjutnya Sang Buddha menerangkan bahwa perbuatannya kejam, seperti melukai atau menyiksa makhluk makhluk hidup berakibat dengan hidup berpenyakitan, sedang perbuatan perbuatan yang tidak kejam terhadap makhluk makhluk hidup berakibat dengan hidup sehat. Kemarahan merupakan sebab bagi bentuk badan yang jelek dan kesabaran merupakan sebab bagi bentuk badan yang indah. Iri hati mengakibatkan tidak memiliki kekuasaan dan sifat simpati yang bergembira melihat keberhasilan orang lain mengakibatkan memiliki kekuasaan .
Sifat kikir merupakan sebab bagi kemiskinan dan sifat murah hati merupakan sebab bagi hidup kaya. Kesombongan merupakan sebab bagi kelahiran dalam keluarga rendah dan miskin atau berada dalam kedudukan sosial yang rendah, sedang kerendahan hati berakibat dengan kelahiran dalam keluarga berpangkat ( bangsawan ) dan kaya, atau berada dalam kedudukan sosial yang tinggi.
Malas untuk memperoleh pengetahuan merupakan sebab kebodohan, sedang semangat untuk memperoleh pengetahuan baru merupakan sebab bagi kebijaksanaan atau kecerdasan intelek.
Culakammavibhanga Sutta memberikan pandangan yang jelas mengenai macam karma tertentu yang menghasilkan akibat tertentu. Dalam beberapa hal tidaklah sukar untuk menghubungkan antara satu sebab tertentu dengan akibat tertentu secara masuk akal. Contohnya : mengenai kemarahan. Biasanya bilamana seseorang marah misalnya kemarahannya akan terungkap pada wajahnya dan melalui matanya. Setiap orang yang kebetulan berada di dekatnya dapat memperhatikan dengan mudah perubahan suasana hatinya melalui ungkapan yang tak wajar pada wajahnya. Mungkin orang itu sendiri akan merasa takut melihat wajahnya yang jelek bila ia kebetulan melihat ke dalam cermin dan memperhatikannya sewaktu ia sedang marah.

Gambaran yang lain mengenai karma tertentu yang menghasilkan akibat tertentu dapat ditemukan dalam kitab Anguttara Nikaya Catukkanipata 275 – 279. Dalam sumber tersebut dikatakan bahwa pada suatu hari permaisuri raja Pasenadi Kosala yang bernama Mallika Devi mengunjungi Sang Buddha dan bertanya mengenai kualitas kualitas wanita. Berikut inilah pertanyaan pertanyaan yang diajukan olehnya :

1. Apakah alasannya, apakah sebabnya, mengapa seorang wanita memiliki wajah buruk, bentuk tubuh yang jelek, menakutkan untuk dilihat dan ia juga miskin, melarat, papa dan memiliki kedudukan sosial yang rendah ?
2. Apakah alasannya, apakah sebabnya, mengapa seorang wanita memiliki wajah buruk, bentuk tubuh yang jelek dan menakutkan untuk dilihat, namun ia kaya, berharta, berkelebihan dan memiliki kedudukan sosial yang tinggi ?
3. Apakah alasannya, apakah sebabnya, mengapa seorang wanita memiliki wajah cantik, menarik, menyenangkan serta memiliki kecantikan yang luar biasa tetapi ia miskin, melarat, papa dan memiliki kedudukan sosial yang rendah ?
4. Apakah alasannya, apakah sebabnya, mengapa seorang wanita itu cantik, menarik, menyenangkan dan memiliki kecantikan yang luar biasa, namun ia juga kaya, berharta, berkecukupan dan memiliki kedudukan sosial yang tinggi ?

Menjawab pertanyaan yang pertama Sang Buddha menerangkan kepada Mallika bahwa sebagian wanita memiliki sifat pemberang dan bengis, atas setiap hal yang sedikit menentangnya ia merasa dendam, marah, berang dan mendongkol, serta memperhatikan kemarahan dan kebencian; ia juga tak mau memberikan dana kepada para petapa dan brahmana berupa makanan, minuman dan lain sebagainya, serta merasa iri atas keberuntungan, kehormatan, penghargaan yang diperoleh orang lain. Wanita tersebut, bilamana ia meninggal dunia dan lahir dalam kehidupan sekarang, dimanapun ia dilahirkan, maka ia akan memiliki wajah buruk, bentuk tubuh jelek dan menakutkan untuk dilihat, dan juga miskin, melarat, papa serta berada dalam kedudukan sosial yang rendah.

Menjawab pertanyaan yang kedua, secara singkat Sang Buddha menerangkan bahwa sifat pemberang, kemarahan dan kebencian dari kehidupan yang lampau merupakan sebab bagi wajah yang buruk, bentuk tubuh jelek dan perwujudan yang menakutkan dari seorang wainta dalam kehidupan sekarang. Tetapi karena dalam kehidupannya yang lampau ia memiliki sifat murah hati dan tidak merasa iri atas keberuntungan atau kebahagiaan orang lain, maka dalam kehidupannya yang sekarang ia menjadi kaya, berharta, berkelebihan dan berada dalam kedudukan sosial yang tinggi.

Menjawab pertanyaan yang ketiga, bila dalam kehidupannya yang lampau seorang wanita tidak bersifat pemberang, dan sekalipun dihina ia tak merasa dendam, marah, berang serta tidak memperlihatkan kemarahan ataupun kebencian, maka setelah meninggalkan kehidupannya yang lampau, ia dalam kehidupannya yang sekarang akan memiliki wajah yang cantik, menarik, menyenangkan serta memiliki kecantikan yang luar biasa. Tetapi karena ia memiliki sifat kikir dan merasa iri melihat keuntungan dan kebahagiaan orang lain, maka sekarang ia hidup dalam kemiskinan, kemelaratan, papa serta berada dalam kedudukan sosial yang rendah.

Jawaban terhadap pertanyaan yang keempat, bilamana dalam kehidupan yang lampau seorang wanita tidak bersifat pemberang, atau tidak pernah menunjukan kemarahan, kebencian sekalipun ia dihina, juga bilamana ia memiliki sifat murah hati dan tidak merasa iri hati atas keuntungan ataupun kebahagiaan orang lain maka setelah meninggalkan kehidupannya yang lampau dan lahir kembali dalam kehidupan sekarang, dimanapun ia dilahirkan, ia akan memiliki wajah cantik, menarik menyenangkan dan memiliki kecantikan yang luar biasa, juga ia akan kaya, berharta dan berkelebihan serta berada dalam kedudukan sosial yang tinggi.
Culakammavibhanga dan cerita tentang permaisuri Malikka seperti yang terdapat dalam kitab Anguttara Nikaya, dalam satu hal, berfungsi sebagai suatu gambaran yang terbaik mengenai ciri khas tentang ajaran karma Buddhis, dan dalam hal ini, berfungsi sebagai suatu keterangan yang jelas mengenai hubungan karma dan akibat akibatnya yang tertentu. Sumber sumber diatas menyingkap tabir kemisteriusan persoalan – persoalan yang berkenaan dengan perbedaan perbedaan umat manusia. Sebab sebab dan akibat akibat diatas dapatlah disederhanakan dalam bentuk sebagai berikut :

1. Membunuh makhkuk makhluk hidup mengakibatkan umur pendek
2. Sifat cinta kasih terhadap makhluk makhluk hidup mengakibatkan umur panjang.
3. Menyiksa makhluk makhluk hidup mengakibatkan hidup berpenyakitan
4. Sifat kasih sayang terhadap makhluk makhluk hidup mengakibatkan hidup sehat.
5. Sifat pemberang, marah atau kebencian mengakibatkan wajah buruk dan bentuk tubuh jelek
6. Sifat yang tidak pemberang, tidak pemarah dan tidak membenci mengakibatkan wajah cantik, menarik dan menyenangkan.
7. Iri hati mengakibatkan tidak memiliki kekuasaan
8. Kegembiraan yang bersimpati melihat keberuntungan makhluk lain mengakibatkan memiliki kekuasaan
9. Sifat kikir atau mementingkan diri sendiri mengakibatkan kemisikinan
10. Sifat murah hati mengakibatkan kekayaan
11. Kesombongan mengakibatkan kelahiran dalam keluarga rendah atau memiliki kedudukan sosial yang rendah.
12. Kerendahan hati atau kelemah lembutan mengakibatkan kelahiran dalam keluarga tinggi atau memiliki kedudukan sosial yang tinggi.
13. Kemalasan untuk memperoleh pengetahuan baru mengakibatkan kebodohan
14. Semangat untuk memperoleh pengetahuan baru mengakibatkan kecerdasan atau kebijaksanaan

Uraian uraian diatas memberikan jawaban mengenai kemisteriusan persoalan perbedaan perbedaan dalam dunia manusia sejauh kemampuan akal budi kita dapat memahaminya. Tetapi seperti telah dikatakan diatas proses karma amat komplikasi dan misterius, sehingga tak mungkin bagi kita untuk dapat memahami keseluruhan aspek prosesnya. Masih ada beberapa hal yang memerlukan pertimbangan lebih jauh.

Agama Buddha menyatakan bahwa karma buruk yang sama dapat menghasilkan akibat yang berbeda pada dua orang pelaku yang berbeda. Ini tergantung pada kualitas batin masing masing yang mensyarati kekuatan dan kesuburan karma dalam memberikan akibatnya. Pandangan ini telah diuraikan dengan jelas dalam kitab Anguttara Nikaya Tikanipata 120 – 324
Menurut sumber ini , Sang Buddha menerangkan kepada para siswanya bahwasanya adalah mungkin bagi sebagian orang yang melakukan kejahatan ringan untuk dilahirkan kembali di neraka, sedang sebagian orang lain yang melakukan perbuatan yang sama tidak akan terlahir kembali di neraka, melainkan hanya akan memetik buahnya dalam kehidupan sekarang.
Mengenai perbedaan ini, Sang Buddha menerangkan :

“Orang macam apakah O para bhikkhu, yang hanya dengan melakukan kejahatan ringan akan berakibat menyeretnya ke neraka ? O para bhikkhu, bilamana seseorang tidak terlatih silanya, tidak terlatih konsentrasinya, tidak terlatih kebijaksanaannya, rendah dan terbatas kemampuannya dalam hal kebajikan, maka sekalipun ia hanya melakukan kejahatan ringan, maka perbuatan tersebut akan dapat menyeretnya ke neraka”
( Anguttara Nikaya Tikanipata 321 )

Selanjutnya Sang Buddha menyatakan bahwa, sebaliknya bilamana seseorang terlatih sila, konsentrasi, dan kebijaksanaannya, tidak terbatas kemampuannya dalam hal kebajikan serta memiliki cinta kasih dan kasih sayang terhadap semua makhluk, dan ia telah melakukan suatu kejahatan ringan yang serupa, maka perbuatan itu akan habis, itu akan habis dalam hidup sekarang dan bilamana karmanya menghasilkan akibat, ia tidak akan begitu terpengaruh olehnya.

Hal ini menunjukan bahwasanya kualitas kualitas kebajikan seseorang ikut menentukan berbuahnya karma buruk. Jika Seseorang yang melakukan kejahatan ringan tidak memiliki simpanan kebajikan dalam dirinya, maka karma buruknya akan mempunyai kekuatan yang cukup untuk menyeretnya ke neraka. Tetapi jika orang lain yang memiliki banyak simpanan kebajikan dalam dirinya melakukan kejahatan yang serupa, maka kekuatan dan kesuburan suatu peruatan jahat demikian untuk menghasilkan akibatnya akan dilemahkan, yaitu kekuatannya hanya cukup untuk menghasilkan akibat dalam hidup sekarang dan kehabisan tenaganya, tidak cukup kuat untuk menyeret pelakunya terlahir kembali ke neraka.

Mengenai perbedaan akibat karma macam ini, Sang Buddha telah mempergunakan perumpamaan garam dan air untuk memperjelas uraiannya.
Dalam kasus yang pertama Sang Buddha membandingkan seseorang yang tidak atau hanya memiliki sedikit simpanan kebajikan yang melakukan suatu kejahatan ringan dengan seseorang yang memasukan segumpal garam kedalam satu cangkir kecil yang berisi air, dengan berbuat demikian air dalam cangkir kecil itu pasti menjadi asin dan tak dapat diminum. Ini karena air dalam cangkir itu hanya sedikit
kasus yang kedua, seseorang yang memiliki banyak simpanan kebajikan dalam dirinya yang juga melakukan suatu kejahatan ringan yang serupa, dibandingkan dengan seseorang yang memasukan segumpal garam ke dalam sungai gangga, yang tentu saja tidak akan menjadi asin dan airnya dapat diminum.
Seseorang yang tidak atau hanya memiliki sedikit simpanan kebajikan serupa dengan seseorang yang memasukan garam ke dalam cangkir kecil berisi air, sekalipun ia hanya melakukan suatu kejahatan ringan, namun perbuatan tersebut cukup kuat untuk menyeretnya ke neraka. Seseorang yang memiliki banyak simpanan kebajikan adalah serupa dengan seseorang yang memasukan garam ke dalam sungai, bila ia melakukan kejahatan ringan yang serupa maka simpanan kebajikannya akan memperlemah kekuatan karma buruknya, seperti banyaknya air sungai yang akan menetralkan rasa asin gumpalan garam. Dalam contoh ini karma buruk adalah seperti garam dan simpanan kebajikan adalah seperti air.

Walaupun akibat karma buruk tidak dapat dihilangkan sama sekali, itu tidak berarti bahwa kita harus bersikap pasrah. Karma buruk dapat dilawan dengan memperbanyak berbuat kebajikan. Intensitas dan kekuatan yang menghancurkan dari karma buruk hanya dapat dilawan dengan karma baik seperti halnya air yang dapat mengurangi asinnya garam. Karena itu seseorang tidak akan pernah terlambat untuk berbuat baik dalam hidupnya.

Pembagian Karma

Setelah kita mempelajari uraian diatas, kita melihat bahwa karma digolongkan menjadi tiga dan empat macam menurut cara menelitinya. Dilihat dari saluran yang digunakan, karma di golongkan menjadi tiga macam sedangkan dilihat dari sifat dan akibatnya karma dibagi dalam empat kategori. Disamping itu ada pula pembagian karma yang disusun oleh Buddhaghosa dalam Visuddhimagga. Pembagian karma oleh Buddhaghosa ini didasarkan pada kata kata Sang Buddha yang tersebar dalam Kitab Suci Tipitaka.
Pembagian karma yang disusun oleh Buddhaghosa adalah sebagai berikut :

1. Karma menurut waktu
2. Karma menurut kekuatan
3. Karma menurut fungsi

Masing masing golongan ini terdiri dari empat macam, dan bila disatukan seluruhnya ada dua belas macam.
Kadang kadang semuanya disebut dua belas karma. Kedua belas karma ini dapat bersifat baik ( kusala ) atau buruk ( akusala ).

1. Karma Menurut Waktu
Disini karma dihubungkan dengan unsur waktu dalam menghasilkan akibatnya yang terdiri atas empat macam yaitu :
a. Ditthadhammavedaniya – kamma adalah karma yang memberikan akibatnya pada masa kehidupan
sekarang ini juga, apakah karena kekuatannya yang amat besar atau memang karena sudah sampai saatnya untuk masak dalam kehidupan sekarang.
Menurut Visuddhimagga, apabila karma ini tidak menghasilkan akibatnya dalam kehidupan sekarang, maka karma ini menjadi tak efektif ( ahosi , lihat Visuddhimagga halaman 697 )
Ven Vajirananavarorasa dalam bukunya Dhammavibhanga jilid II menerangkan : karma ini tergolong amat kuat dan karena menghasilkan akibatnya dalam kehidupan sekarang. Pelakunya akan mengalami akibatnya dalam kehidupan sekarang ini juga, tetapi apabila pelakunya mati sebelum menghasilkan akibatnya maka karma ini menjadi tidak efektif ( Dhammavibhanga jilid II hal 129 )

b. Uppajjavedaniya – kamma adalah karma yang akibatnya akan dialami dalam kehidupan setelah hidup
sekarang ini, karma ini menggantikan karma “ sekarang “ sejak saat kematian seseorang dan terus menghasilkan akibatnya dalam kehidupan yang baru selam tak ada intervensi dari karma lain yang lebih kuat. Menurut Visuddimagga, bila dalam kehidupan berikutnya setelah kehidupan sekarang karma ini tak memperoleh kesempatan untuk menghasilkan akibatnya, maka karma itu akan menjadi mubazir ( Visuddimagga halaman 697 )

c. Aparapara vedaniya – kamma adalah karma yang akibatnya akan dialami dalam kehidupan kehidupan berikutnya. Karma macam ini agak menyerupai karma macam kedua dan paling cepat hanya akan menghasilkan akibat dalam masa kehidupan itu. Namun karma macam ini dikatakan tak akan pernah berakhir dan terus mengejar pelakunya tanpa mengenal lelah, tak akan pernah berhenti melakukan pengejarannya sampai sang korban menjadi lelah. Karma macam ini dapat diumpamakan seperti srigala yang selalu membayangi rusa, dan menggigit korbannya kapan dan dimanapun ada kesempatan.

d. Ahosi – kamma adalah karma yang tidak memberi akibat karena jangka waktunya untuk memberikan
akibat telah habis atau karena karma tersebut telah menghasilkan akibatnya secara penuh sehingga kekuatannya habis sendiri. Karma macam ini dapat dibandingkan dengan sebuah benih yang telah tersimpan sedemikian lama sehingga kemampuanya untuk berbuah menjadi rusak.

2. Karma Menurut Kekuatan
Di sini karma dihubungkan dengan tingkat kekuatannya dalam menghasilkan akibat yang terdiri atas empat macam yaitu :
a. Garu – kamma adalah karma yang paling berat diantara semua karma lainnya dan karena sifatnya yang amat kuat, karma macam ini akan masak terlebih dahulu. Selama karma ini masih menghasilkan akibatnya, tak ada karma lainnya yang berkesempatan untuk menghasilkan akibatnya. Sebagai suatu perbandingan dapatlah kita umpamakan dengan seorang yang menjatuhkan berbagai macam benda dari suatu tempat yang tinggi. Maka batu yang dijatuhkan akan sampai ke tanah terlebih dahulu, baru kemudian diikuti dengan sepotong kayu, karton dan akhirnya bulu ayam. Pada seginya yang buruk ( akusala ), garu kammamenyatakan pada lima macam kejahatan yang mematikan yaitu : 1) membunuh ibu, 2) membunuh ayah, 3) membunuh orang yang telah mencapai kesucian sempurna, 4) Melukai tubuh seorang Buddha, 5) menyebabkan perpecahan dalam tubuh persaudaraan para bhikku ( sangha ).
Kelima macam perbuatan ini dianggap sebagai karma yang paling buruk diantara semua karma lainnya. Seseorang yang telah melakukan salah satu diantara kelima macam perbuatan diatas, maka dalam hidupnya yang sekarang ia tidak dapat memahami kebenaran mutlak, karena ia sendirilah yang telah menciptakan rintangan bagi pencapaiannya. Setelah tubuhnya hancur, setelah kematiannya maka ia akan terlahir kembali dalam alam neraka yang paling mengerikan. Pada seginya yang baik ( kusala ), garu kamma menyatakan pada delapan macam pencapaian tingkat samadhi : empat tingkat rupa jhana dan empat tingkat arupa jhana.

b. Bahula – kamma adalah karma yang sering dan terulang ulang dilakukan oleh seseorang melalui saluran badan jasmani, ucapan dan pikiran, sehingga tertimbun dalam wataknya.
Karma kebiasaan ini akan memberikan akibatnya terlebih dahulu apabila seseorang tidak melakukan garu – kamma.

c. Asanna – kamma adalah karma yang diperbuat oleh seseorang pada saat menjelang kematian atau dapat pula berupa perbuatan perbuatan yang dahulu pernah dilakukan dalam masa hidupnya yang ia ingat kembali dengan amat jelas pada saat ia berada di ambang pintu kematian.
Namun sesungguhnya karma macam ini amatlah ditentukan oleh sifat dari kebiasaan seseorang. Bila seseorang telah terbiasa berbuat jahat untuk waktu yang lama, maka ia hanya sedikit sekali kemungkinannya untuk mempunyai Assana – kamma yang baik. Sebaliknya seseorang yang telah terbiasa berbuat bajik sepanjang masa hidupnya, maka juga sedikit sekali kemungkinannya untuk memiliki Assana kamma yang jelek. Menurut agama Buddha karma ini amat menentukan macam kelahiran mendatang dari orang yang sedang berada diambang pintu kematian, yaitu apakah ia akan dilahirkan kembali dalam alam sengsara atau alam bahagia tergantung pada karma ini.
Misalnya : suatu contoh yang sebenarnya jarang terjadi , seseorang yang biasa berbuat jahat dan pada saat kematiannya ia teringat akan beberapa perbuatan baiknya yang pernah ia lakukan, kemudian ia mati dengan pikiran yang berdiam pada ingatan akan perbuatan baiknya, maka ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia karena kekuatan assana kammanya itu. Namun demikian ia tak dapat menikmatinya lama, dan segera akan disusul dengan akibat akibat buruk dari perbuatan perbuatan jahatnya yang telah ia lakukan sepanjang masa hidupnya yang lampau. Berkenaan dengan hukum karma macam ini, Sang Buddha telah mengumpamakan dengan sekumpulan sapi yang berada di sebuah kandang tertutup. Sapi yang berada diambang pintu yang akan keluar terlebih dahulu apabila pintunya dibuka, betapapun tua dan lemahnya sapi itu. Namun tak lama kemudian sapi sapi yang kuat akan dapat menyusul dan meninggalkannya di belakang.

d. Kattata – kamma adalah suatu perbuatan yang hampir tidak didorong oleh kehendak. Karma ini sebenarnya lebih bersifat mekanis daripada bersifat kehendak. Karenanya karma macam ini digolongkan sebagai karma yang paling lemah diantara semua karma yang lainnya dan akan memberikan akibat apabila karma lainnya tak ada.
Sebagai contoh mengenai kattata kamma : Seorang petani misalnya melemparkan batu ke arah sekumpulan burung yang memakan padinya, tujuannya hanyalah untuk mengusir burung burung itu, dan bukan untuk membunuhnya. Namun secara kebetulan batu itu mengenai kepala seekor ayam yang berada di sekitar tempat itu sehingga akibatnya ayam tersebut mati. Dalam hal ini karma petani itu digolongkan sebagai kattata kamma. Dalam kasus kasus semacam ini, karma tidak dapat dinilai semata mata hanya berdasarkan atas ukuran akibat akibatnya saja, tetapi motif atau kehendak yang berada di belakang perbuatan itu juga harus dipertimbangkan karenanya kattata kamma hanya memiliki kemampuan yang amat kecil dalam menghasilkan akibatnya karena tidak adanya kehendak atau itikad sebagai kekuatan pendorong.

3. Karma Menurut Fungsi
Disini karma dihubungkan dengan peranannya dalam menghasilkan akibat yang juga terdiri atas empat macam yaitu :
a. Janaka – kamma ( karma penghasil ) adalah karma yang berfungsi menghasilkan. Tugas karma ini adalah menyebabkan kelahiran sesuai dengan macam dan sifatnya. Karma macam ini dapat dibandingkan dengan seorang ayah – ibu dalam fungsinya membawa seorang dalam kelahiran baru.
Menurut agama Buddha, apabila Janaka kamma telah menyebabkan suatu kelahiran, maka tugasnya
sebagai karma penghasil berakhir. Dengan memahami janaka kamma berarti kita juga dapat memahami adanya perbedaan perbedaan dalam dunia manusia yang tidak lain disebabkan oleh janaka kamma.
b. Upatthambhaka – Kamma ( karma Penguat ) adalah karma yang berfungsi membantu memperkuat apa yang telah dihasilkan oleh janaka kamma sesuai dengan macam dan sifatnya. Jadi apabila janaka kammanya baik, kamma penguat ini membantu sehingga keadaannya lebih baik, demikian pula sebaliknya.
Misalnya : Seseorang yang memiliki janaka kamma yang baik sehingga ia dilahirkan dalam lingkungan keluarga yang baik, maka kamma penguat akan membantu kesempatan tersebut menjadi lebih baik, dengan memberikan kesempatan pada orang tersebut memiliki kondisi kondisinya yang lebih baik dan akibatnya ia akan berhasil dalam kehidupannya yang sekarang. Sebaliknya seseorang yang memiliki janaka kamma buruk sehingga ia dilahirkan di tengah tengah keluarga yang berantakan dan dalam lingkungan hidup yang tidak baik, maka kamma penguat ini akan membantu menguatkan keadaan tersebut dan akibatnya ia dapat berbuat kejahatan kejahatan yang lebih berat, atau ia tak mau belajar untuk meningkatkan dirinya. Dan akhirnya ia harus menderita dalam kehidupan yang sekarang.
Dalam kedua kasus ini yang pertama disebut : “ Datang Terang Pergi Terang” ( Joti Jotiparayano ) sedangkan yang kedua disebut “ Datang Gelap Pergi Gelap “ ( Tamo Tamoparayano )
c. Uppapilika – Kamma ( Karma Pelemah ) adalah karma yang berfungsi menandingi pengaruh dari apa yang telah dihasilkan oleh janaka kamma, memperlemah kekuatannya atau mempersingkat waktunya dalam menghasilkan akibatnya. Apabila janaka kamma menjadikan seseorang memiliki suatu kelahiran yang baik, karma pelemah ini akan mengurangi kesempatan yang dimiliki dalam suatu kelahiran, demikian pula sebaliknya.
Dalam kedua kasus ini yang pertama disebut : “ Datang Terang Pergi Gelap” ( Joti Tamaparayano ) sedangkan yang kedua disebut “ Datang Gelap Pergi Terang “ ( Tamo Jotiparayano )
d. Upaghataka – Kamma ( Karma Penghancur ) adalah karma yang mempunyai kategori sama dengan karma pelemah diatas, karena fungsinya menentang atau menghancurkan kekuatan dari janaka kamma. Akan tetapi karma ini mempunyai kekuatan yang lebih besar daripada karma pelemah.
Contohnya : Seorang gadis jelata yang menjadi istri seorang raja, atau seorang anak dari keluarga miskin yang diangkat anak menjadi anak keluarga kaya atau juga seorang kaya yang akhirnya menjadi pengemis dan lain sebagainya.

Gratis Dari Mama

Pada suatu sore, seorang anak menghampiri ibunya di dapur, yang sedang menyiapkan makan malam, dan ia menyerahkan selembar kertas yang selesai ditulisinya. Setelah ibunya mengeringkan tangannya dengan celemek, ia membacanya dan inilah tulisan si anak :

1. Untuk memotong rumput minggu ini Rp 7.500
2. Untuk membersihkan kamar minggu ini Rp 5.000
3. Untuk pergi ke toko menggantikan mama Rp 10.000
4. Untuk menjaga adik waktu mama belanja Rp 15.000
5. Untuk membuang sampah setiap hari Rp 5.000
6. Untuk raport yang bagus Rp 25.000
7. Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp 12.500

Jumlah hutang Rp 80.000

Si ibu memandang anaknya yang berdiri di situ dengan penuh harap, dan berbagai kenangan terlintas dalam pikiran ibu itu. Kemudian ia mengambil bolpen, membalikan kertasnya dan menulis :

1. Untuk sembilan bulan ketika mama mengandung kamu selama kamu tumbuh dalam perut mama ,GRATIS
2. Untuk semua malam ketika mama menemani kamu, mengobatikamu, dan mendoakan kamu , GRATIS
3. Untuk semua saat susah, dan semua air mata yang kamu sebabkan selama ini, GRATIS
4. Untuk semua malam yang dipenuhi rasa takut dan untuk rasa cemas di waktu yang akan datang, GRATIS
5. Untuk mainan, makanan, baju dan juga menyeka hidungmu, GRATIS

Anakku, dan kalau kamu menjumlahkan semuanya, harga cinta sejati mama adalah, GRATIS

Setelah selesai membaca apa yang ditulis ibunya, ia menatap wajah ibunya dan berkata
“Ma, aku sayang sekali pada Mama”
Dan kemudian ia mengambil bolpen dan menulis dengan huruf besar besar : ” LUNAS”

Sungguh cerita yang sangat indah, dan airmata saya mengalir ketika mebaca cerita itu.

Pesan : “Sayangilah orang tua kita melebihi siapapun juga di dunia ini, jangan pernah menyakiti perasaan kedua orang tua kita, apalagi menyia nyiakan kasih sayang kedua orang tua kita”

Yang Ariya Sariputta

YANG ARIYA SARIPUTTA

Terkemuka Dalam Kebijaksanaan

Pada suatu pagi Sariputta melihat YA Assaji, salah seorang bhikkhu siswa pertama Sang Buddha sedang menerima dana makanan di Rajagaha. Ia sangat terkesan melihat penampilan YA Assaji yang damai dan agung. Ia berpikir bahwa pastilah bhikkhu itu telah mencapai arahat. Ketika YA Assaji selesai makan, ia mendekati dan memberi salam untuk kemudian bertanya siapakah guru beliau dan ajaran apakah yang diajarkan oleh gurunya itu. YA Assaji memberi tahukan bahwa gurunya adalah Sang Buddha Gotama dan bahwa beliau tidak dapat menerangkan ajaran tersebut secara panjang lebar karena belum lama menjadi bhikkhu tetapi dapat menjelaskan artinya secara singkat. Kemudian beliau mengucapkan syair berikut:

“Ye dhamma hetuppabhava,Tesam hetum tathagato aha;Tesañca yo nirodho ca Evam vadi mahasamano”
“Semua benda timbul karena suatu sebab,’Sebab’ itu telah diberitahukan oleh Sang Tathagata;Dan juga lenyapnyaDemikianlah yang diajarkan olehSang Petapa Agung”

Mendengar syair tersebut, Sariputta memperoleh Mata Dhamma (Dhammacakkhu) dan menjadi seorang Sotapanna (orang yang mencapai tingkat kesucian pertama).

Sariputta terlahir di desa Upatissa dekat Rajagaha. Karena ia adalah anak tertua dari keluarga utama di desa itu, nama pribadinya menjadi Upatissa. Ayahnya adalah seorang Brahmana bernama Vanganta dan ibunya bernama Rupasari, oleh karena itulah ia dikenal pula sebagai Sariputta (putera dari Sari). Ia mempunyai tiga adik laki-laki dan tiga adik perempuan, yang kesemuanya di kemudian hari memasuki Sangha. Sejak kecil Sariputta sudah memperlihatkan kepandaian yang istimewa. Mula-mula ia belajar kepada ayahnya yang mempunyai pandangan yang bijaksana dalam pengetahuan-nya sebagai seorang Brahmana. Ia mempelajari Veda (Kitab Suci Agama Hindu). Pada usia delapan tahun ia mulai belajar dengan seorang guru, dan pada usia enam belas tahun ia sudah terkenal di daerah tempat tinggalnya.

Pada hari kelahirannya, terlahir pula seorang anak laki-laki di desa Kolita, sehingga anak itu disebut Kolita. Ayahnya adalah kepala desa dan ibunya adalah seorang Brahmana bernama Moggali sehingga anak itu disebut pula sebagai Moggallana. Upatissa dan Moggallana berteman sejak masa kanak-kanak mereka. Mereka bersama-sama pula menikmati kesenangan hidup. Sampai pada suatu ketika mereka menyadari bahwa pada akhirnya semua manusia akan mengalami kematian. Oleh karena itulah keduanya bersepakat, untuk meninggalkan hidup keduniawian untuk mencari jalan yang dapat membebaskan diri dari kematian.

Mereka kemudian pergi untuk berguru kepada seorang guru terkenal saat itu yang bernama Sañjaya. Karena kemampuannya yang luar biasa, Sariputta dan Moggallana segera diakui sebagai murid yang utama diantara murid-murid lainnya. Tetapi meskipun mereka telah menguasai semua ajaran yang diberikan oleh Sañjaya, mereka belum juga menemukan jalan pembebasan yang dicari. Mereka kemudian berjanji bahwa siapa di antara mereka yang kelak lebih dulu memperoleh Ajaran Sempurna akan memberitahukan hal itu kepada lainnya.

Maka segera setelah Sariputta bertemu dengan YA Assaji, beliau menemui Moggallana dan menyampaikan peristiwa yang dialaminya dan mengulangi syair yang diucapkan oleh YA Assaji. Seketika itu pula Moggallana memperoleh Mata Dhamma dan menjadi seorang Sotapanna. Kemudian mereka menyampaikan hal ini kepada Sañjaya. Namun Sañjaya menolak untuk pergi bersama mereka menemui Sang Buddha. Keduanya lalu pergi bersama dua ratus lima puluh murid Sañjaya ke Vihara Veluvana untuk menemui Sang Buddha. Mereka memohon penahbisan dan Sang Buddha menerima mereka ke dalam Sangha dengan kata-kata “Ehi Bhikkhu”.

Tujuh hari setelah ditahbiskan, Moggallana mencapai tingkat Arahat (tingkat kesucian tertinggi) setelah mendapat petunjuk dari Sang Buddha. Lima belas hari setelah ditahbiskan, Sariputta berdiam bersama Sang Buddha di gua Sukarakhta di gunung Gijjhakuta (Puncak Burung Nasar) di kota Rajagaha. Seorang petapa Paribbajaka bernama Dighanakha dari keluarga Aggivesana pada suatu hari menghampiri Sang Buddha dan bertanya kepada Sang Buddha. Sang Buddha kemudian mengkhotbahkan Vedanapariggha kepada petapa tersebut. Mendengar sutta itu Sariputta pun menjadi seorang Arahat (orang yang mencapai kesucian tertinggi).
YA Sariputta dan YA Moggallana merupakan siswa-siswa yang mulia dan termashyur, merupakan Siswa Kepala (Aggisavaka) yang membantu Sang Buddha dalam menyampaikan Ajaran kepada dunia.

Dalam suatu pertemuan para bhikkhu Sang Buddha menyatakan bahwa YA Sariputta adalah siswa yang terkemuka dalam kebijaksanaan, dan YA Moggallana adalah yang terkemuka dalam kekuatan gaib. Dalam hal kebijaksanaan, YA Sariputta adalah yang kedua setelah Sang Buddha. Beliau sangat ahli dalam mengajarkan tentang sebab akibat, Empat Kesunyataan Mulia dan Jalan Utama Berunsur Delapan. Beliau amat pandai menguraikan dengan terinci intisari Ajaran Sang Buddha kepada orang lain. Sang Buddha pernah bersabda “Bila kamu meninggalkan kehidupan keduniawian dan menjadi bhikkhu, kamu harus seperti Sariputta dan Moggallana. Berusahalah untuk mendekati dan meminta mereka untuk mengajarimu”.

Meskipun YA Sariputta dikenal sebagai Siswa Kepala, beliau tidak mementingkan diri sendiri. Beliau adalah seseorang yang tahu berterima kasih, rendah hati, penuh belas kasihan dan sabar. Beliau senang mengunjungi bhikkhu-bhikkhu lain yang sakit. Ketika bhikkhu-bhikkhu lain sedang melakukan pindapata, beliau mengelilingi seluruh bangunan vihara, menyapu tempat-tempat yang belum tersapu, mengisi saluran-saluran yang kosong dengan air, mengatur perabotan dan sebagainya. Khotbahnya, Sangiti Sutta dan Dasuttara Sutta adalah permulaan dari cita-citanya mengulangi Ajaran Sang Buddha untuk menjaga dan mempertahankan kemurniannya dan agar ajaran itu tetap terlindung. Apabila Sang Buddha adalah Dhammaraja (Raja dari Ajaran), maka YA Sariputta adalah Dhammasenapati (Panglima dari Ajaran).

Ketika Sang Buddha mengunjungi kerajaan Sakya, Rahula, putra-Nya meminta harta kepadanya. Untuk memberi harta yang agung kepada Rahula, Sang Buddha meminta YA Sariputta untuk menahbiskan Rahula. YA Sariputta menjadi Upajjhaya dari Rahula sedangkan YA Moggallana menjadi Acariya bagi Rahula. Ketika Sang Buddha mengkhotbahkan Abhidhamma kepada ibunya dan dewa-dewa di surga Tavatimsa, YA Moggallana tinggal bersama orang-orang yang menunggu kembalinya Sang Buddha. Sementara itu, setiap hari pertama Sang Buddha pergi ke danau Anottata untuk mandi dan istirahat siang, YA Sariputta mengunjungi Sang Buddha dan mempelajari semua yang telah dikhotbahkan. Setelah itu beliau mengajarkannya kepada lima ratus siswanya.

Pada saat Devadatta menimbulkan perpecahan di antara para bhikkhu dan membawa lima ratus bhikkhu yang baru ditahbiskan ke Gayasisa, Sang Buddha mengirim kedua Siswa Kepala untuk membawa mereka kembali. Mereka berhasil melaksanakan tugas tersebut dan kembali kepada Sang Buddha bersama kelima ratus bhikkhu itu.

Kurang lebih enam bulan sebelum Sang Buddha wafat, YA Sariputta merasa bahwa akhir hidupnya telah menjelang. Beliau memohon ijin kepada Sang Buddha untuk mencapai Parinibbana (wafat). Setelah diijinkan, YA Sariputta pulang ke desa Nalaka yang merupakan tempat kelahirannya. Para dewa dan Brahma mengunjunginya sehingga membuat ibunya takjub karena Brahma yang dipujanya ternyata menghormati putranya. Pada saat itulah YA Sariputta mengajarkan Dhamma kepada ibunya dan membuatnya yakin kepada Sang Tiratana. Kepada seorang bhikkhu yang ikut bersamanya beliau berkata, “Saya telah bersama-sama denganmu selama lebih dari empat puluh tahun. Kalau saya mempunyai kesalahan, maafkanlah saya.” Itulah kata-katanya yang terakhir. Malam itu beliau merebahkan dirinya di tempat tidur dan dengan tenang mencapai Parinibbana (wafat). Relik beliau dibawa ke Savatthi dan Sang Buddha memerintahkan membuat cetiya untuk menyimpan relik tesebut.

Yang Ariya Ananda

YANG ARIYA ANANDA

Pembantu Tetap Sang Buddha dan Bendahara Dhamma

Pada suatu ketika dalam suatu pertemuan para bhikkhu di Rajagaha, Sang Buddha yang saat itu berusia lima puluh lima tahun menyinggung tentang perlunya ditunjuk seorang pembantu tetap untuk diriNya. Semua siswa utama seperti YA Sariputta dan YA Moggallana menawarkan diri untuk menjadi pembantu tetap namun semuanya ditolak oleh Sang Buddha. Para bhikkhu kemudian menganjurkan Ananda yang selama itu berdiam diri saja untuk memohon kepada Sang Buddha untuk dapat diterima sebagai pembantu tetap. Ananda mengatakan, “Kalau Sang Bhagava memang memerlukan Ananda sebagai Pembantu Tetap, Sang Bhagava boleh mengatakannya”. Kemudian Sang Buddha berkata, “Ananda, jangan membiarkan orang lain menganjurkan engkau untuk memohon pekerjaan tersebut. Atas kemauan sendiri engkau dapat menjadi Pembantu Tetap Sang Buddha”.

Baru setelah itulah Ananda menawarkan diri untuk menjadi Pembantu Tetap asal Sang Buddha berkenan meluluskan delapan permintaannya, yaitu menolak empat hal dan memenuhi empat hal. Empat hal yang diminta Ananda untuk ditolak adalah: apabila Sang Buddha menerima persembahan jubah, maka jubah itu tidak boleh diberikan kepada Ananda; apabila Sang Buddha menerima hadiah, hadiah itu tidak boleh diberikan kepada Ananda; Ananda tidak boleh diminta untuk tidur di kamar pribadi Sang Buddha yang harum baunya (Gandhakuti); apabila Sang Buddha menerima undangan pribadi, maka undangan itu tidak termasuk dirinya. Ananda mengatakan apabila Sang Buddha melakukan hal tersebut maka orang akan bercerita bahwa Ananda menjadi Pembantu Tetap karena ingin mendapat jubah bagus, makanan enak, tempat tinggal menyenangkan dan ikut serta kalau Sang Buddha mendapat undangan.

Empat hal yang diminta Ananda untuk dipenuhi adalah: apabila Ananda menerima undangan atas nama Sang Buddha maka Sang Buddha harus memenuhinya; apabila ada orang datang dari tempat jauh, agar Ananda dapat membawanya menghadap Sang Buddha; apabila Ananda merasa ada sesuatu yang meragukan ia diperbolehkan bertanya kepada Sang Buddha setiap waktu; apabila Ananda tidak hadir saat Sang Buddha berkhotbah, Sang Buddha bersedia mengulanginya kembali. Apabila hal tersebut tidak diperkenankan maka orang akan bertanya-tanya apa sebenarnya faedah dari pengabdian tersebut. Sang Buddha menyetujui permintaan tersebut dan sejak saat itu Ananda resmi menjadi Buddha-upatthaka (Pembantu Tetap Sang Buddha).

YA Ananda terlahir sebagai putera Sukkodana, saudara Suddhodana ayah Sang Buddha, oleh karenanya ia merupakan saudara sepupu pertama Sang Buddha. Hari kelahirannya bersamaan dengan hari kelahiran Sang Buddha, bersamaan pula dengan terlahirnya Puteri Yasodhara yang kemudian menjadi isteri Pangeran Siddhattha, Channa yang kemudian menjadi kusir Pangeran Siddhattha, Kaludayi yang kemudian mengundang Sang Buddha untuk berkunjung kembali ke Kapilavatthu, Kanthaka yang kemudian menjadi kuda Pangeran Siddhattha, seekor gajah istana, pohon Bodhi tempat Pangeran Siddhattha mencapai Penerangan Agung, Nidhikumbhi yaitu tempat harta pusaka.

Ananda memasuki Sangha bersama-sama dengan para bangsawan Sakya yaitu Mahanama, Bhaddhiya, Bhagu, Kambila, Devadatta dan tukang cukur mereka yang bernama Upali. Mereka menjumpai Sang Buddha di hutan mangga Anupiya dalam perjalanan ke Rajagaha. Di tempat itu mereka memohon kepada Sang Buddha untuk ditahbiskan menjadi bhikkhu. Dan dengan tujuan untuk mengurangi rasa kebanggaan mereka, mereka memohon kepada Sang Buddha untuk mentasbihkan Upali, tukang cukur mereka, terlebih dahulu.

Selama vassa berikutnya, Bhaddhiya mendapat tiga kemampuan dan menjadi Arahat. Anuruddha mendapatkan yang kedua dari kemampuan tersebut yaitu mata dewa yang dapat melihat timbul dan lenyapnya makhluk-makhluk. Sang Buddha menyatakan Anuruddha sebagai yang terkemuka di antara mereka yang memperoleh mata dewa (dibbacakkhu) dan Bhaddhiya sebagai yang terkemuka di antara mereka yang mengalami kelahiran agung. Ananda mendengar khotbah YA Punnamantaniputta dan menjadi seorang Sotapanna (seorang suci tingkat pertama).

Devadatta memperoleh kekuatan gaib yang dapat dicapai oleh manusia biasa. Di kemudian hari Devadatta mengembangkan pikiran jahat dan memusuhi Sang Buddha. Sedangkan Upali menjadi yang terkemuka di antara mereka yang mempelajari Vinaya (aturan kebhikkhuan).

Sebagai Pembantu Tetap Sang Buddha, Ananda melayani Sang Buddha selama dua puluh lima tahun, mengikuti Sang Buddha bagaikan bayanganNya, membawakan air dan tusuk gigi, mencuci kaki Sang Buddha, menyertai Sang Buddha ke mana saja, menyapu tempat kediaman Sang Buddha. Karena dekatnya hubungan dengan Sang Buddha, Ananda berkesempatan untuk mendengarkan semua Khotbah Sang Buddha. Karena mempunyai daya ingat yang luar biasa, Ananda dapat mengingat segala sesuatu yang diucapkan oleh Sang Buddha sehingga ia dikenal sebagai ‘Bendahara Dhamma’ (Dhamma Bhandagarika)

Pada suatu ketika di Jetavana dalam pertemuan para bhikkhu, Sang Buddha memuji Ananda dan menempatkannya sebagai bhikkhu yang utama dalam lima hal: kepandaian (Bahusacca), ingatan yang kuat (Sati), kelakuan baik (Gati), ketabahan (Dhiti), perhatian penuh dalam pelayanan (Upatthana).

Ketika Maha Pajapati Gotami, ibu tiri Sang Buddha, memohon kepada Sang Buddha untuk diijinkan memasuki Sangha, Anandalah yang sangat mendukung keinginan tersebut dan berhasil memohon kepada Sang Buddha untuk memperkenankan wanita memasuki Sangha. Inilah permulaan adanya Sangha Bhikkhuni dalam agama Buddha. Ananda pulalah, atas permintaan Sang Buddha, yang merancang jubah bhikkhu dengan pola menyerupai sawah di Magadha.

Meskipun mempunyai hubungan yang dekat dengan Sang Buddha, sampai pada saat Sang Buddha mencapai Parinibbana (wafat), Ananda belum juga mencapai tingkat Arahat (tingkat kesucian tertinggi). Ananda mencapai tingkat Arahat tiga bulan setelah wafatnya Sang Buddha yaitu pada Sidang Agung Pertarna di Gua Sattapanni, Rajagaha. Ketika itu YA Maha Kassapa mengusulkan untuk mengulang Dhamma dan Vinaya sehingga dapat diketahui Ajaran yang sesungguhnya. Para bhikkhu memintanya memilih anggota pertemuan dan beliau memilih 499 Arahat. Beliau diminta pula untuk memilih Ananda, karena meskipun belum mencapai Arahat, Ananda telah mempelajari Dhamma dan Vinaya dari Sang Buddha sendiri. Menyadari dirinya merupakan satu-satunya peserta pertemuan yang belum Arahat, sehari sebelum pertemuan dimulai Ananda melatih diri dengan sungguh-sungguh hingga larut malam.

Menjelang fajar, ia merasa mengantuk dan karenanya merebahkan diri. Pada saat kepala belum menyentuh bantal, belum lagi kakinya meninggalkan lantai, ia menyelami Enam Kemampuan Batin Luar Biasa (Abhiñña). Karena itulah beliau dikatakan sebagai satu-satunya siswa yang mencapai Arahat tanpa empat sikap tubuh (Iriyapatha).

Pada hari pertemuan, Ananda memasuki ruang pertemuan dan muncul di atas tempat duduk kosong yang telah disediakan untuknya. YA Upali dipilih untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan YA Maha Kassapa tentang Vinaya dan YA Ananda ditunjuk untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang Dhamma, yaitu tentang Sutta dan Abhidhamma. Oleh karena itulah tiap Sutta selalu dimulai dengan kata-katanya, “Evam me sutam” – ‘Demikianlah telah kudengar’.

Ananda melewatkan tahun-tahun terakhirnya dengan mengajar, berkhotbah dan memberikan semangat kepada rekan-rekannya yang lebih muda. Beliau hidup sampai usia yang sangat lanjut yaitu seratus dua puluh tahun. Menjelang wafatnya, beliau pergi ke sungai Rohini yang terletak di perbatasan antara Kapilavatthu dan Koliya. Setelah berkhotbah kepada kedua pihak, beliau berjalan ke tengah sungai dan dari tubuhnya keluar api yang membakar badan jasmaninya. Sisa badan jasmaninya dibagi dua dan ditaruh dalam stupa di Kapilavatthu dan di Koliya.

Yang Ariya Moggallana

YANG ARIYA MOGGALLANA

Terkemuka dalam Kekuatan Gaib

Setelah memperoleh kekuatan gaib setelah berlatih dengan tekun di bawah bimbingan Sang Buddha, YA Moggallana menggunakan kekuatannya itu untuk mencari di mana ibunya terlahir kembali dan mencoba untuk membalas budi kepada ibu yang mengasuhnya hingga dewasa. Setelah menyelidiki, ditemukanlah bahwa ibunya terlahir kembali di alam neraka dan amat menderita. Melihat hal itu, YA Moggallana segera menggunakan kekuatan gaibnya mengirimkan makanan kepada ibunya. Tetapi pada saat ibunya mencoba memasukkan makanan ke mulutnya, makanan itu terbakar menjadi nyala api dan menyebabkan penderitaan yang lebih hebat dari sebelumnya.

Merasa iba dengan keadaan ibunya itu, YA Moggalana bertanya kepada Sang Buddha apa yang harus dilakukannya untuk menolong ibunya. Sang Buddha bersabda, “Kekuatanmu sendiri tidak mampu untuk mengatasi akibat perbuatan buruk yang telah dilakukan ibumu. Kamu harus memberi persembahan kepada para bhikkhu dan meminta mereka untuk mendoakan ibumu. Doa mereka akan dapat membebaskan ibumu dari neraka”. YA Moggallana melaksanakan apa yang disampaikan oleh Sang Buddha, dan jasa perbuatan baik yang dilakukannya dengan memberikan persembahan kepada para bhikkhu untuk dilimpahkan kepada ibunya dan untuk membebaskan ibunya dari alam neraka.

YA Moggallana terlahir di desa Kolita di Rajagaha, berdekatan dengan desa Nalaka tempat kelahiran YA Sariputta. Sejak kecil keduanya merupakan sahabat akrab dan saling menghormati satu sama lain. Keluarga Moggallana merupakan keluarga Brahmana penasihat raja, tinggal di sebuah rumah besar yang dapat dibandingkan dengan istana raja di Rajagaha. Setelah berdiskusi dengan Sariputta, Moggallana memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi. Pada mulanya keluarganya menolak dengan keras karena keluarganya menaruh harapan besar kepada Moggallana yang mempunyai kemampuan luar biasa. Namun akhirnya mereka mengijinkan karena menyadari tekad Moggallana yang kuat dan keputusannya yang mantap. Moggallana bersama Sariputta berguru kepada Sañjaya, dan kemudian datang kepada Sang Buddha untuk menjadi siswa Sang Buddha dan memasuki Sangha.

Tujuh hari setelah ditahbiskan menjadi bhikkhu, Moggallana pergi menyepi di desa Kallavalamuttagama untuk melatih diri dengan sungguh-sungguh dalam meditasi. Ketika suatu kali beliau merasa mengantuk dan kehilangan semangat, Sang Buddha menampakkan diri di hadapannya dan memberi petunjuk sehingga Moggallana dapat mengatasi perasaan itu. Dengan melaksanakan petunjuk itu Moggallana berhasil mencapai tingkat Arahat hari itu juga. Karena pengabdiannya yang besar kepada Sang Buddha, YA Moggallana mempunyai kemampuan untuk melihat wajah dan mendengar suara Sang Buddha tidak masalah berapapun jauhnya jarak yang memisahkan mereka.

Pada suatu ketika Sang Buddha pergi ke Vihara Jetavana meninggalkan Ya Sariputta dan YA Moggallana di Vihara Hutan Bambu. Suatu hari YA Moggallana menemui YA Sariputta dan berkata bahwa beliau baru saja berbicara dengan Sang Buddha. Dengan takjub YA Sariputta bertanya, “Bagaimana caranya anda berbicara dengan Beliau yang berada sangat jauh, melewati sungai dan gunung, di Vihara Jetavana?” YA Moggallana menjawab bahwa dengan kekuatan gaibnya beliau dapat berbicara dengan Sang Buddha dan Sang Buddha menguraikan ajaran kepadanya. Mendengar hal itu, YA Sariputta berkata bengan kagum, “Sahabatku, kita semua harus menghormatimu, dekat denganmu, dan berusaha keras untuk menjadi seperti dirimu, bagaikan batu kecil yang menyerupai Gunung Himalaya yang amat tinggi.”

YA Moggallana pun amat menghormati YA Sariputta. Pada suatu kesempatan, mendengar YA Sariputta menjelaskan dengan sangat fasihnya tentang Empat Jalan untuk Kebebasan, YA Moggallana berkata dengan penuh kekaguman, “Sahabatku, ajaranmu bagaikan makanan untuk mereka yang lapar, dan bagaikan minuman untuk mereka yang haus.” Sang Buddha memuji mereka dengan menyatakan, “Sariputta bagaikan seorang ibu yang melahirkan dengan membangunkan pikiran untuk mencari jalan kebebasan. Moggallana bagaikan pengasuh yang merawat si anak untuk mengembangkan pikiran kebebasan. Semua bhikkhu yang melatih diri hendaklah mengambil kedua siswaKu sebagai contoh dan berjuang untuk menyamai mereka untuk mencapai kesempurnaan diri sendiri”.

Dengan kekuatan gaibnya YA Moggallana sering mengunjungi surga dan alam lain serta membawa berita dari orang yang sudah meninggal dunia. Beliau mengunjungi Dewa Sakka di alam surga, bahkan Dewa Brahma Baka di alam Brahma, dan banyak orang penting dan membuat mereka yakin akan ajaran Sang Buddha. Dengan kekuatan gaibnya pula beliau mengajar Dhamma. Banyaknya orang yang mengikuti ajaran Sang Buddha menimbulkan iri hati dari kelompok kepercayaan lain. YA Moggallana yang membabarkan ajaran Sang Buddha secara terbuka dan menentang kepercayaan lain sering menjadi sasaran orang-orang itu.

Suatu ketika mereka ingin mempermalukan YA Moggallana dengan mengirim seorang pelacur untuk merayu YA Moggallana. Namun YA Moggallana dengan kekuatan gaibnya dapat mengetahui keadaan pelacur itu dan membimbingnya untuk memiliki keyakinan kepada ajaran Sang Buddha.

Pada akhirnya, YA Moggallana dibunuh oleh orang-orang yang membencinya. Mereka menyewa penjahat untuk menyerang beliau pada saat bermeditasi di gunung. Meskipun batu-batu mematahkan tulangnya, namun YA Moggallana bertekad kembali ke Vihara Hutan Bambu untuk bertemu dengan Sang Buddha. Setelah itu barulah beliau mencapai Parinibbana (wafat). Jenazahnya diperabukan dan reliknya diletakkan dalam sebuah cetiya pada pintu masuk Vihara Veluvana di Rajagaha. Kini relik itu dapat dijumpai pada salah satu stupa di Sanchi, India.