Menaklukkan Angulimala

Menaklukkan Angulimala
(dengan Kesaktian/Iddhi)

Ukkhitta khagga matihattha sudãrunantam
Dhãvantiyo janapathan gulimãla vantam
Uddhibhisankhatamano jitavã munindo
Tan tejasã bhavatu te jayamangalãni

Sangat kejam dengan pedang terhunus dalam tangan yang kokoh kuat
Angulimala berlari mengejar sepanjang jalan tiga yojana dengan berkalung untaian jari
Raja Para Bijaksana menaklukkannya dengan kesaktian
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.

Istri kepala penasehat (Purohita Brahmana) Raja Pasenadi Kosala yang bernama Mantani, melahirkan seorang anak laki-laki. Pada saat kelahirannya, semua senjata di dalam kota berkilau mengeluarkan cahaya yang terang benderang. Kejadian ini menyebabkan ayahnya bertanya kepada ahli perbintangan, mereka meramalkan bahwa anak tersebut di kemudian hari akan menjadi perampok. Keesokan harinya, ketika ia mengunjungi istana, sang ayah bertanya kepada Raja Pasenadi, apakah tadi malam Raja dapat tidur nyenyak. Raja menjawab, tadi malam ia tidak dapat tidur dengan nyenyak karena melihat semua senjata di dalam gudang berkilauan. Hal ini menandakan adanya bahaya yang akan menimpa Raja sendiri atau kerajaannya. Brahmana tersebut lalu menyampaikan kepada Raja, bahwa semalam istrinya telah melahirkan seorang anak laki-laki. Pada saat kelahirannya, tidak hanya pedang kerajaan, semua senjata yang ada di seluruh kota berkilauan, yang menandakan bahwa anaknya kelak akan menjadi perampok.

Brahmana tersebut bertanya kepada Raja, apakah Raja menghendaki agar ia membunuh anaknya yang baru lahir itu. Raja lalu bertanya, apakah anak tersebut kelak akan menjadi kepala perampok ataukah menjadi perampok tunggal. Ia menjawab bahwa anak tersebut akan menjadi perampok tunggal.

Raja tidak terlalu khawatir, karena beliau beranggapan bahwa kerajaannya tidak akan dapat dikacaukan hanya oleh seorang perampok. Jadi beliau membiarkan anak tersebut hidup dan tumbuh menjadi dewasa.

Anak itu diberi nama Ahimsaka, yang berarti tidak melukai siapapun (=tanpa kekerasan). Anak itu diberi nama demikian karena ia berasal dari keluarga yang tidak pernah dinodai dengan kejahatan dan juga karena sifat anak itu sendiri.

Ketika Ahimsaka dewasa, ia disekolahkan di Taxila, suatu pusat pendidikan yang terkenal pada masa lampau. Ahimsaka amat pandai, dapat melampaui murid-murid yang lain dan menjadi murid yang paling menonjol, dan ia amat disayang oleh gurunya.

Teman-temannya menjadi iri kepadanya. Mereka berusaha mencari kesalahan agar Ahimsaka dapat dihukum. Mereka tidak dapat mencela kemampuan maupun reputasi baik keluarga Ahimsaka.

Mereka lalu memfitnah bahwa Ahimsaka telah melakukan hal yang tidak pantas dengan istri gurunya. Mereka lalu membagi kelompoknya menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama memberitahukan kepada guru mereka tentang kesalahan Ahimsaka, kelompok kedua dan ketiga membenarkan apa yang dikatakan oleh kelompok yang pertama. Ketika guru mereka tidak mempercayai apa yang mereka katakan, mereka mengusulkan supaya guru mereka membuktikannya sendiri.

Guru Ahimsaka kemudian melihat istrinya berbicara dengan ramah kepada Ahimsaka, hal ini menambah kecurigaannya, sehingga ia merencanakan untuk melenyapkan Ahimsaka. Sebagai orang terpelajar, di dalam usahanya untuk melenyapkan Ahimsaka, ia tidak melakukannya secara terbuka, karena ia takut tidak ada lagi murid yang mau berguru kepadanya.

Oleh karena itu ia berkata kepada Ahimsaka :
“Muridku, saya tidak sanggup lagi mengajarmu lebih lanjut, kecuali kamu dapat mengumpulkan seribu buah jari tangan kanan manusia sebagai biaya pendidikanmu.”

Guru Ahimsaka mengira bahwa Ahimsaka tidak akan pernah berhasil melaksanakan keinginannya. Dan di dalam usahanya untuk mengumpulkan jari manusia, ia pasti akan tertangkap oleh pengawal raja.

Ahimsaka menjawab, bahwa di dalam keluarga mereka tidak mempunyai kebiasaan untuk melakukan kejahatan kepada orang lain. Berulang-ulang Ahimsaka memohon kepada gurunya, agar ia dapat membayar biaya pendidikannya dengan cara yang lain, tetapi gurunya tetap pada pendiriannya. Apabila ia menolak melaksanakannya, ia akan mendapat kutukan. Karena ia mempunyai keinginan yang kuat untuk belajar dan tidak ada jalan lain lagi untuk melanjutkan pendidikannya, ia lalu mempersenjatai dirinya dan masuk ke hutan Jalini di Kosala, yang merupakan pertemuan dari delapan jalan dan mulai membunuh siapapun yang lewat di situ untuk mengumpulkan jari tangan manusia sesuai dengan permintaan gurunya.

Jari yang terkumpul digantungnya pada sebuah pohon. Namun karena jari-jari tersebut selalu dihancurkan oleh burung gagak dan burung pemakan bangkai, ia lalu membuat untaian jari untuk memastikan jumlah jari yang telah dikumpulkannya. Sejak itu ia dikenal dengan nama Angulimala (=Untaian Jari).

Rakyat lalu pergi ke Savatthi, menghadap Raja untuk memberitahukan bahwa jumlah penduduk semakin berkurang, karena kekejaman seorang perampok yang selalu membunuh penduduk yang lewat di hutan itu. Mereka memohon supaya Raja mengirim pasukan untuk menangkapnya. Raja mengabulkan permohonan rakyat dan segera memerintahkan pasukan kerajaan untuk menyelidiki perampok tersebut.

Brahmana yang merupakan ayah Ahimsaka, berkata kepada istrinya bahwa ia amat khawatir kalau-kalau perampok yang kejam itu adalah anak mereka sendiri, dan bertanya apa yang harus mereka lakukan. Istrinya lalu berkata, sebaiknya ia cepat-cepat pergi ke hutan, sebelum pasukan kerajaan tiba, untuk menyadarkan anaknya. Namun brahmana itu menolak untuk pergi. Istri brahmana itu lalu memutuskan untuk masuk ke hutan seorang diri. Dengan kecintaan seorang ibu terhadap anaknya yang amat besar, ia meratap dan berseru agar anaknya mau mengikuti tradisi keluarga, berhenti melakukan pembunuhan dan berkata bahwa pasukan raja sedang dalam perjalanan untuk menangkapnya.

Pada waktu yang sama, Sang Buddha yang sedang bersemayam di Vihara Jetavana melihat dengan Mata Buddha (melalui Maha Karuna Samapatti), bahwa dari kumpulan karma baik yang dimiliki pada kehidupannya yang lampau, Angulimala memiliki cukup banyak kebajikan untuk menjalani kehidupan sebagai seorang bhikkhu dan mempunyai kemampuan untuk mencapai Tingkat Kesucian Tertinggi yaitu menjadi Arahat pada kehidupan ini juga. Sang Buddha juga melihat bahwa ibu Angulimala dapat terbunuh apabila Angulimala melihatnya, karena ia sudah amat ingin melengkapi untaian jari yang diminta oleh gurunya.

Untuk mencegah hal ini, Sang Buddha lalu mengubah wujudNya menjadi seorang bhikkhu dan segera memasuki hutan. Para pengembala dan petani berusaha mencegah Sang Buddha untuk masuk ke hutan seorang diri, karena empat puluh orang yang pergi bersama-sama pun dapat dibunuh oleh Angulimala. Meskipun mendapat peringatan, Sang Buddha tetap melanjutkan perjalanNya dengan berdiam diri. Untuk kedua dan ketiga kalinya mereka berusaha mencegah Sang Guru masuk ke hutan tersebut, namun Sang Buddha dengan berdiam diri tetap meneruskan perjalananNya masuk ke dalam hutan.

Pada pagi hari itu, Angulimala telah mengumpulkan sembilan ratus sembilan puluh sembilan buah jari dan telah merencanakan bahwa siapapun yang ditemuinya pada hari itu harus dibunuhnya. Tetapi ia mendapat kesulitan untuk menemukan orang yang dapat dibunuhnya, karena orang-orang selalu berjalan dalam rombongan yang besar dan bersenjata lengkap.

Akhirnya ia melihat seorang bhikkhu seeang berjalan seorang diri, tanpa membawa senjata. Ia berpikir tentu amat mudah untuk membunuhnya. Angulimala lalu membawa pedang, tameng, anak panah beserta busurnya mengikuti Sang Buddha dari jarak yang dekat.

Sang Buddha menunjukkan kesaktianNya, sehingga bagaimanapun Angulimala berusaha berlari sekuat tenaga, sedangkan Sang Buddha berjalan dengan kecepatan biasa, ia tetap tidak dapat menyusul Sang Buddha.

Angulimala lalu berpikir, “Saya telah mengejar gajah, kuda, kijang dan dapat mengalahkan mereka, sekarang meskipun saya sudah berlari sekuat tenaga, dan Bhikkhu ini berjalan dengan kecepatan biasa saja, saya tetap tidak dapat mendekatiNya.”

Dengan terengah-engah dan berkeringat, ia berteriak meminta Sang Buddha untuk berhenti : “Tittha (+Berhentilah) Samana!”

Sang Buddha menjawab : “Saya sudah berhenti! Hentikan dirimu sendiri!”

Angulimala keheranan akan jawaban Sang Buddha dan bertanya : “Apa maksudMu?”

Sang Buddha menjawab :
“Saya telah bertekad untuk melimpahkan kasih sayang kepada semua mahluk, sedangkan kamu tidak mempunyai belas kasih terhadap mahluk lain. Oleh karena itu Saya sudah berhenti, sedangkan kamu belum berhenti melakukan pembunuhan.”

Karena tumpukan karma baik Angulimala yang amat besar pada kehidupannya yang lampau, bahwa ia diberi tahu oleh Buddha Padumuttara, bahwa ia akan menjadi seorang Arahat. Sebagai seorang yang mempunyai kemampuan untuk menjadi seorang Arahat, setalah mendengar apa yang dikatakan oleh Sang Buddha, ia mengetahui bahwa pertapa mulia ini adalah Buddha Gotama yang karena cinta kasihNya yang amat besar datang untuk menolongnya.

Angulimala segera melemparkan untaian jari dan senjatanya, lalu bernamaskara di kaki Sang Buddha dan memohon untuk ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu. Sambil mengangkat tanganNya, Sang Buddha berkata :
“Ehi Bhikkhu (Mari, O Bhikkhu).”

Dengan demikian Angulimala dapat menerima delapan kebutuhan pokok seorang bhikkhu pada saat yang bersamaan dan langsung menerima Upasampada, tanpa terlebih dahulu menjadi seorang samanera. Dengan disertai oleh Angulimala, Sang Buddha kembali ke Vihara Jetavana.

Sementara itu Raja Pasenadi Kosala didesak untuk menangkap perampok Angulimala. Sudah menjadi kebiasaannya untuk menemui Sang Buddha apabila ada kejadian genting. Setalah Raja Pasenadi Kosala bernamaskara, lalu duduk di salah satu sisi, Sang Buddha bertanya :
“O, Raja, ada hal apakah yang membuat anda risau?
Apakah Raja Seniya Bimbisara dari Magadha menantang anda?
Apakah para Pangeran Licchavi dari Vesali?
Atau para bangsawan sainganmu?”

Raja lalu menjelaskan masalah yang sedang dihadapinya, ia mengakui tidak dapat menangkap Angulimala si perampok yang haus darah itu. Sang Buddha lalu bertanya :
“Apa yang akan anda lakukan kalau perampok itu memakai jubah seorang bhikkhu?”

Raja menjawab :
“Yang Mulia, saya akan menghormatinya seperti saya menghormat kepada seorang bhikkhu.”

Pada saat itu Bhikkhu Angulimala sedang duduk di dekat Sang Buddha. Beliau lalu berkata kepada raja :
“O, Raja, inilah Angulimala.”

Raja Pasenadi Kosala menjadi ketakutan, badannya gemetar, rambutnya berdiri. Sang Buddha lalu menenangkannya dan berkata bahwa ia tidak perlu takut lagi, karena Angulimala telah menjadi seorang bhikkhu. Raja lalu mendekati Bhikkhu Angulimala dan menanyakan tentang orang tuanya, dan menawarkan untuk memenuhi semua kebutuhannya. Pada saat itu Bhikkhu Angulimala telah menjalani latihan hidup di hutan, berpindapatta, memakai jubah dari kain perca yang terdiri dari tiga bagian. Oleh karena itu ia menolak tawaran raja, karena ia sudah tidak memerlukannya lagi. Kemudian Raja Pasenadi Kosala memberi hormat kepada Bhikkhu Angulimala dan menyatakan keheranannya kepada Sang Buddha akan perubahan yang dialami oleh Bhikkhu Angulimala. Ia lalu pulang ke istana dengan hati yang bahagia.

Pada suatu hari, ketika Bhikkhu Angulima sedang berpindapatta di Savatthi, Beliau melihat seorang wanita yang sangat kesakitan karena akan melahirkan. Beliau melihat penderitaan wanita itu, tergerak hatinya, lalu berpikir :
“Betapa menderitanya mahluk hidup, betapa menderitanya mahluk hidup!”

Beliau yang pernah membunuh sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang, sekarang merasa amat kasihan melihat seorang wanita menderita kesakitan karena akan melahirkan. Ketika Beliau selesai berpindapatta dan makan pagi, Beliau pergi ke vihara menemui Sang Buddha dan menyampaikan apa yang dilihatnya. Sang Buddha lalu meminta Bhikkhu Angulimala pergi menemui wanita itu dan berkata :
“Saudari, sejak saat saya dilahirkan dalam Keluarga Ariya, saya tidak sadar, dengan sengaja telah membunuh mahluk hidup. Berdasarkan kebenaran ini, semoga anda selamat dan semoga anak anda selamat.”

Beliau lalu pergi menemui wanita yang akan melahirkan bayinya. Layar penyekat diletakkan melingkari sang ibu, Bhikkhu Angulimala duduk dan mengulang Paritta yang diajarkan Sang Buddha. Segera saja bayi tersebut lahir dengan mudah dan selamat. (Kemanjuran Paritta Angulimala Sutta ini masih terbukti hingga saat ini).

Tidak lama kemudian, Bhikkhu Angulimala mencapai Tingkat Kesucian Arahat.

Pada suatu hari, ketika Yang Mulia Angulimala sedang berpindapatta di Savatthi, Beliau dilempari bongkahan tanah, tongkat dan batu. Kepalanya terluka, bercucuran darah dan mangkokNya pecah. Beliau pulang kembali ke vihara dan mendekati Sang Buddha yang sedang duduk. Sang Buddha yang melihat keadaanNya lalu menjelaskan, bahwa semua kejadian ini adalah akibat dari perbuatan burukNya, yang sesungguhnya dapat membuatNya menderita di Alam Neraka selama ribuan tahun.

Sekarang Yang Mulia Angulimala hidup menyendiri, menikmati Kebahagiaan dari Kebebasan, mengucapkan pernyataan-pernyataan Kebijaksanaan, meninggal dunia dan mencapai Nibbana.

Para bhikkhu membicarakan tempat kelahiran kembali dari Yang Mulia Angulimala, Sang Buddha memberitahu mereka, bahwa Beliau telah mencapai Nibbana. Para bhikkhu keheranan, bagaimana mungkin seseorang yang telah melakukan begitu banyak pembunuhan dapat mencapai Nibbana. Sang Buddha menjawab bahwa pada masa yang lampau, karena bimbingan yang kurang baik, Angulimala telah melakukan perbuatan-perbuatan buruk namun kemudian ketika Beliau mendapat bimbingan yang baik, Beliau menjalani kehidupan suci. Dengan demikian Beliau dapat mengatasi perbuatan buruk dengan perbuatan baiknya. Setalah berkata demikian, Sang Buddha mengucapkan syair :

“Mereka yang dapat mengatasi perbuatan buruk mereka dengan perbuatan baik, menyinari dunia ini, bagaikan bulan yang terbebas dari awan.” (Dhammapada 173).

Advertisements

Menaklukkan Gajah Nalagiri

Menaklukkan Gajah Nalagiri
(dengan Cinta Kasih /Metta)

Nãlãgirim gajavaram atimatta bhutam
Dãvaggi cakka masaniva sudãrunantam
Mettambuseka vidhinã jitavã munindo
Tan tejasã bhavatu te jayamangalãni

Nalagiri gajah mulia menjadi sangat gila
Sangat kejam bagaikan hutan terbakar, bagai senjata roda atau halilintar
Raja para Bijaksana menaklukkannya dengan kemampuan pikiran sakti yang mengagumkan
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.

Sang Buddha seperti biasa sedang berjalan ke suatu daerah untuk membabarkan Dhamma kepada umatNya. Beliau diiringi oleh murid-muridNya, yang penuh cinta kasih dan pengabdian yang besar kepada Sang Buddha, Sang Guru Agung.

Melihat Sang Buddha yang dicintai oleh murid-muridNya, menyebabkan Devadatta berpikir :
“Adalah suatu kenyataan, bahwa tidak ada satu mahlukpun yang dengan melihat Kesempurnaan Manusia Gotama mampu dan berani untuk menyentuhNya. Tetapi raja gajah Nalagiri adalah binatang yang amat galak dan liar, ia tidak mengetahui kesucian Buddha, Dhamma serta Sangha. Ia akan saya lepaskan untuk menghancurkan Bhikkhu Gotama.”

Kemudian Devadatta pergi menemui Raja Ajatasattu dan membicarakan masalah ini. Raja terpengaruh oleh penjelasannya dan memanggil penjaga gajah, lalu memberi perintah :
“Penjaga, besok kamu harus memberi minuman keras kepada Nalagiri. Dan lepaskanlah Nalagiri di jalan raya saat Bhikkhu Gotama sedang berjalan.”

Devadatta bertanya kepada penjaga itu berapa banyak air yang biasa diberikan kepada gajah itu, penjaga itu menjawab :
“Delapan guci.”

Devadatta lalu berkata :
“Besok, berikan kepada Nalagiri enam belas guci minuman keras dan lepaskan dia ke arah jalan raya yang akan dilalui oleh Bhikkhu Gotama.”

“Baiklah,” jawab penjaga itu.

Raja lalu menabuh tambur di seluruh kota dan mengumumkan :
“Besok gajah Nalagiri akan menjadi mabuk karena minum minuman keras dan akan dilepas ke dalam kota. Penduduk di kota ini dapat melakukan semua pekerjaannya hanya pada pagi hari, sesudah itu tidak boleh ada satu orangpun yang berada di jalan raya.”

Devadatta lalu turun dari istana dan mendatangi kandang gajah Nalagiri, ia mendekati penjaga gajah itu dan berkata :
“Saya katakan kepadamu, kita mampu untuk menghancurkan seseorang dari posisinya yang tinggi ke posisi yang rendah. Dan menaikkan posisi seseorang yang rendah menjadi posisi yang tinggi. Kalau kamu menginginkan kehormatan, besok pagi-pagi sekali, berikan Nalagiri enam belas guci minuman keras dan ketika Bhikkhu Gotama melewati jalan itu, lukailah gajah itu dengan tongkat berduri. Karena gajah yang kesakitan itu akan marah, ia akan menerobos kandangnya dan berlari keluar, arahkanlah ia ke jalan raya di mana Bhikkhu Gotama sedang berjalan. Maka gajah itu akan menghancurkanNya.”

Keduanya setuju dengan rencana seperti itu. Berita ini bergema ke seluruh kota. Pengikut Sang Buddha mendengar berita ini amat khawatir, lalu mendatangi Vihara dan meminta Sang Buddha untuk tidak masuk ke kota esok hari, karena ada bahaya besar yang menghadang Beliau. Mereka berjanji akan membawakan semua kebutuhan yang diperlukan oleh Sang Guru beserta murid-muridNya. Tatapi Sang Buddha menyatakan tetap akan menjalankan tugasNya seperti biasa. Para pengikutNya melihat bahwa mereka tidak akan merubah rencana Sang Guru Agung akhirnya mereka meninggalkan Vihara dengan perasaan amat khawatir.

Setelah mereka pergi, Sang Buddha merenungkan semua keluargaNya yang sudah mengerti akan Kebenaran. Beliau juga melihat apabila Nalagiri berhasil ditaklukkanNya, maka delapan puluh ribu mahluk akan mendapatkan pengertian yang jelas tentang Dhamma Yang Mulia.

Keesokan paginya, Beliau memanggil Ananda, dan berkata untuk memberitahukan kepada para bhikkhu di delapan belas vihara yang berada di sekitar Rajagaha untuk menyertaiNya masuk ke kota. Bhikkhu Ananda melaksanakan apa yang diminta oleh Sang Guru, dan semua bhikkhu berkumpul di Vihara Veluvana.

Sang Buddha dengan disertai oleh semua murid-muridNya, berjalan memasuki Rajagaha. Penjaga gajah itu bekerja sesuai dengan instruksi Devadatta dan banyak orang berkerumun di sekitar jalan raya. Para pengikut Sang Buddha berpikir :
“Hari ini mungkin akan terjadi pertempuran antara Sang Guru Agung dan gajah liar itu. Kami akan menyaksikan kekalahan gajah Nalagiri dari Sang Buddha yang tiada bandingannya.”

Penduduk lalu menaiki atap-atap rumah, gudang-gudang yang ada di sekitar jalan raya itu.

Tetapi ada pula pertapa lain yang berpikir :
“Nalagiri adalah gajah yang amat galak, binatang liar dan tidak mengetahui kebaikan dan cinta kasih yang besar dari seorang Buddha. Hari ini ia akan menghancurkan tubuh Bhikkhu Gotama dan Beliau akan meninggal. Hari ini kami akan melihat apa yang terjadi denganNya.”

Para pertapa lalu berdiri di atas sebuah gudang dan di tempat-tempat yang tinggi. Gajah Nalagiri melihat Yang Maha Sempurna berjalan menghampirinya, penduduk yang ada di sana amat ngeri melihat gajah tersebut. Gajah yang amat kesakitan itu berlari dengan liarnya, ia menghancurkan pagar rumah-rumah dan mengangkat belalainya tinggi-tinggi, serta menginjak-injak kereta menjadi hancur berantakan. Dengan kuping dan ekornya yang terangkat, ia berlari dengan kencangnya seperti gunung yang tinggi menghampiri Yang Maha Sempurna.

Para bhikkhu yang melihat gajah Nalagiri berlari mendatangi Sang Buddha, memberitahu Sang Guru Agung :
“Yang Mulia, gajah Nalagiri berlari di sepanjang jalan ini, ia adalah binatang yang amat galak dan liar, ia pembunuh manusia. Kami mohon Yang Mulia balik kembali.”

“O….Para Bhikkhu datanglah ke sini, jangan takut; tidak ada satu mahlukpun yang dapat menghancurkan Sang Tathagata dengan suatu serangan. Tathagata mencapai Parinibbana bukan karena suatu serangan.”

Para bhikkhu, tetap memperingatkan Sang Guru sampai tiga kali. Yang Mulia Sariputta lalu meminta Sang Buddha dengan berkata :
“Yang Mulia, apabila ada satu persembahan yang harus diberikan kepada seorang ayah, maka beban itu terletak pada anak sulungnya. Saya akan mengalahkan binatang ini.”

Sang Buddha lalu berkata :
“Sariputta, kekuatan seorang Buddha adalah satu hal dan pengikutnya adalah hal yang lain.”

Beliau menolak tawaran itu, dan berkata :
“Sariputta, tetaplah tinggal di sini.”

Para bhikkhu lainnya juga meminta ijin untuk mengalahkan gajah liar itu, tetapi Sang Guru menolak permintaan mereka. Kemudian Yang Mulia Ananda, pembantu Sang Buddha yang mempunyai pengaruh besar terhadap Sang Buddha, tidak mampu bersikap diam dalam menghadapi masalah ini, ia lalu berteriak :
“Biarkan gajah itu membunuh saya terlebih dahulu.”

Yang Mulia Ananda berdiri di depan Sang Buddha, siap untuk mengorbankan hidupnya untuk Sang Tathagata. Tetapi Sang Buddha berkata kepadanya :
“Bergeserlah Ananda, jangan berdiri di hadapanKu.”

Yang Mulia Ananda berkata :
“Yang Mulia, gajah ini amat galak dan liar, ia dapat membunuh orang, seperti nyala api pada permulaan suatu lingkaran. Biarkanlah ia membunuh saya terlebih dahulu dan sesudah itu ia baru dapat menghampiri Yang Mulia.”

Yang Mulia Ananda memohon tiga kali, dan Beliau tetap berdiri di depan Sang Tathagata, Beliau tidak mau mundur. Kemudian Sang Buddha dengan kekuatan kesaktianNya membuat Yang Mulia Ananda berada di belakang Beliau dan menempatkanNya di tengah-tengah para bhikkhu yang tengah berkerumun.

Pada waktu itu ada seorang ibu, terlihat oleh pandangan gajah Nalagiri, ibu itu amat ketakutan, ia ingin berlari karena ketakutan, tetapi anaknya terjatuh ketika ia ingin menggendong anak itu di pinggangnya. Posisinya berada di antara Sang Tathagata dan gajah Nalagiri, ibu itu berusaha berlari. Gajah itu mengejar ibu tersebut, ibu tersebut terpaku berdiri di tempatnya dengan amat ketakutan bersama anaknya yang menjerit sekeras-kerasnya.

Hati Sang Buddha bergetar, dengan penuh cinta kasih yang terpancar dengan kuatnya (odissakametta) dan dengan suaraNya yang penuh kelembutan seperti suara Dewa Brahma, memanggil Nalagiri :
“Ho..! Nalagiri…! Siapa yang mebuatmu menjadi gila dengan enam belas guci minuman keras, kamu tidak diperintahkan untuk menyerang orang lain, tetapi diarahkan untuk menyerangKu. Jangan keluarkan kekuatanmu dengan merusak tanpa tujuan, datanglah kepadaku.”

Mendengar suara Sang Buddha, Nalagiri membuka matanya dan melihat tubuh Sang Buddha yang bersinar terang. Ia menjadi gelisah dan dengan kekuatan cinta kasih Sang Buddha yang amat besar, maka pengaruh minuman keras yang amat kuat itu hilang. Dengan menurunkan belalainya dan mengoyang-goyangkan kupingnya ia mendatangi dan berlutut di kaki Sang Tathagata. Kemudian Sang Tathagata berkata :
“Nalagiri, kamu adalah gajah jahat, Aku adalah Gajah Buddha, tidak jahat dan liar, tidak membunuh manusia, tetap mengembangkan cinta kasih.”

Sambil berkata demikian Sang Tathagata lalu mengulurkan tangan kananNya dan mengelus-elus kepala gajah itu dan mengajarkan Dhamma kepadanya dengan bersabda :
“Jangan menyerang Sang Buddha, O, gajah..! Dengan pikiran akan melukaiNya, akan membuatmu menderita. Pembunuh seorang Buddha tidak akan memperoleh alam kehidupan yang baik setelah kematiannya.”

“Bebaskanlah dirimu dari mabuk-mabukkan dan melakukan perbuatan bodoh. Karena orang yang bodoh tidak akan dapat pergi ke alam yang baik. Kamu harus melakukan perbuatan baik sehingga kamu dapat menuju ke alam bahagia.”

Seluruh badan gajah itu bergetar karena diliputi oleh kebahagiaan yang amat besar, dan ia sekarang bukan hanya binatang berkaki empat biasa lagi, tetapi ia telah mencapai Tingkat Kesucian Pertama (Sotapanna).

Penduduk yang melihat keajaiban ini berseru dengan gembira dan bertepuk tangan dengan riang. Dengan penuh kebahagiaan, mereka menutupi badan gajah itu dengan hiasan-hiasan. Kemudian Nalagiri terkenal dengan nama Dhanapalaka (pemilik kekayaan) dan ia menjadi amat jinak dan tidak menyakiti siapapun.

Setelah Sang Buddha memperlihatkan keajaiban ini, Beliau berpikir adalah tidak patut untuk mencari dana di tempat yang sama. Sesudah mengalahkan para pertapa tersebut, dengan diiringi oleh murid-muridNya, Beliau melangkah menuju ke kota seperti orang yang telah memenangkan suatu pertempuran dan pulang kembali ke Vihara Jetavana. Para penduduk menuju Vihara Jetavana, berdana makanan berupa nasi, minuman dan makanan enak lainnya kepada Sang Guru Agung beserta murid-muridNya. Penduduk kota itu telah menanam kebajikan yang besar sekali.

Menaklukkan Yakkha Alavaka

Menaklukkan Yakkha Alavaka
(dengan Kesabaran / Khanti)

Mãrãtireka mabhiyujjhita sabbarattim
Gorampanãlavaka makkhamathaddha yakkham
Khanti sudhanta vidhinã jitavã munindo
Tan tejasã bhavatu te jayamangalãni

Lebih dari Mara yang membuat onar sepanjang malam
Adalah Yakkha Alavaka yang menakutkan, bengis dan congkak
Raja para Bijaksana menaklukkannya, menjinakkan dengan kesabaran
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.

Sudah menjadi kebiasaan Raja Alava, ketika sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi peperangan yang melelahkan, ia selalu menghibur diri dengan pergi berburu ke hutan selama tujuh hari tanpa henti. Pada saat itu, ketika sedang mengepung binatang buruannya di sebuah hutan, raja memerintahkan kepada para pengawalnya, untuk menjaga agar tidak seekor binatang pun yang dapat meloloskan diri. Namun seekor rusa dapat menerobos penghalang yang berada di dekat raja. Raja mengejar rusa itu seorang diri, sesudah mengejar rusa itu cukup jauh, akhirnya ia dapat membunuh rusa itu. Ia memang tidak membutuhkan daging rusa itu tetapi untuk menunjukkan kehebatannya di hadapan para pengawalnya, ia memotong rusa itu menjadi dua bagian. Lalu ia mengikatkannya pada sepotong kayu. Raja lalu berjalan kembali ke tempat ia telah meninggalkan para pengawalnya.

Dalam perjalanan kembali ke tempat para pengawal yang menunggunya, raja tiba di bawah sebuah pohon Banyan [2], di perempatan sebuah jalan. Karena ia amat lelah, maka ia berhenti sejenak untuk beristirahat di bawah pohon tersebut. Pohon Banyan ini adalah tempat kediaman Yakkha Alavaka (raksasa) yang mempunyai kebiasaan untuk membunuh orang-orang yang mendekati pohon tersebut.

Yakkha Alavaka menangkap raja yang sedang berteduh di bawah pohon itu. Raja amat ketakutan dan berjanji apabila Yakkha Alavaka tidak membunuh dan melepaskannya, maka ia akan mempersembahkan korban sebagai pengganti dirinya, seorang manusia dan sepiring nasi setiap hari.

Tetapi Yakkha Alavaka menjawab :
“Kalau kamu kembali ke istana, kamu pasti akan melupakan janjimu ini. Saya hanya dapat menangkap orang-orang yang mendekati pohon ini, oleh karena itu saya tidak akan melepaskanmu.”

Raja berkata dengan amat ketakutan, bahwa apabila suatu hari ia ingkar janji, Yakkha Alavaka dapat mendatangi istana untuk mengambil korbannya. Setelah menerima janji dari raja ini, Yakkha Alavaka lalu melepaskan raja untuk kembali pulang ke istana.

Setibanya di istana, raja memanggil walikota dan menceritakan apa yang telah terjadi. Walikota bertanya kepada raja; apakah ketika berjanji kepada Yakkha Alavaka, raja menyebutkan kapan berakhirnya persembahan korban itu. Raja mengatakan, ia tidak menyebutkannya. Walikota menyesali karena raja telah melakukan suatu kesalahan besar, namun ia berjanji untuk mengatasi bencana ini, tanpa menyusahkan raja.

Kemudian walikota pergi ke penjara, dan berkata bahwa narapidana yang telah dijatuhi hukuman mati karena membunuh, akan dibebaskan apabila mereka membawa sepiring nasi dan mempersembahkannya di bawah pohon Banyan. Para pembunuh menyambut gembira usul ini, tetapi ketika mereka mendekati pohon Banyan tersebut, mereka ditangkap dan dibunuh oleh Yakkha Alavaka. Setelah narapidana sudah habis, perintah ini dialihkan kepada para pencuri dan merekapun dibunuh oleh Yakkha Alavaka, sehingga penjara akhirnya kosong.

Lalu perintah ini diteruskan kepada orang yang tidak bersalah, yang dituduh melakukan kesalahan yang tidak mereka lalukan. Karena cara ini akhinya tidak berhasil, perintah ini lalu dialihkan kepada orang-orang yang berusia lanjut. Orang-orang tua ini diambil dari rumah lalu dibawa ke pohon Banyan tersebut. Raja lalu memberitahukan kepada walikota bahwa rakyat mengeluh karena kakek nenek mereka diambil dari rumah mereka. Raja lalu memerintahkan cara lain untuk memenuhi janjinya kepada Yakkha Alvaka. Walikota lalu berkata apabila ia tidak diijinkan untuk mengorbankan orang-orang berusia lanjut, ia harus mengorbankan bayi-bayi. Ketika penduduk mengetahui hal ini, sebagian dari mereka terutama ibu-ibu yang mempunyai bayi ataupun yang sedang hamil pindah ke negara lain.

Kejadian ini berlangsung selama dua belas tahun lamanya. Sehingga tidak ada lagi anak kecil yang tersisa, kecuali putera raja sendiri. Karena tidak ada jalan lain, maka raja dengan terpaksa merelakan puteranya sendiri untuk dipersembahkan kepada Yakkha Alavaka. Ratu dan selir-selir raja menangis tersedu-sedu, ketika raja memerintahkan agar membawa puteranya untuk dipersembahkan kepada Yakkha Alavaka.

Di pagi hari yang sama, Sang Buddha ketika itu sedang bersemayam di Vihara Jetavana. Beliau melihat dengan Mata BuddhaNya, bahwa Pangeran Alava mempunyai karma baik, ia dapat mencapai Tingkat Kesucian Anagami [3]. Demikian pula Yakkha Alavaka, ia masih mempunyai karma baik karena ia dapat mencapai Tingkat Kesucian Sotapanna [4]. Kemudian Sang Buddha membawa mangkuk pindapatta dan meninggalkan Vihata Jetavana menuju ke pintu kediaman Yakkha Alavaka.

Penjaga pintu memperingatkan Sang Buddha, untuk jangan mendekat karena berbahaya. Majikannya sangat kejam, bahkan kepada orang tuanya sendiri dia tidak pernah menaruh hormat. Sang Buddha berkata, bahwa tidak akan terjadi apapun terhadap diriNya, asalkan Beliau diijinkan untuk menetap semalam di tempat itu. Penjaga pintu kemudian mengatakan bahwa majikannya akan mencabut jantung siapapun yang datang mendekat dan akan mengoyak tubuh korbannya menjadi dua bagian. Sang Buddha tetap mendesak untuk tinggal di sana satu malam. Akhirnya penjaga itu berkata ia akan meminta ijin dahulu kepada majikannya di Hutan Himala.

Setelah penjaga itu pergi, Sang Buddha lalu memasuki tempat tinggal Yakkha Alavaka dan duduk di singgasana, tempat yang biasa diduduki oleh Yakkha Alavaka. Para selir dari istana datang dan memberi hormatnya kepada Sang Buddha. Sang Guru lalu membabarkan Dhamma kepada mereka, mengajarkan untuk mengasihi semua mahluk dan tidak menyakiti siapapun. Setelah mendengarkan Dhamma mereka mengucapkan “Sadhu”.

Ketika gandrabbha atau pengawal memberitahukan kepada Yakkha Alavaka bahwa Sang Buddha sedang berada di tempat kediamannya, ia sangat marah dan berkata dengan suara keras; bahwa Bhikkhu Gotama akan sangat menderita karena telah memasuki tempat tinggalnya.

Ketika itu para Yakkha yaitu Satagira dan Hemavata bersama para pengikutnya sedang dalam perjalanan menuju ke suatu pertemuan. Para Yakkha ketika terbang di angkasa harus menghindari jalur yang biasa dilewati para Dewa. Tempat tinggal Yakkha Alavaka dikelilingi pagar besi dan di atasnya dilindungi jala emas. Kedua Yakkha tersebut harus melintasi tempat ini dari dekat, dan karena para Yakkha tidak diperkenankan untuk mendekati Sang Buddha (kecuali untuk memberi penghormatan kepada Beliau), mereka tertangkap dan ketika ingin mencari penyebabnya, mereka menemukan Sang Guru Agung sedang duduk di tahta Yakkha Alavaka, keduanya lalu menghampiri dan menghormati Beliau.

Setelah itu mereka pergi ke Hutan Himalaya. Pada saat itu, mereka bertemu dengan Yakkha Alavaka dan memberitahukan bahwa suatu kejadian yang menguntungkan telah terjadi padanya. Karena Sang Buddha sedang berada di tempat kediamannya, dan dia harus pergi untuk menyambut Beliau. Mendengar hal ini, Yakkha Alavaka menjadi gelisah dan bertanya :
“Siapakah Sang Buddha ini yang telah berani memasuki tempat tinggalku?”

Kedua Yakkha menjawab :
“Apakah kamu tidak mengenal Sang Buddha, Penguasa ke Tiga Alam [5]?”

Yakkha Alavaka berkata bahwa siapapun Beliau, ia akan mengusirnya dari tempat kediamannya.

Kemudian kedua temannya itu berkata :
“Yakkha Alavaka, kamu hanyalah bagaikan seekor anak kerbau yang baru lahir di dekat seekor kerbau dewasa. Bagaikan gajah kecil di dekat raja pemimpin suku. Bagaikan seekor serigala tua di dekat seekor singa yang perkasa. Apa yang dapat kamu perbuat?”

Yakkha Alavaka berdiri dari tempat duduknya dengan penuh kemarahan, ia lalu menaruh kakinya di puncak Gunung Ratgal, ia tampak seperti kobaran api dan berkata: “Sekarang kita lihat, siapakan yang lebih kuat.”

Yakkha Alavaka dengan penuh kemarahan menendang Gunung Kailasa, yang menimbulkan percikan api seperti besi panas yang dipukul dengan palu. Sekali lagi ia berteriak dengan kerasnya : “Saya adalah Yakkha Alavaka ………!” Dan suaranya menggema ke seluruh Jambudwipa (India).

Tanpa menunda lagi, Yakkha Alavaka pergi ke tempat kediamannya dan berusaha keras untuk mengusir Sang Buddha. Ia menciptakan badai hebat yang didatangkan dari empat penjuru, yang dapat menumbangkan pohon dan bukit karang berukuran besar. Tetapi dengan kekuatan cinta kasih Sang Buddha, semua itu tidak dapat melukai Beliau. Setelah itu terjadi hujan lebat, hujan senjata, hujan pasir, arang, abu dan kegelapan. Namun tidak ada satupun yang dapat melukai Sang Buddha. Kemudian Yakkha Alavaka mengubah wujudnya menjadi mahluk yang sangat menyeramkan, namun Sang Buddha tidak menghentikannya dan membiarkan Yakkha Alavaka melakukannya sepanjang malam, sehingga ia menjadi amat lelah.

Kemudian ia melemparkan senjatanya yang amat sakti, namun tidak berhasil juga. Ketika itu para Dewa mulai berkumpul untuk menyaksikan pertandingan ini. Yakkha Alavaka sangat heran menyaksikan senjata andalannya tidak berdaya, dan mencari penyebabnya. Ia menemukan bahwa semua itu adalah karena cinta kasih dan kasih sayang Sang Buddha yang amat besar. Cinta kasih hanya dapat ditaklukkan dengan cinta kasih, bukan dengan kemarahan.

Kemudian Yakkha Alavaka meminta dengan lemah lembut kepada Sang Buddha untuk meninggalkan tempat kediamannya dan Sang Buddha yang telah mengetahui bahwa kemarahannya telah ditaklukkan dengan kelembutan. Beliau berdiri dan meninggalkan tempat tersebut. Melihat hal ini, Yakkha Alavaka berpikir :
“Saya telah menentang Pertapa ini sepanjang malam dengan tanpa membawa hasil, dan sekarang hanya dengan satu kata Beliau meninggalkan tempat ini.”

Melihat hal ini hatinya menjadi lembut. Namun demikian ia berpikir, akan lebih baik lagi apabila ia mengetahui apakah Sang Buddha pergi karena kemarahan atau ketidakpatuhan, ia lalu memanggil Beliau :
“Yang Mulia, silakan masuk,” kata Yakkha Alavaka. Sang Buddha lalu masuk menghampirinya. Tiga kali hal tersebut diulangi, namun ketika Yakkha Alavaka berkata untuk yang keempat kalinya, supaya Sang Buddha meninggalkan kediamannya, Sang Buddha menolak dan menanyakan apa yang dapat Beliau lakukan untuknya.

“Baiklah Yang Mulia, saya akan mengajukan sebuah pertanyaan,” kata Yakkha Alavaka.

Sudah menjadi kebiasaan Yakkha Alavaka untuk menangkap para pertapa dan bhikkhu yang datang ke tempat kediamannya dan bertanya kepada mereka, jadi ia berpikir ia akan melakukan hal yang sama terhadap Sang Buddha.

Lalu ia berkata :
“Apabila Anda tidak mau menjawab pertanyaan saya, saya akan mengacaukan pikiran Anda, atau membelah jantung Anda, atau memegang kedua kaki dan melemparkan Anda ke seberang Sungai Gangga.”

Sang Buddha menjawab :
“Tidak saudara, Saya melihat tidak ada satupun mahluk di dunia ini maupun di alam dewa, di alam Brahma, para pertapa, brahmana, para dewa dan manusia yang dapat mengacaukan pikiran Saya, membelah jantung ataupun memegang ke dua kaki dan melemparkan Saya ke seberang Sungai Gangga. Tetapi saudara, tanyakanlah yang ingin kamu ketahui.”

Yakkha Alavaka kemudian menanyakan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :
“Apakah milik manusia yang paling berharga?
Praktek apakah yang membawa kebahagiaan?
Apakah yang paling manis dari semua rasa?
Bagaimana cara yang terbaik dalam menjalani kehidupan ini?”

Sang Buddha menjawab:
“Keyakinan adalah milik manusia yang paling berharga.
Dhamma yang dipraktekkan dengan benar akan menghasilkan kebahagiaan.
Kebenaran adalah yang termanis dari semua rasa.
Kehidupan yang dijalani dengan pengertian adalah yang terbaik.”

Kemudian Yakkha Alavaka bertanya lagi :
“Bagaimanakah seseorang menyeberangi arus?
Bagaimanakah seseorang menyeberangi laut?
Bagaimanakah seseorang mengatasi penderitaan?
Bagaimanakah seseorang disucikan?”

Yang Maha Sempurna menjawab :
“Dengan keyakinan seseorang menyeberangi arus.
Dengan perhatian benar seseorang menyeberangi laut.
Dengan usaha seseorang mengatasi penderitaan.
Dengan kebijaksanaan seseorang disucikan.

Yakkha Alavaka bertanya kembali :
“Bagaimanakah kebijaksanaan diperoleh?
Bagaimanakah kekayaan didapatkan?
Bagaimanakah ketenaran diperoleh?
Bagaimanakah mempererat persahabatan?
Ketika meninggalkan dunia ini menuju ke dunia lain, bagaimana agar orang tidak bersedih?”

Sang Guru Agung menjawab :
“Orang yang memiliki keyakinan, perhatian dan pandai memperoleh kebijaksanaan dengan mendengarkan Dhamma dari Para Suci, Yang membimbing ke Nibbana. Dia yang melaksanakan apa yang pantas dilaksanakan, tidak tergoyahkan dan giat berusaha, memperoleh kekayaan. Dengan kebenaran seseorang memperoleh ketenaran. Kedermawanan mempererat persahabatan. Perumah tangga setia yang memiliki keempat kebajikan ini : kejujuran, moral yang baik, semangat dan kedermawanan, tidak akan menderita setelah meninggal dunia. Tanyakanlah kepada para pertapa dan brahmana yang lain, apakah ada yang lebih hebat dari pada kejujuran, pengendalian diri, kedermawanan dan kesabaran.”

Setelah mengerti dengan baik maksud dari sabda Sang Buddha, Yakkha Alavaka berkata :
“Yang Mulia, bagaimana saya dapat bertanya kepada para pertapa dan brahmana yang lain? Hari ini saya telah mengetahui rahasia dari kebahagiaan saya di masa yang akan datang. Untuk kebaikan saya sendiri, Sang Tathagata telah datang ke Avali. Hari ini telah saya ketahui di mana timbunan jasa yang menghasilkan buah yang berlimpah. Dari desa ke desa, dari kota ke kota, saya akan mengembara memberikan penghormatan kepada yang Maha Sempurna dan kepada Dhamma Yang Mulia.”

Pada saat Yakkha Alavaka mengucapkan hal ini, Pangeran Alava sedang diantarkan ke tempat kediamannya. Ketika para pengawal mendengarkan kata “Sadhu”, mereka mengetahui bahwa kata ini tidak pernah diucapkan kecuali di hadapan Sang Buddha, oleh karena itu mereka mendekat tanpa rasa takut. Ketika memasuki tempat kediaman Yakkha Alavaka, mereka melihat Yakkha Alavaka sedang bernamaskara, menghormat kepada Sang Buddha. Para pengawal mengatakan bahwa hari ini mereka datang untuk membawa Pangeran Alava yang akan dipersembahkan sebagai korban kepada Yakkha Alavaka, ia dapat memakan dagingnya dan meminum darahnya atau melakukan apa saja yang diinginkannya. Yakkha Alavaka merasa amat malu mendengar pernyataan ini, ia lalu mempersembahkan Pangeran kepada Sang Buddha.

Sang Guru Agung memberkati Pangeran Alava dan menyerahkannya kembali kepada para pengawal yang menyambutnya dengan sukacita. Sejak saat itu Pangeran Alava diberi nama Hatthalavaka.

Penduduk desa amat ketakutan ketika melihat Pangeran Alava dibawa pulang kembali ke istana. Ketika mereka mendengar apa yang telah terjadi, mereka serentak berseru :
“Sadhu, Sadhu, Sadhu.”

Kemudian Sang Buddha meninggalkan tempat kediaman Yakkha Alavaka, pergi ke desa untuk berpindapatta. Setelah Sang Buddha selesai bersantap, Beliau duduk di bawah pohon. Raja dan para penduduk berduyun-duyun menemui dan memberikan hormatnya dengan bernamaskara. Sang Guru Agung menjelaskan kepada mereka tentang Alava Sutta, yang menyebabkan ribuan di antara mereka mencapai Tingkat Kesucian.

Ketika Pangeran Alava dewasa, ayahnya memberitahukan bahwa ia diselamatkan dari kematian oleh Sang Buddha, maka ia harus pergi menemui, memberikan hormat dan melayani Beliau. Pangeran melakukan apa yang dikatakan oleh ayahnya dan bersama dengan lima ratus orang pengikutnya mencapai tingkat kesucian.

Keterangan :

  1. Yakkha : Raksasa
  2. Pohon Banyan : Sejenis pohon beringin
  3. Anagami : Orang suci tingkat ketiga yang tidak akan terlahir kembali.
  4. Sotapanna : Prang suci tingkat pertama yang akan terlahir kembali tidak lebih dari tujuh kali.
  5. Tiga Alam :
    1. Alam Bahagia atau Alam Surga
    2. Alam Manusia
    3. Alam Menderita

Sutra Penjelasan Keadaan Kebuddhaan yang Tak Terbayangkan

Sutra Penjelasan Keadaan Kebuddhaan yang Tak Terbayangkan

Demikianlah telah kudengar:
Suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di taman milik Anathapindika, di Taman Jeta dekat Shravasti, diiringi dengan seribu orang bhikshu, sepuluh ribu Bodhisattva- Mahasattva, dan banyak dewa dari Alam Nafsu (Kamaloka) dan Alam Bentuk (Rupaloka).
Pada waktu itu, Manjusri Bodhisattva- Mahasattva dan dewa Suguna hadir di antara perkumpulan tersebut. Yang Dimuliakan berkata pada Manjusri, “Kamu harus menjelaskan keadaan Kebuddhaan yang mendalam untuk para dewa dan para Bodhisattva dalam perkumpulan ini.”
Manjusri berkata kepada Sang Buddha, “Baiklah, Yang Dimuliakan. Jika pria dan wanita yang baik hati ingin mengetahui keadaan Kebuddhaan, mereka harus mengetahui bahwa ini bukanlah keadaan dari mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, atau pikiran; bukan pula keadaan dari bentuk-bentuk, suara-suara, bebauan, rasa, sentuhan, atau objek pikiran. Yang Dimuliakan, tanpa keadaan adalah keadaan Kebuddhaan. Inilah yang menjadi masalahnya, apakah keadaan dari pencerahan sempurna seperti yang dicapai oleh Sang Buddha?”
Sang Buddha berkata, “Ini adalah keadaan dari kekosongan, karena semua pandangan adalah sama. Ini adalah keadaan dari tanpa tanda, karena semua tanda adalah sama. Ini adalah keadaan dari tanpa keinginan karena ketiga alam adalah sama. Ini adalah keadaan dari tanpa tindakan, karena semua tindakan adalah sama. Ini adalah keadaan dari yang tidak berkondisi, karena semua hal yang berkondisi adalah sama.”
Manjusri bertanya, “Yang Dimuliakan, apakah keadaan dari yang tidak berkondisi itu?”
Sang Buddha berkata, “Ketiadaan pikiran adalah keadaan dari yang tidak berkondisi.”
Manjusri berkata, “Yang Dimuliakan, jika keadaan yang tidak berkondisi dan seterusnya adalah keadaan Kebuddhaan, dan keadaan yang tidak berkondisi adalah ketiadaan pikiran, kemudian atas dasar apakah keadaan Kebuddhaan diungkapkan? Jika tidak ada dasar yang demikian, maka tidak ada yang dapat dikatakan; dan karena tidak ada yang dapat dikatakan, tidak ada yang dapat diungkapkan. Oleh karena itu, Yang Dimuliakan, keadaan Kebuddhaan tidak dapat diungkapkan dalam kata-kata.”
Sang Buddha bertanya, “Manjusri, di manakah keadaan Kebuddhaan seharusnya dicari?”
Manjusri menjawab, “Ia harus dicari tepat di dalam kekotoran batin makhluk-mahkluk. Mengapa, karena secara alami kekotoran batin makhluk-makhluk tidak dapat dipahami. Perwujudan dari hal ini melampaui pemahaman para Sravaka dan Pratyekabuddha; oleh sebab itu, ia disebut keadaan Kebuddhaan.”
Sang Buddha bertanya pada Manjusri, “Apakah keadaan Kebuddhaan bertambah atau berkurang?”
“Ia tidak bertambah ataupun berkurang.”
Sang Buddha bertanya, “Bagaimana seseorang memahami sifat dasar dari kekotoran batin semua mahkluk?”
“Sama seperti keadaan Kebuddhaan tidak bertambah ataupun berkurang, maka dengan sifat dasar mereka kekotoran batin tidak bertambah ataupun berkurang.”
Sang Buddha bertanya, “Apakah sifat dasar kekotoran batin?”

“Sifat dasar kekotoran batin adalah sifat dasar dari keadaan Kebuddhaan. Yang Dimuliakan, jika sifat dasar kekotoran batin berbeda dari sifat dasar keadaan Kebuddhaan, maka tidak dapat dikatakan bahwa Sang Buddha berdiam di dalam kesamaan dari semua benda. Ini karena sifat kekotoran batin adalah sifat sangat dasar dari keadaan Kebuddhaan sehingga Sang Tathágata dikatakan berdiam dalam kesamaan.”
Sang Buddha bertanya lebih lanjut, “Dalam kesamaan apakah kamu pikir Sang Tathágata berdiam?”
“Seperti yang aku pahami, Sang Tathágata berdiam dalam kesamaan yang benar-benar sama di mana makhluk-makhluk yang berbuat dengan keinginan, kebencian, dan kebodohan tinggal.”
Sang Buddha bertanya, “Dalam kesamaan apakah makhluk-makhluk yang bertindak dengan ketiga racun itu tinggal?”
“Mereka tinggal dalam kesamaan dari kekosongan, tanpa tanda, dan tanpa keinginan.”
Sang Buddha bertanya, “Manjusri, dalam kekosongan, bagaimana terdapat keinginan, kebencian, dan kebodohan?”
Manjusri menjawab, “Tepat di dalam yang ada terdapat kekosongan, di mana keinginan, kebencian, dan kebodohan juga ditemukan.”
Sang Buddha bertanya, “Dalam keberadaan apakah terdapat kekosongan?”
“Kekosongan dikatakan ada hanya dalam kata-kata dan bahasa. Karena terdapat kekosongan, terdapat keinginan, kebencian, dan kebodohan. Sang Buddha telah mengatakan, ‘Para bhikshu! Yang tidak muncul, tidak berkondisi, tanpa tindakan, dan tidak berasal mula semuanya ada. Jika semua ini tidak ada, maka seseorang tidak dapat berkata tentang yang muncul, yang berkondisi, tindakan, dan asal mula. Oleh sebab itu, para bhikshu, karena terdapat yang tidak muncul, tidak berkondisi, tanpa tindakan, tidak berasal mula, seseorang dapat berkata tentang keberadaan yang muncul, berkondisi, tindakan, dan asal mula.’ Sama halnya, Yang Dimuliakan, jika tidak ada kekosongan, tanpa tanda, atau tanpa keinginan, seseorang tidak dapat berkata tentang keinginan, kebencian, kebodohan, atau gagasan-gagasan lainnya.”
Sang Buddha berkata, “Manjusri, jika ini adalah masalahnya, maka pasti ada, seperti yang kamu katakan. Bahwa siapa yang berdiam dalam kekotoran batin tinggal dalam kekosongan.”
Manjusri berkata, “Yang Dimuliakan. Jika seorang meditator mencari kekosongan terpisah dari kekotoran batin, pencariannya akan sia-sia. Bagaimana terdapat kekosongan yang berbeda dari kekotoran? Jika ia merenungkan kekotoran batin sebagai kekosongan, ia dikatakan berlatih dalam praktek yang benar.”
Sang Buddha bertanya, “Manjusri, apakah kamu memisahkan diri dari kekotoran batin atau berdiam di dalamnya?”
Manjusri berkata, “Semua kekotoran batin adalah sama [dalam kenyataan]. Aku telah menyadari kesamaan itu melalui praktek yang benar. Oleh karena itu, aku tidak memisahkan diri dari kekotoran batin ataupun berdiam di dalamnya. Jika seorang sramana atau Brahmana mengaku bahwa ia telah mengatasi nafsu keinginan dan melihat makhluk-makhluk lain diliputi kekotoran batin, ia telah jatuh ke dalam dua pandangan ekstrem. Apakah keduanya itu? Yang satu adalah pandangan eternalisme, yang menyatakan bahwa kekotoran batin ada; yang lainnya adalah pandangan nihilisme, yang menyatakan bahwa kekotoran batin tidak ada.”
“Yang Dimuliakan, ia yang menjalankan praktek yang benar tidak melihat benda-benda sebagai diri sendiri atau orang lain, ada atau tidak ada. Mengapa? Karena ia dengan jelas memahami semua dharma.”
Sang Buddha bertanya, “Manjusri, bergantung pada apakah seharusnya seseorang untuk praktek yang benar?”
“Ia yang menjalankan praktek dengan benar tidak bergantung pada apa pun.”
Sang Buddha bertanya, “Apakah ia tidak menjalankan praktek berdasarkan pada sang jalan?”
“Jika ia menjalankan praktek sesuai dengan apa pun, prakteknya akan menjadi berkondisi. Praktek yang berkondisi bukanlah salah satu dari kesamaan. Mengapa? Karena ini tidak bebas dari kemunculan, kediaman, dan kemusnahan.”
Sang Buddha bertanya kepada Manjusri, “Adakah pengelompokan di dalam yang tidak berkondisi?”
Manjusri menjawab, “Yang Dimuliakan, jika terdapat pengelompokan dalam yang tidak berkondisi, maka yang tidak berkondisi akan menjadi berkondisi dan tidak lagi akan menjadi yang tidak berkondisi.”
Sang Buddha berkata, “Jika yang tidak berkondisi dapat direalisasi oleh para Arahat, maka terdapat hal yang seperti itu di dalam yang tidak berkondisi; bagaimana dapat kamu katakan tidak ada pengelompokan di dalamnya?”
“Benda-benda tidak memiliki pengelompokan, dan para Arahat telah melampaui pengelompokan. Itulah sebabnya mengapa Aku mengatakan tidak ada pengelompokan. ”
Sang Buddha bertanya, “Manjusri, tidakkah kamu mengatakan kamu telah mencapai Kearahatan?”
Manjusri berbalik bertanya, “Yang Dimuliakan, andaikata seseorang bertanya pada seorang yang diciptakan secara sihir, ‘Tidakkah kamu mengatakan kamu telah mencapai Kearahatan?’ Apakah yang akan menjadi jawabannya?”
Sang Buddha menjawab Manjusri, “Seseorang tidak dapat mengatakan pencapaian atau bukan pencapaian dari seorang yang diciptakan secara sihir.”
Manjusri bertanya, “Tidakkah Sang Buddha telah mengatakan bahwa semua benda bagaikan khayalan?”
Sang Buddha menjawab, “Demikianlah telah Ku-katakan.”
“Jika semua benda bagaikan khayalan, mengapa Anda menanyakan apakah aku telah mencapai Kearahatan atau belum?”
Sang Buddha bertanya, “Manjusri, kesamaan apakah di dalam tiga kendaraan yang telah kamu realisasikan? ”
“Aku telah merealisasi kesamaan dari keadaan Kebuddhaan?”
Sang Buddha bertanya, “Apakah kamu telah mencapai keadaan Kebuddhaan?”

“Jika Yang Dimuliakan telah mencapainya, maka aku juga telah mencapainya. ”
Setelah itu, Yang Mulia Subhuti bertanya pada Manjusri, “Bukankah Sang Tathágata telah mencapai keadaan Kebuddhaan?”
Manjusri berbalik bertanya, “Apakah kamu telah mencapai sesuatu dalam keadaan Sravaka?”
Subhuti menjawab, “Pembebasan seorang Arahat bukanlah sebuah pencapaian ataupun bukan pencapaian.”
“Demikian pula, pembebasan Sang Tathágata bukanlah pencapaian ataupun bukan pencapaian.”
Subhuti berkata, “Manjusri, kamu tidak membimbing para Bodhisattva pemula dengan mengajarkan Dharma melalui cara ini.”
Manjusri bertanya, “Subhuti, bagaimana pendapatmu? Andaikan seorang tabib, dalam merawat pasien-pasiennya, tidak memberikan mereka obat-obatan yang pedas, asam, dan kecut. Apakah ia menolong mereka untuk sembuh atau menyebabkan mereka meninggal?”
Subhuti menjawab, “Ia menyebabkan mereka menderita dan meninggal dunia alih-alih memberikan mereka kedamaian dan kebahagian.”
Manjusri berkata, “Demikianlah halnya dengan seorang guru Dharma. Jika, dalam membimbing orang lain, ia khawatir mereka mungkin akan takut dan demikian menyembunyikan dari mereka makna Dharma yang mendalam dan sebagai gantinya, mengatakan pada mereka dalam kata-kata yang tidak sesuai dan ungkapan khayalan, maka ia menyebabkan makhluk-makhluk menanggung derita kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian, alih-alih memberikan mereka kemakmuran, kedamaian, kebahagiaan, dan Nirvana.”
Ketika Dharma ini dijelaskan, lima ratus bhikshu terbebaskan dari kemelekatan pada semua dharma, bersih dari kekotoran batin dan terbebaskan dalam pikiran; delapan puluh ribu dewa meninggalkan noda-noda alam keduniawian yang jauh di belakang dan mencapai mata Dharma yang murni yang melihat menembus semua dharma; tujuh ratus dewa bertekad untuk mencapai Pencerahan Sempurna dan berikrar: “Pada masa yang akan datang, kami akan mencapai kepandaian berbicara seperti yang dimiliki Manjusri.”
Kemudian Subhuti Thera bertanya kepada Manjusri, “Apakah kamu tidak menjelaskan Dharma dari kendaraan Sravaka (Sravaka-yana) kepada para Sravaka?”
“Aku mengikuti Dharma dari semua kendaraan.”
Subhuti bertanya, “Apakah kamu seorang Sravaka, seorang Pratyekabuddha, atau seorang Yang Berharga, seorang Samyaksambuddha? ”
“Aku adalah seorang Sravaka, tetapi pemahamanku tidak datang melalui perkataan orang lain. Aku seorang Pratyekabuddha, tetapi aku tidak melepaskan belas kasihan ataupun takut dengan apa pun. Aku seorang Yang Berharga, seorang Samyaksambuddha, tetapi aku masih belum meninggalkan ikrar-ikrarku yang semula.”
Subhuti bertanya, “Mengapa kamu adalah seorang Sravaka?”
“Karena aku menyebabkan makhluk-makhluk mendengarkan Dharma yang belum pernah mereka dengar.”
“Mengapa kamu adalah seorang Pratyekabuddha? ”
“Karena aku sepenuhnya memahami sebab akibat yang saling bergantungan dari semua dharma.”

“Mengapa kamu adalah seorang Yang Berharga, seorang Samyaksambuddha? ”
“Karena aku menyadari bahwa semua benda adalah sama di dalam Dharmadhatu. ”
Subhuti bertanya, “Manjusri, dalam tingkat apakah kamu sebenarnya berdiam?”
“Aku berdiam dalam setiap tingkat.”
Subhuti bertanya, “Mungkinkah bahwa kamu juga berdiam dalam tingkat orang biasa?”
Manjusri berkata, “Aku tentu saja berdiam dalam tingkat orang biasa.”
Subhuti bertanya, “Dengan sebab mendalam apakah kamu berkata demikian?”
“Aku berkata demikian karena semua dharma adalah sama secara alamiah.”
Subhuti bertanya, “Jika semua dharma adalah sama, di manakah dharma seperti tingkat dari para Sravaka, para Pratyekabuddha, para Bodhisattva, dan para Buddha dikembangkan? ”
Manjusri menjawab, “Sebagai gambaran, pikirkanlah tentang angkasa kosong di sepuluh arah. Orang-orang mengatakan angkasa sebelah timur, angkasa sebelah selatan, angkasa sebelah barat, angkasa sebelah utara, empat angkasa di antaranya, angkasa sebelah atas, angkasa sebelah bawah, dan seterusnya. Perbedaan ini diucapkan, walaupun angkasa kosong itu sendiri tanpa perbedaan-perbedaan . Dengan cara yang sama, Yang Mulia, tingkat-tingkat yang berbeda dikembangkan di dalam kekosongan dari semua benda, walaupun kekosongan itu sendiri tanpa perbedaan.”
Subhuti bertanya, “Apakah kamu telah memasuki realisasi Kearahatan dan selamanya terbebas dari samsara?”
“Aku telah memasukinya dan keluar darinya.”
Subhuti bertanya, “Mengapa kamu keluar darinya setelah kamu memasukinya? ”
Manjusri menjawab, “Yang Mulia, anda harus mengetahui bahwa ini adalah perwujudan dari kebijaksanaan dan kearifan seorang Bodhisattva. Ia sesungguhnya memasuki realisasi Kearahatan dan terbebas dari samsara; kemudian, sebagai cara untuk menyelamatkan makhluk-makhluk, ia keluar dari realisasi itu. Subhuti, misalkan seorang pemanah yang ahli merencanakan untuk melukai musuh bebuyutannya, tetapi, karena salah menyangka putra kesayangannya di dalam hutan sebagai musuh, ia menembakkan panah padanya. Putranya berkata, ‘Aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Mengapa ayah ingin melukaiku?’ Seketika itu juga, sang pemanah, yang berlari dengan cepat, mendorong putranya dan menangkap panah itu sebelum ia melukai seseorang. Seorang Bodhisattva adalah seperti ini: untuk melatih dan membimbing para Sravaka dan para Pratyekabuddha, ia memasuki Nirvana; tetapi, ia keluar darinya dan tidak jatuh ke tingkat Sravaka dan Pratyekabuddha. Itulah mengapa tingkat Bodhisattva disebut tingkat Buddha.”
Subhuti bertanya, “Bagaimana seorang Bodhisattva mencapai tingkat ini?”
Manjusri menjawab, “Jika para Bodhisattva berdiam dalam semua tingkat dan juga tidak berdiam di mana-mana, mereka dapat mencapai tingkat ini.”
“Jika mereka dapat mengajar pada semua tingkat tetapi tidak berdiam di tingkat yang lebih rendah, mereka dapat mencapai tingkat Buddha ini.”

“Jika mereka menjalankan praktek dengan tujuan mengakhiri penderitaan semua makhluk, tetapi menyadari tidak ada akhir di dalam Dharmadhatu; jika mereka berdiam di dalam yang tidak berkondisi, tetapi melakukan perbuatan-perbuatan yang berkondisi; jika mereka tetap berada dalam samsara, tetapi menganggapnya sebagai sebuah taman dan tidak mencari Nirvana sebelum semua ikrar mereka terpenuhi – maka mereka dapat mencapai tingkat ini.”
“Jika mereka menyadari ketanpa-akuan, tetapi membawa makhluk-makhluk pada kedewasaan, mereka dapat mencapai tingkat ini.”
“Jika mereka mencapai kebijaksanaan Buddha tetapi tidak membangkitkan kemarahan atau kebencian terhadap mereka yang kurang bijaksana, mereka dapat mencapai tingkat ini.”
“Jika mereka menjalankan praktek dengan memutar roda Dharma bagi mereka yang mencari Dharma tetapi tidak membuat perbedaan di antara benda-benda, mereka dapat mencapai tingkat ini.”
“Lebih lanjut, jika para Bodhisattva menaklukkan para setan tetapi mengambil bentuk sebagai empat setan, mereka dapat mencapai tingkat ini.”
Subhuti berkata, “Manjusri, praktek-praktek seorang Bodhisattva seperti ini adalah sangat sulit bagi makhluk duniawi mana pun untuk dipercaya.”
Manjusri berkata, “Demikianlah, demikianlah, seperti yang kamu katakan. Para Bodhisattva melakukan perbuatan-perbuatan di dalam dunia fana tetapi melebihi dharma-dharma duniawi.”
Subhuti berkata, “Manjusri, mohon katakan padaku bagaimana mereka melebihi dunia fana.”
Manjusri berkata, “Lima kelompok kehidupan (pancaskhanda) menyusun apa yang kita sebut dunia fana. Dari kelima kelompok ini, kelompok bentuk (rupaskhanda) memiliki sifat seperti busa yang berkumpul, kelompok perasaan (vedanaskhanda) memiliki sifat seperti sebuah gelembung, kelompok pencerapan (samjnaskhanda) memiliki sifat seperti sebuah fatamorgana, kelompok bentuk-bentuk pikiran (samkharaskhanda) memiliki sifat seperti sebuah rumput layu, dan kelompok kesadaran (vijnanaskhanda) memiliki sifat seperti sebuah khayalan. Demikianlah, seseorang harus mengetahui bahwa sifat pokok dari dunia fana tidak lain dari sifat dari busa, gelembung, fatamorgana, rumput, dan khayalan; sehingga tidak ada kelompok kehidupan ataupun nama-nama kelompok kehidupan, tidak ada makhluk-makhluk ataupun nama-nama makhluk, tidak ada dunia fana ataupun dunia di atas fana. Pemahaman terhadap kelompok kehidupan yang benar seperti ini disebut pemahaman tertinggi. Jika seseorang mencapai pemahaman tertinggi ini, maka ia terbebaskan. Jika ia tidak melekat pada benda-benda duniawi, ia melebihi dunia fana.”
“Lebih lanjut, Subhuti, sifat dasar dari lima kelompok kehidupan adalah kekosongan. Jika sifat itu adalah kekosongan, tidak ada ‘aku’ ataupun ‘milikku’. Jika tidak ada ‘aku’ ataupun ‘milikku’, tidak ada dualitas. Jika tidak ada dualitas, tidak ada ketamakan ataupun keinginan. Jika tidak ada ketamakan ataupun keinginan, tidak ada kemelekatan. Demikianlah, dengan bebas dari kemelekatan, seseorang melebihi dunia fana.”
“Lebih lanjut, Subhuti, lima kelompok kehidupan tunduk pada sebab-akibat dan kondisi-kondisi. Jika mereka tunduk pada sebab-akibat dan kondisi-kondisi, mereka bukan milik seseorang atau orang lain. Jika mereka bukan milik seseorang atau orang lain, mereka bukan milik siapa-siapa.

Jika mereka bukan milik siapa-siapa, tidak ada orang yang menggenggam mereka. Jika tidak ada genggaman, tidak ada kesenangan, dan tanpa kesenangan adalah praktek para umat beragama. Sama seperti sebuah tangan yang bergerak dalam ruang kosong tidak menyentuh objek dan tidak menemui hambatan, demikian para Bodhisattva yang menjalankan praktek kesamaan dari kekosongan melebihi dunia fana.”
“Lebih lanjut, Subhuti, karena semua unsur dari lima kelompok kehidupan menyatu di dalam Dharmadhatu, tidak ada alam-alam kehidupan. Jika tidak ada alam-alam kehidupan, tidak ada unsur tanah, air, api, atau udara; tidak ada keakuan, makhluk hidup, atau kehidupan; tidak ada Alam Nafsu (Kamaloka), Alam Bentuk (Rupaloka), atau Alam Tanpa Bentuk (Arupaloka); tidak ada alam yang berkondisi atau alam yang tidak berkondisi; tidak ada samsara atau Nirvana. Ketika para Bodhisattva memasuki daerah yang demikian bebas dari perbedaan, mereka tidak berdiam di mana pun, walaupun mereka tetap berada di tengah-tengah makhluk-makhluk duniawi.”
Ketika Dharma yang melebihi duniawi ini dijelaskan, dua ratus bhikshu terlepas dari semua dharma, mengakhiri semua kekotoran batin mereka, dan terbebas dalam pikiran. Satu per satu mereka melepaskan jubah bagian atas mereka untuk dipersembahkan kepada Manjusri, dengan berkata, “Siapa pun yang tidak memiliki keyakinan atau pemahaman dalam ajaran ini tidak akan mencapai apa pun dan tidak merealisasi apa pun.”
Kemudian Subhuti bertanya pada para bhikshu ini, “Para tetua, apakah kalian pernah mencapai atau merealisasi sesuatu?”
Para bhikshu menjawab, “Hanya orang-orang yang terlalu yakin yang akan mengaku mereka telah mencapai dan merealisasi sesuatu. Bagi seorang umat beragama yang sederhana, tidak ada yang dicapai atau direalisasikan. Lalu, bagaimana seseorang yang seperti ini berpikir untuk mengatakan dirinya sendiri, ‘Inilah yang telah kucapai; inilah yang telah kurealisasikan’ ? Jika gagasan seperti ini muncul dalam dirinya, maka ini adalah perbuatan setan.”
Subhuti bertanya, “Para tetua, berdasarkan pemahaman kalian, pencapaian dan realisasi apakah yang menyebabkan kalian berkata demikian?”
Para bhikshu menjawab, “Hanya Sang Buddha, Yang Dimuliakan, dan Manjusri yang mengetahui pencapaian dan realisasi kami. Yang Mulia, pemahaman kami adalah: mereka yang tidak sepenuhnya mengetahui sifat penderitaan tetapi mengaku bahwa penderitaan harus dipahami adalah orang-orang yang terlalu yakin. Demikian juga, jika mereka mengaku bahwa sebab penderitaan harus dimusnahkan, bahwa penghentian penderitaan harus direalisasikan dan bahwa jalan menuju penghentian penderitaan harus diikuti, mereka adalah orang-orang yang terlalu yakin. Orang-orang yang terlalu yakin juga adalah mereka yang tidak benar-benar mengetahui sifat penderitaan, sebab penderitaan, penghentian penderitaan, atau jalan menuju penghentian penderitaan, tetapi mengaku bahwa mereka mengetahui penderitaan, telah memusnahkan sebab penderitaan, telah merealisasi penghentian penderitaan, dan telah mengikuti jalan menuju penghentian penderitaan. ”
“Apakah sifat penderitaan itu? Ini adalah sifat paling dasar dari yang tidak muncul. Hal yang sama juga berlaku untuk karakteristik dari sebab penderitaan, penghentian penderitaan, dan jalan menuju penghentian penderitaan. Sifat dasar dari yang tidak muncul adalah tanpa tanda dan tidak dapat dicapai. Di dalamnya, tidak ada penderitaan untuk diketahui, tidak ada sebab penderitaan untuk dimusnahkan, tidak ada penghentian penderitaan untuk direalisasi, dan tidak ada jalan menuju penghentian penderitaan untuk diikuti. Mereka yang tidak takut, khawatir, atau terkejut ketika mendengar Kebenaran Mulia ini bukanlah orang-orang yang terlalu yakin. Mereka yang takut dan khawatir adalah orang-orang yang terlalu yakin.”
Setelah itu, Yang Dimuliakan memuji para bhikshu itu, dengan berkata, “Benar sekali yang mereka katakan!”
Beliau berkata pada Subhuti, “Para bhikshu ini mendengarkan Manjusri menjelaskan Dharma yang mendalam ini pada masa Kasyapa Buddha. Karena mereka telah menjalankan Dharma yang mendalam ini sebelumnya, mereka sekarang dapat mengikutinya dan memahaminya dengan cepat. Hal yang sama, semua orang yang mendengar, meyakini, dan memahami ajaran yang mendalam ini dalam masa-Ku akan berada di antara perkumpulan dari Maitreya Buddha pada masa yang akan datang.”
Kemudian dewa Suguna berkata kepada Manjusri, “Yang Mulia, anda telah berulang kali mengajarkan Dharma ini hingga ke dunia ini. Sekarang kami memohon anda untuk pergi ke Surga Tushita. Selama waktu yang lama, para dewa di sana telah juga menanam akar-akar kebajikan. Mereka akan dapat memahami Dharma jika mereka mendengarnya. Tetapi, karena mereka melekat pada kesenangan surgawi mereka, mereka tidak dapat meninggalkan surga mereka dan datang kepada Sang Buddha untuk mendengarkan Dharma, dan akibatnya mereka menderita kerugian besar.”

Manjusri dengan cepat melakukan sebuah keajaiban yang menyebabkan dewa Suguna dan semua makhluk lain dalam perkumpulan itu percaya bahwa mereka telah tiba di Surga Tushita. Mereka melihat taman-taman, hutan-hutan, istana-istana dan bangunan yang mengagumkan dengan pagar-pagar terali dan jendela-jendela yang mewah, menara bertingkat dua puluh yang luas dan tinggi dengan jaring dan tirai yang berhiaskan permata, bunga-bunga surgawi yang menutupi tanah, burung-burung yang bermacam-macam dan menakjubkan terbang melayang secara berkelompok dan berkicauan, dewi-dewi di udara menaburkan bunga dari pohon erythrina, menyanyikan syair-syair dalam paduan suara, dan bermain dengan riang gembira.
Melihat semua ini, dewa Suguna berkata kepada Manjusri, “Ini luar biasa, Manjusri! Bagaimana kita dapat tiba dengan sangat cepat di istana Surga Tushita untuk melihat taman-taman dan para dewa di sini? Manjusri, sudikah kamu mengajarkan kami Dharma ini?”
Subhuti Thera berkata pada Suguna, “Putra surga, kamu tidak meninggalkan perkumpulan atau pergi ke mana pun. Ini adalah keajaiban Manjusri yang menyebabkan kamu melihat diri kamu sendiri di istana Surga Tushita.”
Dewa Suguna berkata kepada Sang Buddha, “Betapa langkahnya, Yang Dimuliakan! Manjusri memiliki kekuatan samádhi dan kekuatan batin sehingga dalam sekejab ia menyebabkan seluruh perkumpulan ini muncul di istana Surga Tushita.”
Sang Buddha berkata, “Putra surga, apakah ini pemahamanmu atas kekuatan batin Manjusri?

Seperti yang Ku-pahami, jika Manjusri menginginkannya, ia dapat mengumpulkan semua jasa dan sifat yang mengagumkan dari tanah-tanah Buddha sebanyak pasir di sungai Gangga dan menyebabkan mereka muncul dalam satu tanah Buddha. Ia dapat dengan satu ujung jari mengangkat tanah-tanah Buddha di bawah tanah Buddha kita, yang sebanyak pasir di sungai Gangga, dan menaruh mereka di ruang angkasa kosong di puncak tanah-tanah Buddha di atas kita, yang juga sebanyak pasir di sungai Gangga. Ia dapat menaruh semua air dari empat samudera besar dari semua tanah Buddha ke dalam sebuah pori-pori tanpa membuat makhluk-makhluk air di dalamnya merasa sesak atau memindahkan mereka dari lautan. Ia dapat menaruh semua Gunung Sumeru dari semua dunia ke dalam sebiji sesawi, namun para dewa di gunung-gunung ini akan merasa bahwa mereka masih tinggal di tempat mereka masing-masing. Ia dapat menempatkan semua makhluk dari lima alam kehidupan dari semua tanah Buddha pada telapak tangannya, dan menyebabkan mereka melihat semua jenis benda yang indah seperti yang terdapat di negeri-negeri yang menyenangkan dan menakjubkan. Ia dapat mengumpulkan semua api dari semua dunia ke dalam sehelai katun. Ia dapat menggunakan sebuah tempat sekecil pori-pori untuk gerhana penuh setiap matahari dan bulan di setiap tanah Buddha. Singkatnya, ia dapat menyelesaikan apa pun yang ia ingin lakukan.”
Pada waktu itu, Papiyan, Si Jahat, mengubah dirinya menjadi seorang bhikshu dan berkata pada Sang Buddha, “Yang Dimuliakan, kami berharap melihat Manjusri melakukan keajaiban seperti itu sekarang juga. Apa gunanya mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal, yang tidak ada orang di dunia ini dapat percaya?”
Yang Dimuliakan berkata pada Manjusri, “Kamu harus mewujudkan kekuatan batinmu tepat di hadapan perkumpulan ini.” Setelah itu, tanpa bangkit dari tempat duduknya, Manjusri memasuki Samadhi Kebebasan Batin Sempurna dalam Memuliakan Semua Dharma, dan mempertunjukkan semua keajaiban yang dijelaskan Sang Buddha.
Melihat hal ini, Si Jahat, para anggota perkumpulan, dan dewa Suguna semuanya bertepuk tangan pada kejadian yang tak pernah terjadi ini, dengan berkata. “Menakjubkan, menakjubkan! Karena kemunculan Sang Buddha di dunia ini, kita sekarang memiliki Bodhisattva ini yang dapat melakukan keajaiban seperti ini dan membukakan pintu Dharma untuk dunia.”
Setelah itu, Si Jahat, yang terinspirasi oleh kekuatan Manjusri yang mengagumkan, berkata, “Yang Dimuliakan, betapa menakjubkan bahwa Manjusri memiliki kekuatan batin yang demikian besar! Dan para anggota perkumpulan ini, yang sekarang memahami dan memiliki keyakinan di dalam Dharma melalui pertunjukan keajaiban ini, juga mengagumkan. Yang Dimuliakan, bahkan jika terdapat setan-setan sebanyak pasir di sungai Gangga, mereka tidak akan dapat merintangi pria dan wanita yang baik hati ini, yang memahami dan meyakini Dharma.”
“Aku, Papiyan Si Jahat, selalu mencari kesempatan untuk menentang Sang Buddha dan membuat kekacauan di antara makhluk-makhluk. Sekarang aku berikrar bahwa, sejak hari ini, aku tidak akan pernah pergi lebih dekat dari seratus league dari tempat di mana ajaran ini dijalankan, atau di mana orang-orang memiliki keyakinan, memahami, mencintai, menerima, membacakan, mengulangi, dan mengajarkan ajaran ini.”

Sutra Jasa Pahala Membuat Patung Buddha

Sutra Jasa Pahala Membuat Patung Buddha  

Foshuozuofoxingxian gjing1

 

 

Taisho Tripitaka 692

Diterjemahkan dari bahasa Sansekerta ke dalam bahasa
Mandarin oleh YA. Shiyi
Diterjemahkan dari bahasa Mandarin ke dalam bahasa Inggris
oleh Robert H. Sharf
(Sumber: Religions of China in Practice, editor Donald S.
Lopez, Princeton University Press, New Jersey, 1996, halaman
264 ¨C 267)
Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia
oleh Ivan Taniputera

Buddha tiba di negeri Kausambi, yakni di sebuah hutam milik
Kausika. Saat itu, raja negeri tersebut bernama Udayana,
yang berusia 14 tahun. Tatkala mendengar kedatangan Buddha,
raja memerintahkan para menteri dan pengawalnya untuk
mempersiapkan kereta kerajaan. Raja kemudian datang
menyambut kehadiran Buddha.

Begitu melihat Buddha dari kejauhan, hati raja dipenuhi
dengan kegembiraan. Raja segera bangkit dari keretanya dan
dengan berjalan kaki, ditinggalkannya para menteri,
pengawal, serta pembawa payungnya. Raja menghaturkan salam
pada Buddha, menyembah ke kaki Buddha, dan mengelilingi
Buddha searah jarum jam sebagai tanda hormat. Selanjutnya
dengan merangkapkan tangan penuh hormat berkatalah ia pada
Buddha, Di langit dan bumi tiada seorangpun yang dapat
disepadankan dengan Buddha. Wajah, mata, dan tubuh Buddha
kini memancarkan sinar dengan gemilangnya, dan aku tak
pernah jemu sedikitpun memandang pada Buddha. Buddha adalah
guru bagi para dewa beserta manusia, dan banyak di antara
mereka yang mengagungkan belas kasihnya.

Buddha berdiam diri tanpa mengatakan sepatah katapun.
Raja berkata lagi pada Buddha, Apabila seseorang melakukan
kebajikan, ia akan menuai pahala keberuntungan, tetapi ke
manakah hal ini akan membawa mereka? Aku khawatir tidak akan
sanggup memandang Buddha lagi, bila ia telah parinirvana.
Aku berniat untuk membuat sebuah patung Buddha sebagai obyek
penghormatan dan mewariskannya pada generasi berikutnya.
Pahala kebajikan apakah yang akan kuperoleh, karena
melakukannya, karena aku sungguh-sungguh ingin
mengetahuinya?

Buddha menjawab, Wahai Raja yang Masih Berusia Muda! Bagus
sekali pertanyaanmu. Dengarlah apa yang kubabarkan. Setelah
mendengarnya pautkan dalam hatimu. Raja berkata, Baik, aku
siap mendengar ajaran tersebut.

Buddha berkata pada raja,Aku akan menjelaskan padamu pahala
kebajikan yang akan diperoleh dari membuat patung Buddha.
Raja menjawab, Aku gembira sekali mendengarnya.

Buddha bersabda, Orang yang membuat patung Buddha pada
kehidupan berikut akan memiliki mata yang tajam pandangannya
serta penampilan rupawan. Tubuh, tangan, dan kakinya akan
sempurna. Apabila terlahir di alam surga, ia akan menjadi
yang terkemuka di antara para dewa dalam hal kemurnian,
dengan sepasang mata yang elok dan memancarkan ketenangan.
Demikianlah pahala kebajikan yang didapat oleh orang yang
membuat patung Buddha.

Tempat di mana orang yang membuat patung Buddha itu
dilahirkan akan terbebas dari kekotoran, tubuh orang-orang
yang terlahir di sana juga akan tanpa cela. Setelah
mengalami kematian, ia akan terlahir di surga Brahma tingkat
ketujuh. Lebih jauh lagi, penampilan eloknya tiada yang
menandingi dan melebihi dewa-dewa lainnya. Ia akan
dihormati oleh para dewa. Demikianlah pahala kebajikan yang
didapat oleh orang yang membuat patung Buddha.

Orang yang membuat patung Buddha akan terlahir di keluarga
mulia, dengan kekayaan yang melebihi orang lainnya di muka
bumi ini. Ia tak akan terlahir dalam keluarga miskin atau
kekurangan pada kehidupan berikutnya. Demikianlah pahala
kebajikan yang didapat oleh orang yang membuat patung Buddha.

Tubuh orang yang membuat patung Buddha, dalam kehidupan
berikutnya, akan selalu berwarna keemasan dan elok dipandang
tanpa ada yang menandingi.

Orang yang membuat patung Buddha pastilah akan terlahir di
keluarga makmur, dengan uang dan permata berharga tak
terhingga banyaknya. Ia akan selalu dicintai oleh orang tua,
sanak saudara, dan kerabatnya. Demikianlah pahala kebajikan
yang didapat oleh orang yang membuat patung Buddha.

Orang yang membuat patung Buddha akan terlahir di India
(Jambudvipa) , baik dalam keluarga seorang maharaja,
pangeran, atau keluarga bajik. Demikianlah pahala kebajikan
yang didapat oleh orang yang membuat patung Buddha.

Orang yang membuat patung Buddha akan menjadi seorang
maharaja pada kehidupan berikutnya. Ia akan menjadi yang
paling dihormati dan dimuliakan di antara para penguasa,
yakni menjadi tempat berlindung dan penghormatan bagi para
penguasa lainnya. Demikianlah pahala kebajikan yang didapat
oleh orang yang membuat patung Buddha.

Orang yang membuat patung Buddha akan menjadi seorang raja
pemutar roda Dharma pada kehidupan berikutnya. Ia akan
sanggup naik ke alam surga dan kembali lagi seturut
kehendaknya. Ia akan berhasil menyelesaikan apapun yang
direncanakannya. Demikianlah pahala kebajikan yang didapat
oleh orang yang membuat patung Buddha.

Orang yang membuat patung Buddha akan terlahir di alam surga
Brahma tingkat ketujuh. Kurun waktu kehidupannya akan
mencapai satu kalpa dan kebijaksanaannya tak tertandingi.
Orang yang membuat patung Buddha tak akan lagi terlahir pada
salah satu alam rendah setelah kematiannya. Ia akan
senantiasa menjaga kemurniannya dan pikirannya selalu
mengikuti Jalan Kebudhaan. Demikianlah pahala kebajikan yang
didapat oleh orang yang membuat patung Buddha.

Orang yang membuat patung Buddha akan senantiasa menghormati
Buddha dan kitab-kitab suci. Ia akan terus menerus
menghaturkan persembahan pada sarira-sarira Buddha berupa
aneka kain sutera, bunga-bunga indah, dupa, pelita, permata
berharga, dan seluruh benda langka di muka bumi ini. Setelah
itu, selama berkalpa-kalpa yang tak terhingga ia akan
menapaki jalan menuju ke nirvana. Orang yang beraspirasi
untuk mempersembahkan permata berharga pada Buddha bukanlah
orang biasa; mereka telah mempraktekkan Jalan Kebuddhaan
pada kehidupan lampaunya. Demikianlah pahala kebajikan yang
didapat oleh orang yang membuat patung Buddha.

Orang yang membuat patung Buddha akan memperoleh kekayaan
yang tak pernah habis pada kehidupan berikutnya; jumlah
kekayaan tak terhitung pula banyaknya. Barangkali tidak
mustahil untuk menakar jumlah air di seluruh sungai dan
samudera pada keempat penjuru. Tetapi kekayaan yang
diperoleh orang yang membuat patung Buddha sepuluh kali
lipat lebih banyak dibandingkan air di seluruh sungan serta
samudera di keempat penjuru. Orang yang membuat patung
Buddha dapat diumpamakan dengan orang yang saat hujan
memiliki tempat perlindungan nan baik ¨C tak ada sesuatupun
yang perlu ditakutinya.

Orang yang membuat patung Buddha tak akan pernah terlahir di
alam-alam rendah, baik itu berupa alam neraka, hewan,
maupun hantu kelaparan setelah kematiannya. Orang yang
melihat patung Buddha dan dengan hati tulus merangkapkan
tangan sebagai tanda hormat serta berlindung pada stupa
Buddha ataupun reliknya tak akan terlahir kembali di alam
neraka, hewan, ataupun hantu kelaparan setelah kematiannya.
Ia akan terlahir di alam surga dan setelah habis masa
kehidupannya di sana, ia akan terlahir kembali di dunia
sebagai putera kelurga kaya yang memiliki tak terhingga
permata berharga serta benda-benda langka. Setelah itu, ia
akan merealisasi Jalan Kebuddhaan menuju nirvana.

Buddha memberitahu raja, Membuat patung Buddha merupakan
tindakan mulia, dan pahala kebajikan yang akan diperoleh
sebagai buahnya adalah seperti yang kukatakan sebelumnya;
tanpa dilebih-lebihkan sedikitpun. Raja merasa puas dan
membungkukkan kepalanya ke kaki Buddha. Ia dan segenap
menterinya lalu menyembah di hadapan Buddha dan meninggalkan
tempat itu. Setelah kurun waktu kehidupan mereka yang
panjang berakhir, terlahirlah mereka semua di surga Buddha
Amitabha.

Bodhisattva Ksitigarbha Sutra Bab 9

Bab 9.Varga Manfaat Menyebut Nama Buddha.

Ketika itu Bodhisattva Mahasattva Ksitigarbha berkata kepada Sang Buddha: “Yang Arya Bhagavan yang termulia, sekarang aku ingin menguraikan suatu cara yang mudah dan bermanfaat bagi para umat di masa yang akan datang, agar mereka dapat memanfaatkannya dalam menghadapi kelahiran dan kematian yang mereka alami dari masa ke masa!”

Sang Buddha bersabda kepada Ksitigarbha Bodhisattva : “Yang Arya Ksitigarbha, kini engkau akan menampilkan rasa welas asihmu yang maha agung untuk menolong semua makluk menderita yang masih berada di 6 jalur kehidupan. Penjelasan akan cara-cara yang mudah itu kini tepat pada waktunya. Uraikanlah secepatnya. Beberapa saat lagi aku akan memasuki Parinirvana dan apabila cita-citamu telah tercapai, aku takkan kuatir lagi akan para umat yang berada di masa sekarang dan masa yang akan datang.”
Ksitigarbha Bodhisattva berkata kepada Sang Buddha : “Yang Arya Bhagavan yang termulia, pada masa Asankyeya Kalpa yang tak terbilang itu terdapat seorang Buddha, bernama Anantakayah Tathagata. Apabila terdapat seorang pria atau wanita mendengar nama Buddha tersebut lalu bangkit rasa hormat dalam hatinya, maka pria atau wanita itu dapat menghapus karma Janmamarana sebanyak 40 kalpa. Jika mereka dapat membuat atau melukis gambar Buddha tersebut untuk puja bhakti, mereka akan memperoleh kebahagiaan yang tak terbatas.”

“Adalagi, pada masa dahulu kala lamanya bagaikan butiran pasir Sungai Gangga, terdapat seorang Buddha yang bernama Ratnakara Tathagata. Jika terdapat seorang pria atau wanita mendengar nama Buddha tersebut dan serta merta berhasrat berlindung kepada Beliau dan memuliakan namaNya, dalam menuntut kesadaran Bodhi, mereka akan mencapai Anuttara Samyaksambodhi !”

“Adalagi, pada masa yang silam terdapat seorang Buddha yang bernama Padmajina Tathagata. Apabila terdapat seorang pria atau wanita mendengar nama Beliau, lalu terus meng-ingat-ingat dalam hati, maka umat tersenbut akan mendapatkan kesempatan dilahirkan di Devaloka ke 6 (Paranirmitavasavartin) sebanyak 1000 kali. Apalagi jika mereka dapat menyebut namaNya dengan sepenuh hati, mereka akan cepat mencapai ke-Buddha-an.”
“Lagi, pada masa Asankyeya Kalpa yang tak terbilang, terdapat seorang Buddha yang bernama Simhanada Tathagata, jika terdapat seorang pria atau wanita mendengar namaNya, lalu timbul hasrat ingin berlindung kepadaNya, maka umat tersebut akan bertemu dengan para Buddha yang akan menyentuh ubun-ubunnya dan mencatatnya sebagai calon Buddha dikemudian hari.”

“Lagi, pada masa lampau, terdapat seorang Buddha yang bernama Krakucchandah Buddha. Apabila terdapat seorang pria atau wanita mendengar nama Beliau menghormati memuliakan namaNya maka umat tersebut akan memperoleh kesempatan menjadi Raja Maha Brahma dan tercatat sebagai calon Buddha pada pertemuan Seribu Buddha pada masa Bhadrakalpa.”

“Lagi, pada masa yang lampau afa seorang Buddha yang bernama Vipasyin Buddha, jika terdapat seorang pria atau wanita yang mendengar namaNya dan memuliakan namaNya, mereka akan selalu dilahirkan di Surga atau di dunia manusia, serta akan menikmati kebahagiaan yang luar biasa.”
“Lagi, pada masa yang tak terbilang bagaikan butiran pasir Sungai Gangga, terdapat seorang Buddha yang bernama Prabhutaratna Tathagata. Jika terdapat seorang pria atau wanita mendengar namaNya, lalu memuliakan namaNya, maka umat berbudi itu tak akan terjerumus ke dalam alam kesedihan, tapi ia akan dilahirkan di berbagai Surga untuk menikmati kebahagiaan!”

“Lagi, pada masa yang lampau terdapat seorang Buddha yang bernama Ratnaketu Tathagata. Jika terdapat seorang pria atau wanita mendengar namaNya, lalu timbul rasa hormat dan memuliakanNya, maka tidak selang berapa lama, mereka akan mencapai tingakatan Arahat.”
“Lagi, pada masa Asankyeya Kalpa yang silam terdapat seorang Buddha yang bernama Kasayadhvaja Tathagata. Jika terdapat seorang pria atau wanita mendengar namaNya serta memuliakan namaNya, akibat katma dari Tumimbal lahir dan kematian akan dihapus hingga 100 kalpa.”
“Lagi, pada masa yang lampau terdapat seorang Buddha yang bernama Mahabhijnagiriraja Tathagata. Jika terdapat seorang pria atau wanita mendengar namaNya dan memuliakanNya, maka mereka akan berjumpa dengan Buddha yang banyaknya bagaikan butiran pasir Sungai Gangga dan mereka akan dapat mendengarkan khotbah-Nyza hingga mencapai kesadaran Bodhi!”

Ksitigarbha Bodhisattva melanjutkan : “Yang Arya Bhagavan yang termulia, para Buddha di masa lampau yang pernah bertugas di dunia ini masih banyak sekali seperti :

Suddhacandra Buddha,
Giriraja Buddha,
Jnanabhibhu Buddha,
Vimalakirtiraja Buddha,
Prajnasiddhi Buddha,
Anuttara Buddha,
Manjughosa Buddha,
Candraparipurna Buddha,
Candramukha Buddha, dan sebagainya.

“Yang Arya Bhagavan yang termulia, semua makhluk yang berada dimasa sekarang atau masa yang akan datang, baik dewa maupun manusia, lelaki atau manusia, lelaki atau wanita, bila mereka dapat menyebut salah satu nama Buddha, mereka akan mendapatkan kebajikan yyang tiada bandingnya. Apalagi jika mereka dapat menyebut nama para Buddha. Umat yang demikian itu mendapatkan banyak sekali manfaat ; baik saat mereka lahir maupun ketika mereka meninggal dunia, mereka takkan terjerumus ke alam kesengsaraan, tapi akan menikmati kebahagiaan !”

“Lagi, Yang Arya Bhagavan yang termulia, jika terdapat seseorang yang akan meninggal dunia, pada saat itu seluruh anggota keluarga atau hanya seorang saja me-nyebut-nyebut nama Buddha dengan suara lantang secara berulang-ulang, karma berat Pancanantarya yang dilakukan almarhum pada masa hidupnya akan mendapat kesempatan terhapus, sedangkan karma buruk yang ringan-ringan akan habis terhapuskan. Akan tetapi berkat bantuan orang yang me-nyebut-nyebut nama Buddha (Amitabha) ber-ulang-ulang, sekalipun almarhum mempunyai karma buruk Pancanantarya yang berat akan mengahruskannya terjerumus kealam Neraka dengan masa ratusan ribu kalpa, akan mendapat kesempatan terhapuskan dengan lambat laun dan ber-angsur-angsur. Apalagi jika seseorang akan meninggal dunia dan ia dapat me-nyebut-nyebut nama Buddha, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan yang tak terbatas dan terhapuskanlah segala karma buruknya.”

Bodhisattva Ksitigarbha Sutra Bab 8

Bab 8.Varga Pujian Yamaraja dan Pengikutnya

Ketika itu dari Cakravada datang rombongan Raja Setan beserta Yamaraja di istana Trayastrimsa tempat Sang Buddha memberikan khotbah. Nama-nama raja setan itu adalah: Raja setan Maha Jahat, Raja setan aneka kejahatan, Rajasetan Pertengkaran, Rajasetan Macan Putih, Rajasetan Macan Darah, Rajasetan Macan Merah, Rajasetan Macan penyebar Malapetaka, Rajasetan Terbang, Rajasetan Kilat, Rajasetan Petir, Rajasetan Bergigi Serigala, Rajasetan Penelan Binatang, Rajasetan Pemikul Batu, Rajasetan Pengurus Pemborosan, Rajasetan Pengurus Bencana, Rajasetan Pengurus Makanan, Rajasetan Pengurus Hartabenda, Rajasetan Pengurus Ternak, Rajasetan Pengurus Unggas, Rajasetan Pengurus Binatang, Rajasetan Pengurus Para Iblis, Rajasetan Pengurus Kelahiran, Rajasetan Pengurus Nyawa, Rajasetan Penurus Penyakit, Rajasetan Pengurus Kecelakaan, Rajasetan Bermata Tiga, Rajasetan Bermata Empat, Rajasetan Bermata Lima, Rajasetan Kiris, Rajasetan Kriksa, Rajasetan Maha Kriksa, Rajasetan Anotha, Rajasetan Maha Anotha, dan Rajasetan lainnya. Setiap Rajasetan memimpin ratusan ribu Raja setan muda yang berasal dari Jambudvipa, semua mempunyai tugas dan kedudukan masing-masing. Mereka semua bernama Yamaraja berkat Prabhava Sang Buddha dan Ksitigarbha Bodhisattva berada di istana Trayastrimsa untuk mendengarkan khotbah Sang Buddha dengan berdiri.

Saat itu Yamaraja bersujud dengan berlutut kepada Sang Buddha seraya berkata: “Bhagavan yang Termulia! Berkat prabhava Sang Buddha dan Ksitigarbha Bodhisattva, kami serombongan dapat memperoleh kesempatan menghadiri pertemuan agung di istana Trayastrimsa. Kami telah mendapat manfaat dan kebahagiaan dari mendengarkan Buddha Dharma. Namun kini kami masih mempunyai persoalan, sudi kiranya Sang Bhagava menerangkan kepada kami!”

Sang Buddha bersabda kepada Yamaraja: “Baik sekali, hal-hal apa yang masih kamu ragukan? Sebutkanlah satu persatu, aku akan menjelaskan kepada kamu nanti.”

Pada waktu itu Yamaraja memberi hormat kepada Sang Buddha dan Ksitigarbha Bodhisattva lalu berkata: “Bhagavan Yang Termulia, menurut pengamatan kami, selama ini Sang Bodhisattva Ksitigarbha telah menggunakan ratusan ribu kemudahan-kemudahan untuk menyelamatkan para makhluk yang mempunyai karma berat di 6 Gatya kesengsaraan dan hingga kini pekerjaan Beliau masih berlangsung tanpa jemu-jemunya. Bodhisattva Mahasattva ini sungguh memiliki kesaktian luar biasa yang tak terbayangkan. Sungguhpun demikian, para makhluk yang baru bebas dari akibat karma buruknya tak selang berapa lama kembali terjerumus ke alam kesengsaraan. Yang Arya Bhagavan yang termulia, Ksitigarbha Bodhisattva jelas memiliki kesaktian yang luar biasa tak terbayangkan, mengapa para makhluk tidak dapat dibuatnya tetap berada di jalan kebaikan? Dan mencapai kebebasan? Sudilah Yang Arya Bhagavan menerangkan kepada kami sekalian.

Sang Buddha bersabda kepada Yamaraja: “Yamaraja yang terhormat, ketahuilah, bahwa para umat dari Jambudvipa memiliki pembawaan yang sangat keras, sukar melunakkan hati mereka menjadi umat penurut. Akan tetapi Yang Maha Welasasih Sang Mahasattva ini tetap memperjuangkan pembebasan makhluk yang menderita dengan semangat tinggi dan ulet hingga jutaan kalpa. Satu-satunya diselamatkannya agar cepat bebas dari kesengsaraan. Walaupun umat yang berkarma berat berada dialam neraka, Beliau selalu berusaha dengan daya prabhavanya mencabut akar karma buruk para umat dan membuat mereka sadar akan karma buruk di masa silam sehingga mereka dapat mencapai kebebasan. Umat Jambudvipa yang demikian itu timbul tenggelam dalam karma buruk yang berat yang mereka perbuat. Dengan demikian telah melelahkan Sang Bodhisattva Ksitigarbha berkalpa-kalpa dalam usahanya membebaskan umat dari penderitaannya.”

Sang Buddha melanjutkan sabdanya: “Ibarat seorang yang tersesat, salah masuk ke jalan yang berbahaya. Dimana terdapat banyak Yaksa jahat serta harimau, serigala, singa, ular berbisa dan kalajengking bersengat. Orang yang tersesat di jalan yang berbahaya itu tak lama akan menjadi korban dari serangan makhluk buas dan berbisa itu. Sementara itu datanglah seorang yang bijak serta berilmu luhur, dapat mencegah racun-racun dari satwa tersebut dan dari Yaksa jahat, melihat orang tersesat itu sedang menuju ke jalan yang berbahaya itu, iapun dengan segera memberitahukan: “Putraku yang tersayang, apa sebabnya engkau berani masuk ke jalan yang berbahaya ini? Apakah engkau benar-benar memiliki daya tangkal melawan racun-racun para satwa yang buas itu?” setelah mendengar nasehat orang bijak itu, orang yang tersesat itupun sadar, bahwa ia berada di jalan sangat berbahaya dan ingin segera meninggalkan jalan yang berbahaya itu. Kemudian orang bijak tersebut menyambut tangan orang yang tersesat itu dan menuntunnya keluar dari jalan yang berbahaya itu sehingga yang tersesat tadi terselamatkan dari marabahaya yang mengancam, menuju jalan yang aman sentosa dan sejahtera bahagia. Setelah itu orang yang bijak kembali memberi nasehat: “Putraku yang tersayang, sejak sekarang engkau jangan mengambil jalan yang berbahaya ini. Orang yang masuk ke jalan ini tidak pernah keluar, mereka telah menjadi korban satwa yang buas.” Setelah orang yang tersesat itu mendengar peringatan itu ia sangat terharu dan berterima kasih. Ketika mereka akan berpisah, orang yang bijak itu berkata lagi: “Apabila engkau melihat sanak saudara atau pejalan kaki lainnya, baik lelaki maupun wanita, mohon diberitahukan kepada mereka, bahwa jalan ini sangat berbahaya untuk dilalui karena terdapat banyak sekali margasatwa yang bagus dan berbisa yang dapat mengakibatkan jatuhnya korban. Usahakanlah supaya para umat tidak mengambil jalan bunuh diri ini!”

“Demikianlah Ksitigarbha Bodhisattva mempunyai jiwa yang sangat welasasih untuk menolong semua makhluk yang mempunyai karma buruk agar mereka terlahir di surga menikmati kehidupan yang bahagia sejahtera. Akhirnya para umat yang jahat itu sadar, bahwa karma buruk akan mengakibatkan penderitaan yang tidak berkesudahan. Mereka tak ingin timbul tenggelam dalam karma dan berusaha membebaskan diri dari perbuatan karma buruk untuk selama-lamanya. Umat manusia yang tergiur oleh kehidupan yang beraneka rona bagaikan orang yang tersesat dan masuk ke jalan yang penuh mara bahaya. Untunglah bertemu dengan seorang Maitriyani yang bijak menuntun dan membimbing keluar dari jalan malapetaka itu dan terhindarlah ia dari kecelakaan untuk selama-lamanya. Setelah yang tersesat terselamatkan, iapun memberi nasihat dan petunjuk kepada orang yang dijumpainya untuk tidak memasuki jalan berbahaya itu serta memberitahu kepada pendatang baru itu, bahwa dirinya nyaris masuk ke jalan yang berbahaya itu dan menjadi korban, apabila tidak bertemu dengan orang bijak yang menolong dirinya menghindar dari kecelakaan, terjeremus ke dalam kesengsaraan. Ksitigarbha Bodhisattva dengan segala macam kemudahan-kemudahan menolong semua umat yang mempunyai karma-karma berat agar mereka terbebaskan dari penderitaan-penderitaan dan lahir di sorga atau di alam manusia. Sungguhpun demikian karena karma buruk yang diperbuat oleh umat manusia telah sedemikian beratnya sehingga mereka tidak dapat membebaskan diri dari cengkeramannya. Baru saja mereka terbebas dari penderitaan, tak selang berapa lama mereka terjerumus lagi ke dalam kesengsaraan, malah semakin dalam dan berat karma buruk yang mereka perbuat sehingga mereka akan tetap tinggal dalam neraka tiada dapat terbebaskan lagi!”

ketika itu Rajasetan Maha Jahat merangkapkan kedua telapak tangannya memberi hormat kepada Sang Buddha seraya berkata: “Yang Arya Bhagava Yang Termulia! Aku selaku pemimpin rombongan Raja setan yang berjumlah banyak sekali, semua bertugas di alam Jambudvipa. Tugas kamipun berbeda-beda; ada yang menguntungkan, ada yang merugikan umat manusia. Mengingat hukum karma manusia yang menimbulkan sebab akibat. Kami mengirim bawahan ke dunia untuk menyelidiki keadaan kehidupan manusia, ternyata yang berbuat kebaikan lebih sedikit dibandingkan dengan yang melakukan kejahatan. Hantu Dewa yang meninjau rumah tangga, atau kampung atau kota, kebun, pekarangan, asrama dan sebagainya, melihat pria atau wanita yang berbuat baik dapat dihitung dengan jari. Apalagi orang yang melakukan puja bhakti dengan memasang panji kuning, payung sutra kuning di sisi Buddharupang atau Bodhirupang, membakar dupa atau mempersembahkan bunga-bunga di atas altar, memelihara gambar Buddha atau Bodhisattva atau membaca Sutra Buddha dengan pembakaran dupa wangi sebagai persembahan lebih sedikit lagi. Namun demikian kami sangat menghargai dan menghormati mereka yang melakukan kebaikan ini. Kami memandang mereka sebagai Buddha di masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Dan memerintahkan para setan dengan daya kekuatannya masing-masing serta dewa tanah untuk melindungi keselamatan mereka, supaya mereka dijauhkan dari marabahaya, penyakit, bahkan hal-hal yang tidak menyenangkan, jangan sampai masuk ke rumahnya dan mengganggunya!”

sang Buddha memuji Rajasetan: “Sadhu, sadhu, kamu sekalian beserta Yamaraja suka melindungi para pria wanita yang berbudi, aku mohon kepada Raja Indra di istana Trayastrimsa serta Raja Brahma di Surga Brahmakayika untuk membantu kamu, supaya pekerjaan kamu dapat berjalan lancar selalu!”

ketika sabda Sang Buddha baru selesai, dalam pertemuan agung tersebut terdapat Rajasetan Pengurus Nyawa berkata kepada Sang Buddha: “Yang Arya Bhagavan Yang Termulia, tugasku berhubungan dengan hukum karma, mengurus kelahiran atau kematian umat dari Jambudvipa. Maksud hatiku yang semula adalah ingin memberikan manfaat bagi mereka. Sayang sekali mereka tidak memahami maksud yang kukandung sehingga ketika mereka lahir atau meninggal dunia mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan. Ini semua disebabkan oleh perilaku mereka sendiri, bukan kesalahanku. Mengapa demikian? Para umat dari Jambudvipa baik pria maupun wanita, sewaktu ibunya telah mengandung atau akan melahirkan hendaknya mereka banyak berbuat kebaikan untuk menambah suasana nyaman dalam rumah tangganya, agar para dewa bumi merasa gembira dan senang memberi perlindungan kepada sang ibu dan anaknya, dan supaya mereka serta seluruh keluarganya selalu sehat dan bahagia! Atau setelah sang bayi telah lahir dengan selamat, janganlah membunuh makhluk berjiwa sebagai santapan yang dihidangkan kepada sang ibu atau untuk menjamu sanak saudara dan tamu dengan berbagai minuman keras dan lauk pauk yang beraneka macam disertai dengan hiburan bermain musik. Hal ini semua akan mengakibatkan ibu dan anaknya berkurang kesejahteraannya!”

“Mengapa perbuatan di atas itu harus dihindarkannya?” “Sebab saat sang ibu akan melahirkan dan sedang mengalami kesukaran, berdatanglah banyak setan jahat, jin-jin liar, serta makhluk halus lain yang ingin merasakan kotoran darah yang amis itu. Sementara itu aku telah memerintahkan para dewa bumi untuk menlindungi sang ibu dan bayinya agar supaya selamat. Dengan demikian, sudah selayaknya mereka bersyukur dan mengamalkan jasa untuk membalas budi para dewa tersebut, sehubungan dengan sang ibu dan bayi telah berada dalam keadaan selamat. Namun mereka tidak berbuat sebagaimana mestinya, tapi malah melakukan pembunuhan terhadap hewan yang kemudian dihidangkan kepada sanak keluarga sebagai santapan perjamuan. Akibat perbuatan karma buruk itu akan diterima oleh sipembuat sendiri, bayi dan ibu itu akan kurang kesejahteraannya!”

“Lagi, para umat dari Jambudvipa pada saat mereka akan meninggal dunia, baik jahat maupun yang tidak, semuanya akan kubantu, agar mereka tidak terjerumus ke alam kesengsaraan. Apalagi umat yang suka berbuat kebaikan pada masa hidupnya, ditambah dengan daya kekuatan Rajasetan Pengurus Nyawa, ia pasti akan dilahirkan di Surga atau di alam manusia. Umat Jambudvipa yang pada masa hidupnya suka berbuat kebaikan sekalipun, jika ia meninggal dunia, akan berdatangan ratusan ribu iblis jahat menjelma sebagai orangtuanya atau sanak keluarganya menjemput dan membujuk almarhum untuk ikut mereka ke alam kesengsaraan. Apalagi jika yang meninggal itu umat yang semasa hidupnya banyak berbuat karma buruk.”

“Yang Arya Bhagavan Yang Termulia, saat umat Jambudvipa itu akan meninggal dunia, kesadarannya amat lemah dan sangat bingung, ia sama sekali tidak dapat membedakan baik dan buruk, pikirannya keruh sekali. Penglihatannya dan pendengarannya telah kabur. Dalam keadaan semacam itu ia mudah terpedaya oleh para iblis yang jahat dan mengikut mereka ke alam kesengsaraan. Dalam pada itu sanak keluarga almarhum perlu secepatnya mengadakan puja bhakti dengan pembacaan Sutra Buddha, memuliakan nama Buddha, Bodhisattva Mahasattva. Kemudian jasa mulia itu disalurkan kepada almarhum. Dengan demikian almarhum akan terbebaskan dari alam kesengsaraan dan para iblis jahat serta makhluk halus yang lainnya akan mundur dengan sendirinya tidak berani mendekat dan mengganggu almarhum.”

“Yang Arya Bhagavan yang termulia, semua makhluk akan meninggal dunia, apabila dapat mendengar nama Buddha atau Bodhisattva atau satu bait Gatha dari Sutra Mahayana, maka umat semacam ini akan terbebaskan dari karma akibat pembunuhan di masa silam dan terhindar dari nereka pancanantarya. Karma buruk yang ringan dan kesempatan akan terjerumus ke alam kesengsaraan seketika itu hilang lenyap semua.”

Sang Buddha bersabda kepada Rajasetan Pengurus Nyawa: “Raja setan yang berbudi, engkau sunggu seorang Raja yang Maha pengasih telah menyatakan tekad yang demikian agung, melindungi semua makhluk dalam soal hidup dan mati. Jika dalam masa yang akan datang, terdapat seorang pria atau wanita tengah menghadapi kelahiran atau kematian, janganlah engkau mundur dari janji ikrarmu yang mulia itu bantulah mereka membebaskan diri dari kesengsaraan dan supaya mereka selalu bahagia sentosa.

Rajasetan berkata kepada Sang Buddha: “Yang Arya Bhagavan yang termulia, mohon jangan kuatir selama hayat dikandung badan, aku akan selalu melindungi makhluk dari Jambudvipa. Baik ketika mereka akan lahir maupun akan meninggal dunia, akan kubuat sedemikian rupa sehingga mereka merasa aman tentram dan bahagia. Semoga semua makhluk pada saat akan lahir atau akan meninggal dunia, percaya sepenuhnya dan memegang teguh ucapanku, dan lakukanlah menurut petunjuk yang pernah kuucapkan, maka semua akan terbebaskan dari kesengsaraan dan mendapatkan manfaat dari Buddha Dharma.”

Pada saat itu, Sang Buddha memberitahukana kepada Ksitigarbha Bodhisattva: “Rajasetan Pengurus Nyawa ini telah mengalami ratusan ribu kelahiran menjadi Rajasetan. Dalam perihal kelahiran dan kematian telah banyak melindungi makhluk dari kesengsaraan, menjelmakan dirinya sebagai rajasetan itu sesungguhnya bukan Rajasetan yang sebenarnya, melainkan Bodhisattva yang penuh dengan jiwa welasasih untuk menyelamatkan umat dari penderitaan. Dan kira kira 170 kalpa lagi, beliau akan menjadi seorang Buddha dan gelarnya Animitta Tathagata, nama kalpanya Sukham, nama dunianya Posadha dan usianya panjang sekali tak dapat dihitung dengan masa kalpa. Yang Arya Ksitigarbha Bodhisattva hal ikhwal Rajasetan itu demikianlah adanya, tidak terbayangkan! Umat manusia dan para dewa yang pernah diselamatkannya juga tidak terhingga banyaknya.”