Kehancuran Bumi

Kehancuran bumi biasa dikenal dalam percakapan sehari – hari sebagai kiamat. Pada suatu ketika bumi kita ini akan hancur lebur tanpa sisa. Hal ini diuraikan Sang Buddha dalam Mahavagga Dutiyo, Sattakanipata, Angutara Nikaya. Berikut ini adalah kutipannya :

 

“Demikianlah yang kudengar, Pada suatu ketika Sang Bhagava tinggal di Ambapa livana. Ketika itu Sang Bhagava berkata kepada para Bhikkhu : “ Para Bhikkhu”  YA Bhante,” jawab mereka. Lalu Sang Buddha berkata, Bhikkhu bentuk apapun tidak kekal, goyah, tidak tetap. Para Bhikkhu, janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk ( sankhara ), itu menjijikan, bebaskanlah diri kamu dari hal – hal itu. Para Bhikkhu, gunung sineru, raja gunung – gunung yang panjangnya 84.000 yojana, lebarnya 84.000 yojana, kakinya dalam lautan sedalam 84.000 yojana, dan tingginya dari permukaan laut setinggi 84.000 yojana.

 

Bhikkhu, akan tiba suatu masa setelah bertahun – tahun, ratusan tahun, ribuan tahun, atau ratusan ribu tahun, tidak ada hujan. Ketika tidak ada hujan maka semua bibit tanaman seperti bibit sayuran, pohon penghasil obat – obatan, pohon palem dan pohon – pohon besar di hutan menjadi layu, kering dan mati.

Demikianlah Para Bhikkhu, bentuk apapun tidak kekal, tidak abadi atau tidak tetap. Janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk itu, itu menjijikan, bebaskanlah diri kamu dari hal – hal itu.

 

Para Bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu diakhir masa yang lama, matahari kedua muncul, ketika matahari kedua muncul, maka semua sungai kecil dan danau kecil surut, kering dan tiada.

Demikianlah Para Bhikkhu, bentuk apapun tidak kekal, tidak abadi atau tidak tetap. Janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk itu, itu menjijikan, bebaskanlah diri kamu dari hal – hal itu

 

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari keempat muncul. Ketika matahari keempat muncul, maka semua danau besar tempat bermuaranya sungai besar yaitu danau Anottatta, Sihapapata, Rathakara, Kannamunda, Kunala, Chaddanta dan Mandakini surut, kering dan tiada.

Demikianlah Para Bhikkhu, bentuk apapun tidak kekal, tidak abadi atau tidak tetap. Janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk itu, itu menjijikan, bebaskanlah diri kamu dari hal – hal itu

 

Para Bikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari kelima muncul. Ketika matahari kelima muncul, maka air maha samudera surut 100 yojana, lalu surut 200 yojana, 300 yojana, 400 yojana, 500 yojana, 600 yojana, dan surut 700 yojana. Air maha samudera tersisa sedalam tujuh pohon palem, enam,lima,empat,tiga,dua pohon palem dan hanya sedalam tinggi seorang saja. lalu dalam airnya setinggi pinggang, setingi lutut, hingga airnya surut sampai sedalam tinggi mata kaki.

 

Para Bhikkhu bagaikan dimusim rontok, ketika terjadi hujan dengan tetes air hujan yang besar, mengakibatkan ada Lumpur di bekas tapak – tapak kaki sapi, demikianlah dimana – mana air yang tersisa dari maha samudera hanya bagaikan Lumpur yang ada di bekas tapak – tapak kaki sapi.

Demikianlah Para Bhikkhu, bentuk apapun tidak kekal, tidak abadi atau tidak tetap. Janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk itu, itu menjijikan, bebaskanlah diri kamu dari hal – hal itu

 

Para Bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari keenam muncul, maka bumi ini dengan gunung sineru sebagai raja gunung – gunung, mengeluarkan, memuntahkan dan menyemburkan asap. Para Bhikkhu, bagaikan tungku pembakaran periuk yang mengeluarkan, memuntahkan dan menyemburkan asap, begitulah yang terjadi dengan bumi ini.Demikianlah Para Bhikkhu, bentuk apapun tidak kekal, tidak abadi atau tidak tetap. Janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk itu, itu menjijikan, bebaskanlah diri kamu dari hal – hal itu

 

Para Bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu diakhir masa yang lama, matahari ketujuh muncul. Ketika matahari ketujuh muncul, maka bumi ini dengan gunung sineru sebagai raja gunung terbakar, menyala berkobar – kobar, dan menjadi seperti sebuah bola api yang berpijar. Cahaya nyala kebakaran sampai terlihat di alam Brahma, demikian pula dengan debu asap dari bumi dengan gunung sineru tertiup oleh angin sampai ke alam Brahma. Bagian – bagian dari puncak gunung sineru setinggi 1,2,3,4,5 ratus yojana terbakar dan menyala ditaklukan oleh amukan nyala yang berkobar – kobar, hancur lebur. Disebabkan oleh nyala yang berkobar – kobar bumi dengan gunung sineru hangus total tanpa ada bara maupun abu yang tersisa. Demikian pula bumi dengan gunung sineru hangus terbakar hingga bara maupun debu tidak tersisa sama sekali.”

(Mahavaggo Dutiyo, Sattanipata, Anguttara NIkaya )

 

Karena kemampuan seorang Buddha sebagai Sabbannu yang tak terbatas, maka kita sebagai manusia biasa sulit mengetahui batas kemampuannya. Hal ini telah disebutkan dalam Acintayya Sutta :

“Kemampuan seorang Buddha adalah tak terpikirkan oleh kemampuan manusia biasa”

%d bloggers like this: