Sutra Penjelasan Keadaan Kebuddhaan yang Tak Terbayangkan

Sutra Penjelasan Keadaan Kebuddhaan yang Tak Terbayangkan

Demikianlah telah kudengar:
Suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di taman milik Anathapindika, di Taman Jeta dekat Shravasti, diiringi dengan seribu orang bhikshu, sepuluh ribu Bodhisattva- Mahasattva, dan banyak dewa dari Alam Nafsu (Kamaloka) dan Alam Bentuk (Rupaloka).
Pada waktu itu, Manjusri Bodhisattva- Mahasattva dan dewa Suguna hadir di antara perkumpulan tersebut. Yang Dimuliakan berkata pada Manjusri, “Kamu harus menjelaskan keadaan Kebuddhaan yang mendalam untuk para dewa dan para Bodhisattva dalam perkumpulan ini.”
Manjusri berkata kepada Sang Buddha, “Baiklah, Yang Dimuliakan. Jika pria dan wanita yang baik hati ingin mengetahui keadaan Kebuddhaan, mereka harus mengetahui bahwa ini bukanlah keadaan dari mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, atau pikiran; bukan pula keadaan dari bentuk-bentuk, suara-suara, bebauan, rasa, sentuhan, atau objek pikiran. Yang Dimuliakan, tanpa keadaan adalah keadaan Kebuddhaan. Inilah yang menjadi masalahnya, apakah keadaan dari pencerahan sempurna seperti yang dicapai oleh Sang Buddha?”
Sang Buddha berkata, “Ini adalah keadaan dari kekosongan, karena semua pandangan adalah sama. Ini adalah keadaan dari tanpa tanda, karena semua tanda adalah sama. Ini adalah keadaan dari tanpa keinginan karena ketiga alam adalah sama. Ini adalah keadaan dari tanpa tindakan, karena semua tindakan adalah sama. Ini adalah keadaan dari yang tidak berkondisi, karena semua hal yang berkondisi adalah sama.”
Manjusri bertanya, “Yang Dimuliakan, apakah keadaan dari yang tidak berkondisi itu?”
Sang Buddha berkata, “Ketiadaan pikiran adalah keadaan dari yang tidak berkondisi.”
Manjusri berkata, “Yang Dimuliakan, jika keadaan yang tidak berkondisi dan seterusnya adalah keadaan Kebuddhaan, dan keadaan yang tidak berkondisi adalah ketiadaan pikiran, kemudian atas dasar apakah keadaan Kebuddhaan diungkapkan? Jika tidak ada dasar yang demikian, maka tidak ada yang dapat dikatakan; dan karena tidak ada yang dapat dikatakan, tidak ada yang dapat diungkapkan. Oleh karena itu, Yang Dimuliakan, keadaan Kebuddhaan tidak dapat diungkapkan dalam kata-kata.”
Sang Buddha bertanya, “Manjusri, di manakah keadaan Kebuddhaan seharusnya dicari?”
Manjusri menjawab, “Ia harus dicari tepat di dalam kekotoran batin makhluk-mahkluk. Mengapa, karena secara alami kekotoran batin makhluk-makhluk tidak dapat dipahami. Perwujudan dari hal ini melampaui pemahaman para Sravaka dan Pratyekabuddha; oleh sebab itu, ia disebut keadaan Kebuddhaan.”
Sang Buddha bertanya pada Manjusri, “Apakah keadaan Kebuddhaan bertambah atau berkurang?”
“Ia tidak bertambah ataupun berkurang.”
Sang Buddha bertanya, “Bagaimana seseorang memahami sifat dasar dari kekotoran batin semua mahkluk?”
“Sama seperti keadaan Kebuddhaan tidak bertambah ataupun berkurang, maka dengan sifat dasar mereka kekotoran batin tidak bertambah ataupun berkurang.”
Sang Buddha bertanya, “Apakah sifat dasar kekotoran batin?”

“Sifat dasar kekotoran batin adalah sifat dasar dari keadaan Kebuddhaan. Yang Dimuliakan, jika sifat dasar kekotoran batin berbeda dari sifat dasar keadaan Kebuddhaan, maka tidak dapat dikatakan bahwa Sang Buddha berdiam di dalam kesamaan dari semua benda. Ini karena sifat kekotoran batin adalah sifat sangat dasar dari keadaan Kebuddhaan sehingga Sang Tathágata dikatakan berdiam dalam kesamaan.”
Sang Buddha bertanya lebih lanjut, “Dalam kesamaan apakah kamu pikir Sang Tathágata berdiam?”
“Seperti yang aku pahami, Sang Tathágata berdiam dalam kesamaan yang benar-benar sama di mana makhluk-makhluk yang berbuat dengan keinginan, kebencian, dan kebodohan tinggal.”
Sang Buddha bertanya, “Dalam kesamaan apakah makhluk-makhluk yang bertindak dengan ketiga racun itu tinggal?”
“Mereka tinggal dalam kesamaan dari kekosongan, tanpa tanda, dan tanpa keinginan.”
Sang Buddha bertanya, “Manjusri, dalam kekosongan, bagaimana terdapat keinginan, kebencian, dan kebodohan?”
Manjusri menjawab, “Tepat di dalam yang ada terdapat kekosongan, di mana keinginan, kebencian, dan kebodohan juga ditemukan.”
Sang Buddha bertanya, “Dalam keberadaan apakah terdapat kekosongan?”
“Kekosongan dikatakan ada hanya dalam kata-kata dan bahasa. Karena terdapat kekosongan, terdapat keinginan, kebencian, dan kebodohan. Sang Buddha telah mengatakan, ‘Para bhikshu! Yang tidak muncul, tidak berkondisi, tanpa tindakan, dan tidak berasal mula semuanya ada. Jika semua ini tidak ada, maka seseorang tidak dapat berkata tentang yang muncul, yang berkondisi, tindakan, dan asal mula. Oleh sebab itu, para bhikshu, karena terdapat yang tidak muncul, tidak berkondisi, tanpa tindakan, tidak berasal mula, seseorang dapat berkata tentang keberadaan yang muncul, berkondisi, tindakan, dan asal mula.’ Sama halnya, Yang Dimuliakan, jika tidak ada kekosongan, tanpa tanda, atau tanpa keinginan, seseorang tidak dapat berkata tentang keinginan, kebencian, kebodohan, atau gagasan-gagasan lainnya.”
Sang Buddha berkata, “Manjusri, jika ini adalah masalahnya, maka pasti ada, seperti yang kamu katakan. Bahwa siapa yang berdiam dalam kekotoran batin tinggal dalam kekosongan.”
Manjusri berkata, “Yang Dimuliakan. Jika seorang meditator mencari kekosongan terpisah dari kekotoran batin, pencariannya akan sia-sia. Bagaimana terdapat kekosongan yang berbeda dari kekotoran? Jika ia merenungkan kekotoran batin sebagai kekosongan, ia dikatakan berlatih dalam praktek yang benar.”
Sang Buddha bertanya, “Manjusri, apakah kamu memisahkan diri dari kekotoran batin atau berdiam di dalamnya?”
Manjusri berkata, “Semua kekotoran batin adalah sama [dalam kenyataan]. Aku telah menyadari kesamaan itu melalui praktek yang benar. Oleh karena itu, aku tidak memisahkan diri dari kekotoran batin ataupun berdiam di dalamnya. Jika seorang sramana atau Brahmana mengaku bahwa ia telah mengatasi nafsu keinginan dan melihat makhluk-makhluk lain diliputi kekotoran batin, ia telah jatuh ke dalam dua pandangan ekstrem. Apakah keduanya itu? Yang satu adalah pandangan eternalisme, yang menyatakan bahwa kekotoran batin ada; yang lainnya adalah pandangan nihilisme, yang menyatakan bahwa kekotoran batin tidak ada.”
“Yang Dimuliakan, ia yang menjalankan praktek yang benar tidak melihat benda-benda sebagai diri sendiri atau orang lain, ada atau tidak ada. Mengapa? Karena ia dengan jelas memahami semua dharma.”
Sang Buddha bertanya, “Manjusri, bergantung pada apakah seharusnya seseorang untuk praktek yang benar?”
“Ia yang menjalankan praktek dengan benar tidak bergantung pada apa pun.”
Sang Buddha bertanya, “Apakah ia tidak menjalankan praktek berdasarkan pada sang jalan?”
“Jika ia menjalankan praktek sesuai dengan apa pun, prakteknya akan menjadi berkondisi. Praktek yang berkondisi bukanlah salah satu dari kesamaan. Mengapa? Karena ini tidak bebas dari kemunculan, kediaman, dan kemusnahan.”
Sang Buddha bertanya kepada Manjusri, “Adakah pengelompokan di dalam yang tidak berkondisi?”
Manjusri menjawab, “Yang Dimuliakan, jika terdapat pengelompokan dalam yang tidak berkondisi, maka yang tidak berkondisi akan menjadi berkondisi dan tidak lagi akan menjadi yang tidak berkondisi.”
Sang Buddha berkata, “Jika yang tidak berkondisi dapat direalisasi oleh para Arahat, maka terdapat hal yang seperti itu di dalam yang tidak berkondisi; bagaimana dapat kamu katakan tidak ada pengelompokan di dalamnya?”
“Benda-benda tidak memiliki pengelompokan, dan para Arahat telah melampaui pengelompokan. Itulah sebabnya mengapa Aku mengatakan tidak ada pengelompokan. ”
Sang Buddha bertanya, “Manjusri, tidakkah kamu mengatakan kamu telah mencapai Kearahatan?”
Manjusri berbalik bertanya, “Yang Dimuliakan, andaikata seseorang bertanya pada seorang yang diciptakan secara sihir, ‘Tidakkah kamu mengatakan kamu telah mencapai Kearahatan?’ Apakah yang akan menjadi jawabannya?”
Sang Buddha menjawab Manjusri, “Seseorang tidak dapat mengatakan pencapaian atau bukan pencapaian dari seorang yang diciptakan secara sihir.”
Manjusri bertanya, “Tidakkah Sang Buddha telah mengatakan bahwa semua benda bagaikan khayalan?”
Sang Buddha menjawab, “Demikianlah telah Ku-katakan.”
“Jika semua benda bagaikan khayalan, mengapa Anda menanyakan apakah aku telah mencapai Kearahatan atau belum?”
Sang Buddha bertanya, “Manjusri, kesamaan apakah di dalam tiga kendaraan yang telah kamu realisasikan? ”
“Aku telah merealisasi kesamaan dari keadaan Kebuddhaan?”
Sang Buddha bertanya, “Apakah kamu telah mencapai keadaan Kebuddhaan?”

“Jika Yang Dimuliakan telah mencapainya, maka aku juga telah mencapainya. ”
Setelah itu, Yang Mulia Subhuti bertanya pada Manjusri, “Bukankah Sang Tathágata telah mencapai keadaan Kebuddhaan?”
Manjusri berbalik bertanya, “Apakah kamu telah mencapai sesuatu dalam keadaan Sravaka?”
Subhuti menjawab, “Pembebasan seorang Arahat bukanlah sebuah pencapaian ataupun bukan pencapaian.”
“Demikian pula, pembebasan Sang Tathágata bukanlah pencapaian ataupun bukan pencapaian.”
Subhuti berkata, “Manjusri, kamu tidak membimbing para Bodhisattva pemula dengan mengajarkan Dharma melalui cara ini.”
Manjusri bertanya, “Subhuti, bagaimana pendapatmu? Andaikan seorang tabib, dalam merawat pasien-pasiennya, tidak memberikan mereka obat-obatan yang pedas, asam, dan kecut. Apakah ia menolong mereka untuk sembuh atau menyebabkan mereka meninggal?”
Subhuti menjawab, “Ia menyebabkan mereka menderita dan meninggal dunia alih-alih memberikan mereka kedamaian dan kebahagian.”
Manjusri berkata, “Demikianlah halnya dengan seorang guru Dharma. Jika, dalam membimbing orang lain, ia khawatir mereka mungkin akan takut dan demikian menyembunyikan dari mereka makna Dharma yang mendalam dan sebagai gantinya, mengatakan pada mereka dalam kata-kata yang tidak sesuai dan ungkapan khayalan, maka ia menyebabkan makhluk-makhluk menanggung derita kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian, alih-alih memberikan mereka kemakmuran, kedamaian, kebahagiaan, dan Nirvana.”
Ketika Dharma ini dijelaskan, lima ratus bhikshu terbebaskan dari kemelekatan pada semua dharma, bersih dari kekotoran batin dan terbebaskan dalam pikiran; delapan puluh ribu dewa meninggalkan noda-noda alam keduniawian yang jauh di belakang dan mencapai mata Dharma yang murni yang melihat menembus semua dharma; tujuh ratus dewa bertekad untuk mencapai Pencerahan Sempurna dan berikrar: “Pada masa yang akan datang, kami akan mencapai kepandaian berbicara seperti yang dimiliki Manjusri.”
Kemudian Subhuti Thera bertanya kepada Manjusri, “Apakah kamu tidak menjelaskan Dharma dari kendaraan Sravaka (Sravaka-yana) kepada para Sravaka?”
“Aku mengikuti Dharma dari semua kendaraan.”
Subhuti bertanya, “Apakah kamu seorang Sravaka, seorang Pratyekabuddha, atau seorang Yang Berharga, seorang Samyaksambuddha? ”
“Aku adalah seorang Sravaka, tetapi pemahamanku tidak datang melalui perkataan orang lain. Aku seorang Pratyekabuddha, tetapi aku tidak melepaskan belas kasihan ataupun takut dengan apa pun. Aku seorang Yang Berharga, seorang Samyaksambuddha, tetapi aku masih belum meninggalkan ikrar-ikrarku yang semula.”
Subhuti bertanya, “Mengapa kamu adalah seorang Sravaka?”
“Karena aku menyebabkan makhluk-makhluk mendengarkan Dharma yang belum pernah mereka dengar.”
“Mengapa kamu adalah seorang Pratyekabuddha? ”
“Karena aku sepenuhnya memahami sebab akibat yang saling bergantungan dari semua dharma.”

“Mengapa kamu adalah seorang Yang Berharga, seorang Samyaksambuddha? ”
“Karena aku menyadari bahwa semua benda adalah sama di dalam Dharmadhatu. ”
Subhuti bertanya, “Manjusri, dalam tingkat apakah kamu sebenarnya berdiam?”
“Aku berdiam dalam setiap tingkat.”
Subhuti bertanya, “Mungkinkah bahwa kamu juga berdiam dalam tingkat orang biasa?”
Manjusri berkata, “Aku tentu saja berdiam dalam tingkat orang biasa.”
Subhuti bertanya, “Dengan sebab mendalam apakah kamu berkata demikian?”
“Aku berkata demikian karena semua dharma adalah sama secara alamiah.”
Subhuti bertanya, “Jika semua dharma adalah sama, di manakah dharma seperti tingkat dari para Sravaka, para Pratyekabuddha, para Bodhisattva, dan para Buddha dikembangkan? ”
Manjusri menjawab, “Sebagai gambaran, pikirkanlah tentang angkasa kosong di sepuluh arah. Orang-orang mengatakan angkasa sebelah timur, angkasa sebelah selatan, angkasa sebelah barat, angkasa sebelah utara, empat angkasa di antaranya, angkasa sebelah atas, angkasa sebelah bawah, dan seterusnya. Perbedaan ini diucapkan, walaupun angkasa kosong itu sendiri tanpa perbedaan-perbedaan . Dengan cara yang sama, Yang Mulia, tingkat-tingkat yang berbeda dikembangkan di dalam kekosongan dari semua benda, walaupun kekosongan itu sendiri tanpa perbedaan.”
Subhuti bertanya, “Apakah kamu telah memasuki realisasi Kearahatan dan selamanya terbebas dari samsara?”
“Aku telah memasukinya dan keluar darinya.”
Subhuti bertanya, “Mengapa kamu keluar darinya setelah kamu memasukinya? ”
Manjusri menjawab, “Yang Mulia, anda harus mengetahui bahwa ini adalah perwujudan dari kebijaksanaan dan kearifan seorang Bodhisattva. Ia sesungguhnya memasuki realisasi Kearahatan dan terbebas dari samsara; kemudian, sebagai cara untuk menyelamatkan makhluk-makhluk, ia keluar dari realisasi itu. Subhuti, misalkan seorang pemanah yang ahli merencanakan untuk melukai musuh bebuyutannya, tetapi, karena salah menyangka putra kesayangannya di dalam hutan sebagai musuh, ia menembakkan panah padanya. Putranya berkata, ‘Aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Mengapa ayah ingin melukaiku?’ Seketika itu juga, sang pemanah, yang berlari dengan cepat, mendorong putranya dan menangkap panah itu sebelum ia melukai seseorang. Seorang Bodhisattva adalah seperti ini: untuk melatih dan membimbing para Sravaka dan para Pratyekabuddha, ia memasuki Nirvana; tetapi, ia keluar darinya dan tidak jatuh ke tingkat Sravaka dan Pratyekabuddha. Itulah mengapa tingkat Bodhisattva disebut tingkat Buddha.”
Subhuti bertanya, “Bagaimana seorang Bodhisattva mencapai tingkat ini?”
Manjusri menjawab, “Jika para Bodhisattva berdiam dalam semua tingkat dan juga tidak berdiam di mana-mana, mereka dapat mencapai tingkat ini.”
“Jika mereka dapat mengajar pada semua tingkat tetapi tidak berdiam di tingkat yang lebih rendah, mereka dapat mencapai tingkat Buddha ini.”

“Jika mereka menjalankan praktek dengan tujuan mengakhiri penderitaan semua makhluk, tetapi menyadari tidak ada akhir di dalam Dharmadhatu; jika mereka berdiam di dalam yang tidak berkondisi, tetapi melakukan perbuatan-perbuatan yang berkondisi; jika mereka tetap berada dalam samsara, tetapi menganggapnya sebagai sebuah taman dan tidak mencari Nirvana sebelum semua ikrar mereka terpenuhi – maka mereka dapat mencapai tingkat ini.”
“Jika mereka menyadari ketanpa-akuan, tetapi membawa makhluk-makhluk pada kedewasaan, mereka dapat mencapai tingkat ini.”
“Jika mereka mencapai kebijaksanaan Buddha tetapi tidak membangkitkan kemarahan atau kebencian terhadap mereka yang kurang bijaksana, mereka dapat mencapai tingkat ini.”
“Jika mereka menjalankan praktek dengan memutar roda Dharma bagi mereka yang mencari Dharma tetapi tidak membuat perbedaan di antara benda-benda, mereka dapat mencapai tingkat ini.”
“Lebih lanjut, jika para Bodhisattva menaklukkan para setan tetapi mengambil bentuk sebagai empat setan, mereka dapat mencapai tingkat ini.”
Subhuti berkata, “Manjusri, praktek-praktek seorang Bodhisattva seperti ini adalah sangat sulit bagi makhluk duniawi mana pun untuk dipercaya.”
Manjusri berkata, “Demikianlah, demikianlah, seperti yang kamu katakan. Para Bodhisattva melakukan perbuatan-perbuatan di dalam dunia fana tetapi melebihi dharma-dharma duniawi.”
Subhuti berkata, “Manjusri, mohon katakan padaku bagaimana mereka melebihi dunia fana.”
Manjusri berkata, “Lima kelompok kehidupan (pancaskhanda) menyusun apa yang kita sebut dunia fana. Dari kelima kelompok ini, kelompok bentuk (rupaskhanda) memiliki sifat seperti busa yang berkumpul, kelompok perasaan (vedanaskhanda) memiliki sifat seperti sebuah gelembung, kelompok pencerapan (samjnaskhanda) memiliki sifat seperti sebuah fatamorgana, kelompok bentuk-bentuk pikiran (samkharaskhanda) memiliki sifat seperti sebuah rumput layu, dan kelompok kesadaran (vijnanaskhanda) memiliki sifat seperti sebuah khayalan. Demikianlah, seseorang harus mengetahui bahwa sifat pokok dari dunia fana tidak lain dari sifat dari busa, gelembung, fatamorgana, rumput, dan khayalan; sehingga tidak ada kelompok kehidupan ataupun nama-nama kelompok kehidupan, tidak ada makhluk-makhluk ataupun nama-nama makhluk, tidak ada dunia fana ataupun dunia di atas fana. Pemahaman terhadap kelompok kehidupan yang benar seperti ini disebut pemahaman tertinggi. Jika seseorang mencapai pemahaman tertinggi ini, maka ia terbebaskan. Jika ia tidak melekat pada benda-benda duniawi, ia melebihi dunia fana.”
“Lebih lanjut, Subhuti, sifat dasar dari lima kelompok kehidupan adalah kekosongan. Jika sifat itu adalah kekosongan, tidak ada ‘aku’ ataupun ‘milikku’. Jika tidak ada ‘aku’ ataupun ‘milikku’, tidak ada dualitas. Jika tidak ada dualitas, tidak ada ketamakan ataupun keinginan. Jika tidak ada ketamakan ataupun keinginan, tidak ada kemelekatan. Demikianlah, dengan bebas dari kemelekatan, seseorang melebihi dunia fana.”
“Lebih lanjut, Subhuti, lima kelompok kehidupan tunduk pada sebab-akibat dan kondisi-kondisi. Jika mereka tunduk pada sebab-akibat dan kondisi-kondisi, mereka bukan milik seseorang atau orang lain. Jika mereka bukan milik seseorang atau orang lain, mereka bukan milik siapa-siapa.

Jika mereka bukan milik siapa-siapa, tidak ada orang yang menggenggam mereka. Jika tidak ada genggaman, tidak ada kesenangan, dan tanpa kesenangan adalah praktek para umat beragama. Sama seperti sebuah tangan yang bergerak dalam ruang kosong tidak menyentuh objek dan tidak menemui hambatan, demikian para Bodhisattva yang menjalankan praktek kesamaan dari kekosongan melebihi dunia fana.”
“Lebih lanjut, Subhuti, karena semua unsur dari lima kelompok kehidupan menyatu di dalam Dharmadhatu, tidak ada alam-alam kehidupan. Jika tidak ada alam-alam kehidupan, tidak ada unsur tanah, air, api, atau udara; tidak ada keakuan, makhluk hidup, atau kehidupan; tidak ada Alam Nafsu (Kamaloka), Alam Bentuk (Rupaloka), atau Alam Tanpa Bentuk (Arupaloka); tidak ada alam yang berkondisi atau alam yang tidak berkondisi; tidak ada samsara atau Nirvana. Ketika para Bodhisattva memasuki daerah yang demikian bebas dari perbedaan, mereka tidak berdiam di mana pun, walaupun mereka tetap berada di tengah-tengah makhluk-makhluk duniawi.”
Ketika Dharma yang melebihi duniawi ini dijelaskan, dua ratus bhikshu terlepas dari semua dharma, mengakhiri semua kekotoran batin mereka, dan terbebas dalam pikiran. Satu per satu mereka melepaskan jubah bagian atas mereka untuk dipersembahkan kepada Manjusri, dengan berkata, “Siapa pun yang tidak memiliki keyakinan atau pemahaman dalam ajaran ini tidak akan mencapai apa pun dan tidak merealisasi apa pun.”
Kemudian Subhuti bertanya pada para bhikshu ini, “Para tetua, apakah kalian pernah mencapai atau merealisasi sesuatu?”
Para bhikshu menjawab, “Hanya orang-orang yang terlalu yakin yang akan mengaku mereka telah mencapai dan merealisasi sesuatu. Bagi seorang umat beragama yang sederhana, tidak ada yang dicapai atau direalisasikan. Lalu, bagaimana seseorang yang seperti ini berpikir untuk mengatakan dirinya sendiri, ‘Inilah yang telah kucapai; inilah yang telah kurealisasikan’ ? Jika gagasan seperti ini muncul dalam dirinya, maka ini adalah perbuatan setan.”
Subhuti bertanya, “Para tetua, berdasarkan pemahaman kalian, pencapaian dan realisasi apakah yang menyebabkan kalian berkata demikian?”
Para bhikshu menjawab, “Hanya Sang Buddha, Yang Dimuliakan, dan Manjusri yang mengetahui pencapaian dan realisasi kami. Yang Mulia, pemahaman kami adalah: mereka yang tidak sepenuhnya mengetahui sifat penderitaan tetapi mengaku bahwa penderitaan harus dipahami adalah orang-orang yang terlalu yakin. Demikian juga, jika mereka mengaku bahwa sebab penderitaan harus dimusnahkan, bahwa penghentian penderitaan harus direalisasikan dan bahwa jalan menuju penghentian penderitaan harus diikuti, mereka adalah orang-orang yang terlalu yakin. Orang-orang yang terlalu yakin juga adalah mereka yang tidak benar-benar mengetahui sifat penderitaan, sebab penderitaan, penghentian penderitaan, atau jalan menuju penghentian penderitaan, tetapi mengaku bahwa mereka mengetahui penderitaan, telah memusnahkan sebab penderitaan, telah merealisasi penghentian penderitaan, dan telah mengikuti jalan menuju penghentian penderitaan. ”
“Apakah sifat penderitaan itu? Ini adalah sifat paling dasar dari yang tidak muncul. Hal yang sama juga berlaku untuk karakteristik dari sebab penderitaan, penghentian penderitaan, dan jalan menuju penghentian penderitaan. Sifat dasar dari yang tidak muncul adalah tanpa tanda dan tidak dapat dicapai. Di dalamnya, tidak ada penderitaan untuk diketahui, tidak ada sebab penderitaan untuk dimusnahkan, tidak ada penghentian penderitaan untuk direalisasi, dan tidak ada jalan menuju penghentian penderitaan untuk diikuti. Mereka yang tidak takut, khawatir, atau terkejut ketika mendengar Kebenaran Mulia ini bukanlah orang-orang yang terlalu yakin. Mereka yang takut dan khawatir adalah orang-orang yang terlalu yakin.”
Setelah itu, Yang Dimuliakan memuji para bhikshu itu, dengan berkata, “Benar sekali yang mereka katakan!”
Beliau berkata pada Subhuti, “Para bhikshu ini mendengarkan Manjusri menjelaskan Dharma yang mendalam ini pada masa Kasyapa Buddha. Karena mereka telah menjalankan Dharma yang mendalam ini sebelumnya, mereka sekarang dapat mengikutinya dan memahaminya dengan cepat. Hal yang sama, semua orang yang mendengar, meyakini, dan memahami ajaran yang mendalam ini dalam masa-Ku akan berada di antara perkumpulan dari Maitreya Buddha pada masa yang akan datang.”
Kemudian dewa Suguna berkata kepada Manjusri, “Yang Mulia, anda telah berulang kali mengajarkan Dharma ini hingga ke dunia ini. Sekarang kami memohon anda untuk pergi ke Surga Tushita. Selama waktu yang lama, para dewa di sana telah juga menanam akar-akar kebajikan. Mereka akan dapat memahami Dharma jika mereka mendengarnya. Tetapi, karena mereka melekat pada kesenangan surgawi mereka, mereka tidak dapat meninggalkan surga mereka dan datang kepada Sang Buddha untuk mendengarkan Dharma, dan akibatnya mereka menderita kerugian besar.”

Manjusri dengan cepat melakukan sebuah keajaiban yang menyebabkan dewa Suguna dan semua makhluk lain dalam perkumpulan itu percaya bahwa mereka telah tiba di Surga Tushita. Mereka melihat taman-taman, hutan-hutan, istana-istana dan bangunan yang mengagumkan dengan pagar-pagar terali dan jendela-jendela yang mewah, menara bertingkat dua puluh yang luas dan tinggi dengan jaring dan tirai yang berhiaskan permata, bunga-bunga surgawi yang menutupi tanah, burung-burung yang bermacam-macam dan menakjubkan terbang melayang secara berkelompok dan berkicauan, dewi-dewi di udara menaburkan bunga dari pohon erythrina, menyanyikan syair-syair dalam paduan suara, dan bermain dengan riang gembira.
Melihat semua ini, dewa Suguna berkata kepada Manjusri, “Ini luar biasa, Manjusri! Bagaimana kita dapat tiba dengan sangat cepat di istana Surga Tushita untuk melihat taman-taman dan para dewa di sini? Manjusri, sudikah kamu mengajarkan kami Dharma ini?”
Subhuti Thera berkata pada Suguna, “Putra surga, kamu tidak meninggalkan perkumpulan atau pergi ke mana pun. Ini adalah keajaiban Manjusri yang menyebabkan kamu melihat diri kamu sendiri di istana Surga Tushita.”
Dewa Suguna berkata kepada Sang Buddha, “Betapa langkahnya, Yang Dimuliakan! Manjusri memiliki kekuatan samádhi dan kekuatan batin sehingga dalam sekejab ia menyebabkan seluruh perkumpulan ini muncul di istana Surga Tushita.”
Sang Buddha berkata, “Putra surga, apakah ini pemahamanmu atas kekuatan batin Manjusri?

Seperti yang Ku-pahami, jika Manjusri menginginkannya, ia dapat mengumpulkan semua jasa dan sifat yang mengagumkan dari tanah-tanah Buddha sebanyak pasir di sungai Gangga dan menyebabkan mereka muncul dalam satu tanah Buddha. Ia dapat dengan satu ujung jari mengangkat tanah-tanah Buddha di bawah tanah Buddha kita, yang sebanyak pasir di sungai Gangga, dan menaruh mereka di ruang angkasa kosong di puncak tanah-tanah Buddha di atas kita, yang juga sebanyak pasir di sungai Gangga. Ia dapat menaruh semua air dari empat samudera besar dari semua tanah Buddha ke dalam sebuah pori-pori tanpa membuat makhluk-makhluk air di dalamnya merasa sesak atau memindahkan mereka dari lautan. Ia dapat menaruh semua Gunung Sumeru dari semua dunia ke dalam sebiji sesawi, namun para dewa di gunung-gunung ini akan merasa bahwa mereka masih tinggal di tempat mereka masing-masing. Ia dapat menempatkan semua makhluk dari lima alam kehidupan dari semua tanah Buddha pada telapak tangannya, dan menyebabkan mereka melihat semua jenis benda yang indah seperti yang terdapat di negeri-negeri yang menyenangkan dan menakjubkan. Ia dapat mengumpulkan semua api dari semua dunia ke dalam sehelai katun. Ia dapat menggunakan sebuah tempat sekecil pori-pori untuk gerhana penuh setiap matahari dan bulan di setiap tanah Buddha. Singkatnya, ia dapat menyelesaikan apa pun yang ia ingin lakukan.”
Pada waktu itu, Papiyan, Si Jahat, mengubah dirinya menjadi seorang bhikshu dan berkata pada Sang Buddha, “Yang Dimuliakan, kami berharap melihat Manjusri melakukan keajaiban seperti itu sekarang juga. Apa gunanya mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal, yang tidak ada orang di dunia ini dapat percaya?”
Yang Dimuliakan berkata pada Manjusri, “Kamu harus mewujudkan kekuatan batinmu tepat di hadapan perkumpulan ini.” Setelah itu, tanpa bangkit dari tempat duduknya, Manjusri memasuki Samadhi Kebebasan Batin Sempurna dalam Memuliakan Semua Dharma, dan mempertunjukkan semua keajaiban yang dijelaskan Sang Buddha.
Melihat hal ini, Si Jahat, para anggota perkumpulan, dan dewa Suguna semuanya bertepuk tangan pada kejadian yang tak pernah terjadi ini, dengan berkata. “Menakjubkan, menakjubkan! Karena kemunculan Sang Buddha di dunia ini, kita sekarang memiliki Bodhisattva ini yang dapat melakukan keajaiban seperti ini dan membukakan pintu Dharma untuk dunia.”
Setelah itu, Si Jahat, yang terinspirasi oleh kekuatan Manjusri yang mengagumkan, berkata, “Yang Dimuliakan, betapa menakjubkan bahwa Manjusri memiliki kekuatan batin yang demikian besar! Dan para anggota perkumpulan ini, yang sekarang memahami dan memiliki keyakinan di dalam Dharma melalui pertunjukan keajaiban ini, juga mengagumkan. Yang Dimuliakan, bahkan jika terdapat setan-setan sebanyak pasir di sungai Gangga, mereka tidak akan dapat merintangi pria dan wanita yang baik hati ini, yang memahami dan meyakini Dharma.”
“Aku, Papiyan Si Jahat, selalu mencari kesempatan untuk menentang Sang Buddha dan membuat kekacauan di antara makhluk-makhluk. Sekarang aku berikrar bahwa, sejak hari ini, aku tidak akan pernah pergi lebih dekat dari seratus league dari tempat di mana ajaran ini dijalankan, atau di mana orang-orang memiliki keyakinan, memahami, mencintai, menerima, membacakan, mengulangi, dan mengajarkan ajaran ini.”

Advertisements

Sutra Jasa Pahala Membuat Patung Buddha

Sutra Jasa Pahala Membuat Patung Buddha  

Foshuozuofoxingxian gjing1

 

 

Taisho Tripitaka 692

Diterjemahkan dari bahasa Sansekerta ke dalam bahasa
Mandarin oleh YA. Shiyi
Diterjemahkan dari bahasa Mandarin ke dalam bahasa Inggris
oleh Robert H. Sharf
(Sumber: Religions of China in Practice, editor Donald S.
Lopez, Princeton University Press, New Jersey, 1996, halaman
264 ¨C 267)
Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia
oleh Ivan Taniputera

Buddha tiba di negeri Kausambi, yakni di sebuah hutam milik
Kausika. Saat itu, raja negeri tersebut bernama Udayana,
yang berusia 14 tahun. Tatkala mendengar kedatangan Buddha,
raja memerintahkan para menteri dan pengawalnya untuk
mempersiapkan kereta kerajaan. Raja kemudian datang
menyambut kehadiran Buddha.

Begitu melihat Buddha dari kejauhan, hati raja dipenuhi
dengan kegembiraan. Raja segera bangkit dari keretanya dan
dengan berjalan kaki, ditinggalkannya para menteri,
pengawal, serta pembawa payungnya. Raja menghaturkan salam
pada Buddha, menyembah ke kaki Buddha, dan mengelilingi
Buddha searah jarum jam sebagai tanda hormat. Selanjutnya
dengan merangkapkan tangan penuh hormat berkatalah ia pada
Buddha, Di langit dan bumi tiada seorangpun yang dapat
disepadankan dengan Buddha. Wajah, mata, dan tubuh Buddha
kini memancarkan sinar dengan gemilangnya, dan aku tak
pernah jemu sedikitpun memandang pada Buddha. Buddha adalah
guru bagi para dewa beserta manusia, dan banyak di antara
mereka yang mengagungkan belas kasihnya.

Buddha berdiam diri tanpa mengatakan sepatah katapun.
Raja berkata lagi pada Buddha, Apabila seseorang melakukan
kebajikan, ia akan menuai pahala keberuntungan, tetapi ke
manakah hal ini akan membawa mereka? Aku khawatir tidak akan
sanggup memandang Buddha lagi, bila ia telah parinirvana.
Aku berniat untuk membuat sebuah patung Buddha sebagai obyek
penghormatan dan mewariskannya pada generasi berikutnya.
Pahala kebajikan apakah yang akan kuperoleh, karena
melakukannya, karena aku sungguh-sungguh ingin
mengetahuinya?

Buddha menjawab, Wahai Raja yang Masih Berusia Muda! Bagus
sekali pertanyaanmu. Dengarlah apa yang kubabarkan. Setelah
mendengarnya pautkan dalam hatimu. Raja berkata, Baik, aku
siap mendengar ajaran tersebut.

Buddha berkata pada raja,Aku akan menjelaskan padamu pahala
kebajikan yang akan diperoleh dari membuat patung Buddha.
Raja menjawab, Aku gembira sekali mendengarnya.

Buddha bersabda, Orang yang membuat patung Buddha pada
kehidupan berikut akan memiliki mata yang tajam pandangannya
serta penampilan rupawan. Tubuh, tangan, dan kakinya akan
sempurna. Apabila terlahir di alam surga, ia akan menjadi
yang terkemuka di antara para dewa dalam hal kemurnian,
dengan sepasang mata yang elok dan memancarkan ketenangan.
Demikianlah pahala kebajikan yang didapat oleh orang yang
membuat patung Buddha.

Tempat di mana orang yang membuat patung Buddha itu
dilahirkan akan terbebas dari kekotoran, tubuh orang-orang
yang terlahir di sana juga akan tanpa cela. Setelah
mengalami kematian, ia akan terlahir di surga Brahma tingkat
ketujuh. Lebih jauh lagi, penampilan eloknya tiada yang
menandingi dan melebihi dewa-dewa lainnya. Ia akan
dihormati oleh para dewa. Demikianlah pahala kebajikan yang
didapat oleh orang yang membuat patung Buddha.

Orang yang membuat patung Buddha akan terlahir di keluarga
mulia, dengan kekayaan yang melebihi orang lainnya di muka
bumi ini. Ia tak akan terlahir dalam keluarga miskin atau
kekurangan pada kehidupan berikutnya. Demikianlah pahala
kebajikan yang didapat oleh orang yang membuat patung Buddha.

Tubuh orang yang membuat patung Buddha, dalam kehidupan
berikutnya, akan selalu berwarna keemasan dan elok dipandang
tanpa ada yang menandingi.

Orang yang membuat patung Buddha pastilah akan terlahir di
keluarga makmur, dengan uang dan permata berharga tak
terhingga banyaknya. Ia akan selalu dicintai oleh orang tua,
sanak saudara, dan kerabatnya. Demikianlah pahala kebajikan
yang didapat oleh orang yang membuat patung Buddha.

Orang yang membuat patung Buddha akan terlahir di India
(Jambudvipa) , baik dalam keluarga seorang maharaja,
pangeran, atau keluarga bajik. Demikianlah pahala kebajikan
yang didapat oleh orang yang membuat patung Buddha.

Orang yang membuat patung Buddha akan menjadi seorang
maharaja pada kehidupan berikutnya. Ia akan menjadi yang
paling dihormati dan dimuliakan di antara para penguasa,
yakni menjadi tempat berlindung dan penghormatan bagi para
penguasa lainnya. Demikianlah pahala kebajikan yang didapat
oleh orang yang membuat patung Buddha.

Orang yang membuat patung Buddha akan menjadi seorang raja
pemutar roda Dharma pada kehidupan berikutnya. Ia akan
sanggup naik ke alam surga dan kembali lagi seturut
kehendaknya. Ia akan berhasil menyelesaikan apapun yang
direncanakannya. Demikianlah pahala kebajikan yang didapat
oleh orang yang membuat patung Buddha.

Orang yang membuat patung Buddha akan terlahir di alam surga
Brahma tingkat ketujuh. Kurun waktu kehidupannya akan
mencapai satu kalpa dan kebijaksanaannya tak tertandingi.
Orang yang membuat patung Buddha tak akan lagi terlahir pada
salah satu alam rendah setelah kematiannya. Ia akan
senantiasa menjaga kemurniannya dan pikirannya selalu
mengikuti Jalan Kebudhaan. Demikianlah pahala kebajikan yang
didapat oleh orang yang membuat patung Buddha.

Orang yang membuat patung Buddha akan senantiasa menghormati
Buddha dan kitab-kitab suci. Ia akan terus menerus
menghaturkan persembahan pada sarira-sarira Buddha berupa
aneka kain sutera, bunga-bunga indah, dupa, pelita, permata
berharga, dan seluruh benda langka di muka bumi ini. Setelah
itu, selama berkalpa-kalpa yang tak terhingga ia akan
menapaki jalan menuju ke nirvana. Orang yang beraspirasi
untuk mempersembahkan permata berharga pada Buddha bukanlah
orang biasa; mereka telah mempraktekkan Jalan Kebuddhaan
pada kehidupan lampaunya. Demikianlah pahala kebajikan yang
didapat oleh orang yang membuat patung Buddha.

Orang yang membuat patung Buddha akan memperoleh kekayaan
yang tak pernah habis pada kehidupan berikutnya; jumlah
kekayaan tak terhitung pula banyaknya. Barangkali tidak
mustahil untuk menakar jumlah air di seluruh sungai dan
samudera pada keempat penjuru. Tetapi kekayaan yang
diperoleh orang yang membuat patung Buddha sepuluh kali
lipat lebih banyak dibandingkan air di seluruh sungan serta
samudera di keempat penjuru. Orang yang membuat patung
Buddha dapat diumpamakan dengan orang yang saat hujan
memiliki tempat perlindungan nan baik ¨C tak ada sesuatupun
yang perlu ditakutinya.

Orang yang membuat patung Buddha tak akan pernah terlahir di
alam-alam rendah, baik itu berupa alam neraka, hewan,
maupun hantu kelaparan setelah kematiannya. Orang yang
melihat patung Buddha dan dengan hati tulus merangkapkan
tangan sebagai tanda hormat serta berlindung pada stupa
Buddha ataupun reliknya tak akan terlahir kembali di alam
neraka, hewan, ataupun hantu kelaparan setelah kematiannya.
Ia akan terlahir di alam surga dan setelah habis masa
kehidupannya di sana, ia akan terlahir kembali di dunia
sebagai putera kelurga kaya yang memiliki tak terhingga
permata berharga serta benda-benda langka. Setelah itu, ia
akan merealisasi Jalan Kebuddhaan menuju nirvana.

Buddha memberitahu raja, Membuat patung Buddha merupakan
tindakan mulia, dan pahala kebajikan yang akan diperoleh
sebagai buahnya adalah seperti yang kukatakan sebelumnya;
tanpa dilebih-lebihkan sedikitpun. Raja merasa puas dan
membungkukkan kepalanya ke kaki Buddha. Ia dan segenap
menterinya lalu menyembah di hadapan Buddha dan meninggalkan
tempat itu. Setelah kurun waktu kehidupan mereka yang
panjang berakhir, terlahirlah mereka semua di surga Buddha
Amitabha.

Bodhisattva Ksitigarbha Sutra Bab 9

Bab 9.Varga Manfaat Menyebut Nama Buddha.

Ketika itu Bodhisattva Mahasattva Ksitigarbha berkata kepada Sang Buddha: “Yang Arya Bhagavan yang termulia, sekarang aku ingin menguraikan suatu cara yang mudah dan bermanfaat bagi para umat di masa yang akan datang, agar mereka dapat memanfaatkannya dalam menghadapi kelahiran dan kematian yang mereka alami dari masa ke masa!”

Sang Buddha bersabda kepada Ksitigarbha Bodhisattva : “Yang Arya Ksitigarbha, kini engkau akan menampilkan rasa welas asihmu yang maha agung untuk menolong semua makluk menderita yang masih berada di 6 jalur kehidupan. Penjelasan akan cara-cara yang mudah itu kini tepat pada waktunya. Uraikanlah secepatnya. Beberapa saat lagi aku akan memasuki Parinirvana dan apabila cita-citamu telah tercapai, aku takkan kuatir lagi akan para umat yang berada di masa sekarang dan masa yang akan datang.”
Ksitigarbha Bodhisattva berkata kepada Sang Buddha : “Yang Arya Bhagavan yang termulia, pada masa Asankyeya Kalpa yang tak terbilang itu terdapat seorang Buddha, bernama Anantakayah Tathagata. Apabila terdapat seorang pria atau wanita mendengar nama Buddha tersebut lalu bangkit rasa hormat dalam hatinya, maka pria atau wanita itu dapat menghapus karma Janmamarana sebanyak 40 kalpa. Jika mereka dapat membuat atau melukis gambar Buddha tersebut untuk puja bhakti, mereka akan memperoleh kebahagiaan yang tak terbatas.”

“Adalagi, pada masa dahulu kala lamanya bagaikan butiran pasir Sungai Gangga, terdapat seorang Buddha yang bernama Ratnakara Tathagata. Jika terdapat seorang pria atau wanita mendengar nama Buddha tersebut dan serta merta berhasrat berlindung kepada Beliau dan memuliakan namaNya, dalam menuntut kesadaran Bodhi, mereka akan mencapai Anuttara Samyaksambodhi !”

“Adalagi, pada masa yang silam terdapat seorang Buddha yang bernama Padmajina Tathagata. Apabila terdapat seorang pria atau wanita mendengar nama Beliau, lalu terus meng-ingat-ingat dalam hati, maka umat tersenbut akan mendapatkan kesempatan dilahirkan di Devaloka ke 6 (Paranirmitavasavartin) sebanyak 1000 kali. Apalagi jika mereka dapat menyebut namaNya dengan sepenuh hati, mereka akan cepat mencapai ke-Buddha-an.”
“Lagi, pada masa Asankyeya Kalpa yang tak terbilang, terdapat seorang Buddha yang bernama Simhanada Tathagata, jika terdapat seorang pria atau wanita mendengar namaNya, lalu timbul hasrat ingin berlindung kepadaNya, maka umat tersebut akan bertemu dengan para Buddha yang akan menyentuh ubun-ubunnya dan mencatatnya sebagai calon Buddha dikemudian hari.”

“Lagi, pada masa lampau, terdapat seorang Buddha yang bernama Krakucchandah Buddha. Apabila terdapat seorang pria atau wanita mendengar nama Beliau menghormati memuliakan namaNya maka umat tersebut akan memperoleh kesempatan menjadi Raja Maha Brahma dan tercatat sebagai calon Buddha pada pertemuan Seribu Buddha pada masa Bhadrakalpa.”

“Lagi, pada masa yang lampau afa seorang Buddha yang bernama Vipasyin Buddha, jika terdapat seorang pria atau wanita yang mendengar namaNya dan memuliakan namaNya, mereka akan selalu dilahirkan di Surga atau di dunia manusia, serta akan menikmati kebahagiaan yang luar biasa.”
“Lagi, pada masa yang tak terbilang bagaikan butiran pasir Sungai Gangga, terdapat seorang Buddha yang bernama Prabhutaratna Tathagata. Jika terdapat seorang pria atau wanita mendengar namaNya, lalu memuliakan namaNya, maka umat berbudi itu tak akan terjerumus ke dalam alam kesedihan, tapi ia akan dilahirkan di berbagai Surga untuk menikmati kebahagiaan!”

“Lagi, pada masa yang lampau terdapat seorang Buddha yang bernama Ratnaketu Tathagata. Jika terdapat seorang pria atau wanita mendengar namaNya, lalu timbul rasa hormat dan memuliakanNya, maka tidak selang berapa lama, mereka akan mencapai tingakatan Arahat.”
“Lagi, pada masa Asankyeya Kalpa yang silam terdapat seorang Buddha yang bernama Kasayadhvaja Tathagata. Jika terdapat seorang pria atau wanita mendengar namaNya serta memuliakan namaNya, akibat katma dari Tumimbal lahir dan kematian akan dihapus hingga 100 kalpa.”
“Lagi, pada masa yang lampau terdapat seorang Buddha yang bernama Mahabhijnagiriraja Tathagata. Jika terdapat seorang pria atau wanita mendengar namaNya dan memuliakanNya, maka mereka akan berjumpa dengan Buddha yang banyaknya bagaikan butiran pasir Sungai Gangga dan mereka akan dapat mendengarkan khotbah-Nyza hingga mencapai kesadaran Bodhi!”

Ksitigarbha Bodhisattva melanjutkan : “Yang Arya Bhagavan yang termulia, para Buddha di masa lampau yang pernah bertugas di dunia ini masih banyak sekali seperti :

Suddhacandra Buddha,
Giriraja Buddha,
Jnanabhibhu Buddha,
Vimalakirtiraja Buddha,
Prajnasiddhi Buddha,
Anuttara Buddha,
Manjughosa Buddha,
Candraparipurna Buddha,
Candramukha Buddha, dan sebagainya.

“Yang Arya Bhagavan yang termulia, semua makhluk yang berada dimasa sekarang atau masa yang akan datang, baik dewa maupun manusia, lelaki atau manusia, lelaki atau wanita, bila mereka dapat menyebut salah satu nama Buddha, mereka akan mendapatkan kebajikan yyang tiada bandingnya. Apalagi jika mereka dapat menyebut nama para Buddha. Umat yang demikian itu mendapatkan banyak sekali manfaat ; baik saat mereka lahir maupun ketika mereka meninggal dunia, mereka takkan terjerumus ke alam kesengsaraan, tapi akan menikmati kebahagiaan !”

“Lagi, Yang Arya Bhagavan yang termulia, jika terdapat seseorang yang akan meninggal dunia, pada saat itu seluruh anggota keluarga atau hanya seorang saja me-nyebut-nyebut nama Buddha dengan suara lantang secara berulang-ulang, karma berat Pancanantarya yang dilakukan almarhum pada masa hidupnya akan mendapat kesempatan terhapus, sedangkan karma buruk yang ringan-ringan akan habis terhapuskan. Akan tetapi berkat bantuan orang yang me-nyebut-nyebut nama Buddha (Amitabha) ber-ulang-ulang, sekalipun almarhum mempunyai karma buruk Pancanantarya yang berat akan mengahruskannya terjerumus kealam Neraka dengan masa ratusan ribu kalpa, akan mendapat kesempatan terhapuskan dengan lambat laun dan ber-angsur-angsur. Apalagi jika seseorang akan meninggal dunia dan ia dapat me-nyebut-nyebut nama Buddha, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan yang tak terbatas dan terhapuskanlah segala karma buruknya.”

Bodhisattva Ksitigarbha Sutra Bab 8

Bab 8.Varga Pujian Yamaraja dan Pengikutnya

Ketika itu dari Cakravada datang rombongan Raja Setan beserta Yamaraja di istana Trayastrimsa tempat Sang Buddha memberikan khotbah. Nama-nama raja setan itu adalah: Raja setan Maha Jahat, Raja setan aneka kejahatan, Rajasetan Pertengkaran, Rajasetan Macan Putih, Rajasetan Macan Darah, Rajasetan Macan Merah, Rajasetan Macan penyebar Malapetaka, Rajasetan Terbang, Rajasetan Kilat, Rajasetan Petir, Rajasetan Bergigi Serigala, Rajasetan Penelan Binatang, Rajasetan Pemikul Batu, Rajasetan Pengurus Pemborosan, Rajasetan Pengurus Bencana, Rajasetan Pengurus Makanan, Rajasetan Pengurus Hartabenda, Rajasetan Pengurus Ternak, Rajasetan Pengurus Unggas, Rajasetan Pengurus Binatang, Rajasetan Pengurus Para Iblis, Rajasetan Pengurus Kelahiran, Rajasetan Pengurus Nyawa, Rajasetan Penurus Penyakit, Rajasetan Pengurus Kecelakaan, Rajasetan Bermata Tiga, Rajasetan Bermata Empat, Rajasetan Bermata Lima, Rajasetan Kiris, Rajasetan Kriksa, Rajasetan Maha Kriksa, Rajasetan Anotha, Rajasetan Maha Anotha, dan Rajasetan lainnya. Setiap Rajasetan memimpin ratusan ribu Raja setan muda yang berasal dari Jambudvipa, semua mempunyai tugas dan kedudukan masing-masing. Mereka semua bernama Yamaraja berkat Prabhava Sang Buddha dan Ksitigarbha Bodhisattva berada di istana Trayastrimsa untuk mendengarkan khotbah Sang Buddha dengan berdiri.

Saat itu Yamaraja bersujud dengan berlutut kepada Sang Buddha seraya berkata: “Bhagavan yang Termulia! Berkat prabhava Sang Buddha dan Ksitigarbha Bodhisattva, kami serombongan dapat memperoleh kesempatan menghadiri pertemuan agung di istana Trayastrimsa. Kami telah mendapat manfaat dan kebahagiaan dari mendengarkan Buddha Dharma. Namun kini kami masih mempunyai persoalan, sudi kiranya Sang Bhagava menerangkan kepada kami!”

Sang Buddha bersabda kepada Yamaraja: “Baik sekali, hal-hal apa yang masih kamu ragukan? Sebutkanlah satu persatu, aku akan menjelaskan kepada kamu nanti.”

Pada waktu itu Yamaraja memberi hormat kepada Sang Buddha dan Ksitigarbha Bodhisattva lalu berkata: “Bhagavan Yang Termulia, menurut pengamatan kami, selama ini Sang Bodhisattva Ksitigarbha telah menggunakan ratusan ribu kemudahan-kemudahan untuk menyelamatkan para makhluk yang mempunyai karma berat di 6 Gatya kesengsaraan dan hingga kini pekerjaan Beliau masih berlangsung tanpa jemu-jemunya. Bodhisattva Mahasattva ini sungguh memiliki kesaktian luar biasa yang tak terbayangkan. Sungguhpun demikian, para makhluk yang baru bebas dari akibat karma buruknya tak selang berapa lama kembali terjerumus ke alam kesengsaraan. Yang Arya Bhagavan yang termulia, Ksitigarbha Bodhisattva jelas memiliki kesaktian yang luar biasa tak terbayangkan, mengapa para makhluk tidak dapat dibuatnya tetap berada di jalan kebaikan? Dan mencapai kebebasan? Sudilah Yang Arya Bhagavan menerangkan kepada kami sekalian.

Sang Buddha bersabda kepada Yamaraja: “Yamaraja yang terhormat, ketahuilah, bahwa para umat dari Jambudvipa memiliki pembawaan yang sangat keras, sukar melunakkan hati mereka menjadi umat penurut. Akan tetapi Yang Maha Welasasih Sang Mahasattva ini tetap memperjuangkan pembebasan makhluk yang menderita dengan semangat tinggi dan ulet hingga jutaan kalpa. Satu-satunya diselamatkannya agar cepat bebas dari kesengsaraan. Walaupun umat yang berkarma berat berada dialam neraka, Beliau selalu berusaha dengan daya prabhavanya mencabut akar karma buruk para umat dan membuat mereka sadar akan karma buruk di masa silam sehingga mereka dapat mencapai kebebasan. Umat Jambudvipa yang demikian itu timbul tenggelam dalam karma buruk yang berat yang mereka perbuat. Dengan demikian telah melelahkan Sang Bodhisattva Ksitigarbha berkalpa-kalpa dalam usahanya membebaskan umat dari penderitaannya.”

Sang Buddha melanjutkan sabdanya: “Ibarat seorang yang tersesat, salah masuk ke jalan yang berbahaya. Dimana terdapat banyak Yaksa jahat serta harimau, serigala, singa, ular berbisa dan kalajengking bersengat. Orang yang tersesat di jalan yang berbahaya itu tak lama akan menjadi korban dari serangan makhluk buas dan berbisa itu. Sementara itu datanglah seorang yang bijak serta berilmu luhur, dapat mencegah racun-racun dari satwa tersebut dan dari Yaksa jahat, melihat orang tersesat itu sedang menuju ke jalan yang berbahaya itu, iapun dengan segera memberitahukan: “Putraku yang tersayang, apa sebabnya engkau berani masuk ke jalan yang berbahaya ini? Apakah engkau benar-benar memiliki daya tangkal melawan racun-racun para satwa yang buas itu?” setelah mendengar nasehat orang bijak itu, orang yang tersesat itupun sadar, bahwa ia berada di jalan sangat berbahaya dan ingin segera meninggalkan jalan yang berbahaya itu. Kemudian orang bijak tersebut menyambut tangan orang yang tersesat itu dan menuntunnya keluar dari jalan yang berbahaya itu sehingga yang tersesat tadi terselamatkan dari marabahaya yang mengancam, menuju jalan yang aman sentosa dan sejahtera bahagia. Setelah itu orang yang bijak kembali memberi nasehat: “Putraku yang tersayang, sejak sekarang engkau jangan mengambil jalan yang berbahaya ini. Orang yang masuk ke jalan ini tidak pernah keluar, mereka telah menjadi korban satwa yang buas.” Setelah orang yang tersesat itu mendengar peringatan itu ia sangat terharu dan berterima kasih. Ketika mereka akan berpisah, orang yang bijak itu berkata lagi: “Apabila engkau melihat sanak saudara atau pejalan kaki lainnya, baik lelaki maupun wanita, mohon diberitahukan kepada mereka, bahwa jalan ini sangat berbahaya untuk dilalui karena terdapat banyak sekali margasatwa yang bagus dan berbisa yang dapat mengakibatkan jatuhnya korban. Usahakanlah supaya para umat tidak mengambil jalan bunuh diri ini!”

“Demikianlah Ksitigarbha Bodhisattva mempunyai jiwa yang sangat welasasih untuk menolong semua makhluk yang mempunyai karma buruk agar mereka terlahir di surga menikmati kehidupan yang bahagia sejahtera. Akhirnya para umat yang jahat itu sadar, bahwa karma buruk akan mengakibatkan penderitaan yang tidak berkesudahan. Mereka tak ingin timbul tenggelam dalam karma dan berusaha membebaskan diri dari perbuatan karma buruk untuk selama-lamanya. Umat manusia yang tergiur oleh kehidupan yang beraneka rona bagaikan orang yang tersesat dan masuk ke jalan yang penuh mara bahaya. Untunglah bertemu dengan seorang Maitriyani yang bijak menuntun dan membimbing keluar dari jalan malapetaka itu dan terhindarlah ia dari kecelakaan untuk selama-lamanya. Setelah yang tersesat terselamatkan, iapun memberi nasihat dan petunjuk kepada orang yang dijumpainya untuk tidak memasuki jalan berbahaya itu serta memberitahu kepada pendatang baru itu, bahwa dirinya nyaris masuk ke jalan yang berbahaya itu dan menjadi korban, apabila tidak bertemu dengan orang bijak yang menolong dirinya menghindar dari kecelakaan, terjeremus ke dalam kesengsaraan. Ksitigarbha Bodhisattva dengan segala macam kemudahan-kemudahan menolong semua umat yang mempunyai karma-karma berat agar mereka terbebaskan dari penderitaan-penderitaan dan lahir di sorga atau di alam manusia. Sungguhpun demikian karena karma buruk yang diperbuat oleh umat manusia telah sedemikian beratnya sehingga mereka tidak dapat membebaskan diri dari cengkeramannya. Baru saja mereka terbebas dari penderitaan, tak selang berapa lama mereka terjerumus lagi ke dalam kesengsaraan, malah semakin dalam dan berat karma buruk yang mereka perbuat sehingga mereka akan tetap tinggal dalam neraka tiada dapat terbebaskan lagi!”

ketika itu Rajasetan Maha Jahat merangkapkan kedua telapak tangannya memberi hormat kepada Sang Buddha seraya berkata: “Yang Arya Bhagava Yang Termulia! Aku selaku pemimpin rombongan Raja setan yang berjumlah banyak sekali, semua bertugas di alam Jambudvipa. Tugas kamipun berbeda-beda; ada yang menguntungkan, ada yang merugikan umat manusia. Mengingat hukum karma manusia yang menimbulkan sebab akibat. Kami mengirim bawahan ke dunia untuk menyelidiki keadaan kehidupan manusia, ternyata yang berbuat kebaikan lebih sedikit dibandingkan dengan yang melakukan kejahatan. Hantu Dewa yang meninjau rumah tangga, atau kampung atau kota, kebun, pekarangan, asrama dan sebagainya, melihat pria atau wanita yang berbuat baik dapat dihitung dengan jari. Apalagi orang yang melakukan puja bhakti dengan memasang panji kuning, payung sutra kuning di sisi Buddharupang atau Bodhirupang, membakar dupa atau mempersembahkan bunga-bunga di atas altar, memelihara gambar Buddha atau Bodhisattva atau membaca Sutra Buddha dengan pembakaran dupa wangi sebagai persembahan lebih sedikit lagi. Namun demikian kami sangat menghargai dan menghormati mereka yang melakukan kebaikan ini. Kami memandang mereka sebagai Buddha di masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Dan memerintahkan para setan dengan daya kekuatannya masing-masing serta dewa tanah untuk melindungi keselamatan mereka, supaya mereka dijauhkan dari marabahaya, penyakit, bahkan hal-hal yang tidak menyenangkan, jangan sampai masuk ke rumahnya dan mengganggunya!”

sang Buddha memuji Rajasetan: “Sadhu, sadhu, kamu sekalian beserta Yamaraja suka melindungi para pria wanita yang berbudi, aku mohon kepada Raja Indra di istana Trayastrimsa serta Raja Brahma di Surga Brahmakayika untuk membantu kamu, supaya pekerjaan kamu dapat berjalan lancar selalu!”

ketika sabda Sang Buddha baru selesai, dalam pertemuan agung tersebut terdapat Rajasetan Pengurus Nyawa berkata kepada Sang Buddha: “Yang Arya Bhagavan Yang Termulia, tugasku berhubungan dengan hukum karma, mengurus kelahiran atau kematian umat dari Jambudvipa. Maksud hatiku yang semula adalah ingin memberikan manfaat bagi mereka. Sayang sekali mereka tidak memahami maksud yang kukandung sehingga ketika mereka lahir atau meninggal dunia mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan. Ini semua disebabkan oleh perilaku mereka sendiri, bukan kesalahanku. Mengapa demikian? Para umat dari Jambudvipa baik pria maupun wanita, sewaktu ibunya telah mengandung atau akan melahirkan hendaknya mereka banyak berbuat kebaikan untuk menambah suasana nyaman dalam rumah tangganya, agar para dewa bumi merasa gembira dan senang memberi perlindungan kepada sang ibu dan anaknya, dan supaya mereka serta seluruh keluarganya selalu sehat dan bahagia! Atau setelah sang bayi telah lahir dengan selamat, janganlah membunuh makhluk berjiwa sebagai santapan yang dihidangkan kepada sang ibu atau untuk menjamu sanak saudara dan tamu dengan berbagai minuman keras dan lauk pauk yang beraneka macam disertai dengan hiburan bermain musik. Hal ini semua akan mengakibatkan ibu dan anaknya berkurang kesejahteraannya!”

“Mengapa perbuatan di atas itu harus dihindarkannya?” “Sebab saat sang ibu akan melahirkan dan sedang mengalami kesukaran, berdatanglah banyak setan jahat, jin-jin liar, serta makhluk halus lain yang ingin merasakan kotoran darah yang amis itu. Sementara itu aku telah memerintahkan para dewa bumi untuk menlindungi sang ibu dan bayinya agar supaya selamat. Dengan demikian, sudah selayaknya mereka bersyukur dan mengamalkan jasa untuk membalas budi para dewa tersebut, sehubungan dengan sang ibu dan bayi telah berada dalam keadaan selamat. Namun mereka tidak berbuat sebagaimana mestinya, tapi malah melakukan pembunuhan terhadap hewan yang kemudian dihidangkan kepada sanak keluarga sebagai santapan perjamuan. Akibat perbuatan karma buruk itu akan diterima oleh sipembuat sendiri, bayi dan ibu itu akan kurang kesejahteraannya!”

“Lagi, para umat dari Jambudvipa pada saat mereka akan meninggal dunia, baik jahat maupun yang tidak, semuanya akan kubantu, agar mereka tidak terjerumus ke alam kesengsaraan. Apalagi umat yang suka berbuat kebaikan pada masa hidupnya, ditambah dengan daya kekuatan Rajasetan Pengurus Nyawa, ia pasti akan dilahirkan di Surga atau di alam manusia. Umat Jambudvipa yang pada masa hidupnya suka berbuat kebaikan sekalipun, jika ia meninggal dunia, akan berdatangan ratusan ribu iblis jahat menjelma sebagai orangtuanya atau sanak keluarganya menjemput dan membujuk almarhum untuk ikut mereka ke alam kesengsaraan. Apalagi jika yang meninggal itu umat yang semasa hidupnya banyak berbuat karma buruk.”

“Yang Arya Bhagavan Yang Termulia, saat umat Jambudvipa itu akan meninggal dunia, kesadarannya amat lemah dan sangat bingung, ia sama sekali tidak dapat membedakan baik dan buruk, pikirannya keruh sekali. Penglihatannya dan pendengarannya telah kabur. Dalam keadaan semacam itu ia mudah terpedaya oleh para iblis yang jahat dan mengikut mereka ke alam kesengsaraan. Dalam pada itu sanak keluarga almarhum perlu secepatnya mengadakan puja bhakti dengan pembacaan Sutra Buddha, memuliakan nama Buddha, Bodhisattva Mahasattva. Kemudian jasa mulia itu disalurkan kepada almarhum. Dengan demikian almarhum akan terbebaskan dari alam kesengsaraan dan para iblis jahat serta makhluk halus yang lainnya akan mundur dengan sendirinya tidak berani mendekat dan mengganggu almarhum.”

“Yang Arya Bhagavan yang termulia, semua makhluk akan meninggal dunia, apabila dapat mendengar nama Buddha atau Bodhisattva atau satu bait Gatha dari Sutra Mahayana, maka umat semacam ini akan terbebaskan dari karma akibat pembunuhan di masa silam dan terhindar dari nereka pancanantarya. Karma buruk yang ringan dan kesempatan akan terjerumus ke alam kesengsaraan seketika itu hilang lenyap semua.”

Sang Buddha bersabda kepada Rajasetan Pengurus Nyawa: “Raja setan yang berbudi, engkau sunggu seorang Raja yang Maha pengasih telah menyatakan tekad yang demikian agung, melindungi semua makhluk dalam soal hidup dan mati. Jika dalam masa yang akan datang, terdapat seorang pria atau wanita tengah menghadapi kelahiran atau kematian, janganlah engkau mundur dari janji ikrarmu yang mulia itu bantulah mereka membebaskan diri dari kesengsaraan dan supaya mereka selalu bahagia sentosa.

Rajasetan berkata kepada Sang Buddha: “Yang Arya Bhagavan yang termulia, mohon jangan kuatir selama hayat dikandung badan, aku akan selalu melindungi makhluk dari Jambudvipa. Baik ketika mereka akan lahir maupun akan meninggal dunia, akan kubuat sedemikian rupa sehingga mereka merasa aman tentram dan bahagia. Semoga semua makhluk pada saat akan lahir atau akan meninggal dunia, percaya sepenuhnya dan memegang teguh ucapanku, dan lakukanlah menurut petunjuk yang pernah kuucapkan, maka semua akan terbebaskan dari kesengsaraan dan mendapatkan manfaat dari Buddha Dharma.”

Pada saat itu, Sang Buddha memberitahukana kepada Ksitigarbha Bodhisattva: “Rajasetan Pengurus Nyawa ini telah mengalami ratusan ribu kelahiran menjadi Rajasetan. Dalam perihal kelahiran dan kematian telah banyak melindungi makhluk dari kesengsaraan, menjelmakan dirinya sebagai rajasetan itu sesungguhnya bukan Rajasetan yang sebenarnya, melainkan Bodhisattva yang penuh dengan jiwa welasasih untuk menyelamatkan umat dari penderitaan. Dan kira kira 170 kalpa lagi, beliau akan menjadi seorang Buddha dan gelarnya Animitta Tathagata, nama kalpanya Sukham, nama dunianya Posadha dan usianya panjang sekali tak dapat dihitung dengan masa kalpa. Yang Arya Ksitigarbha Bodhisattva hal ikhwal Rajasetan itu demikianlah adanya, tidak terbayangkan! Umat manusia dan para dewa yang pernah diselamatkannya juga tidak terhingga banyaknya.”

Bodhisattva Ksitigarbha Sutra Bab 7

Bab 7.Varga Manfaat bagi yang Hidup dan yang Meninggal Dunia

Ketika itu Bodhisattva Mahasattva Ksitigarbha berkata kepada Sang Buddha: “Yang Arya Bhagavan yang termulia! Menurut pendapatku para umat yang berada di alam Jambudvipa selalu berbuat karma buruk yang dihasilkan pikiran dan perbuatannya. Mereka mudah melepas kebaikan-kebaikan yang telah diperoleh, meninggalkan peribadatan yang selama ini telah dilaksanakan dengan baik. Sedangkan jika mereka tergoda oleh hal-hal yang buruk, segera mereka terpengaruh dan keburukan-keburukan yang mereka terima semakin hari semakin banyak pula, bagaikan orang-orang yang dibebani batu melintasi jalan berlumpur, semakin melangkah kakinya semakin terjerembab. Dalam pada itu jika bertemu dengan seorang yang bijaksana (Maitrayani) yang mau membantu meringankan bebannya sebagian atau semuanya, tokoh bijaksana itu memiliki kekuatan yang cukup dan mau membantu umat yang malang itu mengatasi perjalanan di lumpur tersebut dan beliau selalu menasehati agar dapat bertahan hingga tiba di atas jalan yang rata datar dan mawas diri supaya tidak terulang kembali ke jalan yang berat lagi.

Ksitigarbha Bodhisattva melanjutkan: “Yang Arya Bhagavan yang termulia, karma buruk yang dibuat umat manusia, asal mulanya hanya sedikit saja, namun lama kelamaan menjadi banyak tak terbilang lagi. Karena terdapat hal yang demikian itu apabila seorang umat sampai kepada ajalnya, orangtua atau sanak keluarganya perlu mengadakan puja bhakti untuk mengamalkan jasa dan menyalurkannya kepada almarhum dan membantu membuka jalan bagi almarhum. Pada saat seseorang akan meninggal, pasanglah panji atau payung sutra kuning di depan gambar Sang Buddha,dengan demikian almarhum dapat menghindari 8 macam penderitaan dan akan mencapai Surga Sukhavati, atau menyalakan pelita dengan minyak bersih yang diletakkan di atas meja atau di atas petinya, supaya makhluk yang menderita di akhirat mendapat penerangnan dan terbebaskan dari penderitaan. Keluarga almarhum boleh membaca Sutra-sutra Buddha atau menyediakan gambar Buddha atau Bodhisattva yagn digantungkan, lalu menyebut-nyebut nama Buddha atau Bodhisattva dengan suara lantang, supaya setiap nama Buddha atau Bodhisattva tertangkap indera pendengar almarhum, atau Vijnana Nya (kesadarannya) dan dapat diingatnya terus. Jika para umat yang demikian banyak membuat karma buruk selama hidupnya dan akan terjerumus ke dalam alam kesengsaraan, bnerkat jasa-jasa yang diamalkan oleh keluarganya pada saat almarhum akan meninggal dunia, maka karma buruk almarhum akan musnah semua. Seandainya keluarga almarhum tersebut beramal kebajikan selama 49 hari sejak almarhum meninggal dan jasa-jasa itu disalurkan kepada almarhum, maka almarhum tak akan terjerumus ke alam kesengsaraan, tapi akan emnikmati kebahagiaan di Surga, sedangkan keluarga yang berada di dunia itu akan memperoleh keberuntungan besar.”

“Oleh karena itu,”lanjut Ksitigarbha Bodhisattva,”aku sekarang dihadapan Sang Bhagavan, Bodhisattva Mahasattva, para dewa, naga asta gatyah, kinnara serta para hadirin sekalian, memberi nasehat kepada para umat di alam Jambudvipa, dalam menghadapi kematian seseorang, jangan melakukan penyembelihan makhluk apapun dan tidak menyembah makhluk halus dan jin-jin untuk menerima sajian penyembelihan itu. Yang demikian itu tidak ada manfaat apapun bagi almarhum, melainkan karma buruk almarhum makin bertambah berat.

Seandainya di masa yang akan datang atau di masa sekarang, sebetulnya almarhum akan mendapatkan anugerah dari para suciwan dan akan dilahirkan di alam manusia atau dewa, berhubung ketika almarhum meninggal dunia, keluarganya melakukan pembunuhan yang disajikan kepada jin-jin dan setan. Mengakibatkan almarhum terlibat dalam karma buruk itu dan harus mempertanggungjawabkan perbuatan keluarganya itu di akhirat sehingga almarhum terhambat dilahirkan di alam yang lebih baik. Apalagi jika mengingat almarhum ketika masih berada di dunia ini sangat sedikit menanam kebaikan-kebaikan, membuat dirinya terikat oleh karma-karma yang pernah diperbuatnya dan menerima semua akibatnya. Dengan demikian seolah-olah keluarganya telah berbuat kejam terhadapnya karena perbuatan perbuatan mereka telah menambah beratnya karma buruk almarhum.” Peristiwa ini bagaikan seorang yang datang dari tempat yang jauh dan telah 3 hari kehabisan makanan dan minuman, sedangkan pundaknya masih menanggung ratusan kilo beban, tetangganya yang ditemui di perjalanan malah menambah beberapa barang, dengan demikian semakin berat saja bebannya.”

Ksitigarbha Bodhisattva melanjutkan dan meyakinkan pendapatnya: “Yang Arya Bhagavan, jika umat Jambudvipa tersebut dapat membuat kebaikan dengan berpedomankan kepada ajaran Sang Buddha, meskipun kebaikan itu hanya seujung rambut atau setetes air, sebutir pasir, bahkan sebutir debu saja, hasil kebaikan itu semua diterima oleh sepembuat sendiri.”

Ksitigarbha Bodhisattva selesai berbicara demikian, dalam pertemuan agung di istana Trayastrimsa terdapat seorang Grhapati bernama Mahapratibhana. Beliau telah lama mencapai Nirvana, akan tetapi dengan tubuh jelmaan sebagai seorang Grhapati, selalu hadir di sepuluh penjuru alam Buddha guna menyelamatkan para makhluk yang sengsara. Sekarang Beliau bangkit dari tempat duduknya dan merangkapkan kedua telapak tangannya seraya bertanya kepada Ksitigarbha Bodhisattva: “Yang Arya Ksitigarbha Bodhisattva! Jika ada umat Jambudvipa yang telah meninggal dan keluarganya, baik tua maupun muda mengadakan amal bhakti dengan berbagai sajian yang dipersembahkan kepada Sang Triratna dan jasa-jasanya disalurkan kepada almarhum. Apakah dengan demikian almarhum akan mendapatkan keuntungan dan kebebasana?”

“Yang Arya Grhapati yang bijak!” jawab Ksitigarbha Bodhisattva: “Berkat daya prabhava Sang Buddha, demi kepentingan semua makhluk di masa sekarang dan yang akan datang, aku akan menjawab pertanyaanmu secara singkat. Yang Arya Grhapati yang baik hati, para umat dari masa apapun, ketika mereka akan menghembuskan nafasnya yang terakhir, dapat mendengar nama Buddha, nama Bodhisattva atau hanya nama Pratyekabuddha saja, tanpa peduli almarhum mempunyai karma buruk atau tidak, ia pasti dapat membebaskan dirinya.”

“Jika terdapat umat baik pria atau wanita yang sewaktu masih berada di dunia tidak berbuat kebaikan, melainkan banyak berbuat karma buruk sehingga akibat karmanya banyak sekali. Meskipun keluarganya telah berbuat banyak amal dan jasa-jasanya disalurkan kepada almarhum, namum almarhum hanya mendapat sepertujuh saja dari jasa-jasa tersebut, yang 6 bagian milik keluarga yang berada di dunia. Oleh karena itu pria atau wanita di masa sekarang dan yang akan datang, pergunakanlah kesempatan selama masih sehat dan kuta untuk menanam benih-benih kebaikan sebanyak mungkin demi keberuntungan diri sendiri. Jika tidak demikian, dewa menurut Anitya akan datang sewaktu-waktu merenggut jiwa dan arwahnya terlunta di alam baka tanpa mengetahui dirinya banyak berbuat jahat atau tidak. Selama 49 hari bagaikan orang bisu dan tuli. Atau berada di berbagai bagian untuk memperdebatkan karma-karma yang pernah diperbuat selama ia berada di dunia. Apabila keputusan telah ditetapkan, ia akan menerima kelahiran berdasarkan karma-karmanya. Namun selama belum mendapat kepastian dan harus menunggu dengan berbagai perasaan tak menentu yang menggelisahkan, sungguh merisaukan. Apalagi jika telah dapat mengetahui akan terjerumus ke alam kesengsaraan! Almarhum yang belum menerima keputusan lahir entah di mana, selama 49 hari selalu mengharap-harap keluarganya membuat amal bhakti bagi dirinya, agar secepatnya almarhum terbebaskan dari alam kesengsaraan. Setelah 49 hari almarhum akan menerima keputusan berdasarkan karmanya. Apabila ia ternyata mempunyai karma yang berat, maka ia akan menerima hukuman hingga jutaan tahun dan sulit membebaskan dirinya. Apabila ia membuat karma buruk pancanantarya, jelas ia akan terjerumus ke Neraka Avici hingga ribuan kalpa dan sulit mendapat kesempatan untuk keluar!”

Ksitigarbha Bodhisattva melanjutkan: “Lagi Yang Arya Grhapati yang bijak jika umat yang berkarma buruk tersebut meninggal dunia, sanak keluarganya mengadakan amal bhakti dengan mempersembahkan sajian-sajian kepada Sang Triratna untuk membantu menyelamatkan almarhum dari alam kesengsaraan, selama persiapan dan berlangsungnya upacara Upavasatha, bekas air pencuci beras, sisa-sisa sayur masakan dll, tidak boleh sembarang dibuang di lantai, serta makanan yang dipersembahkan kepada Triratna, sebelumnya tidak boleh dimakan oleh yang menyelenggarakannya. Jika peraturan dan tatacaranya dilanggar, penyajiannya tidak memenuhi syarat kebersihan dan tidak rapi, bagi almarhum tidak akan mendatangkan manfaat apa apa, begitu pula keluarga yang menyelenggarakannya tidak akan mendapatkan kefaedahan apa apa juga. Apabila penyajiannya bersih rapi, dipersembahkan kepada sang Triratna, maka almarhum akan mendapatkan sepertujuh kebajikan, sedangkan yang menyelenggarakan akan memperoleh 6 bagian.”

“Oleh karena itu Yang Arya Ghrapati yang bijak, umat di alam Jambudvipa, jika orang tuanya atau sanak keluarganya meninggal dunia, lalu mengadakan upacara upavasatha atau puja bhakti dengan sujud dan khidmat kepada Sang Triratna, baik bagi yang meninggal maupun yang masih hidup akan mendatangkan berkat.”

Ketika Ksitigarbha Bodhisattva mengakhiri sabdanya, terdapat jutaan koti Nayuta Makhluk Surga dan bumi yang berasal dari dunia Jambudvipa, semua yang berada dalam pertemuan agung di istana Trayastrimsa itu tergugah bodhicittanya yang tak terhingga. Yang Arya Grhapati Mahaprabtibhanapun memberi hormat kepada Sang Buddha Sakyamuni, lalu kembali ke tempat duduknya.

Bodhisattva Ksitigarbha Sutra Bab 6

Bab 6.Varga Sanjungan dan Pujian Sang Tathagata. 

Ketika itu tubuh Sang Bhagava tiba-tiba memancarkan sinar yang terang benderang dan cahayanya mencapai alam Buddha lain yang banyaknya hingga jutaan koti bagaikan butiran pasir Sungai Gangga, bersamaan dengan itu terdengar suara merdu yang memberitahukan kepada para Bodhisattva Mahasattva, Deva, Naga, Makhluk-makhluk suci, Raja setan, Kinnara dan umat lainnya yang berada di segala alam Buddha, bunyinya: “Para pendengar yang budiman, hari ini aku memuji Sang Bodhisattva Mahasattva Ksitigarbha yang telah dapat menyalurkan cinta kasih serta kesaktian yang tak terperikan ke 10 penjuru dunia untuk menyelamatkan semua makhluk hidup yang menderita mencapai kebebasan. Apabila aku mencapai parinirvana, kamu selaku Bodhisattva Mahasattva atau para dewa, naga, makhluk-makhluk suci, raja setan serta umat lainnya, dengan segala kemudahan-kemudahan memelihara dan melindungi sutra ini agar para umat dapat mencapai kebahagiaan Nirvana.”

 

Setelah suara merdu yang berkumandang dengan nada gembira itu berhenti, Bodhisattva Samantavistara (Samantavipula) yang berada di pertemuan itu bangkit dari tempat duduknya, mengatupkan kedua telapak tangaannya lalu memberi hormat kepada Sang Buddha seraya berkata: “Bhagava yang termulia, hari ini Sang Bhagava dengan suara merdu dan nada yang gembria menyanjung dan memuji Ksitigarbha Bodhisattva yang memiliki daya Maha Prabhava yang tak terperikan, mohon Sang Bhagava menjelaskan dengan cara apa dan bagaimana Beliau memberikan manfaat serta ajaran Hukum karma kepada para dewa dan manusia, agar hal ini dapat dimengerti oleh para umat di jaman kaliyuga pada masa yang akan datang dan supaya para dewa, naga dan makhluk di alam Asta Gatyah serta makhluk hidup lainnya pada masa yang akan datang mendapatkan Buddha Dharma dan melaksanakannya.

“Ketika itu Sang Bhagava memberitahukan Samantavistara dan Catvarah Parsadah (Bhiksu, bhiksuni, upasaka, upasika) dan yang lainnya: “Dengarkanlah baik-baik, aku akan menceritakan bagaimana Ksitigarbha Bodhisattva memberikan manfaat serta kegunaan kepada para dewa dan manusia.”

“Kami siap mendengarkan, Bhagava yang termulia!” sahut Sang Samantavistara.”

“Pada masa mendatang, apabila terdapat putra-putri berbudi yang setelah mendengar nama Bodhisattva Mahasattva Ksitigarbha, lalu atas kesadaran hati sanubari yang sedalam-dalamnya memberi hormat, memuji dan merenungkan jasa-jasa Beliau, dengan demikian sipemuja telah memusnahkan karma buruknya sebanyak 30 kalpa. Yang Arya Samantavistara, seandaikata terdapat putra-putri berbudi yang melukiskan gambar Bodhisattva Ksitigarbha atau membuat bodhirupangnya dari tanah liat, batu, akik atau dari emas, perak, tembaga, perunggu, besi, dan sebagainya, kemudian dihormati dengan mengadakan puja bhakti, maka si pemuja tersebut akan mendapat kesempatan lahir di Surga Trayastrimsa sebanyak seratus kali berturut-turut setelah ia meninggal dunia! Jika masa hidup di Surga sudah habis, ia masih dapat tumimbal lahir di dunia manusia sebagai seorang raja atau bangsawan yang sangat mulia dan ia takkan terjerumus ke dalam alam sengsara. Yang Arya Samantavistara, seandainya terdapat seorang wanita yang telah tidak menyukai lagi tubuh wanitannya pada masa yang akan datang, ia boleh memelihara gambar atau bodhirupang Bodhisattva Ksitigarbha dan mengadakan puja bhakti siang malam tiada hentinya dengan persembahan bunga, dupa, makanan, minuman, jubah, spanduk sutra, panji-panji dan sebagainya. Apabila ia telah mengakhiri kehidupannya yang sekarang ini, maka ia akan dilahirkan di alam yang suci yang tiada terdapat wanitanya dan lamanya akan jutaan kalpa, kecuali jia ia masih harus menjalankan tugas suci sebagai wanita di berbagai alam semesta guna menyelamatkan para makhluk yang sengsara. Berkata jasa-jasa yang diperoleh dari pemujaan Bodhisattva Mahasattva Ksitigarbha itu selama jutaan kalpa ia tidak akan lahir sebagai wanita lagi.”

“Lagi, Yang Arya Samantavistara,” Sang Buddha melanjutkan sabdaNya:

“Apabila terdapat seorang wanita yang tidak senang akan parasnya yang buruk, serta sakit-sakitan, jika ia mau memberi hormat dan bersembahyang di hadapan bodhirupang Ksitigarbha Bodhisattva, walaupun lamanya sekejap saja, di masa yang akan datang ia akan memiliki paras yang amat cantik dan memiliki tubuh yang sehat hinggar ratusan ribu kali ia dilahirkan. Apabila sipemuja tidak jemu akan tubuh wanitanya, ia akan jutaan kali lahir sebagai putri raja atau permaisuri, atau sebagai putri bangsawan atau putri menteri, Naigama-bharyarupa atau Maha Sreti-bharyarupa dan sebagainya. Parasnya cantik elok, tubuhnya sehat segar bugar. Ini semua disebabkan sipemuja menghormati Ksitigarbha Bodhisattva dengan tulus ikhlas hingga mendapatkan pahala yang demikian membanggakan.”

“Lagi, Yang Arya Samantavistara, jika terdapat putra-putri yang berbudi sering memuji jasa-jasa Ksitigarbha Bodhisattva dengan diiringi dengan nyanyian dan tarian rohani disertai dengan persembahan bunga-bungaan, dupa dan sebagainya di depan gambarNya, atau menyadarkan seorang atau beberapa orang untuk berlindung kepada Sang Triratna. Maka umat tersebut baik di masa sekarang atau di masa yang akan datang akan dilindungi oleh ratusan ribu Malaikat yang berbudi siang dan malam. Tidak ada kabar buruk yang terdengar, juga tidak ada musibah atau malapetaka yang menimpa dirinya.

“Lagi, Yang Arya Samantavistara,” Sang Buddha melanjutkannya sabdanya. “Apabila di masa yang akan datang, terdapat umat manusia yang berkelakuan jahat, makhluk-makhluk, setan serta makhluk halus yang tidak berbudi, mengejek, menyindir dan menghina putra-putri yang berbudi dengan sujud menyembah, memuji gambar atau bodhi rupang Ksitigarbha Bodhisattva dan menganggap persembahan itu semua tiada gunanya, tidak akan mendapat jasa dan sebagainya. Bahkan mereka berani menertawakan atau membuat fitnahan, mengajak makhluk-makhluk lain beramai ramai melakukan kejahatan, meskipun kejahatan itu hanya berupa pikiran sekecil apapun, makhluk semacam ini akan terjerumus ke dalam Neraka Avici menerima hukuman terberat selama seribu Buddha dalam bhadrakalpa mencapai parinirvana. Setelah bhadrakalpa berakhir mereka baru dilahirkan di alam pretta, selang seribu kalpa mereka terlahir sebagai binatang dan selang seribu kalpa lagi mereka baru memiliki tubuh manusia, namun mereka berada dalam keadaan hina dina serta cacad tubuh, bathinnya selalu dipengaruhi berbagai karma buruk sehingga tak berapa lama mereka akan terjerumus kembali ke alam kesengsaraan lagi. Oleh karena itu Yang Arya Samantavistara Hukum Karma bagi yang memfitnah orang yang bersembahyang telah demikian berat, apalagi yang dengan sengaja berusaha memusnahkan Buddha Dharma.”

“Lagi, Yang Arya Samantavistara, pada masa yang akan datang, jika terdapat seorang lelaki atau wanita yang mengidap penyakit parah atau menahun, tidak sembuh-sembuh, sepanjang hari terbaring di ranjang, walau sering diobati. Tetap merana, mati tak bisa, hiduppun sengsara. Atau terdapat umat yang setiap malam bermimpi buruk, seolah-olah dirinya selalu diajak iblis jahat atau arwah sanak saudaranya bersama-sama pergi ke suatu gunung yang amat curam, sehingga menggigil dan berkeringat, atau setiap siang dan malam digoda makhluk halus selama bertahun-tahun, sehingga badannya makin lama makin kurus,hanya bisa mengeluh dan merintih di atas ranjang. Namun usia orang tersebut belum sampai saatnya, sehingga ia harus mengalami penderitaan yang amat sangat. Sayang sekali orang awam hanya memiliki mata jasmani, sehingga tak dapat melihat makhluk halus yang berada di sisinya. Oleh karena itu perlulah membacakan sutra ini dengan khidmat di depan Buddharupang atau di depan Bodhirupang (gambar Bodhisattva Mahasattva). Menyediakan barang-barang kesayangan si sakit seperti benda pusaka, pakaian berharga, atau rumah dan kebun dan sebagainya, sebagai sajian suci yang dipersembahkan kepada Sang Triratna. Kemudian tokoh suciwan berdiri di depan sisakit seraya berkata: “Saya bernama A mewakili B (yang sakit) dengan ini dipersembahkan barang-barang ini sebagai dana ke hadapan Sang Buddha serta para Bodhisattva Mahasattva, Ksitigarbha Bodhisattva dan Sutra. Mohon karma buruk sisakit diringankan atau dimusnahkan sama sekali. Atau cara lain yaitu supaya keluarga B (sisakit) memelihara Buddharupang atau pra Bodhisattva serta Sutra suci ini, atau mengumpulkan dana guna membuat Buddharupang, Bodhirupang di tempat ibadat atau membangun stupa, vihara atau menyalakan lampu di dalam rumah suci, di jalan yang gelap, atau berdana berupa makanan dan pakaian kepada Sangha. Orang yang mewakili sisakit membacakan pernyataan itu sebanyak 3 kali dengan suara lantang di sisi sisakit, agar semua isi pernyataan itu dapat ditangkap olehnya. Jika sisakit sampai waktunya menghembuskan nafasnya yang terakhir, pembacaan pernyataan serta Sutra suci ini dilanjutkan dengan suara lantang berlangsung dari 1 sampai 7 hari. Berkat jasa-jasaa ini sisakit yang meninggal akan terbebas dari karma buruk yang pernah diperbuat di masa silam dan masa ini. Bahkan 5 karma durhaka yang beratpun dapat dihapuskan. Selanjutnya ia akan dilahirkan di alam yang lebih baik dan ia akan mengetahui hal-hal di masa silam. Jika putra-putri yang berbudi itu menyalin atau menyuruh orang menyalin Sutra suci ini atau membuat Bodhirupang atau menyuruh orang menggambar Bodhisattva Mahasattva, mereka akan mendapat pahala besar sekali. Oleh karena itu Yang Arya Samantavistara, apabila berjumpa dengan umat yang berbudi membaca Sutra ini atau memujinay atau menghormatinya, engkau harus berusaha dengan segala macam kemudahan-kemudahan menganjurkan ia tetap setia kepada Buddha Dharma, pada masa sekarang dan masa yang akan datang ia akan mendapatkan pahala yang tak dapat dikira banyaknya.”

“Yang Arya Samantavistara yang berbudi, di masa yang akan datang, jika terdapat umat di waktu tidur sering bermimpi dan melihat banyak makhluk halus datang menunggu, merintih dengan suara yang amat menyedihkan atau menangis tersedu-sedu, mengeluh atau menampakkan bayangannya yang amat menakutkan, atau tubuhnya menggigil terus menerus. Itu adalah arwah dari leluhur yang bersangkutan, entah itu orangtuanya, anaknya, adik-kakak, suami istri atau sanak saudaranya beberapa turunan yang silam. Karena mereka berbuat dosa berat hingga sekarang mereka masih berada di berbagai alam kesedihan dan belum dapat keluar. Mereka tidak mempunyai pelindung untuk menyelamatkan dirinya. Maka mereka terpaksa datang ke rumah sanak saudaranya itu untuk minta bantuan agar mereka mendapat peluang untuk membebaskan dirinya dari penderitaan. “Jika bertemu dengan hal yang demikian, umat yang bersangkutan harus memberitahu mereka, bahwa ia akan menyelamatkan mereka dengan kemudahan-kemudahan Buddha Dharma, agar mereka bertobat dan terbebaskan dari penderitaan.”

“Yang Arya Samantavistara yang berbudi, dengan daya prabava engkau dapat membantu umat yang bersangkutan dengan sujud membaca atau menyuruh orang tersebut membaca Sutra suci ini di hadapan Buddharupang atau Bodhirupang sebanyak 3 atau 7 kali. Setelah sutra ini selesai dibaca, arwah leluhur dari sanak saudara umat yang bersangkutan akan terbebaskan dari alam kesedihan. Dan sejak itu mimpi buruk atau bayang makhluk halus itu tak akan muncul kembali.

“Lagi, Yang Arya Samantavistara yang budiman, jika pada masa yang akan datang terdapat umat yang hina dina, merasa hidupnya selalu malang dan mereka telah sadar, bahwa hal itu diakibatkan oleh karmanya yang lampau dan kini mereka ingin bertobat dan merubah jalan hidup mereka yang buruk itu, maka mereka harus dengan sujud memberi hormat kepada bodhirupang Ksitigarbha Bodhisattva, kemudian menyebut nama Beliau sebanyak 10 ribu kali selama 7 hari. Berkat jasa-jasa ini mereka akan dilahirkan sebagai anggota keluarga terhormat tanpa mengalami penderitaan di alam kesengsaraan selama ratusan ribu masa.”

“Lagi, Yang Arya Samantavistara yang budiman, ada 10 hari yang suci (Dasa Upavasatha) yaitu tanggal 1,8,15,18,23,24,28,29 dan 30 menurut penanggalan Candra Sengkala. Bagi umat di masa yang akan datang hari hari tersebut merupakan hari pengumpulan perbuatan baik atau buruk untuk menentukan ringan beratnya karma buruk yang mereka lakukan. Segala perbuatan umat di alam Jambudvipa ini merupakan karma buruk. Apalagi perbuatan seperti pembunuhan, pencurian, dursila, berdusta dan ratusan ribu macam karma buruk yang lainnya. Jika dalam 10 hari yang suci itu dapat membaca sutra ini dihadapan gambar Buddha atau Bodhirupang, maka daerah 4 penjuru angin seluas satu Yojana akan terhindar dari malapetaka dan anggota sekeluarga takkan terjerumus ke dalam kesengsaraan pada masa sekarang atau di masa yang akan datang selama ribuan tahun. Barang siapa dapat mengulangi sutra ini pada setiap 10 hari suci itu seisi anggota keluarganya takkan tertimpa musibah atau terkena penyakit parah, selalu cukup sandang pangan, penghidupannya sejahtera dan bahagia.”

“Oleh karena itu Yang Arya Samantavistara yang budiman, ketahuilah bahwa, Ksitigarbha Bodhisattva memiliki daya maha prabhava yang tak terbayangkan untuk menyelamatkan umat mencapai kebebasan. Umat di alam Jambudvipa ini mempunyai Hetupratyaya dengan Ksitigarbha Bodhisattva. Walau ada umat yang hanya mendengar Namanya atau melihat 3 atau 5 kata dari SutraNya atau satu bait syair (gatha), dalam masa sekarang ini mereka akan merasa hidupnya aman tentram dan di masa yang akan datang mereka akan dilahirkan dalam keluarga yang mulia dengan paras muka yang rupawan.”

Setelah mendengar sabda Sang Buddha, lalu Bodhisatva Samantavistara bersujud kepada Buddha Sakyamuni seraya berkata : “Bhagavan yang termulia ! Sesungguhnya, sejak dahulu aku telah mengenal Bodhisatva Mahasattva Ksitigarbha Yang Maha Pranidhana dan Maha Prabhava ini, akan tetapi, agar para umat dapat mengetahui betapa besar faedahnya uraian ini maka aku sengaja bertanya kepada Bhagavan, apakah gerangan nama Sutra ini ? Dan dengan cara apa aku harus menyebarkan Sutra tersuci ini?”

Sang Buddha bersabda kepada Samantavistara Bodhisattva: “Sutra ini mempunyai 3 nama, yang pertama bernama Ksitigarbha Bodhisattva Purva Pranidha Sutra, kedua Ksitigarbha Bodhisattva Purva Carya Sutra dan yang ketiga Ksitigarbha Bodhisattva Purva Sannahabala Sutra. Akan tetapi, karena Bodhisattva Mahasattva ini sejak jutaan kalpa hingga sekarang selalu berikrar dengan Maha Pranidhananya untuk menyelamatkan para makhluk yang berada di alam semesta, maka kamu sekalian harus dengan jujur dan ikhlas mewujudkan cita-citaNya dan membantu Beliau menyebarkan Sutra ini ke berbagai daerah, agar para umat dapat memperoleh manfaat dari Dharma ini.”

Setelah Samantavistara Bodhisattva mendengar uraian Sang Buddha ini merasa sangat gembira lalu memberi hormat dengan beradara kepada Sang Buddha dan kembali ke tempat dudukNya.

Bodhisattva Ksitigarbha Sutra Bab 5

Bab 5.Varga Berbagai Macam Neraka dan Namanya 

Bodhisattva Mahasattva Samanta Bhadra berkata kepada Ksitigarbha Bodhisattva: “Yang Arya Ksitigarbha yang maha welas asih! Sudilah menerangkan Hukum Karma dan jenis jenis nama neraka serta tempat hukuman bagi para makhluk Jambudvipa, baik untuk para Deva, Naga, keempat Parsadah (yakni Bhiksu, Bhiksuni, Upasaka, Upasika)serta para umat, baik yang berada di masa sekarang ataupun di masa yang akan datang, agar mereka dapat mengetahui keadaan yang demikian pahit di alam Neraka dan akibat Hukum Karmanya.”

 

“Baik sekali Yang Arya Samanta Bhadra yang Mahacarya! Sahut Ksitigarbha Bodhisattva, “Sekarang berkat kewibawaan Sang Buddha serta dari kekuatan cita-cita Yang Arya Samanta Bhadra, aku akan menguraikan jenis jenis dan nama Neraka beserta hukumannya yang berlaku di alam itu secara singkat! Yang Maha Pengasih, di sebelah timur Jambudvipa terdapat sebuah gunung besar yang bernama Maha Cakravada. Di dalam gunung ini gelap sekali dan sulit ditembus cahaya bulan atau matahari. Di dalamnya terdapat sebuah neraka utama yang maha besar, bernama Anantarya dan di sebelahnya juga terdapat sebuah neraka yang besar sekali, bernama Avici. Selain itu terdapat juga neraka-neraka lain seperti Nereka pojok empat, Neraka padang terbang, Neraka panah api, Neraka gunung berapit, Neraka tembusan ombak, Neraka kereta baja, Neraka ranjang baja, Neraka kerbau baja, Neraka jubah baja, Neraka mata keris seribu, Neraka keledai baja, Neraka leburan tembaga, Neraka peluk tiang, Neraka api menjalar, Neraka bajak lidah, Neraka untuk mengikir kepala, Neraka pembakar betis, Neraka pematuk mata, Neraka penelan gumpalan(peluru) besi, Neraka pertengkaran, Neraka kapak baja, Neraka saling geram, dan neraka-neraka lainnya.”

Ksitigarbha Bodhisattva melanjutkan: “Yang Maha Pengasih, neraka-neraka yang berada di dalam gunung Maha Cakravada ini jumlahnya tak terhitung, seperti Neraka Menjerit, Neraka pencabut lidah, Neraka air kotor, Neraka gembok tembaga, Neraka gajah api, Neraka anjing api, Neraka kuda api, Neraka kerbau api, Neraka gunung api, Neraka batu api, Neraka ranjang api, Neraka balok api, Neraka elang api, Neraka gergaji gigi, Neraka pengupas kulit, Neraka pengisap darah, Neraka pembakar tangan, Neraka pembakar kaki, Neraka penusuk tubuh, Neraka rumah api, Neraka rumah besi, Neraka serigala api, dan sebagainya. Dalam setiap neraka terdapat lagi neraka-neraka kecil dengan jumlah tak menentu, ada yang satu, adan yang dua, ada yang tiga atau empat, bahkan hingga ratusan ribu buah dan mempunyai nama yang berbeda beda juga.”

Ksitigarbha Bodhisattva memberitahu Samanta Bhadra Bodhisattva: “Yang Maha Pengasih, neraka-neraka tersebut tersedia khusus untuk para makhluk yang berbuat karma buruk di dunia Jambudvipa ini. Daya karma ini besar sekali, dapat menandingi tingginya gunung Semeru, ke bawah dapat menyamai dalamnya samudra, dan dapat menghalangi jalan menuju Buddha Dharma. Oleh karena itu semua makhluk hidup jangan suka meremehkan kesalahan kecil dan menganggapnya tidak berdosa. Setelah meninggal dunia, yang berbuat dosa pasti akan menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatannya, betapapun kecilnya karma yang pernah diperbuatnya dulu.

“Jika saatnya tiba, datang hukuman, tak ada yang dapat menggantikannya walaupun itu ayah ataupun anaknya sendiri. Masing-masing mempunyai karmanya sendiri-sendiri, tak dapat saling menggantikan untuk menerima hukuman. Kini aku menerima kesaktian Buddha, menguraikan keadaan hukuman dalam neraka. Mohon Yang Maha Pengasih mendengarkan dengan baik.”

Samanta Bhadra Bodhisattva menjawab: “Yang Maha Pengasih, keadaan hukuman dalam neraka sesungguhnya demikian adanya,” ada neraka yang mencabut lidah terhukum, lalu dibajak oleh kerbau besi hingga lumat; ada neraka yang mencabut jantung terhukum, kemudian dimakan oleh Yaksa; ada neraka yang memasak tubuh terhukum dengan air mendidih; ada neraka yang menyiksa terhukum dengan menyuruh memeluk tiang tembaga panas hingga hangus; ada neraka tempat membakar tubuh terhukum dengan kobaran api yang amat dasyat; ada neraka yang penuh dengan salju dan terhukum kedinginan dan mati beku seketika; ada neraka yang berisi air kotor kerbau busuk tak terperikan membuat terhukum mati sesak nafas; ada neraka tempat menyiksa terhukum dengan menusukkan tombak; ada neraka tempat menumbuk punggung dan dada terhukum; ada neraka tempat membakar tangan dan kaki; ada neraka tempat ular besi panas untuk melilit terhukum, ada neraka tempat anjing besi untuk menggigit terhukum hingga tewas; ada neraka tempat keledai besi panas untuk ditunggangi oleh terhukum hingga mati.”

“Yang Maha Pengasih, alat-alat hukuman yang terdapat dalam neraka itu banyak sekali hingga ratusan ribu jenisnya dan terbuat dari tembaga, baja, batu dan api. Semua ini akibat dari karma umat yang bersangkutan. Jika secara luas menceritakan keadaan hukuman dalam neraka, hingga satu kalpapun takkan habis. Karena di tiap neraka terdapat penderitaan ratusan ribu macam, sedangkan neraka neraka itu demikian banyaknya. Kini aku menerima kesaktian Sang Buddha dan mendapat pertanyaan dari Yang Arya, maka aku hanya dapat menguraikannya secara singkat saja.