Petavatthu

PENJELASAN MENGENAI CERITA PETA KETUA PENENUN

‘Kotoran dan air kencing, darah dan nanah.’ Demikian dikatakan ketika Sang Guru sedang berdiam di Sāvatthī berkenaan dengan petī yang dahulunya adalah seorang penenun.
Dikatakan bahwa sebanyak dua belas bhikkhu telah diberi subjek meditasi di hadapan Sang Guru. Ketika mencari tempat tinggal menjelang musim hujan, mereka melihat tempat yang menyenangkan, teduh dan banyak air di hutan, dengan desa yang dapat menyediakan dana makan yang letaknya tidak terlalu jauh maupun terlalu dekat. Setelah melewatkan malam itu di sana, keesokan harinya mereka memasuki desa untuk mengumpulkan dana makanan. Ada sebelas penenun yang tinggal di sana. Ketika melihat para bhikkhu itu, para penenun merasa amat gembira. Mereka kemudian menunjukkan kepada para bhikkhu rumah – rumah mereka. Setelah melayani para bhikkhu itu dengan makanan dan minuman, mereka bertanya, ‘Kemana Yang Mulia akan pergi?’ ‘Kami akan pergi kemanapun yang nyaman bagi kami,’ jawab para bhikkhu. ‘Jika demikian halnya, Yang Mulia seharusnya tinggal di sini,’ kata para penenun itu. Mereka pun memohon agar para bhikkhu melewatkan masa vassa (bersama mereka) dan para bhikkhu menerima permohonan itu. Kemudian para umat awam mendirikan gubuk bagi para bhikkhu pada tempat itu di hutan, dan mempersembahkannya kepada para bhikkhu yang memasuki masa vassa di sana. Ketua penenun di sana dengan (amat cermat melayani dua bhikhu dalam hal empat kebutuhan pokok, sedangkan setiap penenun yang lain mesing – masing melayani satu bhikkhu. Namun istri ketua itu tidak memiliki keyakinan maupun bakti. Dia jahat serta berpandangan salah, dan tidak melayani para bhikkhu dengan baik. Ketika si ketua mengetahui hal ini, (penenun itu) menjemput adik perempuannya dan menyuruhnya agar bertanggung jawab sebagai nyonya rumah. Si adik ini memiliki keyakinan dan bakti, dan melayani para bhikkhu dengan amat baik. Semua penenun masing – masing memberikan satu jubah kepada para bhikkhu yang telah melewatkan masa vassa, namun istri ketua penenun itu – karena pikirannya jahat – mengutuk suaminya (sambil mengatakan), ‘Makanan dan minuman apapun yang kamu berikan kepada para pertapa yang merupakan putra – putra Sakya, semoga makanan itu di alam lain berubah menjadi kotoran dan air kencing, darh dan nanah bagimu ; dan semoga jubah – jubah itu menjadi lempengan – lempengan besi yang panas menganga!’

Ketika tiba saatnya, ketua penenun tersrbut meninggal dunia dan terlahir sebagai devatā pohon. Dia tinggal di hutan Vinjha dan memiliki keagungan yang besar. Sedangkan ketika si istri yang kikir itu meninggal dunia, dia lahir kembali sebagai petī tidak jauh dari tempat tinggalnya dahulu. Petī ini telanjang dan penampilannya mengerikan. Karena dikuasai rasa lapar dan haus, dia mendekati tempat tinggal dewa tersebut dan berkata, Tuanku, saya tidak berpakaian dan berkelana kian kemari dikuasai rasa lapar dan haus yang luar biasa. Tolong beri saya pakaian dan makanan serta minuman.’ Dewa itu memberinya makanan serta minuman surgawi pilihan, tetapi begitu dia menyentuh benda – benda tersebut, semuanya berubah menjadi kotoran dan air kencing, darah dan nanah. Ketika dia mengenakan jubah, jubah itu menjadi lempengan besi yang panas menganga. Karena menderita kesengsaraan yang luar biasa, dia membuang benda – benda itu dan pergi (menjauh) sambil meratap.

Pada saat itu, seorang bhikkhu yang telah melewatkan masa vassa sedang dalam perjalanan untuk memberikan hormat kepada Sang Guru. Ia memasuki hutan Vīnjha dengan disertai banyak orang. Mereka terus berjalan pada malam hari dan di pagi hari mereka melihat suatu tempat yang teduh dan banyak airnya. Maka mereka pun melepaskan kekang ternaknya untuk beristirahat beberapa saat. Tetapi bhikkhu itu ingin sendirian, jadi ia berjalan terus sebentar. Kemudian ia menaruh jubah luarnya di kaki sebuah pohon, tempat yang memberikan keteduhan yang nyaman. Karena kelelahan setelah perjalanan semalam, ia membaringkan tubuhnya dan jatuh tertidur.

Orang – orang lain, setelah beristirahat, kemudian melanjutkan perjalanan, tetapi bhikkhu itu tetap tidak bangun. Ia baru terbangun di petang hari dan karena tidak bisa melihat kelompoknya, [44] ia mulai berjalan ke arah yang salah. Akhirnya sampailah ia di tempat tinggal devatā itu.

Ketika devaputta itu melihat bhikkhu ini, dia mendekat dalam bentuk manusia dan menyapa dengan ramah, mengundangnya ke dalam rumahnya yang besar, dan memberikan minyak untuk kaki bhikkhu itu dan lain – lain, lalu duduk untuk melayani. Pada saat ini petī itu datang sambil mengatakan, ‘Yang Mulia, tolong beri saya makanan dan minuman serta jubah.’ Bhikkhu itu memberikan kepada petī tersebut apa yang diminta, tetapi begitu dia menyentuhnya, benda – benda tersebut berubah menjadi kotoran dan air kencing, darah dan nanah serta lempengan – lempengan besi yang panas menganga. Ketika melihat hal ini, bhikkhu itu merasa amat ngeri, dan bertanya kepada devaputta tersebut dengan dua syair ini :

Dia makan kotoran dan air kencing, darah dan nanah – sebagai akibat dari apakah ini? Perbuatan apakah yang telah dilakukan wanita ini sehingga dia selalu makan darah dan nanah?

Pakaian – pakaian baru, yang indah dan lembut, berrsih dan bagaikan bulu, ketika diberikan kepadanya berubah menjadi bagaikan lembaran – lembaran (logam) ; perbuatan apakah yang telah dilakukan wanita ini?’

Di sini sebagai akibat dari apakah ini? (kissa ayaṃ vipāko) : sebagai akibat dari perbuatan apakah maka dia sekarang menjalani senua ini? Perbuatan apakah yang telah dilakukan wanita ini? (ayaṃ nu kiṃ kammaṃ akāsi nārī) : perbuatan apakah yang telah dilakukan wanita ini di masa lalu? Sehingga dia selalu makan darah dan nanah? (yā ca sabbadā lohitapubbabhakkhā) : sehingga senantiasa dia mendapat makanan, minuman, makan, darah dan nanah saja.

Baru (navāni) : akhir – akhir ini, setelah muncul saat itu juga. Indah (subhāni) : bagus dan elok untuk dipandang. Lembut (mudūni) : menyenangkan untuk disentuh. Bersih (suddhāni) : memiliki penampilan yang sangat murni. Bagaikan bulu (lomasāni) : dengan tumpukan yang menyenangkan untuk disentuh, artinya, elok. Ketika diberikan kepadanya berubah menjadi bagaikan lembaran – lembaran (logam) (dinnān’ imissā kiṭakā va bhavanti) : menjadi mirip lembaran – lembaran (logam) dengan duri, mirip dengan lembaran – lembaran tembaga. Bacaan alternatif adalah ‘menjadi cacing – cacing’ (kīṭakā bhavanti), yang artinya, menjadi mirip serangga yang menggigit.

Ketika ditanya demikian oleh bhikkhu itu, devaputta pun menyampaikan dua syair yang menjelaskan perbuatan yang telah dilakukan petī itu di dalam kehidupan sebelumnya :

Dahulu dia adalah istriku, yang Mulia, yang tidak dermawan, jahat dan kikir ; ketika saya memberi kepada para petapa dan bhamana, dia menghina dan mencaci maki saya, dengan mengatakan,

Kotoran dan air kencing, darah dan nanah – semoga kamu makan apa yang tidak bersih sepanjang waktu! Biarlah ini menjadi (makanan) – mu di alam berikutnya dan semoga pakaianmu seperti lembaran – lembaran (logam)!” Karena telah memiliki perilaku buruk seperti itu, dia datang ke sini karena harus makan (kotoran) untuk waktu yang lama.’

Di sini tidak dermawan (adāyakā) : dia tidak memberi apapun kepada siapapun, dia tidak memiliki keluhuran dalam bentuk kedermawanan. Jahat dan kikir (maccharinī kadariyā) : pertama – tama dia jahat karena wataknya (yang tercemar oleh) noda keegoisan ; melalui pengejarannya berkali – kali (dalam perilaku semacam itu, dia menjadi luar biasa jahat ; (dan akhirnya) dia kikir – demikianlah hal ini harus ditafsirkan. Kemudian dia mengatakan ‘Ketika saya memberi (kepada para petapa dan bhamana), dia (menghina) saya’ dan sebagainya untuk menunjukkan (seberapa jauh) kekikirannya.

Di sini seperti itu (etādisaṃ) : karena telah memiliki perilaku yang buruk lewat ucapan dan lain – lain sebagaimana sudah dikatakan sebelumnya. Dia datang ke sini (idhāgatā) : dia datang ke alam peta ini, dia terlahir sebagai petī. Harus makan (kotoran) untuk waktu yang lama (cirarattāya khādati) : harus makan hanya kotoran dan lain – lain saja dalam kurun waktu yang lama. Karena, apapun cara yang dipakainya untuk menghina, dengan cara yang sama pula buahnya dihasilkan. Penghinaan jatuh kembali kepada diri sendiri, bukan pada orang yang dihina, seperti jatuhnya halilintar di puncak yang tinggi, yang disebut penghenti gerak bumi.
Sesudah menceritakan perbuatan yang telah dilakukan oleh petī itu di masa lalu, devaputta itu kemudian berbicara sekali lagi kepada bhikkhu tersebut (sambil mengatakan), ‘Yang Mulia, apakah ada cara yang dapat membuat petī ini terbebas dari alam peta ini?’ Ketika di jawab bahwa ada cara untuk itu, devaputta itu berkata, ‘Saya mohon diberitahu, Yang Mulia.’ [46] ‘Jika dana makanan diberikan kepada seorang bhikkhu atau salah satu anggota Ariyasaṅha Sang Buddha dan kemudian dipersembahkan bagi petī itu, dan petī itu menunjukkan penghargaannya, maka akan ada kebebasan baginya dari kesengsaraan ini.’ Ketika devaputta mendengar hal ini, dia memberikan makanan dan minuman terbaik kepada bhikkhu itu dan mempersembahkan dana itu atas nama petī itu. Petī itu segera merasa segar dan kemampuan pun pulih dan menjadi kenyang dengan makanan surgawi. Kemudian devaputta sekali lagi menyerahkan ke tangan bhikkhu itu sepasang jubah surgawi yang dikhususkan bagi Sang Buddha dan memberikan dana itu atas nama petī tersebut. Segera petī itu berpakaian surgawi, dihiasi dengan perhiasan – perhiasan surgawi. Dilengkapi secara melimpah dengan semua yang diinginkannya, dia menyerupai bidadari – dewa. Bhikkhu ini sampai di Sāvatthī pada hari itu juga dengan kekuatan supranormal dari devaputta. Dia menuju hutan Jeta, menghadap sang Buddha, memberi hormat dan kemudian menyerahkan sepasang jubah tersebut. Kemudian dia mengemukakan persoalan itu kepada Sang Buddha. Sang Buddha menganggap persoalan itu sebagai munculnya suatu kebutuhan dan mengajarkan Dhamma kepada orang – orang yang berkumpul di sana. Ajaran mengenai Dhamma itu bermanfaat bagi orang – orang itu.

PENJELASAN MENGENAI CERITA PETA BERKEPALA GUNDUL

‘Siapakah engkau (yang tetap berada) di dalam istanamu?’ Demikian dikatakan ketika Sang Guru yang sedang berdiam Sāvatthī, berkenaan dengan petī yang berkepala gundul.
Dikatakan bahwa dahulu kala di Benares ada seorang pelacur yang amat cantik dan menarik dipandang mata. Dia amat elok dan beruntung memiliki kulit yang amat indah dan rambut ikal yang amat menawan. Rambutnya hitam dan panjang, lembut, halus, licin, dan ujungnya bergelombang. Bila dilepas dari gulungannya, rambutnya terurai sampai ke pinggang. Bila memandang rambutnya yang indah, hampir semua laki – laki yang ada di sana jatuh cinta kepada pelacur itu. Tak tahan melihat rambut yang indah itu, beberapa wanita yang dikuasai rasa dengaki mengadakan pertemuan bersama dan kemudian menyuap pembantunya agar memberikan ramuan yang menyebabkan rambut wanita itu rontok. Dikatakan bahwa pembantunya menyiapkan ramuan itu di dalam serbuk mandinya yang kemudian diberikan pada waktu dia sedang mandi di sungai Gangga. Dia membasahi rambutnya sampai ke akar – akarnya dan kemudian membilasnya ke dalam air. [47] Tak lama setelah dia membilas rambutnya, rambut itu rontok di akarnya sehingga kepalanya mirip labu pahit. Maka, karena kepalanya gundul tanpa rambut sama sekali dan dia kelihatan amat tidak menarik bagaikan burung dara yang kepalanya dicabuti bulunya, dia merasa terlalu malu masuk kota. Lalu dia menutup kepalanya dengan sehelai kain dan pindah untuk berdiam di suatu tempat di luar kota. Setelah selang waktu beberapa hari, rasa malunya meninggalkan dia dan dia memeras biji wijen serta mencari nafkah dengan berdagang minyak dan minuman keras.

Suatu ketika, ketika dua atau tiga pemabuk tertidur lelap, dia mencuri pakaian mereka yang sedang tergantung. Pada suatu hari dia melihat seorang Thera yang telah menghancurkan āsava – āsavanya berkeliling untuk mengumpulkan dana makanan. Dengan bakti di dalam hati, dia mengajak Thera itu ke rumahnya, mempersilahkan bhikkhu itu duduk di tempat yang tunjukkan dan kemudian memberinya kue – minyak yang terbuat dari biji wijen yang ditumbuk dan dicelup di dalam minyak. Thera tersebut, karena merasa kasihan kepadanya, menerima dan makan kue itu. Sementara itu, wanita itu berdiri dengan penuh rasa bakti sambil memegangi penghalang sinar matahari di atas bhikkhu itu. Sang Thera menunjukkan penghargaan yang menggembirakan hati wanita itu dan kemudian pergi.

Ketika Thera itu menunjukkan penghargaannya, pada saat yang bersamaan wanita itu juga mengucapkan suatu harapan, ‘Semoga rambutku menjadi panjang, lembut, licin, halus dan bergelombang di ujungnya!’ Pada waktunya dia kemudian meninggal dan sebagai akibat dari perbuatan – perbuatannya yang baik dan buruk, dia lahir kembali sendirian di sebuah istana keemasan di tengah laut. Rambutnya persis seperti yang dia inginkan, tetapi dia telanjang karena telah mencuri pakaian – pakaian para pria. Berkali – kali dia muncul di istana keemasan itu dalam keadaan telanjang, dan melewatkan satu masa jeda – Buddha di sana. Kemudian ketika Sang Buddha Gotama muncul di dunia dan telah memutar Roda Dhamma yang Agung dan akhirnya tinggal di Sāvatthī, sebanyak seratus pedagang, penghuni Sāvatthī, pergi dengan kapal mengarungi lautan yang luas menuju ke Suvaṇṇabhūmi (Burma bagian bawah). Kapal yang mereka tumpangi terombang ambing karena dihempas angin yang keras dan hanyut ke sana kemari, sampai akhirnya tiba di tempat itu. Maka vimānapetī itu mengungkapkan diri dan istananya kepada mereka. Ketika ada pedagang senior yang melihat vimānapetī itu, dia mengucapkan syair ini untuk bertanya :

‘Siapakah kamu yang tetap berada di dalam istanamu, dan tidak keluar? Keluarlah, wahai sahabat, biarlah kami melihat kamu berdiri di luar.’

Di sini siapakah kamu yang tetap berada di dalam istanamu? (kā nu anto vamānasmiṃ tiṭṭhantī) : dia bertanya, ‘Siapakah kamu yang tetap berada di dalam istanamu? Apakah kamu manusia wanita atau bukan – manusia?’ Tidak keluar (na upanikkhami) : tidak meninggalkan istanamu. Keluarlah, wahai sahabat, biarlah kami melihat kamu berdiri di luar (upanikkhamassu bhadde tvaṃ passāma taṃ baṭṭhitaṃ) : wahai sahabat, biarlah kami melihatmu, kami ingin melihatmu berdiri di luar, kami mohon tinggalkanlah istanamu. Bacaan alternatifnya adalah ‘Salam bagimu! Keluarlah! (upanikkhamassu bhaddan te), artinya, berkah ada bersamamu.
Petī itu kemudian mengucapkan syair yang menjelaskan mengapa dia tidak mampu keluar :

Karena telanjang, aku (terlalu) sedih dan malu untuk keluar ; aku tertutup (hanya) oleh rambutku – hanya sedikit perbuatan – perbuatan baik yang telah kulakukan.’
Di sini aku (terlalu) sedih (aṭṭyāmi) : karena telanjang, aku (terlalu) sedih dan sengsara untuk keluar. Malu (harāyāmi) : malu. Aku tertutup (hanya) oleh rambutku (keseh’ amhi paṭicchannā) : aku tertutup, tubuhku tersembunyi (hanya) oleh rambutku. Hanya sedikit perbuatan – perbuatan baik yang telah kulakukan (punnaṃ me appakaṃ kataṃ) : hanya sedikit, sepele, tidak banyak perbuatan – perbuatan baik yang telah kulakukan, pemberianku hanyalah (kue yang terbuat dari) biji wijen yang ditumbuk – demikian artinya.
Kemudian pedagang itu, karena ingin memberikan bajunya, mengucapkan syair ini :

Kemarilah, aku akan memberi kamu bajuku – pakailah baju ini. Setelah kamu memakai baju ini, lalu keluarlah wahai gadis cantik. Keluarlah, sayang, biarlah kami melihat kamu berdiri di luar.’

Di sini kemarilah (handa) : ambilah ini. Baju (uttarīyaṃ) : baju luar, pakaian paling luar yang berarti mantel luar. Aku akan memberi kamu : dadāmi te = tuyhaṃ dadāmi (bentuk tata bahasa alternatif). Pakailah baju ini (imaṃ dussaṃ nivāsaya) : pakailah baju luar – ku ini. Gadis cantik (sobhane) : gadisku yang cantik.

Sambil berkata demikian, dia mempersembahkan kepada petī itu baju luarnya. Petī itu mengucapkan dua syair ini untuk menunjukkan bahwa apa yang diberikan dengan cara seperti itu tidak akan memberi dia manfaat, serta menunjukkan cara agar barang – barang yang diberikan dapat memberikan manfaat baginya :

Apa yang diberikan oleh tanganmu ke dalam tanganku tidak ada manfaatnya bagiku. Tetapi umat awam di sini ini memiliki keyakinan dan merupakan seorang sāvaka dari Buddha yang Sempurna ;

Setelah memberikan pakaian kepada Beliau, tujukanlah dana itu bagiku. Maka aku akan berbahagia dan dapat memperoleh apapun yang kuinginkan.’

Di sini apa yang diberikan oleh tanganmu ke dalam tanganku tidak ada manfaatnya bagiku (hatthena hatthe te dinnaṃ na mayhaṃ upakappati) : apa yang diberikan olehmu, tuan yang baik, oleh tanganmu ke dalam tanganku tidak ada menfaatnya bagiku, artinya tidak cocok untuk kegunaan(19) – ku. Tetapi umat awam di sini ini memiliki keyakinan (es’ etth’ upāsako saddho) : tetapi di antara kelompok orang di sini ini ada umat awam yang telah pergi berlindung kepada Tiga Permata. Dia memiliki keyakinan karena dia yakin kepada buah – buah perbuatan.

Setelah memberikan pakaian kepada Beliau, tujukanlah dana itu bagiku (etaṃ accādayitvāna mama dakkhiṇaṃ ādisa) : berikanlah kepada umat awam ini baju yang tadi kamu berikan padaku, dan tujukanlah dana itu padaku, berikanlah (atas namaku) sesuatu yang ditentukan. Maka aku akan berbahagia (tadāhaṃ sukhitā hessaṃ) : ketika hal itu dilakukan, aku akan mencapai kebahagiaan dan akan berpakain surgawi.
Mendengar hal ini, para pedagang kemudian memandikan dan meminyaki umat awam itu dan kemudian memberinya sepasang baju luar. Mereka yang mengulang teks itu kemudian mengucapkan tiga syair ini untuk menjelaskan perihal ini :

Para pedagang itu memandikan dan meminyaki dia serta memberinya pakaian – pakaian itu dan menujukan dana itu kepada petī tersebut.
Segera setelah mereka mempersembahkan ini, hasilnya pun menjelma – makanan, pakaian dan minuman yang merupakan buah dari dana ini.

Maka petī itu menjadi lebih murni, terbungkus pakaian yang bersih dan segar, mengenakan pakaian yang lebih halus daripada pakaian Kāsi dan meninggalkan istananya sambil tersenyum (untuk menunjukkan), “Inilah buah dari danamu”.’

Di sini dia (taṃ) : umat awam itu ; kata ca (tidak diterjemahkan) hanyalah partikel saja. Itu (te) harus dihubungkan dengan ‘pedagang’. Meminyaki (vilimpitvāna) : meminyaki dengan bau – bauan lembut. Memberinya pakaian – pakaian itu (vattheh’ acchādayitv&##257;na) : setelah memberinya makanan kare yang dilengkapi dengan penampilan yang indah, bau serta cita – rasa yang enak, mereka memberinya dua pakaian – pakaian dalam dan pakaian luar – yang artinya mereka memberinya dua (potong) pakaian. Menujukan dana itu kepada petī tersebut (tassā dakkhiṇaṃ ādisuṃ) : memberikan dana demi petī itu.

Segera setelah mereka mempersembahkan ini (samanantarānuddiṭṭhe) : anu (tidak diterjemahkan) hanyalah sekedar partikel ; begitu mereka mempersembahkan dana itu kepadanya. Hasilnya pun menjelma (vipāko upapajjatha) : hasil untuk petī tersebut, yaitu, buah dari dana ini, menjadi ada. Hasil macam apa? Petī itu berkata : makanan, pakaian dan minuman (bhojanacchādanapānīyaṃ) : berbagai makanan yang mirip dengan makanan – makanan surgawi, berbagai pakaian berwarna yang memancarkan berbagai warna yang mirip dengan pakaian – pakaian surgawi serta berbagai jenis minuman yang tak terhitung banyaknya – itulah buah dari dana tersebut yang menjelma – demikian hal ini harus ditafsirkan.

Maka (tato) : setelah menerima makanan yang telah disebutkan dan lain – lain. Dia menjadi murni (suddhā) : tubuhnya menjadi bersih karena mandi. Terbungkus pakaian yang bersih dan segar (sucivasanā) : mengenakan pakaian – pakaian yang bersih dan cerah. Mengenakan pakaian yang lebih halus daripada pakaian Kāsi (kāsikuttamadhaārinī) : memakai pakaian yang lebih halus daripada pakaian yang terbuat dari kain Kāsi. Sambil tersenyum (hasantī) : dia meninggalkan istananya sambil tersenyum untuk menunjukkan, ‘Lihatlah, wahai sahabat, buah danamu yang luar biasa.’
Ketika para pedagang itu melihat sendiri buah dari perbuatan baik mereka, hati mereka amat takjub dan heran, dan mereka dipenuhi dengan rasa hormat dan penghargaan kepada umat awam itu. Mereka pun memberikan penghormatan kepadanya dengan anjali. Umat awam itu membuat bakti mereka lebih dalam lagi lewat pembicaraan mengenai Dhamma dan memantapkan mereka ke dalam Peraturan dan Perlindungan(yaitu lima peraturan yang mengikat umat awam serta tiga perlindungan kepada Buddha, Dhamma dan Saṅgha ; dengan mengambil ini, mereka langsung menjadi umat awam sendiri. Namun tidak seperti umat awam di sini, mereka bukanlah sāvaka Buddha). Kemudian mereka bertanya kepada vimānapetī tentang perbuatan yang telah dilakukannya lewat syair ini :

Istanamu yang dicat indah, yang berkilau tampak bersinar ; Oh devatā, kami mohon beritahukanlah kami perbuatan apakah yang membuahkan ini.’

Di sini dicat indah (sucittarūpaṃ) : indah dihiasi dengan lukisan – lukisan berupa dua gajah, kuda, pria, wanita dan lain – lain dan juga rangkaian bunga dan tanaman rambat. Berkilau (ruciraṃ) : menyenangkan dan indah dipandang. Perbuatan apakah yang membuahkan ini (kissa kammass’ idaṃ phalaṃ) : perbuatan seperti apa, maksudnya, apakah itu merupakan buah dari perbuatan yang didasarkan pada memberi atau dari perbuatan yang didasarkan pada perilaku luhur?
Ketika ditanya demikian, petī tersebut mengatakan tiga syair ini yang memberitahu mereka bahwa (istana) itu merupakan buah dari perbuatan baik sepele yang telah dilakukan, dan bahwa di masa depan, akan ada (buah) perbuatan tidak baik sebagaimana terdapat di neraka :

Kepada seorang bhikkhu pengembara yang lurus, aku, dengan hati yang tulus, telah memberikan kue minyak.

Sebagai akibat dari perbuatan yang baik itu, untuk waktu yang lama aku bersenang – senang di dalam istana ini, tetapi sekarang hanya tinggal sedikit.

Setelah empat bulan kematianku akan tiba dan aku akan jatuh ke dalam neraka yang amat kejam dan mengerikan :

Bersudut empat dan dengan empat pintu, neraka terbagi menjadi bagian – bagian yang sama, dikelilingi oleh dinding besi dengan atap besi diatasnya ;

Lantainya yang menyala terbuat dari besi yang membara – ke sekeliling sejauh seratus yojana lantai itu membentang, selamanya berdiri.

Di sana untuk waktu yang lama aku akan mengalami perasaan – perasaan yang menyakitkan sebagai buah dari perbuatan – perbuatan jahatku – karena alasan inilah aku merasa amat sedih.’

Di sini kepada seorang bhikkhu yang mengembara (bhikkhuno caramānassa) : kepada seorang bhikkhu yang telah memotong kekotoran – kekotoran batin dan yang berkelana mengumpulkan dana makanan. Kue minyak (doṇinimmajjanaṃ) : biji wijen yang ditumbuk halus sehingga mengeluarkan minyak. Lurus (ujubhūtassa) : yang telah mencapai kelurusan karena tanpa kekotoran batin yang menghasilkan penyelewengan, kebohongan dan ketidakjujuran pikiran. [52] Dengan hati yang tulus (vippasannena cetasā) : dengan bakti sejati di dalam hati karena keyakinan akan buah dari perbuatan – perbuatan.

Untuk waktu yang lama (dīghaṃ antaraṃ) : kata – kata dīghaṃ dan antaraṃ terdengar harmonis dengan suku kata ma, yang artinya untuk waktu yang lama. Tetapi sekarang hanya tinggal sedikit (tan ca dāni parittakaṃ) : tetapi sekarang hanya tinggal sedikit, tetapi sekarang hanya sedikit yang tersisa dari tindakan tersebut – buah dari tindakan berjasa itu sudah matang dan telah sampai saatnya, yang artinya, aku akan jatuh dari sini tidak lama kemudian. Karena itulah dia mengatakan :

Setelah empat bulan kematianku akan tiba (uddhan catūhi māsehi kālakiriyā bhavissati) : dia menunjukkan bahwa setelah empat bulan, empat bulan kemudian, di bulan kelima (dari sekarang) akan tiba saat kematiaannya. Yang luar biasa kejam (ekantaṃ kaṭukaṃ) : amat sangat tidak diinginkan, artinya, amat sangat menyakitkan karena masuk ke enam bidang (indera). Mengerikan (ghoraṃ) : kejam. Neraka (nirayaṃ) : neraka disebut nir – ayaṃ karena tidak ada apa – apa di sini (nir-, awalan negatiff) yang dibuat untuk kemudahan (ayaṃ), untuk kenyamanan. Aku akan jatuh : papatiss’ āhaṃ = papatissāmi ahaṃ (ketetapan majemuk). Dan karena ‘neraka’ di sini harus dipahami sebagai Neraka Avīci yang Besar, dia mengatakan syair – syair yang bermula, ‘Bersudut Empat” yang menunjukkan bahwa itu mempunyai bentuk yang sama (seperti Avīci).

Di sini bersudut empat (catukkaṇṇaṃ) : dengan empat sudut. Dengan empat pintu (catudvāraṃ) : dilengkapi dengan empat gerbang (dengan satu gerbang) di (masing – masing) empat arah. Terbagi (vibhattaṃ) : dibagi secara teratur. Menjadi bagian – bagian : bhāgaso = bhāgato (bentuk tata bahasa alternatif). Sama (mitaṃ) : sesuai. Dikelilingi oleh dinding besi (ayopākāra ṃ pariyantaṃ) : dikelilingi oleh dinding yang terbuat dari besi. Dengan atap besi diatasnya (ayasā paṭikujjitaṃ) : ditutupi di atasnya oleh langit – langit dari besi.

Menyala (tejasāyutā) : kobaran – kobaran api terus – menerus menyatu menjadi nyala api yang besar, yang naik ke sekelilingnya. Ke sekeliling sejauh seratus yojana (samantā yojanasataṃ) : sementara di sekeliling dan di luar demikianlah halnya, jadi di semua arah seratus yojana, dalam yojana ada seratus. Selamanya (sabhadā) : sepanjang waktu. Lantai itu terbentang (pharitvā) : lantai itu terhampar luas.

Di sana (tattha) : di Neraka Besar itu. Saya akan mengalami : vedissaṃ = vedissāmi (bentuk tata bahasa alternatif) ; aku akan menjalani. Sebagai buah dari perbuatan – perbuatan jahatku (phalan ca pāpakammassa) : artinya, pengalaman menjalani (perasaan – perasaan) menyakitkan seperti ini akan mmerupakan buah dari tindakan – tindakan jahat yang dilakukan olehku sendiri.

Setelah petī itu menjelaskan tentang buah dari perbuatannya serta kehidupannya di masa mendatang di neraka [53] , hati umat awam itu tergugah dengan welas asih, dan karena berpikir bahwa dia mungkin dapat menjadi (sarana) penopang bagi petī itu, dia berkata, ‘Hanya dengan satu pemberian saja kepadaku, O devatā, engkau akan dapat memiliki secara melimpah segala yang engkau inginkan dan bersatu dengan kemuliaan yang agung ini. Jika sekarang engkau memberikan hadiah kepada umat – umat awam ini dan mengingat kembali keluhuran – keluhuran Sang Guru, engkau akan terbebas dari keharusan muncul di neraka.’ Petī itu amat gembira dan mengatakan, ‘Baiklah’, dan membuat mereka kenyang dengan makanan dan minuman surgawi serta memberi mereka pakaian – pakaian surgawi dan berbagai jenis permata.

Kemudian petī itu menyerahkan ke dalam tangan mereka sepasang jubah surgawi khusus untuk Sang Buddha dan menyampaikan penghormatan ini. ‘Jika kalian sampai di Sāvatthī, tolong sampaikan hormatku kepada Sang Guru dengan pesan ini dariku : ‘Bhante, satu makhluk vimānapetī menghormat Yang Mulia dengan kepalanya di kaki Yang Mulia.’ Lalu petī itu membawa kapal mereka ke pelabuhan yang mereka inginkan pada hari itu juga lewat kekuatan supranormal dan kehebatannya.

Dari pelabuhan itu akhirnya para pedagang sampai di Sāvatthī dan masuk ke hutan Jeta. Mereka memberikan kepada Sang Buddha sepasang jubah itu dan setelah mereka menyampaikan pesan dari petī itu mereka mengajukan seluruh persoalan itu dari awalnya. Sang Buddha menganggap persoalan itu sebagai munculnya kebutuhan dan mengajarkan Dhamma secara rinci kepada kelompok yang berkumpul di sana. Ajaran itu bermanfaat bagi orang – orang yang berkumpul di sana. Pada hari berikutnya para umat awam itu memberikan dana makanan melimpah kepada Saṅgha bhikkhu dengan Sang Buddha sebagai pimpinannya dan kemudian menujukan dana ini kepada petī itu. Ketika petī itu jatuh dari alam peta, dia lahir spontan di istana keemasan di alam Tiga Puluh Tiga Dewa, dilengkapi dengan berbagai permata dan dengan seribu bidadari sebagai pengiring.

PENJELASAN MENGENAI CERITA PETA GAJAH

‘Dia mendahului di depan seekor gajah putih.’ Demikian dikatakan ketika Sang Guru sedang berdiam di Hutan Jeta berkenaan dengan dua peta yang dahulunya adalah brahmana.
Diceritakan bahwa YM Saṃkicca yang berusia 7 tahun telah mencapai tingkat arahat ketika masih berada di ruang – cukur dan sedang berdiam sebagai samanera bersama tiga puluh bhikkhu di suatu tempat di hutan. [54] Setelah menyelamatkan bhikkhu – bhikkhu itu dari kematian yang akan menimpa mereka di tangan lima ratus perampok dan setelah menjinakkan para perampok serta membuat mereka meninggalkan keduniawian, samanera itu kemudian pergi menghadap Sang Guru. Sang Guru mengajarkan Dhamma kepada para bhikkhu dan pada akhir ajaran itu mereka mencapai tingkat arahat.

Setelah YM Saṃkicca cukup dewasa dan telah menerima pentahbisan, beliau pergi ke Benares bersama lima ratus bhikkhu dan tinggal di Isipatana (tempat di Taman Rusa di Sarnarth, kira – kira 6 mil dari Benares, di mana Khotbah Pertama dibabarkan. Disebut demikian karena para pertapa, ketika dalam perjalanan mereka melalui udara (dari Himalaya), turun di sini atau mulai dari sini dalam penerbangan mereka). Orang – orang pergi menghadap Thera tersebut, mendengarkan Dhamma dan dengan bakti yang dalam mereka membentuk kelompok – kelompok di sepanjang jalan, dan memberikan dana kepada para pendatang baru. Seorang umat awam di sana mendorong orang – orang itu (untuk menyediakan) persediaan makanan terus – menerus, dan mereka pun memberikan persedian makanan terus – menerus sesuai dengan kemampuan mereka.

Pada saat itu di Benares ada seorang brahmana yang memiliki pandangan salah. Dia mempunyai dua putra dan seorang putri. Putra yang tua ini adalah teman umat awam tersebut. Umat awam ini mengajaknya pergi menghadap YM Saṃkicca dan beliau mengajarkan Dhamma yang melembutkan hatinya. Kemudian umat awam tersebut berkata kepadanya, ‘Sebaiknya kami memberikan persediaan makanan terus – menerus bagi YM Saṃkicca satu bhikkhu.’ ‘Bukan kebiasaan kami para brahmana untuk memberikan makanan terus – menerus kepada petapa – petapa yang merupakan putra – putra Sakya, jadi aku tidak akan memberikan (ini).’ ‘Apakah kamu tidak mau memberikan makanan bahkan kepadaku?’ umat awam itu bertanya. ‘Bagaimana aku bisa tidak memberi?’ jawabnya. ‘Kalau begitu, berikanlah pada satu bhikkhu apa yang sedianya akan kamu berikan kepadaku.’ ‘Baiklah,’ dia setuju. Keesokan harinya, ketika masih sangat pagi, dia pergi ke vihāra, menjemput satu bhikkhu dan memberinya makanan. Sementara waktu berlalu dengan cara ini, adik lakinya dan saudara perempuannya melihat perilaku bhikkhu dan mendengarkan Dhamma. Karena menemukan keyakinan di dalam Ajaran itu, mereka bergembira dalam perbuatan – perbuatan berjasa. Maka tiga orang ini memberikan dana makanan sesuai dengan kemampuan mereka, memuliakan, menghormati, memandang tinggi dan menghargai para petapa dan brahmana. Sebaliknya, orang tua mereka tidak memiliki keyakinan maupun bakti, tidak mempunyai rasa hormat kepada para petapa dan brahmana, dan tidak menghargai pelaksanaan perbuatan – perbuatan yang berjasa. Sanak saudara mereka mendesak agar putri muda mereka dinikahkan dengan sepupunya dari pihak ibu. [55] Ketika pemuda ini mendengarkan Dhamma di hadapan YM Saṃkicca, batinya bergolak.

Sebagai orang yang telah meninggalkan keduniawian, dia selalu pergi ke rumah ibunya untuk makan. Ibunya mencoba memikatnya dengan sepupu putri dari pihak ibunya, dan karena ini, dia mulai merasa tidak puas. Dia lalu mendatangi gurunya dan berkata, ‘Saya ingin meninggalkan Saṅgha, Bhante. Izinkanlah saya.’ Gurunya melihat bahwa sebenarnya dia memiliki kemampuan (untuk menjadi sāvaka), maka beliau berkata, ‘Tunggulah satu bulan lagi, samanera.’ ‘Baiklah,’ dia setuju. Setelah satu bulan berlalu, dia mendatangi (beliau) dengan cara yang sama. Gurunya sekali lagi berkata, ‘Tunggulah dua minggu saja.’ Setelah dua minggu berlalu dan (guru itu) telah diajak bicara dengan cara yang sama, beliau sekali lagi berkata, ‘Tunggulah satu minggu.’ ‘Baiklah,’ dia setuju. Dalam waktu satu minggu itu rumah bibi samanera itu roboh ketika atap ilalangnya hancur dan dinding – dindingnya yang sudah lemah dan tua dihantam oleh angin dan hujan. Brahmana, istrinya, kedua putra dan putri mereka meti tertimpa rumah itu. Brahmana dan istrinya lahir seketika di kandungan – peta, sedangkan dua putra dan putri mereka lahir seketika di antara dewa – dewa bumi. Putra yang tua muncul dengan menaiki seekor gajah, putra yang muda di dalam kereta yang ditarik oleh keledai, sedangkan putrinya di dalam tandu keemasan. Brahmana dan istrinya masing – masing mengambil palu – palu yang amat besar dan saling pukul. Bagian – bagian yang dipukul itu membengkak menjadi sebesar pot air yang amat besar, dan perselisihan pun memuncak sampai mereka meledak. Mereka kemudian menghantam bagian – bagian yang membengkak itu sampai pecah, dan karena dikuasai oleh kemarahan, mereka pun secara kejam saling mengutuk dengan kata – kata kasar, dan kemudian minum darah dan nanahnya. Namun tetap saja mereka tidak menemukan kepuasan.

Karena samanera itu (masih) dikuasai oleh rasa tidak puas, dia mendatangi gurunya dan berkata, ‘Saya telah menunggu sesuai hari yang telah disetujui, Bhante. Saya ingin pulang. Saya mohon diberi izin.’ Gurunya kemudian berkata, ‘Datanglah (kemari) pada saat matahari terbenam pada hari keempat belas di bulan gelap.’ Dia pergi serta berdiri agak di belakang vihara Isipatana. Pada saat itu, dua devaputta tersebut, bersama dengan saudara perempuan mereka, sedang pergi pada jalan itu pula untuk menghadiri perkumpulan para yakkha. Ayah dan ibu mereka mengikuti di belakangnya dengan tongkat di tangan dan dengan sumpah serapah. [56] Mereka memiliki penampilan yang gelap, dibebani rambut yang berkibar, kasar dan amat kusut, mirip batang – batang pohon palem yang terbakar (karena disambar oleh) halilintar. Mereka berlumuran darah dan nanah, dan tubuh mereka berkeriput – sungguh penampilan yang amat kotor dan menjijikkan. YM Saṃkicca kemudian menggunakan kekuatan supranormalnya sehingga samanera itu bisa melihat mereka semua yang berjalan di sepanjang jalan ini, samanera?’ ‘Ya, Bhante. Saya memang melihat (mereka)’ (jawabnya). ‘Kalau demikian, tanyalah kepada mereka tindakan – tindakan apa yang telah mereka lakukan.’ Dia bertanya kepada mereka secara bergiliran, pertama kepada yang naik gajah. ‘Kamu harus bertanya kepada para peta yang mengikuti di belakang,’ kata mereka, dan samanera itu menyapa para peta dengan syair – syair ini :

Satu mendahului di depan naik seekor gajah putih, tetapi yang di tengah di dalam kereta yang ditarik keledai, sedangkan di belakang seorang putri diusung ke mana – mana di dalam tandu keemasan, sepenuhnya bersinar cemerlang ke sepuluh penjuru.

Tetapi kalian, dengan palu di tangan, dengan wajah menangis dan tubuh terbelah – belah dan patah, perbuatan jahat apakah yang telah kalian lakukan ketika di alam manusia, yang menyebabkan kalian sekarang harus minum darah kalian masing – masing?’
Di sini di depan (purato) : yang terdepan dari semuanya. Putih (setena) : (berwarna) pucat. Satu mendahului (paleti) : satu pergi. Tetapi yang di tengah (majjhe pana) : di antara yang naik gajah dan yang naik tandu. Di dalam kereta yang ditarik keledai (assatarīrathena) : satu mendahului di dalam kereta yang diikatkan ke kedelai betina – demikian hal ini harus ditafsirkan. Diusung ke mana – mana (nīyati) : diantar ke mana – mana. Sepenuhnya bersinar cemerlang ke sepuluh penjuru (obhāsayantī dasa sabbato disā) : bersinar terang ke sepuluh penjuru dengan tubuh yang cemerlang tubuhnya dan pakaian serta perhiasan – perhiasan – nya dan lain – lain yang gemerlap.
Dengan palu di tangan (muggarahatthapāṇino) : mereka yang memiliki palu di tangan (pāṇīsu) (yang di sini) dianggap sebagai tangan (hattha-) adalah ‘dengan palu di tangan.’ ‘Tangan’ (pāni) itu sendiri dibatasi dengan kata hattha karena kenyataan bahwa (kalau tidak) kata itu bisa dianggap sebagai petunjuk umum dari pāni sebagai alat dari kayu untuk meratakan tanah dan sebagainya. Dengan tubuh terbelah – belah dan patah (bhinnapabhinnagattā) : dengan tubuh yang seluruhnya terbelah – belah dan patah karena pukulan – pukulan palu. Kalian sekarang harus minum : pivātha = pivatha (metri causā).

Ketika ditanya demikian oleh samanera tersebut, para peta itu menjawab dengan empat syair (yang menceritakan) seluruh cerita itu:

Dia yang mendahului di depan menaiki seekor gajah, di atas gajah putih (berkaki – ) empat, dahulu adalah putra tertua kami. Karena telah memberikan dana makanan, dia sekarang berbahagia dan bergembira.

Dia yang berada di tengah di dalam kereta yang ditarik keledai dengan empat kuk yang sedang berlari – lari kecil,(15) adalah putra kedua kami. Karena tidak egois dan terampil dalam praktek berdana, dia sekarang bersinar cemerlang.

Dia di belakang yang diusung ke mana – mana di dalam tandu, putri bijaksana dengan mata selembut mata rusa itu, dahulu adalah putri kami dan terlahir paling muda. (Karena puas) dengan separuh bagian dari jatahnya, dia sekarang berbahagia dan bergembira.

Di masa lalu mereka memberikan dana makan dengan bakti di hati mereka kepada para petapa dan brahmana. Sebaliknya dahulu kami sangat egois dan mencaci – maki para petapa dan brahmana. Dahulu mereka memberi dan sekarang berpuas diri, sedangkan kami layu bagaikan batang ilalang yang ditebas.’

Di sini dia yang mendahului di depan (purato ‘va yo gacchati) : dia berjalan di depan mereka sedang pergi bersama – sama. Bacaan lain adalah yo so purato gacchati (dia yang mendahului di depan), yang artinya dia yang berjalan di depan sana. Naik seekor gajah (kunjarena) : di atas gajah (hatthinā) yang telah memperoleh nama kunjara karena ia membuat tanah lapang (kuṃ), bumi, menjadi rusak (jirayatī) ; atau pilihan lain, karena berada di lembah kecil (kunjesu) maka ia bergembira (ramati), ia berkelana kian kemari. Di atas gajah … (nāgena) : gajah itu, nāga yang baginya tak ada (na) tempat yang tidak dapat dimasuki (agamanīyaṃ) dan tak ada sesuatu pun yang tidak dapat ditanggulangi. Berkaki – (empat) (catukkamena) : kakinya empat. Tertua (jeṭṭhako) : terlahir paling dahulu.

Empat (-kuk) (catubbhī) : (diikatkan) ke empat keledai betina. Berlari – lari kecil (suvaggitena) : dengan gerakan indah atau dengan gerakan cepat.

Dengan mata selembut mata rusa (migamandalocanā) : dengan mata yang memancarkan sinar kelembutan bagaikan pandangan rusa betina. [58] Dengan separuh bagian dari jatahnya : bhāgaḍḍhabhāgena = bhāgassa aḍḍhabhāgena (ketentuan bentuk majemuk), penyebabnya adalah karena dia memberikan separuh porsi dari bagian yang dia terima untuk dirinya sendiri. Berbahagia : sukhī = sukhinī, ini diberikan di sini dengan pengubahan gender.

Mencaci – maki (paribbhāsakā) : menghina. Mereka sekarang berpuas diri (paricārayanti) : mereka menyenangkan (cārenti) indera – indera mereka semau mereka di manapun mereka suka dengan kesenangan – kesenangan indera surgawi, atau mereka menghibur diri (paricariyaṃ kārenti) dengan pelayan – pelayan mereka karena hasil yang luar biasa dari perbuatan – perbuatan berjasa mereka. Sedangkan kami layu bagaikan batang ilalang yang ditebas (mayan ca sussāma naḷo va chinno) : tetapi kami layu bagaikan batang ilalang yang telah dipotong dan digeletakkan di bawah terik matahari, kami terpanggang dan kering karena kelaparan dan kehausan dan karena pukulan – pukulan mematikan (yang kami terima) dari satu sama lain.
Setelah menjelaskan perbuatan – perbuatan mereka yang jahat, mereka kemudian memberitahu samanera tersebut bahwa dahulu mereka adalah bibi dan pamannya. Ketika mendengar ini, batin samanera tersebut amat tersentak, dan dia pun mengucapkan syair untuk menanyakan bagaimana makanan dapat tersedia bagi pelaku – pelaku kesalahan seperti itu :

Apakah makanan kalian? Apakah tempat tidur kalian? Bagaimanakah kalian menopang diri, wahai kalian yang dahulu bersifat sangat jahat, yang walaupun berada di antara kekayaan yang bayak dan melimpah, telah melewatkan (kesempatan) kalian untuk berbahagia sehingga sekarang ini memperoleh kesengsaraan?’

Di sini apakah makanan kalian? (kiṃ tumhākaṃ bojhanaṃ) : macam apakah makanan kalian? Apakah tempat tidur kalian? (kiṃ sayānaṃ) : macam apakah tempat tidur kalian? Beberapa terbaca ‘Apakah tidur kalian?’ (kiṃ sayānāṃ) – macam apakah tempat tidur kalian, artinya tempat tidur macam apakah yang kalian tiduri? Bagaimanakah kalian menopang diri? (kathaṃ su yāpetha) : dengan cara apa kalian menopang diri? Alternatifnya adalah kathaṃ vo yāpetha = kathaṃ tumhe yāpetha (bentuk tata bahasa alternatif), yang artinya bagaimanakah kalian menopang diri? Kalian yang dahulu bersifat sangat jahat (supāpadhammino) : kalian yang dahulu amat jahat sampai sangat ekstrim. Walaupun berada di antara kekayaan yang melimpah (pahūtabhogesu) : walaupun berada di antara kekayaan yang amat besar dan tidak terbatas. Banyak (anappakesu = na appakesu) (bentuk tata bahasa alternatif) : banyak. Melewatkan (kesempatan kalian) untuk berbahagia (sukhaṃ virādhāya) : [59] melewatkan, kehilangan (kesempatan kalian) untuk berbahagia karena tidak melakukan perbuatan – perbuatan berjasa yang merupakan penyebab kebahagiaan. Beberapa terbaca ‘karena melewatkan (kesempatan kalian) untuk berbahagia karena tidak melakukan perbuatan – perbuatan berjasa yang merupakan penyebab kebahagiaan. Beberapa terbaca ‘karena melewatkan (kesempatan kalian untuk) berbahagia’ (sukhassa virādhena). Sekarang ini memperoleh kesengsaraan (dukkh’ ajja pattā) : sekarang ini, dewasa ini, telah sampai pada kesengsaraan yang menjadi kandungan – peta.
Ketika ditanya demikian oleh samanera itu, para peta tersebut menyampaikan syair – syair yang menjawab persoalan – persoalan yang ditanyakan :

Ketika kami telah saling memukul, kami minum darah dan nanah ; kami minum banyak namun kami tidak memperoleh gizi, kami tidak senang.

Jadi, sesungguhnya manusia – manusia yang tidak berdana akan meratap ketika, setelah kematian, mereka menjadi penghuni – penghuni alam Yama ; mereka yang telah mengetahui dan memperoleh kekayaan namun tidak memanfaatkannya, atau bahkan tidak melakukan perbuatan – perbuatan yang berjasa,

Mereka akan mengalami kelaparan dan kehausan setelah kehidupan ini ; para peta terbakar, karena lama dihanguskan. Karena telah melakukan perbuatan – perbuatan yang membuahkan kesengsaraan, buah yang pahit, mereka pun menderita kesengsaraan.

Alangkah pendeknya usia kekayaan dan hasil panen dan betapa sekejapnya kehidupan manusia di sini ; karena mengetahui yang sementara sebagai yang sementara, orang bijaksana akan membuat perlindungan.

Mereka yang memahami ini adalah manusia – manusia yang terampil dalam Dhamma ; setelah mendengar khotbah – khotbah para Arahat, mereka tidak akan lali memberikan dana.’

Di sini kami tidak memperoleh gizi (na dhātā homa) : kami tidak mendapat makanan, tidak puas, tidak merasa kenyang. Tidak senang : na ruccadimhase = na ruccāma (bentuk tata bahasa alternatif) : kami tidak memperoleh kesenangan, artinya kami tidak meminumnya untuk kesenangan kami.

Jadi, sesungguhnya (icc’ eva) : hanya dengan cara ini. Manusia – manusia akan meratap (maccā paridevayanti) : juga orang – orang yang, seperti kami, telah melakukan kesalahan, pasti akan meratap dan menangis meraung – raung. Yang tidak memberi (adāyakā) : egois, tidak memiliki keluhuran kedermawanan. Mereka menjadi penghuni – penghuni alam Yama (Yamassa ṭhāyīṇo) : secara alami mereka akan berdiam di alam peta, tempat tinggal Yama yang dikenal sebagai alam Yama. [60] Mereka yang telah mengetahui dan memperoleh kekayaan (ye te viditvā adhigamma bhoge) : mereka yang telah mengetahui dan memperoleh kekayaan yang dpat memberikan kebahagiaan yang luar biasa, baik sekarang maupun di masa depan. Namun tidak memanfaatkannya, atau bahkan tidak melakukan perbuatan – perbuatan yang berjasa, (na bhunjare nā ‘pi karonti punnaṃ) : namun yang, seperti kami, tidak menggunakan sendiri kekayaan itu, yang bahkan tidak melakukan perbuatan – perbuatan berjasa yang berlandaskan pemberian dana dengan cara memberi kepada orang lain.

Mereka akan mengalami kelaparan dan kehausan setelah kehidupan ini (te khuppipāsūpagatā parattha) : makhluk – makhluk ini dikuasai oleh nafsu untuk makan dan oleh kehausan di alam sana, di alam peta pada kehidupan selanjutnya. (Para peta) terbakar, karena lama dihanguskan (ciraṃ jhāyare ḍayhamānā) : artinya (peta – peta itu) terbakar, mereka merintih, karena terus – menerus dibakar api nurani yang tidak nyaman, dan berpikir, ‘Aduh, kami dahulu tidak melakukan perbuatan – perbuatan yang baik, kami melakukan (hanya) perbuatan – perbuatan yang jahat dan lain – lain dan merintih karena api penderitaan yang disebabkan oleh kelaparan mereka. Yang membuahkan kesengsaraan (dukkhudrayāni) : yang mengakibatkan kesengsaraan. Buah yang pahit, mereka pun menderita kesengsaraan (anubhonti dukkaṃ kaṭukapphalāni) : karena telah melakukan perbuatan – perbuatan jahat (yang menghasilkan) buah yang tidak diinginkan, mereka menderita kesengsaraan yang menjadi ciri alam menyedihkan, untuk waktu yang lama.

Pendek (ittaraṃ) : tidak berlangsung lama, tidak kekal, pasti terkena perubahan. Sekejap kehidupan manusia di sini (ittaraṃ idha jīvitaṃ) : kehidupan para makhluk di sini, di sunia manusia ini, adalah sangat sekejap, terbatas, kecil. Karena inilah Sang Buddha mengatakan, ‘Dia, yang hidup lama, hidup selama seratus tahun atau sedikit lebih lama.’ Karena mengetahui yang sementara sebagai yang sementara (ittaraṃ ittarato nātvā) : memastikan lewat kebijaksanaan bahwa benda – benda – seperti misalnya kekayaan dan hasil panen dan lain – lain serta kehidupan manusia – hanya bersifat sekejap, terbatas, sementara, dan tidak berlangsung lama. Orang bijaksana akan membuat perlindungan (d īpaṃ kayirātha paṇḍito) : manusia bijaksana akan membuat perlindungan, penopang, yang akan menjadi dasar bagi kebahagiaan dan kesejahteraannya di alam berikutnya.

Mereka yang memahami ini (ye te evaṃ pajānanti) : mereka yang benar – benar menyadari sifat kehidupan dan kekayaan manusia yang hanya sekejap, mereka tidak akan pernah lalai memberikan dana. Setelah mendengar khotbah – khotbah para Arahat (sutvā arahataṃ vaco), artinya, setelah mendengar kata – kata para arahat, kata – kata para ariya seperti misalnya para Buddha dan lain – lain. Yang lain sudah cukup jelas.
Setelah menjelaskan hal – hal yang ditanyakan oleh samanera itu, para peta itu pun berkata, ‘Dahulu kami adalah paman dan bibimu.’ Ketika mendengar hal ini, batin samanera tersebut amat bergejolak. Dia pun menghapus ketidakpuasannya dan menjatuhkan diri dengan kepala di kaki gurunya, sambil berkata, ‘Apa [61] welas asih yang harus ditunjukkan karena belas kasihan, telah Bhante tunjukkan kepada saya. Sesungguhnyalah saya telah terlindung sehingga tidak jatuh ke dalam kesialan yang besar. Sekarang saya tidak lagi berminat dalam kehidupan berumah – tangga dan akan menemukan kegembiaraan saya di dalam kesejahteraan – Brahma.’ YM Saṃkiccha kemudian memberinya subjek meditasi yang cocok dengan wataknya. Dia memusatkan diri pada subjek meditasi itu dan tak lama kemudian mencapai tingkat arahat. YM Saṃkiccha mengajukan persoalan itu ke hadapan Sang Buddha. Sang Guru menganggap persoalan itu sebagai munculnya kebutuhan dan mengajarkan Dhamma secara rinci kepada mereka yang berada di sana. Ajaran itu bermanfaat bagi orang – orang tersebut.

PENJELASAN MENGENAI CERITA PETA ULAR

‘Bagaikan ular (yang telah melepaskan) kulitnya yang usang.’ Demikian dikatakan Sang Guru yang sedang berdiam di Hutan Jeta itu berkenaan dengan seorang umat awam.
Diceritakan bahwa di Sāvatthī ada seorang umat awam yang putranya meninggal. Karena amat sedih dia meratapi dan menangisi kematian putranya. Dia hanya tinggal di rumah saja, tidak keluar dan juga tidak bekerja. Menjelang fajar, Sang Guru telah keluar dari meditasi cinta kasih Beliau yang besar. Ketika sedang meneliti dunia dengan Mata Buddha-Nya, Beliau melihat umat awam itu. Maka pagi itu, Sang Buddha berpakaian awal dan membawa jubah serta mangkuk-Nya, Beliau pergi dan berdiri di pintu rumah umat awam itu. Mendengar kedatangan Sang Guru, umat awam itu bangkit dan cepat keluar untuk menemui Sang Buddha. Dia mengambil mangkuk dari tangan Sang Buddha, mempersilahkan Beliau masuk rumah dan menawarkan tempat duduk yang dipilihnya. Sang Buddha duduk di tempat yang telah ditunjuknya. Umat memberikan penghormatan kepada Beliau, dan kemudian duduk di satu sisi. Sang Buddha berkata, ‘Wahai umat awam, mengapa engkau tampak seperti orang yang dikuasai kesedihan?’ ‘Ya, Bhante, anak saya tercinta telah meninggal – karena itulah saya dikuasai kesedihan’ (jawabnya). Sang Buddha kemudian mengulang Jātaka Ular (dengan tujuan) menghalau kesedihannya.
Dahulu kala di Benares di kerajaan Kāsi hiduplah satu keluarga Brahmana bernama Dhammapāla. Semua anggota keluarg itu – brahmana dan istrinya, putra dan putrinya, menantu dan pelayan perempuannya – dibiasakan mengolah kesadaran akan kematian (perenungan tentang kematian). Bilamana salah seorang meninggalkan rumah, brahmana itu akan menasihati yang lain dan kemudian pergi tanpa khawatir.

Suatu hari brahmana itu meninggalkan rumah dengan putranya untuk pergi ke ladang dan membajak, sementara putranya membuat api dengan rumput dan ranting kering. Pada waktu itu, seekor ular hitam (yang berbisa), karena takut terbakar, meninggalkan lubang pohon dan menggigit putra brahmana itu. Dia pingsan akibat racun ular itu, jatuh di sana dan meninggal (yang kemudian) lahir sebagai Sakka, raja para dewa. Ketika brahmana itu melihat bahwa putranya sudah meninggal, dia berkata kepada laki – laki yang lewat di tempat dia sedang bekerja, ‘Tolonglah, sahabat. Pergilah ke rumahku dan beritahulah istriku bahwa dia harus mandi dan mengenakan pakaian yang bersih kemudian datang kemari dengan makanan untuk satu orang, rangkaian bunga, wewangian dan sebagainya.’ Dia pergi ke sana dan memberitahu wanita itu demikian. Para anggota keluarga menjalankan apa yang dikatakan brahmana itu. Brahmana itu lalu mandi, makan dan meminyaki diri dan, dikelilingi oleh palayan – pelayannya, menaruh tubuh putranya di tuumpukan kayu pembakaran dan menyalakannya. Kemudian dia berdiri di sana seolah – olah dia (hanya) membakar batang kayu, tanpa ada rasa sedih maupun tersiksa. Pikirannya terpusat pada ide ketidakkekalan.

Nah, Bodhisatta kitalah putra brahmana yang pada waktu itu telah muncul sebagai Sakka. Ketika dia merenungkan perbuatan – perbuatan berjasa yang telah dilakukannya di dalam kehidupannya yang lalu, dia merasakan belas kasihan pada ayah dan sanak saudaranya. Maka dia pun pergi ke sana dengan menyamar sebagai brahmana. Ketika melihat bahwa sanak saudaranya tidak meratapi dia, dia berkata, ‘Wahai kalian di sana – kalian yang sedang memasak daging rusa, tolong berilah kami daging ; saya lapar!’ ‘Ini bukan daging rusa, wahai brahmana. Ini adalah manusia,’ jawabnya. ‘Kalau begitu, apakah dia musuhmu?’ Dia bukan musuh, melainkan darah daging kami sendiri, anak saya yang masih muda, yang memiliki keluhuran tinggi.’ ‘Mengapa kalian tidak meratap bila putramu yang masih muda dengan keluhuran seperti itu meninggal?’ Mendengar hal ini, brahmana itu mengucapkan dua syair untuk menceritakan alasan mengapa dia tidak bersedih :

Bagaikan ular yang melepaskan kulit tuanya, personnya, dan kemudian melanjutkan perjalanannya, demikian pula pada saat kematian peta itu melepaskan tubuhnya yang sudah tak berguna.

Apa yang sedang terbakar itu tidak sadar akan ratap tangis sak saudara. Oleh karenanya saya tidak meratapi dia ; dia telah pergi ke tempat yang sudah merupakan tempat baginya.’

Di sini ular (urago) : uraga adalah istilah deskriptif untuk ular : pada dadanya (urena) itulah ular bergerak ke sana kemari (gacchati). Kulit tuanya (tacaṃ jiṇṇaṃ) : kulitnya, selongsongnya, yang sudah tua, usang, karena keadaannya yang sudah lapuk. Melepaskan personnya dan kemudian melanjutkan perjalanannya (hitvā gacchati santanuṃ) : sebagaimana ular (yang lewat) di antara pepohonan, cabang, akar atau batu, untuk melepaskan tubuhnya kulit tua yang menyebabkan dia menderita, seolah – olah melepas jaket yang ketat. Setelah melepaskan dan membuangnya, kemudian dia melanjutkan perjalanan seperti yang diinginkan. Demikian pula makhluk yang melewati saṃsāra meninggalkan ‘person’nya yang sudah usang, tubuhnya yang lapuk, karena tenaga perbuatan – perbuatannya dahulu telah habis. Kemudian dia melanjutkan perjalanan sesuai dengan perbuatan – perbuatannya. Artinya, dia muncul lewat keberadaannya yang diperbaharui. Demikian (evaṃ) : dia mengatakan hal ini sambil menunjuk ke tubuh putranya yang sedang terbakar. Tubuhnya yang sudah tak berguna (sarīre nibbhoge) : tubuhnya yang telah kehilangan kegunaannya, yaitu yang tidak bermanfaat ; sebagaimana demikian baginya, demikian pula bagi yang lain. Peta (pete) : ketika vitalitas, panas dan kesadaran telah lenyap, telah meninggalkan tubuh itu. Pada saat kematian (kālakate sati) : ketika orang menemui ajal.

Oleh karenanya (tasmā) : karena, dengan perginya kesadaran, tubuh yang sedang terbakar itu tidak sadar akan rasa sakit akibat dibakar serta tidak sadar akan kesedihan dan ratap tangis sanak saudara yang tercinta, maka saya tidak menangis dengan dalih putraku ini. Dia telah pergi ke tempat yang sudah merupakan tempat baginya (gato so tassa yā gati) : meskipun demikian, makhluk yang mati tidaklah lenyap ; sebaliknya, begitu dia jatuh, begitu dia pergi menuju tempat yang dikatakan telah tersedia baginya sebagai hasil perbuatan orang mati itu dalam mencari kesempatannya. Dia tidak menunggu raungan tangis dan ratapan sanak saudara yang dahulu, dan tidak ada manfa apa pun yang bisa dicapai lewat ratap tangis sanak saudara yang dahulu – demikianlah artinya.
Ketika brahmana itu telah mewujudkan keterampilannya dengan sepenuhnya memusatkan pikiran (pada ide ketidak kekalan), Sakka, yang menyamar sebagai brahmana itu, berkata pada istri brahmana, ‘Wahai ibu yang baik, apakah hubungan almarhum dengan engkau?’ ‘Dia dulu adalah putraku yang sudah dewasa, tuan, yang telah saya bawa di dalam kandungan selama sepuluh bulan, disusui dan diajar merangkak.’ ‘Walaupun ayahnya tidak menangis, karena memang sifat lelaki demikian, hati seorang ibu pasti lembut – maka mengapa engkau tidak menangis?’ Mendengar hal ini, wanita itu mengucapkan dua syair yang menceritakan alasan mengapa dia tidak menangis :

‘Dia datang dari sana tanpa undangan dan pergi dari sini tanpa izin. Sebagaimana dia datang, demikian pula dia pergi. Dalam keadaan seperti ini apa gunanya ratap tangis?

Apa yang sedang terbakar itu tidak sadar akan ratap tangis sanak keluarga. Oleh karenanya saya tidak meratapi dia, dia telah pergi ke tempat yang sudah merupakan tempat baginya.’

Di sini tanpa undangan (anabbhito) : tidak dipanggil ; dia tidak diminta datang, kami tidak mengatakan, ‘Datanglah, jadilah putraku!’ Dari sana (tato) : dari mana dia sebelumnya berada, dari alam lain. Dia datang āgā = āgacchi (bentuk tata bahasa alternatif). Tanpa izin (nānunnāto) : tanpa cuti : dia tidak dipecat oleh kami, kami tidak mengatakan, ‘Pergilah ke alam lain, putraku!’ Dari sini (ito) : dari dunia ini. Pergi (gato) : meninggalkan. Sebagaimana dia datang (yathāgato) : cara dia datang, yang artinya dia datang benar – benar tanpa undangan kami. Demikian pula dia pergi (tathāgato) : dengan cara yang sama dia pergi. Karena dia datang disebabkan hanya oleh perbuatan – perbuatannya sendiri, demikian pula dia pergi juga hanya karena perbuatan – perbuatannya sendiri ; dengan cara ini kerja kamma diketahui. Dalam keadaan seperti ini apa gunanya ratap tangis? (tattha kā paridevanā) : karena saṃsāra berguling terus tanpa ada yang mengendalikan, apa sesungguhnya guna ratap tangis karena kematian? Hal ini menunjukkan bahwa ratap tangis tidak cocok dan seharusnya tidak dilakukan oleh orang yang memiliki pandangan terang.

Setelah mendengar apa yang dikatakan istri brahmana itu, Sakka bertanya pada saudara perempuannya, ‘Apakah hubungan almarhum dengan engkau, wahai putri yang baik?’ ‘Dia dulu saudara lakiku, tuan.’ ‘Wahai sahabat, seorang saudara perempuan tentunya mencintai saudara lelakinya ; mengapa engkau tidak menangis?’ Dia mengucapkan dua syair yang menceritakan alasan mengapa dia tidak menangis :

Seandainya saya meratap, saya akan menjadi kurus kering. Apakah buanya bagiku dalam hal itu? Hal itu hanya akan menambah kesedihan sanak saudara kami, teman – teman kami dan mereka yang menharapkan kami baik – baik.

Apa yang sedang terbakar itu tidak sadar akan ratap tangis sanak saudara. Oleh karenanya saya tidak meratapi dia ; dia telah pergi ke tempat yang sudah merupakan tempat baginya.’

Di sini seandainya saya meratap, saya akan menjadi kurus kering (sace rode kisā assaṃ) : seandainya saya menangis, saya akan menjadi kurus dan tubuhku akan tersia – sia. Apakah buanya bagiku dalam hal itu? (tattha me kiṃ phalaṃ siyā) : apakah yang mungkin menjadi buahnya, apakah keuntungannya, bagiku ; dalam hal itu, dalam meratap karena kematian saudara lakiku? Saudara lakiku tidak akan (kembali hidup) dengan itu, bahkan dia juga tidak dapat pergi ke alam bahagia dengan itu – demikian artinya. Hal itu hanya akan menanbah kesedihan sanak saudara kami, teman – teman kami dan mereka yang menharapkan kami baik – baik (nātimittasuhhajjānaṃ bhīyo no arati siyā) : menangisi saudara lakiku pada saat kematiannya hanya akan menimbulkan kesengsaraan yang berlebihan, bahkan lebih banyak penderitaan, bagi sanak saudara kami, teman – teman kami dan mereka yang menharapkan yang baik – baik.
Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh saudara perempuannya, Sakka bertanya kepada istrinya, ‘Apakah hubungan almarhum dengan engkau?’ ‘Dia dahulu suamiku, tuan’ (jawabnya). ‘Wahai sahabat, seorang wanita tentu menyayangi suaminya dan jika si suami mati, jandanya akn merana. Mengapa engkau tidak menangis?’ Dia juga mengucapkan dua syair yang menceritakan alasan mengapa dia tidak menangis :

Sebagaimana seorang anak yang menangis minta rembulan yang sedang naik, mirip itulah keberhasilan orang yang meratapi peta.

Apa yang sedang terbakar tidak sadarakan ratap tangis sanak saudara. Oleh karenanya saya tidak meratapi dia ; dia telah pergi ke tempat yang sudah merupakan tempat baginya.’

Di sini seorang anak (dārako) : anak yang bodoh. Rembulan (candaṃ) : lingkaran rembulan. Sedang naik (gacchantaṃ) : sedang naik di cakrawala. Menangis minta (anurodati) : menangis sambil mengatakan ‘Tangkaplah roda kereta itu dan berikan padaku!’ Mirip itulah keberhasilan (evaṃ sampadam ev’ etaṃ) : ratap tangis orang yang meratapi peta, yang sudah mati, hasilnya sama, dan mirip, dengan keinginan untuk menangkap rembulan ketika naik ke langit, karena ini merupakan pengharapan untuk suatu objek yang tidak dapat diperoleh – demikianlah artinya.
Setelah mendengar apa yang dikatakan istrinya, dia bertanya pada pembantu perempuannya, ‘Wahai sahabat, apakah hubungan almarhum dengan engkau ?’ ‘Dia adalah majikanku, tuan.’ ‘Jika demikian, kamu pasti bekerja hanya setelah dipukuli olehnya. Saya rasa itulah sebabnya engkau tidak menangis, karena engkau berpikir bahwa dengan kematiannya engkau terbebas dari dia.’ ‘Jangan berbicara demikian, tuan, sungguh tidak pantas. Putra majikan saya berperilaku baik dan memiliki kesabaran, keramahtamahan dan kebaikan hati yang luar biasa – dia bagaikan putra yang tumbuh di jantung hatiku sendiri.’ ‘Kalau demikian mengapa engkau tidak menangis?’ Dia juga mengucapkan dua syair yang menceritakan alasan mengapa dia tidak menangis :

Wahai brahmana, sebagaimana pot – air yang telah pecah tidak dapat disatukan lagi, mirip itu pula keberhasilan orang yang meratapi peta.

Apa yang sedang terbakar itu tidak sadar akan ratap tangis sanak saudara. Oleh karenanya saya tidak meratapi dia ; dia telah pergi ke tempat yang sudah merupakan tempat baginya.’

Di sini wahai brahmana, sebagaimana pot – air yang telah pecah tidak dapat disatukan lagi (yathā pi brahme udakumbho bhinno appaṭisandhiyo) : wahai brahmana, persis seperti pot-air yang telah pecah karena dipukul palu tidak akan dapat disatukan lagi, tidak akan dapat diperbaiki menjadi seperti sedia kala. Yang lain sudah cukup jelas karena telah dinyatakan di atas.
Setelah mendengar pembicaraan Dhamma mereka, Sakka berkata dengan bakti di hatinya, ‘Betapa mendalamnya kalian telah mengembangkan kesadaran akan kematian. Mulai (hari) ini dan selanjutnya, tidak perlu lagi kalian bekerja membajak dan sebagainya. ‘Dia memenuhi rumah mereka dengan Tujuh Harta Karun dan menasihati dengan mengatakan, ‘Janganlah lalai memberikan dana ; pertahankan moralitas dan jalankan Uposatha.’ Lalu dengan mengungkapkan (identitas sejati) – nya kepada mereka, dia kembali ke tempat tinggalnya sendiri.

Brahmana itu beserta orang – orang lain melakukan perbuatan – perbuatan berjasa dengan memberikan dana dan lain – lain dan setelah menjalani seluruh masa kehidupan mereka, mereka pun terlahir di alam dewa.
Ketika Sang Guru telah menceritakan kembali cerita Jātaka ini dan telah mencabut anak panah kesedihan dari umat awam itu, Beliau kemudian menjelaskan (Empat) Kebenaran (Mulia). Di akhir khotbah Beliau, umat awam itu mantap di dalam buah – sotāpatti.
Penjelasan mengenai Cerita Peta Ular selesai – demikianlah penjelasan mengenai arti bab pertama, Bab Ular, yang terdiri dari dua belas cerita pada Cerita – cerita Makhluk Peta dari Khuddaka Nikāya ini berakhir.

[Sumber: Petavatthu 1 terbitan Wisma Sambodhi]

%d bloggers like this: