Menundukkan Nandopananda

Kekuatan adialami yang dimiliki oleh makhluk ilahi atau dewa bisa berbahaya, menyebabkan manusia biasa tak berdaya, bagaikan hewan percobaan yang tengah dibedah atau menjalani percobaan laboratorium yang kejam. Sesungguhnyalah, sepanjang segenap kurun waktu, kekuatan Dhamma senantiasa mengalahkan kekuatan adialami. Sebagai contohnya, kekuatan adialami seperti yang dimiliki oleh Nandopananda pun akhirnya ditundukkan oleh sebuah kekuatan spiritual yang jauh melampaui kekuatan adialami itu. Keyakinan dalam ajaran Buddha sama sekali tidak menimbulkan bahaya seperti yang ditimbulkan oleh kepercayaan yang membuta. Umat Buddha tidaklah terpesona oleh mukjizat, betapapun mukjizat itu dianggap spiritual.

Naga adalah sejenis makhluk dewa rendah yang memiliki pelbagai kekuatan gaib, namun kurang memiliki potensi spiritual seperti halnya manusia. Naga mampu berubah bentuk sesuka hati dan konon, aslinya memiliki badan seperti binatang melata. Naga yang terikat pada hidup duniawi dapat membawa pengaruh buruk bagi kehidupan manusia. Namun ada juga Naga yang baik hati dan sering dipuja sebagai dewa pelindung.

Nandopananda adalah Raja Naga perkasa yang terbekali dengan kakuatan gaib yang mematikan. Keangkuhannya terhadap kekuatan yang dimilikinya, membuatnya menjadi lebih berbahaya. Dia tidak mempercayai segala sesuatu yang bersifat luhur atau spiritual, serta sangat memandang rendah orang – orang suci. Hidupnya hanya dihabiskan untuk mengejar kekuasaan dan kenikmatan hidup.

Pada suatu sore, Anathapindika, seorang hartawan dari Savatthi, yang terkenal sebagai dermawan yang sangat murah hati dan memiliki keyakinan penuh terhadap Sang Buddha, mengunjungi Vihara Jetavana dan berkesempatan mendengar pembabaran Dhamma dari Sang Buddha, karena merasa begitu bahagia, ia memohon Sang Buddha beserta lima ratus murid suci-Nya untuk menerima persembahan makanan darinya keesokan hari. Sang Buddha menyetujui undangannya.

Menjelang fajar keesokan harinya, seperti kebiasaan-Nya sehari – hari, Sang Buddha menelusuri seisi alam semesta yang terdiri dari berbagai sistem dunia dengan belas kasih tanpa batas-Nya. Dalam pandangan Mahatahu-Nya, Ia melihat Nandopananda. Setelah melakukan penembusan lebih mendalam, dengan jelas Ia mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.

Yang Maha Mengetahui menyadari bahwa kendatipun Nandopananda sangat memusuhi ajaran spiritual dan memiliki pandangan dan kecenderungan yang buruk, namun ia juga memiliki kematangan batin untuk mencapai transformasi spiritual. Dengan penanganan tepat, ia dapat dijinakkan, disadarkan dan akan bernaung pada Tisarana.

Sang Buddha kemudian juga melihat bahwa Yang Ariya Moggallana, yang kesaktiannya hanya berada ditempat kedua setelah diri-Nya, akan mampu menjinakkan Nandopananda dengan baik.

Setelah fajar menyingsing, Sang Buddha beranjak dari meditasinya, makan pagi dan bersiap untuk berangkat. Beliau memanggil Yang Ariya Ananda dan memintanya untuk memberitahukan ke lima ratus siswa Arahat-Nya bahwa hari itu mereka akan menemani-Nya untuk melakukan kunjungan khusus ke alam surgawi. Segera, Sang Buddha beserta siswa – siswa-Nya membumbung di udara, dan dengan kekuatan adialami mereka menuju alam surgawi.

Kala itu, atas keinginan sang raja naga, tengah diadakan perjamuan besar ditempat terbuka di tempat kediamannya. Sajian khusus telah disiapkan untuk Nandopananda, yang duduk di singgasana megah dibawah naungan sebuah payung putih.

Sekelompok naga pemusik, penari dan pelbagai naga perempuan menyajikan makanan dan minuman yang mewah, semuanya mengelilingi Nandopananda. Tatkala sang raja naga tengah mabuk oleh kemegahan dan pemuliaan dirinya, Sang Buddha membuat agar sang naga melihat diri-Nya beserta arakan para bhikkhu sedang menuju alam Surga Tavatimsa dan melintas tepat diatas singgasananya.

Melihat arak – arakan ini, sang raja naga seketika naik pitam dan bersungut – sungut, ” Orang – orang gundul ini sedang keluar masuk Surga Tavatimsa dan melintas tepat diatas kediamanku. Aku tidak akan membiarkan mereka melintas diatas kita, menebarkan kotoran kaki mereka diatas kepala kita.”

Dengan kecepatan tinggi, Nandopananda melesat menuju kaki Gunung Sineru, mengubah dirinya menjadi besar dan meliliti gunung itu sebanyak tujuh lilitan. Dengan tudung kepalanya yang sangat besar, ia menutupi seluruh Surga Tavatimsa, akibatnya terjadilah gelap gulita dan tak ada sesuatu pun yang bisa tampak.

Menyadari kegelapan yang mendadak, Yang Ariya Rathapala, salah satu Arahat pengiring Sang Buddha bertanya, “Yang mahamulia, biasanya kalau kita melintasi daerah ini, kita bisa melihat Gunung Sineru dengan jelas, demikian pula kubu sineru, Surga Tavatimsa, Wisma Vejayanta dan panji – panji diatas wisma itu. Mohon penjelasan, Yang Mahamulia, apakah kiranya penyebabnya sehingga diriku tidak melihat Gunung Sineru dan kubunya, Surga Tavatimsa, Wisma Vejayanta dan panji – panji diatasnya?”

“Ratthapala, sang raja naga, Nandopananda, tengah merasa murka dan telah meliliti Gunung Sineru sebanyak tujuh lilitan serta menyelimuti seluruh Surga Tavatimsa dengan tudung kepalanya yang sangat besar, mengakibatkan kegelapan.”

“Yang Mahamulia, izinkanlah diriku untuk menjinakkannya.”

Sang Buddha tidak memberikan izin kepada Yang Ariya Ratthapala, Setelah itu Yang Ariya Bhaddiya, Yang Ariya Rahula, dan satu persatu, semuanya kecuali satu orang, memohon izin dari Sang Buddha untuk menjinakkan naga itu. Namun Sang Buddha tidak mengizinkan satu pun dari mereka untuk melakukannya.

Pada akhirnya, Yang Ariya Maha Moggallana berkata,” Yang Mahamulia, izinkanlah diriku untuk menjinakkannya.” Sang Buddha mengizinkan dengan berkata,”Jinakkanlah naga itu, Moggallana.”

Serta merta Yang Ariya Moggallana mengubah dirinya menjadi naga raksasa yang sangat besar. Kemudian beliau meliliti tubuh Nandopananda sebanyak empat belas lilitan, menutupi tudung kepala Nandopananda dengan tudung kepalanya, dan memojokkan Nandopananda ke dinding sineru. Si raja naga melawan dengan menyemburkan asap. Yang Ariya Moggallana berkata,” Bukan hanya engkau yang bisa menyemburkan asap, akupun bisa melakukan hal itu”, sambil menyemburkan lebih banyak asap. Asap Nandopananda tidak menyakitkan Yang Ariya Moggallana, namun sebaliknya asap Yang Ariya Moggallana sangat menyakitkan Nandopananda.

Kemudian Nandopananda menyemburkan api, Yang Ariya Moggallana berkata,” Bukan hanya engkau yang bisa menyemburkan api, akupun bisa melakukan hal itu”, sambil menyemburkan lebih banyak api. Api Nandopananda tidak menyakitkan Yang Ariya Moggallana, namun sebaliknya api Yang Ariya Moggalana sangat menyakitkan Nandopananda.

Sambil merasa kesakitan, sang raja naga berpikir,” Dia memojokkan diriku ke dinding sineru dan ia juga menyemburkan asap dan api, “lalu dia bertanya,” Tuan, siapakah engkau?”

“Nanda, aku adalah Moggallana.”

“Bila demikian, Yang Ariya, kembalikan wujudmu sebagai seorang bhikkhu.”

Yang Ariya Moggallana mengubah wujudnya kembali sebagai bhikkhu, lalu memasuki telinga kanan Nandopananda dan keluar dari telinga kiri; kemudian ia masuk kembali melalui telinga kiri dan keluar melalui telinga kanannya. Sehabis itu Yang Ariya Moggallana masuk kedalam mulutnya dan berjalan kedalam perutnya, berjalan keatas dan kebawah, dari timur ke barat dan dari barat ke timur.

Sang Buddha memberi peringatan,” Moggallana, Moggallana, hati – hatilah, naga ini sangat perkasa.”

“Yang Mahamulia, keempat dasar kekuatan ( iddhividha ) telah disempurnakan , terlatih berulang kali, telah menjadi sarana, dibuat menjadi dasar, serta telah terbentuk sempurna, terpusat dan terpakai dengan benar. Perkenankan saya sampaikan, Yang Mahamulia, seratus, seribu atau seratus ribu raja naga seperti Nandopananda ini sekalipun dapat kujinakkan, apalagi hanya satu Nandopananda.”

Sekarang sang raja naga merencanakan,” Ketika dia masuk, aku tidak melihatnya, namun begitu ia keluar, ia akan kutangkap dengan taringku dan kumangsa.” Setelah berencana demikian, ia berkata,” Yang Ariya, tolong keluarlah dari tubuhku, berhentilah menyakiti tubuhku dengan berjalan ke atas dan kebawah di dalam perutku.”

Kemudian Yang Ariya Moggallana dari tubuh Nandopananda dan berdiri tepat dihadapannya. Begitu melihatnya,” ini dia” dengan kejinya Nandopananda langsung memuntahkan semburan yang mematikan dari lubang hidungnya. Seketika itu juga, Yang Ariya Moggallana memasuki tahap penyerapan meditasi (jhana) keempat. Dengan demikian semburan itu tidak mampu menggoyang satu helai rambutpun pada tubuhnya.

Kemampuan memasuki jhana keempat dengan seketika seperti ini, selain oleh Sang Buddha, hanya dapat dilakukan oleh Yang Ariya Moggallana. Bhikkhu lainnya juga dapat melakukan kekuatan adialami lainnya, namun mereka kemungkinan tidak dapat memasuki jhana keempat secepat itu, yang mampu menghindari semburan maut Nandopananda. Bila terlambat sedikit saja, maka tubuh lawan Nandopananda akan berubah menjadi abu. Demikianlah, setelah melihat saat yang sangat berbahaya ini pada dini hari itu, Sang Buddha tidak mengizinkan orang lain kecuali Moggallana untuk menjinakkan raja naga maut ini.

Melihat kejadian itu, Nandopananda tercengang,” Aneh! Semburan maut dari lubang hidungku sekalipun tidak mampu menggoyang satu helai rambut pun pada tubuh bhikkhu ini.”

Kemudian Yang Ariya Moggallana berubah bentuk mejadi supanna ( garuda), musuh abadi yang sangat mengerikan bagi para naga. Yang Ariya Moggallana mengejar Nandopananda seraya memuntahkan semburan maut ke arahnya. Akibatnya sang raja naga menjadi sangat ketakutan dan segera mengubah dirinya menjadi seorang pria muda. Sambil berlutut dihadapan Yang Ariya Moggallana, ia berkata,” Yang Ariya, aku bernaung pada dirimu”, lalu ia bersujud pada Yang Ariya Moggallana.

Yang Ariya Moggallana berkata padanya,” Wahai, Nandopananda, Yang Terberkahi sendiri ada disini. Marilah kita menghadap pada-Nya.” Kemudian Yang Ariya Moggallana membawa Nandopananda menghadap Sang Buddha.

Sang raja naga kemudian bersujud pada Sang Buddha sambil berkata,” Yang Ariya, aku bernaung pada dirimu.”

Sang Buddha menjawab,” semoga engkau menjadi raja naga yang berbahagia”, sambil memberkatinya. Setelah selesai, dengan diiringi oleh para bhikkhu, Sang Buddha segera menuju kekediaman Anathapindika.

Anathapindika bertanya,” Yang Mahamulia, apakah gerangan yang menyebabkan Yang Terberkahi terlambat tiba?”

“karena pertarungan anatara Moggallana dan Nandopananda.”

“Yang Mahamulia, siapakah kiranya yang menang dan sipakah yang kalah ?”

“Moggallana yang menang dan Nandopananda yang kalah”

Mendengar hal itu, Anathapindhika berkata,” Yang Mahamulia, sudilah kiranya Yang Terberkahi menerima persembahan dari diriku selama tujuh hari berturut – turut dan juga sujudku pada Yang Ariya Moggallana selama satu minggu penuh.”

Demikianlah Anathapindika mengadakan persembahan selama tujuh hari berturut – turut untuk menghormati Yang Tercerahkan dan lima ratus bhikkhu Arahat tersebut sekaligus merayakan kejayaan agung terhadap Nandopananda.

Advertisements

Kemenangan Atas Mara

KEMENANGAN ATAS MARA

Sammasambuddha adalah Juru Selamat, Ia tidak saja mewujudkan Nibbana bagi diri-Nya sendiri, namun juga menolong makhluk hidup yang tak terhingga jumlahnya untuk mewujudkannya juga. Arahat, siswa-Nya yang tercerahkan, akan menyebarluaskan dan meneruskan ajaran dari Sang Buddha Juru Selamat. Karenanya, proses pembebasan tetap bisa terjadi walaupun Sang Guru Agung telah wafat, mencapai parinibbana. Dengan menyempurnakan paraminya, Sang Buddha menjadi asal dan sumber awal dari kebijaksanaan, kebajikan dan kekuatan. Melalui kekuatan dari kesempurnaan-Nya yang tiada tara, Ia menaklukan Mara, kekuatan jahat yang paling dahsyat. Mara senantiasa membelenggu makhluk hidup dalam untaian ikatan samsara, sebaliknya Sang Buddha memungkinkan para pencari kebenaran untuk menghimpun kekuatan yang tiada tara dan untuk menggunakan sumber spiritualitas yang tiada habisnya ini, untuk mengatasi semua halangan dan bahaya yang diciptakan Mara. Karenannya, permohonan para pencari kebenaran adalah: “Berkat Kemenangan Agung Sang Buddha, Semoga Berkah dan kejayaan menjadi milikku”

Pada suatu hari bulan purnama Vesakha, menjelang fajar, keheningan yang tentram menyelimuti segenap hutan Uruvela. Di sini dipinggiran sungai Neranjara, Petapa Gotama tengah merenungi suatu penglihatan yang muncul dalam kesadaran-Nya laksana riak berkilau dari dasar pikirannya yang terdalam, dan yang berubah menjadi tekad mendalam. Dengan mengikuti kebiasaan para Buddha sebelumnya yang tiada tara.

Ia bertekad :

Para Buddha yang lampau, berjaya tiada taranya,

Para putra mahkota pada kelahiran terakhir kalinya, Melepaskan keduniawiannya untuk menjadi petapa,

Menguasai dirinya sendiri dan mencapai kebijaksanaan, Lebih perkasa dari para raja yang paling perkasa,

Mendaki puncak spiritual, Bodhi, Merekalah, tiada yang lain, yang merupakan Juru Selamat dunia,

Tradisi bersejarah ini akan kupenuhi hari ini !

Waktuku telah tiba untuk menuju ke Puncak!

Tekad ini menandai dimulainya pertentangan yang tiada banding dengan kekuatan terdahsyat di segenap tiga dunia, Mara, dan perseteruan sudah pasti akan terjadi. Saat itu, duduk dibawah Pohon Bodhi, Petapa Gotama melesat menuju Samadhi yang mendalam, yaitu keadaan penyerapan adibatiniah, dan menetap dalam keadaan itu selama beberapa jam. Sang Petapa saat itu berumur 35 tahun, Beliau telah melewati enam tahun penuh perjuangan, menjalani latihan sangat keras, bercita cita menjadi seorang Buddha, untuk membuka gerbang pembebasan bagi semua makhluk.

Pada saat itu, Sang Gotama selesai melakukan Samadhi di pagi hari, Beliau melihat Sujata, istri kepala kampung setempat, tengah menunggu dengan penuh hormat untuk mempersembahkan kepada-Nya nasi yang ditanak dengan susu ( payasa ) dalam sebuah mangkok emas. Sang Petapa memberkatinya dan menerima makanan persembahan yang akan memainkan peranan bersejarah, yaitu memberikan kekuatan fisik bagi diri-Nya selama tujuh minggu berikutnya. Setelah mandi di sungai Neranjara, Beliau menyantap payasa tersebut.

Kemudian untuk menguji kesahihan dari penglihatan dalam mimpi-Nya, Beliau melemparkan mangkok emas tersebut ke sungai sambil berpikir, “ jika hari ini juga Aku dapat mencapai puncak Pencerahan Sempurna, maka mangkok ini akan melaju melawan arus sungai ini. Dan ternyata… mangkok itu benar – benar melaju melawan arus dan menghilang di tengah – tengah sungai.

Dengan hati yang kembali mantap, Beliau pergi kembali ke Pohon Bodhi, sembari di perjalanan mengumpulkan beberapa ikat rumput kusa sebagai alas duduk, dan duduk menghadap kea rah timur. Laksana seorang ksatria yang tak tertandingi, dengan penuh keyakinanmenguatkan diri untuk menghadapi pertempuran, Beliau mengawali pertempuran akhir tersebut dengan tekad bulat, yang jadi terkenal:

“Biarlah daging-Ku, tulang-Ku, urat-Ku mengeriput dan biarlah darah-Ku mengering, namun tiada pernah Aku akan mundur dari tekad-Ku ini” Mengetahui tekad ini, Mara menjadi sangat marah karena menganggap semua ini adalah tantangan terhadap kekuasaannya.

Bagi dirinya, tekad ini terang – terangan meremehkan dan memutuskan gengamannya, tidak saja pada Gotama, tapi juga pada makhluk hidup lain yang tak terhitung, yang kelak akan menyebrangi gerbang pembebasan, yang mana tiada daya bagi Mara untuk menguasainya.

Karenanya sang penguasa bengis dari kerajaan alam duniawi, memutuskan untuk menggagalkan tekad Gotama yang begitu beraninya mencoba keluar dari cakupan kekuasaannya. Dengan demikian, pada senja hari itu, pertempuran sengit terjadi antara Gotama, Sang Bodhisatta dan Mara. Dengan pasukannya yang besar, Mara merangsak maju dan mengurung Sang Bodhisatta dari semua sisi.

Pelbagai kekuatan dari pasukan jahatnya, yang masing – masing berkekuatan gaib luar biasa, berubah bentuk menjadi makhluk yang jahat dan keji yang menyerang Sang Makhluk Agung, Mahasatta. Mara mengetahui bahwa jika Gotama dibiarkan keluar dari jaring rengkuhannya yang luas, tidak saja Ia akan terbebaskan, namun Ia kelak juga akan membebaskan makhluk lain yang tak terhitung. Oleh karena itu, Mara memerintahkan pasukannya untuk menyerang. Mara sendiri kemudian berubah bentuk menjadi makhluk keji yang menebarkan rasa takut, dengan seribu lengan yang masing – masing mengayun – ayunkan senjata yang mematikan. Dengan menunggangi gajah buas Girimekhala, Mara menyerang untuk menggoyahkan pikiran Gotama yang tentram yang tetap berdiam dalam meditasi yang mendalam.

Mara mengubah seluruh hutan menjadi gelap gulita dan melancarkan petir demi petir untuk manakut nakuti Putra Mahkota Sakya itu. Mara juga menimbulkan badai dan angin topan serta hujan es yang di selingi dengan hujan air panas. Kemudian Mara mengguyurkan debu panas, pasir panas, kerikil dan batu panas.

Mara menghembuskan angin ribut yang begitu dahsyat seolah akan mencabut seisi hutan itu, diikuti hempasan angin kencang yang berbau busuk dan beracun. Dengan ratusan cara, Mara berusaha untuk menggoyahkan Siddhatha Gotama.

Dari langit yang terbelah, Mara mengirimkan wanita – wanita yang melayang mempesona yang membisik menggoda, mencoba memberi rangsangan pada Yang Suci dengan tipu muslihat yang jalang. Mara kemudian mengirimkan putri – putrinya yang berusaha mengolok – olok usaha mulia Gotama sehingga tampak sia –sia. Mara sendiri menawarkan untuk menobatkan Gotama sebagai penguasa dunia dengan kekuasaan dan kesenangan tanpa batas, seandainya Ia mau menghentikan usaha-Nya. Sang Bodhisatta, dengan keyakinan diri yang tak terkalahkan dan dengan ketenangan diri yang luar biasa, tidak mengindahkan Mara dan tetap meneruskan usaha-Nya untuk mengembangkan berbagai tahapan meditasi.

Dalam usaha akhir-Nya untuk menundukan makhluk keji yang berkutat untuk bertahan ini, Beliau akhirnya membangkitkan kekuatan yang tiada bandingnya dari simpanan kebaikan spiritual yang tiada habisnya yang terlahir dari seluruh parami, Seraya menyentuh tanah dengan jari tengah-Nya, Beliau memanggil bumi sendiri sebagai saksi atas tindakan – tindakan gagah berani yang telah dilakukan-Nya sepanjang masa yang sangat lama untuk memenuhi parami yang agung. Begitu hebatnya kekuatan tindakan-Nya ini, sampai bumi, pelbagai benda langit, serta segenap alam semesta, berguncang dalam penghormatan pada anugrah yang tiada taranya dari calon Buddha ini. Hal ini begitu menakuti Mara, sehingga ia pergi tunggang langgang dengan pasukannya yang tercerai berai. Pada saat itu juga, terjadi kesejajaran antara bulan purnama yang tengah menyingsing di ufuk timur dengan bulatan merah matahari yang tengah terbenam di ufuk barat.

Dalam naskah suci digambarkan bagaimana setelah itu, Sang Guru Agung mengembangkan pelbagai pandangan terang adiduniawi dan akhirnya menjadi Pemenang Agung, Sang Buddha! Sesudahnya Beliau melewatkan masa tujuh minggu mengerahkan kekuatan mulia yang dimiliki oleh Yang Membebaskan Diri Sendiri ( Sayambhu ), Yang Mahatahu ( Sabbannu ) dan Yang Tercerahkan Sempurna dengan upaya sendiri ( Sammasambuddha ). Selama tujuh minggu berturut – turut, Sang Buddha tetap berada dalam samadhi, menikmati kebahagiaan pembebasan abadi. Ungkapan pertama-Nya setelah mengalahkan Mara adalah seperti ini : “Terbuka sudah gerbang menuju keabadian. Semoga mereka yang dapat mendengar meyakininya!”