Kemenangan Atas Mara

KEMENANGAN ATAS MARA

Sammasambuddha adalah Juru Selamat, Ia tidak saja mewujudkan Nibbana bagi diri-Nya sendiri, namun juga menolong makhluk hidup yang tak terhingga jumlahnya untuk mewujudkannya juga. Arahat, siswa-Nya yang tercerahkan, akan menyebarluaskan dan meneruskan ajaran dari Sang Buddha Juru Selamat. Karenanya, proses pembebasan tetap bisa terjadi walaupun Sang Guru Agung telah wafat, mencapai parinibbana. Dengan menyempurnakan paraminya, Sang Buddha menjadi asal dan sumber awal dari kebijaksanaan, kebajikan dan kekuatan. Melalui kekuatan dari kesempurnaan-Nya yang tiada tara, Ia menaklukan Mara, kekuatan jahat yang paling dahsyat. Mara senantiasa membelenggu makhluk hidup dalam untaian ikatan samsara, sebaliknya Sang Buddha memungkinkan para pencari kebenaran untuk menghimpun kekuatan yang tiada tara dan untuk menggunakan sumber spiritualitas yang tiada habisnya ini, untuk mengatasi semua halangan dan bahaya yang diciptakan Mara. Karenannya, permohonan para pencari kebenaran adalah: “Berkat Kemenangan Agung Sang Buddha, Semoga Berkah dan kejayaan menjadi milikku”

Pada suatu hari bulan purnama Vesakha, menjelang fajar, keheningan yang tentram menyelimuti segenap hutan Uruvela. Di sini dipinggiran sungai Neranjara, Petapa Gotama tengah merenungi suatu penglihatan yang muncul dalam kesadaran-Nya laksana riak berkilau dari dasar pikirannya yang terdalam, dan yang berubah menjadi tekad mendalam. Dengan mengikuti kebiasaan para Buddha sebelumnya yang tiada tara.

Ia bertekad :

Para Buddha yang lampau, berjaya tiada taranya,

Para putra mahkota pada kelahiran terakhir kalinya, Melepaskan keduniawiannya untuk menjadi petapa,

Menguasai dirinya sendiri dan mencapai kebijaksanaan, Lebih perkasa dari para raja yang paling perkasa,

Mendaki puncak spiritual, Bodhi, Merekalah, tiada yang lain, yang merupakan Juru Selamat dunia,

Tradisi bersejarah ini akan kupenuhi hari ini !

Waktuku telah tiba untuk menuju ke Puncak!

Tekad ini menandai dimulainya pertentangan yang tiada banding dengan kekuatan terdahsyat di segenap tiga dunia, Mara, dan perseteruan sudah pasti akan terjadi. Saat itu, duduk dibawah Pohon Bodhi, Petapa Gotama melesat menuju Samadhi yang mendalam, yaitu keadaan penyerapan adibatiniah, dan menetap dalam keadaan itu selama beberapa jam. Sang Petapa saat itu berumur 35 tahun, Beliau telah melewati enam tahun penuh perjuangan, menjalani latihan sangat keras, bercita cita menjadi seorang Buddha, untuk membuka gerbang pembebasan bagi semua makhluk.

Pada saat itu, Sang Gotama selesai melakukan Samadhi di pagi hari, Beliau melihat Sujata, istri kepala kampung setempat, tengah menunggu dengan penuh hormat untuk mempersembahkan kepada-Nya nasi yang ditanak dengan susu ( payasa ) dalam sebuah mangkok emas. Sang Petapa memberkatinya dan menerima makanan persembahan yang akan memainkan peranan bersejarah, yaitu memberikan kekuatan fisik bagi diri-Nya selama tujuh minggu berikutnya. Setelah mandi di sungai Neranjara, Beliau menyantap payasa tersebut.

Kemudian untuk menguji kesahihan dari penglihatan dalam mimpi-Nya, Beliau melemparkan mangkok emas tersebut ke sungai sambil berpikir, “ jika hari ini juga Aku dapat mencapai puncak Pencerahan Sempurna, maka mangkok ini akan melaju melawan arus sungai ini. Dan ternyata… mangkok itu benar – benar melaju melawan arus dan menghilang di tengah – tengah sungai.

Dengan hati yang kembali mantap, Beliau pergi kembali ke Pohon Bodhi, sembari di perjalanan mengumpulkan beberapa ikat rumput kusa sebagai alas duduk, dan duduk menghadap kea rah timur. Laksana seorang ksatria yang tak tertandingi, dengan penuh keyakinanmenguatkan diri untuk menghadapi pertempuran, Beliau mengawali pertempuran akhir tersebut dengan tekad bulat, yang jadi terkenal:

“Biarlah daging-Ku, tulang-Ku, urat-Ku mengeriput dan biarlah darah-Ku mengering, namun tiada pernah Aku akan mundur dari tekad-Ku ini” Mengetahui tekad ini, Mara menjadi sangat marah karena menganggap semua ini adalah tantangan terhadap kekuasaannya.

Bagi dirinya, tekad ini terang – terangan meremehkan dan memutuskan gengamannya, tidak saja pada Gotama, tapi juga pada makhluk hidup lain yang tak terhitung, yang kelak akan menyebrangi gerbang pembebasan, yang mana tiada daya bagi Mara untuk menguasainya.

Karenanya sang penguasa bengis dari kerajaan alam duniawi, memutuskan untuk menggagalkan tekad Gotama yang begitu beraninya mencoba keluar dari cakupan kekuasaannya. Dengan demikian, pada senja hari itu, pertempuran sengit terjadi antara Gotama, Sang Bodhisatta dan Mara. Dengan pasukannya yang besar, Mara merangsak maju dan mengurung Sang Bodhisatta dari semua sisi.

Pelbagai kekuatan dari pasukan jahatnya, yang masing – masing berkekuatan gaib luar biasa, berubah bentuk menjadi makhluk yang jahat dan keji yang menyerang Sang Makhluk Agung, Mahasatta. Mara mengetahui bahwa jika Gotama dibiarkan keluar dari jaring rengkuhannya yang luas, tidak saja Ia akan terbebaskan, namun Ia kelak juga akan membebaskan makhluk lain yang tak terhitung. Oleh karena itu, Mara memerintahkan pasukannya untuk menyerang. Mara sendiri kemudian berubah bentuk menjadi makhluk keji yang menebarkan rasa takut, dengan seribu lengan yang masing – masing mengayun – ayunkan senjata yang mematikan. Dengan menunggangi gajah buas Girimekhala, Mara menyerang untuk menggoyahkan pikiran Gotama yang tentram yang tetap berdiam dalam meditasi yang mendalam.

Mara mengubah seluruh hutan menjadi gelap gulita dan melancarkan petir demi petir untuk manakut nakuti Putra Mahkota Sakya itu. Mara juga menimbulkan badai dan angin topan serta hujan es yang di selingi dengan hujan air panas. Kemudian Mara mengguyurkan debu panas, pasir panas, kerikil dan batu panas.

Mara menghembuskan angin ribut yang begitu dahsyat seolah akan mencabut seisi hutan itu, diikuti hempasan angin kencang yang berbau busuk dan beracun. Dengan ratusan cara, Mara berusaha untuk menggoyahkan Siddhatha Gotama.

Dari langit yang terbelah, Mara mengirimkan wanita – wanita yang melayang mempesona yang membisik menggoda, mencoba memberi rangsangan pada Yang Suci dengan tipu muslihat yang jalang. Mara kemudian mengirimkan putri – putrinya yang berusaha mengolok – olok usaha mulia Gotama sehingga tampak sia –sia. Mara sendiri menawarkan untuk menobatkan Gotama sebagai penguasa dunia dengan kekuasaan dan kesenangan tanpa batas, seandainya Ia mau menghentikan usaha-Nya. Sang Bodhisatta, dengan keyakinan diri yang tak terkalahkan dan dengan ketenangan diri yang luar biasa, tidak mengindahkan Mara dan tetap meneruskan usaha-Nya untuk mengembangkan berbagai tahapan meditasi.

Dalam usaha akhir-Nya untuk menundukan makhluk keji yang berkutat untuk bertahan ini, Beliau akhirnya membangkitkan kekuatan yang tiada bandingnya dari simpanan kebaikan spiritual yang tiada habisnya yang terlahir dari seluruh parami, Seraya menyentuh tanah dengan jari tengah-Nya, Beliau memanggil bumi sendiri sebagai saksi atas tindakan – tindakan gagah berani yang telah dilakukan-Nya sepanjang masa yang sangat lama untuk memenuhi parami yang agung. Begitu hebatnya kekuatan tindakan-Nya ini, sampai bumi, pelbagai benda langit, serta segenap alam semesta, berguncang dalam penghormatan pada anugrah yang tiada taranya dari calon Buddha ini. Hal ini begitu menakuti Mara, sehingga ia pergi tunggang langgang dengan pasukannya yang tercerai berai. Pada saat itu juga, terjadi kesejajaran antara bulan purnama yang tengah menyingsing di ufuk timur dengan bulatan merah matahari yang tengah terbenam di ufuk barat.

Dalam naskah suci digambarkan bagaimana setelah itu, Sang Guru Agung mengembangkan pelbagai pandangan terang adiduniawi dan akhirnya menjadi Pemenang Agung, Sang Buddha! Sesudahnya Beliau melewatkan masa tujuh minggu mengerahkan kekuatan mulia yang dimiliki oleh Yang Membebaskan Diri Sendiri ( Sayambhu ), Yang Mahatahu ( Sabbannu ) dan Yang Tercerahkan Sempurna dengan upaya sendiri ( Sammasambuddha ). Selama tujuh minggu berturut – turut, Sang Buddha tetap berada dalam samadhi, menikmati kebahagiaan pembebasan abadi. Ungkapan pertama-Nya setelah mengalahkan Mara adalah seperti ini : “Terbuka sudah gerbang menuju keabadian. Semoga mereka yang dapat mendengar meyakininya!”

%d bloggers like this: