Mukjizat Kembar di Bawah Pohon Mangga

A. Pindola Bharadvaja Mempertunjukkan Suatu Mukjizat.

Seorang bendahara dari Rajagaha pergi ke Sungai Gangga untuk melakukan olah raga di air. Agar tidak terhanyut, dia menyimpan pakaian dan perhiasannya di dalam sebuah keranjang rotan. Sementara itu sepotong akar pohon cendana merah yang tumbuh di tepi Sungai Gangga terjatuh ke dalam sungai. Karena benturan batu-batu di dasar sungai, potongan akar itu patah menjadi potongan-potongan kecil dan potongan akar sebesar guci air itu menjadi bulat dan halus karena benturan batu dan terkikis oleh arus air sungai. Potongan akar kayu ini terbawa arus dan tersangkut pada keranjang rotan milik Sang Bendahara.

“Apa ini?” tanya Sang Bendahara.

“Bagian dari sebatang pohon,” kata temannya.

Sang Bendahara memerintahkan untuk membawa potongan akar kayu tersebut kepadanya.

“Jenis kayu apa ini?” pikir Sang Bendahara.

Untuk mengetahuinya, dia membelahnya dengan kapak dan menemukan bahwa potongan akar itu adalah potongan akar pohon cendana yang berwarna merah. Dia lalu berpikir :
“Di rumah saya memiliki banyak kayu cendana merah, apa yang akan saya perbuat dengan potongan kayu ini?”

Kemudian muncul dalam pikirannya :
“Banyak orang yang hidup di dunia ini berkata : ‘Kami adalah para Arahat, kami adalah para Arahat,’ tetapi saya tidak mengenal seorang Arahatpun.”

“Saya akan menggunakan mesin pemotong kayu untuk membuat sebuah mangkuk dan mangkuk ini akan saya gantungkan di udara dengan seutas tali yang terbuat dari sambungan bambu dengan ketinggian enam puluh cubit (30 meter) dari tanah.”

“Kemudian akan saya buat pernyataan : bila memang ada seorang Arahat, silakan Beliau melayang ke udara dan mengambil mangkuk tersebut.”

“Bila ada yang berhasil mengambil mangkuk tersebut, saya akan menjadi muridnya, demikian juga anak dan isteri saya.”

Demikian dia membalikkan mangkuk tersebut dan menggantungkannya pada tali bambu dan membuat pernyataan :
“Bila di dunia ini ada seseorang yang telah menjadi Arahat, silakan terbang ke udara dan mengambil mangkuk itu.”

Keenam guru pertapa seperti Purana Kassapa dan Makkhali Gosala, berkali-kali meminta mangkuk tersebut, namun Sang Bendahara berkata bahwa siapapun di antara mereka dapat mengambilnya melalui udara. Pada hari keenam, Nigantha Nathaputta mengutus beberapa orang muridnya untuk meminta mangkuk tersebut dari Sang Bendahara. Para murid ini memberitahu Sang Bendahara bahwa guru mereka tidak perlu melayang ke udara untuk hal sepele seperti mengambil sebuah mangkuk, seharusnya mangkuk tersebut diserahkan kepada guru mereka karena dialah yang berhak. Sang Bendahara tetap memberikan jawaban yang sama seperti sebelumnya. Nigantha Nathaputta kemudian memberitahu murid-muridnya suatu rencana untuk mengambil mangkuk tersebut. Ia akan mencoba terbang ke udara dengan mengangkat sebelah tangan dan kakinya dan para muridnya harus memohon agar ia tidak perlu terbang ke udara untuk hal sepele seperti itu dan para murid harus berusaha mencegahnya melakukan hal tersebut. Sesuai rencana, ia pergi ke tempat mangkuk tersebut dan mengangkat tangan dan kakinya dengan maksud untuk terbang ke udara, namun dia dicegah sesuai dengan rencana dan ia turun kembali. Ia menemui Sang Bendahara dan meminta mangkuk tersebut, namun ia menerima jawaban yang sama seperti sebelumnya. Demikianlah para pertapa mencoba selama enam hari untuk mendapatkan mangkuk tersebut, namun mereka tidak berhasil.

Pada hari ketujuh Yang Mulia Moggallana dan Yang Mulia Pindolabharadvaja sedang keluar untuk berpindapata di Rajagaha, mereka berdiri di atas sebuah batu karang datar dan mulai memakai jubah mereka. Sekelompok orang memulai percakapan :
“Saudara, ada enam orang guru yang biasanya mengaku sebagai para Arahat, namun ketika Sang Bendahara dari Rajagaha tujuh hari yang lalu menggantungkan sebuah mangkuk dan berkata bahwa bila memang ada seorang Arahat, silakan terbang ke udara dan mengambil mangkuk tersebut, tidak seorangpun di antara orang-orang yang mengaku sebagai Arahat tersebut yang dapat terbang ke udara. Hari ini kita dapat mengetahui dengan pasti bahwa di dunia ini tidak ada Arahat.”

Mendengar percakapan ini, Yang Mulia Moggallana berkata kepada Yang Mulia Pindolabharadvaja :
“Saudara, Anda telah mendengar percakapan orang-orang itu, mereka berbicara seolah-olah menantang Ajaran Sang Buddha.”

“Karena Anda memiliki kemampuan batin yang tinggi, kemampuan supranatural yang hebat, terbanglah ke udara dan ambil mangkuk tersebut.”

“Saudara Moggallana, Andalah yang terkenal sebagai yang paling hebat di antara yang memiliki kemampuan batin, ambillah mangkuk tersebut, bila Anda tidak mengambilnya, Saya yang akan mengambilnya.”

Yang Mulia Moggallana menjawab :
“Silakan saudara.”

Demikianlah Yang Mulia Pindolabharadvaja memasuki keadaan kemampuan supranatural, ia melingkari batu karang datar seluas 3 mil dengan ujung kakinya dan mengangkatnya ke atas dengan mudah, semudah mengangkat kapas sutera, kemudian Ia berjalan tujuh kali mengelilingi kota Rajagaha.

Sekarang kota Rajagaha luasnya persis 3 mil dan batu karang tersebut nampak menutupi kota. Penduduk kota berpikir :
“Batu tersebut akan jatuh dan menimpa kita,” dan dengan ketakutan mereka memakai nyiru di atas kepala mereka dan bersembunyi. Kemudian untuk ketujuh kalinya Yang Mulia Pindolabharadvaja mengelilingi kota, meminggirkan batu karang tersebut dan Beliau lalu menampakkan diri di hadapan penduduk. Ketika penduduk melihatNya, mereka berseru :
“Yang Mulia Pindolabharadvaja, tahanlah batu tersebut, janganlah menghancurkan kami.”

Lalu Yang Mulia Pindolabharadvaja menendang batu tersebut kembali ke tempatnya semula, kemudian Beliau berdiri di atas rumah Sang Bendahara. Ketika Sang Bendahara melihatNya, ia lalu bernamaskara dan berkata :
“Yang Mulia, silakan turun.”

Setelah Yang Mulia Pindolabharadvaja turun, Sang Bendahara menyediakan tempat duduk, menurunkan mangkuknya dan mengisinya dengan empat macam minuman manis dan memberikannya kepada Yang Mulia Pindolabharadvaja. Beliau lalu mengambil mangkukNya dan berjalan menuju vihara. Para penduduk yang tidak dapat menyaksikan mukjizat tersebut karena sedang berada di hutan atau di desa, berkumpul dan mulai mengikuti Yang Mulia Pindolabharadvaja dan berkata kepada Beliau :
“Yang Mulia, tunjukkanlah mukjizat kepada kami.”

Yang Mulia Pindolabharadvaja mengulangi mukjizat tersebut dan setelah itu melanjutkan perjalanannya ke vihara.

Sang Buddha mendengar suara penduduk yang ramai bertepuk tangan, Beliau bertanya kepada Yang Mulia Ananda :
“Ananda, kepada siapakah mereka sedang bertepuk tangan?”

Yang Mulia Ananda menjawab :
“Pindolabharadvaja telah terbang ke udara dan mengambil mangkuk yang terbuat dari kayu cendana merah dan penduduk bertepuk tangan untuknya.”

Sang Buddha lalu memanggil Yang Mulia Pindolabharadvaja untuk menghadap dan berkata :
“Apakah benar Engkau telah melakukan seperti yang telah dilaporkan?”

“Benar, Yang Mulia.”

“Bharadvaja, mengapa Engkau melakukan hal ini?”

Sang Buddha lalu menegurnya dan menyuruhnya memecahkan mangkuk tersebut menjadi potongan-potongan kecil dan menyuruhnya menyerahkan potongan-potongan kayu tersebut kepada para bhikkhu untuk digiling dan dijadikan bubuk kayu cendana. Kemudian Sang Buddha menetapkan peraturan yang melarang para bhikkhu mempraktekkan kekuatan supranatural untuk tujuan-tujuan seperti itu di masa yang akan datang.

B. Sang Buddha Berjanji Akan Mempertunjukkan Suatu Mukjizat.

Ketika para pertapa mendengar sikap Sang Buddha terhadap kejadian pengambilan mangkuk oleh Yang Mulia Pindolabharadvaja, mereka mengira Sang Buddha juga mematuhi peraturan yang telah Beliau tetapkan. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak mempertunjukkan mukjizat sepele seperti pengambilan mangkuk, tetapi mereka telah siap untuk menunjukkan mukjizat-mukjizat untuk menandingi Sang Buddha.

Raja Bimbisara segera menemui Sang Buddha dan mendiskusikan pertanyaan tentang pertunjukan kemampuan batin oleh Sang Buddha dan para bhikkhu. Sang Buddha lalu berjanji bahwa Beliau sendiri akan mempertunjukkan suatu mukjizat dan mengatakan kepada Raja Bimbisara bahwa Beliau mempunyai hak untuk melakukan hal tersebut. Sang Buddha menjelaskan bahwa meskipun Beliau melarang para bhikkhu untuk mempertunjukkan kemampuan batin, namun peraturan tersebut tidak berlaku bagi Sang Buddha. Sama seperti raja dapat memakan buah mangga dari kebunnya sendiri, tapi akan menghukum siapapun yang mengambil mangga tersebut.

Pada akhir diskusi, Sang Buddha berkata bahwa Beliau akan mempertunjukkan mukjizat-mukjizat pada bulan purnama di bulan Asadha, empat bulan kemudian, di tempat para Buddha di masa lampau mempertunjukkan kemampuan batin mereka. Mendengar perkataan tersebut, para pertapa berpikir bahwa mereka telah kalah, dan mereka membuntuti Sang Buddha dan berkata bahwa sang Buddha berusaha menghindar dari mereka.

Pada waktunya, Sang Buddha tiba di Savatthi, demikian pula para pertapa. Para pertapa mengumpulkan dana dari para pengikutnya dan mendirikan paviliun dengan pilar-pilar dari kayu akasia dan ditutupi dengan bunga teratai. Setelah itu mereka duduk dan berkata :
“Di sini kami akan mempertunjukkan mukjizat.”

Ketika Raja Pasenadi Kosala mendengar tentang pembangunan paviliun, ia menawarkan untuk membangun sebuah paviliun untuk Sang Buddha, namun Sang Buddha menolaknya, karena Raja Sakka, Raja Para Dewa telah berjanji akan membangun sebuah paviliun untuk Sang Buddha. Ketika Sang Guru Agung ditanya di manakah tepatnya tempat untuk mempertunjukkan mukjizat-mukjizat tersebut, Sang Buddha berkata bahwa tempatnya adalah di bawah pohon mangga Ganda.

Ketika para pertapa mendengar bahwa Sang Buddha akan mempertunjukkan mukjizat Beliau di bawah sebuah pohon mangga, mereka langsung mencabut sampai ke akar-akarnya semua pohon mangga yang tumbuh di tempat itu, mereka bahkan mencabuti pohon mangga yang baru tumbuh sehari dan membuangnya ke hutan.

C. Mukjizat-mukjizat Awal.

Pada saat bulan purnama di bulan Asadha, Sang Buddha memasuki kota. Pada hari yang sama, tukang kebun raja bernama Ganda, melihat sebuah mangga yang telah ranum di dalam sebuah keranjang daun yang dibuat oleh semut-semut merah, dan setelah mengusir burung gagak yang berkerubung karena tertarik akan wanginya, Ganda memetik mangga itu dan bermaksud membawanya kepada raja. Namun ketika melihat Sang Buddha di dalam perjalanan, ia lalu berpikir :
“Bila raja memakan buah mangga ini, ia mungkin akan memberi saya delapan atau enam belas keping uang, dan itu tidak akan cukup untuk membuat saya hidup selama satu kehidupan, namun bila saya berikan mangga ini kepada Sang Guru, maka saya akan memperoleh keselamatan untuk waktu yang tak terbatas.”

Kemudian, ia mempersembahkan mangga itu kepada Sang Buddha.

Sang Buddha melihat kepada Yang Mulia Ananda, yang kemudian membuka pembungkus bingkisan yang sedianya akan diserahkan kepada raja, dan meletakkan buah mangga itu di tangan Sang Buddha. Sang Guru Agung lalu mengambil mangkukNya, menerima mangga itu dan mengatakan akan duduk di tempat tersebut. Yang Mulia Ananda membentangkan jubah dan menyiapkan tempat duduk. Ketika Sang Buddha telah duduk, Yang Mulia Ananda menuang air, memeras mangga yang ranum itu, membuat sari buah mangga dan mempersembahkannya kepada Sang Buddha. Setalah Sang Buddha meminum sari buah mangga tersebut, Beliau berkata kepada Ganda :
“Galilah tanah di tempat ini dan tanamlah biji mangga ini.”

Tukang kebun itu lalu melaksanakan seperti apa yang dikatakan oleh Sang Buddha.

Sang Buddha kemudian mencuci tangan Beliau di atas tempat di mana biji mangga itu ditanam. Pada saat Beliau selesai mencuci tangan, tumbuhlah sebuah pohon mangga. Segeralah pohon mangga itu penuh dengan bunga dan buah. Ketika raja mendengar bahwa sebuah pohon mangga telah tumbuh secara ajaib, beliau memerintahkan bahwa tidak seorangpun boleh menebangnya dan menempatkan penjagaan. Karena pohon mangga itu telah ditanam oleh tukang kebun yang bernama Ganda, maka pohon mangga itu dikenal dengan nama Pohon Mangga Ganda. Pohon mangga ini menghasilkan cukup banyak buah mangga untuk dinikmati penduduk. Mereka menikmati buahnya yang ranum dan melemparkan biji-bijinya kepada para pertapa yang telah mencabuti semua pohon mangga yang tumbuh di kota itu.

Raja Sakka, Raja Para Dewa memerintahkan Dewa Awan Angin :
“Cabut paviliun para pertapa dan lemparkan ke kolam penampungan limbah.”

Dewa Awan Angin melaksanakan perintah Raja Sakka. Kemudian Raja Sakka memerintahkan Dewa Matahari :
“Perhatikan lintasan matahari dan sengat mereka dengan panas matahari,”

Dewa Sakka kemudian memerintahkan kepada Dewa Awan Angin :
“Siapkan kereta angin dan luncurkan.”

Kejadian ini membuat tubuh para pertapa berkeringat dan Dewa Awan Angin menaburi mereka dengan hujan debu hingga mereka kelihatan seperti semut-semut merah. Dewa Sakka kemudian menyuruh Dewa Awan Angin :
“Turunkan hujan lebat yang tak terhingga banyaknya.”

Dewa Awan Angin melaksanakannya, sehingga para pertapa itu kelihatan seperti sapi-sapi kudisan. Dengan tanpa pakaian mereka terpontang-panting melarikan diri.

Sementara para pertapa melarikan diri, seorang petani yang merupakan pendukung Purana Kassapa berpikir :
“Besok adalah hari di mana para guru mulia akan mempertunjukkan mukjizat mereka. Saya harus pergi menyaksikan mukjizat tersebut.”

Setelah melepas kerbaunya, dengan membawa seutas tali, semangkuk sup yang telah dibelinya pagi itu, ia pulang ke rumahnya. Ketika ia bertemu dengan Purana yang sedang melarikan diri, ia berkata kepadanya :
“Yang Mulia, saya pikir saya akan pergi menyaksikan para guru yang mulia mempertunjukkan mukjizat mereka. Ke manakah engkau akan pergi?”

Purana bertanya :
“Mengapa engkau harus menyaksikan suatu mukjizat? Berikan tempat air dan tali itu kepadaku.”

Petani itu memberikannya. Purana membawa tempat air dan tali itu ke tepi sungai, ia mengikat tali pada tempat air, kemudian diikatkan ke lehernya, lalu menjatuhkan dirinya ke dalam sungai. Terdengar bunyi percikan air, Purana meninggal dan terlahir di neraka Avici.

Sang Buddha menciptakan suatu lintasan berhiaskan permata di udara untuk mempertunjukkan mukjizat-mukjizat dan banyak orang berkumpul di sana. Para murid Sang Buddha ingin membantu Beliau dengan menawarkan diri untuk mempertunjukkan mukjizat-mukjizat. Sang Buddha menolak tawaran mereka dan menyatakan bahwa Beliau harus menunaikan tugas Beliau sendiri.

D. Sang Buddha Mempertunjukkan Mukjizat Kembar.

Sambil berjalan bolak-balik sepanjang lintasan berhiaskan permata, Sang Buddha membabarkan Dhamma kepada penduduk dan pada saat yang bersamaan Beliau memancarkan nyala api dan semburan air dari pori-pori di seluruh tubuh Beliau. Karena melihat bahwa di antara sekian banyak orang, tidak seorangpun selain Beliau sendiri yang dapat mengerti pikiran Beliau dan dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Beliau, Sang Buddha lalu mempertunjukkan kekuatan supranaturalNya, dan menciptakan kembaran Beliau sendiri. Kembaran Sang Buddha tersebut mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan Sang Buddha menjawabnya. Bila kembaran Beliau duduk, Sang Buddha berdiri dan Beliau berdiri bila kembaran Beliau duduk.

Demikianlah Sang Buddha membabarkan Dhamma dan mempertunjukkan muljizat-mukjizat, sehingga banyak orang memperoleh pengertian yang jelas tentang Dhamma Yang Mulia.

Advertisements

Fakta Kehidupan

Keuntungan Dan Kerugian

 

Pengusaha, sesuai hukumnya akan mengalami baik keuntungan maupun kerugian. Adalah hal yang wajar bahwa seorang akan merasa puas diri ketika ia memperoleh keuntungan. Dalam hal ini tidak ada yang salah. Keuntungan baik legal maupun illegal menghasilkan kenikmatan dalam jumlah tertentu yang di cari oleh manusia biasa.

 

Masalah akan timbul jika kerugian terjadi. Keuntungan diterima dengan gembira, tapi tidak demikian halnya dengan kerugian. Kerugian sering menyebabkan penderitaan batin dan kadang kala usaha bunuh diri dilakukan karena kerugian yang tidak tertanggulangi. Dalam situasi yang berlawanan inilah, seseorang hendaknya menunjukan keberanian moral yang tinggi dan mempertahankan keseimbangan batin yang baik. Kita semua pernah mengalami jatuh dan bangun dalam perjuangan hidup. Seseorang hendaknya menyiapkan diri menghadapi yang baik maupun yang buruk, sehingga ia tidak akan terlalu kecewa.

 

Ketika sesuatu dicuri, orang umumnya merasa sedih. Tetapi dengan merasa sedih, ia tidak akan dapat mengganti kehilangannya. Ia hendaknya menerima kehilangan itu secara filosofis. Hendaknya ia memiliki sikap yang murah hati dengan berpikir “ Si pencuri lebih membutuhkan barang tersebut daripada saya, semoga ia berbahagia.”

 

Pada masa Sang Buddha hidup, seorang wanita bangsawanmempersembahkan makanan kepada Yang Ariya Sariputra dan beberapa orang bhikkhu. Ketika melayani mereka, ia menerima pesan yang menyatakan bahwa suatu musibah telah terjadi pada keluarganya. Tanpa menjadi cemas, dengan tenang ia menaruh pesan itu dalam kantung di pinggangnya dan melayani para bhikkhu seolah – olah tidak ada yang terjadi. Seorang pelayannya yang membawa guci berisi mentega untuk dipersembahkan kepada para bhikkhu, secara tidak sengaja tergelincir dan memecahkan guci yang dibawanya. Mengira bahwa sang wanita akan merasa sedih karenanya, Yang Ariya Sariputra menghiburnya dengan berkata bahwa segala sesuatu yang dapat pecah suatu saat pasti akan pecah. Sang wanita berkata,” Bhante, apalah artinya kehilangan yang tidak berarti ini? Saya baru saja menerima pesan yang menyatakan suatu musibah telah menimpa keluarga saya. Saya menerima hal itu tanpa kehilangan keseimbangan batin saya. Saya melayani anda semua walaupun ada berita buruk tersebut.”

 

Ketabahan seperti ini yang dimiliki wanita tersebut sungguh sangat terpuji

 

Suatu saat Sang Buddha pergi mencari sedekah di suatu desa, karena campur tangan Mara, Sang Buddha tidak memperoleh makanan. Ketika Mara menanyakan apakah Sang Buddha merasa lapar, Sang Buddha dengan agung menerangkan sikap mental mereka yang telah terbebas dari kekotoran batin, dan menjawab,” Ah, betapa bahagianya kita yang hidup terbebas dari kekotoran batin. Sebagai pemberi kebahagiaan, kita bahkan dapat disamakan dengan para dewa di alam cahaya.”

 

Pada kesempatan lain, Sang Buddha dan para muridnya berdiam selama musim hujan di suatu desa atas undangan seorang brahmana yang ternyata benar – benar lupa akan tugasnya untuk memenuhi kebutuhan Sang Buddha dan Sangha. Selama tiga bulan walaupun Yang Ariya Moggallana rela berkorban untuk mendapatkan makanan dengan kekuatan batinnya, Sang Buddha tidak mengeluh dan merasa puas atas rumput makanan kuda yang diberikan oleh seorang penjual kuda.

 

Seseorang yang tidak beruntung harus berusaha untuk menerima kenyataan secara jantan. Ia harus menghadapinya dengan ketenangan (upekkha) dan memandangnya sebagai suatu kesempatan untuk menumbuhkan kebajikan yang mulia.

 

 

Kegembiraan Dan Kesedihan

 

Kebahagiaan dan kesedihan adalah pasangan berlawanan, merekalah factor terkuat yang mempengaruhi umat manusia.

Kegembiraan yang umum adalah terpenuhinya suatu keinginan. Segera sesudah benda yang kita inginkan dapat diperoleh, kita menginginkan kebahagiaan yang lain lagi. Betapa tidak pernah puasnya nafsu kita yang mementingkan diri sendiri.

 

 

Menikmati kesengan berdasarkan hawa nafsu adalah kebahagiaan tertinggi dan satu – satunya bagi manusia biasa. Ada saat – saat membahagiakan pada saat mengharapkan, terpenuhinya, dan mengenang kenikmatan material tersebut. Jenis kegembiraan  ini sangat berharga bagi orang yang terikat pada hawa nafsunya, tetapi kegembiraan ini hanyalah tipuan dan sementara saja.

 

Dapatkah harta benda memberikan kebahagiaan sejati? Jika demikian, seorang milyuner tidak akan merasa frustasi akan kehidupannya. Di Negara – Negara tertentu yang telah mencapai kemajuan materi, begitu banyak orang menderita penyakit mental. Mengapa hal ini terjadi jika harta benda saja dapat memberikan kebahagiaan?

 

Dapatkah kekuasaan akan seluruh dunia mengasilkan kebahagiaan yang sesungguhnya? Alexander Agung, yang dengan penuh kemenangan berbaris menuju India, menaklukan daerah –daerah di sepanjang perjalanannya, menarik nafas panjang karena tidak ada lagi daerah di bumi yang bias dikuasai.

 

Jika harta benda diperoleh dengan paksa atau secara tidak adil atau di salahgunakan, atau bahkan di pandang dengan kemelekatan, mereka akan menjadi sumber penyakit dan kesedihan bagi pemiliknya.

Apa yang menggembirakan bagi seseorang mungkin bukanlah kegembiraan bagi orang lain. Apa yang menjadi makanan dan minuman bagi seseorang mungkin merupakan racun bagi orang lain.

 

Sang Buddha menyebutkan empat jenis kebahagiaan bagi umat awam yaitu :

Kegembiraan karena memiliki ( atthi sukha ) : kesehatan, kekayaan, panjang umur, kecantikan, kegembiraan, kekuatan, harta benda, anak dan sebagainya.

 

Sumber kedua dari kebahagiaan berasal dari kenikmatan karena memiliki hal – hal tersebut ( bhoga sukha ).

Laki – laki dan wanita biasa dapat menikmati kebahagiaan tersebut. Sang Buddha tidak menasihatkan semua orang untuk meninggalkan kesenangan duniawi dan hidup dalam kesunyian.

 

Kenikmatan akan kekayaan tidak hanya terletak pada penggunaannya untuk diri sendiri tetapi juga dalam memberikannya untuk kesejahteraan orang lain. Apa yang kita makan hanyalah bersifat sementara.. apa yang kita pelihara akan kita tinggalkan.. apa yang kita berikan akan kita bawa . Kita akan diingat selamanya karena perbuatan baik yang kita lakukan dengan harta benda kita.

 

Tidak terjerat hutang ( anana sukha ) adalah sumber kebahagiaan yang lain, jika kita puas dengan apa yang kita miliki dan jika kita hidup hemat, kita tidak akan berhutang. Orang yang berhutang hidup dalam rasa tertekan dan selalu dalam kewajibannya kepada kreditur, walaupun miskin, ketika terbebas dari hutang, kita akan merasa lega dan bahagia.

 

Menjalani hidup yang bebas dari tuduhan ( anavajja sukha ) adalah satu dari sumber – sumber kebahagiaan terbaik dari umat awam. Orang yang tidak tercela adalah berkat bagi dirinya dan bagi orang lain. Ia dikagumi oleh semua orang dan merasa lebih bahagia, karena di pengaruhi getaran kedamaian dari orang lain. Bagaimanapun harus dinyatakan bahwa sangatlah sulit untuk memperoleh pandangan yang baik dari semua orang. Orang yang berpikiran mulia hanya peduli akan kehidupan yang tak tercela dan tidak peduli kepada tanggapan orang lain.

 

Kebahagiaan kita terima, tetapi tidak untuk kesedihan yang lebih sulit untuk ditahan. Kesedihan atau penderitaan dating dalam berbagai bentuk. Kita menderita ketika kita mengalami usia tua, yang sebenarnya merupakan hal yang wajar, dengan ketenangan kita harus menahan penderitaan karena usia tua.

 

Lebih menyakitkan daripada penderitaan karena usia tua adalah penderitaan yang di sebabkan oleh penyakit. Bahkan sakit gigi yang teringan atau sakit kepala terkadang sulit untuk ditahan. Ketika kita menderita penyakit, tanpa menjadi khawatir hendaknya kita dapat menahannya, betapapun sakitnya. Kita harus mengibur diri sendiri dengan berpikir bahwa kita telah lolos dari pneyakit lain yang lebih parah.

 

Seringkali kita berpisah dengan orang yang dekat dan kita sayangi, perpisahan ini menyebabkan perasaan kita sakit. Kita hendaknya menyadari bahwa segala pertemuan harus berakhir dengan perpisahan. Inilah kesempatan yang baik untuk melatih ketenangan.

 

Kadangkala kita dipaksa berada dengan orang yang kita benci, kita hendaknya berusaha bertahan, mungkin karma kita yang sekarang atau yang lalu sedang berbuah. Kita hendaknya mencoba menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru atau mencoba mengatasi rintangan tersebut dengan cara – cara lain.

 

Ketika seorang ibu ditanya mengapa ia tidak menangisi kematian tragis dari putra tunggalnya, ia menjawab : “Tanpa diundang ia dating, tanpa diberitahu ia pergi. Ia dating seperti ia pergi. Mengapa kita harus menangis? Apakah gunanya menangis?”

 

Bagaikan buah yang jatuh dari pohon – muda – masak –atau tua – demikianlah kita meninggal semasa bayi, remaja atau dalam usia tua.

Matahari terbit dari timur hanya untuk terbenam di barat.

Bunga mekar di pagi hari untuk layu di sore hari.

 

Kematian yang tidak terhindarkan menimpa kita semua tanpa kecuali, kita harus menghadapinya dengan ketenangan yang sempurna.

Bagaikan tanah, apapun yang dilemparkan kepadanya, baik manis atau kotor tanpa mempedulikannya ia tidak menunjukkan baik kebencian maupun rasa suka. Demikianlah ia yang baik atau buruk, pikirannya harus selalu seimbang.

 

Sang Buddha bersabda” Ketika tersentuh oleh kondisi duniawi, pikiran dari seorang arahat tidak pernah terpengaruh”