Fakta Kehidupan

Keuntungan Dan Kerugian

 

Pengusaha, sesuai hukumnya akan mengalami baik keuntungan maupun kerugian. Adalah hal yang wajar bahwa seorang akan merasa puas diri ketika ia memperoleh keuntungan. Dalam hal ini tidak ada yang salah. Keuntungan baik legal maupun illegal menghasilkan kenikmatan dalam jumlah tertentu yang di cari oleh manusia biasa.

 

Masalah akan timbul jika kerugian terjadi. Keuntungan diterima dengan gembira, tapi tidak demikian halnya dengan kerugian. Kerugian sering menyebabkan penderitaan batin dan kadang kala usaha bunuh diri dilakukan karena kerugian yang tidak tertanggulangi. Dalam situasi yang berlawanan inilah, seseorang hendaknya menunjukan keberanian moral yang tinggi dan mempertahankan keseimbangan batin yang baik. Kita semua pernah mengalami jatuh dan bangun dalam perjuangan hidup. Seseorang hendaknya menyiapkan diri menghadapi yang baik maupun yang buruk, sehingga ia tidak akan terlalu kecewa.

 

Ketika sesuatu dicuri, orang umumnya merasa sedih. Tetapi dengan merasa sedih, ia tidak akan dapat mengganti kehilangannya. Ia hendaknya menerima kehilangan itu secara filosofis. Hendaknya ia memiliki sikap yang murah hati dengan berpikir “ Si pencuri lebih membutuhkan barang tersebut daripada saya, semoga ia berbahagia.”

 

Pada masa Sang Buddha hidup, seorang wanita bangsawanmempersembahkan makanan kepada Yang Ariya Sariputra dan beberapa orang bhikkhu. Ketika melayani mereka, ia menerima pesan yang menyatakan bahwa suatu musibah telah terjadi pada keluarganya. Tanpa menjadi cemas, dengan tenang ia menaruh pesan itu dalam kantung di pinggangnya dan melayani para bhikkhu seolah – olah tidak ada yang terjadi. Seorang pelayannya yang membawa guci berisi mentega untuk dipersembahkan kepada para bhikkhu, secara tidak sengaja tergelincir dan memecahkan guci yang dibawanya. Mengira bahwa sang wanita akan merasa sedih karenanya, Yang Ariya Sariputra menghiburnya dengan berkata bahwa segala sesuatu yang dapat pecah suatu saat pasti akan pecah. Sang wanita berkata,” Bhante, apalah artinya kehilangan yang tidak berarti ini? Saya baru saja menerima pesan yang menyatakan suatu musibah telah menimpa keluarga saya. Saya menerima hal itu tanpa kehilangan keseimbangan batin saya. Saya melayani anda semua walaupun ada berita buruk tersebut.”

 

Ketabahan seperti ini yang dimiliki wanita tersebut sungguh sangat terpuji

 

Suatu saat Sang Buddha pergi mencari sedekah di suatu desa, karena campur tangan Mara, Sang Buddha tidak memperoleh makanan. Ketika Mara menanyakan apakah Sang Buddha merasa lapar, Sang Buddha dengan agung menerangkan sikap mental mereka yang telah terbebas dari kekotoran batin, dan menjawab,” Ah, betapa bahagianya kita yang hidup terbebas dari kekotoran batin. Sebagai pemberi kebahagiaan, kita bahkan dapat disamakan dengan para dewa di alam cahaya.”

 

Pada kesempatan lain, Sang Buddha dan para muridnya berdiam selama musim hujan di suatu desa atas undangan seorang brahmana yang ternyata benar – benar lupa akan tugasnya untuk memenuhi kebutuhan Sang Buddha dan Sangha. Selama tiga bulan walaupun Yang Ariya Moggallana rela berkorban untuk mendapatkan makanan dengan kekuatan batinnya, Sang Buddha tidak mengeluh dan merasa puas atas rumput makanan kuda yang diberikan oleh seorang penjual kuda.

 

Seseorang yang tidak beruntung harus berusaha untuk menerima kenyataan secara jantan. Ia harus menghadapinya dengan ketenangan (upekkha) dan memandangnya sebagai suatu kesempatan untuk menumbuhkan kebajikan yang mulia.

 

 

Kegembiraan Dan Kesedihan

 

Kebahagiaan dan kesedihan adalah pasangan berlawanan, merekalah factor terkuat yang mempengaruhi umat manusia.

Kegembiraan yang umum adalah terpenuhinya suatu keinginan. Segera sesudah benda yang kita inginkan dapat diperoleh, kita menginginkan kebahagiaan yang lain lagi. Betapa tidak pernah puasnya nafsu kita yang mementingkan diri sendiri.

 

 

Menikmati kesengan berdasarkan hawa nafsu adalah kebahagiaan tertinggi dan satu – satunya bagi manusia biasa. Ada saat – saat membahagiakan pada saat mengharapkan, terpenuhinya, dan mengenang kenikmatan material tersebut. Jenis kegembiraan  ini sangat berharga bagi orang yang terikat pada hawa nafsunya, tetapi kegembiraan ini hanyalah tipuan dan sementara saja.

 

Dapatkah harta benda memberikan kebahagiaan sejati? Jika demikian, seorang milyuner tidak akan merasa frustasi akan kehidupannya. Di Negara – Negara tertentu yang telah mencapai kemajuan materi, begitu banyak orang menderita penyakit mental. Mengapa hal ini terjadi jika harta benda saja dapat memberikan kebahagiaan?

 

Dapatkah kekuasaan akan seluruh dunia mengasilkan kebahagiaan yang sesungguhnya? Alexander Agung, yang dengan penuh kemenangan berbaris menuju India, menaklukan daerah –daerah di sepanjang perjalanannya, menarik nafas panjang karena tidak ada lagi daerah di bumi yang bias dikuasai.

 

Jika harta benda diperoleh dengan paksa atau secara tidak adil atau di salahgunakan, atau bahkan di pandang dengan kemelekatan, mereka akan menjadi sumber penyakit dan kesedihan bagi pemiliknya.

Apa yang menggembirakan bagi seseorang mungkin bukanlah kegembiraan bagi orang lain. Apa yang menjadi makanan dan minuman bagi seseorang mungkin merupakan racun bagi orang lain.

 

Sang Buddha menyebutkan empat jenis kebahagiaan bagi umat awam yaitu :

Kegembiraan karena memiliki ( atthi sukha ) : kesehatan, kekayaan, panjang umur, kecantikan, kegembiraan, kekuatan, harta benda, anak dan sebagainya.

 

Sumber kedua dari kebahagiaan berasal dari kenikmatan karena memiliki hal – hal tersebut ( bhoga sukha ).

Laki – laki dan wanita biasa dapat menikmati kebahagiaan tersebut. Sang Buddha tidak menasihatkan semua orang untuk meninggalkan kesenangan duniawi dan hidup dalam kesunyian.

 

Kenikmatan akan kekayaan tidak hanya terletak pada penggunaannya untuk diri sendiri tetapi juga dalam memberikannya untuk kesejahteraan orang lain. Apa yang kita makan hanyalah bersifat sementara.. apa yang kita pelihara akan kita tinggalkan.. apa yang kita berikan akan kita bawa . Kita akan diingat selamanya karena perbuatan baik yang kita lakukan dengan harta benda kita.

 

Tidak terjerat hutang ( anana sukha ) adalah sumber kebahagiaan yang lain, jika kita puas dengan apa yang kita miliki dan jika kita hidup hemat, kita tidak akan berhutang. Orang yang berhutang hidup dalam rasa tertekan dan selalu dalam kewajibannya kepada kreditur, walaupun miskin, ketika terbebas dari hutang, kita akan merasa lega dan bahagia.

 

Menjalani hidup yang bebas dari tuduhan ( anavajja sukha ) adalah satu dari sumber – sumber kebahagiaan terbaik dari umat awam. Orang yang tidak tercela adalah berkat bagi dirinya dan bagi orang lain. Ia dikagumi oleh semua orang dan merasa lebih bahagia, karena di pengaruhi getaran kedamaian dari orang lain. Bagaimanapun harus dinyatakan bahwa sangatlah sulit untuk memperoleh pandangan yang baik dari semua orang. Orang yang berpikiran mulia hanya peduli akan kehidupan yang tak tercela dan tidak peduli kepada tanggapan orang lain.

 

Kebahagiaan kita terima, tetapi tidak untuk kesedihan yang lebih sulit untuk ditahan. Kesedihan atau penderitaan dating dalam berbagai bentuk. Kita menderita ketika kita mengalami usia tua, yang sebenarnya merupakan hal yang wajar, dengan ketenangan kita harus menahan penderitaan karena usia tua.

 

Lebih menyakitkan daripada penderitaan karena usia tua adalah penderitaan yang di sebabkan oleh penyakit. Bahkan sakit gigi yang teringan atau sakit kepala terkadang sulit untuk ditahan. Ketika kita menderita penyakit, tanpa menjadi khawatir hendaknya kita dapat menahannya, betapapun sakitnya. Kita harus mengibur diri sendiri dengan berpikir bahwa kita telah lolos dari pneyakit lain yang lebih parah.

 

Seringkali kita berpisah dengan orang yang dekat dan kita sayangi, perpisahan ini menyebabkan perasaan kita sakit. Kita hendaknya menyadari bahwa segala pertemuan harus berakhir dengan perpisahan. Inilah kesempatan yang baik untuk melatih ketenangan.

 

Kadangkala kita dipaksa berada dengan orang yang kita benci, kita hendaknya berusaha bertahan, mungkin karma kita yang sekarang atau yang lalu sedang berbuah. Kita hendaknya mencoba menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru atau mencoba mengatasi rintangan tersebut dengan cara – cara lain.

 

Ketika seorang ibu ditanya mengapa ia tidak menangisi kematian tragis dari putra tunggalnya, ia menjawab : “Tanpa diundang ia dating, tanpa diberitahu ia pergi. Ia dating seperti ia pergi. Mengapa kita harus menangis? Apakah gunanya menangis?”

 

Bagaikan buah yang jatuh dari pohon – muda – masak –atau tua – demikianlah kita meninggal semasa bayi, remaja atau dalam usia tua.

Matahari terbit dari timur hanya untuk terbenam di barat.

Bunga mekar di pagi hari untuk layu di sore hari.

 

Kematian yang tidak terhindarkan menimpa kita semua tanpa kecuali, kita harus menghadapinya dengan ketenangan yang sempurna.

Bagaikan tanah, apapun yang dilemparkan kepadanya, baik manis atau kotor tanpa mempedulikannya ia tidak menunjukkan baik kebencian maupun rasa suka. Demikianlah ia yang baik atau buruk, pikirannya harus selalu seimbang.

 

Sang Buddha bersabda” Ketika tersentuh oleh kondisi duniawi, pikiran dari seorang arahat tidak pernah terpengaruh”

%d bloggers like this: