Mukjizat Kembar di Bawah Pohon Mangga

A. Pindola Bharadvaja Mempertunjukkan Suatu Mukjizat.

Seorang bendahara dari Rajagaha pergi ke Sungai Gangga untuk melakukan olah raga di air. Agar tidak terhanyut, dia menyimpan pakaian dan perhiasannya di dalam sebuah keranjang rotan. Sementara itu sepotong akar pohon cendana merah yang tumbuh di tepi Sungai Gangga terjatuh ke dalam sungai. Karena benturan batu-batu di dasar sungai, potongan akar itu patah menjadi potongan-potongan kecil dan potongan akar sebesar guci air itu menjadi bulat dan halus karena benturan batu dan terkikis oleh arus air sungai. Potongan akar kayu ini terbawa arus dan tersangkut pada keranjang rotan milik Sang Bendahara.

“Apa ini?” tanya Sang Bendahara.

“Bagian dari sebatang pohon,” kata temannya.

Sang Bendahara memerintahkan untuk membawa potongan akar kayu tersebut kepadanya.

“Jenis kayu apa ini?” pikir Sang Bendahara.

Untuk mengetahuinya, dia membelahnya dengan kapak dan menemukan bahwa potongan akar itu adalah potongan akar pohon cendana yang berwarna merah. Dia lalu berpikir :
“Di rumah saya memiliki banyak kayu cendana merah, apa yang akan saya perbuat dengan potongan kayu ini?”

Kemudian muncul dalam pikirannya :
“Banyak orang yang hidup di dunia ini berkata : ‘Kami adalah para Arahat, kami adalah para Arahat,’ tetapi saya tidak mengenal seorang Arahatpun.”

“Saya akan menggunakan mesin pemotong kayu untuk membuat sebuah mangkuk dan mangkuk ini akan saya gantungkan di udara dengan seutas tali yang terbuat dari sambungan bambu dengan ketinggian enam puluh cubit (30 meter) dari tanah.”

“Kemudian akan saya buat pernyataan : bila memang ada seorang Arahat, silakan Beliau melayang ke udara dan mengambil mangkuk tersebut.”

“Bila ada yang berhasil mengambil mangkuk tersebut, saya akan menjadi muridnya, demikian juga anak dan isteri saya.”

Demikian dia membalikkan mangkuk tersebut dan menggantungkannya pada tali bambu dan membuat pernyataan :
“Bila di dunia ini ada seseorang yang telah menjadi Arahat, silakan terbang ke udara dan mengambil mangkuk itu.”

Keenam guru pertapa seperti Purana Kassapa dan Makkhali Gosala, berkali-kali meminta mangkuk tersebut, namun Sang Bendahara berkata bahwa siapapun di antara mereka dapat mengambilnya melalui udara. Pada hari keenam, Nigantha Nathaputta mengutus beberapa orang muridnya untuk meminta mangkuk tersebut dari Sang Bendahara. Para murid ini memberitahu Sang Bendahara bahwa guru mereka tidak perlu melayang ke udara untuk hal sepele seperti mengambil sebuah mangkuk, seharusnya mangkuk tersebut diserahkan kepada guru mereka karena dialah yang berhak. Sang Bendahara tetap memberikan jawaban yang sama seperti sebelumnya. Nigantha Nathaputta kemudian memberitahu murid-muridnya suatu rencana untuk mengambil mangkuk tersebut. Ia akan mencoba terbang ke udara dengan mengangkat sebelah tangan dan kakinya dan para muridnya harus memohon agar ia tidak perlu terbang ke udara untuk hal sepele seperti itu dan para murid harus berusaha mencegahnya melakukan hal tersebut. Sesuai rencana, ia pergi ke tempat mangkuk tersebut dan mengangkat tangan dan kakinya dengan maksud untuk terbang ke udara, namun dia dicegah sesuai dengan rencana dan ia turun kembali. Ia menemui Sang Bendahara dan meminta mangkuk tersebut, namun ia menerima jawaban yang sama seperti sebelumnya. Demikianlah para pertapa mencoba selama enam hari untuk mendapatkan mangkuk tersebut, namun mereka tidak berhasil.

Pada hari ketujuh Yang Mulia Moggallana dan Yang Mulia Pindolabharadvaja sedang keluar untuk berpindapata di Rajagaha, mereka berdiri di atas sebuah batu karang datar dan mulai memakai jubah mereka. Sekelompok orang memulai percakapan :
“Saudara, ada enam orang guru yang biasanya mengaku sebagai para Arahat, namun ketika Sang Bendahara dari Rajagaha tujuh hari yang lalu menggantungkan sebuah mangkuk dan berkata bahwa bila memang ada seorang Arahat, silakan terbang ke udara dan mengambil mangkuk tersebut, tidak seorangpun di antara orang-orang yang mengaku sebagai Arahat tersebut yang dapat terbang ke udara. Hari ini kita dapat mengetahui dengan pasti bahwa di dunia ini tidak ada Arahat.”

Mendengar percakapan ini, Yang Mulia Moggallana berkata kepada Yang Mulia Pindolabharadvaja :
“Saudara, Anda telah mendengar percakapan orang-orang itu, mereka berbicara seolah-olah menantang Ajaran Sang Buddha.”

“Karena Anda memiliki kemampuan batin yang tinggi, kemampuan supranatural yang hebat, terbanglah ke udara dan ambil mangkuk tersebut.”

“Saudara Moggallana, Andalah yang terkenal sebagai yang paling hebat di antara yang memiliki kemampuan batin, ambillah mangkuk tersebut, bila Anda tidak mengambilnya, Saya yang akan mengambilnya.”

Yang Mulia Moggallana menjawab :
“Silakan saudara.”

Demikianlah Yang Mulia Pindolabharadvaja memasuki keadaan kemampuan supranatural, ia melingkari batu karang datar seluas 3 mil dengan ujung kakinya dan mengangkatnya ke atas dengan mudah, semudah mengangkat kapas sutera, kemudian Ia berjalan tujuh kali mengelilingi kota Rajagaha.

Sekarang kota Rajagaha luasnya persis 3 mil dan batu karang tersebut nampak menutupi kota. Penduduk kota berpikir :
“Batu tersebut akan jatuh dan menimpa kita,” dan dengan ketakutan mereka memakai nyiru di atas kepala mereka dan bersembunyi. Kemudian untuk ketujuh kalinya Yang Mulia Pindolabharadvaja mengelilingi kota, meminggirkan batu karang tersebut dan Beliau lalu menampakkan diri di hadapan penduduk. Ketika penduduk melihatNya, mereka berseru :
“Yang Mulia Pindolabharadvaja, tahanlah batu tersebut, janganlah menghancurkan kami.”

Lalu Yang Mulia Pindolabharadvaja menendang batu tersebut kembali ke tempatnya semula, kemudian Beliau berdiri di atas rumah Sang Bendahara. Ketika Sang Bendahara melihatNya, ia lalu bernamaskara dan berkata :
“Yang Mulia, silakan turun.”

Setelah Yang Mulia Pindolabharadvaja turun, Sang Bendahara menyediakan tempat duduk, menurunkan mangkuknya dan mengisinya dengan empat macam minuman manis dan memberikannya kepada Yang Mulia Pindolabharadvaja. Beliau lalu mengambil mangkukNya dan berjalan menuju vihara. Para penduduk yang tidak dapat menyaksikan mukjizat tersebut karena sedang berada di hutan atau di desa, berkumpul dan mulai mengikuti Yang Mulia Pindolabharadvaja dan berkata kepada Beliau :
“Yang Mulia, tunjukkanlah mukjizat kepada kami.”

Yang Mulia Pindolabharadvaja mengulangi mukjizat tersebut dan setelah itu melanjutkan perjalanannya ke vihara.

Sang Buddha mendengar suara penduduk yang ramai bertepuk tangan, Beliau bertanya kepada Yang Mulia Ananda :
“Ananda, kepada siapakah mereka sedang bertepuk tangan?”

Yang Mulia Ananda menjawab :
“Pindolabharadvaja telah terbang ke udara dan mengambil mangkuk yang terbuat dari kayu cendana merah dan penduduk bertepuk tangan untuknya.”

Sang Buddha lalu memanggil Yang Mulia Pindolabharadvaja untuk menghadap dan berkata :
“Apakah benar Engkau telah melakukan seperti yang telah dilaporkan?”

“Benar, Yang Mulia.”

“Bharadvaja, mengapa Engkau melakukan hal ini?”

Sang Buddha lalu menegurnya dan menyuruhnya memecahkan mangkuk tersebut menjadi potongan-potongan kecil dan menyuruhnya menyerahkan potongan-potongan kayu tersebut kepada para bhikkhu untuk digiling dan dijadikan bubuk kayu cendana. Kemudian Sang Buddha menetapkan peraturan yang melarang para bhikkhu mempraktekkan kekuatan supranatural untuk tujuan-tujuan seperti itu di masa yang akan datang.

B. Sang Buddha Berjanji Akan Mempertunjukkan Suatu Mukjizat.

Ketika para pertapa mendengar sikap Sang Buddha terhadap kejadian pengambilan mangkuk oleh Yang Mulia Pindolabharadvaja, mereka mengira Sang Buddha juga mematuhi peraturan yang telah Beliau tetapkan. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak mempertunjukkan mukjizat sepele seperti pengambilan mangkuk, tetapi mereka telah siap untuk menunjukkan mukjizat-mukjizat untuk menandingi Sang Buddha.

Raja Bimbisara segera menemui Sang Buddha dan mendiskusikan pertanyaan tentang pertunjukan kemampuan batin oleh Sang Buddha dan para bhikkhu. Sang Buddha lalu berjanji bahwa Beliau sendiri akan mempertunjukkan suatu mukjizat dan mengatakan kepada Raja Bimbisara bahwa Beliau mempunyai hak untuk melakukan hal tersebut. Sang Buddha menjelaskan bahwa meskipun Beliau melarang para bhikkhu untuk mempertunjukkan kemampuan batin, namun peraturan tersebut tidak berlaku bagi Sang Buddha. Sama seperti raja dapat memakan buah mangga dari kebunnya sendiri, tapi akan menghukum siapapun yang mengambil mangga tersebut.

Pada akhir diskusi, Sang Buddha berkata bahwa Beliau akan mempertunjukkan mukjizat-mukjizat pada bulan purnama di bulan Asadha, empat bulan kemudian, di tempat para Buddha di masa lampau mempertunjukkan kemampuan batin mereka. Mendengar perkataan tersebut, para pertapa berpikir bahwa mereka telah kalah, dan mereka membuntuti Sang Buddha dan berkata bahwa sang Buddha berusaha menghindar dari mereka.

Pada waktunya, Sang Buddha tiba di Savatthi, demikian pula para pertapa. Para pertapa mengumpulkan dana dari para pengikutnya dan mendirikan paviliun dengan pilar-pilar dari kayu akasia dan ditutupi dengan bunga teratai. Setelah itu mereka duduk dan berkata :
“Di sini kami akan mempertunjukkan mukjizat.”

Ketika Raja Pasenadi Kosala mendengar tentang pembangunan paviliun, ia menawarkan untuk membangun sebuah paviliun untuk Sang Buddha, namun Sang Buddha menolaknya, karena Raja Sakka, Raja Para Dewa telah berjanji akan membangun sebuah paviliun untuk Sang Buddha. Ketika Sang Guru Agung ditanya di manakah tepatnya tempat untuk mempertunjukkan mukjizat-mukjizat tersebut, Sang Buddha berkata bahwa tempatnya adalah di bawah pohon mangga Ganda.

Ketika para pertapa mendengar bahwa Sang Buddha akan mempertunjukkan mukjizat Beliau di bawah sebuah pohon mangga, mereka langsung mencabut sampai ke akar-akarnya semua pohon mangga yang tumbuh di tempat itu, mereka bahkan mencabuti pohon mangga yang baru tumbuh sehari dan membuangnya ke hutan.

C. Mukjizat-mukjizat Awal.

Pada saat bulan purnama di bulan Asadha, Sang Buddha memasuki kota. Pada hari yang sama, tukang kebun raja bernama Ganda, melihat sebuah mangga yang telah ranum di dalam sebuah keranjang daun yang dibuat oleh semut-semut merah, dan setelah mengusir burung gagak yang berkerubung karena tertarik akan wanginya, Ganda memetik mangga itu dan bermaksud membawanya kepada raja. Namun ketika melihat Sang Buddha di dalam perjalanan, ia lalu berpikir :
“Bila raja memakan buah mangga ini, ia mungkin akan memberi saya delapan atau enam belas keping uang, dan itu tidak akan cukup untuk membuat saya hidup selama satu kehidupan, namun bila saya berikan mangga ini kepada Sang Guru, maka saya akan memperoleh keselamatan untuk waktu yang tak terbatas.”

Kemudian, ia mempersembahkan mangga itu kepada Sang Buddha.

Sang Buddha melihat kepada Yang Mulia Ananda, yang kemudian membuka pembungkus bingkisan yang sedianya akan diserahkan kepada raja, dan meletakkan buah mangga itu di tangan Sang Buddha. Sang Guru Agung lalu mengambil mangkukNya, menerima mangga itu dan mengatakan akan duduk di tempat tersebut. Yang Mulia Ananda membentangkan jubah dan menyiapkan tempat duduk. Ketika Sang Buddha telah duduk, Yang Mulia Ananda menuang air, memeras mangga yang ranum itu, membuat sari buah mangga dan mempersembahkannya kepada Sang Buddha. Setalah Sang Buddha meminum sari buah mangga tersebut, Beliau berkata kepada Ganda :
“Galilah tanah di tempat ini dan tanamlah biji mangga ini.”

Tukang kebun itu lalu melaksanakan seperti apa yang dikatakan oleh Sang Buddha.

Sang Buddha kemudian mencuci tangan Beliau di atas tempat di mana biji mangga itu ditanam. Pada saat Beliau selesai mencuci tangan, tumbuhlah sebuah pohon mangga. Segeralah pohon mangga itu penuh dengan bunga dan buah. Ketika raja mendengar bahwa sebuah pohon mangga telah tumbuh secara ajaib, beliau memerintahkan bahwa tidak seorangpun boleh menebangnya dan menempatkan penjagaan. Karena pohon mangga itu telah ditanam oleh tukang kebun yang bernama Ganda, maka pohon mangga itu dikenal dengan nama Pohon Mangga Ganda. Pohon mangga ini menghasilkan cukup banyak buah mangga untuk dinikmati penduduk. Mereka menikmati buahnya yang ranum dan melemparkan biji-bijinya kepada para pertapa yang telah mencabuti semua pohon mangga yang tumbuh di kota itu.

Raja Sakka, Raja Para Dewa memerintahkan Dewa Awan Angin :
“Cabut paviliun para pertapa dan lemparkan ke kolam penampungan limbah.”

Dewa Awan Angin melaksanakan perintah Raja Sakka. Kemudian Raja Sakka memerintahkan Dewa Matahari :
“Perhatikan lintasan matahari dan sengat mereka dengan panas matahari,”

Dewa Sakka kemudian memerintahkan kepada Dewa Awan Angin :
“Siapkan kereta angin dan luncurkan.”

Kejadian ini membuat tubuh para pertapa berkeringat dan Dewa Awan Angin menaburi mereka dengan hujan debu hingga mereka kelihatan seperti semut-semut merah. Dewa Sakka kemudian menyuruh Dewa Awan Angin :
“Turunkan hujan lebat yang tak terhingga banyaknya.”

Dewa Awan Angin melaksanakannya, sehingga para pertapa itu kelihatan seperti sapi-sapi kudisan. Dengan tanpa pakaian mereka terpontang-panting melarikan diri.

Sementara para pertapa melarikan diri, seorang petani yang merupakan pendukung Purana Kassapa berpikir :
“Besok adalah hari di mana para guru mulia akan mempertunjukkan mukjizat mereka. Saya harus pergi menyaksikan mukjizat tersebut.”

Setelah melepas kerbaunya, dengan membawa seutas tali, semangkuk sup yang telah dibelinya pagi itu, ia pulang ke rumahnya. Ketika ia bertemu dengan Purana yang sedang melarikan diri, ia berkata kepadanya :
“Yang Mulia, saya pikir saya akan pergi menyaksikan para guru yang mulia mempertunjukkan mukjizat mereka. Ke manakah engkau akan pergi?”

Purana bertanya :
“Mengapa engkau harus menyaksikan suatu mukjizat? Berikan tempat air dan tali itu kepadaku.”

Petani itu memberikannya. Purana membawa tempat air dan tali itu ke tepi sungai, ia mengikat tali pada tempat air, kemudian diikatkan ke lehernya, lalu menjatuhkan dirinya ke dalam sungai. Terdengar bunyi percikan air, Purana meninggal dan terlahir di neraka Avici.

Sang Buddha menciptakan suatu lintasan berhiaskan permata di udara untuk mempertunjukkan mukjizat-mukjizat dan banyak orang berkumpul di sana. Para murid Sang Buddha ingin membantu Beliau dengan menawarkan diri untuk mempertunjukkan mukjizat-mukjizat. Sang Buddha menolak tawaran mereka dan menyatakan bahwa Beliau harus menunaikan tugas Beliau sendiri.

D. Sang Buddha Mempertunjukkan Mukjizat Kembar.

Sambil berjalan bolak-balik sepanjang lintasan berhiaskan permata, Sang Buddha membabarkan Dhamma kepada penduduk dan pada saat yang bersamaan Beliau memancarkan nyala api dan semburan air dari pori-pori di seluruh tubuh Beliau. Karena melihat bahwa di antara sekian banyak orang, tidak seorangpun selain Beliau sendiri yang dapat mengerti pikiran Beliau dan dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Beliau, Sang Buddha lalu mempertunjukkan kekuatan supranaturalNya, dan menciptakan kembaran Beliau sendiri. Kembaran Sang Buddha tersebut mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan Sang Buddha menjawabnya. Bila kembaran Beliau duduk, Sang Buddha berdiri dan Beliau berdiri bila kembaran Beliau duduk.

Demikianlah Sang Buddha membabarkan Dhamma dan mempertunjukkan muljizat-mukjizat, sehingga banyak orang memperoleh pengertian yang jelas tentang Dhamma Yang Mulia.

Menundukkan Nandopananda

Kekuatan adialami yang dimiliki oleh makhluk ilahi atau dewa bisa berbahaya, menyebabkan manusia biasa tak berdaya, bagaikan hewan percobaan yang tengah dibedah atau menjalani percobaan laboratorium yang kejam. Sesungguhnyalah, sepanjang segenap kurun waktu, kekuatan Dhamma senantiasa mengalahkan kekuatan adialami. Sebagai contohnya, kekuatan adialami seperti yang dimiliki oleh Nandopananda pun akhirnya ditundukkan oleh sebuah kekuatan spiritual yang jauh melampaui kekuatan adialami itu. Keyakinan dalam ajaran Buddha sama sekali tidak menimbulkan bahaya seperti yang ditimbulkan oleh kepercayaan yang membuta. Umat Buddha tidaklah terpesona oleh mukjizat, betapapun mukjizat itu dianggap spiritual.

Naga adalah sejenis makhluk dewa rendah yang memiliki pelbagai kekuatan gaib, namun kurang memiliki potensi spiritual seperti halnya manusia. Naga mampu berubah bentuk sesuka hati dan konon, aslinya memiliki badan seperti binatang melata. Naga yang terikat pada hidup duniawi dapat membawa pengaruh buruk bagi kehidupan manusia. Namun ada juga Naga yang baik hati dan sering dipuja sebagai dewa pelindung.

Nandopananda adalah Raja Naga perkasa yang terbekali dengan kakuatan gaib yang mematikan. Keangkuhannya terhadap kekuatan yang dimilikinya, membuatnya menjadi lebih berbahaya. Dia tidak mempercayai segala sesuatu yang bersifat luhur atau spiritual, serta sangat memandang rendah orang – orang suci. Hidupnya hanya dihabiskan untuk mengejar kekuasaan dan kenikmatan hidup.

Pada suatu sore, Anathapindika, seorang hartawan dari Savatthi, yang terkenal sebagai dermawan yang sangat murah hati dan memiliki keyakinan penuh terhadap Sang Buddha, mengunjungi Vihara Jetavana dan berkesempatan mendengar pembabaran Dhamma dari Sang Buddha, karena merasa begitu bahagia, ia memohon Sang Buddha beserta lima ratus murid suci-Nya untuk menerima persembahan makanan darinya keesokan hari. Sang Buddha menyetujui undangannya.

Menjelang fajar keesokan harinya, seperti kebiasaan-Nya sehari – hari, Sang Buddha menelusuri seisi alam semesta yang terdiri dari berbagai sistem dunia dengan belas kasih tanpa batas-Nya. Dalam pandangan Mahatahu-Nya, Ia melihat Nandopananda. Setelah melakukan penembusan lebih mendalam, dengan jelas Ia mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.

Yang Maha Mengetahui menyadari bahwa kendatipun Nandopananda sangat memusuhi ajaran spiritual dan memiliki pandangan dan kecenderungan yang buruk, namun ia juga memiliki kematangan batin untuk mencapai transformasi spiritual. Dengan penanganan tepat, ia dapat dijinakkan, disadarkan dan akan bernaung pada Tisarana.

Sang Buddha kemudian juga melihat bahwa Yang Ariya Moggallana, yang kesaktiannya hanya berada ditempat kedua setelah diri-Nya, akan mampu menjinakkan Nandopananda dengan baik.

Setelah fajar menyingsing, Sang Buddha beranjak dari meditasinya, makan pagi dan bersiap untuk berangkat. Beliau memanggil Yang Ariya Ananda dan memintanya untuk memberitahukan ke lima ratus siswa Arahat-Nya bahwa hari itu mereka akan menemani-Nya untuk melakukan kunjungan khusus ke alam surgawi. Segera, Sang Buddha beserta siswa – siswa-Nya membumbung di udara, dan dengan kekuatan adialami mereka menuju alam surgawi.

Kala itu, atas keinginan sang raja naga, tengah diadakan perjamuan besar ditempat terbuka di tempat kediamannya. Sajian khusus telah disiapkan untuk Nandopananda, yang duduk di singgasana megah dibawah naungan sebuah payung putih.

Sekelompok naga pemusik, penari dan pelbagai naga perempuan menyajikan makanan dan minuman yang mewah, semuanya mengelilingi Nandopananda. Tatkala sang raja naga tengah mabuk oleh kemegahan dan pemuliaan dirinya, Sang Buddha membuat agar sang naga melihat diri-Nya beserta arakan para bhikkhu sedang menuju alam Surga Tavatimsa dan melintas tepat diatas singgasananya.

Melihat arak – arakan ini, sang raja naga seketika naik pitam dan bersungut – sungut, ” Orang – orang gundul ini sedang keluar masuk Surga Tavatimsa dan melintas tepat diatas kediamanku. Aku tidak akan membiarkan mereka melintas diatas kita, menebarkan kotoran kaki mereka diatas kepala kita.”

Dengan kecepatan tinggi, Nandopananda melesat menuju kaki Gunung Sineru, mengubah dirinya menjadi besar dan meliliti gunung itu sebanyak tujuh lilitan. Dengan tudung kepalanya yang sangat besar, ia menutupi seluruh Surga Tavatimsa, akibatnya terjadilah gelap gulita dan tak ada sesuatu pun yang bisa tampak.

Menyadari kegelapan yang mendadak, Yang Ariya Rathapala, salah satu Arahat pengiring Sang Buddha bertanya, “Yang mahamulia, biasanya kalau kita melintasi daerah ini, kita bisa melihat Gunung Sineru dengan jelas, demikian pula kubu sineru, Surga Tavatimsa, Wisma Vejayanta dan panji – panji diatas wisma itu. Mohon penjelasan, Yang Mahamulia, apakah kiranya penyebabnya sehingga diriku tidak melihat Gunung Sineru dan kubunya, Surga Tavatimsa, Wisma Vejayanta dan panji – panji diatasnya?”

“Ratthapala, sang raja naga, Nandopananda, tengah merasa murka dan telah meliliti Gunung Sineru sebanyak tujuh lilitan serta menyelimuti seluruh Surga Tavatimsa dengan tudung kepalanya yang sangat besar, mengakibatkan kegelapan.”

“Yang Mahamulia, izinkanlah diriku untuk menjinakkannya.”

Sang Buddha tidak memberikan izin kepada Yang Ariya Ratthapala, Setelah itu Yang Ariya Bhaddiya, Yang Ariya Rahula, dan satu persatu, semuanya kecuali satu orang, memohon izin dari Sang Buddha untuk menjinakkan naga itu. Namun Sang Buddha tidak mengizinkan satu pun dari mereka untuk melakukannya.

Pada akhirnya, Yang Ariya Maha Moggallana berkata,” Yang Mahamulia, izinkanlah diriku untuk menjinakkannya.” Sang Buddha mengizinkan dengan berkata,”Jinakkanlah naga itu, Moggallana.”

Serta merta Yang Ariya Moggallana mengubah dirinya menjadi naga raksasa yang sangat besar. Kemudian beliau meliliti tubuh Nandopananda sebanyak empat belas lilitan, menutupi tudung kepala Nandopananda dengan tudung kepalanya, dan memojokkan Nandopananda ke dinding sineru. Si raja naga melawan dengan menyemburkan asap. Yang Ariya Moggallana berkata,” Bukan hanya engkau yang bisa menyemburkan asap, akupun bisa melakukan hal itu”, sambil menyemburkan lebih banyak asap. Asap Nandopananda tidak menyakitkan Yang Ariya Moggallana, namun sebaliknya asap Yang Ariya Moggallana sangat menyakitkan Nandopananda.

Kemudian Nandopananda menyemburkan api, Yang Ariya Moggallana berkata,” Bukan hanya engkau yang bisa menyemburkan api, akupun bisa melakukan hal itu”, sambil menyemburkan lebih banyak api. Api Nandopananda tidak menyakitkan Yang Ariya Moggallana, namun sebaliknya api Yang Ariya Moggalana sangat menyakitkan Nandopananda.

Sambil merasa kesakitan, sang raja naga berpikir,” Dia memojokkan diriku ke dinding sineru dan ia juga menyemburkan asap dan api, “lalu dia bertanya,” Tuan, siapakah engkau?”

“Nanda, aku adalah Moggallana.”

“Bila demikian, Yang Ariya, kembalikan wujudmu sebagai seorang bhikkhu.”

Yang Ariya Moggallana mengubah wujudnya kembali sebagai bhikkhu, lalu memasuki telinga kanan Nandopananda dan keluar dari telinga kiri; kemudian ia masuk kembali melalui telinga kiri dan keluar melalui telinga kanannya. Sehabis itu Yang Ariya Moggallana masuk kedalam mulutnya dan berjalan kedalam perutnya, berjalan keatas dan kebawah, dari timur ke barat dan dari barat ke timur.

Sang Buddha memberi peringatan,” Moggallana, Moggallana, hati – hatilah, naga ini sangat perkasa.”

“Yang Mahamulia, keempat dasar kekuatan ( iddhividha ) telah disempurnakan , terlatih berulang kali, telah menjadi sarana, dibuat menjadi dasar, serta telah terbentuk sempurna, terpusat dan terpakai dengan benar. Perkenankan saya sampaikan, Yang Mahamulia, seratus, seribu atau seratus ribu raja naga seperti Nandopananda ini sekalipun dapat kujinakkan, apalagi hanya satu Nandopananda.”

Sekarang sang raja naga merencanakan,” Ketika dia masuk, aku tidak melihatnya, namun begitu ia keluar, ia akan kutangkap dengan taringku dan kumangsa.” Setelah berencana demikian, ia berkata,” Yang Ariya, tolong keluarlah dari tubuhku, berhentilah menyakiti tubuhku dengan berjalan ke atas dan kebawah di dalam perutku.”

Kemudian Yang Ariya Moggallana dari tubuh Nandopananda dan berdiri tepat dihadapannya. Begitu melihatnya,” ini dia” dengan kejinya Nandopananda langsung memuntahkan semburan yang mematikan dari lubang hidungnya. Seketika itu juga, Yang Ariya Moggallana memasuki tahap penyerapan meditasi (jhana) keempat. Dengan demikian semburan itu tidak mampu menggoyang satu helai rambutpun pada tubuhnya.

Kemampuan memasuki jhana keempat dengan seketika seperti ini, selain oleh Sang Buddha, hanya dapat dilakukan oleh Yang Ariya Moggallana. Bhikkhu lainnya juga dapat melakukan kekuatan adialami lainnya, namun mereka kemungkinan tidak dapat memasuki jhana keempat secepat itu, yang mampu menghindari semburan maut Nandopananda. Bila terlambat sedikit saja, maka tubuh lawan Nandopananda akan berubah menjadi abu. Demikianlah, setelah melihat saat yang sangat berbahaya ini pada dini hari itu, Sang Buddha tidak mengizinkan orang lain kecuali Moggallana untuk menjinakkan raja naga maut ini.

Melihat kejadian itu, Nandopananda tercengang,” Aneh! Semburan maut dari lubang hidungku sekalipun tidak mampu menggoyang satu helai rambut pun pada tubuh bhikkhu ini.”

Kemudian Yang Ariya Moggallana berubah bentuk mejadi supanna ( garuda), musuh abadi yang sangat mengerikan bagi para naga. Yang Ariya Moggallana mengejar Nandopananda seraya memuntahkan semburan maut ke arahnya. Akibatnya sang raja naga menjadi sangat ketakutan dan segera mengubah dirinya menjadi seorang pria muda. Sambil berlutut dihadapan Yang Ariya Moggallana, ia berkata,” Yang Ariya, aku bernaung pada dirimu”, lalu ia bersujud pada Yang Ariya Moggallana.

Yang Ariya Moggallana berkata padanya,” Wahai, Nandopananda, Yang Terberkahi sendiri ada disini. Marilah kita menghadap pada-Nya.” Kemudian Yang Ariya Moggallana membawa Nandopananda menghadap Sang Buddha.

Sang raja naga kemudian bersujud pada Sang Buddha sambil berkata,” Yang Ariya, aku bernaung pada dirimu.”

Sang Buddha menjawab,” semoga engkau menjadi raja naga yang berbahagia”, sambil memberkatinya. Setelah selesai, dengan diiringi oleh para bhikkhu, Sang Buddha segera menuju kekediaman Anathapindika.

Anathapindika bertanya,” Yang Mahamulia, apakah gerangan yang menyebabkan Yang Terberkahi terlambat tiba?”

“karena pertarungan anatara Moggallana dan Nandopananda.”

“Yang Mahamulia, siapakah kiranya yang menang dan sipakah yang kalah ?”

“Moggallana yang menang dan Nandopananda yang kalah”

Mendengar hal itu, Anathapindhika berkata,” Yang Mahamulia, sudilah kiranya Yang Terberkahi menerima persembahan dari diriku selama tujuh hari berturut – turut dan juga sujudku pada Yang Ariya Moggallana selama satu minggu penuh.”

Demikianlah Anathapindika mengadakan persembahan selama tujuh hari berturut – turut untuk menghormati Yang Tercerahkan dan lima ratus bhikkhu Arahat tersebut sekaligus merayakan kejayaan agung terhadap Nandopananda.

Kemenangan Atas Mara

KEMENANGAN ATAS MARA

Sammasambuddha adalah Juru Selamat, Ia tidak saja mewujudkan Nibbana bagi diri-Nya sendiri, namun juga menolong makhluk hidup yang tak terhingga jumlahnya untuk mewujudkannya juga. Arahat, siswa-Nya yang tercerahkan, akan menyebarluaskan dan meneruskan ajaran dari Sang Buddha Juru Selamat. Karenanya, proses pembebasan tetap bisa terjadi walaupun Sang Guru Agung telah wafat, mencapai parinibbana. Dengan menyempurnakan paraminya, Sang Buddha menjadi asal dan sumber awal dari kebijaksanaan, kebajikan dan kekuatan. Melalui kekuatan dari kesempurnaan-Nya yang tiada tara, Ia menaklukan Mara, kekuatan jahat yang paling dahsyat. Mara senantiasa membelenggu makhluk hidup dalam untaian ikatan samsara, sebaliknya Sang Buddha memungkinkan para pencari kebenaran untuk menghimpun kekuatan yang tiada tara dan untuk menggunakan sumber spiritualitas yang tiada habisnya ini, untuk mengatasi semua halangan dan bahaya yang diciptakan Mara. Karenannya, permohonan para pencari kebenaran adalah: “Berkat Kemenangan Agung Sang Buddha, Semoga Berkah dan kejayaan menjadi milikku”

Pada suatu hari bulan purnama Vesakha, menjelang fajar, keheningan yang tentram menyelimuti segenap hutan Uruvela. Di sini dipinggiran sungai Neranjara, Petapa Gotama tengah merenungi suatu penglihatan yang muncul dalam kesadaran-Nya laksana riak berkilau dari dasar pikirannya yang terdalam, dan yang berubah menjadi tekad mendalam. Dengan mengikuti kebiasaan para Buddha sebelumnya yang tiada tara.

Ia bertekad :

Para Buddha yang lampau, berjaya tiada taranya,

Para putra mahkota pada kelahiran terakhir kalinya, Melepaskan keduniawiannya untuk menjadi petapa,

Menguasai dirinya sendiri dan mencapai kebijaksanaan, Lebih perkasa dari para raja yang paling perkasa,

Mendaki puncak spiritual, Bodhi, Merekalah, tiada yang lain, yang merupakan Juru Selamat dunia,

Tradisi bersejarah ini akan kupenuhi hari ini !

Waktuku telah tiba untuk menuju ke Puncak!

Tekad ini menandai dimulainya pertentangan yang tiada banding dengan kekuatan terdahsyat di segenap tiga dunia, Mara, dan perseteruan sudah pasti akan terjadi. Saat itu, duduk dibawah Pohon Bodhi, Petapa Gotama melesat menuju Samadhi yang mendalam, yaitu keadaan penyerapan adibatiniah, dan menetap dalam keadaan itu selama beberapa jam. Sang Petapa saat itu berumur 35 tahun, Beliau telah melewati enam tahun penuh perjuangan, menjalani latihan sangat keras, bercita cita menjadi seorang Buddha, untuk membuka gerbang pembebasan bagi semua makhluk.

Pada saat itu, Sang Gotama selesai melakukan Samadhi di pagi hari, Beliau melihat Sujata, istri kepala kampung setempat, tengah menunggu dengan penuh hormat untuk mempersembahkan kepada-Nya nasi yang ditanak dengan susu ( payasa ) dalam sebuah mangkok emas. Sang Petapa memberkatinya dan menerima makanan persembahan yang akan memainkan peranan bersejarah, yaitu memberikan kekuatan fisik bagi diri-Nya selama tujuh minggu berikutnya. Setelah mandi di sungai Neranjara, Beliau menyantap payasa tersebut.

Kemudian untuk menguji kesahihan dari penglihatan dalam mimpi-Nya, Beliau melemparkan mangkok emas tersebut ke sungai sambil berpikir, “ jika hari ini juga Aku dapat mencapai puncak Pencerahan Sempurna, maka mangkok ini akan melaju melawan arus sungai ini. Dan ternyata… mangkok itu benar – benar melaju melawan arus dan menghilang di tengah – tengah sungai.

Dengan hati yang kembali mantap, Beliau pergi kembali ke Pohon Bodhi, sembari di perjalanan mengumpulkan beberapa ikat rumput kusa sebagai alas duduk, dan duduk menghadap kea rah timur. Laksana seorang ksatria yang tak tertandingi, dengan penuh keyakinanmenguatkan diri untuk menghadapi pertempuran, Beliau mengawali pertempuran akhir tersebut dengan tekad bulat, yang jadi terkenal:

“Biarlah daging-Ku, tulang-Ku, urat-Ku mengeriput dan biarlah darah-Ku mengering, namun tiada pernah Aku akan mundur dari tekad-Ku ini” Mengetahui tekad ini, Mara menjadi sangat marah karena menganggap semua ini adalah tantangan terhadap kekuasaannya.

Bagi dirinya, tekad ini terang – terangan meremehkan dan memutuskan gengamannya, tidak saja pada Gotama, tapi juga pada makhluk hidup lain yang tak terhitung, yang kelak akan menyebrangi gerbang pembebasan, yang mana tiada daya bagi Mara untuk menguasainya.

Karenanya sang penguasa bengis dari kerajaan alam duniawi, memutuskan untuk menggagalkan tekad Gotama yang begitu beraninya mencoba keluar dari cakupan kekuasaannya. Dengan demikian, pada senja hari itu, pertempuran sengit terjadi antara Gotama, Sang Bodhisatta dan Mara. Dengan pasukannya yang besar, Mara merangsak maju dan mengurung Sang Bodhisatta dari semua sisi.

Pelbagai kekuatan dari pasukan jahatnya, yang masing – masing berkekuatan gaib luar biasa, berubah bentuk menjadi makhluk yang jahat dan keji yang menyerang Sang Makhluk Agung, Mahasatta. Mara mengetahui bahwa jika Gotama dibiarkan keluar dari jaring rengkuhannya yang luas, tidak saja Ia akan terbebaskan, namun Ia kelak juga akan membebaskan makhluk lain yang tak terhitung. Oleh karena itu, Mara memerintahkan pasukannya untuk menyerang. Mara sendiri kemudian berubah bentuk menjadi makhluk keji yang menebarkan rasa takut, dengan seribu lengan yang masing – masing mengayun – ayunkan senjata yang mematikan. Dengan menunggangi gajah buas Girimekhala, Mara menyerang untuk menggoyahkan pikiran Gotama yang tentram yang tetap berdiam dalam meditasi yang mendalam.

Mara mengubah seluruh hutan menjadi gelap gulita dan melancarkan petir demi petir untuk manakut nakuti Putra Mahkota Sakya itu. Mara juga menimbulkan badai dan angin topan serta hujan es yang di selingi dengan hujan air panas. Kemudian Mara mengguyurkan debu panas, pasir panas, kerikil dan batu panas.

Mara menghembuskan angin ribut yang begitu dahsyat seolah akan mencabut seisi hutan itu, diikuti hempasan angin kencang yang berbau busuk dan beracun. Dengan ratusan cara, Mara berusaha untuk menggoyahkan Siddhatha Gotama.

Dari langit yang terbelah, Mara mengirimkan wanita – wanita yang melayang mempesona yang membisik menggoda, mencoba memberi rangsangan pada Yang Suci dengan tipu muslihat yang jalang. Mara kemudian mengirimkan putri – putrinya yang berusaha mengolok – olok usaha mulia Gotama sehingga tampak sia –sia. Mara sendiri menawarkan untuk menobatkan Gotama sebagai penguasa dunia dengan kekuasaan dan kesenangan tanpa batas, seandainya Ia mau menghentikan usaha-Nya. Sang Bodhisatta, dengan keyakinan diri yang tak terkalahkan dan dengan ketenangan diri yang luar biasa, tidak mengindahkan Mara dan tetap meneruskan usaha-Nya untuk mengembangkan berbagai tahapan meditasi.

Dalam usaha akhir-Nya untuk menundukan makhluk keji yang berkutat untuk bertahan ini, Beliau akhirnya membangkitkan kekuatan yang tiada bandingnya dari simpanan kebaikan spiritual yang tiada habisnya yang terlahir dari seluruh parami, Seraya menyentuh tanah dengan jari tengah-Nya, Beliau memanggil bumi sendiri sebagai saksi atas tindakan – tindakan gagah berani yang telah dilakukan-Nya sepanjang masa yang sangat lama untuk memenuhi parami yang agung. Begitu hebatnya kekuatan tindakan-Nya ini, sampai bumi, pelbagai benda langit, serta segenap alam semesta, berguncang dalam penghormatan pada anugrah yang tiada taranya dari calon Buddha ini. Hal ini begitu menakuti Mara, sehingga ia pergi tunggang langgang dengan pasukannya yang tercerai berai. Pada saat itu juga, terjadi kesejajaran antara bulan purnama yang tengah menyingsing di ufuk timur dengan bulatan merah matahari yang tengah terbenam di ufuk barat.

Dalam naskah suci digambarkan bagaimana setelah itu, Sang Guru Agung mengembangkan pelbagai pandangan terang adiduniawi dan akhirnya menjadi Pemenang Agung, Sang Buddha! Sesudahnya Beliau melewatkan masa tujuh minggu mengerahkan kekuatan mulia yang dimiliki oleh Yang Membebaskan Diri Sendiri ( Sayambhu ), Yang Mahatahu ( Sabbannu ) dan Yang Tercerahkan Sempurna dengan upaya sendiri ( Sammasambuddha ). Selama tujuh minggu berturut – turut, Sang Buddha tetap berada dalam samadhi, menikmati kebahagiaan pembebasan abadi. Ungkapan pertama-Nya setelah mengalahkan Mara adalah seperti ini : “Terbuka sudah gerbang menuju keabadian. Semoga mereka yang dapat mendengar meyakininya!”

Buddha Yang Akan Datang

Dalam Sutta Pitaka Dhiga Nikaya, Sang Buddha menceritakan pada zaman dahulu ada seorang maharaja dunia ( Cakkavatti ) yang bernama Dalhanemi, memerintah dengan bijaksana, jujur dan adil. Pada saat itu umur manusia mencapai 80.000 tahun. Demikian pula keturunannya Raja Cakkavatti kedua hingga ketujuh. Namun pada saat pemerintahan raja kedelapan, kebijaksanaannya berkurang sehingga rakyatnya mulai merasakan kemiskinan sehingga terjadi pencurian dan pembunuhan. Sejak itu umur manusia berkurang menjadi 40.000 tahun lalu 20.000 tahun dan lama kelamaan menjadi 100 tahun seperti sekarang ini. Kelak akan tiba suatu masa ketika manusia hanya berusia 10 tahun dan umur 5 tahun merupakan usia perkawinan. Pada saat itu makanan seperti dadi susu, mentega, minyak tila, gula dan garam akan lenyap. Mereka akan memakan biji – bijian kudrusa.

 

Pada saat itu tidak ada lagi perbuatan baik, yang ada hanya kejahatan, mereka akan kawin dengan siapa saja, bagaikan hewan. Mereka membunuh siapa saja termasuk ibu, bapak atau kakaknya. Pada saat itu akan muncul pedang selama seminggu. Mereka akan melihat individu lain sebagai binatang liar. Dan pedang tajam akan selalu tersedia ditangan mereka, lalu dengan pedang itu mereka saling membunuh. Sementara itu ada orang – orang tertentu yang sadar dan menyembunyikan diri ke hutan, gua – gua gunung dan hidup dengan akar – akar dan buah – buahan. Mereka akan melaksanakan hal itu selama seminggu dan pada hari ketujuh mereka keluar dengan selamat.

 

Sejak itu mereka mulai menanam kebajikan, sehingga lama – kelamaan umur mereka bertambah menjadi 20 tahun, 40 ,60, 80 dan akhirnya mencapai batas usia 80.000 tahun. Pada saat itu akan muncul seorang raja bernama Sankha yang jujur dan bijaksana, dan akan muncul seorang Bhagava Arahat Sammasam Buddha bernama Metteya ( Maitreya ) yang sempurna bagaikan Buddha Gautama.  

Menaklukkan Angulimala

Menaklukkan Angulimala
(dengan Kesaktian/Iddhi)

Ukkhitta khagga matihattha sudãrunantam
Dhãvantiyo janapathan gulimãla vantam
Uddhibhisankhatamano jitavã munindo
Tan tejasã bhavatu te jayamangalãni

Sangat kejam dengan pedang terhunus dalam tangan yang kokoh kuat
Angulimala berlari mengejar sepanjang jalan tiga yojana dengan berkalung untaian jari
Raja Para Bijaksana menaklukkannya dengan kesaktian
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.

Istri kepala penasehat (Purohita Brahmana) Raja Pasenadi Kosala yang bernama Mantani, melahirkan seorang anak laki-laki. Pada saat kelahirannya, semua senjata di dalam kota berkilau mengeluarkan cahaya yang terang benderang. Kejadian ini menyebabkan ayahnya bertanya kepada ahli perbintangan, mereka meramalkan bahwa anak tersebut di kemudian hari akan menjadi perampok. Keesokan harinya, ketika ia mengunjungi istana, sang ayah bertanya kepada Raja Pasenadi, apakah tadi malam Raja dapat tidur nyenyak. Raja menjawab, tadi malam ia tidak dapat tidur dengan nyenyak karena melihat semua senjata di dalam gudang berkilauan. Hal ini menandakan adanya bahaya yang akan menimpa Raja sendiri atau kerajaannya. Brahmana tersebut lalu menyampaikan kepada Raja, bahwa semalam istrinya telah melahirkan seorang anak laki-laki. Pada saat kelahirannya, tidak hanya pedang kerajaan, semua senjata yang ada di seluruh kota berkilauan, yang menandakan bahwa anaknya kelak akan menjadi perampok.

Brahmana tersebut bertanya kepada Raja, apakah Raja menghendaki agar ia membunuh anaknya yang baru lahir itu. Raja lalu bertanya, apakah anak tersebut kelak akan menjadi kepala perampok ataukah menjadi perampok tunggal. Ia menjawab bahwa anak tersebut akan menjadi perampok tunggal.

Raja tidak terlalu khawatir, karena beliau beranggapan bahwa kerajaannya tidak akan dapat dikacaukan hanya oleh seorang perampok. Jadi beliau membiarkan anak tersebut hidup dan tumbuh menjadi dewasa.

Anak itu diberi nama Ahimsaka, yang berarti tidak melukai siapapun (=tanpa kekerasan). Anak itu diberi nama demikian karena ia berasal dari keluarga yang tidak pernah dinodai dengan kejahatan dan juga karena sifat anak itu sendiri.

Ketika Ahimsaka dewasa, ia disekolahkan di Taxila, suatu pusat pendidikan yang terkenal pada masa lampau. Ahimsaka amat pandai, dapat melampaui murid-murid yang lain dan menjadi murid yang paling menonjol, dan ia amat disayang oleh gurunya.

Teman-temannya menjadi iri kepadanya. Mereka berusaha mencari kesalahan agar Ahimsaka dapat dihukum. Mereka tidak dapat mencela kemampuan maupun reputasi baik keluarga Ahimsaka.

Mereka lalu memfitnah bahwa Ahimsaka telah melakukan hal yang tidak pantas dengan istri gurunya. Mereka lalu membagi kelompoknya menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama memberitahukan kepada guru mereka tentang kesalahan Ahimsaka, kelompok kedua dan ketiga membenarkan apa yang dikatakan oleh kelompok yang pertama. Ketika guru mereka tidak mempercayai apa yang mereka katakan, mereka mengusulkan supaya guru mereka membuktikannya sendiri.

Guru Ahimsaka kemudian melihat istrinya berbicara dengan ramah kepada Ahimsaka, hal ini menambah kecurigaannya, sehingga ia merencanakan untuk melenyapkan Ahimsaka. Sebagai orang terpelajar, di dalam usahanya untuk melenyapkan Ahimsaka, ia tidak melakukannya secara terbuka, karena ia takut tidak ada lagi murid yang mau berguru kepadanya.

Oleh karena itu ia berkata kepada Ahimsaka :
“Muridku, saya tidak sanggup lagi mengajarmu lebih lanjut, kecuali kamu dapat mengumpulkan seribu buah jari tangan kanan manusia sebagai biaya pendidikanmu.”

Guru Ahimsaka mengira bahwa Ahimsaka tidak akan pernah berhasil melaksanakan keinginannya. Dan di dalam usahanya untuk mengumpulkan jari manusia, ia pasti akan tertangkap oleh pengawal raja.

Ahimsaka menjawab, bahwa di dalam keluarga mereka tidak mempunyai kebiasaan untuk melakukan kejahatan kepada orang lain. Berulang-ulang Ahimsaka memohon kepada gurunya, agar ia dapat membayar biaya pendidikannya dengan cara yang lain, tetapi gurunya tetap pada pendiriannya. Apabila ia menolak melaksanakannya, ia akan mendapat kutukan. Karena ia mempunyai keinginan yang kuat untuk belajar dan tidak ada jalan lain lagi untuk melanjutkan pendidikannya, ia lalu mempersenjatai dirinya dan masuk ke hutan Jalini di Kosala, yang merupakan pertemuan dari delapan jalan dan mulai membunuh siapapun yang lewat di situ untuk mengumpulkan jari tangan manusia sesuai dengan permintaan gurunya.

Jari yang terkumpul digantungnya pada sebuah pohon. Namun karena jari-jari tersebut selalu dihancurkan oleh burung gagak dan burung pemakan bangkai, ia lalu membuat untaian jari untuk memastikan jumlah jari yang telah dikumpulkannya. Sejak itu ia dikenal dengan nama Angulimala (=Untaian Jari).

Rakyat lalu pergi ke Savatthi, menghadap Raja untuk memberitahukan bahwa jumlah penduduk semakin berkurang, karena kekejaman seorang perampok yang selalu membunuh penduduk yang lewat di hutan itu. Mereka memohon supaya Raja mengirim pasukan untuk menangkapnya. Raja mengabulkan permohonan rakyat dan segera memerintahkan pasukan kerajaan untuk menyelidiki perampok tersebut.

Brahmana yang merupakan ayah Ahimsaka, berkata kepada istrinya bahwa ia amat khawatir kalau-kalau perampok yang kejam itu adalah anak mereka sendiri, dan bertanya apa yang harus mereka lakukan. Istrinya lalu berkata, sebaiknya ia cepat-cepat pergi ke hutan, sebelum pasukan kerajaan tiba, untuk menyadarkan anaknya. Namun brahmana itu menolak untuk pergi. Istri brahmana itu lalu memutuskan untuk masuk ke hutan seorang diri. Dengan kecintaan seorang ibu terhadap anaknya yang amat besar, ia meratap dan berseru agar anaknya mau mengikuti tradisi keluarga, berhenti melakukan pembunuhan dan berkata bahwa pasukan raja sedang dalam perjalanan untuk menangkapnya.

Pada waktu yang sama, Sang Buddha yang sedang bersemayam di Vihara Jetavana melihat dengan Mata Buddha (melalui Maha Karuna Samapatti), bahwa dari kumpulan karma baik yang dimiliki pada kehidupannya yang lampau, Angulimala memiliki cukup banyak kebajikan untuk menjalani kehidupan sebagai seorang bhikkhu dan mempunyai kemampuan untuk mencapai Tingkat Kesucian Tertinggi yaitu menjadi Arahat pada kehidupan ini juga. Sang Buddha juga melihat bahwa ibu Angulimala dapat terbunuh apabila Angulimala melihatnya, karena ia sudah amat ingin melengkapi untaian jari yang diminta oleh gurunya.

Untuk mencegah hal ini, Sang Buddha lalu mengubah wujudNya menjadi seorang bhikkhu dan segera memasuki hutan. Para pengembala dan petani berusaha mencegah Sang Buddha untuk masuk ke hutan seorang diri, karena empat puluh orang yang pergi bersama-sama pun dapat dibunuh oleh Angulimala. Meskipun mendapat peringatan, Sang Buddha tetap melanjutkan perjalanNya dengan berdiam diri. Untuk kedua dan ketiga kalinya mereka berusaha mencegah Sang Guru masuk ke hutan tersebut, namun Sang Buddha dengan berdiam diri tetap meneruskan perjalananNya masuk ke dalam hutan.

Pada pagi hari itu, Angulimala telah mengumpulkan sembilan ratus sembilan puluh sembilan buah jari dan telah merencanakan bahwa siapapun yang ditemuinya pada hari itu harus dibunuhnya. Tetapi ia mendapat kesulitan untuk menemukan orang yang dapat dibunuhnya, karena orang-orang selalu berjalan dalam rombongan yang besar dan bersenjata lengkap.

Akhirnya ia melihat seorang bhikkhu seeang berjalan seorang diri, tanpa membawa senjata. Ia berpikir tentu amat mudah untuk membunuhnya. Angulimala lalu membawa pedang, tameng, anak panah beserta busurnya mengikuti Sang Buddha dari jarak yang dekat.

Sang Buddha menunjukkan kesaktianNya, sehingga bagaimanapun Angulimala berusaha berlari sekuat tenaga, sedangkan Sang Buddha berjalan dengan kecepatan biasa, ia tetap tidak dapat menyusul Sang Buddha.

Angulimala lalu berpikir, “Saya telah mengejar gajah, kuda, kijang dan dapat mengalahkan mereka, sekarang meskipun saya sudah berlari sekuat tenaga, dan Bhikkhu ini berjalan dengan kecepatan biasa saja, saya tetap tidak dapat mendekatiNya.”

Dengan terengah-engah dan berkeringat, ia berteriak meminta Sang Buddha untuk berhenti : “Tittha (+Berhentilah) Samana!”

Sang Buddha menjawab : “Saya sudah berhenti! Hentikan dirimu sendiri!”

Angulimala keheranan akan jawaban Sang Buddha dan bertanya : “Apa maksudMu?”

Sang Buddha menjawab :
“Saya telah bertekad untuk melimpahkan kasih sayang kepada semua mahluk, sedangkan kamu tidak mempunyai belas kasih terhadap mahluk lain. Oleh karena itu Saya sudah berhenti, sedangkan kamu belum berhenti melakukan pembunuhan.”

Karena tumpukan karma baik Angulimala yang amat besar pada kehidupannya yang lampau, bahwa ia diberi tahu oleh Buddha Padumuttara, bahwa ia akan menjadi seorang Arahat. Sebagai seorang yang mempunyai kemampuan untuk menjadi seorang Arahat, setalah mendengar apa yang dikatakan oleh Sang Buddha, ia mengetahui bahwa pertapa mulia ini adalah Buddha Gotama yang karena cinta kasihNya yang amat besar datang untuk menolongnya.

Angulimala segera melemparkan untaian jari dan senjatanya, lalu bernamaskara di kaki Sang Buddha dan memohon untuk ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu. Sambil mengangkat tanganNya, Sang Buddha berkata :
“Ehi Bhikkhu (Mari, O Bhikkhu).”

Dengan demikian Angulimala dapat menerima delapan kebutuhan pokok seorang bhikkhu pada saat yang bersamaan dan langsung menerima Upasampada, tanpa terlebih dahulu menjadi seorang samanera. Dengan disertai oleh Angulimala, Sang Buddha kembali ke Vihara Jetavana.

Sementara itu Raja Pasenadi Kosala didesak untuk menangkap perampok Angulimala. Sudah menjadi kebiasaannya untuk menemui Sang Buddha apabila ada kejadian genting. Setalah Raja Pasenadi Kosala bernamaskara, lalu duduk di salah satu sisi, Sang Buddha bertanya :
“O, Raja, ada hal apakah yang membuat anda risau?
Apakah Raja Seniya Bimbisara dari Magadha menantang anda?
Apakah para Pangeran Licchavi dari Vesali?
Atau para bangsawan sainganmu?”

Raja lalu menjelaskan masalah yang sedang dihadapinya, ia mengakui tidak dapat menangkap Angulimala si perampok yang haus darah itu. Sang Buddha lalu bertanya :
“Apa yang akan anda lakukan kalau perampok itu memakai jubah seorang bhikkhu?”

Raja menjawab :
“Yang Mulia, saya akan menghormatinya seperti saya menghormat kepada seorang bhikkhu.”

Pada saat itu Bhikkhu Angulimala sedang duduk di dekat Sang Buddha. Beliau lalu berkata kepada raja :
“O, Raja, inilah Angulimala.”

Raja Pasenadi Kosala menjadi ketakutan, badannya gemetar, rambutnya berdiri. Sang Buddha lalu menenangkannya dan berkata bahwa ia tidak perlu takut lagi, karena Angulimala telah menjadi seorang bhikkhu. Raja lalu mendekati Bhikkhu Angulimala dan menanyakan tentang orang tuanya, dan menawarkan untuk memenuhi semua kebutuhannya. Pada saat itu Bhikkhu Angulimala telah menjalani latihan hidup di hutan, berpindapatta, memakai jubah dari kain perca yang terdiri dari tiga bagian. Oleh karena itu ia menolak tawaran raja, karena ia sudah tidak memerlukannya lagi. Kemudian Raja Pasenadi Kosala memberi hormat kepada Bhikkhu Angulimala dan menyatakan keheranannya kepada Sang Buddha akan perubahan yang dialami oleh Bhikkhu Angulimala. Ia lalu pulang ke istana dengan hati yang bahagia.

Pada suatu hari, ketika Bhikkhu Angulima sedang berpindapatta di Savatthi, Beliau melihat seorang wanita yang sangat kesakitan karena akan melahirkan. Beliau melihat penderitaan wanita itu, tergerak hatinya, lalu berpikir :
“Betapa menderitanya mahluk hidup, betapa menderitanya mahluk hidup!”

Beliau yang pernah membunuh sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang, sekarang merasa amat kasihan melihat seorang wanita menderita kesakitan karena akan melahirkan. Ketika Beliau selesai berpindapatta dan makan pagi, Beliau pergi ke vihara menemui Sang Buddha dan menyampaikan apa yang dilihatnya. Sang Buddha lalu meminta Bhikkhu Angulimala pergi menemui wanita itu dan berkata :
“Saudari, sejak saat saya dilahirkan dalam Keluarga Ariya, saya tidak sadar, dengan sengaja telah membunuh mahluk hidup. Berdasarkan kebenaran ini, semoga anda selamat dan semoga anak anda selamat.”

Beliau lalu pergi menemui wanita yang akan melahirkan bayinya. Layar penyekat diletakkan melingkari sang ibu, Bhikkhu Angulimala duduk dan mengulang Paritta yang diajarkan Sang Buddha. Segera saja bayi tersebut lahir dengan mudah dan selamat. (Kemanjuran Paritta Angulimala Sutta ini masih terbukti hingga saat ini).

Tidak lama kemudian, Bhikkhu Angulimala mencapai Tingkat Kesucian Arahat.

Pada suatu hari, ketika Yang Mulia Angulimala sedang berpindapatta di Savatthi, Beliau dilempari bongkahan tanah, tongkat dan batu. Kepalanya terluka, bercucuran darah dan mangkokNya pecah. Beliau pulang kembali ke vihara dan mendekati Sang Buddha yang sedang duduk. Sang Buddha yang melihat keadaanNya lalu menjelaskan, bahwa semua kejadian ini adalah akibat dari perbuatan burukNya, yang sesungguhnya dapat membuatNya menderita di Alam Neraka selama ribuan tahun.

Sekarang Yang Mulia Angulimala hidup menyendiri, menikmati Kebahagiaan dari Kebebasan, mengucapkan pernyataan-pernyataan Kebijaksanaan, meninggal dunia dan mencapai Nibbana.

Para bhikkhu membicarakan tempat kelahiran kembali dari Yang Mulia Angulimala, Sang Buddha memberitahu mereka, bahwa Beliau telah mencapai Nibbana. Para bhikkhu keheranan, bagaimana mungkin seseorang yang telah melakukan begitu banyak pembunuhan dapat mencapai Nibbana. Sang Buddha menjawab bahwa pada masa yang lampau, karena bimbingan yang kurang baik, Angulimala telah melakukan perbuatan-perbuatan buruk namun kemudian ketika Beliau mendapat bimbingan yang baik, Beliau menjalani kehidupan suci. Dengan demikian Beliau dapat mengatasi perbuatan buruk dengan perbuatan baiknya. Setalah berkata demikian, Sang Buddha mengucapkan syair :

“Mereka yang dapat mengatasi perbuatan buruk mereka dengan perbuatan baik, menyinari dunia ini, bagaikan bulan yang terbebas dari awan.” (Dhammapada 173).

Menaklukkan Gajah Nalagiri

Menaklukkan Gajah Nalagiri
(dengan Cinta Kasih /Metta)

Nãlãgirim gajavaram atimatta bhutam
Dãvaggi cakka masaniva sudãrunantam
Mettambuseka vidhinã jitavã munindo
Tan tejasã bhavatu te jayamangalãni

Nalagiri gajah mulia menjadi sangat gila
Sangat kejam bagaikan hutan terbakar, bagai senjata roda atau halilintar
Raja para Bijaksana menaklukkannya dengan kemampuan pikiran sakti yang mengagumkan
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.

Sang Buddha seperti biasa sedang berjalan ke suatu daerah untuk membabarkan Dhamma kepada umatNya. Beliau diiringi oleh murid-muridNya, yang penuh cinta kasih dan pengabdian yang besar kepada Sang Buddha, Sang Guru Agung.

Melihat Sang Buddha yang dicintai oleh murid-muridNya, menyebabkan Devadatta berpikir :
“Adalah suatu kenyataan, bahwa tidak ada satu mahlukpun yang dengan melihat Kesempurnaan Manusia Gotama mampu dan berani untuk menyentuhNya. Tetapi raja gajah Nalagiri adalah binatang yang amat galak dan liar, ia tidak mengetahui kesucian Buddha, Dhamma serta Sangha. Ia akan saya lepaskan untuk menghancurkan Bhikkhu Gotama.”

Kemudian Devadatta pergi menemui Raja Ajatasattu dan membicarakan masalah ini. Raja terpengaruh oleh penjelasannya dan memanggil penjaga gajah, lalu memberi perintah :
“Penjaga, besok kamu harus memberi minuman keras kepada Nalagiri. Dan lepaskanlah Nalagiri di jalan raya saat Bhikkhu Gotama sedang berjalan.”

Devadatta bertanya kepada penjaga itu berapa banyak air yang biasa diberikan kepada gajah itu, penjaga itu menjawab :
“Delapan guci.”

Devadatta lalu berkata :
“Besok, berikan kepada Nalagiri enam belas guci minuman keras dan lepaskan dia ke arah jalan raya yang akan dilalui oleh Bhikkhu Gotama.”

“Baiklah,” jawab penjaga itu.

Raja lalu menabuh tambur di seluruh kota dan mengumumkan :
“Besok gajah Nalagiri akan menjadi mabuk karena minum minuman keras dan akan dilepas ke dalam kota. Penduduk di kota ini dapat melakukan semua pekerjaannya hanya pada pagi hari, sesudah itu tidak boleh ada satu orangpun yang berada di jalan raya.”

Devadatta lalu turun dari istana dan mendatangi kandang gajah Nalagiri, ia mendekati penjaga gajah itu dan berkata :
“Saya katakan kepadamu, kita mampu untuk menghancurkan seseorang dari posisinya yang tinggi ke posisi yang rendah. Dan menaikkan posisi seseorang yang rendah menjadi posisi yang tinggi. Kalau kamu menginginkan kehormatan, besok pagi-pagi sekali, berikan Nalagiri enam belas guci minuman keras dan ketika Bhikkhu Gotama melewati jalan itu, lukailah gajah itu dengan tongkat berduri. Karena gajah yang kesakitan itu akan marah, ia akan menerobos kandangnya dan berlari keluar, arahkanlah ia ke jalan raya di mana Bhikkhu Gotama sedang berjalan. Maka gajah itu akan menghancurkanNya.”

Keduanya setuju dengan rencana seperti itu. Berita ini bergema ke seluruh kota. Pengikut Sang Buddha mendengar berita ini amat khawatir, lalu mendatangi Vihara dan meminta Sang Buddha untuk tidak masuk ke kota esok hari, karena ada bahaya besar yang menghadang Beliau. Mereka berjanji akan membawakan semua kebutuhan yang diperlukan oleh Sang Guru beserta murid-muridNya. Tatapi Sang Buddha menyatakan tetap akan menjalankan tugasNya seperti biasa. Para pengikutNya melihat bahwa mereka tidak akan merubah rencana Sang Guru Agung akhirnya mereka meninggalkan Vihara dengan perasaan amat khawatir.

Setelah mereka pergi, Sang Buddha merenungkan semua keluargaNya yang sudah mengerti akan Kebenaran. Beliau juga melihat apabila Nalagiri berhasil ditaklukkanNya, maka delapan puluh ribu mahluk akan mendapatkan pengertian yang jelas tentang Dhamma Yang Mulia.

Keesokan paginya, Beliau memanggil Ananda, dan berkata untuk memberitahukan kepada para bhikkhu di delapan belas vihara yang berada di sekitar Rajagaha untuk menyertaiNya masuk ke kota. Bhikkhu Ananda melaksanakan apa yang diminta oleh Sang Guru, dan semua bhikkhu berkumpul di Vihara Veluvana.

Sang Buddha dengan disertai oleh semua murid-muridNya, berjalan memasuki Rajagaha. Penjaga gajah itu bekerja sesuai dengan instruksi Devadatta dan banyak orang berkerumun di sekitar jalan raya. Para pengikut Sang Buddha berpikir :
“Hari ini mungkin akan terjadi pertempuran antara Sang Guru Agung dan gajah liar itu. Kami akan menyaksikan kekalahan gajah Nalagiri dari Sang Buddha yang tiada bandingannya.”

Penduduk lalu menaiki atap-atap rumah, gudang-gudang yang ada di sekitar jalan raya itu.

Tetapi ada pula pertapa lain yang berpikir :
“Nalagiri adalah gajah yang amat galak, binatang liar dan tidak mengetahui kebaikan dan cinta kasih yang besar dari seorang Buddha. Hari ini ia akan menghancurkan tubuh Bhikkhu Gotama dan Beliau akan meninggal. Hari ini kami akan melihat apa yang terjadi denganNya.”

Para pertapa lalu berdiri di atas sebuah gudang dan di tempat-tempat yang tinggi. Gajah Nalagiri melihat Yang Maha Sempurna berjalan menghampirinya, penduduk yang ada di sana amat ngeri melihat gajah tersebut. Gajah yang amat kesakitan itu berlari dengan liarnya, ia menghancurkan pagar rumah-rumah dan mengangkat belalainya tinggi-tinggi, serta menginjak-injak kereta menjadi hancur berantakan. Dengan kuping dan ekornya yang terangkat, ia berlari dengan kencangnya seperti gunung yang tinggi menghampiri Yang Maha Sempurna.

Para bhikkhu yang melihat gajah Nalagiri berlari mendatangi Sang Buddha, memberitahu Sang Guru Agung :
“Yang Mulia, gajah Nalagiri berlari di sepanjang jalan ini, ia adalah binatang yang amat galak dan liar, ia pembunuh manusia. Kami mohon Yang Mulia balik kembali.”

“O….Para Bhikkhu datanglah ke sini, jangan takut; tidak ada satu mahlukpun yang dapat menghancurkan Sang Tathagata dengan suatu serangan. Tathagata mencapai Parinibbana bukan karena suatu serangan.”

Para bhikkhu, tetap memperingatkan Sang Guru sampai tiga kali. Yang Mulia Sariputta lalu meminta Sang Buddha dengan berkata :
“Yang Mulia, apabila ada satu persembahan yang harus diberikan kepada seorang ayah, maka beban itu terletak pada anak sulungnya. Saya akan mengalahkan binatang ini.”

Sang Buddha lalu berkata :
“Sariputta, kekuatan seorang Buddha adalah satu hal dan pengikutnya adalah hal yang lain.”

Beliau menolak tawaran itu, dan berkata :
“Sariputta, tetaplah tinggal di sini.”

Para bhikkhu lainnya juga meminta ijin untuk mengalahkan gajah liar itu, tetapi Sang Guru menolak permintaan mereka. Kemudian Yang Mulia Ananda, pembantu Sang Buddha yang mempunyai pengaruh besar terhadap Sang Buddha, tidak mampu bersikap diam dalam menghadapi masalah ini, ia lalu berteriak :
“Biarkan gajah itu membunuh saya terlebih dahulu.”

Yang Mulia Ananda berdiri di depan Sang Buddha, siap untuk mengorbankan hidupnya untuk Sang Tathagata. Tetapi Sang Buddha berkata kepadanya :
“Bergeserlah Ananda, jangan berdiri di hadapanKu.”

Yang Mulia Ananda berkata :
“Yang Mulia, gajah ini amat galak dan liar, ia dapat membunuh orang, seperti nyala api pada permulaan suatu lingkaran. Biarkanlah ia membunuh saya terlebih dahulu dan sesudah itu ia baru dapat menghampiri Yang Mulia.”

Yang Mulia Ananda memohon tiga kali, dan Beliau tetap berdiri di depan Sang Tathagata, Beliau tidak mau mundur. Kemudian Sang Buddha dengan kekuatan kesaktianNya membuat Yang Mulia Ananda berada di belakang Beliau dan menempatkanNya di tengah-tengah para bhikkhu yang tengah berkerumun.

Pada waktu itu ada seorang ibu, terlihat oleh pandangan gajah Nalagiri, ibu itu amat ketakutan, ia ingin berlari karena ketakutan, tetapi anaknya terjatuh ketika ia ingin menggendong anak itu di pinggangnya. Posisinya berada di antara Sang Tathagata dan gajah Nalagiri, ibu itu berusaha berlari. Gajah itu mengejar ibu tersebut, ibu tersebut terpaku berdiri di tempatnya dengan amat ketakutan bersama anaknya yang menjerit sekeras-kerasnya.

Hati Sang Buddha bergetar, dengan penuh cinta kasih yang terpancar dengan kuatnya (odissakametta) dan dengan suaraNya yang penuh kelembutan seperti suara Dewa Brahma, memanggil Nalagiri :
“Ho..! Nalagiri…! Siapa yang mebuatmu menjadi gila dengan enam belas guci minuman keras, kamu tidak diperintahkan untuk menyerang orang lain, tetapi diarahkan untuk menyerangKu. Jangan keluarkan kekuatanmu dengan merusak tanpa tujuan, datanglah kepadaku.”

Mendengar suara Sang Buddha, Nalagiri membuka matanya dan melihat tubuh Sang Buddha yang bersinar terang. Ia menjadi gelisah dan dengan kekuatan cinta kasih Sang Buddha yang amat besar, maka pengaruh minuman keras yang amat kuat itu hilang. Dengan menurunkan belalainya dan mengoyang-goyangkan kupingnya ia mendatangi dan berlutut di kaki Sang Tathagata. Kemudian Sang Tathagata berkata :
“Nalagiri, kamu adalah gajah jahat, Aku adalah Gajah Buddha, tidak jahat dan liar, tidak membunuh manusia, tetap mengembangkan cinta kasih.”

Sambil berkata demikian Sang Tathagata lalu mengulurkan tangan kananNya dan mengelus-elus kepala gajah itu dan mengajarkan Dhamma kepadanya dengan bersabda :
“Jangan menyerang Sang Buddha, O, gajah..! Dengan pikiran akan melukaiNya, akan membuatmu menderita. Pembunuh seorang Buddha tidak akan memperoleh alam kehidupan yang baik setelah kematiannya.”

“Bebaskanlah dirimu dari mabuk-mabukkan dan melakukan perbuatan bodoh. Karena orang yang bodoh tidak akan dapat pergi ke alam yang baik. Kamu harus melakukan perbuatan baik sehingga kamu dapat menuju ke alam bahagia.”

Seluruh badan gajah itu bergetar karena diliputi oleh kebahagiaan yang amat besar, dan ia sekarang bukan hanya binatang berkaki empat biasa lagi, tetapi ia telah mencapai Tingkat Kesucian Pertama (Sotapanna).

Penduduk yang melihat keajaiban ini berseru dengan gembira dan bertepuk tangan dengan riang. Dengan penuh kebahagiaan, mereka menutupi badan gajah itu dengan hiasan-hiasan. Kemudian Nalagiri terkenal dengan nama Dhanapalaka (pemilik kekayaan) dan ia menjadi amat jinak dan tidak menyakiti siapapun.

Setelah Sang Buddha memperlihatkan keajaiban ini, Beliau berpikir adalah tidak patut untuk mencari dana di tempat yang sama. Sesudah mengalahkan para pertapa tersebut, dengan diiringi oleh murid-muridNya, Beliau melangkah menuju ke kota seperti orang yang telah memenangkan suatu pertempuran dan pulang kembali ke Vihara Jetavana. Para penduduk menuju Vihara Jetavana, berdana makanan berupa nasi, minuman dan makanan enak lainnya kepada Sang Guru Agung beserta murid-muridNya. Penduduk kota itu telah menanam kebajikan yang besar sekali.

Menaklukkan Yakkha Alavaka

Menaklukkan Yakkha Alavaka
(dengan Kesabaran / Khanti)

Mãrãtireka mabhiyujjhita sabbarattim
Gorampanãlavaka makkhamathaddha yakkham
Khanti sudhanta vidhinã jitavã munindo
Tan tejasã bhavatu te jayamangalãni

Lebih dari Mara yang membuat onar sepanjang malam
Adalah Yakkha Alavaka yang menakutkan, bengis dan congkak
Raja para Bijaksana menaklukkannya, menjinakkan dengan kesabaran
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.

Sudah menjadi kebiasaan Raja Alava, ketika sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi peperangan yang melelahkan, ia selalu menghibur diri dengan pergi berburu ke hutan selama tujuh hari tanpa henti. Pada saat itu, ketika sedang mengepung binatang buruannya di sebuah hutan, raja memerintahkan kepada para pengawalnya, untuk menjaga agar tidak seekor binatang pun yang dapat meloloskan diri. Namun seekor rusa dapat menerobos penghalang yang berada di dekat raja. Raja mengejar rusa itu seorang diri, sesudah mengejar rusa itu cukup jauh, akhirnya ia dapat membunuh rusa itu. Ia memang tidak membutuhkan daging rusa itu tetapi untuk menunjukkan kehebatannya di hadapan para pengawalnya, ia memotong rusa itu menjadi dua bagian. Lalu ia mengikatkannya pada sepotong kayu. Raja lalu berjalan kembali ke tempat ia telah meninggalkan para pengawalnya.

Dalam perjalanan kembali ke tempat para pengawal yang menunggunya, raja tiba di bawah sebuah pohon Banyan [2], di perempatan sebuah jalan. Karena ia amat lelah, maka ia berhenti sejenak untuk beristirahat di bawah pohon tersebut. Pohon Banyan ini adalah tempat kediaman Yakkha Alavaka (raksasa) yang mempunyai kebiasaan untuk membunuh orang-orang yang mendekati pohon tersebut.

Yakkha Alavaka menangkap raja yang sedang berteduh di bawah pohon itu. Raja amat ketakutan dan berjanji apabila Yakkha Alavaka tidak membunuh dan melepaskannya, maka ia akan mempersembahkan korban sebagai pengganti dirinya, seorang manusia dan sepiring nasi setiap hari.

Tetapi Yakkha Alavaka menjawab :
“Kalau kamu kembali ke istana, kamu pasti akan melupakan janjimu ini. Saya hanya dapat menangkap orang-orang yang mendekati pohon ini, oleh karena itu saya tidak akan melepaskanmu.”

Raja berkata dengan amat ketakutan, bahwa apabila suatu hari ia ingkar janji, Yakkha Alavaka dapat mendatangi istana untuk mengambil korbannya. Setelah menerima janji dari raja ini, Yakkha Alavaka lalu melepaskan raja untuk kembali pulang ke istana.

Setibanya di istana, raja memanggil walikota dan menceritakan apa yang telah terjadi. Walikota bertanya kepada raja; apakah ketika berjanji kepada Yakkha Alavaka, raja menyebutkan kapan berakhirnya persembahan korban itu. Raja mengatakan, ia tidak menyebutkannya. Walikota menyesali karena raja telah melakukan suatu kesalahan besar, namun ia berjanji untuk mengatasi bencana ini, tanpa menyusahkan raja.

Kemudian walikota pergi ke penjara, dan berkata bahwa narapidana yang telah dijatuhi hukuman mati karena membunuh, akan dibebaskan apabila mereka membawa sepiring nasi dan mempersembahkannya di bawah pohon Banyan. Para pembunuh menyambut gembira usul ini, tetapi ketika mereka mendekati pohon Banyan tersebut, mereka ditangkap dan dibunuh oleh Yakkha Alavaka. Setelah narapidana sudah habis, perintah ini dialihkan kepada para pencuri dan merekapun dibunuh oleh Yakkha Alavaka, sehingga penjara akhirnya kosong.

Lalu perintah ini diteruskan kepada orang yang tidak bersalah, yang dituduh melakukan kesalahan yang tidak mereka lalukan. Karena cara ini akhinya tidak berhasil, perintah ini lalu dialihkan kepada orang-orang yang berusia lanjut. Orang-orang tua ini diambil dari rumah lalu dibawa ke pohon Banyan tersebut. Raja lalu memberitahukan kepada walikota bahwa rakyat mengeluh karena kakek nenek mereka diambil dari rumah mereka. Raja lalu memerintahkan cara lain untuk memenuhi janjinya kepada Yakkha Alvaka. Walikota lalu berkata apabila ia tidak diijinkan untuk mengorbankan orang-orang berusia lanjut, ia harus mengorbankan bayi-bayi. Ketika penduduk mengetahui hal ini, sebagian dari mereka terutama ibu-ibu yang mempunyai bayi ataupun yang sedang hamil pindah ke negara lain.

Kejadian ini berlangsung selama dua belas tahun lamanya. Sehingga tidak ada lagi anak kecil yang tersisa, kecuali putera raja sendiri. Karena tidak ada jalan lain, maka raja dengan terpaksa merelakan puteranya sendiri untuk dipersembahkan kepada Yakkha Alavaka. Ratu dan selir-selir raja menangis tersedu-sedu, ketika raja memerintahkan agar membawa puteranya untuk dipersembahkan kepada Yakkha Alavaka.

Di pagi hari yang sama, Sang Buddha ketika itu sedang bersemayam di Vihara Jetavana. Beliau melihat dengan Mata BuddhaNya, bahwa Pangeran Alava mempunyai karma baik, ia dapat mencapai Tingkat Kesucian Anagami [3]. Demikian pula Yakkha Alavaka, ia masih mempunyai karma baik karena ia dapat mencapai Tingkat Kesucian Sotapanna [4]. Kemudian Sang Buddha membawa mangkuk pindapatta dan meninggalkan Vihata Jetavana menuju ke pintu kediaman Yakkha Alavaka.

Penjaga pintu memperingatkan Sang Buddha, untuk jangan mendekat karena berbahaya. Majikannya sangat kejam, bahkan kepada orang tuanya sendiri dia tidak pernah menaruh hormat. Sang Buddha berkata, bahwa tidak akan terjadi apapun terhadap diriNya, asalkan Beliau diijinkan untuk menetap semalam di tempat itu. Penjaga pintu kemudian mengatakan bahwa majikannya akan mencabut jantung siapapun yang datang mendekat dan akan mengoyak tubuh korbannya menjadi dua bagian. Sang Buddha tetap mendesak untuk tinggal di sana satu malam. Akhirnya penjaga itu berkata ia akan meminta ijin dahulu kepada majikannya di Hutan Himala.

Setelah penjaga itu pergi, Sang Buddha lalu memasuki tempat tinggal Yakkha Alavaka dan duduk di singgasana, tempat yang biasa diduduki oleh Yakkha Alavaka. Para selir dari istana datang dan memberi hormatnya kepada Sang Buddha. Sang Guru lalu membabarkan Dhamma kepada mereka, mengajarkan untuk mengasihi semua mahluk dan tidak menyakiti siapapun. Setelah mendengarkan Dhamma mereka mengucapkan “Sadhu”.

Ketika gandrabbha atau pengawal memberitahukan kepada Yakkha Alavaka bahwa Sang Buddha sedang berada di tempat kediamannya, ia sangat marah dan berkata dengan suara keras; bahwa Bhikkhu Gotama akan sangat menderita karena telah memasuki tempat tinggalnya.

Ketika itu para Yakkha yaitu Satagira dan Hemavata bersama para pengikutnya sedang dalam perjalanan menuju ke suatu pertemuan. Para Yakkha ketika terbang di angkasa harus menghindari jalur yang biasa dilewati para Dewa. Tempat tinggal Yakkha Alavaka dikelilingi pagar besi dan di atasnya dilindungi jala emas. Kedua Yakkha tersebut harus melintasi tempat ini dari dekat, dan karena para Yakkha tidak diperkenankan untuk mendekati Sang Buddha (kecuali untuk memberi penghormatan kepada Beliau), mereka tertangkap dan ketika ingin mencari penyebabnya, mereka menemukan Sang Guru Agung sedang duduk di tahta Yakkha Alavaka, keduanya lalu menghampiri dan menghormati Beliau.

Setelah itu mereka pergi ke Hutan Himalaya. Pada saat itu, mereka bertemu dengan Yakkha Alavaka dan memberitahukan bahwa suatu kejadian yang menguntungkan telah terjadi padanya. Karena Sang Buddha sedang berada di tempat kediamannya, dan dia harus pergi untuk menyambut Beliau. Mendengar hal ini, Yakkha Alavaka menjadi gelisah dan bertanya :
“Siapakah Sang Buddha ini yang telah berani memasuki tempat tinggalku?”

Kedua Yakkha menjawab :
“Apakah kamu tidak mengenal Sang Buddha, Penguasa ke Tiga Alam [5]?”

Yakkha Alavaka berkata bahwa siapapun Beliau, ia akan mengusirnya dari tempat kediamannya.

Kemudian kedua temannya itu berkata :
“Yakkha Alavaka, kamu hanyalah bagaikan seekor anak kerbau yang baru lahir di dekat seekor kerbau dewasa. Bagaikan gajah kecil di dekat raja pemimpin suku. Bagaikan seekor serigala tua di dekat seekor singa yang perkasa. Apa yang dapat kamu perbuat?”

Yakkha Alavaka berdiri dari tempat duduknya dengan penuh kemarahan, ia lalu menaruh kakinya di puncak Gunung Ratgal, ia tampak seperti kobaran api dan berkata: “Sekarang kita lihat, siapakan yang lebih kuat.”

Yakkha Alavaka dengan penuh kemarahan menendang Gunung Kailasa, yang menimbulkan percikan api seperti besi panas yang dipukul dengan palu. Sekali lagi ia berteriak dengan kerasnya : “Saya adalah Yakkha Alavaka ………!” Dan suaranya menggema ke seluruh Jambudwipa (India).

Tanpa menunda lagi, Yakkha Alavaka pergi ke tempat kediamannya dan berusaha keras untuk mengusir Sang Buddha. Ia menciptakan badai hebat yang didatangkan dari empat penjuru, yang dapat menumbangkan pohon dan bukit karang berukuran besar. Tetapi dengan kekuatan cinta kasih Sang Buddha, semua itu tidak dapat melukai Beliau. Setelah itu terjadi hujan lebat, hujan senjata, hujan pasir, arang, abu dan kegelapan. Namun tidak ada satupun yang dapat melukai Sang Buddha. Kemudian Yakkha Alavaka mengubah wujudnya menjadi mahluk yang sangat menyeramkan, namun Sang Buddha tidak menghentikannya dan membiarkan Yakkha Alavaka melakukannya sepanjang malam, sehingga ia menjadi amat lelah.

Kemudian ia melemparkan senjatanya yang amat sakti, namun tidak berhasil juga. Ketika itu para Dewa mulai berkumpul untuk menyaksikan pertandingan ini. Yakkha Alavaka sangat heran menyaksikan senjata andalannya tidak berdaya, dan mencari penyebabnya. Ia menemukan bahwa semua itu adalah karena cinta kasih dan kasih sayang Sang Buddha yang amat besar. Cinta kasih hanya dapat ditaklukkan dengan cinta kasih, bukan dengan kemarahan.

Kemudian Yakkha Alavaka meminta dengan lemah lembut kepada Sang Buddha untuk meninggalkan tempat kediamannya dan Sang Buddha yang telah mengetahui bahwa kemarahannya telah ditaklukkan dengan kelembutan. Beliau berdiri dan meninggalkan tempat tersebut. Melihat hal ini, Yakkha Alavaka berpikir :
“Saya telah menentang Pertapa ini sepanjang malam dengan tanpa membawa hasil, dan sekarang hanya dengan satu kata Beliau meninggalkan tempat ini.”

Melihat hal ini hatinya menjadi lembut. Namun demikian ia berpikir, akan lebih baik lagi apabila ia mengetahui apakah Sang Buddha pergi karena kemarahan atau ketidakpatuhan, ia lalu memanggil Beliau :
“Yang Mulia, silakan masuk,” kata Yakkha Alavaka. Sang Buddha lalu masuk menghampirinya. Tiga kali hal tersebut diulangi, namun ketika Yakkha Alavaka berkata untuk yang keempat kalinya, supaya Sang Buddha meninggalkan kediamannya, Sang Buddha menolak dan menanyakan apa yang dapat Beliau lakukan untuknya.

“Baiklah Yang Mulia, saya akan mengajukan sebuah pertanyaan,” kata Yakkha Alavaka.

Sudah menjadi kebiasaan Yakkha Alavaka untuk menangkap para pertapa dan bhikkhu yang datang ke tempat kediamannya dan bertanya kepada mereka, jadi ia berpikir ia akan melakukan hal yang sama terhadap Sang Buddha.

Lalu ia berkata :
“Apabila Anda tidak mau menjawab pertanyaan saya, saya akan mengacaukan pikiran Anda, atau membelah jantung Anda, atau memegang kedua kaki dan melemparkan Anda ke seberang Sungai Gangga.”

Sang Buddha menjawab :
“Tidak saudara, Saya melihat tidak ada satupun mahluk di dunia ini maupun di alam dewa, di alam Brahma, para pertapa, brahmana, para dewa dan manusia yang dapat mengacaukan pikiran Saya, membelah jantung ataupun memegang ke dua kaki dan melemparkan Saya ke seberang Sungai Gangga. Tetapi saudara, tanyakanlah yang ingin kamu ketahui.”

Yakkha Alavaka kemudian menanyakan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :
“Apakah milik manusia yang paling berharga?
Praktek apakah yang membawa kebahagiaan?
Apakah yang paling manis dari semua rasa?
Bagaimana cara yang terbaik dalam menjalani kehidupan ini?”

Sang Buddha menjawab:
“Keyakinan adalah milik manusia yang paling berharga.
Dhamma yang dipraktekkan dengan benar akan menghasilkan kebahagiaan.
Kebenaran adalah yang termanis dari semua rasa.
Kehidupan yang dijalani dengan pengertian adalah yang terbaik.”

Kemudian Yakkha Alavaka bertanya lagi :
“Bagaimanakah seseorang menyeberangi arus?
Bagaimanakah seseorang menyeberangi laut?
Bagaimanakah seseorang mengatasi penderitaan?
Bagaimanakah seseorang disucikan?”

Yang Maha Sempurna menjawab :
“Dengan keyakinan seseorang menyeberangi arus.
Dengan perhatian benar seseorang menyeberangi laut.
Dengan usaha seseorang mengatasi penderitaan.
Dengan kebijaksanaan seseorang disucikan.

Yakkha Alavaka bertanya kembali :
“Bagaimanakah kebijaksanaan diperoleh?
Bagaimanakah kekayaan didapatkan?
Bagaimanakah ketenaran diperoleh?
Bagaimanakah mempererat persahabatan?
Ketika meninggalkan dunia ini menuju ke dunia lain, bagaimana agar orang tidak bersedih?”

Sang Guru Agung menjawab :
“Orang yang memiliki keyakinan, perhatian dan pandai memperoleh kebijaksanaan dengan mendengarkan Dhamma dari Para Suci, Yang membimbing ke Nibbana. Dia yang melaksanakan apa yang pantas dilaksanakan, tidak tergoyahkan dan giat berusaha, memperoleh kekayaan. Dengan kebenaran seseorang memperoleh ketenaran. Kedermawanan mempererat persahabatan. Perumah tangga setia yang memiliki keempat kebajikan ini : kejujuran, moral yang baik, semangat dan kedermawanan, tidak akan menderita setelah meninggal dunia. Tanyakanlah kepada para pertapa dan brahmana yang lain, apakah ada yang lebih hebat dari pada kejujuran, pengendalian diri, kedermawanan dan kesabaran.”

Setelah mengerti dengan baik maksud dari sabda Sang Buddha, Yakkha Alavaka berkata :
“Yang Mulia, bagaimana saya dapat bertanya kepada para pertapa dan brahmana yang lain? Hari ini saya telah mengetahui rahasia dari kebahagiaan saya di masa yang akan datang. Untuk kebaikan saya sendiri, Sang Tathagata telah datang ke Avali. Hari ini telah saya ketahui di mana timbunan jasa yang menghasilkan buah yang berlimpah. Dari desa ke desa, dari kota ke kota, saya akan mengembara memberikan penghormatan kepada yang Maha Sempurna dan kepada Dhamma Yang Mulia.”

Pada saat Yakkha Alavaka mengucapkan hal ini, Pangeran Alava sedang diantarkan ke tempat kediamannya. Ketika para pengawal mendengarkan kata “Sadhu”, mereka mengetahui bahwa kata ini tidak pernah diucapkan kecuali di hadapan Sang Buddha, oleh karena itu mereka mendekat tanpa rasa takut. Ketika memasuki tempat kediaman Yakkha Alavaka, mereka melihat Yakkha Alavaka sedang bernamaskara, menghormat kepada Sang Buddha. Para pengawal mengatakan bahwa hari ini mereka datang untuk membawa Pangeran Alava yang akan dipersembahkan sebagai korban kepada Yakkha Alavaka, ia dapat memakan dagingnya dan meminum darahnya atau melakukan apa saja yang diinginkannya. Yakkha Alavaka merasa amat malu mendengar pernyataan ini, ia lalu mempersembahkan Pangeran kepada Sang Buddha.

Sang Guru Agung memberkati Pangeran Alava dan menyerahkannya kembali kepada para pengawal yang menyambutnya dengan sukacita. Sejak saat itu Pangeran Alava diberi nama Hatthalavaka.

Penduduk desa amat ketakutan ketika melihat Pangeran Alava dibawa pulang kembali ke istana. Ketika mereka mendengar apa yang telah terjadi, mereka serentak berseru :
“Sadhu, Sadhu, Sadhu.”

Kemudian Sang Buddha meninggalkan tempat kediaman Yakkha Alavaka, pergi ke desa untuk berpindapatta. Setelah Sang Buddha selesai bersantap, Beliau duduk di bawah pohon. Raja dan para penduduk berduyun-duyun menemui dan memberikan hormatnya dengan bernamaskara. Sang Guru Agung menjelaskan kepada mereka tentang Alava Sutta, yang menyebabkan ribuan di antara mereka mencapai Tingkat Kesucian.

Ketika Pangeran Alava dewasa, ayahnya memberitahukan bahwa ia diselamatkan dari kematian oleh Sang Buddha, maka ia harus pergi menemui, memberikan hormat dan melayani Beliau. Pangeran melakukan apa yang dikatakan oleh ayahnya dan bersama dengan lima ratus orang pengikutnya mencapai tingkat kesucian.

Keterangan :

  1. Yakkha : Raksasa
  2. Pohon Banyan : Sejenis pohon beringin
  3. Anagami : Orang suci tingkat ketiga yang tidak akan terlahir kembali.
  4. Sotapanna : Prang suci tingkat pertama yang akan terlahir kembali tidak lebih dari tujuh kali.
  5. Tiga Alam :
    1. Alam Bahagia atau Alam Surga
    2. Alam Manusia
    3. Alam Menderita