Bodhisattva Ksitigarbha Sutra Bab 12

Bab 12.Varga Manfaat dari Melihat dan Mendengar

Pada saat itu di puncak kepala Sang Buddha Sakyamuni tiba tiba keluar ratusan ribu koti “Maha Urnasaprabha (Urnakesahprabha) yakni berjenis-jenis sinar berupa rambut yang bercahaya dan berwarna, warnanya seperti: ‘sinar putih’ dan ‘maha sinar putih’; ‘sinar bahagia’ dan ‘maha sinar bahagia’; ‘sinar mutiara’ dan ‘maha sinar mutiara’; ‘sinar lembayung’ dan ‘maha sinar lembayung’; ‘sinar nila’ dan ‘maha sinar nila’; ‘sinar biru’ dan ‘maha sinar biru’; ‘sinar merah’ dan ‘maha sinar merah’; ‘sinar hijau’ dan ‘maha sinar hijau’; ‘sinar emas’ dan ‘maha sinar emas’; ‘sinar awan bahagia’ dan ‘maha sinar awan bahagia’; ‘sinar roda seribu’ dan maha sinar roda seribu’; ‘sinar roda permata’ dan ‘maha sinar roda permata’; ‘sinar roda surya’ dan ‘maha sinar roda surya’; ‘sinar roda candra’ dan ‘maha sinar roda candra’; ‘sinar istana surga’ dan ‘maha sinar istana surga’; ‘sinar sagara megha’ dan ‘maha sinar sagara megha’ serta sinar-sinar yang lainnya.

Setelah sinar tersebut berhenti keluar dari atas kepala Sang Buddha Sakyamuni, kemudian disusul oleh suara merdu dan bunyinya amat harmonis langsung mengumandangkan kabar baik kepada para hadirin serta para Dewa, Naga, delapan kelompok makhluk, kinnara, dll.

“Dengarlah hadirin yang berbahagia, hari ini aku berada di istana Trayastrimsa dalam pertemuan agung, memuji Ksitigarbha Bodhisattva yang selalu memberikan manfaat kepada Dewa dan manusia dengan segala kemudahan-kemudahan serta usaha-usaha berfaedah lainnya yang tak terbayangkan. Dengan cara Vikramaryahetu (memuliakan nama Buddha), dengan peningkatan kesadarang agung (Dasabhumaya) dan akhirnya mencapai Anuttara Samyak Sambodhi.”

Saat sabda Sang Buddha selesai, tiba-tiba seorang Bodhisattva Mahasattva yang bernama Avalokitesvara bangkit dari tempatnya lalu bersujud dengan merangkapkan kedua telapak tangannya kepada Sang Buddha seraya berkata: “Yang Arya Bhagavan yang termulia, Ksitigarbha Bodhisattva sungguh memiliki jiwa yang maha welasasih, mengasihani semua umat yang menderita dengan menjelmakan dirinya hingga jutaan tubuh muncul dalam jutaan dunia untuk menolong mereka. Jasa-jasaNya terlampau agung untuk disebutkan, begitupula daya maha prabhavanya sangat luar biasa tak terkirakan. Aku telah mendengar Yang Arya Bhagavan dan para Buddha yang tak terbilang banyaknya dari 10 penjuru dunia bersama-sama memuji dan menyanjung Ksitigarbha Bodhisattva, karena jasa-jasa Beliau yang demikian agung, mulia tak terkirakan. Sekalipun para Buddha dimasa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang memuji jasa-jasanya tak akan habis diceritakan. Yang Arya Bhagavan yang termulia, seperti Bhagavan ungkapkan terdahulu, bahwa Bhagavan beserta para hadirin ingin memuji dan menyanjung jasa-jasa Kditigarbha Bodhisattva. Demi para makhluk yang berada di di masa sekarang dan yang akan datang, mohon Yang Arya Bhagavan menerangkan jasa-jasa Ksitigarbha Bodhisattva yang tak terbayangkan itu agar para Dewa, Naga, kedelapan kelompok makhluk dapat menghormati dan mendapatkan kebahagiaan.”

Sang Buddha bersabda kepada Avalokitesvara Bodhisattva: “Engkau mempunyau Maha Hetupratyaya dengan makhluk di dunia Saha, Baik Dewa, Naga, lelaki, wanita, maupun makhluk-makhluk suci, hantu, bahkan makhluk hidup di 6 gatya. Mereka yang mendengar namamu, melihat Bodhirupangmu, mendambakanmu, memujamu, tidak akan mundur dari jalan Anuttara Samyak Sambodhi. Mereka akan selalu dilahirkan di Surga, menikmati kebahagiaan yang tiada taranya dan jika saatnya telah tiba, mereka akan tercatat sebagai calon Buddha. Kini engkau telah memiliki jiwa yang Maha Karuna dan Maha Maitri, mengasihi semua makhluk yang menderita serta Dewa, Naga dan ke 8 kelompok makhluk. Sekarang aku akan menjelaskan kepadamu semua tentang jasa-jasa Ksitigarbha Bodhisattva yang tidak terkirakan itu. Dengarkanlah baik-baik, aku akan memulia !”

“Yang Arya Bhagavan yang termulia, ceritakannlah, kami telah siap mendengarkan dengan baik !”

sang Buddha bersabda kepada Avalokitesvara Bodhisattva : “Pada masa sekarang atau yang akan datang, di berbagai dunia, jika terdapat dewa yang akan habis masanya, akan timbul 5 gejala buruk yang dapat mengakibatkan terjerumus ke alam kesengsaraan. Para Dewa semacam ini baik lelaki maupun wanita, jika mendapatkan gejala semacam itu, lalu mereka dapat kesempatan melihat gambar atau bodhirupang Ksitigarbha Bodhisattva, atau hanya dengan mendengar nama Beliau, kemudian menghormat kepada Beliau, maka keadaaan buruk para Dewa segera berubah, kebahagiaan Surga akan bertambah, menikmati kesenangan yang luar biasa dan takkan terjerumus kealam kesengsaraan selamanya ! Apa lagi setelah mereka mengetahui hal ini lalu mereka mengadakan puja bhakti kepada Ksitigarbha Bodhisattva dengan mempersembahkan bunga-bungaan, pakaian, makanan, minuman, berbagai permata, untaian ratna manikam dan saji-sajian lainnya. Maka jasa dan kebajikan yang akan diperoleh tidak terhingga.”

“Lagi, Yang Arya Avalokitesvara, pada masa sekarang atau yang akan datang, terdapat makhluk dalam 6 jalur kehidupan di berbagai dunia ini akan berakhir masa kehidupannya, lalu dapat mendengar nama Ksitigarbha Bodhisattva, maka umat tersebut akan terbebaskan dari 3 alam kesengsaraan ! Apalagi jika saat umat tersebut akan meninggal dunia, orang tuanya atau sanak keluarganya membuatkan sebuah gambar atau bodhirupang Ksitigarbha Bodhisattva dengan harta benda almarhum, dengan demikian almarhum akan dilahirkan di Surga. Atau umat tersebut telah lama mengidap penyakit, namun belum putus jiwa, mendapat kesempatan mendengar dan melihat sanak keluarganya sedang menggunakan harta bendanya untuk membuat atau melukis gambar Ksitigarbha Bodhisattva sebagai amal bhakti sipenderita, jika sekiranya sipenderita akan menerima hukuman karmanya dan mendapatkan penyakit berat, berkat jasa yang diperbuatnya itu sisakit akan ber-angsur-angsur sembuh dan umumnya akan bertambah panjang. Tapi sebaliknya, jika sipenderita tersebut telah sampai saatnya untuk menerima segala kesalahan dan karma buruknya, kini berkat jasanya membuat atau melukis gambar Ksitigarbha Bodhisattva, maka almarhum akan dilahirkan di Surga untuk menikmati kebahagiaannya dan segala karma buruk yang dimilikinya akan musnah !”

“Lagi, Yang Arya Avalokitesvara, pada masa yang akan datang, terdapat pria atau wanita, ketikaa mereka masih bayi menyusu, atau baru berumur 3 tahun atau 5 tahun atau masih di bawah 10 tahun, orang tuanya atau adik kakaknya telah meninggal dunia, kini mereka telah dewasa dan selalu merindukan orangtuanya atau adik kakaknya. Namun mereka tidak tahu di alam mana orangtuanya atau adik kakaknya berada.”

“Akan tetapi, jika siyatim piatu dapat membuat atau melukis gambar Ksitigarbha Bodhisattva atau hanya mendengar nama Beliau, lalu mengadakan puja bhakti selama satu sampai tujuh hari dengan setia, meskipun almarhum seharusnya menerima hukuman berat atas karmanya dulu, terjerumus ke alam kesengsaraan ber-kalpa-kalpa, kini berkat telah dibuatkan jasa-jasa yang demikian agung, maka almarhum tersebut, baik adik kakaknya maupun kedua orangtuanya, segera terbebaskan dari alam kesengsaraan itu dan dilahirkan di Surga untuk menikmati kebagahiaannya! Jika senadainya almarhum telah lama dilahirkan di Surga atau dunia manusia, karena berkat Karma Baik yang pernah diperbuat selama hidupnya, kini karena mendapat tambahan jasa dari siyatim piatu itu kebahagiaannya akan semakin bertambah. Kesenangan yang dinikmati tak terbatas. Jika si yatim piatu itu dengan sujud memuja Ksitigarbha Bodhisattva selama 3 hari atau 7 hari penuh terus menerus dengan menyebut nama Beliau hingga 10 ribu kali, maka Beliau akan menjelma menjadi sebuah tubuh yang maha besar tanpa batas (ananytayakaya) untuk menemui dan mengabarkan kepada si yatim piatu dimana dilahirkan keluarganya itu atau Beliau dengan daya Maha Prabhava datang dalam mimpi si yatim piatu dan mengajaknya pergi menengok keluarnya di berbagia dunia. Jika umat tersebut setelah menengok keluarganya, dan ia amat rajin menyebut nama Beliau tiap hari sebanyak 1000 kali hingga seribu hari terus menerus tanpa berhenti, maka Ksitigarbha Bodhisattva akan memerintahkan Dewa Bumi di tempat ia tinggal untuk melindunginya seumur hidup. Kehidupannya masa sekarang amat sejahtera, cukup sandang pangan, tiada penyakit atau penderitaan. Segala kemalangan takkan dapat masuk ke dalam rumahnya, apalagi menganggu dirinya. Karena rajinnya melaksanakan ibadat, akhirnya ia akan tercatat oleh Ksitigarbha Bodhisattva sebagai calon Buddha.”

“Lagi, Yang Arya Avalokitesvara,” Sang Buddha melanjutkan “pada masa yang akan datang, jika terdapat seorang putra atau putri yang berbudi, berhasrat mengembagkan Bodhicittanya untuk menolong umat manusia dari penderitaan, ingin mencapai Annutara Samyak Sambodhi; ingin membebaskan dirinya dari Triloka, supaya terlahir di alam Buddha, asalkan mereka melihat Bodhirupang Ksitigarbha Bodhisattva atau mendengar namaNya, lalu berlindung kepadaNya dengan sepenuh hati dan mengadakan puja bhakti dengan persembahan dupa, bunga-bungaan, permata, makanan dan minuman, mana cita-cita umat berbudi itu akan berhasil sempurna tiada kekurangan suatu apapun !”

“Lagi, Yang Arya Avalokitesvara, jika di masa yang akan datang, terdapat seorang pria atau wanita yang berbudi, berhasrat mewujudkan cita-citanya, usahanya yang banyaknya tak terbilang pada masa sekarang dan yang akan datang mereka hanya perlu berlindung kepada Ksitigarbha Bodhisattva dengan mengadakan puja bhakti, memuliakan namaNya serta jasa-jasanya. Dengan demikian segala permintaan dan cita-citanya akan terkabulkan sepenuhnya. Jika umat tersebut memohon lebih lanjut kepada Ksitigarbha Bodhisattva yang maha welas asih untuk melindungi mereka selama-lamanya, Ksitigarbha Bodhisattva akan datang dalam mimpinya menghibur dan mencatat mereka sebagai calon Buddha.”

“Lagi, Yang Arya Avalokitesvara, pada masa yang akan datang, jika terdapat seorang putra atau putri yang berbudi, sangat menghargai Sutra-sutra Mahayana dan menyatakan tekadnya untuk mempelajari dan memahami Sutra-sutra tersebut dengan bantuan seorang guru yang mahir, supaya segala yang dipelajarinya dapat diingat selalu tidak terlupakan. Namun segala yang dipelajarinya selalu terlupakan. Ber-bulan-bulan bahkan ber-tahun-tahun, tidak juga dapat meng-ingat-ingat apa yang telah dipelajarinya. Ini semua dikarenakan umat tersebut mempunyai karma buruk di masa yang lampau yang belum terhapuskan. Oleh karena itu mereka akan takkan dapat mengerti Sutra-sutra Mahayana yang dipelajarinya sehingga tidak mendapatkan faedah apa-apa. Umat semacam ini jika mendengar nama atau melihat Bodhi Rupang Ksitigarbha Bodhisattva lalu dengan sujud dan tulus hati menyatakan penyesalannya atas segala kejadian yang dialaminya dan mengadakan puja bhakti kepada Ksitigaarbha Bodhisattva dengan mempersembahkan dupa, bunga-bungaan, pakaian, barang-barang berharga dan sebagainya. Pada saat pemujaan akan dimulai, sediakannlah segelas air bersih dan letakkan di altarNya. Setelah selang satu hari satu malam, sipemuja menghormat Ksitigarbha Bodhisattva dengan merangkapkan kedua telapak tangan dan kemudian minumlah air tersebut dengan muka menghadap ke Selatan dengan rasa khidmat. Setelah itu pantang makan sayur yang berbau, daging dan alkohol, juga pantang campur dengan perempuan, berdusta, membunuh selama 7 hari 7 malam atau 21 hari. Putra putri yang berbudi tersebut dalam mimpinya akan bertemu dengan Ksitigarbha Bodhisattva dalam bentuk Anantayakaya dan mereka menerima Abhisecani (pemercikan air suci di kepala, wisuda). Setelah mereka bangun dari tidurnya, akan terasa ke 6 inderanya menjadi demikian tajam luar biasa. Sejak itu, Sutra-sutra yang di pelajarinya, baik dengan membacanya maupun mendengarnya selalu akan teringat dan takkan terlupakan selama-lamanya !”

“Lagi, Yang Arya Avalokitesvara, pada masa yang akan datang, jika terdapat umat manusia yang selalu mengalami kekurangan sandang pangan, meskipun mereka berjuang atau yang berpenyakitan saja, kehidupannya tidak cerah, atau keluarganya yang sering mendapat malapetaka, terpencar berpisahanm atau anggota keluarganya sering mengalami berbagai musibah atau sering merasa ketakutan diwaktu tidur hingga batinnya tidak merasa tenang. Umat yang semacam ini apabila mereka mendengarkan nama atau melihat bodhirupang Ksitigarbha Bodhisattva, lalu memberi hormat kepada Beliau serta menyebut namaNya, setelah ucapannya genap seribu kali, hal-hal yang tidak menyenangkan itu akan lenyap berangsur-angsur. Dan sejak itu rumah mereka akan aman tentram, sandang pangan akan berkecukupan. Dalam tidurpun mereka akan merasakan ketenangan, tiada lagi mimpi buruk yang menganggu dan hidup mereka akan terasa aman tentram.

“Lagi, Yang Arya Avalokitesvara, pada masa yang akan datang, jika terdapat seorang putra atau putri yang berbudi, karena mencari penghidupan atau karena keperluan umum atau pribadi, atau karena kelahiran atau kematian atau karena keperluan lain-lainnya yang mendesak, sehingga mereka harus keluar hutan, menempuh sungai dan laut bahkan perjalanan yang sangat berbahaya. Maka umat tersebut perlu sebelumnya menyebut nama Ksitigarbha Bodhisattva 10 ribu kali. Dengan demikian kemanapun umat tersebut pergi, akan selalu dilindungi oleh para Malaikat Bumi. Baik mereka sedang berdiam diri, duduk, tidur atau berjalan, mereka akan aman tentram. Sekalipun mereka bertemu dengan harimau, serigala, singa dan binatang berbisa lainnya, semuanya takkan dapat mencelakakannya.”

Sang Buddha bersabda kepada Avalokitesvara Bodhisattva : “Ksitigarbha Bodhisattva mempunyai hubungan bathin yang erat sekali dengan umat Jambudvipa. Jika ingin menceritakan jasa-jasa Beliau dengan usahaNya menyelamatkan umat manusia selengkapnya, sekalipun harus menghabiskan waktu sebanyak ratusan ribu Kalpa, takkan kunjung habis juga. Oleh karena itu Yang Arya Avalokitesvara, sebar luaskanlah Sutra ini dengan daya Maha Prabhavamu, agar semua umat di dunia Saha dapat menikmati kebahagiaan Dharma untuk selama-lamanya.”

Ketika itu Sang Buddha mengucapkan sebuah Gatha : Kekuatan Ksitigarbha Bodhisattva sungguh luar biasa Mengisahkannya jutaan kalpapun tak kunjung habis ! Mendengar, melihat dan menhormatiNya sesaat saja, Manfaatnya bagi Dewa manusia tak terbatas !

Baik pria, wanita maupun Dewa, Naga,
Yang akan terjerumus ke alam sengsara karena saatnya
tiba, Berkat berlindun kepada Ksatria sejati setulus hati,
Usia bertambah, karma beratpun lenyap musnah !
Semasa kecil kehilangan cinta kasih ayah bunda,
Entah mereka berada di alam mana,
Kakak Adik serta sanak keluarga.
Sejak lahir tak mengenal satu sama lain.
Dengan melukis gambar Ksatria Sejati,
Menghormat, memuja setulus hati,
3 atau 8 hari memuliakan namaNya,
Beliau menampakkan tubuh Anantayakaya !
Menunjukkan tempat sanak keluarganya berada.
Sekalipun telah terjerumus ke alam sengsara,
Dapat ditolongNya terbebas dari derita !
Jika saja setia percaya teguh tak tergoyahkan,
Kelak pasti akan tercatat sebagai calon Buddha !

Jika ingin mencapai Anuttara Samyak Sambodhi,
Hingga terbebaskan dari penderitaan Triloka,
Setelah tumbuh Bodhi Cittanya
Hormat dan pujalah dulu Ksatria sejati ini,
Segala cita-cita segera akan terkabul,
Tiada lagi Karma penghalang
Menuju kesadaran Agung !

Ada orang berhasrat mengaji Sutra Mahayana,
Ingin menyebrangkan umat ke pantai bahagia,
Meskipun tekad ini besar tidak terperikan,
Tiap menghafal terlupakan, waktu terbuang percuma,
Karena karma buruk terdahulu belum terhapuskan,
Tak teringat sebait gatha sekata Sutra.
Puja bhakti kepada Ksitigarbha Bodhisattva,
Dengan dupa, bunga, busana, makanan, minuman serta barang berharga.
Letakkan secawan air bersih di altar Ksatria sejati,
Satu hari satu malam kemudian minumlah dengan khidmatnya,
Setelah itu pantang daging, alkohol, dusta dan wanita.
Duapuluhsatu hari jangan membunuh sesama makhluk,
Sepenuh hati kenang Ksatria sejati.
Dalam mimpi akan berjumpa Ksitigarbha Bodhisattva anantayakaya,
Bangun dari mimpi keenam indera jernih bersih,
Sutra, Buddha Dharma tertanam dalam sanubari abadi,
Daya Prabhava Ksitigarbha Bodhisattva tidak terlukiskan,
Membuat orang demikian bijak dan bestari.

Umat yang menderita miskin papa lagi berpenyakit,
Kediamannya buruk sekali keluarganya meninggalkan pergi,
Atau selalu ketakutan di dalam mimpi,
Begitupula mengalami kegagalan ekonomi,
Pujalah Sang Ksitigarbha sepenuh hati,
Berangsur penderitaan akan lenyap sama sekali,
Mimpi yang buruk takkan mengganggu lagi,
Sandang pangan cukup selalu dilindungi Makhluk suci yang berbudi!

Jika harus mendaki gunung menuruni lembah, masuk hutan
rimba mengarungi lautan lepas,
Bertemu satwa luas lagi dihadang orang jahat,
Atau datang lagi Setan, Iblis, serta Badai Ganas,
Segala rintangan dan berbagai penderitaan,
Ingatlah Ksitigarbha Bodhisattva sebelum berangkat,
Pujalah Beliau dengan tulus ikhlas penuh khidmat,
Meskipun berada dalam kesulitan maha luar biasa,
Sekejap sirna lenyap semua berkat Buddha Dharma.

Dengarlah baik-baik, Yang Arya Avalokitesvara!
Daya Prabhava Ksitigarbha Bodhisattva tak terperikan,
Menyelamatkan uamt manusia tak terbilangkan!
Jutaan kalpa dikisahkan tidak akan habis,
Sebarkanlah Maha Pranidhana Beliau ke seluruh alam semesta!

Bila terdapat umat yang dapat mendengar namaNya,
Melihat bodhirupangNya, memuja dengan dupa, bunga, pangan dan jubah.
Akan menikmati pahalanya hingga jutaan masa!
Bila jasa-jasa pemujaan disalurkan kepada makhluk hidup,
Akan terbebaskan dari penderitaan kelahiran dan kematian.
Mencapai tepian Nirvana – menjadi Buddha.
Oleh karena itu Yang Arya Avalokitesvara,
Ketahuilah Ksitigarbha Bodhisattva demikian Maha Welas Asihnya
Demikian besar tekadnya, Maha Prabhava tidak terlukiskan.
Sampaikan ini semua kepada makhluk hidup yang berada di
Berbagai Dunia yang banyaknya bagaikan butiran pasir Sungai Gangga.
Agar mereka semua mengetahui dan percaya
sedalam-dalamnya sehingga memperoleh kebahagiaan Dharma yang sejati!

Advertisements

Bodhisattva Ksitigarbha Sutra Bab 11

Bab 11.Varga Dewa Bumi Sang Prthivi Pelindung Dharma

Ketika itu Dewa Bumi Sang Prthivi berkata kepada Sang Buddha: “Yang Arya Bhagavan yang termulia, sejak dahulu kala aku menghormat dan memuja Bodhisattva Mahasattva yang tak terbilang banyaknya. Mereka semua memiliki kesaktian dan kebijakan yang tak terkirakan dalam usaha menyelamatkan umat manusia dari penderitaan. Sungguhpun demikian, dibandingkan dengan Bodhisattva Mahasattva yang lain, kiranya hanya Ksitigarbha Bodhisattva saja yang memiliki Pranidhana yang dalam dan luhur!”

“Yang Arya Bhagavan yang termulia, Ksitigarbha Bodhisattva ini mempunyai Hetupratyaya terhadap umat Jambudvipa. Sebagaimana halnya dengan Manjusri, Samanta Bhadra, Avalokitesvara dan Maitreya Bodhisattva, merekapun menjelmakan dirinya ratusan ribu bentuk untuk menolong makhluk yang berada dalam 6 Gatya kehidupan. Namun demikian janji suci mereka terbatas. Hanya Ksitigarbha Bodhisattva dalam menyelamatkan semua makhluk dalam 6 Gatya kehidupan memberikan janji sucinya yang luas tak terbatas. Jika dihitung dengan kalpa, bagaikan ratusan ribu koti butiran pasir sungai Gangga.”

“Yang Arya Bhagavan yang termulia, menurut pendapatku, umat manusia yang berada di masa sekarang atau di masa yang akan datang, apabila mereka dapat menyediakan satu tempat yang bersih di sebelah selatan dalam rumahnya, kemudian membuat ruang dari tanah, batu, bambu atau kaya dan letakkanlah Bodhirupang Ksitigarbha Bodhisattva yang terbuat dari emas atau perak atau tembaga atau dari besi. Tiap hari dihormati dan dipuja dengan dupa, sambil memuliakan namaNya dan jasa-jasaNya. Tempat pemukiman pemuja itu menjadi selamat sentosa dan mendapatkan 10 keuntungan:

  1. Tanah atau kebunnya menjadi subur akan menghasilkan panen yang melimpah.
  2. Sekeluarga akan sehat selalu, rumahnya aman tentram.
  3. Leluhurnya, orangtua dan keluarganya yang almarhum akan dilahirkan di surga.
  4. Keluarga yang masih ada akan mendapatkan keberuntungan dan panjang usia.
  5. Segala permohonan akan terpenuhi.
  6. Terhindar dari musibah banjir dan kebakaran.
  7. Terhindar dari segala kerugian dan pemborosan, selalu tercukupi.
  8. Tidak ada mimpi buruk mengganggu.
  9. Selalu dilindungi para Dewa Bumi dan dewa Surga.
  10. Selalu bertemu dan dibantu para suciwan yang bijak hingga sipemuja mudah mencapai kebodhian.

“Yang Arya Bhagavan yang termulia, pada masa yang akan datang atau masa sekarang, jika para umat dapat membuat altar Ksitigarbha Bodhisattva dan rajin mengadakan puja bhakti di depan Bodhirupangnya, sipemuja akan memperoleh 10 keberuntungan yang tersebut di atas!”

“Yang Arya Bhagavan yang termulia,”Sang Prthivi melanjutkan katanya: ”Pada masa yang akan datang, jika terdapat putra putri yang berbudi, tersedia Sutra suci ini serta gambar atau Bodhirupang Ksitigarbha Bodhisattva dalam rumahnya, dan mereka rajin mengadakan puja bhakti kepada Beliau serta rajin membaca Sutranya sipemuja ini akan kulindungi siang malam dengan daya Prabhava-ku sehingga terhindar dari musibah banjir dan kebakaran, pencurian dan perampokan. Semua kejadian yang malang besar dan kecil akan musnah sama sekali!”

Sang Buddha bersabda kepada Sang Dewa Bumi Prthivi “Engkau memiliki daya maha Prabhava yang jarang dimiliki oleh para dewa lainnya. Apa sebabnya? Sebab sejauh ini engkau melindungi seluruh bumi yang berada di Jambudvipa. Bahkan rumput, pohon, pasir, batu, padi, rami, bambu, kumpai, palawija, logam, permata dan lain-lainnya yang berada di bumi Jambudvipa ini berkat kekuatanmu semua menjadi subur, makmur, dan sejahtera. Apalagi engkau sering menyanjung dan memuji jasa-jasa dan kebajikan Ksitigarbha Bodhisattva. Sunggu, jasa-jasamu, daya prabhavamu menlampaui para dewa Bumi ratusan ribu kali lipat! Jika di masa yang akan datang terdapat putra putri yang berbudi, melakukan puja bhakti dengan khidmat kepada Ksitigarbha Bodhisattva serta rajin membaca Sutranya, juga yang setia melakukan ibadat berdasarkanj Sutra Ksitigarbha ini, engkau harus melindungi semuanya dengan daya Maha Prabhavamu. Sehingga mereka terhindar dari segala macam bencana. Segala hal-hal yang tidak menyenangkan, jangan sampai terdengar oleh mereka sehingga mereka bingung, apalagi menyebabkan mereka mereka menderita. Bukan saja engkau seorang diri harus melindungi mereka, tapi juga Raja Sakra, Raja Maha Brahmana dan para Dewata beserta keluarganya dari berbagai Surga harus membantu melindungi mereka. Mengapa demikian? Sebab mereka dengan hati sujud tulus iklas memuja Ksitigarbha Bodhisattva, dengan rajin membaca sutraNya dan melakukan ibadat menurut sutraNya. Dengan sendirinya mereka akan terbebaskan dari laut penderitaan dan mencapai kebahagiaan Nirvana. Itulah sebabnya mereka perlu dilindungi.”

Buddha Yang Akan Datang

Dalam Sutta Pitaka Dhiga Nikaya, Sang Buddha menceritakan pada zaman dahulu ada seorang maharaja dunia ( Cakkavatti ) yang bernama Dalhanemi, memerintah dengan bijaksana, jujur dan adil. Pada saat itu umur manusia mencapai 80.000 tahun. Demikian pula keturunannya Raja Cakkavatti kedua hingga ketujuh. Namun pada saat pemerintahan raja kedelapan, kebijaksanaannya berkurang sehingga rakyatnya mulai merasakan kemiskinan sehingga terjadi pencurian dan pembunuhan. Sejak itu umur manusia berkurang menjadi 40.000 tahun lalu 20.000 tahun dan lama kelamaan menjadi 100 tahun seperti sekarang ini. Kelak akan tiba suatu masa ketika manusia hanya berusia 10 tahun dan umur 5 tahun merupakan usia perkawinan. Pada saat itu makanan seperti dadi susu, mentega, minyak tila, gula dan garam akan lenyap. Mereka akan memakan biji – bijian kudrusa.

 

Pada saat itu tidak ada lagi perbuatan baik, yang ada hanya kejahatan, mereka akan kawin dengan siapa saja, bagaikan hewan. Mereka membunuh siapa saja termasuk ibu, bapak atau kakaknya. Pada saat itu akan muncul pedang selama seminggu. Mereka akan melihat individu lain sebagai binatang liar. Dan pedang tajam akan selalu tersedia ditangan mereka, lalu dengan pedang itu mereka saling membunuh. Sementara itu ada orang – orang tertentu yang sadar dan menyembunyikan diri ke hutan, gua – gua gunung dan hidup dengan akar – akar dan buah – buahan. Mereka akan melaksanakan hal itu selama seminggu dan pada hari ketujuh mereka keluar dengan selamat.

 

Sejak itu mereka mulai menanam kebajikan, sehingga lama – kelamaan umur mereka bertambah menjadi 20 tahun, 40 ,60, 80 dan akhirnya mencapai batas usia 80.000 tahun. Pada saat itu akan muncul seorang raja bernama Sankha yang jujur dan bijaksana, dan akan muncul seorang Bhagava Arahat Sammasam Buddha bernama Metteya ( Maitreya ) yang sempurna bagaikan Buddha Gautama.  

Saran & Komentar

Silahkan kirimkan saran dan komentar anda mengenai blog ini :

Dhammayatra

Dhammayatra terdiri dari dua kata yaitu dhamma dan yatra. Dhamma artinya kesunyataan, benar, kebenaran dsb. Sedangkan yatra artinya di tempat mana. Jadi kata Dhammayatra artinya adalah tempat dharma. Dengan demikian dhammayatra yang dimaksud adalah tempat yang berhubungan dengan dhamma. Yang perlu dikunjungi oleh umat Buddha, karena mengunjungi tempat dhamma inilah maka akhirnya dhammayatra secara umum berarti berziarah ke tempat – tempat suci.

 

Untuk berdhammayatra telah disebutkan dalam Mahaparinibbana Sutta, Digha Nikaya. Namun informasi tentang adanya kegiatan dhammayatra tidak pernah disebutkan sejak Sang Buddha Parinibbana hingga pada masa raja Asoka. Kegiatan dhammayatra muncul pada abad III, ketika Raja Asoka berkuasa di jambudipa.

 

Menurut kitab Mahavastu dan Asokavadana, di ibukota jambudipa, pataliputta ( patna, sekarang ) berkuasa seorang raja bernama Bindusara. Raja memiliki banyak permaisuri dan memiliki seratus anak. Salah seorang anak raja bernama pangeran Asoka. Asoka mempunyai kekuatan dan kemampuan yang luar biasa melampaui saudara – saudaranya. Sebelum menjadi raja, Asoka membunuh 99 orang saudaranya, sehingga ia memiliki kerajaan yang utuh. Hal ini terjadi 218 BE ( Buddhist Era ), yang dihitung mulai sejak Sang Buddha Parinibbana. Dan empat tahun kemudian ia dinobatkan menjadi raja di pataliputta, Ia telah menguasai seluruh jambudipa ( Sekarang India, Pakistan, Bangladesh, Nepal dan Bhutan )

 

Sebagai raja ia memerintah dengan keras, dan ia dipandang sebagai raja yang bengis dan kejam sehingga ia dijuluki sebagai Candasoka ( Asoka jahat ).

 

Pada mulanya raja Asoka ridak mengenal Buddha Dharma, Namun pada suatu hari, selagi raja berdiri di dekat jendela, ia melihat seorang petapa yang tenang sekali, yaitu samanera Nigrodha, putra dari sumana, kakak tertua dari semua anak raja Bindusara Dengan kata lain Samanera Sumana adalah kemenakan Raja Asoka sendiri.

 

Raja Asoka mengundang Samanera Sumana ke istananya, Di istana Samanera membabarkan Appamanavagga ( Samyuta Nikaya ) kepada raja. Akhirnya raja menjadi umat Buddha, sejak menjadi umat Buddha, raja melakukan banyak dana dan perbuatan baik lainnya.

 

Menurut kitab Mahavamsa, Raja Asoka menjadi umat Buddha karena bertemu dengan Samanera Sumana, sedangkan menurut kitab Asokavadana, raja bertemu dengan bhikkhu Samudra, dalam pertemuan itu Bhikkhu menunjukan kekuatan batin ( Abhinna ) dengan cara melayangkan tubuhnya ke angkasa, setengah dari tubuhnya mengeluarkan api dan setengah tubuhnya yang lain mengeluarkan air. Karena pertunjukan inilah maka raja menjadi umat Buddha.

 

Setelah raja menjadi umat Buddha, selain ia melakukan banyak perbuatan baik, juga ia mendirikan banyak vihara. Pendirian banyak vihara ini dilakukan sehubungan dengan dialog antara Raja Asoka dengan Bhikkhu Moggaliputta.

“ Bagaimana besar dhamma yang diajarkan Sang Buddha ? Bhikkhu Moggaliputta Tissa menjawabnya, ketika raja mendengar ada 84.000 bagian Dhamma lalu raja berkata : “ dari setiap bagian itu, saya akan hormati dengan sebuah vihara, Ia memberikan uang sebanyak 96 koti untuk 84.000 kota, serta memerintah para raja ( bawahannya ) untuk membangun vihara dan ia sendiri mulai mendirikan Asokarama”

(Mahavamsa 77 – 80 )

 

Karena perbuatan baiknya begitu banyak dan prilakunya berubah, maka Raja Asoka dikenal dengan nama Dhammasoka ( Asoka yang hidup sesuai dengan dharma ).

Selanjutnya dalam kitab Asokavadana disebutkan bahwa setelah Raja Asoka menjadi umat Buddha di bawah bimbingan Bhikkhu Samudra, kemudian ia bertemu dengan Bhikkhu Upagupta. Pada pertemuan itu, raja bertanya kepada Bhikkhu : “ Baik sekali Maharaja, jawab Upagupta, keinginan anda sangat menarik, saya akan menunjukkan tempat – tempat itu hari ini…”

Kemudian Raja Asoka menyiapkan 4 kelompok pasukan, menyiapkan wangi  – wangian dan bunga – bungaan dan berangkat bersama Bhikkhu Upagupta.

 

Dari uraian diatas, kita dapat mengetahui tentang Raja Asoka dengan bantuan Bhikkhu Upagupta melakukan ziarah ke tempat – tempat yang ada hubungannya dengan kehidupan Sang Buddha.

 

 Pahala Berdhammayatra

 Pahala yang didapat sebagai hasil karma baik karena berdhammayatra adalah besar sekali, karena pahala berdhammayatra ini akan membantu dan menentukan kelahiran kita pada kehidupan yang akan dating. Hal ini dapat kita ketahui dari kutipan di bawah ini :

“Ananda, bagi mereka yang dengan keyakinan kuat melakukan ziarah ke tempat – tempat itu, maka setelah mereka meninggal dunia , mereka akan terlahir kembali di alam surga “

Karma baik berdhammayatra dengan terlahir kembali di alam surga setelah kematian kita, ini berarti bahwa ketika kita berada di tempat – tempat dhammayatra, kita melakukan perenungan akan sifat – sifat Sang Buddha dan kita berusaha melakukannya dalam kehidupan seari – hari. Dengan kata lain, setelah kita berdhammayatra kita berusaha melakukan perbuatan baik dan menghindari perbuatan jahat.

 

Juga setelah kita berdhammayatra lalu kita meninggal, dan pada saat meninggal mengingat atau merenung tempat – tempat itu sehubungannya dengan Sang Buddha, maka kelahiran di alam surga dapat diharapkan, asalkan kita tidak pernah melakukan perbuatan karma buruk yang berat ( seperti membunuh orang tua ), maka kelahiran di alam surga dapat diharapkan.

 

Tempat – tempat Dhammayatra

Tempat – tempat untuk berdhammayatra telah disebutkan dalam Mahaparinibbana Sutta oleh Sang Buddha kepada Bhikkhu Ananda, sebagai berikut :

“ Ananda, ada 4 tempat bagi seorang berbakti untuk di ziarahi, menyatakan sujudnya sebagai perasaan hormat, dimanakah ke empat tempat itu ?”

 

Ananda, tempat dimana Tathagata dilahirkan adalah tempat bagi seorang berbakti seharusnya berziarah, menyatakan sujudnya dengan perasaan hormat.

 

Tempat dimana Sang Tathagata mencapai penerangan sempurna yang tiada taranya, adalah tempat bagi seorang berbakti seharusnya berziarah menyatakan sujudnya dengan perasaan hormat.

 

Tempat dimana Sang Tathagata memutarkan Roda Dhamma untuk pertama kali adalah tempat bagi seorang berbakti seharusnya berziarah menyatakan sujudnya dengan perasaan hormat.

 

Tempat dimana Sang Tathagata meninggal ( Parinibbana ) adalah tempat bagi seorang berbakti seharusnya berziarah, menyatakan sujudnya dengan perasaan hormat.

Mereka yang berziarah ke tempat – tempat itu, apakah mereka itu para bhikkhu, para bhikhhuni, para upasaka atau para upasika merenungkan : “Disinilah Sang Tathagata dilahirkan, Disinilah Sang Tathagata mencapai penerangan sempurna, Disinilah Sang Tathagata memutarkan Roda Dhamma untuk pertama kali, Disinilah Sang Tathagata meninggal ( Parinibbana )”

 

Itulah empat tempat Dhammayatra bagi umat Buddha yang diberitahukan oleh Sang Buddha kepada Bhikkhu Ananda. Hal ini disampaikan oleh Sang Buddha menjelang Beliau parinibbana atau meninggal dunia.

 

1. Lumbini

Adalah tempat kelahiran Pangeran Siddhartha yang kelak menjadi Buddha, Lumbini sekarang ini dikenal pula dengan nama Rummindei terletak di kerajaan Nepal, kira – kira  10 km dari perbatasan India, di utara kota Gorakpur, Uttar Prades, India.

Sekarang ini di Lumbini ada beberapa bangunan yang dibuat untuk menunjukan bahwa ditempat itulah Pangeran Siddhartha yang menjadi Buddha dilahirkan, diantaranya adalah Pilar Asoka, Vihara Mayadevi.

 

Pilar Asoka didirikan oleh Raja Asoka ketika beliau mengunjungi Lumbini, pada sekitar tahun 250 BC, pilar ini merupakan tiang batu ( monolith ) dan ada prasasti yang ditulis disitu. Isi prasasti pilar Asoka adalah sebagai berikut :

“Dua puluh tahun setelah dinobatkan menjadi raja, raja Priyadarsi, kecintaan para dewa, mengunjungi tempat ini dan melakukan puja, sebab Sang Buddha petapa sakya lahir disini. Ia mendirikan pagar batu di sekeliling tempat ini  dan mendirikan pilar batu untuk memperingati kunjungannya. Karena Sang Buddha

Lahir disini, maka ia membebaskan para penduduk desa Lumbini dari pembayaran pajak dan hanya membayar seperdelapan dari hasil tanaman sebagai ganti dari pembayaran yang seharusnya.

 

Vihara Mayadevi merupakan sebuah tempat persembahyangan yang memiliki sebuah rupang yang menggambarkan tentang Ratu Mahamaya memegang cabang pohon salad an bayi yang baru lahir berdiri diatas bunga teratai.

 

Pada januari 1996, sebuah tim arkeologi dari jepang, India, Pakistan dan Nepal, menggali sedalam tujuh meter dibawah bekas kolam, mereka menemukan sebuah batu prasasti. Batu prasasti ini adalah batu yang diletakkan oleh Raja Asoka diantara tujuh lapisan bata. Isi tulisan prasasti tersebut adalah “Disinilah Sang Buddha dilahirkan”

 

2. Buddha Gaya

Buddha Gaya atau Bodh Gaya ( Sekarang ) adalah tempat dimana petapa Gotama mencapai penerangan sempurna ( Bodhi ) menjadi Buddha dibawah pohon Bodhi ( Ficus Religiosa ) Pada waktu pencapaian keBuddhaan, Buddha Gaya merupakan hutan yang dikenal dengan nama hutan Uruvela.

Buddha Gaya terletak di distrik Gaya, Bihar, India. Di Buddha Gaya sekarang ini ada stupa Maha Bodhi, Pohon Bodhi dan Vajrasana.

Stupa Maha bodhi tingginya kira – kira 170 kaki dengan lantai dasar 50 kaki persegi, Stupa ini dibangun dengan batu bata yang tersusun rapi dan diplester. Didepan pintu masuk ke stupa dindingnya ada diukir. Disetiap lubang – lubang atau lekukan dinding, terdapat Buddha Rupang. Tiang – tiang dan pintu gerbangnya dibuat dari batu, ada altar di ruangan lantai dasar, ada pula yang terletak dilantai dua, dan untuk ke lantai itu dapat melalui dua tangga batu. Distupa ini masih banyak obyek yang dapat kita temukan.

 

Pohon Bodhi yang dianggap dibawah pohon Bodhi itulah petapa Gotama mencapai KeBuddhaan. Pohon ini diperkirakan sebagai pohon asli tempat petapa Gotama mencapai KeBuddhaan. Pohon ini terletak di belakang stupa Maha Bodhi.

 

Vajrasana adalah tempat duduk petapa Gotama, terletak di bawah pohon Bodhi, ketika petapa Gotama bermeditasi diatas tempat duduk inilah akhirnya beliau menjadi Buddha.

 

3. Varanasi

Di Taman Rusa ( Migadaya ), Isipathana, Baranasi, Sang Buddha membabarkan khotbah pertama, Dhammacakkapavatthana Sutta kepada lima orang petapa yaitu ( Kondanna, Vappa, Bhadiya, Mahanama, Assajji ). Sekarang tempat ini lebih dikenal dengan nama Sarnath.

 

Sarnath terletak di distrik Varanasi, Uttar Pradesh, India kira – kira 10 km dari kota Varanasi sekarang.

Tempat dimana Sang Buddha membabarkan khotbah yang pertama telah didirikan sebuah stupa yaitu Dhamek Stupa, yang juga merupakan sisa tanda kejayaan Sarnath. Hal ini disebutkan dalam prasasti Mahipala I dari dinasti Pala tahun 1026 AD, Dhamek Stupa pada mulanya dikenal sebagai Dhammacakka Stupa. Dhamek Stupa pada mulanya dibangun oleh Raja Asoka dengan bentuk menara silinder yang mempunyai dasar dengan diameter 28,5 m tinggi 33,53 m atau 42,06 termasuk dasarnya.

 

Disamping Dhamek Stupa, ada pula stupa lain yaitu Dharmarajika Stupa yang terletak agak ke utara dari Dhamek Stupa. Stupa yang asli didirikan oleh Raja Asoka dengan dasarnya berdiameter 13,49 m. Tambahan pada stupa dilakukan pada masa kerajaan Kushana. Namun Stupa ini telah dirusak oleh Jagat Singh dari varanasi pada tahun 1794.

 

4. Kusinara

Kusinara sekarang ini dikenal dengan nama Kushinagar, yang terletak di distrik Deoria, Uttar Pradesh, India atau 55 km arah timur dari kota Gorakpur.

Di kusinara, pada usia 80 tahun Sang Buddha parinibbana atau meninggal dibawah dua pohon sala kembar. Untuk memperingati tempat ini, telah didirikan sebuah stupa yang dikenal dengan nama Mahaparinibbana Stupa dan sebuah vihara yang memiliki Buddha Rupang besar dengan posisi tidur.

Kira – kira 1,61 km ke arah timur dari tempat Sang Buddha parinibbana, di jalan dari kasia ke deoriate terdapat Makutabandhana Cetiya atau Stupa Kremasi. Stupa ini didirikan untuk memperingati tempat dimana jasad Sang Buddha dikremasikan.

Stupa ini berdiameter 34,14 m dalam bentuk lingkaran drum, pada dasarnya berdiameter 47,25 m. Didekat Stupa ini terdapat sebuah kolam Ramabhar Jhil yang kering dimusim panas.

 

Keempat tempat Dhammayatra tersebut adalah tempat yang disarankan oleh Sang Buddha sendiri, namun setelah Sang Buddha parinibbana, umat Buddha berdhammayatra bukan hanya keempat tempat itu, tetapi juga ke tempat – tempat yang dipandang penting oleh Umat Buddha karena tempat – tempat itu berhubungan dengan kehidupan beliau,  tempat – tempat itu antara lain :

a. Rajagaha

Rajagaha sekarang terkenal dengan nama Rajgir, Rajagaha adalah ibukota kerajaan Magadha, yang diperintah oleh Raja Bimbisara, Di kota Rajagaha ini terdapat sebuah bukit yang sangat terkenal di masa Sang Buddha, yaitu bukit Gijjhaguta atau Puncak Burung Nasar. Di puncak bukit ini Sang Buddha sering tinggal. Tidak jauh dari Rajagaha terdapat perbukitan, diantara bukit – bukit itu terdapat Goa Sattapani yaitu tempat Maha Samaya I, yang pada kesempatan itu Bhikkhu Ananda mengucapkan Sutta Pitaka.

 

b. Savatthi

Savathi sekarang dikenal dengan nama Saheth Maheth, merupakan reruntuhan pula, Savathi adalah ibukota kerajaan kosala, Disini terdapat Vihara Jetavana yang didirikan oleh Anathapindika. Gandhakuti yang sering disebut dalam Tipitaka berada di Vihara Jetavana, sekarang bekas Vihara dan Gandhakutimasih dapat kita temukan.

 

Demikian pula banyak tempat Dhammayatra lainnya seperti Nalanda, Vesali, Sankasya ( Sankisa ) adalah tempat Sang Buddha turun dari Surga Tavatimsa.

 

Kehancuran Bumi

Kehancuran bumi biasa dikenal dalam percakapan sehari – hari sebagai kiamat. Pada suatu ketika bumi kita ini akan hancur lebur tanpa sisa. Hal ini diuraikan Sang Buddha dalam Mahavagga Dutiyo, Sattakanipata, Angutara Nikaya. Berikut ini adalah kutipannya :

 

“Demikianlah yang kudengar, Pada suatu ketika Sang Bhagava tinggal di Ambapa livana. Ketika itu Sang Bhagava berkata kepada para Bhikkhu : “ Para Bhikkhu”  YA Bhante,” jawab mereka. Lalu Sang Buddha berkata, Bhikkhu bentuk apapun tidak kekal, goyah, tidak tetap. Para Bhikkhu, janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk ( sankhara ), itu menjijikan, bebaskanlah diri kamu dari hal – hal itu. Para Bhikkhu, gunung sineru, raja gunung – gunung yang panjangnya 84.000 yojana, lebarnya 84.000 yojana, kakinya dalam lautan sedalam 84.000 yojana, dan tingginya dari permukaan laut setinggi 84.000 yojana.

 

Bhikkhu, akan tiba suatu masa setelah bertahun – tahun, ratusan tahun, ribuan tahun, atau ratusan ribu tahun, tidak ada hujan. Ketika tidak ada hujan maka semua bibit tanaman seperti bibit sayuran, pohon penghasil obat – obatan, pohon palem dan pohon – pohon besar di hutan menjadi layu, kering dan mati.

Demikianlah Para Bhikkhu, bentuk apapun tidak kekal, tidak abadi atau tidak tetap. Janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk itu, itu menjijikan, bebaskanlah diri kamu dari hal – hal itu.

 

Para Bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu diakhir masa yang lama, matahari kedua muncul, ketika matahari kedua muncul, maka semua sungai kecil dan danau kecil surut, kering dan tiada.

Demikianlah Para Bhikkhu, bentuk apapun tidak kekal, tidak abadi atau tidak tetap. Janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk itu, itu menjijikan, bebaskanlah diri kamu dari hal – hal itu

 

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari keempat muncul. Ketika matahari keempat muncul, maka semua danau besar tempat bermuaranya sungai besar yaitu danau Anottatta, Sihapapata, Rathakara, Kannamunda, Kunala, Chaddanta dan Mandakini surut, kering dan tiada.

Demikianlah Para Bhikkhu, bentuk apapun tidak kekal, tidak abadi atau tidak tetap. Janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk itu, itu menjijikan, bebaskanlah diri kamu dari hal – hal itu

 

Para Bikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari kelima muncul. Ketika matahari kelima muncul, maka air maha samudera surut 100 yojana, lalu surut 200 yojana, 300 yojana, 400 yojana, 500 yojana, 600 yojana, dan surut 700 yojana. Air maha samudera tersisa sedalam tujuh pohon palem, enam,lima,empat,tiga,dua pohon palem dan hanya sedalam tinggi seorang saja. lalu dalam airnya setinggi pinggang, setingi lutut, hingga airnya surut sampai sedalam tinggi mata kaki.

 

Para Bhikkhu bagaikan dimusim rontok, ketika terjadi hujan dengan tetes air hujan yang besar, mengakibatkan ada Lumpur di bekas tapak – tapak kaki sapi, demikianlah dimana – mana air yang tersisa dari maha samudera hanya bagaikan Lumpur yang ada di bekas tapak – tapak kaki sapi.

Demikianlah Para Bhikkhu, bentuk apapun tidak kekal, tidak abadi atau tidak tetap. Janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk itu, itu menjijikan, bebaskanlah diri kamu dari hal – hal itu

 

Para Bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari keenam muncul, maka bumi ini dengan gunung sineru sebagai raja gunung – gunung, mengeluarkan, memuntahkan dan menyemburkan asap. Para Bhikkhu, bagaikan tungku pembakaran periuk yang mengeluarkan, memuntahkan dan menyemburkan asap, begitulah yang terjadi dengan bumi ini.Demikianlah Para Bhikkhu, bentuk apapun tidak kekal, tidak abadi atau tidak tetap. Janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk itu, itu menjijikan, bebaskanlah diri kamu dari hal – hal itu

 

Para Bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu diakhir masa yang lama, matahari ketujuh muncul. Ketika matahari ketujuh muncul, maka bumi ini dengan gunung sineru sebagai raja gunung terbakar, menyala berkobar – kobar, dan menjadi seperti sebuah bola api yang berpijar. Cahaya nyala kebakaran sampai terlihat di alam Brahma, demikian pula dengan debu asap dari bumi dengan gunung sineru tertiup oleh angin sampai ke alam Brahma. Bagian – bagian dari puncak gunung sineru setinggi 1,2,3,4,5 ratus yojana terbakar dan menyala ditaklukan oleh amukan nyala yang berkobar – kobar, hancur lebur. Disebabkan oleh nyala yang berkobar – kobar bumi dengan gunung sineru hangus total tanpa ada bara maupun abu yang tersisa. Demikian pula bumi dengan gunung sineru hangus terbakar hingga bara maupun debu tidak tersisa sama sekali.”

(Mahavaggo Dutiyo, Sattanipata, Anguttara NIkaya )

 

Karena kemampuan seorang Buddha sebagai Sabbannu yang tak terbatas, maka kita sebagai manusia biasa sulit mengetahui batas kemampuannya. Hal ini telah disebutkan dalam Acintayya Sutta :

“Kemampuan seorang Buddha adalah tak terpikirkan oleh kemampuan manusia biasa”

Banyak Matahari, Bumi dan Adanya Manusia Lain di bumi yang lain

Adanya banyak matahari, bumi dan adanya manusia selain manusia di bumi kita ini. Hal ini disebutkan oleh Sang Buddha seperti yang terdapat dalam Ananda Vagga, Anguttara Nikaya. Untuk jelasnya pernyataan tersebut, ikutilah uraian dibawah ini.

 

Pada suatu ketika, Bhikkhu Ananda pergi menemui Sang Bhagava. Ketika bertemu ia menghormat Sang Bhagava, lalu duduk disamping. Setelah duduk ia berkata kepada Sang Bhagava sebagai berikut : “Bhante, Saya sendiri mendengar dari Sang Bhagava, di depan Sang Bhagava saya menerima kata – kata ini.

“Ananda, Murid Buddha Sikki bernama Abhibhu berada dialam Brahma ( Brahma Loka ) dan ia dapat menyebabkan suaranya didengar sampai sejauh seribu tata surya yang lain. Bhante, berapa jauh seribu tata surya yang lain? Bhante, berapa jauh seorang arahat sammasambuddha dapat memperdengarkan suaranya?”

 

“Ananda, Abhibhu masih seorang murid, Suara Tathagata adalah tidak terukur jangkauannya.”

Untuk kedua kali dan sampai ketiga kalinya, Ananda menanyakan hal tersebut, Maka Sang Bhagava menjawab :

“Ananda, apakah kau pernah mendengar tentang seribu Culanika loka dhatu ( tata surya kecil ) ?”

“Sekarang saatnya Bhagava, sekarang saatnya Sugata, bagi Sang Buddha berkata. Para Bhikkhu akan memperhatikan dengan sungguh – sungguh apa yang Sang Bhagava sabdakan”

“Maka dengarkanlah Ananda, perhatikanlah, Saya akan bicara.”

“Ya, Bhante, jawab Ananda”

Kemudian Sang Bhagava bersabda :

“Ananda, sejauh matahari dan bulan berotasi pada garis orbitnya, dan sejauh pancaran sinar matahari dan bulan di angkasa, sejauh itulah luas seribu tata surya. Didalam seribu tata surya terdapat seribu matahari, seribu bulan, seribu gunung sineru, seribu jambudipa, seribu Apara yojana, seribu Uttarakuru, seribu Pubbavidehana, empat ribu maha samudera, empat ribu maha raja, seribu Catummaharajika, seribu Tavatimsa, seribu Yamma, seribu Tusita, seribu Nimmanarati,seribu Parinimmita vassavati, dan seribu alam Brahma. Inilah Ananda, yang dianamakan seribu tata surya kecil  ( Sahasi culanika lokadhatu ). Ananda seribu kali Sahasi culanika lokadhatu dinamakan Dvisahassa majjhimanika lokadhatu, Ananda seribu kali Dvisahassa majjhimanika lokadhatu dinamakan Tisahassi Mahasahassi lokadhatu. Ananda, bilamana Sang Tathagata mau, maka ia dapat memperdengarkan suaraNya sampai terdengar di Tisahassi Mahasahassi lokadhatu ataupun melebihi itu lagi.”

“Bhante, bagaimana hal itu terjadi ?”

“Ananda, dalam hal ini Sang Tathagata diliputi cahaya Tisahassi Mahasahassi lokadhatu. Bila makhluk – makhluk di tata surya itu melihat cahaya ini, maka Sang Tathagata akan berkata – kata dan suaranya dapat didengar mereka. Demikianlah hal ini terjadi.”

Setelah mendengar hal ini, Bhikkhu Ananda berkata kepada Bhikkhu Udayi. “ Suatu keuntungan bagiku, pendapatan yang baik sekali bagiku karena guruku memiliki kekuatan dan kemampuan yang hebat sekali.

 

Lalu Bhikkhu Udayi berkata kepada Bhikkhu Ananda : “ Avuso, Ananda, apakah manfaatnya bagimu, walaupn gurumu memiliki kekuatan dan kemampuan yang hebat seperti itu ?”

 

Mendengar kata – kata ini, Sang Bhagava berkata kepada Bhikkhu Udayi. “ Janganlah berkata begitu Udayi, janganlah berkata begitu !” Andaikata Ananda meninggal tanpa mencapai kebebasan, tapi dengan keyakinan teguh ini ia akan tujuh kali menguasai para dewata, tujuh kali ia akan menjadi maharaja jambudipa ini, Tetapi Udayi, pada kehidupan ini Ananda akan mencapai parinibbana. ( Ananda Vagga, Angutara Nikaya )